LAPORAN TEKNIS
Kegiatan Penelitian
2014
PERSONAL
Balai Besar Penelitian Sosial
Ekonomi Kelautan dan
Perikanan, Badan Litbang KP,
Kementerian Kelautan dan
Perikanan
1/9/2015
LAPORAN TEKNIS
KEGIATAN PENELITIAN
KESIAPAN MALUKU
SEBAGAI LUMBUNG IKAN NASIONAL
TIM PENELITI:
Dr. Ir. Tajerin, MM., ME.
Dr. Siti Hajar Suryawati, MSi.
Drs. Muhajir, MM
Yayan Hikmayani, MSi.
Dra. Elly Reswati
Maharani Yulisti, M.Si
Rismutia Hayu Deswati, Spi.
Muhibbudin
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI
KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
LEMBAR PENGESAHAN
Lembaga Riset : Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Judul Proposal : Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (MLIN)
Judul Kegiatan : Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (MLIN)
Status : Baru
Pagu Anggaran (Rp) : Rp 270.300.000,-
(Dua Ratus Tujuh Puluh Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah)
Tahun Anggaran : 2014
Sumber Anggaran : APBN, DIPA Satker Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Tahun 2014
Penanggungjawab : Dr. Tajerin
NIP. 196401261993031002
Jakarta, Desember 2014
Kakelti Sistem Usaha Pemasaran dan Perdagangan
Dr. Tajerin
NIP. 196401261993031002
Penanggung Jawab Kegiatan
Dr. Tajerin
NIP. 196401261993031002
Mengetahui,
Kepala Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Ir. Tukul Rameyo Adi,MT NIP. 19610210 199003 1 001
RENCANA OPERASIONAL KEGIATAN PENELITIAN
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DANPERIKANAN
1. JUDUL KEGIATAN : Kesiapan Maluku sebagai Lumbung
Ikan Nasional (M-LIN)
2. SUMBER DAN TAHUN
ANGGARAN
: APBN 2014
3. STATUS PENELITIAN : √ Baru Lanjutan *)
*) Jika penelitian lanjutan, maka diuraikan hasil penelitian sebelumnya
4. PROGRAM :
a. Komoditas : Perikanan
b. Bidang/Masalah :
- Menurut RPJM : Ketahanan Pangan
- Menurut Kebijakan KKP : Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Pemasaran Produk Perikanan - Menurut 7 Fokus Litbang : Mendukung Industrialisasi c. Penelitian Pengembangan : Sosial Ekonomi Kelautan dan
Perikanan
d. Manajemen Penelitian : Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
e. IKU KKP yang direspon (beri tanda yang dipilih sesuai Tabel 2) √Pertumbuhan PDB Perikanan
√Produksi KP Nilai Tukar Tingkat Konsumsi √Nilai Ekspor
Kasus Penolakan Ekspor
Jumlah kawasan Konservasi Jumlah Pulau kecil
IUU Fishing 5. OUTPUT KEGIATAN PENELITIAN a) TARGET REKOMENDASI YANG DIHASILKAN (JUMLAH)
b) DATA DAN INFORMASI (JUMLAH PAKET)
c) JUMLAH KARYA TULIS
ILMIAH (KTI)
: : : :
2 (dua) paket rekomendasi
1 (satu) paket data dan informasi
2 (dua) paket KTI
6 PERKIRAAN TEMA
REKOMENDASI YANG DIHASILKAN
: 1. Tingkat Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional
2. Strategi dan Rencana Aksi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional
7. LOKASI KEGIATAN : Provinsi Maluku, Kota Ambon, Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kabupaten Seram Bagian Barat
8. PENELITI YANG TERLIBAT : No. N a m a Pendidikan/ Jabatan Fungsional Disiplin Ilmu T u g a s (Institusi) Alokasi Waktu (OB) 1 Dr. Tajerin S3/ Peneliti Utama Ekonomi Perencanaan dan Kebijakan Publik Penanggungjawab (BBPSEKP) 6 1 Maharani Yulisti, M.Si S2/ Peneliti Muda Manajemen Agribisnis Anggota (BBPSEKP) 4 2 Drs. Muhadjir, MM S2/ Peneliti Muda Ekonomi Anggota (BBPSEKP) 6 3 Rismutia Hayu Deswati, SE.
S1/non kelas Ekonomi Anggota
(BBPSEKP) 6 4 Yayan Hikmayani, M.Si S2/ Peneliti Madya
Sosek Perikanan Anggota (BBPSEKP) 4 5 Dr. Siti Hajar Suryawati S2/Peneltii Muda Pengelolaan Sumberdaya KP Anggota (BBPSEKP) 4
6 Dra. Ely Reswati S1/ Peneliti Muda
Sosek Perikanan Anggota (BBPSEKP)
4
7 Muhibuddin SMA/ non
kelas
Perikanan PUMK 6
9. TUJUAN
1) Mengukur nilai indeks dan status kesiapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (M-LIN) serta menganalisis peran atribut-atribut yang sensitif sebagai faktor pengungkit (leverage) kesiapan M-LIN di tingkat provinsi dan daerah kabupaten-kota.
2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (M-LIN) di tingkat provinsi dan daerah kabupaten-kota.
3) Merumuskan rekomendasi kebijakan dan strategi serta rencana aksi dalam rangka meningkatkan ataun menguatkan kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional di tingkat provinsi dan daerah kabupaten-kota.
10. LATAR BELAKANG
Maluku merupakan provinsi kepulauan yang memilikiluas wilayah 581.376 km2 yang terbagi atas wilayah lautan sebesar 527.191 km2 dan daratan 54.185 km2. Artinya bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Maluku (90%) merupakan lautan yang memiliki potensi sumber daya perikanan sebesar 1,6 juta ton/tahun yang tersebar di tiga Wilayah Pengelolaan
Perikanan (WPP), yaitu: WPP-RI 714 meliputi wilayah kabupaten Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara Barat dengan potensi 248,4 ton/tahun. WPP-RI 715 meliputi wilayah kabupaten Maluku Tengah dengan potensi 587,00 ton/tahun dan WPP-RI 718 dengan wilayah kabupaten Maluku Tenggara dan Maluku Barat Daya dengan potensi 1.430.600 ton/tahun.
Potensi sumberdaya hayati perikanan dimaksud terdiri dari pelagis, demersal dan biota laut lainnya yang perlu dieksploitasi secara optimal.Besarnya potensi tersebut belum diimbangi dengan pemanfaatannya, hingga tahun 2012 tercatat potensin di tiga WPP (WPP-RI 714, 715, dan 718) baru dimanfaatkan sekitar 42 % atau 530.154 ton per tahun (DKP Provinsi Maluku, 2013).Mangrove seluas 1.322.907 Km2, Lamun seluas 393,07 Km2, Terumbu Karang seluas 1.323,44 Km2, dan garis pantai nsepanjang 10.630,10 Km2. Kemudian volume produksi perikanan tangkap laut Maluku sebesar 536.660 ton pada tahun 2012 atau sebesar 10 % dari total produksi perikanan tangkap laut nasional menjadikan wilayah ini sebagai produsen tangkap laut nomor satu di Indonesia (DJPT, 2013). Atas dasar fakta potensi-potensi ini, pemerintah (KKP) mempertimbangkan pencanangan wilayah Maluku menjadi lumbung ikan nasional (M-LIN).
Maluku sebagai lumbung ikan nasional (M-LIN) dimaksudkan sebagai upaya menjadikan wilayah Maluku sebagai kawasan penghasil ikan utama di Indonesia secara berkelanjutan yang pengelolaannya terintegrasi di dalam kerangka “Sistem Logistik Ikan Nasional - SLIN”. Dalam kaitan ini, SLIN diartikan sebagai rangkaian kegiatan pengelolaan produksi, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan pemasaran hasil kelautan dan perikanan, yang dilakukan secara bertahap dan saling berkaitan pada level nasional, agar tercipta jaminan ketersediaan, stabilitas harga, ketahan pangan ikani, menjaga kualitas ikan, mendorong pertumbuhan industri pengolahan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat (Dinas KP Provinsi Maluku, 2012).
Pada pokoknya, program M-LIN ini bertujuan untuk memenuhi kecukupan ikan baik untuk kepentingan konsumsi rumah tangga maupun kepentingan industri pengolahan. Program tersebut didukung oleh Presiden RI, Dr. Soesilo Bambang Yudhoyono dalam rangka peningkatan produktivitas perikanan nasional yang disampaikan pada puncak acara Sail Banda 2010 di Maluku. Menurut Gubernur Maluku pada Seminar Nasional 2010, Maluku sebagai lumbung ikan nasional berarti menjadikan wilayah tersebut sebagai produsen perikanan terbesar di Indonesia yang mampu memasok kebutuhan konsumsi masyarakat dan industri nasional dan menjadi eksportir utama komoditas perikanan Indonesia. Maluku juga diharapkan akan mampu menjadi pusat riset laut dalam dan pulau-pulau kecil berkelas dunia guna mendukung peran Indonesia dalam perekonomian global. Implikasi dari kebijakan ini merupakan tantangan dan peluang bagi pemerintah, akademisi
dan masyarakat pada umumnya untuk memanfaatkan dan mengelola sumberdaya perikanan yang dimiliki secara bertanggungjawab dan berkelanjutan.
