Fasilitas kesehatan dan Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Peran Evaluasi Pasca Huni dalam Proses Desain
Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Langkah-langkah Peringkatan Performansi
A R S IT E K T U R R U M A H S A K IT 25
Kegunaan evaluasi pasca huni terbagi dalam 3 jangka waktu:
1. Kegunaan jangka pendek. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: identifikasi masalah dan solusi dalam manajemen fasilitas, manajemen fasilitas yang proaktif terhadap aspirasi pengguna, peningkatan pemanfaatan ruang dan umpanbalik terhadap kinerja bangunan, peningkatan sikap pengguna melalui keterlibatan dalam proses evaluasi, pemahaman implikasi kinerja dalam kaitannya dengan ketersediaan anggaran, serta proses pengambilan keputusan yang lebih rasional dan objektif
2. Kegunaan jangka menengah. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kemampuan pengembangan fasilitas sesuai dengan pertumbuhan organisasi, penghematan biaya dalam proses pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan serta peningkatan usia bangunan, akuntabilitas kinerja bangunan oleh semua pengguna.
3. Kegunaan jangka panjang. Meliputi peningkatan dalam hal-hal berikut: kinerja fasilitas dalam jangka panjang, perbaikan basis data, standar, dan kriteria untuk perancangan fasilitas, serta perbaikan sistem penilaian fasilitas melalui kuantifikasi
Jenis kegiatan dalam evaluasi pasca huni akan tergantung pada interaksi antar komponen dalam proses evalusi pasca huni:
1. Kriteria kinerja a. Teknikal b. Fungsional c. Behavioral 2. Pengguna a. Individu b. Kelompok c. Organisasi 3. Setting a. Ruang b. Bangunan c. Fasilitas
Selain itu, evaluasi pasca huni juga memiliki tingkatan kecermatan sesuai kebutuhan penggunanya, yang meliputi:
1. Evaluasi Pasca Huni Indikatif 2. Evaluasi Pasca Huni Investigatif 3. Evaluasi Pasca Huni Diagnostik
Bagi fasilitas Fasilitas kesehatan, evaluasi pasca huni perlu dikaitkan dengan “state of the art” fasilitas Fasilitas kesehatan, yang meliputi beberapa aspek:
1. Dalam kriteria kinerja terdapat beberapa kriteria yang perlu diikuti, antara lain Standar Fasilitas kesehatan, Standar Arsitektural untuk Fasilitas Kesehatan, khususnya Fasilitas kesehatan, maupun hasil-hasil penelitian mengenai fasilitas kesehatan komunitas seperti Fasilitas kesehatan
2. Dalam komponen pengguna meliputi penyedia jasa dalam Fasilitas kesehatan (pengelola, dokter, paramedis, dan manajemen) maupun pengguna jasa Fasilitas kesehatan (individu maupun kelompok masyarakat).
3. Dalam komponen setting perlu ditinjau komponen-komponen setting Fasilitas kesehatan yang terdiri atas berbagai unit, bagian, ataupun kelompok fasilitas tertentu.
A R S IT E K T U R R U M A H S A K IT 26
A R S IT E K T U R R U M A H S A K IT 27 a. Pengenalan Masalah dan Kelayakan
- Memahami besaran dan kondisi signifikan aset eksisting. - Memilih tingkatan usaha yang sesuai.
- Memilih biaya evaluasi yang sesuai. b. Perencanaan Sumberdaya
- Perencanaan SDM - Perencanaan waktu
- Perencanaan metoda dan alat c. Perencanaan Riset
- Menentukan aspek kritis yang perlu diteliti
- Memilih indikator yang dapat merepresentasikan aspek - Mengembangkan ukuran bagi tiap indikator
- Menyusun kriteria untuk evaluasi ukuran - Antisipasi hasil dan kesimpulan
2. Pelaksanaan Evaluasi Pasca Huni
a. Awal Proses Pengumpulan Data Lapangan - Mobilisasi data, alat, dan SDM.
- Antisipasi reaksi
- Penguasaan Lapangan dan Pelaksanaan Survey
b. Pemantauan dan Manajemen Prosedur Pengumpulan Data - Pemahaman terhadap karakter aktivitas.
- Penalaan antar pengamat.
