• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, penulis menyertakan saran untuk kemudian dijadikan sebagai bahan acuan dan evaluasi, yaitu:

1. Bagi Sekolah Luar Biasa

Tenaga pendidik yang masih minim diharapkan dapat dtingkatkan lagi supaya mencakup siswa secra keselurahan. Mengenai fasilitas yang ada, ruangan kelas nampak kecil dengan dengan jumlah siswa per kelasnya yang tidak sesuai, dharapkan hal ini perlu diperbaiki. Komunikasi dan kerjasama dengan orang

66

tua siswa harus terjalin lebih meningkat demi tercapainya proses belajar mengajar yang baik.

Adakanlah proses belajar mengajar secara kompetitif antara siswa secara sehat, baik antar individu maupun kelompok

2. Bagi Akademisi

Peneliti mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang interaksi simbolik dalam kajian yang luas. Karena pastinya, akan ada perbedaan-perbedaan pendapat yang muncul, hingga takutnya akan menciptakan kekacauan, untuk itu penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam menginformasikan hal-hal yang tidak diketahui masyarakat, yakni melalui bidang akademisi dan penelitian model in

67

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Alwasilah, A Chaedar. (1990). Linguistik Suatu Pengantar.

Bandung: Aksara..

Cangara, Hafied. (2013). Perencanaan dan Strategi Komunikasi.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Danesi, Marcel. (2012). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta:

Jalasutra.

Fajar, Marhaeni. (2009). Ilmu Komunikasi Teori dan Prakti.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Hidayat, Dedy N. (2003). Paradigma dan Metodologi Penelitian Sosial Empirik Klasik. Jakarta: Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia,.

Marhaeni, Fajar. (2009). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik.

Jakarta: Graha Ilmu.

Moeleong, Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. (2002). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. (2010). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar Cet.

XIV. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya..

Patton, Michael Quinn. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods,. California: SAGE Publications.

Raco, Jozef R. (2003). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rahmat, Jalaludin. (2002). Metode Penelitian Deskriptif.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

68

Riswandi. (2009). Ilmu Komunikasi Cet. 1. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Roger Keesing. (1992). Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga.

Sugiyono. (2009). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung:

Alfabeta.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan, R&D. Bandung: Alfabeta,.

Turner, West Richard dan Lynn H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis Dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika..

Winarsih, Murni. (2007). Intervensi Dini bagi Anak Tunarungu dalam Pemerolehan Bahasa. Jakarta: Depdiknas.

Jurnal

Ade Pratiwi, Dr. Amsal Amri, M. Pd. (2019). Penggunaan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sebagai media komunikasi (Studi pada siswa tunarungu di SLB Yayasan Bukesra Ulee Kareng, Banda Aceh). Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah Vol. 4. No 3.

Anshori, Muhammad Syukron. (2014). Interaksi Simbolik Dalam Proses Komunikasi Nonverbal Pada Suporter Sepak Bola (Studi pada Anggota Juventus Club Indonesia Chapter Malang,. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Arifal, Muhammad;. (2020). Komunikasi Interaksi Simbolik Guru Dengan Siswa Kelas X Dalam Membangun Komunikasi Efektif Di SMKS YPPI Tualang. Riau: Universitas Islam Negeri Syarif Kasim.

Awwal, Jumadil. (2017). Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik MINA

Agustina, Uliviana Restu Handaningtias dan Helmy. (2017).

Peristiwa Komunikasi dalam Pembentukan Konsep Diri Otaku Anime,. Jurnal Kajian Komunikasi, Vol. 5, No. 2

69

Nida, F. L. (2013). Komunikasi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus.

AT-TABSYIR Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol.1, No.2, 173-174

Wastika, Leni. (2014). Bahasa Tubuh Siswa Tunarungu di Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung dalam Proses Interaksi dengan Gurunya. Bandung: Universitas Negeri Islam Bandung

Yani Hendrayani, dkk. (2019). Pola Komunikasi Guru Terhadap Penyandang Siswa Disabilitas. Jurnal Penelitian Komunikasi, Vol. 22 No. 2 183.