Rintisan pelaksanaan program tersebut telah dilakukan namun geliat Maluku sebagai lumbung ikan belum seperti yang diharapkan. Belum adanya komitmen baik dari Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat menyebabkan implementasi program ini hingga saat ini belum dapat dijalankan. Selain itu data dan informasi mengenai kesiapan wilayah tersebut menjadi lumbung ikan nasional juga belum tersedia. Dengan adanya program tersebut, diharapkan Maluku berfungsi sebagai sumber ikan untuk pasar domestik maupun mancanegara. Dengan karakteristik Maluku yang terdiri dari pulau-pulau dengan sarana dan pra sarana yang terbatas, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi, strategi dan rencana aksi berkaitan dengan kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional.
11. TINJAUAN PUSTAKA 11.1 Pengertian Sistem Logistik
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional, mendefinisikan logistik sebagai: Bagian dari rantai pasok (supply chain) yang menangani arus barang, arus informasi dan arus uang melalui proses pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing), transportasi
(transportation), distribusi (distribution), dan pelayanan pengantaran (delivery services)
sesuai dengan jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen, secara aman, efektif dan efisien, mulai dari titik asal (point of origin) sampai dengan titik tujuan (point of destination).
Sistem logistik tersusun atas fasilitas-fasilitas yang terhubung dengan jasa pelayanan transportasi. Sistem ini membahas mengenai bagaimana suatu material diproses, manufaktur,disimpan, diseleksi, untuk kemudian dijual atau dikonsumsi. Pembahasan dalam sistem logistik ini merupakan pembahasan yang komperhensif, termasuk pembahasan mengenai proses manufaktur dan perakitan, pergudangan, pendistribusian, titik/poin pengalihan angkutan, terminal transportasi, penjualan eceran, pusat penyortiran barang, dan dokumen, pusat penghancuran, dan pembuangan dari keseluruhan kegiatan industri (Ghiani, Gianpaolo,Laporte, Musmanno, 2004).
Dengan demikian sistem logistik merupakan sistem yang membahas mengenai keterkaitan antara entitas/pelaku dalam sebuah kegiatan logistik yang terintegrasi, dari pemasok hingga konsumen dalam masing-masing jaringan distribusi untuk menggerakkan barang/jasa. Adapun yang menjadi obyek dari sistem logistik dapat berupa barang jadi, barang setengah jadi, maupun bahan baku.
Untuk memaksimalkan nilai sistem logistik yang diupayakan, diperlukan variasi rencana mengenai pengambilan keputusan untuk setiap tahapan aktivitasnya. Perencanaan sistem logistic yang mendukung juga mempengaruhi desain dan operasional sistem logistic yang akan diberlakukan guna menciptakan efisiensi dan efektifitas produksi suatu barang dan jasa.
Perencanaan logistik secara nasional diperlukan jika melihat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari 17.584 buah pulau dengan potensi kekayaan alam yang melimpah dan menghasilkan komoditas strategis maupun komoditas ekspor. Dengan kondisi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dan hasil industri olahannya Indonesia berpotensi sebagai pemasok barang dunia. Disamping itu, jumlah penduduk Indonesia yang besar berpotensi pula sebagai pasar global. Peranan sebagai pemasok dan juga sebagai pasar dunia memberikan peluang pengembangan rantai distribusi atau sistem logistik di tingkat nasional.
Secara umum telah ada rantai distribusi pada masing-masing komoditas. Data menyebutkan biaya distribusi masih tinggi atau secara nasional biaya yang dikeluarkan mencapai 27% (dua puluh tujuh %) dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu kualitas pelayanan belum memadainya. Rendahnya kualitas pelayanan dikenali dari: (a) rendahnya kuantitas dan kualitas tingkat penyediaan infrastruktur, (b) masih adanya pungutan tidak resmi dan biaya transaksi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, (c) lamanya waktu pelayanan ekspor-impor, d) hambatan operasional pelayanan di pelabuhan, (e) masih terbatasnya kapasitas dan jaringan pelayanan penyedia jasa logistik nasional, (f) masih terjadinya kelangkaan stok dan fluktuasi harga kebutuhan bahan pokok masyarakat, terutama pada hari-hari besar nasional dan keagamaan, dan bahkan (g) masih tingginya disparitas harga pada daerah perbatasan, terpencil dan terluar.
Untuk mengembangkan Sistem Logistik Nasional yang terintegrasi, efektif dan efisien telah dikeluarkan PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2012 tentang CETAK BIRU PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL. Peran pokok Cetak Biru Sistem Logistik Nasional (Sislognas) adalah memberikan arahan dan pedoman bagi pemerintah dan dunia usaha untuk membangun Sistem Logistik Nasional yang efektif dan efisien. Ke depan cetak biru dapat sebagai panduan dalam pengembangan logistik bagi para pemangku kepentingan terkait serta koordinasi kebijakan dan pengembangan Sistem Logistik Nasional. Tujuan pengembangan Sistem Logistik Nasional adalah sebagai salah satu prasarana dalam membangun daya saing nasional.
Secara umum kinerja logistik nasional masih belum menggembirakan. Hal ini terlihat dari Logistics Performance Index (LPI) yang dikeluarkan Bank Dunia dimana peringkat Indonesia menurun dari urutan 43 (empat puluh tiga) pada tahun 2007, menjadi urutan 75 (tujuh puluh lima) pada tahun 2010.
Selain itu belum ada pemilihan komoditas prioritas dalam strategi pengembangan logistik nasional. Masih terjadi perbedaan prioritas antar K/L yaitu antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Pembagian prioritas Kementerian Perdagangan yaitu: a) Produk Unggulan, b) Produk Potensial, dan c) “produk Jasa”. Di lain pihak, Kementerian Perindustrian menetapkan 13 (tiga belas) jenis industri yang menjadi indikator kinerja industri nasional. Secara umum, dalam skala nasional, komoditas prioritas pemerintah yaitu: 1) bahan pangan (beras dan minyak goreng), 2) bahan sandang (tekstil dan produk tekstil), 3) bahan perumahan (semen dan baja). Disamping itu, ada komoditas strategis seperti bahan bakar minyak dan gas (BBM), hasil tani (jagung dan kedelai), pupuk, dan lain-lain.
Biaya logistik nasional yang tinggi mencapai 27% dari PDB disumbangkan oleh tingginya biaya transportasi darat dan laut. Disamping itu terdapat faktor-faktor lain yang ikut menyumbang tingginya biaya logistik yaitu: a) faktor terkait dengan regulasi, SDM, b) proses dan manajemen logistik yang belum efisien, dan c) kurangnya profesionalisme pelaku
dan penyedia jasa logistik nasional seperti belum efisiennya perusahan jasa pengiriman barang dalam negeri.
11.2 Sistem Lumbung Ikan Nasional
Meskipun ikan dan hasil laut belum menjadi komoditas prioritas dalam pengembangan Sislognas, gagasan pengembangan SLIN dalam rencana strategis sebagai penyangga stok ikan diharapkan mampu mendorong industrialisasi di sektor perikanan, menopang ketahanan pangan nasional serta mensejahterakan nelayan. SLIN dikembangkan dalam rangka mendukung industri perikanan seperti yang diamanatkan oleh RPJPN 2005_2025 dimana bidang Kelautan dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai rencana: a) Penguatan industri kelautan, dan b) pengembangan industri maritim.
Tujuan SLIN yaitu memberikan jaminan berupa kecukupan stok ikan dan harga yang relatif stabil tanpa dipengaruhi oleh musim apakah sedang paceklik atau lagi puncak panen. Pada tahap awal jenis ikan yang akan ditangani adalah kelompok ikan layang, kembung, sardine, serta kelompok ikan tuna, tongkol dan cakalang. Sedang unsur pendukungnya adalah pelabuhan perikanan, usaha kapal transport, asosiasi pelaku, dan perbankan. Seperti BULOG, SLIN juga dikembangkan sebagai sistim penyanggaan yang akan berfungsi menampung ikan sebanyak-banyaknya pada saat puncak panen ikan dengan membeli pada harga yang disepakati bersama sehingga pelaku di hulu tidak dirugikan.
Demikian pula berlaku sebaliknya, ketika musim paceklik, stok tersebut di lepas ke pasar sehingga konsumen tetap memperoleh suplai secara kontinyu dengan harga yang disepakati sehingga harga tidak melambung terlalu tinngi. Seluruh rantai pasokan produksi ikan laut adalah proses integrasi yang menggabungkan produksi, pengadaan, transportasi, pergudangan, penyimpanan, pemuatan, pembongkaran, pengiriman, pengepakan dan sebagainya serta upaya untukmemangkas biaya melalui pengiriman sehingga memberikan konsumen layanan yang lebih baik.
