BAB II KAJIAN PUSTAKA
1. Konsep Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
Bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi seseorang kepada orang lain untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Orang tidak akan dapat memahami hasil pikiran kita kalau tidak diungkapkan dengan menggunakan bahasa dengan lisan, tulisan maupun isyarat dengan baik dan tepat, itulah sebabnya bahasa memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia itu maka pembelajaran bahasa haruslah mulai diajarkan sejak usia dini. Bromley (dalam Dhieni: 2009: 1.11) mendefinisikan bahwa: “Bahasa sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransfer berbagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal. Simbol-simbol visual tersebut dapat dilihat, ditulis, dan dibaca, sedangkan simbol-simbol verbal dapat diucapkan dan didengar.”
Selanjutnya Yusuf (2014:118) menjelaskan bahwa bahasa adalah :
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pengertian ini, tercangkup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka.
Dijelaskan pula oleh Santrock (2007: 353) bahasa merupakan:
Suatu bentuk komunikasi entah itu lisan, tulisan, atau isyarat yang berdasarkan pada suatu sistem simbol-simbol. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinasikannya.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa mengandung pengertian sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransfer berbagai ide, lisan, tulisan, pikiran, isyarat, maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal. Simbol-simbol visual (membaca dan menulis) tersebut dapat dilihat, ditulis, dan dibaca, sedangkan simbol-simbol verbal (menyimak dan berbicara) dapat diucapkan dan didengar.
b. Teori Perkembangan Bahasa
Berikut pendapat para ahli yang menjelaskan tentang teori perkembangan bahasa yaitu: (a) Teori nativis, menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa dipengaruhi oleh kematangan seiring dengan pertumbuhan anak. Pandangan ini yang memisahkan antara belajar bahasa dengan perkembangan kognitif dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa anak belajar bahasa dari lingkungan sekitarnya dan memiliki kemampuan untuk mengubah bahasanya jika lingkungannya berubah. (b) Teori behavioristik berpendapat bahwa anak dilahirkan tanpa membawa kemampuan apapun. Dengan demikian anak harus belajar (dalam hal ini belajar berbahasa) melalui pengkondisian dari lingkungan, proses imitasi, dan diberikan reinforcement (penguat). (c) Teori kognitif berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti peran aktif anak terhadap lingkungan, cara anak memproses suatu informasi, dan menyimpulkan struktur bahasa. (d) Teori pragmatik berpendapat bahwa tujuan anak belajar bahasa adalah
15
untuk bersosialisasi dan mengarahkan perilaku orang lain agar sesuai dengan keinginannya. (Dhieni, 2009: 2.3-2.21)
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa pada anak usia dini dipengaruhi oleh banyaknya teori yang mendukung. Di antaranya beberapa teori tersebut yaitu: teori nativis, teori behavioristik, teori kognitif, dan teori pragmatik.
c. Karakteristik Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini
Anak bervariasi dalam perkembangan bahasa dan kemampuan bicaranya. Akan tetapi dalam rentang perkembangan yang begitu panjang, terdapat perubahan-perubahan penting dalam waktu-waktu tertentu yang terjadi pada anak. Pada usia 4 sampai 6 tahun inilah kemampuan bahasa anak akan berkembang dengan baik. Dhieni (2009: 9.6) menjelaskan karakteristik dari kemampuan bahasa anak usia 5-6 tahun yaitu sebagai berikut:
1) Sudah dapat mengucapkan lebih dari 2500 kosa kata.
2) Lingkup kosa kata yang dapat diucapkan anak menyangkut: warna, ukuran, bentuk, ukuran bentuk dan warna, rasa, bau, kecantikan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan jarak, dan permukaan (kasar-halus).
3) Sudah dapat melakukan peran sebagai pendengar yang baik. 4) Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah
dapat mendengar orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.
5) Percakapan yang dilakukan oleh anak usia 5-6 tahun telah menyangkut berbagai komentarnya terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain serta apa yang dilihatnya. Anak usia ini sudah dapat melakukan ekspresi diri, menulis, membaca, dan bahkan berpuisi.
