• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berisi kesimpulan dari hasil penulisan laporan BAB VI. Daftar Pustaka

Berisi daftar pustaka yang digunakan sebagai literatur selama proses perencanaan dan perancangan kasus proyek.

BAB II

BAB II

STUDI LITERATUR

2.1. Pengertian dan Penjelasan Singkat Proyek

Proyek “Perancangan Shopping Center di Kawasan Transit Oriented Developmeny (TOD) Belawan”, yang mempunyai pengertian :

 Perancangan : Proses, cara atau perbuatan merancang, mengatur segala sesuatu.  Shopping Center : Suatu kompleks pertokoan/retail yang

dapat menampung kebutuhan berbelanja dan berekreasi bagi para pengunjung

 Kawasan : Daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu, seperti tempat tinggal, pertokoan, industri, dll.

 Transit Oriented Development : Suatu kawasan mixed-use dimna kita dapat berjalan kaki dengan radius ±600m (sesuai dengan kondisi keadaaan lingkungan negara TOD) dari pusat pemberhentian transit dan area inti komersial.

 Belawan : Salah satu dari 21 kecamatan di kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia.. Berdasarkan penelaahan pengertian dari tiap kata-kata pada Judul Proyek tersebut, penulis menetapkan bahwa Perancangan Shopping Center di Kawasan Transit Oriented Development (TOD) di Belawan adalah sebuah konsep perancangan pusat perbelanjaan guna mendukung fungsi transit dan sebagai saran perbelanjaan dan rekreasi bagi pengunjung dan penduduk kawasan TOD Belawan.

2.1.1. Belawan Sebagai Pengembangan Kawasan Transit di Sumatera Utara

Letak Kota Medan sangat strategis karena keberadaannya dekat dengan Pelabuhan Belawan di jalur Selat Malaka yang merupakan pintu gerbang atau pintu masuk wisatawan dan perdagangan barang dan jasa baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Kota Medan ini mewadahi berbagai fungsi, yaitu sebagai pusat administrasi pemerintahan, pusat industri, pusat jasa pelayanan keuangan, pusat komunikasi, pusat akomodasi kepariwisataan, serta berbagai pusat perdagangan regional dan internasional.

Sarana dan prasarana perhubungan di Kota Medan terdiri dari prasarana perhubungan darat, laut, udara. Transportasi lainnya adalah kereta api. Di samping itu juga telah tersedia prasarana listrik, gas, telekomunikasi, air besih dan Kawasan Industri Medan (KIM).

Dalam konteks rencana struktur ruang Kota Medan perlu disusun rencana sistem pusat-pusat pelayanan yang terdiri Pusat Primer dan Pusat Sekunder. Pusat Sekunder harus terintegrasi dengan Pusat Primer. Pengembangan struktur ruang Kota Medan terkait Belawan dilakukan dengan beberapa pertimbangan antara lain:

1. Mengembangkan kawasan Utara Medan menjadi Kawasan Strategis Kota (KSK) dengan memperhatikan potensi dan peranan kawasan utara yang memiliki pelayanan regional dan internasional, antara lain:

 Dengan memperhatikan peran penting Pelabuhan Belawan dalam pergerakan arus barang dari dan ke wilayah Sumatera Utara yang melayani sekitar 84,5 % arus masuk dan 77 % arus keluar Sumatera Utara.

 Pelabuhan Belawan merupakan outlet-inlet point utama yang memegang peranan penting dalam sistem perhubungan laut antara Sumatera Utara dengan wilayah lainnya;

 Dalam rangka mengembangkan perdagangan dalam skala regional, nasional, dan internasional ditempuh dengan meningkatkan kemampuan Pelabuhan Belawan menjadi pelabuhan Hub Internasional;

2. Berdasarkan arahan kebijakan Kawasan Perkotaan Mebidangro, kawasan utara diarahkan sebagai pengembangan:

 Pelabuhan penumpang (TOD= transit oriented development), pelabuhan laut peti kemas internasional, kawasan industri, pergudangan dan ekspedisi, Export Processing Zone (EPZ) dan pusat permukiman.

