• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PENGEMBANGAN LANSKAP PERUMAHAN GRAHA RAYA

Konsep Dasar

Konsep dasar pengembangan lanskap di perumahan Graha Raya adalah pemanfaatan potensi alam secara optimal yang disesuaikan dengan land bank, permintaan konsumen, dan kebutuhan konsumen yang nantinya diwujudkan pada pengembangan tiap cluster. Konsep yang diterapkan adalah Graha Raya Lokasi Strategis karena letaknya yang berdekatan dengan BSD dan Alam Sutera sehingga akses sangat mudah dan ditunjang dengan fasilitas yang lengkap.

.Biasanya lahan-lahan kosong yang berada dipinggiran kawasan terlebih dahulu dikembangkan untuk pembangunan, barulah setelah itu yang berada di tengah kawasan dan letaknya strategis dikembangkan karena nilai jualnya yang lebih tinggi. Bangunan yang ditampilkan di Graha Raya adalah bergaya modern minimalis, biasanya gerbang masuk ke tiap cluster dibuat menarik yang dilengkapi dengan pos satpam.Calon konsumen biasanya menginginkan suatu desain rumah yang sesuai dengan keinginannya sehingga permintaan (demand) sangat mempengaruhi perkembangan lanskap di Graha Raya. Pihak Pengembang biasanya melaksanakan pembangunan dalam jumlah yang banyak untuk tiap

cluster agar efisien dalam pembiayaan. Biasanya rumah yang belum terjual pada

cluster tersebut akan menjadi rumah stok. Pengembangan lanskapnya juga disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya pihak pengembang melakukan pembangunan untuk hunian dan komersil. Lahan-lahan yang berada di dekat jalan raya biasanya dikembangkan untuk wilayah komersil.

Konsep Sirkulasi

Sirkulasi merupakan hal yang terpenting dalam pengembangan suatu perumahan, sehingga diperlukan pengelolaan yang efektif. Sirkulasi jalan utama dibagi dua jalur untuk menjamin keamanan pengguna jalan, karena kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas jalan utama relatif tinggi yaitu 70 km/jam. Jaringan jalan yang ada di dalam kawasan ini meliputi tiga kelas, yaitu

1. Jalan utama (jalan arteri) yang terdiri dari dua tipe yaitu:

a. Jalan arteri dua jalur, masing-masing selebar 10 m dan 12 m dengan median jalur hijau2,5 m dan bahu jalan sebesar 2,5 m b. Jalan arteri satu jalur dengan dua arah berlawanan selebar 12 m

dengan bahu jalan 2,5m.

2. Jalan lingkungan (jalan kolektor), yaitu jalan yang menghubungkan antara jalan utama dengan jalan masuk ke setiap lingkungan pemukiman.

3. Jalan sub kolektor, yaitu jalan yang melintasi setiap cluster di sebuah lingkungan pemukiman.

Jalan arteri dan jalan kolektor dihubungkan dengan daerah persimpangan yaitu berupa pertigaan jalan, perempatan jalan, bundaran jalan. Persimpangan ditata sesuai aspek fungsional maupun estetika, sehingga dapat memberikan rasa aman, menunjukkan identitas dan orientasi tempat, serta menarik perhatian pengguna jalan. Jalan kolektor menghubungkan fasilitas-fasilitas penunjang jalan utama di dalam cluster. Jalan kolektor ini dilengkapi dengan sistem utilitas, misalnya jaringan air minum, air limbah, aliran air hujan dan sistem penerangan jalan. Jalan sub kolektor merupakan jalan yang menghubungkan blok antar rumah di dalam kawasan perumahan.

Gambar 11. Jalan Kolektor Gambar12. Jalan Sub Kolektor

Konsep Tata Hijau

Vegetasi penyusun tata hijau di kawasan Graha Raya memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai pembentuk ruang, pengontrol kebisingan, pengontrol visual, pengarah, estetika, habitat satwa, serta fungsi-fungsi pendukung lainnya. Tanaman bintaro merupakan tanaman yang menjadi ciri khas di kawasan ini karena merupakan satu kesatuan wilayah dengan Bintaro Jaya namun letaknya disesuaikan dengan fungsi yang dibutuhkan pada lokasi tersebut, begitu juga untuk tanaman yang lain.