Sistem logistik ikan laut terdiri dari tiga komponen: 1) peserta logistik, 2) saluran logistik, dan 3) fungsi logistik, di bawah kendala dari sistem tertentu, peserta yang berbeda akan memilih saluran yang berbeda dan mengadopsi bentuk organisasi yang berbeda untuk melakukan fungsi logistik sehingga akan membentuk kegiatan logistik yang khusus.
Pemilihan dan penentuan saluran distribusi bukan suatu hal yang mudah karena kesalahan dalam memilih saluran distribusi akan dapat menggagalkan tujuan perusahaan yang telah di tentukan. Pemilihan saluran distribusi yang salah dapat menimbulkan penghamburan biaya atau pemborosan. Oleh sebab itu masalah pemilihan saluran distribusi akan sangat penting artinya bagi perusahaan yang menginginkan perkembangan kegiatannya.
Masalah pemilihan ini sangat penting sebab kesalahan dalam pemilihan saluran yang dipergunakan dapat memperlambat atau menghambat usaha penyaluran barang atau jasa yang dihasilkan telah sesuai dengan selera konsumen, tetapi jika saluran distribusi yang dipergunakan tidak mempunyai kemampuan, tidak mempunyai inisiatif dan kreatif serta kurang bertanggung jawab dalam menciptakan transaksi, maka usaha untuk penyaluran akan mengalami keterlambatan dan kemacetan.
Oleh karena pengaruhnya sangat besar terhadap kelancaran penjualan, maka masalah saluran distribusi ini harus benar-benar dipertimbangkan. Pada industri perikanan, produsen harus memperhatikan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi dalam pemilihan saluran distribusi. Beberapa petunjuk dalam pemilihan saluran distribusi sebagai berikut:
(a) Sifat komoditas ikan. Sifat dan karakteristik sumberdaya laut mudah rusak, sehingga diperlukan teknologi untuk mengolah perikanan tersebut menjadi produk yang tahan lama, dan juga adanya IUU fishing Illegal, unregulated, dan unreported yang sangat marak sehingga mengakibatkan kekurangan pasokan bahan baku ikan.
(b) Sifat ikan yang mudah rusak dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk menetapkan seluruh distribusi yang harus ditempuh. Sifat ikan yang perishible dapat cepat mengalami kerusakan sehingga dapat mempengaruhi turunnya nilai harga dan berpengaruh dalam penentuan rantai distribusi.
(c) Sifat Pembayarannya. Dalam pemasaran barang, ada barang-barang tertentu yang memerlukan penyebaran seluas-luasnya baik secara vertikal maupun horizontal. Biasanya barang-barang tersebut merupakan kebutuhan umum, harga perunit rendah serta pembelian dari setiap konsumen relatif kecil.
(d) Biaya. Salah satu kelemahan logistik perikanan Indonesia adalah tingginya harga distribusi ikan. Hal ini disebabkan letak geografis, luas perairan laut tetapi kurangnya infrastruktur perhubungan terkait transportasi laut. Untuk meningkatkan industri perikanan kendala utama adalah infrastruktur dan distribusi. Panjangnya jalur distribusi dan minimnya fasilitas pendingin membuat harga distribusi menjadi mahal. Sebagai gambaran, biaya distribusi ikan dari Ambon ke Jatim rata-rata untuk 1 kg ikan mencapai Rp 1.800,- . Jika distribusi sampai ke Jakarta biaya bisa mencapai Rp 2.000,- per kg. Jika dibandingkan dengan harga mendatangkan ikan impor dari luar negeri, khususnya impor dari China, biaya yang dibutuhkan sampai Jakarta hanya Rp 700 per kg. Dalam pengembangan SLIN dapat menekan biaya sampai Rp 1.000 per kg, dan secara bertahap akan terus menurun.
(e) Secara umum, mata rantai saluran distribusi yang terlalu panjang akan menimbulkan biaya yang lebih besar dan mendorong harga jual yang tinggi dan selanjutnya dapat menggangu kelancaran penjualan barang-barang tersebut. Hal ini dapat dimaklumi sebab setiap mata rantai menginginkan keuntungan yang layak sebagai imbalan dari kegiatan mereka.
(f) Untuk menekan harga penjualan maka perusahaan harus rela untuk mendapatkan keuntungan yang tipis atau mengusahakan agar komisi dari mata rantai tersebut menjadi lebih kecil.
(g) Modal.Sifat suatu barang terutama barang-barang industri harus dapat mendorong agar barang tersebut dapat diterima oleh konsumen atau lembaga industri. Salah satu caranya adalah menjual barang-barang tersebut secara konsinyasi atau piutang dalam tempo tertentu. Hal ini memerlukan dana yang tidak kecil. Kalau kita menggunakan grosir atau agen mungkin masalah modal sebagaimana kalau kita menjual langsung kepada pengecer.
(h) Tingkat Keuntungan. Persaingan yang makin tajam dapat mendorong penjualan menjadi rendah. Dalam keadaan demikian tingkat keuntungan dari perusahaan menjadi lebih rendah. Apabila perusahaan menggunakan mata rantai saluran distribusi yang sangat panjang, dapat menyebabkan harga ke konsumen menjadi lebih tinggi, dan ini menggangu penjualan barang tersebut. Perusahaan yang kebetulan tingkat keuntungannya lebih tinggi akan lebih loss dalam menentukan saluran distribusinya, sebab walaupun perusahaan menetapkan mata rantai saluran distribusi yang panjang, tetapi karena keuntungan masih cukup tinggi, maka harga sampai ke konsumen masih dapat bersaing.
Saluran tata niaga hasil perikanan pada umumnya terdiri dari produsen (nelayan dan petani ikan), pedagang perantara sebagai pengumpul, grosir, pedagang eceran dan konsumen. Pemilihan saluran distribusi berdasarkan Kotler memerlukan analisis atas faktor-faktor yang menyangkut masalah fungsi-fungsi marketing, jenis-jenis barang serta keinginan konsumen,kemudian baru dapat menentukan pilihannya terhadap saluran distribusi yang dianggap tepat. Dalam pengembangan SLIN beberapa hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
(1) Pertimbangan Pasar (Market Consideration)
Untuk pasar ekspor, komoditas perikanan Indonesia dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ikan dan udang. Pada kelompok ikan ada tiga sub kelompok, yaitu: a) ikan hidup, b) ikan utuh, dan c) ikan olahan. Kelompok udang terdiri dari: a) udang, b) lobster karang, c) lobster, dan d) udang olahan. Jenis komoditas perikanan yang berorintasi ekspor. Nilai ekspor perikanan Indonesia tahun 2006 mencapai US$ 2 milyar berdasarkan data FAO (2007). Jika dibandingkan dengan nilai ekspor negara Vietnam dan Thailand yang sekitar US$ 3,40 milyar dan US$ 5,20 milyar maka maka nilai ekspor Indonesia masih sangat jauh di bawah apalagi produksi perikanan kedua negara tersebut berada di bawah Indonesia.
Peringkat Indonesia berada dalam peringkat ke 7 (tujuh) di dunia berdasarkan neraca perdagangan tahun 2006 dengan nilai mencapai sekitar US$ 1,90 milyar. Sementara itu negara Thailand dan Vietnam berada pada peringkat 3 (tiga) dan 5 (lima) negara dengan masing-masing neraca perdagangan mencapai sekitar US$ 3,70 milyar dan US$ 3,10 milyar. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing produk perikanan Indonesia masih jauh di bawah produk perikanan kedua negara tersebut. Meskipun secara produksi, Indonesia merupakan negara kelima terbesar penghasil produksi perikanan dunia, namun demikian nilai ekspor perikanan Indonesia masih berada pada peringkat kesepuluh dunia. Berdasarkan hal tersebut pemerintah perlu untuk membenahi daya saing produk perikanan nasional di pasar internasional.
Secara khusus ekspor ikan tuna dalam kaleng kontribusinya relatif besar, hal ini berhubungan dengan permintaan ikan tuna dalam kaleng yang jauh lebih besar dibanding dengan ikan dalam kaleng jenis sardines, mackerel, salmon dan lainnya. Pada pasar dalam negeri permintaan volume pasar ikan tuna dalam kaleng jauh lebih kecil daripada ikan sardines dan mackerel dalam kaleng. Hal ini yang mengakibatkan industri pengolahan ikan tuna dalam kaleng di Indonesia lebih memfokuskan ke pasar ekspor.Pengembangan industri pengolahan ikan dan hasil laut untuk mengisi pangsa pasar dunia perlu memperhatikan:
a). Standar kesehatan dan keselamatan seperti yang berlaku di UE.
b). Pengembangan kepasar baru, tidak ke USA atau ke Eropa lagi tetapi ke negara-negara lain, misalnya ke Asia dan Timur Tengah.
c). Diversifikasi produk-produk perikanan khususnya untuk produk ikan siap saji. Pada umumnya untuk pasar ekspor telah terbentuk sistem logistik yang mapan antara produsen di Indonesia dan industri di lokasi pasar ekspor. Pasar umumnya merupakan pasar industri dengan pembeli atau buyer yang mengendalikan harga karena pasar kompetitif dengan pemasok dari berbagai negara. Pengaturan pasar dengan kuota untuk tiap negara semakin melemahkan posisi tawar eksportir ikan Indonesia. Pengembangan SLIN akan sangat berpengaruh terhadap pasar ekspor jika berhasil
meningkatkan efisensi terutama untuk mengurangi biaya transportasi. Beberapa penyebab mahalnya biaya transpor pengangkutan ikan dari wilayah timur ke tujuan ekspor yaitu: a) Pelabuhan di wilayah timur hanya bisa melakukan ekspor tetapi tidak bisa untuk impor, b) Sulit untuk menekan biaya transpor karena kapal berisi barang hanya pada saat berangkat. Pada saat kembali kapal sering kosong atau paling banyak hanya berisi setengah dari kapasitas muat barang. Sehingga pemiliki kapal membebankan tarif yang mahal. Hal serupa berlaku untuk pasar dalam negeri. Rendahnya harga ikan di tingkat lokal di wilayah timur tidak dapat berkompetisi dengan wilayah barat jika terjadi musim panen ikan dalam waktu yang bersamaan atau berdekatan karena mahalnya biaya transpor.
