• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Perilaku Pencarian Informasi Advokat

Dalam dokumen PUTRI YOHANA HUTAPEA NIM (Halaman 36-86)

BAB II TINJAUAN LITERATUR

2.4 Konsep Perilaku Pencarian Informasi Advokat

Perilaku pencarian informasi advokat akan dilihat dari modelpencarian informasi oleh Leckie et. al. (lihat gambar 2.5). Model ini menekankan pada pencarian informasi yang dilakukan advokat dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sehari-hari.

Adapun komponen-komponen yang akan diteliti yaitu : fungsi dan tugas, kebutuhan informasi, sumber informasi yang digunakan, pengenalan akan informasi (aspek kesuksesan kasus sebelumnya, sumber yang terpercaya, kemasan, ketepatan waktu, biaya, kualitas, kemudahan akses), hasil akhir, dan hambatan yang terjadi selama pencarian informasi. Dapat dilihat pada gambar 2.8.

Hambatan Hambatan

Perilaku pencarian informasi timbul karena memiliki peran dan fungsi pekerjaan yang harus diselesaikan. Peran dan fungsi advokat akan menimbulkan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Untuk memenuhi tugas tersebut maka timbul kebutuhan akan informasi. Kebutuhan informasi memiliki karakteristik tersendiri

Peran/fungsi

Gambar 2.8 Model Pola Perilaku Pencarian Informasi Yang Akan Digunakan

serta dipengaruhi oleh informasi dan pemahaman tentang sumber informasi tersebut. Hasil dari sebuah pencarian informasi adalah hasil terakhir. Dan pada hasil yang terakhir belum mencukupi kebutuhan informasinya, maka itu membuat pencarian informasi terulang kembali pada sumber informasi atau pemahaman terhadap informasi.

BAB III

METODE PENELITIAN

3. 1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Sugiyono (2009, 6) menyatakan bahwa , “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain.

Sedangkan Arikunto (2005, 234) juga menjelaskan bahwa, “Penelitian deskriptif adalah merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan”.

3. 2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di:

1. Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Jl. Prof HM Yamin SH 41-B 20234 Medan,

2. Kantor Hukum Panangiangan Sinambela & Associates, JL. Sei Berantas Komp. de‟Villa No. 8 D Kel. Babura Medan 20154

3. Kantor Hukum Lembaga Hukum Medan, JL. Hindu No. 12, Kesawan, Medan Baru 20111

3. 3 Populasi dan Sampel 3. 3. 1 Populasi

Populasi merupakan sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel. Menurut Margono (2010, 118) “populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam satu ruang lingkup dan waktu yang

ditentukan”. Sedangkan menurut Sugiyono (2009, 80) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek, yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”. Selain itu Arikunto (2002, 108) mengemukakan bahwa

“Populasi adalah keseluruhan subjek pada suatu penelitian”.

Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah advokat pada Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates,Kantor Hukum Panangiangan Sinambela &

Associates, Kantor Hukum Lembaga Hukum Medan.

3. 3. 2 Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan subjek penelitian.

Menurut Sugiyono (2010, 215) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersbut”.

Sedangkan menurut Arikunto (2002, 112) mengungkapkan bahwa “untuk sekedar ancer-anser maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi”. Oleh karena jumlah populasi kurang dari 100 orang maka seluruh populasi dijadikan sampel atau disebut total sampling.

3. 4 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik penguumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian di Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Kantor Hukum Panangiangan Sinambela & Associates, Kantor Hukum Lembaga Hukum Medan.

2. Kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan cara memberikan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden penelitian.

3. Studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan data melalui berbagai literatur dan dokumen lain yang berkaitan dengan masalah penelitian.

3. 5 Jenis Data dan Sumber Data

Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian inni adalah sebagai berikut :

1. Data primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari responden melalui kuesioner.

2. Data sekunder yaitu data yang mendukung data primer yang diperoleh dari buku teks, jurnal, majalah, dan dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian.

3. 6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data. Menurut Sugiyono (2006, 97) “instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik fenomena ini disebut variabel penelitian”. Dalam penelitian ini penulis menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian. Setiap kuisioner berisi pertanyaan yang membuat indikator-indikator variabel penelitian.