Sumber Lain

https://geometryarchitecture.wordpress.com/2013/03/24/i nterpretasi-jari-dalam-bahasa-isyarat/

https://meenta.net/belajar-bahasa-isyarat-dasar/

https://Psibkusd.Wordpress.Com/About/B-Tunarungu/Metode-Pengajaran-Bahasa-Bagi-Anak-Tunarungu file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/07_persesjen_

pedoman_K13_kntor_16_200218-1.pdf

70

LAMPIRAN

71

HASIL OBSERVASI LAPANGAN I Hari/Tanggal : Jum’at, 26 Juni 2020

Topik Observasi : Izin Penelitian

Tempat Penelitian : Sekolah Luar Biasa Nurasih Jakarta Selatan

Pada tanggal 26 Juni 2020, peneliti berkunjung ke SLB Nurasih Jakarta Selatan pagi hari. Sebelumnya peneliti sudah menghubungi Kepala Sekolah Luar Biasa Nurasih Bapak Mustam.

Tujuan peneliti bermaksud meminta izin untuk melakukan penelitian.

Peneliti menjelaskan topik penelitian apa yang nantinya diteliti. Seperti membutuhkan objek siswa dengan kebutuhan khusus tunarungu atau tunagrahita dan tingkatan sekolah dasar, menengah, atau atas yang ingin menjadi fokus penelitian.

Peneliti menjelaskan topik penelitian yang akan diteliti mengenai pola komunikasi antarpribadi yang dilakukan antara guru ke siswa dalam pembelajaran. Siswa yang diteliti adalah siswa tunarungu. Untuk jumlah kebutuhan siswa yang diteliti, peneliti menyesuaikan dan menyerahkan hal tersebut kepada pihak sekolah. Hanya saja untuk penelitian ini, peneliti meminta siswa tingkat sekolah dasar.

Lampiran 01

72

Dengan membawa surat izin penelitian skripsi dari Fakultas beserta proposal skripsi, pihak sekolah dalam hal terebut Kepala SLB Nurasih, Bapak Mustam menyetujui peneliti untuk melakukan penelitian skripsi. Dihari itu juga, peneliti langsung diberikan data-data terkait profil lengkap sekolah. Untuk selanjutnya kemudian peneliti diberikan nomor telepon guru yang mengajar agar komunikasi selanjutnya melalui guru tersebut.

Mengenai kebutuhan apa saja yang dibutuhkan peneliti, bisa menghubungi nomor telepon guru tersebut dalam hal ini Bapak Suratno.

73

HASIL OBSERVASI LAPANGAN II Hari/Tanggal : Kamis, 30 Juli 2020

Topik Observasi : Mewawancarai Kepala SLB Nurasih Tempat Penelitian : Sekolah Luar Biasa Nurasih Jakarta Selatan

PeneIitian kali ini bermaksud mewawancarai Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Nurasih. Tiga hari sebelumnya, peneliti menghubungi Bapak Mustam untuk mengkonfirmasi apakah bersedia untuk diwawancarai. Namun jawaban beliau adalah bahwa Kepala Sekolah SLB Nurasih saat ini sudah dipegang oleh Bapak Suratno, karena Bapak Mustam sudah pensiun. Setelahnya, peneliti mengatur ulang kembali jadwal untuk bisa bertemu dengan Bapak Suratno di sekolah.

Jadwal wawancara kali ini jatuh pada hari Kamis, 30 Juli 2020. Saat itu sekitar pukul 09.00 WIB peneliti sampai di sekolah.

Tidak lama, Bapak Ratno kemudian datang. Keadaan sekolah sangat sepi, memang hal ini terjadi karena pandemi covid-19 yang mengharuskan sekolah dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh. Hanya ada Bapak Ratno dan satu guru yang sedang melaksanakan piket harian. Perlu dicatat bahwa, piket untuk guru tetap dilaksanakan setiap harinya dengan dijaga oleh dua orang guru. Walau begitu, protokol kesehatan tetap diberlakukan dengan memakai masker dan jaga jarak ketika mengobrol tatap muka.

74

Wawancara dilakukan kurang lebih 20 menit. Mengenai pertanyaan yang ditanyakan terlampir dibagian transkip wawancara. Secara umum, yang ditanyakan mengenai perkembangan tentang SLB Nurasih, bagaimana metode-metode pembelajaran yang diterapkan, komunikasi yang dipakai untuk siswa dengan tunarungu dan hambatan yang paling sulit ketika berkomunikasi dengan siswa tunarungu.

Dihari yang sama pula, peneliti meminta izin kepada Bapak Ratno untuk bertemu dengan guru pengajar yang nantinya diarahkan lebih mendalam lagi terkait penelitian. Secara kebetulan, Ibu Erna datang ke sekolah dan Bapak Ratno mempersilakan peneliti untuk berbicara dengan Ibu Erna terkait maksud dan tujuan. Peneliti langsung menjelaskan hal-hal secara detail dan dipersilakan melakukan observasi terhadap siswa-siswa yang diajar langsung oleh Ibu Erna.

