BAB II PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.2 Konsep PKBL
Menurut UU No. 19 tahun 2003 tentang BUMN pasal 88, BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN (Ayat 1) dan ketentuan lebih lanjut mengenai penyisihan dan penggunaan laba tersebut diatur dengan
Keputusan Menteri (Ayat 2).8 Lalu, Keputusan Menteri BUMN No. Kep-
236/MBU/2003 yang dikeluarkan sebagai tindak lanjut dari UU no. 19 tahun 2003
8
DPR RI, 2003, Undang-undang RI No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara,
menyebutkan pada Pasal 1 bahwa yang dimaksud dengan Program Kemitraan BUMN Dengan Usaha Kecil yang selanjutnya disebut Program Kemitraan adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN (Ayat 3) dan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN di wilayah usaha BUMN tersebut melalui pemanfaatan dana dari bagian
laba BUMN (Ayat 4).9 Keputusan Menteri tersebut diperkuat kembali dengan
Peraturan Menteri tentang BUMN no. 5 tahun 2007.
Rincian panduan pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
dipaparkan pada Peraturan Menteri tentang BUMN no. 5 tahun 2007.10 Khusus
untuk Program Bina Lingkungan, Pasal 9 ayat 2 Peraturan Menteri ini menyatakan bahwa dana untuk Program Bina Lingkungan bersumber dari penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2 persen serta hasil bunga deposito dan/atau jasa giro dari dana Program Bina Lingkungan. Pada ayat 3 pasal 9 ini disebutkan bahwa untuk Perum, besarnya dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang berasal dari penyisihan laba setelah pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri sedangkan untuk Persero, besaran dana tersebut ditetapkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Namun, dalam kondisi tertentu, besarnya dana Program Kemitraan dan dana Program Bina Lingkungan yang berasal dari penyisihan laba setelah pajak dapat ditetapkan lain dengan persetujuan Menteri atau RUPS (ayat 4). Dana dari laba dikurangi pajak yang telah ditetapkan tersebut diberikan selambat-lambatnya 45 hari setelah penetapan (ayat 5). Lalu, pembukuan dana Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan ini dilaksanakan secara terpisah dari pembukuan BUMN Pembina (ayat 6).
Pada pasal 11ayat 2 Peraturan Menteri tentang BUMN no. 5 tahun 2007, disebutkan bahwa:
9
Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Negara, 2003, Keputusan Menteri BUMN NO. KEP-236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, http://202.51.31.250/id/files/peraturan/Kepmen/KEPMEN_236%20Thn%202003%20program %20kemitraan%20BUMN%20dengan%20usaha%20kecil%20dan%20program%20bina%20lingkungan.pdf,
diakses pada 6 Mei 2010, halaman 2.
a. Dana Program BL yang tersedia setiap tahun terdiri dari saldo kas awal tahun, penerimaan dari alokasi laba yang terealisir, pendapatan bunga jasa giro dan/atau deposito yang terealisir serta pendapatan lainnya.
b. Setiap tahun berjalan sebesar 70 puluh persen dari jumlah dana Program BL
yang tersedia dapat disalurkan melalui Program BL BUMN Pembina.
c. Setiap tahun berjalan sebesar 30 persen dari jumlah dana Program BL yang
tersedia diperuntukkan bagi Program BL BUMN Peduli.
d. Apabila pada akhir tahun terdapat sisa kas dana Program BL BUMN Pembina
dan BUMN Peduli, maka sisa kas tersebut menjadi saldo kas awal tahun dana Program BL tahun berikutnya.
e. Ruang lingkup bantuan Program BL BUMN Pembina :
1) Bantuan korban bencana alam;
2) Bantuan pendidikan dan/atau pelatihan;
3) Bantuan peningkatan kesehatan;
4) Bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana umum;
5) Bantuan sarana ibadah;
6) Bantuan pelestarian alam;
f. Ruang lingkup bantuan Program BL BUMN Peduli ditetapkan oleh Menteri.
2.1.3 Konsep Persepsi
Menurut Ruslan (2006), persepsi adalah suatu proses memberikan makna yang berakar dari berbagai faktor , yakni:
1. latar belakang budaya, kebiasaan dan adat-istiadat yang dianut seseorang atau
masyarakat;
2. pengalaman masa lalu seseorang/kelompok tertentu menjadi landasan atas pendapat atau pandangannya;
3. nilai-nilai yang dianut (moral, etika dan keagamaan yang dianut atau nilai-nilai yang berlaku di masyarakat); dan
4. berita-berita dan pendapat yang berkembang yang kemudian mempunyai pengaruh terhadap pandangan seseorang. Bisa diartikan bahwa berita-berita yang dipublikasikan dapat menjadi pembentuk opini masyarakat.