- Uji awal instrumen pengumpulan data. c. Analisis Data
- Tujuan analisis data: pemerian, interpretasi, dan penjelasan
- Macam-macam analisis: berhasil/gagal, peringkat, rerata, persentase, variabilitas, bandingan 2 kelompok, analisis sederhana, chi-square, analisis korelasi
- Tahapan analisis: menyusun data mentah, memasukkan dan transfer data, memproses data, mengemas dan komunikasi temuan, interpretasi serta melengkapi analisis data.
3.Penerapan Evaluasi Pasca Huni a. Pelaporan temuan
- Pendahuluan, Metodologi, Analisis data, Temuan, Kesimpulan, Apendiks, Pustaka b. Rekomendasi tindakan
- Tindakan terkait kebijakan - Tindakan terkait prosedur - Tindakan terkait teknik
c. Review Hasil dan Kesimpulan - Rencana jangka pendek
- Rencana jangka menengah - Rencana jangka panjang
3. Optimalisasi Melalui Revitalisasi Fasilitas Fisik Fasilitas kesehatan
4. Langkah-langkah Peringkatan Performansi Fasilitas Kesehatan
Dalam bagian kedua, optimalisasi fasilitas kesehatan akan dipandang dari berbagai faset perencanaan fasilitas dan perancangan arsitektur. Berbagai fase ini dapat menjadi hasil keluaran dan rekomendasi dari evaluasi pasca huni yang dilakukan terhadap sebuah fasilitas kesehatan. Dalam hal ini, peningkatan performansi fasilitas kesehatan dapat meliputi peningkatan 5 aspeknya, yaitu fungsi, bentuk dan kelengkapan, lokasi dan ruang, akses dan sirkulasi, serta konteks.
Optimalisasi fungsi meliputi peningkatan fungsi yang ada sekarang dengan penyempurnaannya berdasar persepsi dan spirasi pengguna, ataupun penambahan fungsi baru yang sinergis dengan fungsi yang ada. Sebagai contoh misalnya diperlukan adanya integrasi antara fungsi-fungsi kesehatan fasilitas kesehatan dengan fungsi-fungsi pendidikan, rekreatif, bahkan komersial yang akan menghidupkan fasilitas tersebut.
Optimalisasi bentuk dan kelengkapan meliputi peningkatan secara fisik fasilitas kesehatan, baik yang berupa bangunan (fixed elements), fasilitas dan perabot (semi-fixed elements) ataupun setting-setting meso dan mikro bagi berbagai aktivitas penggunanya (non-fixed elements). Atau dapat juga dilihat sebagai sistem pewadahan fungsi (ruang dan tata perabot yang ada) serta sistem penunjang fungsi (pencahayaan, penghawaan, serta akustik). Dalam aspek bentuk ini, yang diperlukan adalah adanya pemenuhan kebutuhan masa kini dan masa depan yang terujud dalam bentuk fisik dan fasilitas serta teknik komunikasi yang digunakan.
Optimalisasi lokasi dan ruang meliputi peningkatan dan pengkayaan nilai lokasi serta kualitas ruang-ruang dalam dan di luar fasilitas kesehatan, baik ruang-ruang keseluruhan fasilitas kesehatan sebagai fasilitas, maupun ruang-ruang mikro dalam fasilitas kesehatan sebagai setting kegiatan. Interaksi antara ruang pakai baik yang aktif maupun yang pasif dengan ruang layanan, interaksi antara ruang dalam dengan ruang luar, serta interaksi antara setting budidaya dengan setting alam sangat diperlukan. Dalam hal ini, diharapkan fasilitas kesehatan dapat memberi wadah bukan hanya kegiatan layanan kesehatan secara sempit, melainkan juga layanan kesehatan secara luas dan bahkan juga sebagai fasilitas sosial-edukasi-budaya secara proporsional.
Optimalisasi akses dan sirkulasi meliputi kemudahan pencapaian hingga pada perangkaian pergerakan dalam fasilitas kesehatan sehingga menjadi efektif dan efisien. Akses menjadi hal yang penting, mengingat salah satu keunggulan fasilitas kesehatan adalah potensi jangkauan layanan kesehatan ke masyarakat luas di tengah komunitas mereka sendiri.
