Return merupakan hasi yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasian yang sudah terjadi atau return ekspektasian yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi dimasa mendatang.
Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi. Dihitung dengan menggunakan data historis. Return realisasi penting karna digunakan sebagai salah satu pengukur kunerja dari perusahaan. Return ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko dimasa yang akan datang.
Return ekspektasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor dimasa mendatang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, return ekspektasi sifatnya belum terjadi.16
Perusahaan selalu bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan dan memaksimalkan kekayaan pemegang saham (investor). Karena akan ada hubungan timbal balik yaitu jika perusahaan menghasilkan laba yang besar maka investor akan semakin menyukai untuk menanamkan sahamnya diperusahaan tersebut, dan investor pun akan mendapatkan feedback berupa return saham yang semakin besar.
Return marupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya.17 Investasi saham akan memberikan keuntungan atau return berupa capital again dan deviden (yield). Return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dari suatu periode tertentu. Return total terdiri dari capital again dan yield.18
Return = capital again (loss) + yield (Rumus 2.1)
Atau :
16
Jogiyanto Hartono, Teori Portopolio dan Analisis Investasi ed. ketujuh (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2010)hal. 205
17
Eduardus Tandelilin, Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi (Yogyakarta: Kanisius, 2010, ed.1) hal. 40
18
Jogiyanto Hartono, Teori Portopolio dan Analisis Investasi ed. ketujuh (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2010) hal. 110
Pt– Pt-1 + Dt
Rt = (Rumus 2.2)
Pt-1 Dimana :
Rt = Return saham pada periode t
Pt = Harga saham sekarang (periode t)
Pt-1 = harga saham sebelumnya (periode t-1)
Dt = deviden atau kas pada periode t
Capital again (loss) merupakan selisih dari harga saham investasi
sekarang dengan harga periode sebelumnya, dan yield dianggap tidak
diperhitungkan sehingga return total dapat dinyatakan sebagai berikut: Pt– Pt-1
Rt = (Rumus 2.3)
Pt-1
Sedangkan tingkat pengembalian pasar (rate of market return) adalah JIIt– JIIt-1
Rmt = (Rumus 2.4)
JIIt-1 Dimana:
Rmt = return pasar untuk periode t
JIIt = indeks pasar periode t
D. Risiko
Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan atau deviasi dari outcome yang diterima dengan yang diekspektasikan.19 Risiko diartikan sebagai kemungkinan mengalami kerugian, yang biasanya diukur dalam bentuk kemungkinan bahwa beberapa hasil akan muncul yang bergerak dalam kisaran sangat baik (misalnya asetnya berlipat ganda) ke sangat buruk (misalnya asetnya tidak bernilai sama sekali). Risiko juga dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya kerugian yang akan dialami investor atau ketidakpastian atas return yang akan diterima di masa mendatang.20
Berinvestasi saham di pasar modal maka dihadapkan pada sejumlah risiko, risiko-risiko utama yang harus dipertimbangkan dalam melakukan investasi pada saham diantaranya adalah:21
a. Risiko usaha/bisnis, adalah kemungkinan bahwa proyek-proyek yang dipilih oleh suatu perusahaan tidak akan menguntungkan.
b. Risiko keuangan, yaitu suatu risiko yang mengukur tingkat risiko struktur modal perusahaan.
c. Risiko pasar, adalah perubahan dalam sekuritas sebagai akibat dari
perubahan-perubahan ekonomi yang mempengaruhi pasar secara
keseluruhan.
19
Jogiyanto Hartono, Teori Portopolio dan Analisis Investasi ed. ketujuh (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2010)hal. 227
20
Tatang Ary G, Manajemen Investasi: Konsep Teori dan Aplikasi, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2011), hal. 50.
