• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUTRI YOHANA HUTAPEA NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PUTRI YOHANA HUTAPEA NIM"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERILAKU PENCARIAN INFORMASI ADVOKAT DI KANTOR HUKUM ALI LEONARDI & ASSOCIATES, KANTOR

HUKUM PANANGIAN SINAMBELA & ASSOCIATES DAN KANTOR LEMBAGA BANTUAN HUKUM MEDAN

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan

Informasi

PUTRI YOHANA HUTAPEA NIM 130709066

DEPARTEMEN STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(2)

KATA PENGANTAR

“Mazmur Daud.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

Mazmur 23:1

Kemuliaan bagi Allah Tritunggal yang setia memelihara kehidupan saya hingga akhirnya saya mampu untuk menyelesaikan setiap proses dalam pengerjaan skripsi yang berjudul “Analisis Perilaku Pencarian Informasi Advokat di Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Kantor Hukum Panangian Sinambela &Associates Dan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Medan”. Dalam segala keterbatasan saya, Allah telah memberikan kekuatan dan pertolongan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Proses pengerjaan skripsi ini tidak mudah karena saya harus menyesuaikan dan menyeimbangkan waktu antara pengerjaan studi dan pelayanan yang saya kerjakan. Oleh karna itu saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan Yesus yang telah menjadi penolong setia buat saya.

Saya bersyukur kepada Allah yang telah mengijinkan saya lahir di dalam keluarga saya yang sekarang, keluarga yang tidak pernah berhenti mendoakan saya, memberikan semangat dan mengingatkan saya untuk segera menyelesaikan bangku perkuliahan. Kepada orangtua saya, Antonius Hutapea dan Sinta Uli Manullang, juga kakak saya Anita D.M Hutapea dan adik-adik saya Joshua Valentino Hutapea, Martin R.A Hutapea, Rahel Cristiani Hutapea saya mengucapkan terima kasih karena selalu setia mendoakan dan mendukung saya.

Penelitian ini selesai tidak dapat terlepas dari dukungan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya mengucapkan terimakasih banyak kepada pihak-pihak yang telah membantu saya secara langsung maupun tidak langsung, diantaranya:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Ishak, SS, M. Hum, selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai penguji II saya.

3. Ibu Laila Hadri Nasution, S.Sos, M.P selaku pembimbing yang telah memberikan waktu dalam membimbing, mengingatkan, memberikan masukan, motivasi, dan mengarahkan peneliti untuk menyelesaikan penulisan skipsi ini.

4. Ibu Dra. Zurni Zahara Samosir, M.Si, selaku penguji I yang memberikan

kritik dan saran kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

(3)

5. Seluruh staff pengajar/dosen beserta pegawai admnistrasi Program Studi Ilmu Perpustakaan yang telah memberikan ilmu dan bimbingan yang bermanfaat bagi peneliti.

6. Direktur dan seluruh advokat di Kantor Hukum Ali Leonardi &

Associates, Kantor Hukum Panangian Sinambela &Associates Dan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Medan, yang telah memberikan izin dan waktu untuk peneliti melakukan penelitian.

7. Kepada sahabat peneliti Minion (Dwi Sianturi, Idola Manurung, Novalia Hasugian, Rina Nasution, Sartika Tio Silalahi), Seruling 10 (Njen, Elliska, Osin, Vero), Fight Girls (Frima, Nopita, Nomi) yang terus memberikan semangat dan dukungan.

8. Kepada KOORDINASI UKM KMK USU UP FIB 2017 (Kak Dev, Trimayanti, Sari, Anyes, Agus, Eva) dan seluruh komponen pelayanan UKM KMK USU yang setia mendoakan peneliti.

9. Kepada adik-adik kelompok kecil peneliti FILAMOR (Devi, Natali, Sena, Yenny, Yemima) Kelompok Tumbuh Bersama Semeia Talitakum peneliti (kak Devi Siahaan, Ribka J) yang memberikan semangat dan doa.

10. Teman-teman satu bimbingan peneliti terkhusus buat Rini Swastika Putri yang telah membantu serta memberikan motivasi dan semangat kepada peneliti.

11. Teman-teman angkatan 2013 Terimakasih untuk masa kuliah dan bersyukur mengenal kalian.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat.

Medan, 08 Desember 2017 Peneliti

Putri Yohana Hutapea

(4)

ABSTRAK

Hutapea, Putri Yohana. 2017. Analisis Perilaku Pencarian Informasi Advokat di Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Kantor Hukum Panangian Sinambela & Associates dan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Medan. Medan. Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya.

Penelitian ini dilakukan di Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Kantor Hukum Panangian Sinambela & Associates dan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Medan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola perilaku pencarian informasi advokat di Kantor Hukum dengan menggunakan Model Leckie. Model ini dikhususkan untuk perilaku pencarian informasi untuk kalangan profesional. Metode yang digunakan pada penelian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, dan studi kepustakaan. Responden pada penelitian ini adalah advokat.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan pola perilaku pencarian informasi advokat dipengaruhi oleh peran dan tugas dari advokat yang menghasilkan tipe kasus yang ditangani. Karakteristik kebutuhan informasi advokat dibagi dalam indikator yaitu: dari demografi individu, Sebagian besar advokat (73,33%) menyatakan profesi merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi kebutuhan informasi seorang advokat. Konteks, sebagian besar (66,66%) advokat membutuhkan kebutuhan khusus dan advokat juga membutuhkan informasi dari luar organisasinya. Frekuensi, dalam menangani suatu kasus yang sama, sebagian besar (73,33) advokat memiliki pencarian informasi yang terulang.

Kekompleksan, tingkat kesulitan suatu kasus. Pada umumnya (86,66%) advokat menyatakan bahwa tingkat kesulitan suatu kasus mempengaruhi kebutuhan informasi advokat. Sumber informasi yang digunakan pada umumnya (80%) oleh advokat adalah pengetahuan/pengalaman pribadi dan kasus sebelumnya yang pernah ditangani. Dari sumber informasi yang sering digunakan itu membuat advokat tidak melakukan pencarian informasi yang baru namun hanya pencarian informasi yang berulang dan format informasi yang diperoleh tidak maksimal dan akurat karena tidak dapat dilihat. Hasil akhir dari pencarian informasi yang digunakan oleh advokat adalah kesuksesan suatu kasus yang ditangani, jika suatu kasus yang ditangani sukses maka pencarian informasinya sudah baik namun jika suatu kasus yang ditangani tidak sukses maka pencarian informasinya kurang baik.

Kata kunci : Perilaku Pencarian Informasi, Model Perilaku Pencarian Informasi

Profesional, Advokat.

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ...ii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN LITERATUR ... 6

2.1 Perilaku Pencarian Informasi ... 6

2.1.1 Model Perilaku Pencarian Informasi ... 8

2.2 Model Pencarian Informasi Leckie et. al ... 19

2.3 Advokat ... 25

2.3.1 Defenisi Advokat ... 25

2.3.2 Jasa Hukum yang diberikan Advokat ... 27

2.4 Konsep Perilaku Pencarian Informasi Advokat ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Lokasi Penelitian ... 31

3.3 Populasi dan Sampel ... 31

3.3.1 Populasi ... 31

3.3.2 Sampel ... 32

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.5 Jenis Data dan Sumber Data ... 33

3.6 Instrumen Penelitian ... 33

3.7 Kisi-kisi Kuisioner Penelitian ... 34

3.8 Analisis Data ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 36

4.1 Deskripsi Jawaban Responden Peran dan Tugas Advokat ... 36

4.2 Tipe Kasus yang ditangani ... 37

4.3 Faktor Kebutuhan Informasi ... 38

4.4 Pola Perilaku Pencarian Informasi Advokat ... 59

4.5 Rangkuman Hasil Penelitian ... 60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran ... 67

(6)

