DAFTAR TABEL
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Konsep Pengembangan Lumbung Ikan Nasional
Maluku memiliki posisi strategis dan potensi perikanan yang cukup besar, sehingga peluang pengembangan sektor kelautan dan perikanan nmaluku masih sangat besar. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah dengan menjadikan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (MLIN). Konsep pengembangan lumbung ikan nasional terdiri dari empat pilar utama yang saling berkaitan dan bersinergi, yaitu: lumbung (logistik), produk (ikan), ruang dan sumberdaya manusia. Masing-masing pilar tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (Direktorat Tata Ruang Laut P3K, 2012):
(a) Lumbung (Logistic)
Untuk menjamin ketersediaan produk perikanan yang menjajikan dan berkelanjutan merupakan criteria pertama bagi kesuksesan program LIN Maluku. Melalui jamainan ketersediaan hasil perikanan bagai konsumsi ikan, baik konsumsi local maupun nasional, maka Provinsi Maluku akan disebut sebagai Lumbung Ikan Nasional.
(b) Ikan (Product)
Sebagai suatu lumbung ikan nasional, maka Maluku selain mampu menjamin ketersediaan produk periknanan juga harus memiliki system logistic produk perikanan yang efektif dalam menjangkau peluang pasar yang potensial, baik local, regional, maupun global. Sistem jaringan pemasaran hasil-hasil perikanan sangat terkait dengan upaya-upaya pengembangan sentra-sentra produksi, baik pada kegiatan industri hulu maupun kegiatan industri hilir. Oleh karena itu, estimasi terhadap kapasitas produksi
jenis atau produk dan nilai hasil produksi pada masing-masing sentra produksi adalah sangat penting.
(c) Ruang (Spatial)
Pengembangan sentra-sentra kegiatan produksi sangat ditentukan oleh potensi unggulan pada masing-masing kawasan/sentra. Dengan menetapkan fungsi sentra-sentra sesuai dengan potensi unggulan masing-masing serta didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana produksi yang memadai (listrik, energy, air bersih, perhubungan, komunikasi dan sebagainya), maka peran sentra-sentra produksi dalam memenuhi kebutuhan konsumsi ikan (sesuai jaringan pasar) diharapkan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
(d) Sumberdaya Manusia
Selain ketuga aspek di atas (lumbung, ikan dan ruang), maka peran aspek sumberdaya manusia adalah sangat penting. Pengembangan sumberdaya manusia, dalam hal ini adalah mempersiapkan sumberdaya manusia untuk memperkokoh system budaya dan kelembagaan guna menjamin keberlanjutan pengelolaan sumberdaya perikanan secara eefektif dengan memmperhatikan aspek budaya (culture) dan kapasitas (capacity),
Pengembangan lumbung ikan nasional ke depan, sebaiknya selain memperhatikan empat pilar di atas (lumbung, ikan, ruang dan sumberdaya manusia) juga dilakukan dengan memperhatikan dua hal penting, yaitu (Direktorat Tata Ruang Laut P3K, 2012):
(1) Peningkatan konektivitas Sistem Logistik Ikan Nasional dan Kelancaran Sistem Produksi dan Pemasaran.
Maluku sebagai lumbung ikan nasional harus dapat memenuhi kebutuhan ikan untuk konsumsi skala local dan berperan mendukung program ketahanan pangan ikani nasional, yang terdiri dari: ketahanan pangan ikani skala gugus pulau (6 gugus pulau), ketahanan pangan ikani skala provinsi (Maluku), ketahanan pangan skala regional (antarwilayah), dan ketahanan pangan skala nasional.
Selain dapat memenuhi kebutuhan ikan skala local, produk ikan juga ditujukan untuk konsumsi global (ekspor). Dengan demikian, lumbung ikan dapat meningkatkan peluang bisnis di sektor periknanan. Optimlasisasi pemanfaatan potensi perikanan melalui program lumbung ikan nasional akan meningkatkan volume perdagangan antardaerah, baik skala local, regional dan ekspor, sehingga secara tidak langsung impor produk perikanan dapat semakin diturunkan
(2). Membangun daya saing hasil perikanan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat
Sektor perikanan di Maluku sangat potensial, hal ini karena Mauluku sebagai wilayah kepulauan dengan perairan yang sangat luas. Produk ikan ditentukan berdasarkan daerah keberaan ikan/spot ikan (fishing ground). Kemudian, spot-spot ikan akan dikelompokkan dalam cluster ikan.
Produk ikan yang diperoleh dari kegiatan produksi ikan (perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengolahan), yang kesemuanya berdinergi dengan kegiatan konservasi yang akan mendukung kegiatan perikanan secara berkelanjutan. Untuk meningkatkan nilai produk perikanan, maka dilakukan alternative pengolahan dengan adanya industry periknanan. Produk yang didistribusikan tidak hanya dalam bentuk bahan mentah, tetapi sudah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi.
Tujuan program pengembangan lumbung ikan nasional Maluku adalah selain untuk memenuhi konsumen local juga untuk mendukung peningkatan ekspor perikanan nasional yang berkualitas dan kompetitif. Perairan Maluku yang kaya akan ikan pelagis besar, rumput laut, dan udang memiliki potensi ekspor periknanan menuju kawasan dengan konsumsi perikanan tinggi, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Timur. Ekspor perikanan ditargetkan yang berdaya saing, yaitu bernilai tambah tinggi dan terspesialisasi, berupa produk perikanan olahan dan produk ikan pelagis besar.
Pengembangan ekspor juga dilakukan untuk memperluas pembukaan unit-unit pengolahan ikan (UPI) baru yang terbesar di dekat pusat-pusat produksi melalui pendekatan industriliasasi di kawasan minapolitan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja baru dan berkembangnya kegiatan multiplier yang mendukung usaha perikanan. Secara spasial, strategi ini juga bertujuan menciptakan pusat-pusat kegiatan perikanan baru untuk mendukung strategi inklusifitas pembangunan di wilayah timur Indonesia.
Provinsi Maluku berdasarkan arahan struktur pusat-pusat di dalam RTRN 2008-2028 dibagi ke dalam enam gugus pulau, dengan pembagian sebagai berikut (Direktorat Tata Ruang Laut P3K, 2012):
(a). Gugus Pulau Buru, dengan pusat kegiatan Namlea dan NAmrole yang memiliki kegiatan dominan periknanan tangkap.
(b). Gugus Ambon dan Pulau Seram, dengan npusat kegiatan di Kota Ambon sebagai pelabuhan ekspor dan insutri pengolahan ikan dan jasa perikanan, dan Maluku Tengah dan Seram Timur dengan kegiatan dominan perikanan tangkap dan perikanan budidaya di Seram Barat.
(c). Gugus Kepulauan Kei – Maluku Tenggara, dengan npusat kegiatan Kota Tual memiliki fungsi sebagai pelabuhan ekspor, dan nkawasan industry pengolahan dan jasa perikanan, dengan kegiatan dominan yaitu perikanan tangkap, dan pusat lainnya adalah Langgur dengan kegiatan dominan wisata bahari di samping perikanan tangkap dan budidaya.
(d). Gugus Pulau-pulau Tanimbar, dengan pusat kegiatan Saumlaki, memiliki fungsi untuk pengembangan wisata bahari dan periknanan budidaya.
(e). Gugus Pulau Aru, dengan pusat kegiatan di Dobo, memiliki kegiatan dominan perikanan tangkap dan perikanan budidaya.
(f). Gugus Pulau-pulau Kisar – Maluku Barat Daya, dengan pusat kegiatan di Kisar dan kegiatan dominan perikanan tangkap.