Pusat perdagangan (TOD), pusat pelayanan kawasan industri, kawasan industri

high technology, pusat permukiman industri, perlindungan kawasan dan bangunan

bersejarah, water front city, dan theme park. 2.2. Pengertian Shopping Center

Pengertian shopping center atau pusat perbelanjaan secara umum adalah kompleks pertokoan yang dikunju ngi untuk membeli atau melihat dan membandingkan barang-barang dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sosial masyarakat serta memberikan kenyamanan dan keamanan berbelanja bagi pengunjung.

Menurut International Council of Shopping Centre (ICSC) – organisasi paling besar dan paling berpengaruh untuk pusat perbelanjaan dunia–definisi pusat perbelanjaan adalah sekelompok usaha ritel dan usaha komersial lainnya yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki, dan dikelola sebagai satu properti tunggal. Menurut Nadine Beddington (1982), pusat perbelanjaan adalah suatu komplek pertokoan / perbelanjaan terencana y ang pengelolaanny a ditangani oleh suatu manajemen pusat yang menyewakan atau menjual unit-unit toko yang tersedia untuk pedagang dan mengenai hal-hal tertentu pengawasannya dilakukan oleh manajer yang sepenuhnya bertanggungjawab kepada pusat perbelanjaan tersebut.

Menurut Levy dan Weitz (2004), Pusat perbelanjaan juga dapat didefinisikan sebagai penyewa utama (anchor tenant), luas kotor area yang disewakan (gross leaseable area) dan wilayah bisnis. Sedangkan menurut Urban Land Institute, definisi pusat perbelanjaan adalah sekelompok bangunan komersial dengan arsitektur terpadu yang dibangun pada lokasi yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki dan dikelola sebagai sebuah unit operasional (Kowinski, 1985). Istilah “terpadu, serta direncanakan, dikembangkan, dimiliki, dan dikelola sebagai sebuah unit operasional” merujuk pada cara yang dilakukan manajemen pusat perbelanjaan untuk mengendalikan lingkungan mereka dalam upaya menciptakan dunia yang mereka khayalkan untuk para pengunjung di lingkungan pusat perbelanjaan.

2.2.3. Klasifikasi Shopping Center Klasifikasi shopping center antara lain :

a. Dilihat dari luas areal pelayanan berdasarkan U.L.I. standar (Shopping Centers, Planning, Development & Administration, Edgar Lion P.Eng)

1) Regional Shopping Centers :

Luas areal antara 27.870–92.900 m2, terdiri dari 2 atau lebih yang seukuran dengan department store. Skala pelayanan antara 150.000–400.000 penduduk, terletak pada lokasi yang strategis, tergabung dengan lokasi perkantoran, rekreasi dan seni.

2) Community Shopping Centre :

Luas areal antara 9.290 – 23.225 m2, terdiri at as junior departmen store, supermarket dengan jangkauan pelayanan antara 40.000-150.000 penduduk, terletak pada lokasi mendekati pusat-pusat kota (wilayah).

Luas areal antara 2.720 – 9.290 m2. Jangkauan pelayanan antara 5.000-40.000 penduduk. Unit terbesar berbentuk supermarket, berada pada suatu lingkungan tertentu.

b. Dilihat dari jenis barang yang dijual (Design for Shopping Centers, Nadine Beddington)

1) Demand (permintaan), yaitu yang menjual kebutuhan sehari-hari yang juga

merupakan kebutuhan pokok.

2) Semi Demand (setengah permintaan), yaitu yang menjual barang barang

untuk kebutuhan tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

3) Impuls (barang yang menarik), yaitu yang menjual barang-barang mewah

yang menggerakkan hati konsumen pada waktu tertentu untuk membelinya. 4) Drugery, yaitu yang menjual barang-barang higienis seperti sabun, parfum dan lain-lain.

c. Berdasarkan Bauran Jenis Usaha

Berdasarkan bauran jenis usahanya, pusat perbelanjaan dibedakan menjadi : 1) Pusat Perbelanjaan Berorientasi Keluarga

Pusat perbelanjaan ini menyediakan semua hal dalam satu atap (all under one

roof family–oriented shopping centre), dengan luas bersih area yang disewakan

sekitar 400.000 – 500.000 kaki persegi. Dimana didominasi oleh hy permarket, pusat hiburan, cinema, area bowling dan biliar.