DAFTAR PUSTAKA ... 69

LAMPIRAN

(7)

DAFTAR TABEL Nomor

Tabel

Judul Halaman

3.1 Kisi-kisi kuesioner 34

4.1 Faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi 38 4.2 Tipe kasus berbeda yang ditangani mempengaruhi

pencarian informasi

39

4.3 Dalam menangani suatu kasus membutuhkan suatu kebutuhan khusus

40

4.4 Jenis kebutuhan khusus yang dibutuhkan dalam menangani suatu kasus

40

4.5 Apakah yang akan dilakukan jika menemui kasus yang sama/mirip?

41

4.6 Tingkat kesulitan suatu kasus yang ditangani mempengaruhi kebutuhan informasi

42

4.7 Sumber informasi dalam menangani suatu kasus 43 4.8 Jenis dan format sumber informasi yang didapatkan

dalam menangani suatu kasus

44

4.9 Ketersediaan informasi dalam organisasi 45

4.10 Informasi dari luar organsasi 46

4.11 Sumber informasi dari luar organisasi 46 4.12 Kemampuan dalam mencari informasi dalam

menangani suatu kasus

47

4.13 Pemahaman akan suatu sumber informasi yang digunakan mempengaruhi kesuksesan suatu kasus yang ditangani

48

4.14 Membutuhkan bantuan orang lain dalam mencari informasi dalam menangani suatu kasus

49

4.15 Informasi yang unggul (sering digunakan) mempengaruhi pemilihan informasi

50

4.16 Sumber terpercaya mempengaruhi pemilihan sumber informasi

51

4.17 Sumber informasi terpercaya yang digunakan dalam menangani suatu kasus

52

(8)

4.18 Kemasan informasi (packaging) mempengaruhi pemilihan sumber informasi

53

4.19 Kemudahan mengakses informasi mempengaruhi pemilihan sumber informasi

54

4.20 Biaya mempengaruhi pemilihan sumber informasi 54 4.21 Kemampuan mencari informasi mempengaruhi

kecepatan dalam memperoleh informasi

55

4.22 Kemudahan mengakses informasi mempengaruhi informasi yang diperoleh

56

4.23 Kualitas dari informasi yang diperoleh 57 4.24 Informasi yang diperoleh mempengaruhi

keberhasilan suatu kasus yang ditangani

57

(9)

DAFTAR GAMBAR NOMOR

GAMBAR

JUDUL HALAMAN

2.1 Model Wilson 9

2.2 Model Wilson 10

2.3 Model Krikelas 12

2.4 Model Jhonson 14

2.5 Model Leckie 15

2.6 Model Ellis 17

2.7 Model Pencarian Informasi untuk Profesional

21 2.8 Model Leckie yang akan digunakan

untuk Perilaku Pencarian Informasi Profesional

29

4.1 Model Leckie yang akan digunakan untuk Perilaku Pencarian Informasi advokat

59

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Informasi adalah sebuah ide, fakta, dan karya-karya imajinatif dari hasil pikiran yang telah dikomunikasikan, direkam, diterbitkan dan/atau disebarkan secara formal maupun informal dalam berbagai format. Setiap kalangan membutuhkan dan mencari informasi. Mulai dari informasi yang umum sampai pada informasi yang khusus yang berguna untuk kehidupannya. Kebutuhan akan informasi seseorang dapat meningkat karena dipengaruhi rasa ingin tahu yang tinggi akan sesuatu. Seseorang akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan informasinya akan sesuatu hal tersebut.

Mencari informasi sudah merupakan bagian penting dan dilakukan secara

teratur. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kasus berikut, yaitu : Kasus

pertama, seseorang yang ingin membeli mobil harus mengetahui informasi

mengenai produk mobil, kelebihan dan kekurangan, dan tempat yang cocok untuk

membeli mobil tersebut. Kasus kedua, seseorang yang mencari informasi di

perpustakaan harus mengetahui kata kunci yang berkaitan, sumber informasi yang

sesuai kebutuhannya. Kasus ketiga, seorang pengacara yang sedang

menyelesaikan kasus hukum harus mengetahui fakta dasar dari kasusnya,

informasi yang mendukung, kasus-kasus yang berhubungan , dan memeriksa

keabsahan sumber informasi. Kasus keempat, seorang yang hendak mengerjakan

tugas akhir maka akan mencari informasi yang relevan dengan penelitian yang

dilakukannya.

(11)

Berdasakan keempat kasus diatas menyatakan bahwa setiap kalangan atau kelompok berbeda memerlukan informasi yang berbeda pula. Salah satu kelompok atau kalangan membutuhkan informasi adalah kalangan profesional.

Yang termasuk pada kalangan profesional adalah dokter, pengacara/advokat, guru, perawat, phisioterapis, pustakawan, akuntan, dan insinyur.

Dalam penelitian ini yang diteliti adalah seorang advokat. Advokat adalah orang yang berprofesi memberikan jasa hukum baik di dalam pengadilan atau di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang- Undang tentang Advokat. Istilah-istilah yang berhubungan dengan profesi hukum diantaranya mencakup advokat, penasehat hukum, dan konsultan hukum.

Dibalik keberhasilan seorang advokat dalam menangani suatu perkara dibutuhkan ketersediaan informasi. Seorang advokat harus mencari, mengumpulkan, mengevaluasi, dan menggunakan berbagai informasi untuk melayani klien mereka. Oleh karena itu seorang advokat harus memiliki tindakan langsung untuk mencari dan memenuhi kebutuhan informasi mereka. Dari tindakan yang dilakukan untuk mencari informasi tersebut maka timbul suatu kebiasaan atau perilaku dalam mencari informasi.

Kebutuhan advokat dalam mencari dan memenuhi kebutuhan informasinya bukan hanya sekedar, namun adalah suatu kegiatan yang khusus dan menunjukkan perilaku yang berbeda. Perilaku ini pada akhirnya menentukan jenis informasi yang dibutuhkan, cara yang akan diambil, dan kegunaan dari informasi yang dibutuhkantersebut.

Pada penelitian ini ada tiga badan hukum memiliki seorang advokat yang

akan diteliti. Pada Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates sebagai kantor

(12)

hukum dan konsulat hukum bagi berbagai perusahaan dan advokat pada kantor ini dalam menangani kasus klien, advokat mencari serta memenuhi informasinya melalui wawancara dan penemuan informasi mendalam tentang kliennya. Pada Kantor Hukum Panangian Sinambela & Associates banyak menangani kasus pidana. Advokat pada kantor hukum ini dalam menangani kasus klien memenuhi informasinya dengan sepenuhnya percaya kepada kliennya tanpa harus mencari informasi mendalam tentang kliennya dari pihak luar. Kantor Lembaga Hukum Medan menangani berbagai kasus pada setiap orang yang kurang mampu dalam bidang ekonomi. Advokat pada kantor ini dalam menangani kasus kliennya menggunakan informasi dari laporan kasus yang sama sebelumnya. Dari ketiga advokat badan hukum tersebut menunjukkan bahwa setiap advokat memiliki pola perilaku yang berbeda dalam memenuhi informasi yang dibutuhkannya sehingga penulis ingin mengetahui pola perilaku pencarian informasi seorang advokat menurut teori model pencarian informasi yang dikembangkan oleh Leckie et. al.

Model Perilaku Pencarian Informasi yang dikembangkan oleh Leckie, Pettigrew dan Sylvain, model ini dikhususkan untuk kalangan profesional yang

menekankan pada fungsi dan tugas dalam memenuhi kebutuhan informasi.

Komponen yang akan diteliti adalah kebutuhan informasi, sumber informasi yang

digunakan, dan pengenalan/pemahaman terhadap isi informasi. Lalu, hasil akhir

akan menjadi faktor utama dalam penelitian ini. Dalam model ini, kebutuhan

informasi memiliki karakteristik-karakteristik sendiri dan dipengaruhi oleh

sumber informasi dan pengenalan/pemahaman terhadap sumber dan konten/isi

informasi, dan kemudian mendorong seseorang untuk mencari tahu lebih jauh.