3. 7 Kisi-kisi Kuisioner Penelitian

Kisi-kisi kuisioner diperlukan sebagai pedoman dalam merumuskan item kuisioner. Dalam kisi-kisi itu harus mencakup ruang lingkup materi variabel penelitian, jenis-jenis pertanyaan, dan banyaknya pertanyaan. Setiap indikator akan menghasilkan beberapa pertanyaan, serta kemampuan yang diharapkan dari subjek penelitian.

Untuk mempermudah merumuskan kuisioner, maka peneliti menyusun kisi-kisi kuisioner sebagai berikut :

Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuisioner Penelitian

Variabel Indikator Jumlah Item Jumlah

Perilaku

Data yang sudah terkumpul melalui kuisioner kemudian dianalisis. Pada penelitian ini analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan cara penyusunan dan pengelompokkan data dan kemudian dianalisis. Data akan ditabulasi sesuai dengan kelompok aspek yang akan diteliti. Untuk memudahkan interpretasi data akan disajikan dalam bentuk table kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Untuk menghitung persentase digunakan rumus

Keterangan : P = Presentase

f = Jumlah jawaban yang diperoleh (frekuensi) n = Jumlah responden sampel

Penafsiran data dan hasil distribusi terhadap jawaban kuisioner dilakukan dengan menggunakan pedoman penafsiran data menggunakan metode Hadi (2001, 421) sebagai berikut :

1%-25% : Sebagian kecil 26%-49% : Hampir setengah 50% : Setengah

51%-75% : Sebagian besar 76%-99% : Pada umumnya 100% : Seluruhnya

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Peran dan Tugas Advokat Pada bagian ini diberikan pertanyaan terbuka mengenai peran dan tugas advokat sebagai berikut :

1. Kantor Ali Leonardi & Associates yang bersedia menjadi responden ada tiga laki-laki dan menyatakan bahwa peran dan tugas mereka adalah:

1. Melakukan pendampingan terhadap client

2. Menyelesaikan perkara baik di tingkat litigasi maupun non litigasi serta melakukan audit internal perusahaan client

3. Mendampingi client baik di tingkat kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan kantor dinas ketenagakerjaan.

4. Menegakkan kebenaran.

2. Kantor Panangian Sinambela & Associates yang bersedia menjadi responden ada dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan dan menyatakan peran dan tugas mereka adalah :

1. Melakukan pembelaan hukum (advokasi) bagi orang-orang yang bermasalah dengan hukum.

3. Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan yang bersedia menjadi responden ada sepuluh laki-laki dan menyatakan peran dan tugas mereka adalah :

1. Membela atau memberikan bantuan hukum terhadap masyarakat

2. Memberikan konsultasi hukum

3. Melakukan penanganan kasus sampai tuntas secara hukum

4. Membela hak dan kepentingan hidup masyarakat terkhusus yang tidak mampu

5. Menegakkan hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM).perkas 6. Melakukan advokasi terhadap petani dan buruh

7. Melakukan kampanye tentang Hak Azasi Manusia (HAM).

8. Membela hak-hak masyarakat miskin yang tertindas untuk mencapai suatu keadilan dan kesetaraan dihadapan hukum.

9. Melakukan pendampingan hukum di luar dan di pengadilan.

4.2 Tipe Kasus yang ditangani

Pada baagian ini responden diberikan pertanyaan terbuka mengenai tipe atau jenis kasus yang ditangani.

Adapun tipe kasus yang ditangani oleh advokat pada ketiga Kantor Hukum tersebut yaitu :

1. Perkara/kasus Perselisihan hubungan Indistrial (PHI) 2. Perkara/kasus Perdata

3. Perkara/kasus Pidana 4. Perkara/kasus Perburuhan 5. Perkara/kasus Niaga 6. Perkara/kasus Perceraian

7. Perkara/kasus Pelanggaran HAM

8. Perkara/kasus Pengadilan Tata Usaha Negara

4.3 Faktor Kebutuhan Informasi

Disusun 26 pertanyaan untuk mengetahui perilaku pencarian informasi seorang advokat. Untuk pertanyaan nomor 1 dan 2 diberikan pertanyaan terbuka dan 24 pertanyaan yang disusun untuk dipilih jawabannya. Berikut hasil dari jawaban responden yang disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini:

Tabel 4.1 Faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi

Q3 menyatakan umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi. Kemudian 11 orang (73,33%) menyatakan profesi, 2 orang (13,33%) menyatakan jenjang karir dan lokasi geografis yang mempengaruhi kebutuhan informasinya. Pada pertanyaan ini responden dapat memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar advokat (73,33%) menyatakan bahwa profesi adalah faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi advokat. Hal ini menunjukkan bahwa profesi miliki peranan lebih besar yang mempengaruhi kebutuhan informasi advokat.