Menurut Pareek (1996) dalam Sobur (2003), “persepsi adalah proses
memberikan reaksi kepada rangsangan panca indera atau data”. Persepsi dalam
perspektif ilmu komunikasi dapat disebut sebagai inti komunikasi, sedangkan
interpretasi sebagai inti persepsi yang identik dengan decoding dalam proses
komunikasi (Sobur, 2003). Menurut Wenburg dan Wilmot ([tidak bertahun])
dalam Mulyana (2000) dalam Sobur (2003), “persepsi dapat didefinisikan sebagai
cara organisme memberi makna”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah
suatu proses memberikan makna, pandangan atau penafsiran terhadap suatu pesan atau informasi berdasarkan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan- hubungan yang diperoleh sebelumnya mengenai pesan tersebut.
2.1.4 Konsep Pemberdayaan
Upaya pemberdayaan (empowerment) menurut Nasdian (2003) merupakan
suatu upaya menumbuhkan peranserta dan kemandirian sehingga masyarakat baik di tingkat individu, kelompok, kelembagaan maupun komunitas memiliki kesejahteraan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, memiliki akses pada sumberdaya, memiliki kesadaran kritis serta mampu melakukan pengorganisasian dan kontrol sosial dari segala aktivitas pembangunan yang dilakukan dilingkungannya. Dua elemen pokok pemberdayaan adalah partisipasi dan kemandirian. Pemberdayaan dilakukan agar warga komunitas mampu berpartisipasi untuk mencapai kemandirian.
Menurut Nasdian (2003), “partisipasi adalah proses aktif, inisiatif diambil
oleh warga komunitas sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana
mereka dapat menegaskan kontrol secara efektif”. Titik tolak dari partisipasi
adalah memutuskan, bertindak, kemudian mereka merefleksikan tindakan tersebut sebagai subjek yang sadar. Partisipasi dikategorikan menjadi dua, yaitu:
1. warga komunitas dilibatkan dalam tindakan yang telah dipikirkan atau
dirancang oleh orang lain dan dikontrol oleh orang lain;
2. partisipasi merupakan proses pembentukan kekuatan untuk keluar dari masalah
mereka sendiri.11
11
Fredian Tonny Nasdian, 2006, Pengembangan Masyarakat (Community Development), Bagian Sosiologi Pedesaan dan Pengembangan Masyarakat Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat FEMA IPB, Bogor, halaman 57-59.
Nasdian (2003) lalu memaparkan bahwa “…dengan kemampuan komunitas
berpartisipasi diharapkan komunitas dapat mencapai kemandirian…”.
Kemandirian sendiri dikategorikan menjadi tiga, yaitu:
1. kemandirian material, yaitu kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan
materi dasar serta cadangan dan mekanisme untuk dapat bertahan pada waktu krisis;
2. kemandirian intelektual, yaitu pembentukan dasar pengetahuan otonom oleh
komunitas yang memungkinkan mereka menanggulangi bentuk-bentuk dominasi yang lebih halus yang muncul di luar kontrol terhadap pengetahuan itu;
3. kemandirian manajemen adalah kemampuan otonom untuk membina diri dan
menjalani serta mengelola kegiatan kolektif agar ada perubahan dalam situasi kehidupan mereka.
2.1.5 Konsep Efektivitas
Definisi efektivitas secara umum menurut Hardjana (2000) adalah mengerjakan hal-hal yang benar, membawa hasil, menangani tantangan masa depan, meningkatkan keuntungan atau laba, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Emitai Etzioni (1982) dalam Muhidin (2009) mengemukakan bahwa efektivitas organisasi dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran. Masih dalam Muhidin (2009), Komaruddin (1994) juga mengungkapkan efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Fajar (2010) menyebutkan beberapa indikator pengukuran keberhasilan pelaksanaan tanggung jawab sosial pada beberapa BUMN. Cara pengukuran keberhasilan terhadap pelaksanaan kewajiban tanggung jawab sosial pada PT. TELKOM adalah dengan melakukan monitoring dan dipakai ukuran-ukuran tertentu sebagai tolok ukur keberhasilan program yang dilakukan. Adapun tolok ukur yang dimaksud adalah tujuan dari pelaksanaan program tersebut. Dengan kata lain, bila tujuan program telah tercapai maka program dikatakan berhasil. Sementara itu, PT. Bukit Asam (PTBA) menyebutkan keberhasilan implementasi tanggung jawab sosial mereka menggunakan kriteria dalam standar internasional
Global Reporting Initiative (GRI), yaitu kriteria ekonomi, lingkungan, HAM, praktik ketenagakerjaan, tanggung jawab produksi dan kemasyarakatan. Artinya, semakin terpenuhi kriteria-kriteria tersebut, maka implementasi tanggung jawab sosial mereka semakin berhasil.