(13)

Model Perilaku Pencarian Informasi oleh Leckie ini akan dipakai untuk meneliti pola perilaku pencarian informasi di tiga badan hukum tersebut.

Jika dilihat ketiga advokat dari kantor hukum yang berbeda bahwa seorang advokat memiliki fungsi dan tugas yang membuat seorang advokat harus memenuhi kebutuhan informasinya. Tugas dari ketiga Advokat dari Kantor Hukum yang berbeda tersebut adalah menyelesaikan kasus kliennya. Kasus klien yang dihadapi oleh ketiga Advokat tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda sehingga advokat tersebut memiliki perilaku pencarian informasi yang berbeda dalam memenuhi setiap kebutuhan informasinya dalam menyelesaikan setiap tugasnya. Seperti yang dikatakan di Model Perilaku Pencarian Informasi yang dikembangkan oleh Leckie, Pettigrew dan Sylvain yang dikhususkan pada kalangan profesional yang menekankan pada fungsi dan tugas dalam memenuhi kebutuhan informasi. Dalam memenuhi kebutuhan informasi tersebut akan terlihat perilaku pencarian informasi yang dilakukan.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menulis skripsi dengan judul “Analisis Perilaku Pencarian Informasi Advokat : Studi Kasus Di Kantor Hukum Advokat Medan”.

1.2. Rumusan Masalah

Berawal dari latar belakang masalah yang sudah dikemukakan seperti di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : Bagaimanakah perilaku pencarian informasi advokat, khususnya di Kantor Hukum Ali Leonardi

& Associates, Kantor Hukum Panangian Sinambela & Associates, dan Kantor

Hukum Lembaga Bantuan Hukum Medan, dilihat dari model Leckie et. al.?

(14)

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perilaku pencarian informasi advokat di Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Kantor Hukum Panangian Sinambela & Associates, dan Kantor Hukum Lembaga Bantuan Hukum Medan.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan ilmu perpustakaan, khususnya mengenai perilaku pencarian informasi di kalangan profesional.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi tempat penelitian sebagai masukan mengenai pola perilaku pencarian informasi yang efektif bagi seorang advokat.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah membahas tentang Perilaku Pencarian

Informasi, meliputi: fungsi dan tugas (work roles and tasks), karakteristik

kebutuhan informasi (characteristic of information and sources of information),

dan hasil akhir (outcomes).

(15)

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

2. 1 Perilaku Pencarian Informasi

Kulthau (1991) mengatakan bahwa kebutuhan informasi dalam ilmu informasi diartikan sebagai sesuatu yang lambat laun muncul dari kesadaran yang samar-samar mengenai sesuatu yang hilang dan pada tahap berikutnya menjadi keinginan untuk mengetahui tempat informasi yang akan memberikan kontribusi pada pemahaman akan makna. Kesadaran seseorang terhadap suatu yang hilang atau yang kurang dalam dirinya kan mendorong keinginan untuk mengetahui sumber informasi. Kesadaran tersebut didukung oleh motivasi. Motivasi merupakan dorongan yang dari diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan.

Tindakan yang dilakukan merupakan perilaku untuk mencari informasi yang dianggap kurang atau dibutuhkan.

Perilaku adalah setiap tindakan yang digunakan sebagai alat atau cara agar dapat mencapai suatu tujuan, sehingga kebutuhan terpenuhi atau suatu kehendak terpuaskan, sedangkan perilaku pencarian informasi merupakan perilaku seseorang yang selalu terus bergerak berdasarkan lintas ruang dan waktu, mencari informasi untuk menjawab segala tantangan yang dihadapi, menentukan fakta, memecahkan masalah, menjawab pertanyaan dan memahami suatu masalah.

Wilson (2000) dalam artikelnya yang berjudul Human Information Behavior

mengemukakan perilaku pencarian informasi (information seeking behavior)

merupakan upaya mencari informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari

(16)

bisa saja berinteraksi dengan sistem informasi manual (seperti surat kabar atau perpustakaan) atau dengan sistem berbasis-komputer (seperti world wide web).

Sedangkan menurut Krikelas (1983, p.5), mendefenisikan perilaku pencarian informasi sebagai kegiatan dalam menentukan dan mengidentifikasi pesan untuk memuaskan kebutuhan informasi yang dirasakan.

Perilaku pencarian informasi sangat dipengaruhi oleh beragam faktor baik dari dalam diri si pencari informasi tersebut (faktor intern) seperti pengalaman masa lalu berupa pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, serta faktor lain yang juga berpengaruh dari luar dirinya (faktor ekstern), faktor ini muncul saat terjadi kontak dengan kondisi dan situasi di sekeliling si pencari informasi yang berkaitan dengan pencarian informasi termasuk pemanfaatan sarana dan prasarana perpustakaan atau unit informasi lainnya, dan juga terhadap rekan sejawat, atasan, dan petugas layanan informasi (Darmono, 1998:32).

Zerbinos (1990) menyatakan bahwa pencarian informasi berlangsung ketika seseoang memiliki pengetahuan yang disimpan dalam memori jangka panjang yang memicu minat dalam informasi terkait sebagai motivasi untuk memperolehnya. Itu juga bisa berlangsung ketika seseorang menyadari kesenjangan dalam pengetahuan mereka yang mungkin akan memotivasi orang tersebut untuk memperoleh informasi tersebut (Case, 2007, p. 80).

Perilaku pencarian informasi berawal dari adanya kebutuhan seseorang

terhadap informasi. Pada saat membutuhkan informasi untuk memenuhi

kebutuhan tertentu peneliti dihadapkan pada situasi problematik. Situasi ini

muncul akibat adanya kesenjangan (anomalous) antara keadaan pengetahuan yang

ada di dalam dirinya dengan kenyataan kebutuhan informasi yang diperlukannya,

(17)

kesenjangan ini akhirnya melahirkan perilaku tertentu dalam proses pencarian informasi yang oleh Belkin dinyatakan sebagai situasi problematik akibat adanya kondisi anomalous state of knowledge dari si pencari informasi (Kuhlthau, 2004:362).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku pencarian informasi adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang kemudian diaplikasikan ke dalam struktur pengetahuan seseorang.

2.1.1 Model Perilaku Pencarian Informasi

Ada beberapa model perilaku pencarian informasi, diantaranya adalah : 1. Model Wilson

Wilson menggambarkan perilaku pencarian informasi dalam dua model. Model

yang pertama di buat pada tahun 1981 dan yang kedua pada tahun 1996. Model

yang pertama di identifikasikan dalam 12 komponen yang di mulai dari

pengguna informasi. Berikut ini adalah model pertama perilaku pencarian

informasi menurut Wilson dalam Donald O. Case, (1981:117).

(18)

Sumber :Looking For Information

Gambar 2.1 : Model Wilson - perilaku pencarian informasi

Pengguna informasi dalam model ini mempunyai kebutuhan informasi tertentu. Dari kebutuhan informasi tersebut, akan menciptakan perilaku pencarian informasi yang terdiri dari permintaan sistem informasi dan permintaan sumber informasi lain. Hasil dari perilaku pencarian infromasi tersebut yaitu sukses atau gagal. Ketika proses tersebut sukses maka pengguna mendapatkan informasi, dan akan timbul rasa puas dan tidak puas yang dilanjutkan ke proses transfer informasi kepada orang lain, kemudian terjadilah kegiatan pertukaran informasi. ( Case, 1981:117).