Tabel 4.2 Tipe kasus berbeda yang ditangani mempengaruhi pencarian informasi

Q4

Tipe kasus yang berbeda mempengaruhi pencarian informasi

Frekuensi Persentase a. sangat mempengaruhi

b. mempengaruhi tipe kasus berbeda yang ditangani oleh advokat sangat mempengaruhi pencarian informasi, 4 orang (26,66%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda yang ditangani oleh advokat mempengaruhi pencarian informasi, 1 orang (6,66%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda kurang mempengaruhi pencarian informasi, 1 orang (6,66%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda yang ditangani tidak mempengaruhi pencarian informasi.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (60%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda yang ditangani mempengaruhi pencarian informasi. Hal ini menunjukkan bahwa tipe kasus/perkara yang ditangani advokat mempengaruhi pencarian informasinya karena adanya pekerjaan mencari informasi baru atau tetap mengandalkan informasi yang lama.

Tabel 4.3 Dalam menangani suatu kasus membutuhkan suatu kebutuhan khusus

Q5

Dalam menangani suatu kasus

membutuhkan suatu kebutuhan khusus

Frekuensi Persentase a. sangat butuh

b. butuh c. kurang butuh d. tidak butuh

10 5 0 0

66,67%

33,33%

Total : 15 100%

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa 10 orang (66,67%) menyatakan bahwa sangat butuh suatu kebutuhan khusus dalam menangani suatu kasus, 5 orang (33,33%) menyatakan butuh suatu kebutuhan khusus dalam menangani suatu kasus.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (66,66%) menyatakan bahwa advokat membutuhkan suatu kebutuhan khusus untuk dapat menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa ada kasus tertentu yang membutuhkan kebutuhan khusus yang harus dilakukan oleh advokat untuk menyelesaikan kasus yang ditangani.

Tabel 4.4 Jenis kebutuhan khusus yang dibutuhkan dalam menangani suatu kasus

Q6

Kebutuhan khusus yang dibutuhkan dalam menangani suatu kasus

Frekuensi Persentase a. Membutuhkan seorang psikiater

b. Membutuhkan seorang ahli komunikasi berkebutuhan khusus

c. Menyewa seorang bodygard d. Membutuhkan media membutuhkan seorang psikiater dalam menangani suatu kasus, 6 orang (40%) menyatakan membutuhkan ahli komunikasi berkebutuhan khusus untuk menangani suatu kasus, 1 orang (6,66%) menyatakan menyewa bodygard dalam menangani suatu kasus, 11 orang (73,33%) menyatakan membutuhkan media dalam menangani suatu kasus, 3 (20%) orang menyatakan membutuhkan alat penunjang kerja (recorder dan kamera), referensi. Pada pertanyaan ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (73,33%) membutuhkan media dalam menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa advokat lebih banyak membutuhkan media sebagai kebutuhan khusus karena mereka dapat memperoleh informasi dan membantu untuk menangani suatu kasus.

Tabel 4.5 Apakah yang akan dilakukan jika menemui kasus yang sama/mirip?

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa 11 orang (73,33%) menggunakan kasus yang sebelumnya jika menemui kasus yang sama/mirip, 6 orang (40%) mencari lewat media jika menemui kasus yang sama/mirip, 1 orang (6,66%) bertanya kepada lingkungan klien, 8 oran (53,33%) bertanya pada teman sejawat, dan 1 orang (6,66%) bertanya pada kepala lingkungan. Pada pertanyaan ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (73,33) advokat menggunakan kasus yang sebelumnya jika menemui kasus yang sama/mirip. Hal ini menunjukkan bahwa pencarian informasi yang berulang yang dilakukan oleh advokat dalam menangani suatu kasus dengan menggunakan kasus yang sebelumnya.