2.2 Kerangka Pemikiran
PKBL adalah program yang seringkali dipersepsikan sebagai tanggung jawab sosial dari BUMN. Program Kemitraan adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN dan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN di wilayah usaha BUMN tersebut melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Pendanaan untuk program PKBL berasal dari laba perusahaan pada tahun sebelumnya sebesar 2 persen untuk masing-masing program.
Tanggung jawab sosial perusahaan pada hakikatnya adalah segala upaya manajemen yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar keseimbangan pilar ekonomi, sosial dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif di
setiap pilar (Sukada et al 2007). Seperti yang dipaparkan dalam Committee Draft
ISO 26000 Guidance on Social Responsibility pada tahun 2008, tanggung jawab
sosial perusahaan adalah tanggung jawab perusahaan terhadap dampak dari setiap keputusan dan aktivitas perusahaan pada lingkungan dan masyarakat serta berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan pemangku kepentingan, mematuhi semua regulasi pemerintah yang berlaku dan berusaha melampauinya sejauh mungkin dimana kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan tersebut terintegrasi ke dalam setiap aktivitas perusahaan. Namun, seringkali konsep tanggung jawab sosial perusahaan dipertukarkan dengan
Corporate Citizenship atau Corporate Philanthropy yang sebenarnya berbeda dengan CSR.
Pertamina UPMS II adalah salah satu perusahaan ekstraktif yang telah membedakan fungsi PKBL dan tanggung jawab sosial dalam strukturnya sehingga sumber dana untuk masing-masing program pun berbeda. Namun, meski dibedakan, program tanggung jawab sosial Pertamina UPMS II masih serupa
dengan PKBL sehingga seperti menjalankan dua fungsi PKBL yang memiliki sumber keuangan yang berbeda. Tanggung jawab sosial yang diterapkan oleh Pertamina UPMS II mempunyai dana yang bersumber dari biaya perseroan, sementara PKBL bersumber dari laba perusahaan yang dikurangi pajak. Akan tetapi, fokus tanggung jawab sosialnya serupa dengan PKBL, yaitu pada bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup serta sarana-prasarana dan bencana alam yang serupa dengan fokus pemberdayaan pada Bina Lingkungan.
Menurut Prayogo (2008), pada perusahaan ekstraktif, pemangku kepentingan yang paling rentan mengalami konflik dengan perusahaan adalah komunitas lokal. Sementara itu, PKBL sendiri seringkali dikritik karena hanya menekankan pada pemangku kepentingan eksternal, padahal karyawan yang merupakan pemangku kepentingan internal juga harus diperhatikan. Kemudian, pemerintah lokal juga berperan penting pada pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Pemerintah dan masyarakat sesungguhnya adalah pemangku kepentingan sekunder kritis perusahaan. Apalagi mengingat bahwa pemerintah adalah pembuat kebijakan. Oleh karena itu, dalam mengkaji efektivitas PKBL sebagai tanggung jawab sosial dalam BUMN Pertamina UPMS II, akan
diidentifikasi bagaimana PKBL diimplementasikan dan sejauh mana
implementasi tersebut memenuhi „standar kinerja‟ pedoman Social Responsibility
menurut ISO 26000. Lalu, akan diidentifikasi pula bagaimana persepsi dari pemangku kepentingan Pertamina UPMS II yang difokuskan pada karyawan perusahaan serta masyarakat dan pemerintah di Kecamatan Seberang Ulu II mengenai tanggung jawab sosial perusahaan, apakah persepsi tersebut berupa
Corporate Citizenship, Corporate Philantrophy, atau Corporate Social Responsibility. Setelah itu, peneliti akan mengidentifikasi bagaimana hubungan antara persepsi dari ketiga pemangku kepentingan ini dan efektivitas PKBL tersebut dengan mengkaji sejauh mana tujuan tanggung jawab sosial perusahaan tersebut tercapai. Terakhir, penulis akan mendeskripsikan seperti apa kajian efektivitas implementasi PKBL Pertamina UPMS II baik menurut ISO 26000 maupun menurut keberhasilan pencapaian tujuan dari program tanggung jawab sosial berdasar persepsi ketiga pemangku kepentingan untuk kemudian ditarik kesimpulan, sejauh mana efektivitas implementasi PKBL sebagai tanggung jawab
sosial Pertamina UPMS II di Kecamatan Seberang Ulu II, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.
