BAB II LANDASAN TEORI
A. Teori dan Konsep
3. Konsep Sabar
visual sehingga menarik untuk ditonton. Penyajiannya yang dilakukan secara bertahap dan serius mulai dari naskah, skenario, pengambilan gambar, akting, dan editing, dapat membuat dakwah disampaikan dengan cara yang bercerita, memiliki alur, dan tentunya dapat menghibur. Hal yang seperti ini kemudian menjadi sebuah keuntungan dari berdakwah melalui sinetron, karena sinetron memiliki pasar yang luas, berasal dari semua kalangan, dan dapat memanjakan telinga dan mata penonton.
Akan tetapi, terdapat kelemahan dalam berdakwah melalui sinteron, yaitu produksi suatu sinetron membutuhkan biaya yang mahal, prosedur pembuatannya yang panjang, dan memerlukan berbagai pihak.42 Hal ini tidak lantas membuat dakwah dengan media sinetron meredup, karena sinetron dengan tema religi masih banyak digemari oleh penonton Indonesia.
3. Konsep Sabar
a. Pengertian Sabar
Arti kata sabar (ash-shabr) yaitu melarang
(al-man’u) dan menahan (al-habs). Perubahan kata kerjanya
yaitu shabara-yashbiru-shabran, yang dapat diartikan sebagai menahan jiwa.43 Banyak pendapat yang
42
Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya
Massa (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 121.
43 Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Uddat ash-Shabbirin: Bekal Untuk
Orang-Orang yang Sabar, Penerjemah Imam Firdaus (Jakarta: Qisthi Press,
dikemukakan oleh para ahli dalam mengartikan sabar yaitu di antaranya:
1) Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy sabar merupakan tahan terhadap penderitaan dengan ridha, kemauan hati dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.44 2) Menurut ulama Imam al-Muhasibi sabar adalah
mengurung diri tempat penghambaan (‗ubudiyah) di
maqam penghambaan (‗ubudiyah).45
3) Menurut Imam Sahl al Tustari sabar adalah menunggu datangnya pertolongan Allah SWT.46 4) Sedangkan menurut Imam al-Makky sabar yaitu
mengendalikan kebutuhan hawa nafsu dan memaksanya mujahadah agar dicapai keridhaan Tuhan.47
Semua orang yang menahan sesuatu, maka ia telah bersabar. Artinya adalah menahan hatinya dari keinginan.
Di dalam firman Allah SWT dalam surat Al-baqarah ayat 153 dijelaskan bahwa kesabaran merupakan salah satu penolong orang-orang yang beriman yaitu:
ًََ
ِرْب َّصلاِب اىُىُِعَخ ْسا اىُىَمآ ًًَ ِرَّلا اَهُّيَأ ا
ًٍََِسِباَّصلا َع َم َهَّللا َّنِئ ۚ ِة َلََّصلاَو
44 Bukhari Abdul Somad, Etika Qur’ani: Pendekatan Tematik Surat
Al-Muzammil, (Yogyakarta: Pijar Cendikia, 2010) h. 118.
45 Abu ‗Abd Allah al-Harits ibn al-Asad al-Muhasibi, al-Washaya, (Bairut: Daqr al-Kutub al-Ilmiyah, 1986) h. 269.
46 Al-Kalabadzi, Al-Ta’aruf li Mazahib Ahl al-Tasawwuf, (Cairo: Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyah, 1969) h. 112.
47 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 64.
41
‖Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar‖ (Q.S al-Baqarah:
153).48
Hakikat sabar adalah keteguhan dorongan agama dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Imam Ghazali mendefinisikan bahwa sabar adalah suatu keteguhan motivasi religius dalam menghadapi dorongan syahwat.49 Itu merupakan sifat khusus manusia yang merupakan kombinasi dari cabang sifat kemalaikatan dan kebinatangan.
Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran seperti yang tertuang dalam surat QS.Al-Baqarah:155:
ِعى ُج ْلاَو ِفْىَخْلا ًَِم ٍءْي َ شِب ْمُكَّهَىُلْبَىَلَو
ٍصْقَهَو
ِس ِّشَبَو ۗ ِثاَسَمَّثلاَو ِسُفْهَ ْالْ َو ِلاَىْمَ ْالْ ًَِم
ًٍََِسِباَّصلا
―Dan sungguh akan Kami berikan cobaankepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar‖ (QS. Al-Baqarah: 155).
