BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Prasekolah
Pertumbuhan merujuk pada peningkatan ukuran tubuh, sedangkan
perkembangan merujuk pada peningkatan kemampuan atau fungsi.
1. Pertumbuhan fisik
Pertumbuhan fisik pada masa awal kanak – kanak ( prasekolah ) menurut Hurlock ( 2012 ) :
a.Tinggi
Pertambahan tinggi badan setiap tahunnya rata – rata 3 inchi. Pada usia 6 tahun tinggi rata – rata anak 46,8 inci.
b.Berat
Pertambahan berat badan setiap tahunnya rata – rata tiga sampai lima pon. Pada usia 6 tahun berat badan anak kurang lebih tujuh kali berat
badan waktu lahir.
c. Perbandingan tubuh
Wajah kecil, namun dagu tampak lebih jelas dan leher lebih memanjang
disbanding saat bayi. Gumpalan pada bagia – bagian tubuh berangsung berkurang dan tubuh cenderung berbentuk kerucut, dengan perut yang
rata, dada yang lebih bidang dan rata, dan bahu yang lebih luas dan lebih
persegi. Lengan dan kaki lebih panjang dan lebih lurus, tangan dan kaki
tumbuh lebih besar.
d.Tulang dan otot
Otot menjadi lebih besar, lebih kuat, dan lebih berat, sehingga anak
e. Gigi
Selama empat sampai enam bulan pertama masa awal kanak – kanak, 4 gigi bayi yang terakhir( geraham belakang ) muncul. Selama setengah
tahun terakhir masa ini gigi bayi mulai digantikan oleh gigi tetap.
2. Perkembangan kognitif
Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa setiap organism
hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu
kecenderungan adaptasi dan organisasi (Monks et al, 2006).
Kecenderungan adaptasi mempunyai dua komponen, yaitu asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi yaitu kecenderungan organisme untuk mengubah
lingkungan guna menyesuaikan dengan dirinya sendiri. Akomodasi yaitu
kecenderungan organisme untuk mengubah dirinya guna menyesuaikan diri
dengan lingkungan sekitarnya. Kecenderungan organisasi, dapat
digambarkan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk
mengitergrasi proses – proses sendiri menjadi system – system yang koheren ( Monks et al, 2006)
Pada usia anak prasekolah, memasuki stadium perkembangan
praoperasional, yang dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis,
permainan simbolis, imitasi serta bayangan dalam mental (Monks et al,
2006). Berpikir pada tahap praoperasional masih sangat egosentris anak
belum mampu ( secara persepsual, emosional-motivational, dan
konsepsual) untuk mengambil perspekstif orang lain.
Cara berpikir pada tahap ini sangat memusat, bila ia dihadapkan pada
pada satu dimensi saja dan akhirnya mengabaikan dimensi lainnya (Monks,
2006). Anak prasekolah masih kurang mampu melakukan operasi, istilah
piaget untuk tindakan yang terinternalisasi, yang memungkinkan anak
melakukan secara mental tindakan / hal yang sebelumnya hanya dapat
dilakukan secara fisik. (Santrock, 2005).
3. Perkembangan emosi
Emosi yang umum pada awal masa kanak kanak (Hurlock, 2012)
a. Amarah
Penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran
mengenai permainan, dan tidak tercapainya suatu keinginan. Anak
mengungkapkan rasa marah dengan menangis, berteriak, menggertak,
menendang, atau bahkan memukul.
Amarah pada anak sering dikaitkan denga temper tantrum.
Tantrum dideskripsikan sebagai perilaku marah, menangis, dan
melukai fisik. Tantrum merupakan bagian dari perkembangan yang
normal dan dialami oleh setiap anak, hanya saja untuk alasan yang
berbeda dan pada usia yang berbeda. Umumnya tantrum dimulai saat
anak memasuki masa toddler dan akan berakhir pada usia prasekolah.
b. Takut
Pembiasaan, peniruan dan ingatan tentang pengalaman yang
kurang menyenangkan sangat berperan dalam menimbulkan rasa
takut. Pada awalnya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panic, lalu
menjadi lebih khusus seperti menangis, dan bersembungi menghindari
c. Cemburu
Anak mengalami rasa cemburu ketika ia berfikir bahwa perhatian
orang tua beralih pada orang lain. Anak pada masa awal kanak –
kanak dapat menunjukkan kecemburuannya dengan berpura – pura sakit, atau menjadi nakal. Perilaku – perilaku tersebut bertujuan untuk menarik perhatian.
d. Ingin tahu
Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap hal – hal baru yang dilihatnya, mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain.