75

HASIL OBSERVASI LAPANGAN III Hari/Tanggal : Selasa, 4 Agustus 2020

Topik Observasi : Mengamati kegiatan belajar mengajar secara tatap muka ke-1 serta wawancara dengan Ibu Erna

Tempat Penelitian : Sekolah Luar Biasa Nurasih Jakarta Selatan

Pada awalnya, peneliti mengira bahwa hari itu hanya mengamati proses kegiatan belajar mengajar secara daring melalui video call whatsapp. Namun, Ibu Erna mendatangkan langsung anak muridnya yaitu Kharis Julianto (4) dan Nadya Salma Salsabila (5) ke sekolah untuk belajar di kelas.

Peneliti langsung mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran. Proses pembelajaran kali ini dimulai mukul 09.00-10.00 WIB. Kharis dan Nadya diberitahu untuk belajar di sekolah selain karena untuk penelitian skripsi, juga agar siswa memiliki semangat ketika belajar langsung dengan guru dan temannya. Karena masih dalam kondisi seperti ini, maka siswa yang dihadirkan juga dibatasi. Mengenai seragam, Ibu Erna membebaskan siswa untuk memakai baju bebas asal sopan karena memang mereka tidak wajib datang ke sekolah.

Ibu Erna memiliki murid didik 11 orang untuk tingkatan Sekolah Dasar (SD) yang dimana anak didiknya tersebut terbagi dalam beberapa kelas. Tetapi, dalam kesehariannya mengajar,

76

beliau menggabungkan mereka dalam satu kelas secara bersamaan.

Untuk penelitian pada hari tersebut Kharis dan Nadya digabung karena jarak kelas mereka yaitu kelas IV dan V.

Untuk pertama kalinya peneliti berada langsung di dalam kelas mengikuti proses pembelajaran bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini merupakan salah satu pengalaman pertama bagi peneliti. Keadaan di kelas hanya diisi dua anak saja, namun mereka berbicara sangat ramai sekali. Keduanya sangat aktif dalam berbicara kadang membuat Ibu Erna kesulitan dalam mengontrol agar siswa tetap fokus terhadap materi.

Saat masuk kelas, guru mengucapkan salam, diikuti dengan membaca do’a Surat Al-Fatihah. Selanjutnya guru menanyakan nama hari ini, bulan, dan tahun yang diarahkan anak melihat kalender yang terpasang disudut kelas. Barulah diisi materi seperti membaca, menulis dan berhitung.

HASIL OBSERVASI LAPANGAN IV

77

Hari/Tanggal : Selasa, 11 Agustus 2020

Topik Observasi : Mengamati Kegiatan Belajar Mengajar tatap muka ke-3

Tempat Penelitian : Sekolah Luar Biasa Nurasih Jakarta Selatan

Hari terakhir peneliti melakukan observasi ke sekolah dengan mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung.

Siswa yang hadir hari ini adalah Risma dan Irfan. Masing-masing berasal dari kelas IV.

Kegiatan rutin awal adalah berdo’a dan membaca Surat Al-Fatihah. Anak-anak secara bersama mengeja dan berbicara pelan-pelan dibantu Ibu Erna menunjukan dengan Bahasa Isyarat.

Materi pelajaran hari ini sudah semakin meningkat, yaitu materi perkalian matematika bersusun ke bawah sampai dua angka. Ibu Erna mengajarkan tata cara berhitung secara satu-satu.

Bagian mana yang dikali, dihitung, dan dijumlah. Karena siswa sudah kelas besar, mereka mudah memahaminya. Siswa tidak ada kendala.

Lampiran 02

78

Transkrip Wawancara Penelitian Penulis : Sifqa Amalia Ramadhanti Narasumber : Suratno, M.Pd

Jabatan : Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Nurasih

Hari/ Tanggal : Kamis, 30 Juli 2020 Waktu Wawancara : 09.00 WIB

Tipe Wawancara : Wawancara Tatap Muka

Penulis : Bagaimana sejarah singkat terbentuknya SLB Nurasih Jakarta Selatan?