2) Pusat Perbelanjaan Spesialis (Specialist Shopping Centre)

Jenis pusat perbelanjaan ini lebih kecil dari pada pusat perbelanjaan berorientasi keluarga dan hanya menawarkan satu jenis perdagangan utama, yang dilengkapi sejumlah toko lain yang mendukung bisnis utama, seperti makanan, minuman dan pelayanan pendukung lainnya.

3) Pusat perbelanjaan gaya hidup (Lifestyle Shopping Centre)

Pusat perbelanjaan ini melayani para professional muda yang bekerja di wilayah kota. Dan menawarkan produk tematis yang terkait dengan gaya hidup. Luas area ini sekitar 100.000 – 200.000 kaki persegi.

d. Berdasarkan Kepemilikan

Berdasarkan kepemilikannya, pusat perbelanjaan dibedakan menjadi : 1) Unit Ruang Usaha Dengan Hak Milik Bersusun (Strata Title Lot)

Merujuk pada pusat perbelanjaan dengan unit-unit toko y ang dimiliki oleh banyak individu dan setiap pemilik unit individu bebas memperlakukan unit property miliknya sesuai keinginan. Pemilik unit dapat membuka toko ritel, kantor korporasi kecil, atau menyewakan propertinya karena setiap pemilik unit membuat keputusan sendiri berdasarkan kepentingan pribadi mereka. 2) Manajemen Kepemilikan Tunggal (Single Owner-Ship Manajemen)

Dimana suatu tim professional di suatu pusat perbelanjaan dilibatkan untuk memaksimalkan hasil investasi dari satu property. Manajeme n pusat perbelanjaan bertugas merencanakan, menetapkan nama, memasarkan, serta mengelola property tersebut.

2.3. Shopping Center Sebagai Fasilitas Publik dalam TOD

Transit-oriented development atau disingkat TOD dapat menjadi salah satu

langkah strategis merancang kota masadepan yang lebih baik, termasuk juga mengurangi kepadatan lalulintas. TOD merupakan pendekatan perencanaan yang terkait dengan area berkepadatan tinggi, dengan pola ruang yang terklaster di sekitar stasiun dan koridor (Preiss & Shapiro, 2002). Indikator keberhasilan sistem TOD di suatu wilayah adalah lebih banyak orang dapat tinggal dan bekerja, pergi bersekolah, berbelanja, dan kegiatan lain dengan berjalan kaki dari dan ke stasiun. Atau dengan kata lain, orang-orang dapat melakukan aktivitas lokal dengan berjalan kaki.

Dalam aplikasinya, sistem TOD tidak bisa berdiri sendirian. TOD perlu ditunjang oleh mixed-use development atau sistem pengembangan berbasis penyampuran fungsi. Mixed-use development merupakan pengembangan produk properti (perkantoran, hotel, tempat tinggal, komersial) yang dikembangkan menjadi satu kesatuan, atau minimal dua produk properti yang dibangun dalam satu kesatuan (Mandala, 2013). Manfaat nyata dari aplikasi

mixed-use development ini adalah pengembangan kota dapat lebih efisien

karena banyak fungsi/produk properti disatukan dalam satu bangunan, kota menjadi lebih compact, dan mobilisasi lebih ‘rapi’ karena tidak terlalu banyak

berlalulalang dalam mengakses tempat tertentu. 2.4. Prinsip-Prinsip Hemat Energi Pada Bangunan

Berdasarkan buku Inovasi Model Desain Rusunawa Sederhana Hemat Energi oleh Ir. E.B. Handoko Sutanto, MT, pertimbangan desain bangunan hemat energi secara umum unutk bangunan apartemen dan rumah susun di Indonesia, yaitu:

 Merekayasa terbentuknya iklim mikro yang nyaman dengan mendesain open space dan ruang terbuka hijau –semaksimal mungkin.