48 Asma‘ Umar Hasan Fad‘aq, Mengungkap Makna dan Hikmah
Sabar, (Jakarta: Lentera, 1999) h. 47.
49 Asma‘ Umar Hasan Fad‘aq, Mengungkap Makna dan Hikmah
b. Keutamaan Sabar
Banyaknya ayat Al-Qur‘an dan hadits Nabi yang menjelaskan tentang sabar, membuat sabar memiliki keutamaan tersendiri. Bila dibandingkan dengan akhlak Islami lainnya, sabar paling banyak dibicarakan untuk dipraktekkan.50 Hal ini karena dalam kehidupan sehari-hari sabar dibutuhkan dalam segala aktivitas, di segala tempat dan waktu. Orang yang sabar harus menundukkan dorongan dan keinginan hawa nafsu, terutama nafsu emosi dan nafsu syahwat. Oleh karena itu, pembicaraan ayat al-Qur‘an dan Hadits Nabi mengenai akhlak sabar dapat berbentuk perintah, larangan, contoh tokoh yang sukses, dan berupa penjelasan keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh orang yang sabar.51
Keutamaan akhlak sabar antara lain:
1) Sabar Merupakan Nama dan Akhlak Allah
Allah SWT memiliki 99 nama yang baik, nama ini termasuk menjelaskan sifat kesempurnaan Allah SWT termasuk sifat sabar. Nama yang berkaitan dengan sabar ada dua yaitu, al-shabur (Maha Sabar) dan al-halim (Maha Lembut).52 Imam Ibn Manzhur menjelaskan al-halim memliki arti bahwa Allah SWT tidak murka terhadap pelanggaran orang durhaka.
50 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 78.
51 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 78-79.
52 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 79.
43
Sedangkan al-shabur memiliki atri bahwa Allah SWT tidak mempercpat hukuman kepada mereka.53 2) Sabar Merupakan Sifat Nabi dan Rasul
Para nabi dan rasul merupakan orang yang paling berat dalam mendapatkan ujian. Al-Quran menyatakan bahwa senjata yang mereka gunakan, terutama para rasul yang mempunyai keteguhan hati adalah sabar. Dasar dari ibadah adalah bersabar, dalam arti sanggup menanggung penderitaan dan kesulitan dalam beribadah tersebut.54 Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar seperti orang-orang yang memiliki keteguhan hati.55
3) Orang Sabar Dicintai Allah Subhanahu Wataala Memiliki sikap sabar menjadikan seseorang dicintai oleh Allah SWT, karena orang yang sabar akan patuh melaksanakan kewajiban (al-shabr fi
Allah) dan konsisten meninggalkan semua larangan
Allah dan larangan Rasul-Nya (al-shabr li Allah).56
53
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab jilid IV, (Bairut: Daral-Shadir, tt) h. 146-437.
54 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 80-83.
55
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Uddat ash-Shabbirin: Bekal Untuk
Orang-Orang yang Sabar, Penerjemah Imam Firdaus (Jakarta: Qisthi Press,
2010) h. 47.
56 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 83-84.
Allah SWT akan senantiasa mencukupkan pahala tanpa batas kepada orang-orang yang bersabar.57 4) Sabar Mendatangkan Kesuksesan
Kesabaran sangat dibutuhkan dalam perjuangan. seseorang yang sedang berada dalam pencarian akan cepat berhasil apabila disertai dengan kesabaran. Hal tersebut karena sabar membuat seseorang mimiliki mental yang kuat, sehingga mampu menghadapi kesulitan-kesulitan.58 Seperti janji Allah SWT kepada Bani Israil berupa kemenangan dan keberuntungan disebabkan oleh kesabaran.59
5) Sabar Membawa Kebaikan
Terdapat banyak ayat Al-Qur‘an yang menyatakan bahwa sabar merupakan perbuatan baik dan orang yang bersabar akan mendapatkan ganjaran yang lebih baik. Semua pekerjaan , baik berorientasi pada kesejahteraan duniawi atau kebahagiaan ukhrawi, akan lebih baik hasilnya apabila disertai dengan kesabaran.60 Umar ibn Khaththab berkata ―Kami mendapatkan kehidupan kami yang terbaik
57
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Uddat ash-Shabbirin: Bekal Untuk
Orang-Orang yang Sabar, Penerjemah Imam Firdaus (Jakarta: Qisthi Press,
2010) h. 109.