Q7

Apakah yang dilakukan jika menemui kasus yang sama/mirip?

b. Mencari lewat media

c. Bertanya kepada lingkungan klien

d. Bertanya pada teman sejawat e. Bertanya pada kepala

Tabel 4.6 Tingkat kesulitan suatu kasus yang ditangani mempengaruhi kebutuhan informasi

Q8

Apakah tingkat kesulitan suatu kasus yang ditangani mempengaruhi kebutuhan informasi?

Frekuensi Persentase

a. sangat mempengaruhi b. mempengaruhi menyatakan bahwa tingkat kesulitan suatu kasus yang ditangani sangat mempengaruhi kebutuhan informasi, 2 orang (13,33%) menyatakan bahwa tingkat kesulitan suatu kasus mempengaruhi kebutuhan informasinya.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan pada umumnya (86,66%) advokat menyatakan bahwa tingkat kesulitan suatu kasus yang ditangani mempengaruhi kebutuhan informasi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesulitan suatu kasus membuat advokat lebih banyak membutuhkan informasi.

Tabel 4.7 Sumber informasi dalam menangani suatu kasus

Q9

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa 8 orang (53,33%) menyatakan bahwa kolega adalah sumber informasi dalam menangani suatu kasus, 6 orang (40%) menyatakan bahwa pustakawan adalah sumber informasi dalam menangani suatu kasus, 6 orangg (40%) menyatakan bahwa handbooks adalah sumber informasi dalam menangani suatu kasus, 10 orang (66,66%) menyatakan bahwa artikel jurnal sebagai sumber informasi dalam menangani suatu kasus, 6 orang (40%) menyatakan praktisi hukum adalah sumber informasi yang digunakan dalam menangani suatu kasus. Pada pertanyaan ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (66,66%) advokat menyatakan bahwa artikel jurnal adalah sumber informasi yang digunakan untuk menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa artikel jurnal merupakan sumber informasi yang akurat untuk digunakan sebagai salah satu sumber informasi dalam menangani suatu kasus.

Tabel 4.8 Jenis dan format sumber informasi yang didapatkan dalam menangani suatu kasus

Q10

Apakah yang menjadi sumber informasi dalam menangani suatu kasus?

Frekuensi Persentase

Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa 6 orang (40%) menyatakan bahwa konferensi/jurnal menjadi jenis dan format sumber informasi yang didapatkan dalam menangani suatu kasus, 4 orang (26,66%) menyatakan percakapan menjadi jenis dan format informasi yang didapatkan dalam menangani suatu kasus, 8 orang (53,33%) menyatakan tercetak/elktronik menjadi jenis dan format informasi yang didapatkan dalam menangani suatu kasus, 12 orang (80%) menyatakan pengetahuan/pengalaman pribadi menjadi jenis dan format sumber informasi yang didapatkan dalam menangani suatu kasus. Pada pertanyaan ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa pada umumnya (80%) advokat menyatakan pengetahuan/pengalaman pribadi menjadi jenis dan format sumber informasi yang didapatkan. Hal ini menunjukkan bahwa advokat banyak mendapatkan informasi dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman dari setiap sidang atau kasus yang ditangani.

Tabel 4.9 Ketersediaan informasi dalam organisasi

Q11

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa 12 orang (80%) menyatakan bahwa ketersediaan informasi dalam organisasi sangat membantu dalam menangani suatu kasus, 3 orang (20%) menyatakan bahwa ketersediaan informasi dalam organisasi membantu dalam menangani suatu kasus.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa pada umumnya (80%) advokat menyatakan bahwa ketersediaan informasi dalam organisasi sangat membantu dalam menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan informasi pada organisasinya memadai untuk para advokat menangani suatu kasus.