Untuk model yang kedua perilaku pencarian informasi Wilson (1996) adalah

sebagai berikut :

(19)

Sumber : Looking For Information

Gambar 2.2 : Model Wilson - perilaku pencarian informasi

Model ini terbatas pada kontek pencarian informasi dan Wilson menganggap bahwa perilaku informasi merupakan proses melingkar yang langsung berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam konteks kehidupan seseorang. Kebutuahan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang persoalan dalan kehidupannya. Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut, yaitu:

a. Kondisi psikologi seseorang bahwa seseorang yang sedang risau akan

memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dibandingkan dengan

seseorang yang sedang gembira.

(20)

b. Demografis dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam hal ini. Kelas sosial juga dapat mempengaruhi perilaku informasi seseorang.

c. Peran seseorang di masyarakat, peran ini khususnya dalam hubungan interpesonal ikut mempengaruhi perilaku informasi.

d. Lingkungan dalam hali ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas.

e. Karakteristik sumber informasi, karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi.

Kelima faktor diatas, menurut Wilson akan sangat mempengaruhi bagaimana

akhirnya seseorang menunjukkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku

informasi.

(21)

2. Model Krikelas

Information Seeking Behavior

Sumber : Looking For Information

Gambar 2.3 : Model Krikelas - perilaku pencarian informasi

Model Krikelas terdiri atas tiga belas komponen. Proses Model perilaku pencarian informasi Krikelas dimulai dari atas ke bawah (dalam gambar 2.3).

Komponen paling atas dari model Krikelas adalah tindakan pengumpulan informasi dan pemberian informasi. Hasil dari pengumpukan informasi di arahkan untuk disimpan dalam memory, observasi langsung dandata pribadi.

Tindakan pemberian informasi di dasarkan pada sumber internal dan eksternal.

Sumber internal yaitu memory dan data pribadi, sedangkan eksternal dibagi

menjadi dua komponen yaitu “ kontak langsung” dan “rekam”. Adapun

komponen “ kontak langsung” tersebut adalah hubungan tatap muka antara

(22)

interpersonal seperti telfon, video call, email dll. Sedangkan komponen rekam yaitu berupa literatur seperti buku dan jurnal. ( Case, 1981:119).

Tetapi Model Krikelas setidaknya tidak membatasi untuk satu jenis pekerjaan

dalam pencarian informasi. Untuk model ini pengumpulan informasi memang

memiliki tujuan yang lebih umum. Sama dengan yang disebutkan sebelumnya

jika pengumpulan informasi muncul di sebabkan oleh lingkungan atau

kejadian, sehingga menimbulkan suatu kebutuhan informasi. Untuk model

karakteristik pengguna informasi tidak di pertimbangkan, model ini dapat

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, namun tetap digunakan sebagai

model pencarian informai di perpustakaan, seperti di meja refrensi (kebutuhan

langsung/seketika >sumber eksternal>pustakawan) atau koleksi perpustakaan

(kebutuhan langsung/seketika > sumber eksternal > tumpukan), ( Case,

1981:122).

(23)

3. Model Johnson

Sumber : Looking For Information

Gambar 2.4: Model Jhonson - perilaku pencarian informasi

Model ini mengandung tujuh faktor berdasarkan tiga bagian. Hal ini di

gambrkan dengan proses alur dari kiri ke kanan, dimulai dengan empat faktor

dari dua kategori. Dalam model ini faktor latar belakang dan hubungan pribadi

menjadi motivasi seseorang untuk mencari informasi. Faktor latar belakang

terbagi atas demografi dan pengalaman langsung. Demografiitu sendiri antara

lain usia seseorang, jenis kelamin, etnis, latar belakang pendidikan, status

pekerjaan, dan kesejahteraan. Sedangkan dalam model ini pengalaman

langsung seseorang juga mempengaruhi akan keperluan informasi. Pengalaman

langsung tersebut contohnya penderita penyakit kanker terdorong untuk

mencari informasi-informasi mengenai kanker. Faktor hubungan pribadi

diantaranya keyakinan dalam diri dan arti penting suatu informasi ikut

memotivasi seseorang untuk mencari informasi. Selain faktor-faktor

(24)

sebelumnya ada faktor karakter yang ikut mempengaruhi terciptanya kebutuhan/keperluan informasi. Dari faktor-faktor tersebut terciptalah kebutuhan informasi yang menghasilkan suatu tindakan pencarian informasi.

4. Model Leckie

Sumber : Looking For Information

Gambar 2.5: Model Leckie - perilaku pencarian informasi

Model ini terdiri dari 7 komponen yang dimulai dengan faktor penyebab pencarian informasi yaitu peran kerja dan tugas hingga hasil pencarian informasi. Model Leckie ini dibatasi untuk "profesional" (seperti dokter, pengacara, dan insinyur), sehingga tidak mengherankan bahwa "peran kerja"

dan "tugas" dianggap sebagai motivator utama dalam mencari informasi.

(25)

Dengan demikian model ini memiliki penerapan terbatas untuk pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari.

5. Model Ellis

Ellis dalam Meho (2003: Volume 54, Issue 6) mengelompokkan kegiatan- kegitan tersebut menjadi :

1. Starting, yaitu kegiatan yang sifatnya pencarian awal informasi seperti mengidentifikasi referensi yang dapat menjadi titik awal daur pencarian.

Referensi ini termasuk sumber yang telah digunakan sebelumnya seperti sumber lain yang diharapkan menyediakan informasi yang digunakan.

2. Chaining, yaitu kegiatan merunut rangkaian sitasi atau bentuk hubungan referensial antarmateri atau sumber sumber yang diidentifikasi selama aktivitas „starting‟. Aktivitas ini bisa saja mundur atau maju. Aktivitas chaining mundur dilakukan apabila referensi yang dipakai adalah sumber utama. Sebaliknya, aktivitas chaining maju dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengikuti referensi menuju sumber lain yang mengacu pada sumber asli.

3. Browsing, yaitu kegiatan mencari informasi di wilayah tertentu yang dianggap memiliki potensi. Kegiatan ini tidak hanya membaca sekilas jurnal yang sudah dipublikasikan dan table isi saja tetapi juga referensi dan abstrak yang menyertai sumber informasi tersebut.

4. Differentiating, yaitu kegiatan memilah informasi yang diperoleh dengan

memanfaatkan pengetahuan mengenai perbedaan ciri-ciri sumber informasi

(misalnya, pengarang, cakupan, tingkat detail, dan kualitas) tersebut guna

mengetahui kualitas informasi.

(26)

5. Mentoring, yaitu kegiatan memantau perkembangan di lapangan dengan mengikuti sumber-sumber tertentu yang telah dipilih secara teratur (misalnya, jurnal utama, Koran, konferensi, majalah, buku, dan katalog).

6. Extracting, yaitu aktivitas yang berhubungan dengan melanjutkan pencarian dengan menggali lebih dalam sumber informasi dan mengidentifikasi relevansi materi yang ada dengan selektif.

Sumber : Looking for information

Gambar 2.6 Model Ellis – perilaku pencarian informasi

Ellis mencatat bahwa interaksi individu dalam menemukan informasi memiliki

keunikan tersendiri tergantung pada aktivitas penemuan itu sendiri.

(27)

6. Model Kuhlthau

Menurut Kuhlthau (1993) tahap perilaku pencarian informasi dibagi menjadi enam yaitu :

1. Inisiasi 2. Seleksi 3. Eksplorasi 4. Formulasi 5. Koleksi 6. Presentasi

Khulthau menguraikan bahwa pola pencarian informasi sifatnya berjenjang, dimulai dari sesuatu yang tidak jelas, sampai pada tahap kejelasan dari informasi yang dicarinya. Tahap permulaan ditandai dengan kesadaran seseorang akan adanya kebutuhan informasi. Pada tahap inisiasi ini seseorang masih ragu-ragu terhadap inti permasalahannya. Tahap ini muncul pada saat sseseorang merasa pengetahuannya masih kurang dari kebutuhannya.