 Mendesain konfigurasi massa bangunan dalam komposisi dan bentuk yang tidak kompleks, agar komposisi massa dan bentuk bangunan tidak menghalangi dalam upaya penerimaan energi matahari serta penghawaan alami, mempermudah dan menyederhanakan pengaturan orientasi massa dan desain bidang bukaan pada bangunan dan meminimalisir heat transfer

 Mengatur orientasi bangunan untuk menghindari panas matahari langsung, dengan mendesain arah memanjang yaitu massa bangunan dominan ke Utara/Selatan

 Mengutamakan desain massa yang “ramping”

 Mengatur organisasi ruang (mengatur zoning ruangan)

 Mengatur agar penghawaan alami dapat berlangsung secara efektif, pengaturan arah dan dimensi serta perlindungan bukaan dan mengupayakan terjadinya cross ventilation.

 Mendesain agar sekat antar ruangan dalam unit tidak rapat sampai plafon, agar aliran udara dan transmisi cahaya antar ruang masih dapat berlangsung dengan baik

 Menggunakan atau merekayasa bahan bangunan agar semaksimal mungkin dapat menahan/mereduksi matahari ke dalam ruangan.

Berdasarkan prinsip-prinsip desain diatas, pertimbangan desain bangunan untuk menghemat energi pada bangunan pusat perbelanjaan yaitu:

 Memakai secondary skin pada bangunan untuk menghindari panas berlebih

 Merancang bangunan yang ramping

 Menambahkan ruang terbuka hijau yang lapang sebagai salah satu elemen perancangan dalam pusat perbelanjaan

 Menambahkan skylight di tengah bangunan agar memaksimalkan cahaya yang masuk sehingga meminimalkan penerangan buatan pada bangunan

 Mengatur agar penghawaan buatan tetap dapat maksimal mengalir dengan adanya koridor yang panjang dan mengalir

2.5. Studi Banding Shopping Center

Pada pembahasan studi banding shopping centre bertujuan untuk menjelaskan perbandingan antara proyek shopping centre yang dibangun di kawasan pelabuhan Belawan dengan shopping centre yang sejenis di kawasan lain. Akan dibahas juga mengenai beberapa poin penting dari shopping centre sebagai hal utama dalam pembangunan. Berikut ini merupakan shopping centre yang berada di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

2.5.1. Plaza Indonesia

Plaza Indonesia diresmikan pada awal tahun 1990, terdiri dari empat lantai pertokoan kelas atas dengan luas 38.050 m2. Pusat perbelanjaan ini terletak di

Bundaran Hotel Indonesia, tepatnya pada perantara jalan M.H. Thamrin dan jalan Kebon Kacang Raya di kawasn bisnis utama Jakarta.

Plaza Indonesia juga dilengkapi dengan hotel Grand Hyatt Jakarta, sebuah hotel bintang lima berlantai 28 yang resmi dibuka juga pada awal tahun 1990. Hotel ini memiliki lebih dari 300 kamar dengan desain modern minimalis, restoran-restoran eksklusif, dan fasilitas yang sangat lengkap.Pengembangan Plaza Indonesia Berlanjut ketika Entertainment X'nter dibuka disebelah gedung yang ada dengan membidik pangsa pasar anak muda. Kedua gedung disambung dengan sebuah jembatan yang dikelilingi toko-toko.

Kini, Plaza Indonesia telah dilengkapi dengan gedung perkantoran The Plaza Office Tower dan apartement The Keraton Grand Hyatt Residences.Plaza Indonesia dikembangkan oleh PT Global Property Development Tbk (sebelumnya bernama PT Kridaperdana Indahgraha Tbk).

