• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis regresi yang telah dilakukan bertujuan untuk menginvestigasi hubungan yang dapat diukur dari DER, DPR, EPS, PER, ROA, ROE, dan resiko sistematis terhadap return saham. Tabel 4.5 menunjukkan hasil akhir dari regresi data panel menggunakan metode random effect. Berikut ini merupakan tabel yang merangkum hubungan yang terjadi pada variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.10

Tabel hubungan variabel independen terhadap return saham

Variabel Hubungan yang ditemukan signifikasi

Debt to Equity Ratio (DER) Tidak ada berpengaruh Tidak signifikan

Devidend Payout Ratio (DPR) Ada pengaruh signifikan

Price Earning Ratio (PER) Tidak ada pengaruh Tidak signifikan

Earning Per Share (EPS) Ada pengaruh signifikan

Return On Asset (ROA) Ada pengaruh Tidak signifikan

Return On Equity (ROE) Tidak ada pengaruh Tidak signifikan

Resiko Sistematis Tidak ada pengaruh Tdak signifikan

Sumber: hasil output eviews 7 dan olaha excel

1. Variabel Debt to Equity Ratio (DER)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak memiliki pengaruh antara DER dengan return saham. Sehingga peningkatan atau penurunan DER tidak

berpengaruh terhadap return saham. Hal ini mengidentifikasikan bahwa dalam berinvestasi investor tidak memperhatikan DER sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya. Adanya hasil yang signifikan dapat disebabkan karena sampel perusahaan adalah perusahaan-perusahaan yang menjalankan aktifitas syariah yang mempunyai ketentuan batasan penggunaan hutang dalam struktur modal perusahaan, yaitu total penggunaan hutang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas lebih dari 82. Adanya batasan penggunaan hutang berbasis bunga tersebut membuat investor sudah percaya terhadap perusahaan dalam meminimalisir penggunaan hutang sehingga investor tidak menjadikan DER sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan investasi saham pada kelompok perusahaan yang terdaftar di JII. Hal ini didukung oleh penelitian M. Chaidir (2010) dan M. Suharli (2005) yang menyatakan DER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham.

Berbeda dengan penyataan Brigham dan Houston (2009:13) menyatakan perusahaan-perusahaan yang memiliki rasio utang relatif tinggi akan memiliki ekspektasi pengambilan yang juga lebih tinggi ketika perekonomian sedang berada dalam kondisi normal, namun memiliki resiko kerugian ketika ekonomi mengalami resesi.

2. Variabel Devidend Payout Ratio (DPR)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengaruh yang signifikan antara DPR

dengan return saham. Sehingga dengan meningkatanya DPR akan meningkatkan

tinggi bagi investor yang mengharapkan deviden yang besar. Temuan ini konsisten dengan pernyataan Lintner (1956) dalam Jogianto Hartono (1998) yang menyatakan investor cenderung menyukai perusahaan yang memiliki tingkat DPR yang tinggi karena mampu memberikan tingkat keuntungan yang lebih baik. Hal ini didukung oleh penelitian Yogo Purnomo (1998) yang menyatakan bahwa deviden memiliki pengaruh positif terhadap harga maupun return saham.

3. Variabel Earning Per Share (EPS)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Hal ini bararti bahwa dengan meningkatnya EPS dapat meningkatkan return saham. Darmaji dan fakhruddin (2006) mendefinisikan EPS sebagai rasio yang menunjukkan bagian laba setiap saham. EPS menggambarkan ptofitabilitas perusahaan yang tergambar pada setiap lembar saham. Semakin tinggi nilai EPS tentu saja semakin besar laba dan kemungkinan peningkatan jumlah deviden yang diterima oleh investor. Hal ini akan menarik investor sehingga banyak membeli saham perusahaan tersebut yang akan berpengaruh terhadap meningkatnya harga saham dan return saham akan meningkat pula. Penelitian ini mendukung penelitian Sri atikah (2007) yang menyatakan EPS berpengaruh terhadap return saham.

4. Variabel Price Earning Ratio (PER)

Hasil dari penelitian menunjukkan PER tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham. PER merupakan rasio dimana pasar menghargai kinerja saham perusahaan yang mencerminkan oleh laba bersihnya. Angka rasio ini

digunakan oleh para investor untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Tetapi perlu diingat rasio ini berbeda untuk jenis industri yang berbada pula. Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Budi lekmana dan Gunawan (2003),

dalam penelitian tersebut membuktikan bahwa para investor tidak

mempertimbangkan indikator PER dalam pemilihan saham untuk memetik keuntungan dari capital gain seiring dengan pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang.

5. Variabel Return On Asset (ROA)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROA memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham. Dengan meningkatnya ROA maka dapat meningkatkan return saham. ROA adalah salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk megukur kemampuan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. ROA mengukur efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber dana. Semakin tinggi ROA akan semakin efektifnya perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak.

Kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva untuk menghasilkan keuntungan mempunyai daya tarik dan mampu mempengaruhi investor untuk membeli saham perusahaan tersebut. Peingkatan ROA akan menambah daya tarik investor untuk membeli saham perusahaan tersebut. Sehingga harga saham meningkat, dengan kata lain ROA akan berdampak positif terhadap return saham.

Penelitian ini didukung oleh Hardiningsih, dkk (2002), Martono (2009), Rasmin (2009), dan Ansor (2010). Hasil pembuktian ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan kondisi ROA yang baik atau meningkat mempunyai potensi terhadap daya tarik perusahaan oleh investor.