Kemudian seseorang akan melakukan pemilihan secara selektif. Tahap ini

disebut tahap selektif. Pada tahap selektif seseorang akan merasa siap untuk

memulai penelusuran. Setelah tahap seleksi, tahap berikutnya adalah eksplorasi

atau tahap penjelajahan. Tahap ini sering merupakan tahap yang paling sulit

bagi pemakai dan perantara atau petugas lembaga informasi. Hal ini

disebabkan karena ketidakmampuan pemakai untuk menyatakan dengan tepat

mengenai informasi yang dibutuhkannya. Tahap berikutnya adalah tahap

formulasi, pada tahap ini perasaan tidak pasti mulai mengikis, kepercayaan diri

(28)

masalahnya. Setelah tahap ini dilampaui, pemakai akan sampai pada tahap koleksi, pada tahap ini interaksi antara pemakai dan sistem informasio menjadi lebih efektif dan efisien. Mereka akan mengumpulkan informasi yang dihadapinya. Tahap terakhir adalah tahap presentasi, yang terjadi pada saat tugas melengkapi penelusuran telah selesai. Suatu perasaan puas atau kecewa akan muncul pada tahap ini.

2.2 Model Pencarian Informasi dari Leckie et. al.

Ada beberapa cara untuk memperhatikan proses dan pola pencarian informasi salah satunya melalui suatu model. Wilson (1999) dalam artikelnya yang berjudul Models in information behavior research mengatakan model dapat digambarkan

sebagai kerangka berpikir tentang masalah dan dapat berkembang menjadi kenyataan tentang hubungan antar teori. Model-model pencarian informasi ini merupakan tahap-tahap pencarian informasi dengan ditandai ciri-ciri tertentu dari masing-masing tahap tersebut, atau pengelompokan informasi berdasarkan minat dan kegigihan usaha pencarian. Banyak model-model pencarian informasi yang telah ada, diantaranya oleh Wilson (1981, 1999) dengan model of information seeking behavior, Dervin (1983) dengan sense-making theory, Ellis (1989 and

1993) dengan behavioural model of information seeking strategies, Kuhlthau

(1991) dengan model of the stages of information-seeking behaviour, dan Leckie,

Pettigrew dan Sylvain (1996) dengan a general model of information seeking of

proffesionals.

(29)

Dalam penelitian ini, konsep model pencarian informasi yang akan digunakan adalah model pencarian informasi untuk kalangan profesional. Model ini dikembangkan oleh Gloria J. Leckie, Karen E. Pettigrew, dan Christian Sylvain pada tahun 1996. Leckie et. al. menfokuskan model pencarian informasi pada kalangan profesional. Model ini dikembangkan berdasarkan analisa dan interpretasi dari berbagai studi tentang kebiasaan pencarian informasi dari para profesional. Kata “profession” memiliki makna yang berarti pekerjaan berorientasi pada layanan yang memiliki teori pengetahuan dasar, membutuhkan pendidikan sarjana, memiliki asosiasi sendiri, dan memiliki kode etik profesi atau pernyataan prinsip lainnya. Kelompok yang termasuk dalam kriteria ini adalah antara lain doktor, pengacara, guru, perawat, fisioterapi, pustakawan, akuntan, insinyur. Leckie et. al. berpendapat bahwa model penemuan informasi ini dapat diterapkan pada semua profesional.

Model Leckie menggambarkan perilaku informasi sebagai dua anak panah

yang diberi label “information is sought”. Kerangka dasar model Leckie adalah

peran dan tugas-tugas terkait yang dilakukan oleh profesional di dalam pekerjaan

harian mereka, yang akan menumbuhkan kebutuhan informasi dan akhirnya

terjadi suatu proses pencarian informasi. Hasil akhir dari pemakaian informas di

sebut “outcomes”, aspek lain yang sangat berpengaruh di model ini melalui

feedback ke “sources”, “awarencess” dan “information is sought”.

(30)

Sumber : Looking for Information

Gambar 2.7 Model Pencarian Informasi untuk Profesional

Pencarian informasi selalu terpengaruh oleh beberapa komponen sehingga memberikan hasil terakhir yang berbeda. Komponen-komponen dalam model ini dijelaskan sebagai berikut :

1. Fungsi dan Tugas (Work and Associated Tasks)

Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Leckie et. al. (1996, p.

180-181) setiap profesi mempunyai bermacam-macam fungsi dalam pekerjaan

harian mereka. Lima fungsi profesional yang sering disebutkan adalah

penyedia layanan (service provider), administrator/manajer, peneliti, pengajar,

dan murid. Setiap fungsi tersebut mempunyai tugas khusus (seperti penilai,

(31)

penasehat, pengawas, pembuat laporan) yang merupakan lapis kedua dari komponen fungsi/tugas dalam model ini.

Fungsi yang paling utama pada profesional adalah penyedia layanan yang berfokus pada penciptaan dan penyebaran layanan yang luas kepada klien.

Fungsi sebagai penyedia layanan, profesional mungkin menjalankan bermacam-macam tugas, seperti menilai kebutuhan klien atau menyelesaikan masalah teknis. Profesional harus dapat membedakan kebutuhan informasi dalam kaitannya dengan tugas dari fungsi administrasi. Fungsi sebagai peneliti, dapat melakukan penelitian dan menyebarkan hasilnya dalam literatur ilmiah dan profesional. Profesional dapat bergabung dengan komunitasi yang bertujuan menyediakan kesadaran publik atau dengan mengajar kursus kepada murid. Fungsi sebagai murid, dengan terus meningkatkan kemampuan dan pendidikannya misalnya melalui membaca atau menghadiri konferensi atau pertemuan.

2. Karakteristik kebutuhan informasi (Characteristics of Information Needs) Kebutuhan informasi timbul akibat adanya situasi yang disebabkan oleh tugas- tugas untuk memenuhi fungsi yang dijalankan oleh profesional. Karakteristik kebutuhan informasi tidak tetap dan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Demografi individu (individual demographics); meliputi umur, profesi, spesialisasi, jenjang karir, dan lokasi geografis

b. Konteks; meliputi situasi kebutuhan yang khusus, internal dan eksternal c. Frekuensi; meliputi kebutuhan yang terulang atau baru

d. Prediksi ; meliputi kebutuhan informasi tersebut dapat diterapkan atau diduga

(32)

e. Kepentingan; mencakup kebutuhan informasi dilihat dari tingkat kepentingan masalah

f. Kekompleksan; meliputi tingkat kemudahan atau kerumitan masalah yang membutuhkan.

Setiap faktor yang telah dijelaskan bahwa kebutuhan informasi dapat timbul dengan tidak terduga dan relatif tidak penting dan solusinya tidak dibutuhkan dengan seketika. Namun, kebutuhan yang tidak terduga dapat menjadi suatu kepentingan besar dan sangat mendesak. Tingkat komplesksitas, tingkat kepentingan dan urgensi, dan apakah informasi yang diantisipasi atau tidak terduga akan mempengaruhi aktivitas pencarian informasi yang dikerjakan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencarian informasi (Factors Affecting Information Seeking)

Pada pencarian informasi profesional dipengaruhi oleh dua faktor,yaitu : a. Sumber-sumber informasi (Source of Information)

Seorang profesional mencari informasi dari berbagai sumber, seperti kolega (colleagues), pustakawan (librarians), handbooks, artikel jurnal, dan dari pengetahuan dan pengalaman pribadi mereka.