(2) Pertimbangan Produk Ikan
Ikan sebagai produk dalam sistem logistik mempunyai karakteristik tersendiri. Berbeda dengan beras, ikan jauh lebih perishable sehingga perlu penanganan logistik yang lebih kompleks dan mahal, terutama dalam hal penyimpanan yang memerlukan unit berpendingin. Jika jenis ikan yang yang dijual mudah rusak, maka nelayan langsung menjual ikan ke konsumen sehingga tidak diperlukan perantara. Sebagai konsekuensinya maka posisi tawar nelayan rendah. Jika nelayan ingin memperoleh posisi tawar yang lebih tinggi maka perlu menghubungi pedagang perantara yang memiliki fasilitas penyimpanan yang cukup baik.
Terkait dengan nilai atau harga maka jika jenis ikan yang akan dijual bernilai jual relatif rendah, maka produsen cenderung untuk menggunakan saluran distribusi yang panjang. Tetapi sebaliknya, jika nilai unitnya relatif tinggi, maka saluran distribusinya pendek atau langsung.
Barang-barang perikanan mempunyai ciri-ciri yang dapat mempengaruhi atau menimbulkan masalah dalam pemasaran. Ciri-ciri yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut (Hanafiah dan A.M Saefuddin 1986):
1) Produksinya musiman, berlangsung dalam ukuran kecil-kecil (small scale) dan di daerah terpencar-pencar serta spesialisasi. Produksi perikanan umumnya berlangsung secara musiman dan panennya (penangkapannya) terbatas dalam periode tertentu yang relativ singkat. Keadaan ini biasanya menimbulkan beban musiman (peak load) dalam pembiayaan, penyimpanan, pengangkutan dan penjualan;
2) Konsumsi hasil perikanan berupa bahan makanan relatif stabil sepanjang tahun. Sifat demikian ini dihubungkan dengan sifat produksinya yang musiman dan jumlahnya tidak berketentuan karena pengaruh cuaca, menimbulkan masalah dalam penyimpanan dan pembiayaan;
3) Barang hasil perikanan berupa bahan makanan mempunyai sifat cepat atau mudah rusak (perishable). Barang-barang hasil perikanan adalah organisme hidup dan karenanya mudah atau cepat mengalami kerusakan atau pembusukan akibat dari kegiatan bakteri, enzimatis dan oksidasi. Masalah ini membutuhkan usaha atau perawatan khusus dalam proses pemasaran guna mempertahankan mutu;
4) Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah. Kenyataan menunjukan bahwa jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap, tetapi berubah-ubahdari tahun ke tahun.
(3) Pertimbangan Nelayan/ Pemilik Kapal Penangkap
Penggunaan saluran distribusi langsung atau yang pendek biasanya memerlukan jumlah dana yang lebih besar. Oleh karena itu saluran distribusi pendek ini kebanyakan hanya dilakukan oleh nelayan atau pemilik kapal penangkapan ikan yang kuat modalnya. Nelayan atau pemilik kapal yang tidak kuat kondisi keuangannya akan cenderung menggunakan saluran distribusi yang lebih panjang.Biasanya kelompok nelayan penangkap ikan telah memiliki hubungan dengan pedagang pengumpul. Tetapi jika membentuk kelompok baru, atau berpindah lokasi penangkapan ikan maka penjualan lebih suka menggunakan perantara. Hal ini disebabkan karena umumnya perantara sudah lebih lama dan berpengalaman karena telah lama berada di wilayah tersebut. Jika pengiriman ikan melalui distribusi atau perantara maka nelayan akan lebih mudah kalau memilih saluran distribusinya pendek meskipun biayanya lebih tinggi.
(4) Pertimbangan perantara atau pedagang pengumpul
Hubungan antara nelayan tangkap dengan pemilik kapal sebagai pedagang pengumpul telah terbentuk lama. Atau jika pemilik kapal hanya sebagai produsen maka biasanya telah mempunyai tempat penampungan di satu atau lebih pedagang pengumpul. Hal ini berlaku di wilayah timur Indonesia yang meskipun telah disediakan tempat pelelangan ikan tetapi selama ini tidak berfungsi. Sebaliknya, di wilayah barat hanya di pulau Jawa tempat pelelangan ikan yang berfungsi sehingga pembentukan harga dapat terjadi disini. Keterikatan nelayan dengan pemilik kapal atau pedagang perantara sudah berakar sejak lama. Segala kebutuhan nelayan penangkap ikan akan dipenuhi oleh pemilik kapal dengan memberikan jaminan kebutuhan kepada keluarga yang ditinggalkan melaut dalam rangka mencari ikan.
11.3 Lumbung Ikan Maluku
Menurut Watloly (2010), secara filosofi lumbung memiliki 2 (dua) arti yaitu statis (penyimpan) dan dinamis (keberlanjutan). Arti statis adalah 1) Tempat penyimpan stok (pangan dan bibit) secara temporer; 2) Tempat menyimpan barang hasil jadi(statis); 3) Dapat dikosongkan sesuai irama dan siklus musim; 4) Terisolasi darilingkungan habitat; 5) Bukan tempat produk lestari. Sedangkan arti dinamis(keberlanjutan) adalah 1) Tempat beproduksi, bereproduksi berjenis ikan secaralestari; 2) Ajang tabur-tuai yang selalu terisi; 3) Menjadi sentra produksi danpertumbuhan habitat baru; 4) Menyatu dengan lingkungan habitat, terisi dan berkelanjutan; dan 5) Wilayah tangkap dan produk lestari untuk kesejahteraan masyarakat. Konsep Lumbung Ikan Nasional dalam Naskah Akademiknya diartikan sebagai kawasan penghasil produk perikanan terbesar di Indonesia secara berkelanjutan dan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi perikanan nasional.
Dalam siaran persnya mengenai “Lumbung Ikan Maluku Pacu Produksi
Perikanan Nasional” pada tahun 2011, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan
mengembangkan konsepsi Maluku sebagai wilayah lumbung ikan nasional melalui empat tahapan. Pertama, pengembangan wilayah berbasiskan pada peluang pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Kedua, potensi spesifik sumberdaya kelautan dan perikanan yang akan dikembangkan memiliki daya saing. Ketiga, bagian-bagian wilayah yang akan dikembangkan didorong untuk saling bersinergi. Keempat, bagian wilayah dimantapkan dengan penerapan struktur pengembangan wilayah.
Berdasarkan hasil penelitian Zulham, et. al. (2013), sebagai wilayah kepulauan, pembangunan industri di provinsi Maluku termasuk sektor kelautan dan perikanan tergolong pembangunan industri dengan biaya tinggi.Oleh sebab itu, perencanaan industri di daerah seperti provinsi Maluku memerlukan pertimbangan tingginya biaya produksi akibat dari tingginya biaya transportasi.Strategi pembangunan dengan mengelompokkan sentra industri dalam suatu jaringan industri yang mempertimbangkan sarana prasarana, kondisi existing, potensi pengembangan, jarak antar pusat industri merupakan kunci keberhasilan pengembangan industri.Mempertimbangkan faktor tersebut diatas, model jaringan industri yang cocok di Provinsi Maluku dapat dikelompokkan menjadi 1 (satu) penyedia jasa utama yaitu Kota Ambon dan 5 (lima) penyedia jasa antara yaitu Maluku Tengah di Masohi, Kab. Maluku Tenggara dan Kab. Aru yang berpusat di Tual, Maluku Tenggara Barat di P. Yamdena dan P. Wetar. Sedangkan sentra bahan baku lainnya berfungsi sebagai client (sentra bahan baku).
Dalam Naskah Akademik Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (2010) dinyatakan bahwa dalam pencapaian Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional memiliki tantangan yang besar dalam rangka pembangunan perikanan berkelanjutan. Lumbung ikan dalam suatu wilayah tertentu secara nasional dapat diartikan sebagai kawasan penghasil produksi ikan secara berkelanjutan dan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi perikanan nasional. Ekonomi kelautan berbasis sektor renewable resources dan jasa-jasa seperti sektor perikanan sangat prospektif untuk dioptimalkan dan dikembangkan mengingat ketersediaan sumberdaya ikan yang relatif besar. Namun demikian, diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan sehingga sektor ini dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi negara kepulauan secara berkelanjutan dan sekaligus dapat berperan sebagai penjamin kebutuhan dan ketahanan pangan nasional dan bahkan dunia.