58 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 86-87.
59
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Uddat ash-Shabbirin: Bekal Untuk
Orang-Orang yang Sabar, Penerjemah Imam Firdaus (Jakarta: Qisthi Press,
2010) h. 111.
60 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 88-89.
45
dengan cara bersabar.‖ Dia juga berkata ―Kehidupan yang paling afdhal kami dapatkan dengan cara bersabar. Seandainya kesabaran berupa sosok manusia, tentulah dia orang yang mulia.‖61
Ayat-ayat Al-Qur‘an tentang keutamaan sabar membawa kebaikan yaitu di antaranya terdapat pada Q.S An-Nahl ayat 96,Q.S Az-Zumar ayat 10, dan Q.S Al-Qashash ayat 54.
c. Macam-Macam Sabar
Pengaplikasian sabar dalam kehidupan sehari-hari terdiri dari berbagai macam sesuai dengan peristiwa yang dialaminya. Menurut Imam Al-Ghazali, macam-macam sabar terdiri dari sembilan macam di antaranya, Al- Iffah,
Al-Shabr, Dhabt Nafs, Al-Syaja’ah, Al-Hilm, Sa’at al-Shadr, Kitman al-Sirr, Zuhud, dan Qana’ah.:62 Akan tetapi dalam penelitian ini hanya difokuskan pada empat macam kesabaran, yaitu Al-Iffah, Al-Shabr, Al-Hilm, dan
Qana’ah.
1) Al-Iffah
Secara etimologi al-iffah berarti menjauhkan diri dari perkara yang tidak baik/hina/syubhat.63
61 Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Uddat ash-Shabbirin: Bekal Untuk
Orang-Orang yang Sabar, Penerjamah Imam Firdaus (Jakarta: Qisthi Press,
2010) h. 148.
62
Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 230-255.
63
Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 232.
Pentingnya kesabaran dalam hal ini agar jalan pemuasan yang ditempuhnya sesuai dengan petunjuk agama Islam. Iffah merupakan jenis kesabaran dalam hal syahwat atau kemaluan yang diharamkan seperti mesum dan zina. Mengontrol pandangan mata dan pikiran juga merupakan cara dalam mencegah terjadinya hal-hal yang menjurus ke zina.64
Contohnya seperti menundukkan kepala atau pandangan jika berhadapan dengan seseorang yang bukan mahramnya. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT. yang terdapat dalam surat An-Nur ayat 30:
ْم ِهِزاَصْبأ ًْ ِم اى ُّضُغٌَ َنيِىِم ْإ ُمَ ْلِل ْلُق
َّنِئ ۗ ْمُهل َٰىَكْشَ أ َكِلَ ذ ۚ ْمُه َحوُسُف اىُظ َف ْحٍَ َوََٰ
ََنىُعَى ْصًَ ا َمِب ٌريِبَخ َهَّللا
―Katakanlah kepada orang laki-laki yangberiman: “hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”(Q.S. an-Nur: 30).