Sumber informasi ini dapat dikategorikan dengan luasberdasarkan jenis atau formatnya, termasuk formal (melalui konferensi atau jurnal); atau informal (melalui percakapan); internal atau eksternal (sumber yang berasal dari dalam atau luar organisasi); oral atau tulisan (bentuk tercetak atau teks elektronik);

personal (pengetahuan dan pengalaman pribadi). Perbedaan sumber informasi

yang digunakan seorang profesional akan mempengaruhi perilaku pencarian

informasi dari kelompok tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa

(33)

pilihan sumber informasi tidak perlu dichotomous- artinya adalah kombinasi beberapa sumber (secara bersamaan atau berurutan) mungkin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan informasi. Interaksi yang berkelanjutan berperan untuk memenuhi keseluruhan kompleksitas dari sumber ang menjadi variabel yang mempengaruhi pencarian informasi.

b. Pemahaman/pengenalan akan informasi (Awareness of information) Pengetahuan langsung atau tidak langsung tentang berbagai sumber informasi (apakah itu kolega, database online, atau handbook) dan persepsi tentang proses yang terbentuk, atau tentang informasi yang diterima, memiliki peranan penting dalam proses pencarian informasi. Pemahaman tentang sumber-sumber informasi dan isi/konten informasi dapat menentukan jalan/proses pencarian informasi yang akan diambil. Beberapa variabel penting yang mempengaruhi pemahaman atas informasi ditemukan pada keakraban dan kesuksesan yang terutama (familiarity and proior success), terpercaya (trustworthiness), kemasan (packaging), ketepatan waktu (timeliness), biaya (cost), kualitas (quality), kemudahan akses (accessibility).

4. Hasil akhir (Outcomes)

Outcomes adalah hasil akhir dari proses pencarian informasi. Hasil yang

optimal apabila tercapainya kebutuhan informasi dan profesional

menyelesaikan tugasnya. Akan tetapi dapat juga terjadi kemungkinan hasilnya

tidak memuaskan sehingga dibutuhkan pencarian lanjutan. Hal tersbut pada

Model Pencarian Informasi pada Profesional disebut sebagai feedback. Oleh

karena itu, pada pencarian informasi selanjutnya akan terjadi perubahan

sumber-sumber informasi dan faktor yang mempengaruhi pencarian. Feedback

(34)

loop dapat dicontohkan sebagai hasil akhir pencarian informasi tidak dalam satu dimensi kejadian.

2.3 Advokat

2. 3. 1 Defenisi Advokat

Akar kata advokat ditelusuri dari bahasa Latin, yaitu advocatus, yang berarti antara lain yang membantu seseorang dalam perkara, saksi yang meringankan.

Sedangkan menurut Black’s Law Dictionary, kata advokat dari kata Latin, yaitu advocare, suatu kata kerja yang to defend, to call one’s aid, to vouch to warrant.

Sebagai kata benda (noun), kata tersebut berarti :

“One who assist, defends, or pleads for another. One who renders legal advice and aid pleads the cause of another before a court or a tribunal. A person learned in the law and duly admitted to practice, who assists his client with advice, and pleads for him in open court. An assistant, adviser; plead for causes.”

Artinya seseoran yang membantu, mempertahankan, membela orang lain.

Seseorang yang memberikan nasehat dan bantuan hukum dan berbicara untuk orang lain di hadapan pengadilan. Seseorang yang mempelajari hukum dan telah diakui untuk berpraktik, yang memberikan nasihat kepada klien dan berbicara untuk yang bersangkutan di hadapan pengadilan. Seorang asisten, penasihat, atau pembicara untuk kasus-kasus.

Menurut English Language Dictionary, advokat didefenisikan sebagai berikut : “An advocate is a lawyer who speaks in favour of someone or defends them in a court of law.”

Artinya, advokat adalah seorang pengacara yang berbicara atas nama

seseorang atau membela mereka di pengadilan.

(35)

Perkataan advokat sudah dikenal sejak abad pertengahan (abad ke 5-15) yang dinamakan advokat advokat gereja (kekelijke advocaten, duivel advocaten), yaitu advokat yang tugasnya memberikan segala macam keberatan-keberatan dan/atau nasihat dalam suatu acara pernyataan suci bagi seseorang yang telah meninggal. Pada zaman kerajaan Romawi, advokat hanya memberikan nasihat- nasihat, sedangkan yang bertindak sebagai pembicara dinamakan patronus- procureur. Terakhir, pengertaian advokat menurut Undang-Undang Nmor 18

Tahun 2003 tentang Advokat, dalam Pasal 1 angka (1) dikatakan :“Advokat adalah orang yang berprofesi memberikan jasa hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang- Undang ini.”

Untuk dapat diangkat sebagai advokat, seperti yang telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2003 ayat 1 dan 2, haruslah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum dan setelah mengikuti pendidikan khusus profesi advokat yang dilaksanakan oleh Organisasi advkat. Pengangkatan advokat dilakukan oleh Organisasi Advokat.

Selanjutnya dalam pasal 3 ayat 1 dterangkan lebih lanjut mengenai persyaratan untuk diangkat sebagai advokat, sebagai berikut :

a. Warga negara Republik Indonesi;

b. Bertempat tinggal di Indonesia;

c. Tidak berfokus sebagai pengawas negeri atau pejabat negara;

d. Berusia sekurang-kurangnya 25 9dua puluh lima) tahun;

e. Berijazah sarjana berlatar belakang pendidikan tinggi hukum sebagaimana dimuat dalam pasal 2 ayat (1);

f. Lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat;

g. Magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus menerus pada kantor Advokat;

h. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang

diancam dengan penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

(36)

i. Berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi.

2. 3. 2 Jasa Hukum yang diberikan Advokat

Binoto Nadapdap (2008, p. 40) dalam bukunya yang berjudul Menjajaki Seluk Beluk Honorium Advokat menyatakan bahwa jasa hukum sebagai benda yang

tidak berwujud, klien mengetahuinya ketika mereka mempererolehnya dari advokat. Tanpa umpan balik dari klien akan sulit bagi advokat untuk dapat menggambarkan secara persis apa dan bagaimana jasa hukum yang diberikan kepada klien. Kebutuhan akan jasa hukum dari seorang advokat dapat berupa pelayanan hukum (legal service), nasehat hukum (legal advice), konsultasi legal (legal consultation), pendapat hukum (legal opinion), informasi hukum (legal information), pemerikasaan hukum (legal audit), pembelaan baik di luar maupun

di dalam pengadilan serta pendampingan dalam perkara-perkara pidana.

Jasa hukum yang ditawarkan advokat kepada klien, tidak hanya untuk urusan dalam lingkungan pribadi atau keluarga tetapi juga untuk urusan di luar keluarga bahkan sampai untuk urusan antar negara. Nadapdap (2008, p.51-52) memberikan contoh pasangan suami istri yang tidak paham atau belum sempat mengurus akta pernikahan membutuhkan jasa advokat untuk mengurus akta pernikahan ke kantor angkatan sipil. Jasa advokat juga dbutuhkan untuk urusan bisnis, nasonalisasi perusahaan asing, mengurus harta negara, penyelesaian harta sengketa.

2. 4 Konsep Perilaku Pencarian Informasi Advokat

Perilaku pencarian informasi advokat akan dilihat dari modelpencarian

informasi oleh Leckie et. al. (lihat gambar 2.5). Model ini menekankan pada

pencarian informasi yang dilakukan advokat dalam menjalankan fungsi dan

tugasnya sehari-hari.

(37)

Adapun komponen-komponen yang akan diteliti yaitu : fungsi dan tugas,

kebutuhan informasi, sumber informasi yang digunakan, pengenalan akan

informasi (aspek kesuksesan kasus sebelumnya, sumber yang terpercaya,

kemasan, ketepatan waktu, biaya, kualitas, kemudahan akses), hasil akhir, dan

hambatan yang terjadi selama pencarian informasi. Dapat dilihat pada gambar 2.8.