Menurut data yang dirilis tahun 2004, potensi lestari atau maximum sustainable yield (MSY) sumberdaya ikan yang terdapat di perairan laut Indonesia diperkirakan 6,4 juta ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan atau total allowable catch (TAC) sebesar 5,12 juta ton/tahun atau 80% dari MSY dengan produksi tahunan sebesar 4,7 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan laut telah mencapai 73% dari MSY (Simbolon 2011).
Produksi hasil tangkapan di propinsi Maluku tahun 2008-2013 selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun berdasarkan jenis-jenis ikan dominan. Jenis ikan lainnya sangat dominan karena mendominasi sekitar 65 % dari jumlah ikan yang tertangkap. Sedangkan produksi ikan tuna dan cakalang meskipun selalu mengalami peningkatan namun proporsinya baru sekitar 15 % dari total produksi. Tingginya share jenis ikan lainnya menunjukkan bahwa ikan-ikan yang ditangkap merupakan kumpulan ikan yang mempunyai nilai ekonomi rendah atau ikan dengan kualitas yang rendah (DKP Provinsi Maluku, 2013).
11.4 Konsep Pengembangan Lumbung Ikan Nasional
Maluku memiliki posisi strategis dan potensi perikanan yang cukup besar, sehingga peluang pengembangan sektor kelautan dan perikanan nmaluku masih sangat besar. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah dengan menjadikan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (M-LIN). Konsep pengembangan lumbung ikan nasional terdiri dari empat pilar utama yang saling berkaitan dan bersinergi, yaitu: lumbung (logistik), produk (ikan), ruang dan sumberdaya manusia. Masing-masing pilar tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (Direktorat Tata Ruang Laut P3K, 2012):
(a) Lumbung (Logistic)
Untuk menjamin ketersediaan produk perikanan yang menjajikan dan berkelanjutan merupakan criteria pertama bagi kesuksesan program LIN Maluku. Melalui jamainan ketersediaan hasil perikanan bagai konsumsi ikan, baik konsumsi lokal maupun nasional, maka Provinsi Maluku akan disebut sebagai Lumbung Ikan Nasional.
(b) Ikan (Product)
Sebagai suatu lumbung ikan nasional, maka Maluku selain mampu menjamin ketersediaan produk periknanan juga harus memiliki system logistik produk perikanan yang efektif dalam menjangkau peluang pasar yang potensial, baik lokal, regional, maupun global. Sistem jaringan pemasaran hasil-hasil perikanan sangat terkait dengan upaya-upaya pengembangan sentra-sentra produksi, baik pada kegiatan industri hulu maupun kegiatan industri hilir. Oleh karena itu, estimasi terhadap kapasitas produksi jenis atau produk dan nilai hasil produksi pada masing-masing sentra produksi adalah sangat penting.
(c) Ruang (Spatial)
Pengembangan sentra-sentra kegiatan produksi sangat ditentukan oleh potensi unggulan pada masing-masing kawasan/sentra. Dengan menetapkan fungsi sentra-sentra sesuai dengan potensi unggulan masing-masing serta didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana produksi yang memadai (listrik, energy, air bersih, perhubungan, komunikasi dan sebagainya), maka peran sentra-sentra produksi dalam memenuhi kebutuhan konsumsi ikan (sesuai jaringan pasar) diharapkan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
(d) Sumberdaya Manusia
Selain ketuga aspek di atas (lumbung, ikan dan ruang), maka peran aspek sumberdaya manusia adalah sangat penting. Pengembangan sumberdaya manusia, dalam hal ini adalah mempersiapkan sumberdaya manusia untuk memperkokoh system budaya dan kelembagaan guna menjamin keberlanjutan pengelolaan sumberdaya perikanan secara eefektif dengan memmperhatikan aspek budaya (culture) dan kapasitas (capacity), ` Pengembangan lumbung ikan nasional ke depan, sebaiknya selain memperhatikan empat pilar di atas (lumbung, ikan, ruang dan sumberdaya manusia) juga dilakukan dengan memperhatikan dua hal penting, yaitu (Direktorat Tata Ruang Laut P3K, 2012):
(1) Peningkatan konektivitas Sistem Logistik Ikan Nasional dan Kelancaran Sistem Produksi dan Pemasaran.
Maluku sebagai lumbung ikan nasional harus dapat memenuhi kebutuhan ikan untuk konsumsi skala local dan berperan mendukung program ketahanan pangan ikani
nasional, yang terdiri dari: ketahanan pangan ikani skala gugus pulau (6 gugus pulau), ketahanan pangan ikani skala provinsi (Maluku), ketahanan pangan skala regional (antarwilayah), dan ketahanan pangan skala nasional.Selain dapat memenuhi kebutuhan ikan skala local, produk ikan juga ditujukan untuk konsumsi global (ekspor). Dengan demikian, lumbung ikan dapat meningkatkan peluang bisnis di sektor periknanan. Optimlasisasi pemanfaatan potensi perikanan melalui program lumbung ikan nasional akan meningkatkan volume perdagangan antardaerah, baik skala local, regional dan ekspor, sehingga secara tidak langsung impor produk perikanan dapat semakin diturunkan.
(2) Membangun daya saing hasil perikanan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat
Sektor perikanan di Maluku sangat potensial, hal ini karena Mauluku sebagai wilayah kepulauan dengan perairan yang sangat luas. Produk ikan ditentukan berdasarkan daerah keberaan ikan/spot-spot ikan (fishing ground). Kemudian, spot-spot ikan akan dikelompokkan dalam cluster ikan.Produk ikan yang diperoleh dari kegiatan produksi ikan (perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengolahan), yang kesemuanya berdinergi dengan kegiatan konservasi yang akan mendukung kegiatan perikanan secara berkelanjutan. Untuk meningkatkan nilai produk perikanan, maka dilakukan alternative pengolahan dengan adanya industry periknanan. Produk yang didistribusikan tidak hanya dalam bentuk bahan mentah, tetapi sudah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi.
Tujuan program pengembangan lumbung ikan nasional Maluku adalah selain untuk memenuhi konsumen local juga untuk mendukung peningkatan ekspor perikanan nasional yang berkualitas dan kompetitif. Perairan Maluku yang kaya akan ikan pelagis besar, rumput laut, dan udang memiliki potensi ekspor periknanan menuju kawasan dengan konsumsi perikanan tinggi, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Timur. Ekspor perikanan ditargetkan yang berdaya saing, yaitu bernilai tambah tinggi dan terspesialisasi, berupa produk perikanan olahan dan produk ikan pelagis besar. Pengembangan ekspor juga dilakukan untuk memperluas pembukaan unit-unit pengolahan ikan (UPI) baru yang terbesar di dekat pusat-pusat produksi melalui pendekatan industriliasasi di kawasan minapolitan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja baru dan berkembangnya kegiatan multiplier yang mendukung usaha perikanan. Secara spasial, strategi ini juga bertujuan menciptakan pusat-pusat kegiatan perikanan baru untuk mendukung strategi inklusifitas pembangunan di wolayah timur Indonesia.
Provinsi Maluku berdasarkan arahan struktur pusat-pusat di dalam RTRN 2008-2028 dibagi ke dalam enam gugus pulau, dengan pembagian sebagai berikut (Direktorat Tata Ruang Laut P3K, 2012):
(1) Gugus Pulau Buru, dengan pusat kegiatan Namlea dan Amrole yang memiliki kegiatan dominan periknanan tangkap.
(2) Gugus Ambon dan Pulau Seram, dengan npusat kegiatan di Kota Ambon sebagai pelabuhan ekspor dan insutri pengolahan ikan dan jasa perikanan, dan Maluku Tengah dan Seram Timur dengan kegiatan dominan perikanan tangkap dan perikanan budidaya di Seram Barat.
(3) Gugus Kepulauan Kei – Maluku Tenggara, dengan npusat kegiatan Kota Tual memiliki fungsi sebagai pelabuhan ekspor, dan nkawasan industry pengolahan dan jasa perikanan, dengan kegiatan dominan yaitu perikanan tangkap, dan pusat lainnya adalah Langgur dengan kegiatan dominan wisata bahari di samping perikanan tangkap dan budidaya.
(4) Gugus Pulau-pulau Tanimbar, dengan pusat kegiatan Saumlaki, memiliki fungsi untuk pengembangan wisata bahari dan periknanan budidaya.
(5) Gugus Pulau Aru, dengan pusat kegiatan di Dobo, memiliki kegiatan dominan perikanan tangkap dan perikanan budidaya.
(6) Gugus Pulau-pulau Kisar – Maluku Barat Daya, dengan pusat kegiatan di Kisar dan kegiatan dominan perikanan tangkap.