Untuk tanaman di sepanjang jalan utama biasanya dihadirkan dengan pemb uatan pola penanaman secara berkelompok di sepanjang kiri dan kanan jalan sebagai tanaman peneduh serta median jalan sebagai pengarah. Tanaman sebagai pengontrol kebisingan ditempatkan terutama yang dekat dengan lokasi perkantoran, perumahan dan bangunan-bangunan lainnya mengingat kecepatan rata-rata dan intensitas kendaraan yang cukup tinggi dan sebagai penambah nilai estetika. Tanaman yang ditanam antara lain adalah Pterocarpus indicus, Cerbera mangkas, Pinus merkusii, Polyalthia longifolia, Wodyetia bifurcata, dan sebagainya. Jenis pohon yang ditanam di Perumahan Graha Raya adalah yang berumur panjang (tahunan). Untuk semak dipilih tanaman kategori tanaman berbunga cerah dan untuk rumput dipilih kategori yang tahan kekurangan air pada musim kemarau.

Gambar 13. Peletakan tanaman peneduh di sepanjang jalan utama

Pada jalan kolektor dan sub kolektor lebih banyak difungsikan sebagai pengontrol visual, karena kendaraan cenderung berjalan dengan kecepatan rendah dan intensitasnya relatif sedikit. Tanaman yang ditampilkan adalah Hibiscus rosa- sinensis, Cerbera mangkas, Cordyline terminalis, Nerium oleander, Iresine herbstii, dan sebagainya. Tanaman pengontrol visual juga digunakan untuk menghalangi pemandangan yang kurang baik, misalnya bambu (Bambusa multiplex) yang ditanam secara berkelompok. Tiap rumah di Graha Raya ditanami 1 tanaman peneduh di depan rumahnya. Pada tempat-tempat yang strategis seperti taman gerbang, taman lingkungan digunakan tanaman berdaun cerah baik tanaman individual maupun kelompok yang menambah nilai estetika. Tanaman tersebut antara lain Bougainvillea spectabilis, Cuphea sp, Pandanus sp, dan sebagainya.

Konsep Utilitas

Menurut Koestoer (1995) utilitas umum merupakan bangunan-bangunan yang dibutuhkan dalam sistem pelayanan lingkungan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan pembangunan swasta, seperti penyediaan yang menyangkut jaringan air bersih, listrik, pembuangan sampah, telepon dan gas. Konsep utilitas yang dikembangkan adalah sistem jaringan yang memberikan keamanan, kenyamanan dan keindahan lanskap di Graha Raya.

Jaringan utilitas yang ada di Graha Raya terdiri atas :

1. Jaringan listrik

Graha Raya memiliki dua jenis pemasangan jaringan kabel-kabel listrik yaitu jaringan yang berada di atas permukaaan tanah dan yang berada/tertanam di dalam tanah (Under Ground Power Supply). Jaringan bawah tanah digunakan pada penerangan jalan utama atau regional sedangkan pada tiap cluster ada yang menggunakan jaringan dalam tana h dan ada juga yang menggunakan jaringan di atas permukaan tanah. Jaringan kabel yang dipasang didalam tanah memberi kebebasan pada tanaman untuk tumbuh tanpa harus dipangkas pada ketinggian tertentu. Sedangkan kekurangan pada sistem ini adalah kesulitan untuk mencari sumber kerusakan apabila ada listrik yang tidak berfungsi dan biayanya yang mahal. Jaringan kabel yang dipasang di atas permukaan tanah akan mudah diperbaiki jika ada kerusakan pada salah satu jaringannya tetapi mengurangi nilai keindahan di lingkungan tersebut karena adanya kabel-kabel yang melintasi rumah-rumah. Daya listrik untuk tiap rumah sebesar 1300 watt yang bersumber dari PLN cabang Tangerang.

2. Jaringan Telepon

Sistem pemasangan jaringan telepon yaitu menggunakan jaringan yang berada di atas permukaan tanah. Fasilitas telepon umum hanya disediakan di beberapa lokasi di kawasan Graha Raya seperti di dekat Sport Centre

3. Sumber Air

Untuk memenuhi kebutuhan air bagi para penghuni, pihak pengelola Graha Raya menggunakan sistem pengeboran/sumur pantek. Fasilitas yang mendukung pemasokan air ke rumah-rumah penghuni adalah 6 tangki dengan kapasitas tiap tangki yaitu 10 ribu liter. Jumlah pompa yaitu 4 buah. Pengelolaannya dilakukan oleh tenaga teknisi. Setiap bulannya setiap penghuni wajib membayar biaya pemakaian. Apabila dalam waktu 3 bulan tidak membayar biaya pemakaian air, maka pihak pengelola Graha Raya akan memutus pipa pemakaian air tersebut.

ORGANISASI PENGELOLAAN PEMELIHARAAN LANSKAP

Dokumen terkait