Gambar 2. Kerangka Pemikiran Keterangan: 1. = Hubungan 2. = Cakupan penelitian kuantitatif 3. = Membandingkan
Implementasi PKBL sebagai Tanggung Jawab Sosial Pertamina UPMS II
Persepsi Pemerintah Setempat Persepsi Karyawan Persepsi Masyarakat Tercapainya tujuan PKBL sebagai tanggung jawab
sosial
Tujuan program tanggung jawab sosial:
membangun & mempertahankan keharmonisan hubungan dengan komunitas lokal di wilayah operasi Pertamina manapun serta bekerja bersama-sama pemerintah untuk memberikan keuntungan sebesar- besarnya untuk masyarakat.
Efektivitas implementasi PKBL Pertamina UPMS II
2.3 Hipotesa Penelitian 2.3.1 Hipotesa Pengarah
1. Diduga terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan diantara ketiga pemangku kepentingan.
2. Diduga terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan diantara pelapisan pada masing-masing jenis responden.
2.3.2 Hipotesa Uji
Diduga ada hubungan nyata antara perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab sosial diantara ketiga pemangku kepentingan terhadap efektivitas implementasi PKBL.
2.4 Definisi Operasional
1. Persepsi responden mengenai tanggung jawab sosial dikategorikan ke dalam:
a. Corporate Citizenship : tidak setuju (skor 6-15),
setuju (skor 16-24);
b. Corporate Philanthropy : tidak setuju (skor 6-15),
setuju (skor 16-24);
c. Corporate Social Responsibility : tidak setuju (skor 6-15),
setuju (skor 16-24);
2. Tingkat keberhasilan PKBL dikategorikan ke dalam:
a. keberhasilan tinggi : skor 21 – 32;
b. keberhasilan rendah : skor 8 – 20.
2.5 Definisi Konseptual
1. Pertamina UPMS II adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara berbentuk
persero yang bergerak di bidang pemasaran hasil tambang minyak bumi. Perusahaan ini terletak di Kecamatan Seberang Ulu II, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.
2. Pemerintah Setempat adalah aparat negara yang bertugas di kantor pemerintah
kecamatan dan tujuh kantor kelurahan di wilayah Seberang Ulu II.
3. Karyawan adalah pegawai tetap di Pertamina UPMS II, bukan pegawai kontrak
dan bukan pegawai instansi yang merupakan mitra Pertamina UPMS II.
4. Masyarakat adalah penduduk yang tinggal di Kecamatan SU II baik yang
5. Persepsi adalah proses memberikan makna, pandangan atau penafsiran terhadap suatu pesan atau informasi berdasarkan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh sebelumnya mengenai pesan tersebut. Bentuk persepsi difokuskan pada tiga bentuk:
a. Corporate Citizenship (kewargaan perusahaan) mengandung pengertian
hak dan kewajiban yang mendudukkan perusahaan pada posisi quasi state
atau setengah negara. Konsep ini memandang perusahaan sebagai warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban. Namun, pada saat yang bersamaan, perusahaan dipandang pula sebagai pihak yang menjamin dipenuhinya hak-hak warga negara yang berada di wilayah jangkauan operasinya.
b. Corporate Philanthropy berkenaan dengan pemberian sukarela dari perusahaan. Filantropi tidak terlalu mempedulikan apakah pemberian itu berkenaan dengan dampak operasi atau tidak.
c. Corporate Social Responsibility adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atas dampak dari setiap keputusan dan aktivitas bisnisnya melalui perilaku etis dan transparan yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, termasuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat; melampaui hukum yang berlaku dan sesuai dengan norma internasional; terintegrasi dalam perusahaan secara keseluruhan serta dilaksanakan di setiap bagian perusahaan (Draft Committee ISO 26000).
6. Efektivitas implementasi PKBL didefinisikan menjadi tingkat keberhasilan
perusahaan, baik dalam mencapai tujuan internal program tanggung jawab sosialnya maupun dalam pemenuhan ketujuh kriteria (isu) dalam panduan pelaksanaan tanggung jawab sosial menurut ISO 26000.
7. Tujuan internal tanggung jawab sosial PT. Pertamina adalah untuk membangun
hubungan yang harmonis dan kondusif dengan semua pemangku kepentingan untuk mendukung pencapaian tujuan korporasi terutama dalam membangun reputasi korporasi. Untuk mencapai tujuan internal ini, PT. Pertamina di seluruh wilayah operasi di Indonesia memberlakukan kriteria tanggung jawab sosial Pertamina, yaitu bermanfaat, berkelanjutan, dekat dengan wilayah
operasi, publikasi dan mendukung PROPER dengan 4 strategic initiatives,
yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan serta infrastruktur dan peduli bencana.
8. Tujuh core subejcts dalam panduan ISO 26000 adalah sebagai berikut:
a. Isu Tata Kelola Organisasi
Sistem pemerintahan dapat bervariasi, tergantung pada jenis dan ukuran organisasi serta konteks ekonomi, politik, budaya dan sosial dimana mereka beroperasi. Meskipun berbagai proses dan struktur pemerintahan memiliki bentuk yang berbeda-beda, baik formal dan informal, semua organisasi membuat dan mengimplementasikan keputusan dalam sebuah sistem organisasi. Sistem organisasi pemerintahan dalam organisasi diarahkan oleh orang atau sekelompok orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk mengejar tujuan organisasi.
b. Isu Hak Asasi Manusia
Sementara negara memiliki kewajiban utama untuk melindungi, mempromosikan dan menegakkan hak asasi manusia, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menghimbau setiap individu dan elemen masyarakat untuk memainkan perannya dalam menjamin kepatuhan terhadap hak-hak yang tercantum dalam Deklarasi. Oleh karena itu, sebuah organisasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga hak asasi manusia dalam operasinya, serta dalam lingkup pengaruh yang lebih luas.
c. Isu Praktik Ketenagakerjaan
Praktik buruh suatu organisasi dapat berdampak besar pada masyarakat dan dengan demikian dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan. Penciptaan lapangan kerja, serta upah dan kompensasi lainnya yang dibayarkan untuk pekerjaan yang dilakukan adalah salah satu dampak ekonomi paling penting dari keberadaan organisasi. Bermakna dan bekerja produktif adalah elemen penting dalam pembangunan manusia.
d. Isu Lingkungan
Isu-isu lingkungan tidak hanya merupakan prasyarat untuk
kelangsungan hidup dan kesejahteraan generasi kita; yang merupakan tanggung jawab yang harus generasi kita harus penuhi sehingga
memungkinkan generasi mendatang untuk menikmati lingkungan global yang berkelanjutan. Sebuah organisasi harus menyadari bahwa tanggung jawab lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab sosial dari setiap organisasi.
e. Isu Praktik Operasi yang Adil
Praktek operasi yang adil akan memperbaiki lingkungan bila organisasi: mendorong persaingan yang sehat, meningkatkan keandalan dan keadilan transaksi komersial, mencegah korupsi dan mempromosikan proses politik yang adil. Organisasi harus menggunakan kekuatan relatif mereka dan posisi dalam hubungan mereka dengan organisasi-organisasi lain untuk mempromosikan hasil positif.
f. Isu Konsumen
Konsumen adalah salah satu pemangku kepentingan organisasi. Operasi dan output suatu organisasi memiliki dampak yang kuat pada mereka yang menggunakan barang atau jasa, terutama ketika mereka adalah konsumen individu. Referensi konsumen di pasar yang kompetitif, serta preferensi dan keputusan mereka memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan sebagian besar organisasi.
g. Isu Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat
Kebutuhan kontribusi bagi pembangunan sosial dan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan memperbaiki kondisi sosial masyarakat miskin secara universal diterima. Kebutuhan kritis untuk menangani masalah- masalah pembangunan sosial dan ekonomi tercermin dalam Deklarasi Milenium PBB.
9. Efektifitas implementasi PKBL dilihat dari sejauh mana program tersebut
dapat memenuhi ketujuh kriteria atau isu dalam panduan pelaksanaan tanggung jawab sosial menurut ISO 26000.