12. METODOLOGI PENELITIAN 12.1 Kerangka Pemikian
Maluku merupakan suatu wilayah yang unik karena memiliki luas lautan yang sangat luas, terdapat beberapa pulau-pulau besar, sejumlah besar pulau-pulau kecil disertai jumlah penduduk yang tidak terlalu tinggi namun memiliki daya sebar yang tinggi. Namun di sisi lain, terlihat pula bahwa letak geografis Maluku memiliki potensi yang strategis untuk pengembangan ke depan. Pembangunan dalam kondisi geografis seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perwujudan integrasi perekonomian masyarakat, pembangunan infrastruktur dasar kesejahteraan masyarakat serta penyelenggaraan pemerintahan yang efektif membutuhkan biaya yang sangat besar.Ditambah lagi dengan permasalahan illegal fishing dan potensi degradasi lingkungan perairan laut.
Kebijakan Maluku menjadi Lumbung Ikan Nasional berarti menjadikan Maluku sebagai salah satuprodusen perikanan terbesar di Indonesia, yang mampu mensuplai kebutuhan konsumsimasyarakat dan industri nasional serta menjadi eksportir utama komoditas perikanan Indonesia (Bawole dan Apituley, 2011). Sebagai salah satu provinsi kepulauan, yang memiliki luas wilayah lautan lebih besar dibandingkan daratannya memiliki
potensi sumber daya perikanan yang besar terutama pelagis, demersal dan biota laut lainnya yang perlu dieksploitasi secara optimal (DKP Provinsi Maluku 2008).
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN)
Tujuan dari pengembangan Lumbung Ikan Nasional di Maluku, yakni menjamin ketersediaan produk kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, membangun sistem logistik perikanan yang berbasis sistem informasi, implementasi sistem ketahanan pangan nasional yang berbasis keunggulan daerah, meningkatkan kapasitas SDM dan pemberdayaan masyarakat, mengembangkan infrastruktur perikanan dan penunjangnya, memperluas jaringan pasar potensial, membangun dan memperkuat kelembagaan dan manajemen untuk pengelolaan perikanan, serta meningkatkan cakupan dan peran pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan.
P en in gk at an at au Pe n gu at an K es iap an M LI N Kebijakan M-LIN
Formulasi Rekomendasi Kebijakan dan Strategi serta Rencana Aksi Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional
Indeks dan Status Kesiapan MLIN
(Enam dimensi: ekologi, ekonomi, sosial, teknologi,
insfrastruktur, serta kelembagaan dan kebijakan) -
Kendala
- Kualitas SDM yang rendah - Infrastruktur belum memadai - Rendahnya pengawasan - Kebijakan kurang tepat
sasaran
- Minimnya dana pembangunan. Prospek:
- Pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi di KTI berbasis sumberdaya perikanan
- Pemenuhan ketersediaan bahan pangan ikani lokal dan nasional berkelanjutan berbasis keunggulan daerah
- 42% pemanfaatan sumberdaya ikan
Kondisi:
- Posisi perairan Maluku berada di golden
triangle fishing ground (WPP RI 714, 715, 718).
- Perairan Maluku memiliki produktivitas tinggi (terutama Laut Banda dan Laut Arafura). - Potensi SDI yang tinggi di Perairan Maluku
sebesar 26,5% (1,72 juta ton/tahun) dari total SDI nasional (6,52 juta ton/tahun)
Rencana Implementasi Program M-LIN dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Ikan nasional
Hambatan:
- Konflik kepentingan - Tingginya biaya transportasi - Rendahnya investasi - Aksesibilitas jaringan
pemasaran
- Jaminan pasar potensial
Peran Atribut-atribut yang sensitif sebagai
Faktor Pengungkit (leverage) Kesiapan MLIN Faktor-faktor Penentu Kinerja Status Kesiapan MLIN
Kendala yang dimiliki provinsi Maluku dalam implementasinya sebagai Lumbung Ikan Nasional adalah : (1) kualitas SDM dan kemampuan manejerial yang masih rendah yang dapat mempengaruhi produktivitas aspek teknis operasional, kelembagaan, dan pengelolaan, (2) keterbatasan dalam perolehan input teknologi dan modal usaha yang dapat mempengaruhi produktivitas usaha, (3) ketersediaan fasilitas dan infrastruktur pendukung yang masih kurang memadai, (4) rendahnya aspek pengelolaan data perikanan dan pengawasan, (5) kurangnya promosi kemitraan usaha, (6) implementasi kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang kurang tepat sasaran, dan (7) minimnya investasi dan dana pembangunan perikanan. Selain itu hambatan yang dimiliki Maluku sebagai wilayah kepulauan adalah: (1) banyakya konflik kepentingan, (2) tingginya biaya transportasi, (3) aksesibilitas jaringan pemasaran dan jaminan pasar potensial.
Faktor-faktor dari kendala dan hambatan tersebut menjadi penentu tingkat kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional yang diukur dengan beberapa dimensi yaitu Sosial, Ekonomi, Ekologi, Teknologi, serta Kelembagaan dan Kebijakan. Dengan diketahui tingkat kesiapan Maluku dari dimensi-dimensi tersebut, maka akan dihasilkan rekomendasi kebijakan dan strategi peningkatan atau penguatan kesiapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (MLIN), sehingga dalam implementasinya akan berjalan efektif sesuai dengan sasaran yang diharapkan.
12.2 Model Pendekatan
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan pemilihan lokasi secara purposive yaitu disengaja pada wilayah Maluku yang akan dikembangkan sebagai Lumbung Ikan Nasional.
12.3 Metoda Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan analisis deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif dapat berupa uraian kata-kata atau interpretasi dari gambar atau tabel. Analisis ini digunakan untuk menjelaskan antar fenomena yang ditemukan dalam penelitian ini yang disajikan dalam bentuk table dan grafik. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis,faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2005).
Kemudian untuk mendapat tujuan yang ditetapkan dalam penelitian ini, digunakan sebanyak tiga pendekatan analisis, yaitu: (1) Pendekatan Multi Dimension Scalling (MDS) yang dimodifikasi menjadi Rapfish (Rapid Assessment Techniques for Fisheries) yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Columbia, Kanada; (2) Pendekatan Structural Equation Modeling (SEM); dan (3) Pendekatan Analisis Prospektif.
Pendekatan Rapfish, dalam penelitian ini pada dasarnya digunakan untuk mengukur nilai indeks dan status kesiapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (MLIN) serta menganalisis peran atribut-atribut yang sensitif sebagai faktor pengungkit kesiapan MLIN. Pendekatan SEM (Structural Equation Modeling) dalam penelitian ini digunakan untuk
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan M-LIN dengan analisis hubungan antara faktor-faktor penentu M-LIN seperti permintaan ikan di Maluku, dukungan pemerintah pusat, dan peran swasta di Maluku dengan kesiapan M-LIN. Kemudian pendekatan analisis prospektif, dalam penelitian ini digunakan untuk melakukan formulasi rekomendasi kebijakan dan strategi peningkatan atau penguatan kesiapan M-LIN. Dengan menggunakan pendekatan analisis prospektif ini dapat ditentukan faktor kunci dari atribut/indikator atau pun variabel berdasarkan pengaruh atau tingkat ketergantungannya terhadap kesiapan M-LIN. Masing-masing pendekatan analisis tersebut dijelaskan pada uraian berikut dan diringkas sebagaimana terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1.Tahap-Tahap Analisis Data yang Dilakukan Sesuai dengan Tujuan Penelitian
No Tujuan Topik data Jenis data Sumber data Metode
pengambilan data
Metode analisis
1 Mengukur status kesiapan Maluku
sebagai Lumbung Ikan Nasional (MLIN) dan peran atribut-atribut dari setiap dimensi sebagi factor pengungkit (leverage) status kesiapan MLIN
Atribut-atribut dari enam dimesi, yaitu: (1) Dimesi ekologi; (2) Dimensi ekonomi; (3) Dimensi sosial; (4) Dimensi teknologi; (5) Dimensi infrastruktur; dan (6) Dimensi kelembagaan dan kebijakan
Primer dan Sekunder - Pelaku usaha - Dinas KP - Pelabuhan Perikanan - Ditjen terkait 13 Observasi 14 Survey Pendekatan Multidimensial Scaling (MDS) berdasarkan teknik ordinasi dan leverage analysis
2 Menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi kesiapan Maluku
sebagai Lumbung Ikan Nasional
- Status kesiapan MLIN - Permintaan ikan di Maluku, - Dukungan pemerintah pusat, - Peran swasta di Maluku
Primer dan Sekunder - Pelaku usaha - Dinas KP - Pelabuhan Perikanan - Ditjen terkait 15 Observasi 16 Survey Pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) 3 Merumuskan rekomendasi
kebijakan, strategi dan rencana aksi dalam rangka mempersiapkan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional
Data dan informasi hasil tujuan 1 dan 2 Primer dan
Sekunder - Pelaku usaha - Dinas KP - Pelabuhan Perikanan - Ditjen terkait
Sintesa dari hasil tujuan 1 dan 2 Pendekatan Brainstorming, FGD dan Analisis Prospektif
(1) Metode Analisis Multidimensional Scalling (MDS)
Analisis multidimensional scalling (MDS) dalam penelitian digunakan untuk mengukur status kesiapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (MLIN) dan menganalisis peran atribut-atribut dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, infrastruktur serta kelembagaan dan kebijakan yang menjadi indikator dari kesiapan M-LIN. Penggunaan analisis MDS untuk kedua hal tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik ordinasi Rapfish_Mlin (Rural Appraisal for Fisheries – Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional), yaitu teknik ordinasi yang dimodifikasi dari Rapfish (Rapid Appraisal for
Fisheries).