Optimalisasi konteks meliputi integrasi fasilitas kesehatan dengan konteks keruangan, sosial, dan waktu. Konteks keruangan, dalam arti lingkungan di sekitar fasilitas kesehatan, layak untuk ditanggapi sebagai sesuatu yang penting, dan dapat dilayani fasilitas kesehatan tersebut. Demikian juga dengan konteks sosial, yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat di sekitar fasilitas kesehatan tersebut, yang akan secara spesifik memberi keunikan pada fasilitas kesehatan dan menambah dayatariknya. Optimalisasi konteks akan membuat fasilitas tersebut akan lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat penggunanya.
Pendekatan kontemporer menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan membutuhkan fungsi dan fisik, nilai kegunaan, kemasyarakatan dan estetika. Fasilitas kesehatan sebaiknya dikembangkan tidak hanya melayani kesehatan tetapi juga dapat memberi aspek kemasyarakatan, rekreatif dan estetika dalam perannya melayani kesehatan.
A R S IT E K T U R R U M A H S A K IT 28
langkah perbaikan. Langkah-langkah tersebut dapat berupa kebijaksanaan, strategi, rencana, program, hingga projek yang diperlukan. Jika dilihat dalam sistem perencanaan dalam manajemen, dapat terlihat bahwa proses ini sangat erat kaitannya dengan manajemen fasilitas secara luas.
Dalam proses perencanaan dan perancangan, pada dasarnya terdapat 5 komponen utama yang perlu didefinisikan secara jelas, yang meliputi:
1. Profil : kondisi eksisting yang ada 2. Visi : kondisi ideal yang diinginkan
3. Masalah : jarak antara kondisi ideal dan kondisi eksisting 4. Strategi : cara untuk mencapai visi
5. Aksi : tindak nyata yang merupakan jabaran dari strategi
Profil
Kondisi eksisting perlu ditinjau dari setidaknya 5 aspek yang disebutkan di atas.
Kondisi tersebut perlu dinilai. Salah satu alatnya adalah Analisis SWOT (SWOT analysis), yang meliputi:
- Strengths (kekuatan), yaitu faktor positif internal - Weaknesses (kelemahan), yaitu faktor negatif internal - Opportunities (peluang), yaitu faktor positif eksternal - Threats (ancaman), yaitu faktor negatif eksternal Visi
Visi dapat dirinci dalam waktu dimana visi tersebut diharapkan terjadi, dapat berupa: - Jangka panjang, dengan durasi sekitar 10-20 tahun
- Jangka menengah, dengan durasi sekitar 5 tahun - Jangka pendek, dengan durasi sekitar 1 tahun
Visi ini dapat juga terkait dengan tujuan atau sasaran, atau developmental goals dan developmental objectives Kondisi Ideal VISI cara mencapai visi STRATEGI kondisi eksisting
PROFIL tindak nyata
AKSI jarak antara
kondisi eksisting dan kondisi ideal MASALAH A R S IT E K T U R R U M A H S A K IT 29
Masalah
Masalah adalah jarak (discrepancy) antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi eksisting sekarang ini. Perumusan problem statement membutuhkan langkah-langkah sebagaimana berikut: - Mempelajari secara mendalam masalah yang dihadapi
- Membatasi daerah masalah secara lokasional, temporal, serta melihat kaitan dan pengaruhnya terhadap masalah yang lain
- Menyiapkan data-data/informasi pendukung masalah - Menyiapkan daftar tujuan dan sasaran
- Mengenali kisaran variabel-variabel yang perlu diperhitungkan - Mengkaji ulang problem statement
Strategi
Strategi adalah cara untuk mencapai visi, yang dijabarkan dalam rencana atau rancangan. Perumusan strategi terkait erat dengan perumusan tujuan dan sasaran bagi strategi tersebut. Jika tujuan (goals) lebih bersifat ultimate serta tidak langsung, maka sasaran (objectives) lebih bersifat langsung serta konkret. Tujuan pada dasarnya dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan, atau pemanfaatan peluang.
Aksi
Produk rancangan yang ada pada dasarnya dapat dibagi dalam: - Kebijakan (policy)
- Rencana (plan) - Arahan (guidelines) - Program (program)