21
d. Risiko keagenan, adalah risiko yang terkait dengan terjadinya hubungan keagenan di suatu perusahaan.
e. Risiko peraturan, adalah risiko yang terkait dengan kemungkinan bahwa lembaga pemerintah akan merubah atau mengambil kebijakan yang mempengaruhi operasi perusahaan.
f. Risiko inflasi, adalaha risiko sebagai akibat dari adanya kenaikan harga barang-barang ekonomi secara keseluruhan.
g. Risiko suku bunga, merupakan risiko yang disebabkan oleh naik-turunnya suku bunga.
Berkaitan dengan uraian di atas dan mengacu pada teori manajemen keuangan, penyederhanaan risiko-risiko terdiri dari:22
a. Risiko sistematis atau risiko yang tidak dapat didiversifikasikan (undiversivible), disebut pula risiko pasar yang berkaitan dengan perekonomian secara makro, misalnya purchasing power risk, political risk, foreign exchange risk, dan risiko lainnya.
b. Risiko tidak sistematis, disebut juga risiko khusus yang terdapat pada masing-masing perusahaan, seperti risiko kebangkrutan/risiko usaha, risiko manajemen/keagenan dan risiko industri khusus perusahaan. Risiko ini disebut juga dengan unsystematic risk atau risiko yang dapat didiversifikasi.
Oleh karena itu, tidak semua risiko memegang saham adalah relevan, karena bagian dari risiko ini bisa diversifikasi. Risiko terpenting dari saham
22
adalah risiko yang tidak dapat dihindari atau risiko sistematis. Secara konseptual, hal ini diilustrasikan dalam gambar berikut:
Gambar 2.1Bagan Risiko
risiko tidak sistematis risiko total
---
Risiko sitematis
Risiko sistematis diukur dengan koefisien beta, yaitu koefisien yang menunjukkan kepekaan keuntungan suatu saham terhadap perubahan keuntungan saham-saham secara rata-rata di pasar (indeks pasar). Untuk mencari beta suatu saham secara historis kita dapat membuat regresi antara keuntungan historis suatu saham sebagai variabel terikat, dan keuntungan histotis sebagai indeks pasar (misalnya JII) sebagai variabel bebas. Koefisien regresi hasil perhitungan merupakan beta atau risiko sistematis.
Beta sebesar 1 artinya setiap kenaikan atau penurunan pasar (Rm) sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan atau penurunan keuntungan saham (Ri) sebesar 1%. Dengan demikian, semakin besar beta, semakin peka keuntungan saham
terhadap perubahan keuntungan pasar, dan semakin berisiko pula saham tersebut. Saham dengan 1 beta adalah saham yang memiliki risiko sama dengan rata-rata saham di pasar modal. Saham dengan lebih dari 1 disebut saham agresif dan saham dengan beta kurang dari 1 disebut saham defensif.23
Beta merupakan tolak ukur tingkat risiko pasar (tingkat risiko sistematis) dari suatu saham. Secara umum, jika beta satu saham sama dengan 1, maka risikonya secara individual sama besar dengan risiko pasar. Bila beta suatu saham lebih dari 1, maka risiko individualnya lebih besar dibanding risiko pasar dan sebaliknya. Konsep beta merupakan elemen penting dalam mengukur tingkat risiko yang terkandung dalam suatu surat berharga.24
Saham dengan risiko rata-rata didefinisikan sebagai saham yang harganya cendrung turun naik sejalan dengan turun naiknya pasar secara umum, yang diukur dengan indeks tertentu (di Indonesia yaitu JII). Saham seperti itu menurut definisinya, akan mempunyai beta, b, sebesar 1, yang menandakan bahwa jika harga saham naik sebesar 10%, maka harga saham tersebut naik 10%, begitu juga penurunan. Jika β = 0.5, maka naik turunnya harga saham hanya setengah dari risiko portopolio dengan β = 1. Dipihak lain, portopoliodengan β =
23
Lukas Setia Atmaja, Teori dan Praktik Manajemen Keuangan (Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET, 2008) hal. 45
24
2, akan mempunyai tingkat kenaikan dan penurunan serta tingkat risiko dua kali rata-rata.25