Teknik ordinasi Rapfish adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia, Kanada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability dari perikanan secara multidisipliner. Rapfish_Mlin didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) dengan metode Multidimensial
Scaling (MDS) (Fauzi dan Anna, 2005). MDS sendiri pada dasarnya merupakan teknik
statistic yang mencoba melakukan transformasi multidimeni ke dalam dimensi yang lebih rendah. Pendekatan MDS memberikan hasil yang stabil dibandingkan dengan metode multivariate analysis lain (Pitcher dan Preiskot, 2001).
Analisis status kesiapan M-LIN dan peran atribut-autribut dari dimensi-dimensi yang digunakan terkait dengan kesiapan M-LIN yang dilakukan dengan menggunakan Rapfish yang dimodifikasi ini dilakukan secara statistik multivariate dengan pendekatan
Multidimensional Scaling (MDS). Analisis multidimensi menurut Bengen (2000) merupakan
analisis data yang menggambarkan karakter-karakter kuantitatif dan kualitatif suatu/sekumpulan individu yang disusun berdasarkan suatu orde dan tidak dapat dilakukan operasi aljabar sehingga cenderung lebih dekat pada statistik deskriptif dari pada statistik inferensial.
Secara skematis, tahapan analisis Rapfish-Mlin untuk pengukuran tingkat kesiapan Maluku menjadi lumbung ikan nasional menggunakan metode MDS dengan aplikasi Rapfish yang dimodifikasi disajikan pada Gambar 2.
Sumber: dimodifikasi dari Alder, et al. (2005)
Gambar 2. Tahapan Analisis Rap-mlin untuk Pengukuran Status Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional
Sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 2, prosedur analisis Rapfish-Mlin dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (Fauzi dan Anna, 2005):
(1) Analisis terhadap data kesiapan MLIN melalui data statistik, studi literatur dan pengamatan di lapangan.
(2) Melakukan scoring dengan mengacu pada literatur.
(3) Melakukan analisis MDS dengan software SPSS untuk menentukan ordinasi dan nilai stress melalui ALSCAL Algoritma.
(4) Melakukan “rotasi” untuk menentukan posisi kesiapan MLIN pada ordinasi bad dan good dengan Excell dan Visual Basic.
(5) Melakukan sensitivity analysis (leverage analysis) dan Monte Carlo Analysis untuk memperhitungkan aspek ketidakpastian.
Mulai
Review Attribute (meliputi berbagai
kategori dan skoring kriteria)
Identifikasi dan pendefinisian Kesiapan MLIN (didasarkan kriteria
yang konsisten)
Skoring Kesiapan MLIN (mengkonstruksi reference point untuk good dan bad serta anchor)
Analisis Kesiapan MLIN
(Asess Readiness)kesiapan
MLIN
Analisis leveraging (Analiis Sensisitifitas) Analisis Monte Carlo
(Analisis Ketidakpastian)
Multidimesional Scaling Ordination (untuk setiap atribut)
Dalam penelitian ini, pendekatan analisis Rap-mlin digunakan untuk dua hal, yaitu: mengukur status kesiapan M-LIN dan menganalisis peran atribut-atribut dari setiap dimensi terkait dengan kesiapan M-LIN, yang masing-masing dijelaskan pada uraian berikut.
- Pendekatan Rapfish-Mlin untuk Mengukur Status Kesiapan M-LIN
Dalam penelitian ini, status kesiapan M-LIN diukur dan dianalisis berdasarkan enam dimensi, yaitu: ekologi, ekonomi, social, teknologi, infrastruktur serta kelembagaan dan kebijakan, dengan atribut-atribut yang khas seperti tertera pada Tabel 2.
Tabel 2.Atribut-atribut yang Digunakan sebagai Indikator dalam Mengukur Status Kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional Menurut Dimensinya
No. Dimensi No. Atribut
1. Ekologi 1.1 Status eksploitasi (exploitation status)
1.2 Keragaman hasil tangkapan (Recruitment variability)
1.3 Perubahan dalam level tropis (Change in tropic level)
1.4 Rentang migrasi ikan (migratory range)
1.5 Penurunan jumlah ikan hasil tangkapan (Range collapse)
1.6 Ukuran ikan yang tertangkap (size of fish caught)
1.7 Perkembangan produksi ikan (production of fish)
1.8 Perubahan iklim (climate change)
2. Ekonomi 2.1 Profitabilitas usaha perikanan (profitability)
2.2 Kontribusi PRDB perikanan (share of fisheries PDRB)
2.3 Rata-rata upah pekerja perikanan (average wages)
2.4 Tenaga kerja perikanan (fisheries sector employmen)
2.5 Transfer pendapatan dari pemilik usaha (ownership transfer)
2.6 Pasar (market)
2.7 Daya saing (competitiveness)
2.8 Subsidi (subsidies)
3. Sosial 3.1 Hubungan social dalam pengelolaan usaha perikanan
(Sozialisation of fishing)
3.2 Penambahan pelaku usaha baru selain perikanan tangkap (New
entrants into the marie culture)
3.3 Rumah tangga perikanan (Fishing sector)
3.4 Pengetahuan terhadap lingkungan (Enviromental knowledge)
3.5 Tingkat pendidikan (Education level)
3.6 Status konflik (Conflict status)
3.7 Partisipasi pelaku usaha perikanan (Fisher influence)
3.8 Pendapatan dari usaha perikanan (Fishing income)
3.9 Keterlibatan anggota rumah tangga (Kin participation)
3.10 Tingkat ketergantungan (Adjacency and reliances)
3.11 Pengaruh norma social (Influences-ethical formation)
4. Teknologi 4.1 Teknologi komunikasi di kapal
4.2 Teknologi distribusi ikan hasil tangkapan
4.3 Teknologi pengolahan hasil tangkapan
4.4 Teknologi penanganan ikan di atas kapal
4.5 Pengaturan ikan hasil tangkapan yang dibuang (By catch)
5. Infrastruktur 5.1 Infrastruktur Jalan
5.2 Infrastruktur listrik
5.3 Infrastruktur air bersih
5.4 Infrastruktur gudang /cold storage
5.5 Infrastruktur pabrik es
6. Kelembagaan dan
Kebijakan
6.1 Tata kelola perikanan (Aturan /perundang-undangan)
6.2 Prinsip batas kewenangan dan pengambilan keputusan
6.3 Peran kelembagaan pengawasan
6.4 Peran kelembagaan penyuluhan
6.5 Peran lembaga keuangan
6.6 Pengaturan pilihan kolektif (Pembatasan akses terhadap
sumber daya ikan)
6.7 Pengorganisasian hak kepemilikan
6.8 Pemberian sanksi (penegakan aturan oleh nelayan)
6.9 Kebijakan penanganan penagkapan ikan ilegal (illegal fishing)
Kemudian atribut setiap dimensi ditentukan berdasarkan judgment knowledge pakar. Tiap atribut yang kondisinya baik (good) diberi skor 2, sedangkan atribut yang kondisinya buruk (bad) diberi skor 0 (nol) dan di antara kondisi baik dan buruk diberi skor 1. Skor defenitif tersebut adalah nilai modus, yang dianalisis untuk menentukan titik-titik yang mencerminkan posisi kesiapan relatif terhadap titik baik dan buruk dengan teknik ordinasi statistik MDS. Skor perkiraan tiap dimensi dinyatakan dengan skala terburuk 0 % (bad) sampai dengan yang terbaik 100 % (good), yang dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu:
(a) Skor gabungan dimesi dengan skala 0 – 25 % adalah kategori “tidak siap” (b) Skor gabungan dimensi dengan skala 25,01 – 50 % adalah kategori “kurang siap” (c) Skor gabungan dimensi dengan skala 50,01 – 75 % adalah kategori “cukup siap” (d) Skor gabungan dimensi dengan 75,01 – 100 % adalah kategori “siap”
A. Pendekatan Rapfish-Mlin untuk Menganalisis Peran Atribut dari Dimensi Kesiapan M-LIN
Analisis peran atribut-atribut setiap dimensi kesiapan M-LIN dilakukan dengan menggunakan prosedur attribute leveraging dari analisis MDS (Rapfish-Mlin). Secara umum, analisis ini dimulai dengan me-review atribut dan mendefinisikan kesiapan M-LIN yang akan dianalisis, kemudian dilanjutkan dengan scoring, yang didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan Rapfish-Mlin. Setelah itu dilakukan MDS untuk menentukan posisi relative dari kesiapan M-LIN terhadap ordinasi good dan bad. Selanjutnya, analisis Monte
Carlo dan Leverage dilakukan untuk menentukan aspek ketidakpastian dan sensitivitas dari
atribut-atribut yang dianalisis.