(38)

Hambatan Hambatan

Perilaku pencarian informasi timbul karena memiliki peran dan fungsi pekerjaan yang harus diselesaikan. Peran dan fungsi advokat akan menimbulkan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Untuk memenuhi tugas tersebut maka timbul kebutuhan akan informasi. Kebutuhan informasi memiliki karakteristik tersendiri

Peran/fungsi perkerjaan

Tugas-tugas

Karakteristik kebutuhan informasi : - Demografi individu - Konteks

- Frekuensi - Dapat diprediksi - Kepentingan - Kompleks

Pemahaman tentang sumber informasi :

- Terbiasa - Terpercaya - Kemasan - Ketersediaan - Kualitas

- Kemudahan akses - Biaya

Sumber Informasi : - Formal - Informal - Internal - Eksternal - Lisan - Tertulis

- Pengalaman pribadi

Hasil akhir P e n c a r i a n

I n f o r m a s i

Gambar 2.8 Model Pola Perilaku Pencarian Informasi Yang Akan Digunakan

(39)

serta dipengaruhi oleh informasi dan pemahaman tentang sumber informasi

tersebut. Hasil dari sebuah pencarian informasi adalah hasil terakhir. Dan pada

hasil yang terakhir belum mencukupi kebutuhan informasinya, maka itu membuat

pencarian informasi terulang kembali pada sumber informasi atau pemahaman

terhadap informasi.

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

3. 1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Sugiyono (2009, 6) menyatakan bahwa , “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain.

Sedangkan Arikunto (2005, 234) juga menjelaskan bahwa, “Penelitian deskriptif adalah merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan”.

3. 2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di:

1. Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Jl. Prof HM Yamin SH 41-B 20234 Medan,

2. Kantor Hukum Panangiangan Sinambela & Associates, JL. Sei Berantas Komp. de‟Villa No. 8 D Kel. Babura Medan 20154

3. Kantor Hukum Lembaga Hukum Medan, JL. Hindu No. 12, Kesawan, Medan Baru 20111

3. 3 Populasi dan Sampel 3. 3. 1 Populasi

Populasi merupakan sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber

pengambilan sampel. Menurut Margono (2010, 118) “populasi adalah seluruh

data yang menjadi perhatian kita dalam satu ruang lingkup dan waktu yang

(41)

ditentukan”. Sedangkan menurut Sugiyono (2009, 80) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek, yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”. Selain itu Arikunto (2002, 108) mengemukakan bahwa

“Populasi adalah keseluruhan subjek pada suatu penelitian”.

Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah advokat pada Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates,Kantor Hukum Panangiangan Sinambela &

Associates, Kantor Hukum Lembaga Hukum Medan.

3. 3. 2 Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan subjek penelitian.

Menurut Sugiyono (2010, 215) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersbut”.

Sedangkan menurut Arikunto (2002, 112) mengungkapkan bahwa “untuk sekedar ancer-anser maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi”. Oleh karena jumlah populasi kurang dari 100 orang maka seluruh populasi dijadikan sampel atau disebut total sampling.

3. 4 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik penguumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian di

Kantor Hukum Ali Leonardi & Associates, Kantor Hukum Panangiangan

Sinambela & Associates, Kantor Hukum Lembaga Hukum Medan.

(42)

2. Kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan cara memberikan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden penelitian.

3. Studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan data melalui berbagai literatur dan dokumen lain yang berkaitan dengan masalah penelitian.

3. 5 Jenis Data dan Sumber Data

Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian inni adalah sebagai berikut :

1. Data primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari responden melalui kuesioner.

2. Data sekunder yaitu data yang mendukung data primer yang diperoleh dari buku teks, jurnal, majalah, dan dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian.

3. 6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan peneliti dalam pengumpulan

data. Menurut Sugiyono (2006, 97) “instrumen penelitian adalah suatu alat yang

digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara

spesifik fenomena ini disebut variabel penelitian”. Dalam penelitian ini penulis

menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian. Setiap kuisioner berisi

pertanyaan yang membuat indikator-indikator variabel penelitian.

(43)

3. 7 Kisi-kisi Kuisioner Penelitian

Kisi-kisi kuisioner diperlukan sebagai pedoman dalam merumuskan item kuisioner. Dalam kisi-kisi itu harus mencakup ruang lingkup materi variabel penelitian, jenis-jenis pertanyaan, dan banyaknya pertanyaan. Setiap indikator akan menghasilkan beberapa pertanyaan, serta kemampuan yang diharapkan dari subjek penelitian.

Untuk mempermudah merumuskan kuisioner, maka peneliti menyusun kisi- kisi kuisioner sebagai berikut :

Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuisioner Penelitian

Variabel Indikator Jumlah Item Jumlah

Perilaku pencarian informasi advokat

Fungsi/tugas advokat 1, 2, 2

Karakteristik kebutuhan informasi advokat

3, 4, 5, 6, 7, 8 6 Faktor yang

mempengaruhi pencarian informasi

9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20,

21, 22, 23, 24

16

Hasil akhir perilaku pencarian informasi advokat

25, 26 2

Jumlah 26

3.8 Analisis Data

Data yang sudah terkumpul melalui kuisioner kemudian dianalisis. Pada

penelitian ini analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif

dengan cara penyusunan dan pengelompokkan data dan kemudian dianalisis. Data

akan ditabulasi sesuai dengan kelompok aspek yang akan diteliti. Untuk

memudahkan interpretasi data akan disajikan dalam bentuk table kemudian

dianalisis dan diinterpretasikan. Untuk menghitung persentase digunakan rumus

(44)

Keterangan : P = Presentase

f = Jumlah jawaban yang diperoleh (frekuensi) n = Jumlah responden sampel

Penafsiran data dan hasil distribusi terhadap jawaban kuisioner dilakukan dengan menggunakan pedoman penafsiran data menggunakan metode Hadi (2001, 421) sebagai berikut :

1%-25% : Sebagian kecil 26%-49% : Hampir setengah 50% : Setengah

51%-75% : Sebagian besar

76%-99% : Pada umumnya

100% : Seluruhnya

(45)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Peran dan Tugas Advokat Pada bagian ini diberikan pertanyaan terbuka mengenai peran dan tugas advokat sebagai berikut :

1. Kantor Ali Leonardi & Associates yang bersedia menjadi responden ada tiga laki-laki dan menyatakan bahwa peran dan tugas mereka adalah:

1. Melakukan pendampingan terhadap client

2. Menyelesaikan perkara baik di tingkat litigasi maupun non litigasi serta melakukan audit internal perusahaan client

3. Mendampingi client baik di tingkat kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan kantor dinas ketenagakerjaan.

4. Menegakkan kebenaran.

2. Kantor Panangian Sinambela & Associates yang bersedia menjadi responden ada dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan dan menyatakan peran dan tugas mereka adalah :

1. Melakukan pembelaan hukum (advokasi) bagi orang-orang yang bermasalah dengan hukum.

3. Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan yang bersedia menjadi responden ada sepuluh laki-laki dan menyatakan peran dan tugas mereka adalah :

1. Membela atau memberikan bantuan hukum terhadap masyarakat

(46)

2. Memberikan konsultasi hukum

3. Melakukan penanganan kasus sampai tuntas secara hukum

4. Membela hak dan kepentingan hidup masyarakat terkhusus yang tidak mampu

5. Menegakkan hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM).perkas 6. Melakukan advokasi terhadap petani dan buruh

7. Melakukan kampanye tentang Hak Azasi Manusia (HAM).

8. Membela hak-hak masyarakat miskin yang tertindas untuk mencapai suatu keadilan dan kesetaraan dihadapan hukum.

9. Melakukan pendampingan hukum di luar dan di pengadilan.

4.2 Tipe Kasus yang ditangani

Pada baagian ini responden diberikan pertanyaan terbuka mengenai tipe atau jenis kasus yang ditangani.