Informan : Awal terbentuknya SLB Nurasih ini berasal dari Yayasan Nurasih Wijaya Saputra yang dipimpin oleh Almh. Ibu Safarani Sahid yang awalnya ada di Ciputat tahun 1980. Kemudian beliau merintis SLB dari Kampung Utan, Ciputat. Karena keadaan wilayah dahulu Kampung Utan masih diakui Jawa Barat dan harus pindah ke DKI Jakarta akhirnya membangun kembali sekolah yang ada di DKI dengan nama yang sama.

Penulis : Perbedaan SLB Nurasih yang di Kampung Utan dengan yang disini itu apa ya?

Informan : Untuk yayasannya sama, tetapi manajemennya sudah masing-masing. Dari SDLB, SMPLB, dan

79

SMALB. Tunarungu maupun tunagrahita semua sama.

Penulis : Kurikulum yang digunakan pada Sekolah Luar Biasa yaitu kurikulum apa?

Informan : Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2013. Ketika pemerintah menerapkan, disini saya coba terapkan. Kebetulan saya ikut menyusun kurikulum di Dinas Pusat. Yang membedakan K13 dengan KTSP 2006 sebelumnya adalah, pada saat KTSP masih menggunakan SKKD (Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar) sedangkan untuk K13 yang digunakan adalah KIKD (Kompetensi Inti Kompetensi Dasar). Untuk pembelajaran yang paling menonjol perbedaannya ada pada Tematik.

K13 kebanyakan diisi oleh Tematik. Tematik adalah pembelajaran yang menggabungkan antara matematika, Bahasa, dan PKN yang diharapkan siswa mampu mengerti secara penggabungan materi pelajaran tersebut.

Penulis : Komunikasi seperti apa yang diterapkan guru pada siswa Tunarungu?

Informan : Kita memakai Bahasa oral atau Bahasa isyarat.

Selain itu kita menggunakan Bahasa SIBI. Bahasa ini mudah dimengerti karena siswa sudah terbiasa sejak kecil.

80

Penulis : Siswa dalam belajar ini pasti membutuhkan media atau alat langsung agar lebih mengerti lagi. Yang digunakan medianya berupa apa saja?

Informan : Pembelajaran diusahakan dengan menggunakan media gambar atau benda. Anak tunarungu sangat sulit untuk menggambarkan bentuk- bentuk abstrak, contohnya untuk yang kelas besar, saat mata pelajaran IPA kita menerangkan tentang ikan itu sebaiknya ada bendanya, anak bisa melihat bisa mengeksplorasi benda itu. Sedangkan mata pelajaran IPS menggunakan peta/globe agar anak bisa melihat benda itu. Kalau kita menerangkan biasa tanpa ada gambar atau benda itu sulit dibayangan anak tunarangu, jadi lebih bagus ada media.

Penulis : Manfaat dari sekolah ini kan agar anak bisa berbaur dengan masyarakat sekitar. Kalau melihat anak tunarungu ini pasti ada saja yang memandang sebelah mata. Menurut bapak seperti apa ya?

Informan : Anak saya sama memiliki keterbatasan tunarungu juga. Sekarang sudah SMA. Sebagai orang tua, melihat pandangan tetangga ketika anak saya memiliki kekurangan memang bikin nyeri sendiri.

Tidak secara langsung, tetapi di belakang itu sering

81

adanya omongan yang kurang enak. Kalau di kegiatan luar, lomba 17an itu juga suka disisihkan.

Cuma saya beri arahan lagi, kalau dia adalah anak spesial. Bisa bergaul dengan siapapun

Penulis : Hubungan Bapak sebagai Kepala Sekolah dengan Guru-guru dan juga Orang Tua siswa bagaimana ya?

Informan : Yang pertama hubungan dengan guru kita selalu adakan komunikasi rutin setiap bulan melalui evaluasi dan rapat. Barangkali ada guru yang punya kelebihan dan kekurangan kita bahas.

Semisal ada guru yang mengajar disatu kelas dan ada hambatan, kita pecahkan bersama-sama.

Kemudian untuk orang tua, ini kaitannya dengan komite, untuk pertemuannya setiap triwulan setelah Ujian Tengah Semester. Biasanya kita adakan sharing secara tatap muka apakah ada kendala, atau saran kita bahas bersama. Cuma saat kondisi pandemi seperti ini, kita bahas segala sesuatunya melalu Whatsapp Group.

Penulis : Saat kondisi pandemi covid-19 yang mengharuskan pembelajaran di rumah seperti sekarang ini, metode yang dilakukan seperti apa?

82

Informan : Anjuran dari Dinas untuk kondisi seperti ini adalah pembelajaran melalui daring, yang dimana semi offline. Tidak ada target kurikulum yang harus dicapai karena anak-anak bisa tertekan. Dinas menyarankan juga memberikan materi yang bermakna dan menyenangkan dengan menjaga keselamatan guru maupun siswa.

Pembelajaran online wajib didampingi orang tua.

Dimulai seperti ini pada pukul 08.00 – 12.00.

Seperti biasa dilakukan di sekolah, ada absen dipagi hari dengan siswa sudah rapih menggunakan seragam, lalu kita video call dan tetap kita pantau. Untuk target pengumpulan tugas juga kita longgarkan, karena kondisi yang memang serba terbatas. Pada intinya, pembelajaran dibuat bermakna dan menyenangkan. Karena kita disini juga memaklumi ya, setiap keadaan orang tua siswa berbeda-beda. Ada yang kesulitan kuota internet, atau handphone yang dipakai tidak mendukung pembacaan dokumen tugas, maupun bergantian handphone dengan kakaknya. Tapi itu semua tidak menjadi masalah. Karena saya menghargai yang memang punya usaha atau tekad yang kuat. Dari sekolahpun turut membantu dalam pembelian paket data bagi siswa yang benar-benar membutuhkan.

83

Penulis : Untuk penilaian terhadap siswa apakah berubah?

Informan :Penilaian tetap sama. Karena setiap pembelajaran diakhir itu ada tugas-tugas. Nanti tugas masing-masing guru yang memberikan penilaian tersebut.

Pada prinsipnya anak tunarungu ini kan menggunakan Bahasa isyarat dalam berkomunikasi. Jadi yang memang sering digunakan adalah Video Call Group melalui Whatsapp untuk penyampaian pesan yang bisa diterima langsung. Anak-anak kita sapapun sebetulnya sudah senang. Bisa berinteraksi juga dengan teman-temannya maupun gurunya. Bahkan 30 menit saja dirasa kurang, karena rame dan antusiasnya mereka.

Penulis : Hambatan dalam berkomunikasi dengan siswa ketika di Kelas sebelum dan sesudah pandemoi itu apa?

Informan :Sebelum pandemi kesulitannya adalah mengkondisikan siswa itu sulit dan perlu waktu apalagi siswa kelas kecil yang masih perlu bimbingan lebih. Kalau kelas besar, mereka sudah dengan sendirinya mampu mengatur keadaannya sendiri. Semisal untuk yang kelas kecil dari rumah udah ngambek gak mood duluan, sampai ke sekolah

84

kebawa tidak mau masuk kelas dan lain-lainnya.

Iitulah yang menjadi tugas guru bagaimana mampu membujuk, merayu agar bisa stabil kembali. Kadang-kadang juga kalua lewat dari pengawasan, siswa tiba-tiba main pukul ke temannya dengan emosi yang tidak stabil itu perlu ditenangkan dulu oleh gurunya. Karena pembelajaran di Sekolah Luar Biasa ini pada prinsipnya adalah untuk sosialisasi dirinya, saling toleransi, hidup rukun, dan tolong menolong yang selalu diterapkan dalam kehidupan anak nantinya.

Hal tersebut kita arahkan kepada kegiatan motorik agar siswa mampu mengontrol emosinya seperti bernyanyi, menari dan aktifitas-aktifitas yang merangsang motorik agar gerakan-gerakan yang keluar secara spontan mampu dikendalikan.

Alhamdulillah, setiap pagi kami selalu mengadakan senam setiap harinya. Tujuannya adalah energinya dikeluarkan dahulu.

Peneliti : Pada saat pandemic, hambatan komunikasi guru ke siswa itu apa?

Informan : Anak sulit bangun pagi, terlambat untuk absen mereka mengira sekolah lbur, hanya di rumah aja.

Anak-anak juga sudah kangen. Kangen sekolah, kangen teman-temannya, dan kangen gurunya.

85

Cuma bisa aoa yah, belum ada himbauan dari pemerintah kita hanya bisa menunggu sampai kapan pembelajaran ini kembali normal.

Transkrip Wawancara Penelitian

Penulis : Sifqa Amalia Ramadhanti

86

Narasumber : Elizabeth Erna Susilowati, S.Pd

Jabatan : Guru kelas I-VI Sekolah Luar Biasa (SLB) Nurasih

Hari/ Tanggal : Selasa, 4 Agustus 2020 Waktu Wawancara : 11.00 WIB

Tipe Wawancara : Wawancara Tatap Muka

Peneliti : Komunikasi yang dilakukan guru dengan siswa itu apa ya?

Informan : Komunikasi yang digunakan adalah komunikasi total, dimana ucapan secara verbal harus dikeluarkan diikuti dengan komunikasi nonverbal yaitu Bahasa tubuh. Kalau Bahasa Isyarat sendiri menggunakan SIBI yang terpasang di dinding kelas.

Peneliti : Di kelas tadi saya mengamati, Ibu membantu si anak untuk pengucapan dengan cara anak memegang leher ibu dan ketika suara dikeluarkan, tangan anak menempel di mulut Ibu. Tujuan dari hal tersebut untuk apa?

Informan : Agar cara pembacaannya mereka tau. Anak tunarungu itu dipita suaranya tidak memiliki getaran jadi untuk mengeluarkan suara itu malas.

Mereka kebanyakan maunya menggunakan Bahasa isyarat. Makanya saya berusaha mengeluarkan

87

suara kalau memang masih ada sisa pendengaran, meskipun anak tidak bisa berbicara dengan jelas.

Karena ketika anak tunarungu berbicara, dilehernya itu sakit. Itu yang membuat dia malas.

Diajarkan sedini mungkin karena anak tunarungu memiliki keterbatasan Bahasa, kata benda. Tidak tahu kalau tidak kita kasih tau. Harus banyak diajarkan perbendaharaan kata. Semisal ini

“meja”, “kursi”. Meja itu untuk menulis, kursi itu untuk duduk. Setelah itu kita baca “me…ja” kalau sudah bisa diucapkan baru nanti mengenal tulisan.

Paling tidak anak mampu mengenal huruf melalui Sibi (Bahasa isyarat Indonesia). Satu-satu dan secara perlahan sampai dimana anak tau dengan benar.

Peneliti : Tunarungu bisa terjadi bukan karena dari lahirkah?

Informan : Betul. Bisa juga terjadi karena kecelakaan saat usia sudah sampai berapa, atau ada juga karena sakit, ada yang memang bawaannya dari bayi yang biasanya tunarungu total tidak ada sisa pendengaran sama sekali. Macam-macam sih, tergantung tingkat dBnya berapa, karena itu ada klasifikasinya.

88

Penulis : Fungsi dari alat bantu sendiri yang dipasang pada telinga anak itu untuk apa?

Informan : Alat itu berfungsi paling tidak anak merasakan getaran dan lebih peka. Misalnya ada suara kursi jatuh, dia akan kaget, langsung merespon. Sangat membantu jika alat bantu dengar dipasang.

Biasanya pada saat sekolah anak memakai alat bantu pendegaran. Cuma ini tidak tahu ya, mungkin orang tuanya lupa tidak dipakai.

Penulis : Apakah siswa di dalam kelas juga aktif berkomunikasi?

Informan : Selain komunikasi dengan saya, siswa juga melakukan komunikasi dengan temannya. Bisa sifatnya hanya sekedar obrolan biasa, atau mengenai materi yang dibahas. Cuma ya gitu, anak tunarungu ini kalau sudah berkomunikasi, pasti sibuk dan ramai sendiri.

Penulis : Faktor pendukung dalam proses komunikasi dengan anak tunarungu apa saja ya?

Informan : Faktor pendukung yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu alat peraga, bahan ajar, dan media. Alat peraga bisa berupa computer atau laptop. Untuk bahan ajar, berupa buku, modul, maupun lembar kerja siswa (LKS) yang sesuai

89

kompetensi dimiliki tiap tingkatan kelas.

Sedangkan media pembelajaran berupa poster seperti didinding-dinding kelas yang membantu anak memahami materi yang akan disampaikan.

Menambah perbendaharaan kata dan benda.

Bersifat visual karena bisa dilihat langsung oleh siswa.

Penulis : Hal utama yang menjadi dasar anak mau berkomunikasi dengan Ibu itu apa?

Informan : Poin penting adalah kedekatan. Ketika anak merasa nyaman berkomunikasi dengan lawan bicara, anak mampu dengan leluasa mengekpresikan dirinya dan memberikan umpan lawan dalam komunikasi. Disatu sisi, saya sebagai ibu gurunya yang memang harus anak hormati

Informan : Poin penting adalah kedekatan. Ketika anak merasa nyaman berkomunikasi dengan lawan bicara, anak mampu dengan leluasa mengekpresikan dirinya dan memberikan umpan lawan dalam komunikasi. Disatu sisi, saya sebagai ibu gurunya yang memang harus anak hormati

Dokumen terkait