Dalam prosesnya, analisis peran atribut-atribut yang dalam hal ini dilakukan berdasarkan analisis Monte Carlo dan analisis leverage (analisis sensitivitas) tersebut
merupakan kelanjutan analisis dari hasil pengukuran ordinasi MDS dan pengukuran skor setiap atribut dari seluruh dimensi. Tingginya sensitivitas dari atribut yang diukur menunjukkan derajat pengaruhnya terhadap kesiapan M-LIN. Dengan kata lain semakin tinggi sensitivitas tersenut maka semakin besar pengaruhnya sebagai faktor penentu kesiapan M-LIN. Peran masing-masing atribut terhadap nilai indeks yang dianalisis dengan “attribute leveraging”, sehingga terlihat perubahan ordinasi apabila atribut tertentu dihilangkan dari analisis. Peran (pengaruh) setiap atribut dilihat dalam bentuk perubahan
Root Mean Square (RMS) ordinasi khususnya pada sumbu-x. Atribut-atribut yang memiliki
tingkat kepentingan (sensitivitas) tinggi dari hasil analisis ini, dianggap sebagai faktor pengungkit, yang apabila dilakukan perbaikan pada atribut tersebut maka akan berpengaruh besar dalam mengungkit nilai indeks keberlanjutan menjadi lebih baik. Perbaikan terhadap atribut sensitif, yang merupakan faktor pengungkit tersebut, akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kesiapan Maluku untuk menjadi lumbung ikan nasional.
Pemilihan MDS dalam analisis ini dilakukan mengingat metode multi-variate analysis yang lain, seperti factor analysis dan multi-atribute utility theory (MAUT), terbukti tidak melahirkan hasil yang stabil (Pitcher dan Preikshot, 2001). Di dalam MDS, objek atau titik yang diamati dipetakan ke dalam ruang dua atau tiga dimensi, sehingga objek atau titik tersebut diupayakn ada sedekat mungkin dari titik asal. Dengan kata lain, dua titik atau objek yang sama dipetakan dalam satu titik yang saling berdekatan. Sebaliknya, objek atau titik yang tidak sama digambarkan dengan titik-titik berjauhan. Teknik ordinasi atau penentuan jarak di dalam MDS didasarkan pada Euclidian Distances yang dalam ruang berdimensi n dapat ditulis sebagai:
2
2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 1 x y y z z n n x d ... (1) Konfigurasi atau ordinasi dari suatu obyek atau titik di dalam MDS, kemudian diaproksimasi dengan meregresikan jarak Euclidian (dij) dari titik i ke titik j dengan titik asal(oij), sebagaimana persamaan berikut:
ij ijd
... (2)Teknik yang digunakan untuk meregresikan Persamaan (2) adalah algoritma ALSCAL (Alder et al., 2000 dalam Fauzi dan Anna, 2005). Metode ini paling sesuai untuk Rapfish dan mudah serta tersedua aplikasinya pada banyak software (seperti SPSS dan SAS). Metode ALSCAL pada prinsipnya mengoptimalkan jarak kuadrat (square distance = dijk)
terhadap data kuadrat (titik asal = σij), yang dalam tiga dimensi (i,j,k) ditulis dalam formula
m k i j ijk i j ijk ijko
d
m
S
1 2 2 20
1
………..……….………. (3)Dimana jarak kuadrat merupakan jarak Euclidian yang dibobot dengan formula:
r a ja ia kx
x
d
1 2 2 ... (4)Pada setiap pengukuran yang bersifat mengukur (metric) kondisi fit (goodness of fit), jarak titik pendugaan dengan titik asal, menjadi sangat penting. Goodness of fit dalam MDS tidak lain adalah mengukur seberapa tepat (how well) konfigurasi dari suatu titik dapat mencerminkan data aslinya. Goodness of Fit dalam MDS dicerminkan dari besaran nilai Stress (S) dan koefisien determinasi (R2). Nilai S yang baik adalah kurang dari 0,25, sedangkan nilai R2 yang baik adalah lebih besar dari 80 % atau mendekati 100 % (Malhotra, 2006). Evaluasi pengaruh galat acak (error) dilakukan dengan analisis montecarlo untuk mengetahui: pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut, pengaruh variasi pemberian skor, stabilitas proses analisis MDS yang berulang-ulang, keselahan pemasukan data (data entry) atau hilangnya data (missing data). Nilai stress (S) yang dapat diterima dari analisis Monte Carlo adalah sebesar kurang dari 25 % (Pitcher dan Preishot, 2001).
B. Metode Structural Equation Model (SEM) untuk Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi M-LIN
Untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan status kesiapan M-LIN, dalam penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM). Dalam satu dekade terakhir, penggunaan Structural Equation Modeling (SEM) semakin meningkat. Sebagai contoh, sebelum tahun 1990, dalam bidang pemasaran (marketing, hanya sekitar sepuluh artikel penelitian yang menggunakan SEM. Namun, pada periode 1995-2007, lebih dari dua pertiga dari keseluruhan artikel yang dipublikasikan dalam jurnal
marketing ternama nmenggunakan SEM (Hair et al., 2013; Banin et al., 2008; Hair et al.,
2011). Perkembangan signifikan dalam penggunaan SEM juga terdapat dalam bidang lain, seperti: psikologi, sosiologi, dan akuntansi (McQuitty, 2004; Henri, 2007; Hair et al., 2011). SEM merupakan salah satu jenis analisis multivariat (multivariate analysis) dalam ilmu sosial. Analisis multivariat merupakan aaplikasi metode statistika untuk menganalisi beberapa variabel penelitian secara simultan atau serempak. Hair et al. (2013) membagi metode analisis multivariat menjadi dua kelompok, yaitu; (1) Bertujuan konfirmasi (primarily confirmatory); dan (2) Bertujuan eksplorasi (primaily exploratory). Analisis multivariat konfirmatoris digunakan untuk menguji hipotesis yang dikembangkan
berdasarkan teori dan konsep yang sudah ada. Analisis multivariat eksploratoris digunakan untuk mencari pola data dalam kasus di mana belum ada atau masih terbatasnya teori yang menyatakan baagaimana hubungaan nantarvariabel. Dalam metode SEM, kelompok pertama (multivariat konfirmatoris) dilakukan dengan pendekatan covarian base – CBSEM, sedangkan untuk kelompok kedua (multivariat eksploratoris) dilakukan dengan pendekataan
varian base – VBSEM atau disebut juga dengan pendekatan partial least square –
SEM-PLS.
B.1 Metode SEM-PLS
Sebelum dilakukan konfirmasi dengan menggunakan metode CB-SEM, terlebih dahulu dilakukan analisis pendekatan SEM dengan pendekatan partial least square untuk SEM (SEM-PLS). Dalam hal ini, SEM-PLS digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan kesiapan MLIN, atau hubungan kasual antar vaariabel-variabel penentu dengan variabel kesiapan MLIN. Penggunaan metode SEM-PLS ini, didasarkan pada pertimbangan: (a) belum adanya dukungan teoritis ataupun hasil empiris yang dapat digunakan sebagai landasan dalam membangun model hubungan kausal antara variabel-variabel penentu dengan variabel-variabel kesiapan M-LIN; (b) data yang terbatas dengan unit analisis kabupaten/kota di Provinsi Maluku dalam menganalisis hubungan kausal tersebut. Di samping itu, didasarkan pula pada pertimbangan penggunaan metode SEM secara umum, yaitu: (1) SEM mampu menguji model penelitian yang kompleks secara simultan; dan (2) SEM mampu menganalisis variabel yang tidak dapat diukur langsung (unobservables) dan memperhitungkan kesalahan pengukurannya.
SEM-PLS merupakan sebuah pendekatan pemodelan kausal yang bertujuan memaksimumkan variansi dari variable laten criterion yang dapat dijelaskan (explained
variance) oleh variabel laten predictor (Hair et al, 2013; Sholihin dan Ratmono, 2013).
SEM-PLSPM dapat digunakan untuk mendapatkan model yang terbaik untuk menganalisis hubungan kausalitas antara variabel-variabel peubah penentu dengan peubah M-LIN dengan memferifikasi model yang dibangun tanpa dukungan landasan teoritis atau hasil empiris sekalipun. Wold (1982) mengembangkan Hal ini karena SEM-PLS merupakan model SEM-PLS yang dapat bekerja efisien dengan asumsi-asumsi yang relatif longgar untuk analisis model struktural menggunakan variabel laten yang tidak mengasumsikan sebaran peluang teoritis tertentu, normalitas data secara multivariat, ukuran sampel minimum, dan homsokedastisitas, sehingga pengujian statistik dilakukan dengan metode resampling. SEM-PLS dapat dipandang sebagai gabungan analisis regresi dan analisis faktor sehingga dapat melakukan analisis model struktural dan model pengukuran yang dapat menghasilkan