6. Variabel Return On Equity (ROE)

Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh dan adanya hubungan negatif antara ROE dan return saham. Hubungan negatif dapat dilihat dari nilai koefisien ROE yang negatif. Tidak pengaruh dalam penelitian ini mungkin disebabkan oleh investor yang tidak begitu memperhatikan ROE dalam pengambilan keputusan membeli atau menjual saham. Sehingga ROE tidak mempengaruhi return saham. Penelitian ini didukung oleh Hardjito dan Aryayoga (2009) yang menyatakan bahwa ROE tidak terbukti berpengaruh terhadap return saham.

7. Variabel Resiko Sistematis

Hasil penelitian menunjukkan tidak memiliki pengaruh antara resiko sistematis dengan return saham. Hal ini menunjukkan bahwa para investor menganggap resiko sistematis tidak cukup normatif sebagai alat ukur resiko investasi. Dalam berinvestasi, investor tidak memperhatikan nilai risiko (beta) karena nilai resiko sistematis saham perusahaan yang terdaftar di JII membuat investor tidak menghiraukan informasi tersebut. Dalam memilih saham, investor cendrung memilih perusahaan yang bagus dari pada saham yang bagus. Jadi untuk berinvestasi investor cendrung melihat kepada jenis, tipe dan keberhasilan

perusahaan dari segi intern dari pada ekstern (resiko). Tidak berpengaruhnya resiko sistematis saham terhadap return saham dapat juga disebabkan oleh factor psikologis investor yang ingin selalu memperoleh return semaksimal mungkin. Teori tetang high risk high return juga tidak selamanya sesuai dengan investor karena terkadang tidak semua investor menyukai tantangan. Investor cendrung bersifat risk averse (menghindari resiko) ketika resiko suatu perusahaan terlalu tinggi. Dengan sifat ingin menghindari resiko itulah, dapat berakibat pada kurangnya minat investor terhadap saham di suatu perusahaan sehingga harga saham turun dan berdampak pada rendahnya return yang akan diterima. Hasil penelitian ini di dukung oleh Lalu Anton (2009) yang mengemukakan bahwa resiko sitematis (beta) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.

F. Rekomendasi

Dari hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka pennulis

merenkomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Untuk para investor dapat mengambil keputusan dengan hati-hati karena pengaruh faktor fundamental berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di JII, pilihlah dengan cermat faktor-faktor fundamental yang bias merubah return saham tersebut.

2. Untuk emiten agar selalu mempertimbangkan faktor-faktor fundamental lainnya dalam menjalankan perusahaan, karena bukan dari faktor internal saja

investor melihat perusahaan tetapi dari faktor ekstelnal pun investor dapat memutuskan investasi dananya atau tidak.

3. Bagi peneliti selanjutnya jika memungkinkan dapat menambah variabel rasio keuangan lainnya, maupun dari variabel makro ekonomi. Hal ini dikarenakan masih banyak faktor rasio lainnya yang dapat digunakan untuk memprediksi return saham.

70

A. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan yang dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Hasil faktor-faktor fundamental terhadap return saham secara parsial adalah :

a. Variabel DER (X1) diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,330406. Karena t-hitung (0,330406) < t-tabel (1,68023) maka Ho diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan DER tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham (Y).

b. Variabel DPR (X2) diperoleh nilai t-hitung sebesar 2,849388. Karena t-hitung (2,849388) > t-tabel (1,68023) maka Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan secara parsial DPR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham (Y). c. Variabel EPS (X3) diperoleh nilai t-hitung sebesar 2,736898. Karena t-hitung

(2,736898) > t-tabel (1,68023) maka Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan secara parsial EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham (Y). d. Variabel PER (X3) diperoleh nilai t-hitung sebesar -1,237716. Karena t-hitung

(-1,237716) < t-tabel (1,68023) maka Ho diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan secara parsial PER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham (Y).

e. Variabel ROA (X5) diperoleh nilai t-hitung sebesar 2,041653. Karena t-hitung (2,041653) > t-tabel (1,68023) maka Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan

f. Variabel ROE (X6) diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,043284. Karena t-hitung (0,043284) < t-tabel (1,68023) maka Ho diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan secara parsial ROE tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham (Y).

g. Pada hipotesis ketujuh Resiko sistematis (X7) diperoleh nilai thitung sebesar -0,997919. Karena t-hitung (-0,997919) < t-tabel (1,68023) maka Ho diterima. Oleh karena itu dapat disimpulkan secara parsial resiko sistematis tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham (Y).

2. Hasil uji simultan (Uji F) yang dilakukan menunjukkan bahwa semua variabel bebas yang terdiri dari DER, DPR, PER, EPS, ROA, ROE, dan resiko sistematis berpengaruh signifikan terhadap return saham pada taraf α = 5%.

B. SARAN

Berikut ini adalah beberapa saran dari penulis bagi para peneliti yang ingin melanjutkan penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini :

1. Penelitian ini dapat dikembangkan dengan menggunakan faktor-faktor fundamental lainya seperti rasio likuiditas dan faktor makro ekonomi seperti inflasi, nilai tukar (kurs), suku bunga, jumlah uang beredar dan lain sebagainya sebagai predikaotr terhadapa return saham.

memprediksi return saham dan supaya didapat sample yang lebih banyak sehingga dapat lebih baik untuk memprediksi return saham.

3. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambahkan jumlah perusahaan yang terdaftar di BEI lainya dan tidak hanya perusahaan yang terdaftar di JII saja. Karena semakin banyaka sampel dari populasi yang diambil akan meningkatkan kualitas penelitian beserta hasilnya.

Dokumen terkait