Reaksi pertama yang dilakukan adalah dengan bentuk penjelajahan
sensorimotorik, lalu selanjutnya ia akan bereaksi dengan bertanya.
e. Iri hati
Anak seringkali iri mengenai kemampuan ataupun barang yang
dimiliki orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan mengeluhkan barang
miliknya sendiri ataupun ungkapan keinginan untuk memiliki barang
orang lain.
f. Gembira
Anak – anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum, tertawa, bertepuk tangan, melompat – lompat, atau memeluk benda atau orang lain yang membuatnya bahagia.
g. Sedih
Anak merasa sedih karena kehilangan sesuatu yang dianggap
penting bagi dirinya. Anak mengungkapkan kesedihannya dengan
h. Kasih sayang
Anak – anak belajar mencintai orang, binatang, atau benda yang menenangkannya. Kasih sayang tersebut diungkapkan dengan
menyatakannya secara fisik, dengan memeluk, menepuk, dan
mencium objek yang disayanginya.
4. Perkembangan Sosial
Pola perilaku sosial dan tidak sosial pada masa awal kanak – kanak (prasekolah)
a.Pola sosial
1) Meniru
Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang
yang ia kagumi.
2) Persaingan
Keinginan untuk mengalahkan orang lain, hal ini mulai tampak pada
usia empat tahun
3) Kerja sama
Pada akhir tahuj ketiga kegiatan kelompok mulai berkembang dan
meningkat dalam segi frekuensi maupun durasinya.
4) Simpati
Simpati membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang
lain. Umumnya berkembang sebelum usia anak tiga tahun. Semakin
banyak anak melakukan kontak sosial, maka simpati akan semakin
5) Empati
Sama dengan simpati, empati membutuhkan pengertian tentang
perasaan dan emosi orang lain, selain itu juga membutuhkan
kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain.
6) Dukungan sosial
Menjelang berakhirnya masa kanak – kanak, dukungan dari teman –
teman menjadi lebih penting daripada persetujuan orang dewasa.
7) Membagi
Dari pengalaman bersama orang lain, anak belajar bahwa salah satu
cara memperoleh persetujuan sosial adalah dengan membagi
miliknya, tertutama mainan.
b. Pola tidak sosial
1) Negativisme
Negativisme, atau melawan otoritas orang dewasa mencapai
puncaknya antara usia tiga dan empat tahun. Perlawanan fisik
berubah menjadi perlawanan verbal dengan cara berpura – pura tidak mendengar permintaan orang dewasa.
2) Agresif
Perilaku agresif meningkat antara usia dua dan empat tahun,
kemudian menurun. Serangan fisik mulai berganti dengan serangan
verbal dalam bentuk menyalahkan orang lain.
3) Perilaku berkuasa
Perilaku ini dimulai ketika usia tiga tahun dan semakin meningkat
4) Memikirkan diri sendiri
Pandangan anak masih terbatas pada rumahnya saja, sehingga anak
seringkali mementingkan dirinya sendiri. Dengan meluasnya
pandangan, lambat laun perilaku tersebut mulai berkurang an mulai
digantikan oleh perilaku murah hati.
5) Mementingkan diri sendiri
Seperti halnya perilaku memikirkan diri sendiri, perilaku
mementingkan diri sendiri lambat laun akan digantikan oleh minat
dan perhatian kepada orang lain.
6) Merusak
Ledakan amarah seringkali diiringi dengan tindakan merusak benda
– benda disekitarnya. 5. Perkembangan Bahasa
Awal masa kanak – kanak umumnya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas pokok dalam belajar berbicara, yaitu
manambah kosakata, menguasai pengucapan kata – kata dan menggabungkan kata – kata menjadi kalimat. Pada awalnya pmebicaraan anak – anak bersifat egosentris, yaitu berkisar pada minat, dan miliknya sendiri (Gunarsa & Gunarsa, 2008). Menjelang akhir masa kanak – kanak akan dimulai pembicaraan yang bersifat sosial, yaitu berbicara tentang
orang lain selain dirinya sendiri. Awal masa kanak – kanak sering disebut dengan tukang ngobrol, karena anaj dapat berbicara dengan mudah tak
putus – putus, namun ada juga anak – anak yang relative pendiam (Hurlock, 2012)