Tabel 4.10 Informasi dari luar organsasi

Q12

Apakah dalam menangani suatu kasus membutuhkan informasi dari luar

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa 6 orang (40%) menyatakan sangat membutuhkan informasi dari luar organisasi dalam menangani suatu kasus, 8 orang (53,33%) menyatakan butuh informasi dari luar organisasi dalam menangani suatu kasus, 1 orang (6,66%) menyatakan kurang butuh informasi dari luar organisasi dalam menangani suatu kasus.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (53,33%) advokat menyatakan butuh informasi dari luar organisasi dalam menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa advokat

membutuhkan informasi yang maksimal untuk menangani suatu kasus sehingga ketersediaan informasi yang memadai pada organisasi tidak menutup kemungkinan untuk memperoleh informasi dari luar organisasi.

Tabel 4.11 Sumber informasi dari luar organisasi

Q13

Apakah yang menjadi sumber informasi dari luar organisasi dalam menangani suatu kasus? menyatakan media, teman sejawat, internet, adalah sumber informasi dari luar organisasi yang digunakan dalam menangani suatu kasus, 4 orang (26,66%) menyatakan kerabat klien adalah sumber informasi dari luar organisasi yang digunakan dalam menangani suatu kasus, 1 orang (6,66%) menyatakan data-data yang berkenan dengan kasus yang ditangani adalah sumber informasi dari luar organisasi yang digunakan dalam menangani suatu kasus. Pada pertanyaan bagian ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (66,66%) menyatakan bahwa media, teman sejawat dan internet merupakan sumber informasi dari luar organisasi yang digunakan dalam menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa peran dari media membuat advokat dapat memperoleh informasi atau bahkan menyebar

informasi, peran dari teman sejawat membuat advokat memiliki pengetahuan atau pengalaman pribadi, peran internet membuat advokat terus dapat mengikuti perkembangan informasi.

Tabel 4.12 Kemampuan dalam mencari informasi dalam menangani suatu kasus menyatakan bahwa kemampuan dalam mencari informasi tentang suatu kasus yang ditangani sudah sangat baik, 10 orang (66,66%) menyatakan bahwa dalam mencari informasi tentang kasus yang ditangani sudah baik.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (66,66%) advokat memiliki kemampuan yang baik dalam mencari informasi tentang suatu kasus yang ditangani. Hal ini menunjukkan bahwa advokat telah memiliki kemampuan yang baik.

Tabel 4.13 Pemahaman akan suatu sumber informasi yang digunakan mempengaruhi kesuksesan suatu kasus yang ditangani

Q15

Apakah pemahaman akan suatu sumber informasi yang digunakan mempengaruhi kesuksesan suatu kasus yang ditangani?

Frekuensi Persentase

a. Sangat mempengaruhi b. Mempengaruhi

c. Kurang mempengaruhi d. Tidak mempengaruhi

15 100%

Berdasarkan tabel 4.13 dapat diketahui bahwa 15 orang (100%) menyatakan bahwa pemahaman akan suatu sumber informasi yang digunakan sangat mempengaruhi kesuksesan suatu kasus yang ditangani.

Dilihat dari tabel diatas dapat disimpulkan seluruhnya (100%) menyatakan bahwa pemahaman akan suatu sumber informasi yang digunakan sangat mempengaruhi kesuksesan suatu kasus yang ditangani.

Hal ini menunjukkan bahwa advokat memahami bahwa pemahaman akan sumber informasi yang digunakan menghasilkan kesuksesan atau bahkan kegagalan suatu kasus yang ditangani.

Tabel 4.14 Membutuhkan bantuan orang lain dalam mencari informasi dalam menangani suatu kasus

Q16

Apakah membutuhkan bantuan orang lain dalam mencari informasi tentang kasus yang ditangani? menyatakan sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam mencari informasi tentang kasus yang ditangani, 8 responden (53,33%) menyatakan butuh bantuan orang lain dalam mencari informasi tentang suatu kasus yang ditangani, 1 responden (6,66%) manyatakan kurang butuh bantuan orang lain dalam mencari informasi tentang suatu kasus

yang ditangani. Pada pertanyaan bagian ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (53,33%) butuh orang lain dalam mencari informasi tentang suatu kasus yang ditangani. Hal ini menunjukkan bahwa advokat tidak dapat sendiri dalam menelusur atau menemukan semua informasi yang dibutuhkan untuk menangani suatu kasus.

Tabel 4.15 Informasi yang unggul (sering digunakan) mempengaruhi pemilihan informasi

Q17

Apakah informasi yang unggul (sering digunakan) mempengaruhi pemilihan sumber informasi?