Pada tahun 2009, Plaza Indonesia diperluas dengan 42,325 meter persegi dari luas lantai kotor di 6 tingkat, dengan 24.672 meter persegi lebih banyak ruang. Tiga tingkat pertama perpanjangan ritel yang terhubung ke pusat perbelanjaan yang ada. The 4th ke tingkat 6 berdedikasi untuk "konsep gaya hidup modern" dengan berbagai hiburan dan fasilitas. Perpanjangan ritel memiliki pintu masuk di Jalan M. H Thamrin menyediakan akses dari jalan utama Jakarta, Jalan M. H Thamrin dan Jalan Sudirman. Ekstensi ini juga menyediakan 5 tingkat parkir bawah tanah. Plaza Indonesia rumah merek mewah seperti Hermes, Louis Vuitton, Celine, Chanel, Dior, Gucci, Givenchy, Kenzo, Longchamp, Bottega Veneta, Giuseppe Zanotti, Jimmy Choo, TOD'S, Valentino, Versace, Etro, Fendi, Furla, Balenciaga, Saint Laurent Paris, Lanvin, Marc by Marc Jacobs, Mulberry, MaxMara, Burberry, Stella McCartney, Ermenegildo Zegna, Diane von Furstenberg, Emporio Armani, Giorgio Armani, Victoria Beckham, Aigner, Hugo Boss, Loewe, Brioni, Salvatore Ferragamo, Chrsitian Louboutin , Cartier, BCBG Max Azria, Bvlgari, Tiffany & Co dan Rolex. Kebanyakan mewah dan merek internasional telah meluncurkan toko pertama mereka di Indonesia Plaza

Indonesia, dan banyak merek ini penyewa sejak pembukaan pusat perbelanjaan pada tahun 1990.

Gambar 2.1. Plaza Indonesia

Sumber : Google

Gambar 2.2. Interior Plaza Indonesia

2.5.2. Plaza Semanggi

Plaza Semanggi memiliki luas ± 45.034 m2 yang terdiri dari 17 lantai. Bangunan ini terletak di antara jalan Jedral Sudirman dan jalan Gatot Subroto. Plaza Semanggi memiliki bangunan serba guna dan gedung perkantoran yang melekat yaitu Balai Sarbini dan Gedung Veteran R.I. Untuk menghormati kedua bangunan tersebut, maka konsep eksterior masa bangunan The Plaza Semanggi adalah menyatukan bentuk bangunan lama yang bersejarah dengan bentuk bangunan baru yang modern. Bentuk massanya sendiri merupakan pengembangan dari bentuk gedung Balai Sarbini yang orientasinya mengikuti bentuk jalan yang melengkung. Begitu pula dengan konsep fasadnya, merupakan penggabungan antara gaya arsitektur lama dengan gaya arsitektur modern.

Konsep umum The Plaza Semanggi adalah downtown experience pertemuan dari berbagai budaya, dengan slogan Experience The Downtown Eperience. Konsep downtown ini terwujud dalam perencanaan interior bangunan yang dibagi menjadi 8 Downtown Sensation, yaitu berbagai menu nasional dan internasional (Wide Variety of The World Cuisine), berbagai retail tenant lokal

dan mancanegara (Mix n’Match Fashion Boutique), lounge and pool, bioskop 21

dan karaoke (Absolute Entertainment), berbagai peralatan elektronik (Information Technology) and Electronic Center), area bermain anak (Kids Heaven), berbagai perlengkapan rumah (Household Center), klub kebugaran dan kecantikan (Health Beauty and Spa Clubs), dan gedung pertemuan tempat berbagai acara dilaksanakan (Unique Cultural Activities di Balai Sarbini)

Gambar 2.3. Plaza Semanggi

Sumber : Google

Gambar 2.4. Gedung Balai Sarbini

Sumber : Google 2.5.3. Mal Ciputra Jakarta

Mal Ciputra terletak dipersimpangan antara Jl. S. Parman – Jl. Kyai Tapa

–Jl. Tol Dalam Kota, adalah lokasi yang strategis karena selalu menjadi daerah yang dilewati setiap orang yang akan menuju ke kawasan Jakarta Barat. Dengan luas lahan ± 5 Ha, Mal Ciputra adalah sebuah superblock dengan Mix-used Complex yaitu mal dengan luas ± 80.000 m2 yang terdiri dari 9 lantai dan hotel bintang empat dengan luas ± 30.000 m2 yang terdiri dari 9 lantai. Konsep

arsitektural keseluruhan baik eksterior maupu interior adalah festive, bersifat cerah dan ramai. Konsep ini dapat terlihat antara lain pada permainan 2 warna utama yaitu peach yang pada saat itu menjadi trend warna Internasional dan hijau tosca yang melambangkan corporate identity Grup Ciputra. Terlihat juga pada permainan bentuk massa bangunan yang merupakan perpaduan antara bangunan mal dan hotel yang disambungkan melalui sebuah podium dibagian tengah dilengkapi dengan menara pada kedua ujungnya.