Adapun tipe kasus yang ditangani oleh advokat pada ketiga Kantor Hukum tersebut yaitu :

1. Perkara/kasus Perselisihan hubungan Indistrial (PHI) 2. Perkara/kasus Perdata

3. Perkara/kasus Pidana 4. Perkara/kasus Perburuhan 5. Perkara/kasus Niaga 6. Perkara/kasus Perceraian

7. Perkara/kasus Pelanggaran HAM

8. Perkara/kasus Pengadilan Tata Usaha Negara

(47)

4.3 Faktor Kebutuhan Informasi

Disusun 26 pertanyaan untuk mengetahui perilaku pencarian informasi seorang advokat. Untuk pertanyaan nomor 1 dan 2 diberikan pertanyaan terbuka dan 24 pertanyaan yang disusun untuk dipilih jawabannya. Berikut hasil dari jawaban responden yang disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini:

Tabel 4.1 Faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi

Q3

Apakah yang mempengaruhi kebutuhan informasi Bapak/Ibu?

Frekuensi Persentase a. umur

b. profesi c. jenjang karir d. lokasi geografis e. -

4 11 2 2 0

26,66 % 73,33%

13,33%

13,33%

Total 19 126,65%

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahi bahwa 4 responden (26,66%) menyatakan umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi. Kemudian 11 orang (73,33%) menyatakan profesi, 2 orang (13,33%) menyatakan jenjang karir dan lokasi geografis yang mempengaruhi kebutuhan informasinya. Pada pertanyaan ini responden dapat memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian

besar advokat (73,33%) menyatakan bahwa profesi adalah faktor yang

mempengaruhi kebutuhan informasi advokat. Hal ini menunjukkan bahwa

profesi miliki peranan lebih besar yang mempengaruhi kebutuhan

informasi advokat.

(48)

Tabel 4.2 Tipe kasus berbeda yang ditangani mempengaruhi pencarian informasi

Q4

Tipe kasus yang berbeda mempengaruhi pencarian informasi

Frekuensi Persentase a. sangat mempengaruhi

b. mempengaruhi c. kurang mempengaruhi d. tidak mempengaruhi

9 4 1 1

60%

26,66%

6,67%

6,67%

Total 15 100%

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa 9 orang (60%) menyatakan tipe kasus berbeda yang ditangani oleh advokat sangat mempengaruhi pencarian informasi, 4 orang (26,66%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda yang ditangani oleh advokat mempengaruhi pencarian informasi, 1 orang (6,66%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda kurang mempengaruhi pencarian informasi, 1 orang (6,66%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda yang ditangani tidak mempengaruhi pencarian informasi.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian

besar (60%) menyatakan bahwa tipe kasus berbeda yang ditangani

mempengaruhi pencarian informasi. Hal ini menunjukkan bahwa tipe

kasus/perkara yang ditangani advokat mempengaruhi pencarian

informasinya karena adanya pekerjaan mencari informasi baru atau tetap

mengandalkan informasi yang lama.

(49)

Tabel 4.3 Dalam menangani suatu kasus membutuhkan suatu kebutuhan khusus

Q5

Dalam menangani suatu kasus

membutuhkan suatu kebutuhan khusus

Frekuensi Persentase a. sangat butuh

b. butuh c. kurang butuh d. tidak butuh

10 5 0 0

66,67%

33,33%

Total : 15 100%

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa 10 orang (66,67%) menyatakan bahwa sangat butuh suatu kebutuhan khusus dalam menangani suatu kasus, 5 orang (33,33%) menyatakan butuh suatu kebutuhan khusus dalam menangani suatu kasus.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian

besar (66,66%) menyatakan bahwa advokat membutuhkan suatu

kebutuhan khusus untuk dapat menangani suatu kasus. Hal ini

menunjukkan bahwa ada kasus tertentu yang membutuhkan kebutuhan

khusus yang harus dilakukan oleh advokat untuk menyelesaikan kasus

yang ditangani.

(50)

Tabel 4.4 Jenis kebutuhan khusus yang dibutuhkan dalam menangani suatu kasus

Q6

Kebutuhan khusus yang dibutuhkan dalam menangani suatu kasus

Frekuensi Persentase a. Membutuhkan seorang psikiater

b. Membutuhkan seorang ahli komunikasi berkebutuhan khusus

c. Menyewa seorang bodygard d. Membutuhkan media

e. Alat penunjang kerja (recorder dan kamera), referensi.

5 6 1 11 3 0

33,33%

40%

6,66%

73,33%

20%

Total : 26 173,32%

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui 5 orang (33,33%) menyatakan membutuhkan seorang psikiater dalam menangani suatu kasus, 6 orang (40%) menyatakan membutuhkan ahli komunikasi berkebutuhan khusus untuk menangani suatu kasus, 1 orang (6,66%) menyatakan menyewa bodygard dalam menangani suatu kasus, 11 orang (73,33%) menyatakan membutuhkan media dalam menangani suatu kasus, 3 (20%) orang menyatakan membutuhkan alat penunjang kerja (recorder dan kamera), referensi. Pada pertanyaan ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian

besar (73,33%) membutuhkan media dalam menangani suatu kasus. Hal

ini menunjukkan bahwa advokat lebih banyak membutuhkan media

sebagai kebutuhan khusus karena mereka dapat memperoleh informasi dan

membantu untuk menangani suatu kasus.

(51)

Tabel 4.5 Apakah yang akan dilakukan jika menemui kasus yang sama/mirip?

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa 11 orang (73,33%) menggunakan kasus yang sebelumnya jika menemui kasus yang sama/mirip, 6 orang (40%) mencari lewat media jika menemui kasus yang sama/mirip, 1 orang (6,66%) bertanya kepada lingkungan klien, 8 oran (53,33%) bertanya pada teman sejawat, dan 1 orang (6,66%) bertanya pada kepala lingkungan. Pada pertanyaan ini responden memilih jawaban lebih dari satu.

Dilihat dari tabel diatas dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar (73,33) advokat menggunakan kasus yang sebelumnya jika menemui kasus yang sama/mirip. Hal ini menunjukkan bahwa pencarian informasi yang berulang yang dilakukan oleh advokat dalam menangani suatu kasus dengan menggunakan kasus yang sebelumnya.

Q7

Apakah yang dilakukan jika menemui kasus yang sama/mirip?

Frekuen si

Persentas e

a. Menggunakan kasus yang sebelumnya

b. Mencari lewat media

c. Bertanya kepada lingkungan klien

d. Bertanya pada teman sejawat e. Bertanya pada kepala

lingkungan

11 6 1 8 1

73,33%

40%

6,66%

53,33%

6,66%

Total : 27 179,98%

Referensi

Dokumen terkait

Dari nilai hasil pengukuran akurasi maka dapat disimpulkan sesuai dengan pengelompokan klasifikasi termasuk pada klasifikasi baik untuk Penerapan algoritma data mining

Tujuan utama network policy adalah untuk mengamankan Jaringan Komputer, mengamankan jaringan pada dasarnya bukanlah tujuan utama dari network policy, yang menjadi

pertumbuhan dan biomassa tanaman. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa FMA lokal Sulawesi Tenggara kompatibel dan berperan penting dalam peningkatan pertumbuhan awal dan

Perbedaan pokok dari kedua proses produksi tersebut adalah berdasarkan pada panjang tidaknya waktu persiapan untuk mengatur (set up) peralatan produksi yang

 Kelompok terbaik pada hari itu diberikan reward oleh guru  Siswa bersama guru mengevaluasi hasil pembelajaran hari ini.. Rincian Kegiatan

Komponen Bayesian Network terdiri dua komponen yaitu struktur DAG yang menggambarkan hubungan kausalitas antar atribut data dan sebuah tabel yang berisi probabilitas

Penggantian Biaya Wajar dan Biasa yang dibebankan oleh Rumah Sakit untuk kunjungan Dokter Umum dan/atau Dokter Spesialis yang timbul selama Tertanggung menjalani Rawat Inap di

Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan angka-angka, rumus atau model