• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Kurikulum Sekolah Luar Biasa

1. Konsep Pikiran (Mind) dalam Komunikasi Guru dan Murid

Komunikasi seperti yang kita tahu adalah suatu kegiatan menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan, dengan tujuan-tujuan tertentu. Pada umumnya komunikasi terjadi ketika ada pihak yang menjadi komunikator atau yang mengawali kegiatan komunikasi dan akan semakin intens dengan adanya kesamaan dari kedua belah pihak.

Ketika ingin memulai sebuah komunikasi, biasanya lawan bicara atau komunikan menyimak dahulu apa yang disampaikan oleh komunikator. Proses menyimak tersebut merupakan cara kerja otak melalui pikiran. Pikiran yang dimaksud disini adalah proses berpikir dari diri individu itu sendiri terhadap makna atau simbol pada saat interaksi berlangsung. Kemudian dicerna ke dalam pikiran terhadap stimulus yang diberikan pada saat berkomunikasi. Proses berpikir atau interaksi menjadi mungkin karena adanya simbol yang sama atau bahasa yang sudah disepakati bersama.

Sama halnya dengan yang peneliti temukan ketika melakukan observasi di lapangan. Ketika ingin memulai komunikasi di kelas, guru menggunakan Bahasa verbal yang diikuti oleh Bahasa isyarat. Mula-mula, guru

52

menyapa siswa dengan “selamat pagi?’, “apa kabar kalian?” . “sudah sarapan atau belum?’.

Karena anak tunarungu hanya bisa memaksimalkan indera penglihatan sebagai penangkap respon atas sebuah stimulus, maka simbol yang pertama kali mereka pahami adalah sebuah Bahasa isyarat. Penggunaan Bahasa yang diujarkan guru di sekolah berupa Bahasa SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia).

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia merupakan isyarat bahasa yang telah distandarkan dan dinormalisasikan sesuai dengan tata bahasa, sintaksis, dan morfologi kata, sehingga untuk hampir semua kata dasar memiliki isyaratnya, dan untuk menambahkan kosa kata, juga telah dilengkapi dengan isyarat yang mewakili imbuhan.8

Sedangkan BISINDO merupakan Bahasa yang alamiah yang terbentuk sesuai dengan budaya asli Indonesia yang dengan mudah dapat digunakan dalam pergaulan isyarat kaum tunarungu sehari-hari. BISINDO merupakan bahasa ibu mereka. Setiap penyandang tunarungu pun memiliki bahasa ibu yang otentik, serupa

8 Ade Pratiwi, Dr. Amsal Amri, M. Pd, Penggunaan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sebagai media komunikasi (Studi pada siswa tunarungu di SLB Yayasan Bukesra Ulee Kareng, Banda Aceh), Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 4. No 3. Agustus 2019

53

dengan bahasa daerah yang berkembang disetiap wilayah Indonesia.

Pada saat penelitian berlangsung, peneliti langsung melihat bagaimana siswa merespon apa yang diujarkan guru melalui Bahasa isyarat tersebut.

Gambar 4.1

Guru berkomunikasi melalui Bahasa SIBI

Gambar 4.2

Guru berkomunikasi melalui BISINDO

54

Simbol berupa bahasa yang muncul menimbulkan adanya suatu respon. Untuk itulah, ketika terjalin sebuah kesepakatan bersama, maka komunikasi bisa dilakukan dengan baik.

Hal ini didukung oleh pernyataan Bapak Suratno sebagai berikut:

Kita memakai Bahasa oral atau Bahasa isyarat.

Selain itu kita menggunakan Bahasa Ibu. Bahasa ini mudah dimengerti karena siswa sudah terbiasa sejak kecil.9

Ibu Erna juga memberikan pernyataan yang sama melalui wawancara sebagai berikut:

Komunikasi yang digunakan adalah komunikasi total, dimana ucapan secara verbal harus dikeluarkan diikuti dengan komunikasi nonverbal yaitu Bahasa tubuh. Kalau Bahasa Isyarat sendiri menggunakan SIBI.10

Setelah terjadi kesepemahaman mengenai makna dan pikiran tentang proses berpikir karena adanya simbol yang sama atau bahasa yang sudah disepakati bersama,

9 Hasil Wawancara dengan Suratno, S.Pd (Kepala Sekolah) pada tanggal 30 Juli 2020 di SLB Nurasih Jakarta Selatan Pukul 10.00 WIB

10 Hasil Wawancara dengan Erna Susilowati, S.Pd (Guru) pada tanggal 4 Agustus 2020 di SLB Nurasih Jakarta Selatan Pukul 10.00 WIB

55

barulah komunikasi tersebut dapat dilakukan. Dan Interaksi guru dan murid di kelas dapat terjadi

2. Konsep Diri (Self) dalam Komunikasi Guru dan Murid

Diri merupakan lanjutan dari mind. Self atau diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek dari perspektif yang berasal dari orang lain, atau masyarakat. Diri muncul dan berkembang melalui aktivitas interaksi sosial dengan orang lain.

Sebagai langkah penting untuk mengembangkan akal, maka baik guru dan murid melakukan komunikasi tersebut dan melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Dari interaksi yang terjadi diantara keduanya setiap hari, munculah penilaian atas perspektif yang diberikan satu sama lain.

Anak tunarungu terbiasa berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat dalam kesehariannya.

Terlebih mereka hanya menggunakan bahasa isyarat saja ketika berkomunikasi dengan temannya. Seperti yang peneliti amati, ketika bertemu dengan temannya, mereka melakukan komunikasi dan mengekspresikan dirinya melalui bahasa isyarat yang hanya keduanya saja yang memahami hal tersebut. Sesuai dengan konsep diri, inilah yang memang mereka lakukan sebagai dirinya sendiri.

56

Namun, ketika belajar di sekolah, mereka harus mengikuti apa yang telah ditetapkan di sekolah. Guru dalam hal ini adalah orang yang memberikan pengetahuan dan ilmu kepada mereka. Perspektif akan berubah ketika anak tunarungu berkomunikasi dengan guru. Mereka tidak hanya melakukan komunikasi menggunakan isyarat saja.

Tetapi harus diikuti dengan bahasa lisan, yang dimana suara perlu dikeluarkan agar mereka terbiasa dengan pengucapan kata maupun kalimat.

Penjelasan tersebut benar adanya sesuai dengan wawancara dengan Ibu Erna sebagai berikut:

Anak tunarungu itu dipita suaranya tidak memiliki getaran jadi untuk mengeluarkan suara itu malas.

Mereka kebanyakan maunya menggunakan Bahasa isyarat. Makanya saya berusaha mengeluarkan suara agar mereka terbiasa kalau memang masih ada sisa pendengaran, meskipun anak tidak bisa berbicara dengan jelas.11

Oleh karena itu, berkomunikasi menggunakan bahasa lisan dengan mengeluarkan suara adalah aturan yang mengharuskan anak tunarungu agar bisa hidup sesuai norma yang berlaku di masyarakat umum. Agar mereka mampu

11 Hasil Wawancara dengan Erna Susilowati, S.Pd (Guru) pada tanggal 4 Agustus 2020 di SLB Nurasih Jakarta Selatan Pukul 10.00 WIB

57

mengimbangi hal-hal yang terjadi di luar lingkungan mereka dan berbaur dengan kondisi masyarakat sekitar.

3. Konsep Sosial (Society) dalam Komunikasi Guru dan

Dokumen terkait