Gambar 2.5. Mall Ciputra

Sumber : Google

Berbagai fasilitas tersedia di mal ini yang secara garis besar dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Fasilitas pusat pertokoan berupa retai tenant yang berjumlah 360 unit. Fasilitas khusus berupa area pameran di atrium/centercourt, area bermain anak, ruang ibu dan bayi, tempat penitipan anak, playgroup bekerja sama dengan Sanggar Bobo, ruang serba guna Amadeus, taman bacaan anak dan berbagai kelas khusus seperti kelas musik dan kelas komputer. Fasilitas hiburan berupa Bioskop Citra 21 (4 studio), stringer dan Fun city. Fasilitas sosial berupa kantin murah untuk karyawan. Fasilitas pelengkap berupa ATM center, toilet pengunjung disetiap lantai, pusat informasi, kursi roda, musholla, dan telepon umum. Fasilitas lain yang tidak kalah penting adalah fasilitas parkir yang dibagi menjadi dua jenis yaitu parkir terbuka di sekeliling area bangunan dan parkir

tertutup berupa gedung parkir 11 lantai dengan system split level. Kapasitas keduanya dapat dapat menampung ± 1.500 buah mobil dan ± 700 buah sepeda motor serta dapat memenuhi daya tampung pengunjung baik pada hari – hari biasa maupun pada akhir pekan dan libur.

Gambar 2.6. Interior Mal Ciputra

BAB III

ANALISA DAN KONSEP

PERANCANGAN

21

BAB III

ANALISA DAN KONSEP PERANCANGAN

3.1. Deskripsi Umum Proyek Shopping Center

Sesuai buku Masterplan Kawasan Transit Oriented Develpoment (TOD) Belawan tugas PA 6 Kelompok Tiga, sarana pendukung fungsi transit berupa Pusat Perbelanjaan seluas ±4 Ha.

Adapun penjelasan deskripsi proyek secara umum adalah : 1. Judul proyek : TOD Belawan (Shopping Center)

2. Lokasi Proyek : Jln Sumatera Batas Site :

a. Utara : Pasar Tradisional b. Selatan : Stasiun KA Belawan c. Timur : Rumah Susun d. Barat : Pelabuhan Belawan 3. Luas Site : ±35.000 m2

4. Status Proyek : Fiktif

5. Pemilik Proyek: PT. Kereta Api Medan / Pemerintah Kota Medan

Gambar 3. 1. Site Perancangan Sumber : Google Maps

22

Hana Maria M Sianturi | 110406069

3.2. Analisa

Pada tahap analisa ini, perancang menganalisa berdasarkan buku Masterplan Kawasan Transit Oriented Develpoment (TOD) Belawan tugas PA 6 Kelompok Tiga serta mengaitkannya terhadap eksisting yang sudah ada diluar masterplan.

3.2.1. Analisa Lokasi

Gambar 3. 2. Peta Udara Lokasi Perancangan

Sumber : penulis, 2015

Perancangan bangunan Shopping Center ini berlokasi di area Kelurahan Belawan II yang kondisinya sangat padat penduduk. Lokasi existing sendiri berbatasan dengan :

23

Sebelah Barat : Pelabuhan

Sebelah Timur : Permukiman Kumuh Sebelah Selatan : Stasiun KA

3.2.2. Analisa Tapak

a. Analisa Tata Guna Lahan

Gambar 3. 3. Pembagian Tata Guna Lahan Existing (Sumber :Buku Masterplan TOD Belawan)

Pada gambar analisa tata guna lahan di atas, terlihat bahwa fungsi transit (Pelabuhan dan Stasiun Belawan) tidak diintegrasikan dengan baik. Setiap fungsi terpusat, dengan jangkauan yang relatif jauh, sehingga kurang efesien

24

Hana Maria M Sianturi | 110406069

untuk ditempuh berjaan kaki. Koefisien area hijau mendominasi namun kurang terencana karena memusat, seharusnya setiap zoning fungsi memiliki area hijau.

b. Analisa Bentuk dan Massa Bangunan

Keadaan massa bangunan disekitar kawasan cenderung tidak memiliki ciri khas. Mayoritas bangunan yang berada di kawasan memiliki fungsi tempat tinggal dan fungsi komersil (warung) sebagai tambahan mata pencaharian penduduk.