Frekuensi Persentase

a. Sangat mempengaruhi b. Mempengaruhi menyatakan informasi yang unggul (sering digunakan) sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 8 responden (53,33%) menyatakan informasi yang unggul (sering digunakan) mempengaruhi pemilihan informasi, 1 responden (6,66%) menyatakan informasi yang unggul (sering digunakan) kurang mempengaruhi pemilihan informasi.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (53,33%) advokat menyatakan informasi yang unggul (sering digunakan) mempengaruhi pemilihan sumber informasi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sering suatu informasi digunakan maka

advokat akan semakin memahami sumber informasi yang akan digunakan dalam menangani suatu kasus.

Tabel 4.16 Sumber terpercaya mempengaruhi pemilihan sumber informasi

Q18

Apakah sumber terpercaya mempengaruhi pemilihan sumber informasi?

Frekuensi Persentase a. Sangat mempengaruhi

b. Mempengaruhi menyatakan sumber terpercaya sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 6 responden (40%) menyatakan sumber terpercaya mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 1 responden (6,66%) menyatakan bahwa sumber terpercaya kurang mempengaruhi pemilihan sumber informasi.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (53,33%) menyatakan sumber terpercaya sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang benar dan dapat dipercaya mempengaruhi pemilihan sumber informasi advokat dalam menangani suatu kasus.

Tabel 4.17 Sumber informasi terpercaya yang digunakan dalam menangani suatu kasus

Q19

Apakah yang menjadi sumber terpercaya yang digunakan dalam menangani suatu kasus?

Frekuensi Persentase menyatakan klien adalah sumber informasi terpercaya yang digunakan dalam menangani suatu kasus, 4 responden (26,66%) menyatakan teman sejawat sebagai sumber informasi terpercaya dalam menangani suatu kasus, 7 responden (46,66%) menyatakan organisasi merupakan sumber informasi terpercaya dalam menangani suatu kasus, 12 responden (80%) menyatakan kasus sebelumnya adalah sumber informasi terpercaya dalam menangani suatu kasus, 2 responden (13,33%) menyatakan referensi lain merupakan sumber informasi terpercaya dalam menangani suatu kasus.

Pada pertanyaan bagian ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa pada umumnya (80%) advokat menggunakan kasus sebelumnya sebagai sumber informasi terpercaya dalam menangani suatu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa informasi dari kasus sebelumnya yang berhasil ditangani atau tidak lebih diandalkan oleh advokat sebagai sumber informasi terpercaya.

Tabel 4.18 Kemasan informasi (packaging) mempengaruhi pemilihan

a. Sangat mempengaruhi b. Mempengaruhi menyatakan kemasan informasi (packaging) sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 8 responden (53,33%) menyatakan kemasan informasi (packaging) mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 2 responden (13,33%) menyatakan kemasan informasi (packaging) kurang mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 1 responden (6,66%) menyatakan kemasan informasi (packaging) tidak mempengaruhi pemilihan sumber informasi.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (53,33%) advokat menyatakan kemasan informasi (packaging) mempengaruhi pemilihan sumber informasi. Hal ini menunjukkkan bahwa kemasan dari informasi dapat dipercaya atau diandalkan.

Tabel 4.19 Kemudahan mengakses informasi mempengaruhi pemilihan

a. Sangat mempengaruhi b. Mempengaruhi menyatakan bahwa kemudahan mengakses informasi sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi, 5 responden (33,33%) menyatakan bahwa kemudahan mengakses informasi mempenagruhi pemilihan sumber informasi, 1 responden menyatakan bahwa kemudahan mengakses informasi tidak mempengaruhi pemilihan sumber informasinya.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (60%) advokat menyatakan kemudahan mengakses informasi sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi. Hal ini menunjukkan bahwa advokat membutuhkan suatu informasi yang memiliki kemudahan untuk

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (60%) advokat menyatakan kemudahan mengakses informasi sangat mempengaruhi pemilihan sumber informasi. Hal ini menunjukkan bahwa advokat membutuhkan suatu informasi yang memiliki kemudahan untuk

Dalam dokumen PUTRI YOHANA HUTAPEA NIM (Halaman 36-86)

Dokumen terkait