KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
6. Konsep Persepsi
a. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah proses yang berasal dari komponen kognitif manusia mengetahui suatu objek psikologis dengan kacamatanya sendiri yang diwarnai dengan nilai kepribadiannya. Suatu objek psikologis ini dapat berupa kejadian, ide atau situasi tertentu. Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, pengetahuan dan cakrawalanya memberikan arti terhadap objek psikologis tersebut. Melalui komponen kognitif ini akan timbul ide kemudian konsep dari apa yang dilihat (Mar’at, 1984).
Aktualisasi Diri Harga Diri Rasa Cinta Memiliki dan
Rasa Aman dan Perlindungan Kebutuhan Fisiologis
Persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Pengindareaan adalah suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerimaan yaitu alat indera. Stimulus yang mengenai individu kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderakannya tersebut. Dengan persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitar dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan (Davidoff, 1981 dalam Walgito,1978).
Persepsi tidak hanya datang dari luar diri individu, tetapi juga dapat datang dari dalam individu yang bersangkutan. Apabila yang menjadi objek persepsi adalah diri individu sendiri maka disebut dengan persepsi diri, karena dalam persepsi tersebut merupakan aktivitas intergrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan, berfikir, kerangka acuan, dan aspek lainnya yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut, (Walgito, 1978).
Moskowitz dan Orgel (1969) dalam Walgito (1978) berpendapat bahwa persepsi itu merupakan proses yang intergrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian, persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktifitas yang intergrated dalam diri individu. Seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan,
pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain ikut berperan aktif dalam persepsi itu. Oleh karena itu dapat dikemukakan bahwa dalam persepsi meskipun stimulusnya sama, tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berpikir, kerangka acuan tidak sama adanya kemungkinan hasil persepsi antara individu satu dengan yang lain tidak sama.
Menurut Gibson (1993), pengertian persepsi dengan menggunakan gambar mulai dari stimulus hingga hasil proses persepsi. Proses persepsi ini dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Proses persepsi
Persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakkan indera. Persepsi mencakup penafsiran obyek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan. Dengan kata lain, persepsi mencakup
penerimaan, pengorganisasian, dan penterjemahan dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.
Kenyataan Objek Proses Persepsi Hasil peristiwa
Perilaku tanggapan Sikap yang terbentuk Pengamatan stimulus Faktor yang mempengaruhi persepsi Evaluasi dan penafsiran kenyataan Stimulus Umpan balik
Menurut Thoha (1999), pada hakekatnya persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami
informasi tentang lingkungannya, melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Persepsi merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi yang menghasilkan suatu gambar yang mungkin sangat berbeda dari kenyataannya.
b. Persepsi Sosial
Dalam mempersepsikan diri sendiri, seseorang akan dapat melihat bagaimana keadaan dirinya sediri, orang dapat mengevaluasi tentang diri sendiri. Namun, apabila yang menjadi persepsi di luar orang yang mempersepsikan, maka objek persepsi dapat bermacam-macam, yaitu dapat berwujud benda-benda, situasi dan berwujud manusia. Persepsi benda atau non-social perception adalah bentuk persepsi dimana yang menjadi objek persepsi seseorang adalah benda. Sedangkan persepsi manusia atau persepsi sosial yaitu bentuk persepsi dimana yang menjadi objek persepsi adalah manusia. Menurut Tagiuri dalam Lindzey dan Aronson dalam Walgito (1978), persepsi sosial adalah suatu proes seseorang untuk mengetahui, menginterpretasikan dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, tentang sifat kualitas dan keadaan lain dalam individu tersebut.
c. Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Persepsi
Menurut Robbins (2003), Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
yang dimaksud yaitu diri individu itu sendiri, sedangkan yang dimaksud faktor eksternal yaitu faktor stimulus dan faktor
lingkungan pada persepsi itu berlangsung. Faktor internal dan faktor
eksternal ini saling berinteraksi dalam individu mengadakan
persepsi. Agar stimulus dapat dipersepsi, maka stimulus harus cukup kuat, stimulus harus melampaui ambang stimulus, yaitu kekuatan
stimulus yang minimal tetapi sudah dapat menimbulkan kesadaran.
Mengenai keadaan individu yang dapat mempengarui hasil persepsi datang dari dua sumber, yaitu yang berhubungan dengan segi kejasmanian, dan yang berhubungan dengan segi psikologis. Bila sistem psikologisnya terganggu, hal tersebut akan berpengaruh dalam persepsi seseorang, segi psikologis yang dimaksud antara lain mengenai pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir, dan kerangka acuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah : 1) Pelaku Persepsi
Bila seseorang individu memandang pada suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari pelaku persepsi indivitu itu. Karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi
adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan.
2) Target
Karakteristik-karakteristik dari target yang diamati dapat
mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Karakteristik dari target yaitu hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang dan
kedekatan. Target tidak dipandang dalam keadaan terisolasi, hubungan suatu target terhadap latar belakangnya mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan untuk pengelompokan benda-benda yang kedekatan atau mirip.