Tata Ruang wilayah sangat padat (high on density) dan tidak ada keserasian dalam penataan bangunan pada area permukiman warga menyebabkan kawasan menjadi kawasan permukiman kumuh.

Gambar 3. 4. Kondisi Kepadatan Permukiman (Sumber :Buku Masterplan TOD Belawan)

c. Analisa Sirkulasi dan Parkir

Jalur sirkulasi di Kawasan Belawan II ini masih buruk karena jalur sirkulasi yang ada sangat kecil dan pedestrian yang sangat buruk dan tidak terhubung satu sama lain. Ada tiga jenis jalan yang ada di Kawasan ini yaitu jalan primer, jalan sekunder, jalan tersier. Jalan primer dikawasan ini terletak dijalan Sumatera atau terletak tepat didepan Stasiun jalur ini dapat dilewati oleh kendaraan roda empat atau lebih, sepeda motor dan lain – lain namun dijalan in pedestriannya sangat buruk dan tanpa vegetasi yang menaunginya. Jalur ini tidak terdapat area parkir yang memadai sehingga

25

banyak kendaraan yang parkir dibadan jalan. Pada jalur sekunder hanya dapa dilewati kendaraan roda empat dan sepeda motor karena lebarnya yang sempit serta tidak adanya area parkir sehingga banyak kendaraan yang parkir dibadan jalan sehingga membuat kemacetan. Dijalan ini juga tidak ada pedestrian dan juga vegetasi yang sangat minim serta kondisi yang sangat kumuh. Begitu juga dengan jalur Tersier yang hanya dapat dilewati oleh sepeda motor dan pejalan kaki karena lebarnya yang hanya 1 m – 2 m dan kondisinya sangat kumuh dan padat karena diapit oleh pemukiman penduduk. Pembagian jalan tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3. 5. Pembagian jalur Kawasan Belawan II (Sumber :Buku Masterplan TOD Belawan)

Keterangan:

- Garis Merah : Jalan Primer - Garis Biru : Jalan Sekunder - Garis Kuning : Jalan Tersier

26

Hana Maria M Sianturi | 110406069

d. Analisa Ruang Terbuka

Bangunan yang mendominasi area perancangan adalah permukiman padat dan kumuh. Tidak ditemukan open space yang baik karena kawasan ini dipenuhi oleh perumahan dan permukiman. Selain itu di sekitar rel Kereta Api juga banyak ditemukan bangunan non permanen yang jaraknya sangat dekat dengan rel yaitu sekitar 2 m – 2,5 m dari rel.

Gambar 3. 6. Area Kosong di sekitar site (Sumber :Buku Masterplan TOD Belawan)

Massa bangunan yang tidak teratur serta jarak antar bangunan yang dekat menghasilkan permukiman padat sehingga sirkulasi udara terhambat dan tidak dapat menyebar, ditambah tidak adanya ruang terbuka hijau di dalam kawasan mengakibatkan kawasan menjadi gersang dan tidak asri.

e. Analisa Sirkulasi Pejalan Kaki

Gambar 3. 7. Keadaan jalur pedestrian pada site (Sumber :Buku Masterplan TOD Belawan)

Pada area permukiman sendiri tidak terdapat jalur pedestrian. Ruas jalan rata dengan bahu jalan.

27

Gambar 3. 8. Keadaan jalur pedestrian pada permukiman (Sumber :Buku Masterplan TOD Belawan)

3.2.3. Analisa Pengguna Bangunan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penggunan Belawan Shopping Center :  Pengunjung

Gambar 3. 9. Skema kegiatan pengunjung

Sumber : Data Pribadi

Dokumen terkait