2) Al-Shabr
Secara umum kata al-shabr menggambarkan kemampuan seorang muslim dalam mengendalikan diri menghadapi segala peristiwa yang dialaminya
64
Asma‘ Umar Hasan Fad‘aq, Mengungkap Makna dan Hikmah
47
sesuai dengan petunjuk agama Islam. Secara spesifik
al-shabr menggambarkan kemampuan seorang muslim dalam menghadapi musibah dan penderitaan. Cara bersabar menghadapi musibah menurut Imam Al-Ghazali adalah dengan menghindari perbuatan yang tidak lazim, seperti berputus asa, merobek pakaian, memukul dinding, mengeluh menampakkan kekesalan secara berlebihan.65
Kemampuan dalam bersabar bukan berarti menghilangkan naluri manusia untuk tidak bersedih atau menangis,hal tersebut tidak mungkin dihilangkan secara total. Tetapi yang dimaksud dengan al-shabr menghadapi musibah dan penderitaan adalah mengendalikan diri untuk tidak melakukan kegiatan yang menyimpang dari ajaran agama Islam dan diluar kebiasaan.66
Dalam Al-Qur‘an, Al-Shabr tercermin dalam surah Asy-Syura ayat 43 bahwa sabar dan memaafkan merupakan perbuatan yang diutamakan :
َِزى ُمالْ ِمْصَع ًُِْ ْ لَ َكِلَ ذ َّنِئ َسََٰ َفَغَو َرَبَص ًَْ َلََو
”Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.S Asy-Syura:
43)
65 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 235- 236.
66 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 236-237.
3) Al-Hilm
Al-Hilmi adalah sikap sabar dalam menahan
amarah. Selagi amarah masih melekat pada manusia, itu berarti setan telah bersemayam di tubuhnya. Pada dasarnya, marah adalah darah di dalam hati yang mendidih dan mencari pelampiasan.67 Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi emosi yang akan menjadi aktif disebabkan oleh banyak faktor, yaitu sikap angkuh, sombong, keras kepala, merasa gagah, canda, khianat, persaingan, dendam, dll.68 Imam Al-Ghazali mengkasifikasikan menahan amarah terdapat 3 golongan besar seseorang yaitu, orang yang tafrith (serba kekurangan), orang yang memiliki emosi seimbang (al-i’tidal), dan orang yang ifrath (serba berlebihan). Orang yang tafrith merupakan orang yang tidak dapat marah, jika diusik ia hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. Orang yang memiliki emosi seimbang, adalah orang yang amarahnya tidak terlalu ekstrim, jika diusik ia hanya merasa sebal dan tidak melakukan tindakan balasan. Sedangkan orang yang
ifrath yaitu orang yang amarahnya melampaui batas,
jika diusik orang seperti ini melampiaskan amarahnya dengan tindakan fisik.69
67 Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang
Mendapat Petunjuk, (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2007) h. 221.
68 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 241-242.
69 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 243.
49
Menahan amarah dijelaskan dalam Al-Qur‘an surah Al Muzammil ayat 10yang berbunyi:
اًس ْج َه ْم ُهْس ُج ْها َو َنىُلى ُقًَ ا َم َٰى َلَع ْرِب ْصاَو
َ ًلَُ ِم َح
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S Al-Muzammil: 10)
4) Qana’ah
Qana’ah merupakan sabar atas sedikitnya
keberuntungan yang ditakdirkan atasnya atau dapat disebut menerima apa adanya. M. amin Syukur berpendapat bahwa Qana’ah berarti kepuasan jiwa terhadap pemberian dari Allah.70 Keadaan ini merupakan merasa cukup atas apa yang ia miliki dan menjauh dari perasaan kekurangan. Al-qana’ah sering disalahartikan, qana‘ah pada dasarnya merupakan sikap menerima berapapun hasil usaha yang ia lakukan. Artinya ada usaha yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil tersebut, bukan menerima apa adanya tanpa perlu berusaha secara maksimal.71 sikap al-qana’ah membentuk jiwa seorang muslim menjadi ikhlas dengan ketentuan Allah dan mensyukuri segala
70 M. Amin Syukur, Tasawuf Konteksktual: Solusi Problem Manusia
Modern, (Surabaya: Pustaka Pelajar, 2003) h. 14.
71 Ridjaluddin F. N. Sabar Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali, (Ciputat: Lembaga Kajian Islam Nugraha, 2009) h. 251-252.
nikmat yang diberikan-Nya. Qana’ah merupakan kekayaan jiwa, sebab kekayaan jiwa kedudukannya lebih tinggi dari kekayaan harta.72
Menerima dengan ikhlas terhadap apa yang Allah berikan, dituangkan dalam surah Ibrahim ayat 5 yaitu:
ٍَزىُك َش ٍزاَّبَص ِّلُكِل ٍثاًَ َلَ َكِلََٰذ يِف َّنِئ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Q.S
Ibrahim: 5)