3) Situasi
Unsur-unsur lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi. Waktu adalah dimana suatu objek atau peristiwa dapat mempengaruhi perhatian. Karakteristik-karakteristik dari suatu yang dapat mempengaruhi persepsi adalah waktu, keadaan/ tempat kerja dan keadaan sosial.
Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan persepsi individu diantaranya yaitu keyakinan, proses belajar, cakrawala, pengalaman, dan pengetahuan. Selain itu juga faktor kepribadian individu
mempengaruhi persepsi setiap individu. Proses terbentuknya persepsi dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Bagan persepsi (Ma’at, 1982)
Menurut Gibson (1989) melukiskan terjadinya persepsi individu sebagaimana terlihat dalam Gambar 4.
Gambar 4. Proses terjadinya persepsi (Gibson, 1989) Observasi Stimulus Faktor yang mempengaruhi persepsi : 1.Stereotiop 2.Kepandaian Menyaring 3.Konsep Diri 4.Keadaan 5.Kebutuhan 6.Emosi Evaluasi dan penafsiran kenyataan Pembentu kan Sikap Perilaku Interpetasi Kenyataan Objek Proses Persepsi Hasil Stimulus Afeksi Persepsi
Objek Sikap Faktor-faktor lingkungan yang
berpengaruh
Keyakinan Proses Belajar Cakrawala Pengalaman Pengetahuan
Kepribadian
Kognitif
Sikap Konasi
Gambar 4 menunjukkan proses terjadinya persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Penginderaan merupakan suatu proses diterimanya suatu stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera. Stimulus diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi.
Menurut A.W van de Ban dan H.S. Hawkins (1998), sebagian studi telah menganalisis hubungan antara ciri-ciri suatu inovasi dan tingkat adopsinya. Sebagian besar studi tersebut menggunakan pertimbangan objektif atau menganggap bahwa semua petani mempunyai persepsi yang sama. Hal ini menyebabkan hasil studi tidak mencapai kesimpulan yang sama, tetapi semuanya
menunjukkan adalanya beberapa ciri penting, sebagai berikut: a. Keuntungan relatif
Inovasi ini memungkinkan petani mencapai tujuannya dengan lebih baik, atau dengan biaya yang lebih rendah dari pada yang telah dilakukan sebelumnya.
b. Kompatibilitas atau Keselarasan
Kompatibilitas berkaitan dengan nilai sosial budaya dan
kepercayaan, dengan gagasan yang diperkenalkan sebelumnya, atau dengan keperluan yang dirasakan oleh petani.
c. Kompleksitas
Inovasi ini sering gagal karena tidak diterapkan secara benar. Beberapa diantaranya memerlukan pengetahuan atau
keterampilan khusus. d. Dapat dicoba
Petani cenderung untuk mengadopsi inovasi jika telah dicoba dalam skala kecil di lahannya sendiri dan terbukti lebih baik dari pada mengadopsi inovasi dengan cepat dalam skala besar. e. Bisa diamati
Petani dapat melihat dari jauh tentang rekannya yang telah beralih memberi jagung untuk pakan ternaknya, tetapi ia tidak tau tentang sistem tata buku yang digunakan tetangganya.
Menurut Evertt M. Rogers dan F. Floyd Shoemaker (1981), terdapat 5 sifat inovasi. Setiap sifat secara empiris mungkin saling
berhubungan satu sama lain tetapi secara konseptual mereka itu berbeda. Kelima sifat itu ialah:
a. Keuntungan relatif
Keuntungan relatif adalah tingkatan dimana suatu ide baru dianggap suatu yang lebih baik dari pada ide-ide yang baru dianggap suatu yang lebih baik dari pada ide-ide yang ada sebelumnya. Tingkat keungtungan relatif sering kali dinyatakan dengan atau dalam bentuk keuntungan ekonomis.
b. Kompatibilitas (keterhubungan inovasi dengan situasi klien) Kompatibilitas adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima.
c. Kompleksitas (kerumitan inovasi)
Kompleksitas adalah tingkat dimana suatu inovasi dinggap relatif sulit untuk dimengerti dan digunakan. Suatu ide baru mungkin dapat digolongkan ke dalam kontinum “rumit sederhana”. Inovasi-inovasi tertentu begitu mudah dapat dipahami oleh penerima tertentu, sedangkan orang lainnya tidak.
d. Triabilitas (dapat dicobanya suatu inovasi)
Triabilitas adalah suatu tingkat dimana suatu inovasi dapat dicoba dengan skala kecil. Ide baru yang dapat dicoba biasanya diadopsi lebih cepat dari pada inovasi yang tak dapat dicoba lebih dulu. Suatu inovasi yang dapat dicoba akan memperkecil resiko bagi adopter.
e. Observabilitas (dapat diamatinya suatu inovasi)
Observabilitas adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Hasil inovasi-inovasi tertentu mudah dilihat dan dikomunikasikan kepada orang lain sedangkan beberapa lainnya tidak.