Selanjutnya menurut Nurbiana (dalam Sunaryanto, 2015: 9) karakteristik kemampuan bahasa anak usia 5-6 tahun sebagai berikut:
1) Kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik.
2) Melaksanakan 2-3 perintah lisan secara berurutan dengan benar.
3) Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami.
4) Menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya.
5) Menggunakan kata sambung seperti: dan, karena, tetapi. 6) Menggunakan kata tanya seperti: bagaimana, apa, mengapa,
kapan.
7) Membandingkan dua hal. 8) Memahami konsep timbal balik. 9) Menyusun kalimat.
10) Mengucapkan lebih dari tiga kalimat. 11) Mengenal tulisan sederhana.
Ernawulan (dalam Sunaryanto, 2015:8) juga menambahkan bahwa karakteristik dari kemampuan bahasa usia 5-6 tahun yaitu: “Sudah dapat mengucapkan kata dengan jelas dan lancar, dapat menyusun kalimat yang terdiri dari enam sampai delapan kata, dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dapat menggunakan kata hubung, kata depan, dan kata sandang. Pada masa akhir usia taman kanak-kanak umumnya anak sudah mampu berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan berbahasa.
Berdasarkan dari tiga pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa karakteristik perkembangan bahasa anak rentang usia 5-6 tahun di antaranya sudah dapat mengucapkan lebih dari 2500 kosa kata, sudah dapat mengucapkan kata dengan jelas dan lancar, dapat menyusun kalimat yang terdiri dari enam sampai delapan kata, dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana,
17
dapat menggunakan kata hubung, kata depan, kata sandang, kemudian dapat mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami.
d. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak, berikut menurut para ahli (dalam Santrock, 2007: 370) yaitu:
1) Pengaruh Biologis
Noam Chomsky berpendapat anak-anak dilahirkan ke dunia dengan perangkat perolehan bahasa (Language Acquistion
Device atau LAD). Yakni suatu warisan biologis yang
memampukan anak mendeteksi gambaran dan aturan bahasa, termasuk fonologi, sintaksis, dan sematik.
2) Pengaruh Lingkungan
Pandangan teori behavior, para behavioris berpendapat bahwa bahasa adalah rangkaian respon yang dicapai melalui
reinforcement. Seorang bayi secara kebetulan mengucapkan
“Ma-ma”, ibunya lalu memberi reword berupa pelukan dan senyuman, lalu bayi mengatakan “Mama” secara berulang-ulang. Sedikit demi sedikit, kemampuan berbahasa bayi mulai dibangunkan.
3) Kedwibahasaan (pemakaian dua bahasa)
Santrock mengatakan bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu akan lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya dari pada yang hanya menggunakan satu bahasa saja, karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi.
Selanjutnya menurut Yusuf (2014:121-122) faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak meliputi:
1) Faktor Kesehatan
Kesehatan merupakan faktor yang sangat memepengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Oleh karena itu, untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, orangtua perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak.
2) Inteligensi
Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat inteligensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai inteligensi normal atau di atas
normal. Namun begitu, tidak semua anak yang mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikategorikan sebagai anak yang bodoh. (dalam Hurlock) 3) Status Sosial Ekonomi Keluarga
Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluaarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya), atau kedua-duanya (dalam hurlock, 1956)
4) Jenis Kelamin (sex)
Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasai antara pria dengan wanita. Namun mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria.
5) Hubungan Keluarga
Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orangtua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara orangtua dengan anak akan memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau keterlambatan dalam perkembangan bahasanya.
Berdasarkan penjabaran dari para ahli tentang faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa anak dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri, yang terdiri dari faktor biologis, jenis kelamin, dan intelegensi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor lingkungan, status sosial, jumlah anak dan keluarga, kedwibahasaan, serta faktor kesehatan.
19
2. Konsep Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini