• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada prinsipnya manusia selalu berinteraksi dengan orang lain sebagai mahluk individu maupun sosial, namun tidak terjadi pada ras atau kelompok etnik karena mereka bukanlah aktor dalam kehidupan. Misalnya seseorang yang berkulit putih bertemu dengan seseorang yang berkulit hitam akan merespon satu dengan yang lain meskipun perilaku mereka dibentuk dengan kesadaran bahwa keduannya berasal dari ras yang berbeda dan memiliki pengalaman yang berbeda pula. Hal ini bisa terjadi karena adanya interaksi sebagai mahluk hidup yang tidak didasari oleh warna kulit maupun latar belakang kebangsaan. Ciri ini merupakan milik warga Amerika Serikat yang juga bisa berasal dari China untuk Asia, Vietnam untuk Asia Tenggara, Jerman untuk Eropa, Yahudi untuk Asia kecil bahkan Yordania untuk Arab atau budak Afrika yang berkulit hitam menyatakan dirinya sebagai warga Amerika Serikat.

Keragaman budaya yang dimiliki oleh warga Amerika Serikat menurut sejarahnya tidaklah semulus kejayaan yang mereka miliki. Gesekan sosial bahkan sampai hal-hal yang diskiriminatif mewarnai kehidupan demokrasi Amerika Serikat sebagai sebuah negara. Nilai demokrasi yang mengedepankan kesetaraan dimana manusia sederajat tanpa melihat warna kulit ataupun latar belakang diperhadapkan pada gelombang kebencian atas nama ras. Streotipe bagi setiap pendatang menjadi ciri berlakunya tindakan-tindakan diskriminatif yang kadang melahirkan gejolak sosial. Streotipe untuk kulit hitam sebagai warga yang bodoh dan budak, serta mata cipit dan pembohong untuk China, keganasan dan kebrutalan untuk Irlandia bahkan kebodohan untuk penduduk asli Indian merupakan ciri streotipe yang diskriminatif.

Perjalanan hidup sejarah Amerika Serikat dengan label demokrasinya setidaknya dapat melewati setiap persoalan berdasarkan asas keadilan dan hukum untuk setiap warga agar dapat hidup tenang dan damai sebagai warga negara Amerika Serikat.

Budaya toleransi merupakan apa yang diinginkan oleh masyarakat menjadi satu pola atau cara pandang hidup masyarakat Amerika Serikat. Budaya di tempatkan sebagai modal bahkan menghargai nilai-nilai yang mereka kagumi sebagai masyarakat. Budaya merupakan milik komunitas dan menjadi iklim peradaban yang menjadikan setiap orang berarti satu sama yang lainnya. Walter Lipman dalam buku American Culture, American Taste tulisan Michael Kammen (1999:xvii) menyatakan83

“Culture is the name for what people are interested in, their thoughts their models, the books they reas and the speecches they hear, their table-talk, gossip, controversies, historical sense and scientific training, the values they appreciate, they quality of life they admire. All communities have a culture. It is the Climate of their civilization”

Dari kutipan diatas dapat disarikan bahwa apa yang menjadi milik masyarakat baik sebagai mahluk individu maupun sosial merupakan pilihan tiap orang untuk bisa saling berinteraksi yang satu dengan yang lainnya. Budaya melting pot yang lebih menekankan pada asimiliasi budaya dengan menghilangkan budaya asli sedikit berbeda dengan salad bowl. Ciri melting pot menandai adanya semacam penolakan terhadap keragaman. Masyarakat Amerika Serikat pada tatanan konsep ini lebih menekankan pada peleburan dimana Amerika Serikat merepresentasikan ide e pluribus unum yang artinya berbeda-beda tetapi tetap menjadi satu (one in

83 Kammen, Michael. 1999. American Culture American Tastes. New York: Basic Books

diversity) menurut sejarahnya imigran awal yang datang ke Amerika Serikat bercita-cita untuk menjadi manusia baru. Sejarawan Arthur M Sclesinger Jr mencatat bahwa imigran perancis abad ke-18 J. Hector St. Jhon de Crevecoeur yang berbicara mengenai gagasan pertukaran identitas yang lama dengan yang baru dia mengatakan:84

“Konsepsi Crevecour adalah suatu nasionalis yang benar-benar baru, yang diciptakan oleh individu- individu, yang dalam melepaskan tanah kelahirannya dan bergabung membentuk hidup yang baru, meleburkan semua perbedaan etnik kuno mereka. Kebanyakan dari orang eropa yang berkemauan keras ini telah meninggalkan akar mereka untuk menantang lautan atlantik yang luas, dan mencapai Amerika Serikat, ingin melupakan masa lalu mereka yang buruk dan menggapai masa depan yang penuh harapan.

Mereka berharap untuk menjadi orang Amerika. Tujuan mereka adalah pelarian diri, pembebasan, dan asimilasi. Mereka melihat amerika sebagai negara yang tengah berubah, dengan melepaskan loyalitas lama mereka, mereka maju membentuk identitias

nasional yang baru berdasarkan ide politik bersama”

Pemikiran Crevecour yang menyuarakan manusia baru bagi pendatang ke Amerika serikat merupakan ciri melting pot yang sepertinya mengangkangi kebebasan pendatang dengan budaya yang dimilikinya. Identitas melting pot sebagai warga negara Amerika Serikat menjadi pemicu semangat bergelora dengan kebanggan menjadi warga negara baru di tanah yang baru. Semangat melting pot ini tidak hanya terjadi pada realitas sosial bahkan juga terefleksi kedalam bentuk karya sastra seperti drama, puisi, maupun karya fiksi lainnya seperi novel. Bahkan dalam karya drama Israel Zangwill pada satu drama tahun 1909 semangat peleburan melting pot dalam konstelasi pelarian diri, pembebasan dan asimilasi

84 Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought. Diterjemahkan oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro.

Yogjakarta: Jalasutra.

menyebut melting pot sebagai penggambaran peleburan yang hebat. Israel Zangwill menambahkan “disanalah ia berada, wadah peleburan yang hebat-dengarkanlah!

Tak dapatkan kau mendengar auman dan gumamanya? Disanalah mulutnya terbuka-pelabuhan tempat seribu kapal datang dari berbagai sudut dunia untuk menumpahkan manusia dari perutnya. Ah, sungguh sesuatu yang sangat menggugah dan mendebarkan! Orang-orang Celtic dan Latin, Slavia dan Jerman, Yunani dan Siria, hitam dan kuning, timur dan barat, utara dan selatan, palma dan pinus, kutub dan katulistiwa, bulan sabit dan salib. Alangkah sang pelebur besar telah meleburkan dan menyatukan mereka dalam apinya yang menyala-nyala! Di sini kita akan bersatu untuk membangun Republik Manusia dan Kerajaan Tuhan, Perdamaian kepadamu jutaan yang belum terlahirkan, yang ditakdirkan untuk mengisi benua raksasa ini”.85

Seiring waktu berjalan dan berubah, impelementasi nilai demokrasi juga mengalami perubahan dengan munculnya gerakan-gerakan intelektual yang memunculkan nilai-nilai keberagaman. Keberagaman dikedepankan untuk bisa lepas dari pencitraan bahwa perbedaan merupakan sebuah penghalang. Gerakan sosial intelektual yang mengedapankan perbedaan bukanlah sebuah penghalang.

Pemikiran mengedepankan kesetaraan melalui perbedaan lebih dikenal dengan sebutan multikulturalisme. Kehadiran salad bowl sebagai metaphor (mangkok salad) mengantikan metaphor melting pot untuk merepresentasi Amerika Serikat.

Peralihan ini dari melting pot ke salad bowl melahirkan multilkulturalisme.

85 Ibid Hlm 113.

Menurut Joseph Raz multikulturalisme, banyak menghadapi kritik di akhir tahun 80-an dan sepanjang tahun 1990-an, menekankan bahwa multikulturalisme dapat melemahkan solidaritas namun juga mengakui tanpa perasaan solidaritas yang dalam masyarakat politik terdisintegrasi kedalam faksi-faksi yang saling bertikai.

Solidaritas diperlukan jika orang ingin mempedulikan keberuntungan yang lain dan bersedia berkorban untuk orang lain. Tanpa kemauan seperti ini, kemungkinan untuk menciptkan masyarakat yang damai akan lenyap. Para pengkritik multikulturalisme bersikeras bahwa label label seperti Africa American, Asian American, Hispanik American, dan Native American bersifat membahayakan karena akan memecah belah. Para pengkritik ingin menginginkan Amerika Serikat suatu homogen dan American America atau Amerika yang Amerika.86

Dalam pemikiran positif mengenai salad bowl yang dalam hal ini lebih dimaknai sebagai multikultural melibatkan sebuah proses akulturasi budaya. Akulturasi budaya menegaskan pembauran budaya tanpa menghilangkan budaya aslinya.

Konsep salad bowl lebih mengedepankan komunikasi budaya untuk bisa menumbuh kembangkan penerimaan akan perbedaan. Komunikasi yang mengedepankan toleransi dapat mengurangi konflik bahkan menumbuh kembangkan semangat kebersamaan untuk menerima yang satu meskipun dalam lingkaran yang berbeda.

Perjalanan sejarah hidup yang berdemokrasi masyarakat Amerika Serikat telah membawa kedewasan untuk menjalani perubahan. Tindakan diskriminatif dalam ranah konsep salad bowl justru menyatakan tindakan yang mengarah kepada

86 Ibid. Hlm 113

kuatnya pengenalan terhadap perbedaan. Dengan kata lain diskriminasi hanya membawa friksi terhadap perbedaan yang ada. Konsep salad bowl dalam masyarakat multikultural menyatakan kebebasan setiap orang atau individu untuk merdeka menentukan nasibnya meskipun perbedaan itu jelas nyata. Bahkan presiden Amerika Serikat yakni Jhonson mengatakan bahwa ‘kamu tidak perlu mengambil seseorang bertahun-tahun dengan merantainya, namun bebaskanlah dia dan bawalah dia ke atas untuk melihat dan berkata tanpa mengenal ras bahwa kamu bebas untuk berkompetisi dengan orang lain. Tidak cukup hanya sekedar mengatakan semuannya berjalan dengan baik tapi harus membuka juga gerbang kesempatan untuk semua warga kita yakni Amerika Serikat untuk memiliki kemampuan melewati gerbang itu’.87

“You do not take a person who for years has been hobbled by chains, liberate him, bring him up to the starting line of a race, and then say, “you are free to compete with all the others” and still justly believe that you have been completely fair. Thus, is not enought just to open the gates of oppurtunity, all our citizens must have the ability to walk throught those gates”.

Konsep salad bowl dalam kaitannya dengan nilai demokrasi yang menegaskan setiap orang memiliki hak yang sama meskipun berbeda menegaskan peran individu maupun sosial menjadi setara. Tiap masyarakat ataupun kelompok masyarakat memiliki hak yang sama didalam arti tidak ada ruang superior bagi kelompok yang besar dan imperior bagi kelompok yang kecil. Metaphora salad bowl memaknai perbedaan sebagai sebuah kekuataan dimana tidak satu manusia

87 Janda, Kenneth, et al. 1992. The callange of Democracy Government in America. Boston:mifflin company.

pun dilahirkan sama betul. Dengan kata lain, menerima perbedaan bisa menunjukkan solidaritas kebersamaan karena merasa senasib sepenanggungan.

Salad bowl sebagai sebuah wadah menjanjikan jaminan kebebasan tiap kelompok masyarakat maupun individu memiliki hak-haknya baik itu hak politik, hak ekonomis, maupun hak sosial disamping hak pribadi. Dimensi salad bowl versi Amerika Serikat dalam menjunjung nilai demokrasi tergambar dari kesediaan menerima perbedaan untuk bisa hidup berdampingan sesuai dengan keadilan berdasarkan hukum dan budaya yang membentuk karakter masyarakat Amerika Serikat.

Masyarakat yang multikulturalis seperti Amerika Serikat menempatkan konsep salad bowl sebagai simbol masyarakat yang liberal dan demokratis. Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme merupakan sebuah sistem yang mengadopsi nilai-nilai universal dengan mengedepankan kebebasan personal, kesetaraan hak, penyelenggaran hukum, serta kemampuan minoritas b bisa saling berdampingan merupakan kunci penerimaan dengan cara toleransi dimana setiap orang memiliki hak yang sama atas perbedaan yang ada.88

“Multikulturalizm raises a number of issues for liberal democratic societeis. The problem is fundamentaly one of adapting universal western ideas of personal liberty, equality of respect, with the rule of law to minority culture with very different traditions.”

88 Goodwin, Barbara. 2007. Using Politica Ideas. Glasglow: Bell & Bain.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang penulis dapat rangkumkan dari hasil penelitian ini ialah:

1. Konsep salad bowl ataupun melting pot berhubung erat dengan perjalalanan sejarah kehidupan masyarakat Amerika Serikat diwarnai gelombang imigran yang datang untuk memperbarui hidup di tanah impian yakni tanah Amerika Serikat. Latar belakang imigran yang berbeda dengan budaya dan tradisi serta bahasa yang berbeda bahu membahu untuk bisa hidup berdampingan secara damai satu dengan yang lain. Demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang menjanjikan kemerdekaan atau kebebasan setiap individu untuk menyuarakan haknya merupakan kunci keberhasilan penyatuan salad bowl dalam arti menerima perbedaan. Kebebasan menjadi suatu alasan yang dapat menghindari konflik sosial hanya karena didasarkan perbedaan ras, agama, maupun budaya.

Demokrasi dengan menyuarakan kebebasan dapat mengikat keutuhan masyarakat Amerika Serikat dengan latar belakang yang berbeda dalam satu wadah yaitu salad bowl..

2. Konsep salad bowl atau melting pot disamping kebebasan, mendukung ideologi demokrasi dalam bentuk keadilan atau kesetaraan menjadikan setiap individu bebas memiliki apapun yang menjadi miliknya. Konsep pemerintah yang menjamin warga individunya dengan cara tidak mengintervensi apa yang menjadi hak warga melahirkan kebersamaan yang utuh meskipun datang dari latar belakang budaya yang berbeda. Konsep keadilan dari sudut pandang

demokrasi setidaknya mampu mencerahkan perbedaan bukanlah suatu masalah dalam hal kepemilikan. Laissez-faire sistem dalam ekonomi menjadikan setiap orang apakah seseorang itu bermata cipit, berkulit hitam, berasal dari Arab, atau bahkan Polandia dijanjikan dapat hidup dan memiliki apapun sesuai dengan mimpi Amerika Serikat. Masyarakat yang berkeadilan dalam konsep demokrasi meskipun berbeda yang satu dengan yang lainnya dapat merajut kebersamaan tanpa adanya kebencian. Kebebasan memiliki sesuai dengan tatanan yang berlaku menjadikan salad bowl ciri keberhasilan Amerika Serikat sebagai suatu negara.

3. Tidak jauh berbeda dengan kebebasan dan kesetaraan, konsep salad bowl juga didasarkan pada solidaritas. Ketiganya saling mengisi atau melengkapi dimana yang satu ada karena yang lainnya. Solidaritas mengutamakan kepentingan orang banyak dengan meyisihkan kepentingan pribadi. Kesadaaran tiap individu untuk menghargai kebebasan setiap orang untuk siap berbeda menjadikan persaudaraan sebagai perekat sosial yang tangguh. Solidaritas dimaknai sebagai menjalin hubungan manusia dengan manusia untuk mencapai tujuan alamiah manusia itu sendiri yaitu hidup damai dan saling memperdulikan. Konsep solidaritas mampu menyisihkan sikap individualistis yang tidak lagi berlaku dalam adonan melting pot. Peleburan yang terjadi dalam wadah salad bowl menjadikan setiap individu memperoleh kebebasan untuk bisa menjalani hidup secara bebas dan penuh persaudaraan.

4. Salad bowl sebagai sebuah metaphora yang menggambarkan perbedaan bukan sebuah masalah melahirkan pemikiran multikulturalisme. Sebagai sebuah

ideologi, multikulturalisme mengedepankan kesetaraan di dalam perbedaan dalam mewujudkan nilai demokrasi. Dalam tatanan demokrasi setiap individu memiliki hak yang sama dalam arti kesetaraan. Konsep salad bowl dalam menjunjung nilai demokratis pada masyarakat multikultural memberi jaminan kebebasan kepada setiap orang, baik sebagai mahluk individu maupun sosial, menikmati kebebasan menyatakan identitasnya. Dengan demikian, demokrasi dalam perwujudan salad bowl tidak mewariskan adanya kelompok superior dan inferior dalam menjalin hubungan masyarakat yang bebas dan mandiri meskipun dalam konteks multikultural atau keanekaragaman.

5.

4.2 Saran

Penelitian ilmiah menawarkan sebuah kebenaran objektif yang dalam hal ini dimaknai sebagai sebuah penelusuran secara sistematis. Sering orang berpendapat bahwa penelitian deskriptif kurang ilmiah karena tidak berkaitan dengan angka-angka. Sepertinya angka dimaknai sebagai sesuatu yang saintifik sifatnya yang dalam hal ini dikategorikan sebagai penelitian kuantitatif. Penelitian skripsi ini merupakan pengertian deskriptif yang pada dasarnya juga memuat kebenaran.

Perbedaan pendapat mengenai kedua jenis penelitian ini bukanlah menjadi sebuah masalah sepanjang penelitian itu mencari sebuah kebenaran.

Sejarah Amerika Serikat yang diwarnai dengan hadirnya gelombang imigran dan dapat hidup bersama merupakan suatu bukti nyata dalam kehidupan bahwa perbedaan bukanlah sebuah kendala. Perbedaan tidak membawa seseorang untuk melahirkan sebuah konflik karena perbedaan itu sendiri merupakan sesuatu yang

alamiah. Konsep salad bowl atau melting pot merupakan simbolik budaya atau istilah yang mengedepankan perbedaan tetapi dapat melebur menjadi satu di bawah payung demokrasi. Demokrasi yang menjanjikan kebebasan individu untuk menjalani hidup merupakan kekuatan hukum yang dapat menjadikan pandangan hidup berbangsa menjadi kuat.

Penelitian ini masih sangat jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, penelitian ini perlu ditindaklanjuti untuk mendapatkan kejelasan yang lebih komprehensif lagi khususnya mengenai keragaman budaya yang ada di Amerika Serikat. Konsep salad bowl mengisyaratkan pentingnya kesadaran untuk menghargai setiap orang yang haknya sama di mata Tuhan. Perbedaan adalah sebuah anugerah untuk bisa diterima sebagai sesuatu yang alami.

DAFTAR PUSTAKA Buku

Arikunto, Suharsmi. 1991. Prosedur Penelitian: suatu pendekatan praktik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Birdsall, Stephen S dan Jhon Florin. 1992. Geografi America Serikat. Terjemahan dari Regional Landscapes of The United States and Canada oleh Gembira Sari dan Deddy Mulyana. New York: State Department.

Bruce L. Berg. 2004. Qualitative Research Methods For The Social Sciences.

Boston: Pearson

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media group.

Goodwin, Barbara. 2007. Using Political Ideas. Glasglow: Bell & Bain.

Gombert, Tobias. 2010. Landasan Sosial Demokrasi. Vol 1 Akadamie fur Soziale Demokratie. Bonn. Friedrich Ebert Stiftung.

Haryatmoko. 2014. Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Janda, Kenneth. 1992. The Challange of Democracy Government in America.

Boston: Mifflin Company.

Kammen, Michael. 1999. American Culture American Tastes. New York: Basic Book.

Katz, Richard S dan William Crotty. 2014. Handbook Partai Politik.

Diterjemahkan dari Handbook of Party Politics oleh Ahmad Asnawi. Bandung:

Penerbit Nusa Media.

Laguardia, Dolores dan Hans, P. Guth. American Voices. 1996. California:

Mayfield Publishing Company.

Lakoof, George dan Mark Jhonson. 1979. Metaphors We Live By. Chicago: The University of Chicago Press.

Luedtke. S Luther. 1987. Making America: The Society and Culture of the United States. Washington, D.C. : United States Information Agency.

M Syafiie, I. Kencana. 2010. Ilmu Politik. Jakarta: Rineka Cipta

Parekh, Bikhu. 2008. Keberagaman Budaya dan Teori Politik. Diterjemahkan dari Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory.

Yogjakarta:Penerbit Kanisius.

Porter, T. E.. 1969. MSyafiie, I. Kencana. 2010. Ilmu Politik. Jakarta: Rineka Cipta yth and Modern American Drama. Detroit: Wayne State University.

Roskin, G. Michael. 2006. Political Science An Introduction. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Syafiie, Inu Kencana. 2010. Ilmu Politik. Jakarta: Rineka Cipta.

Tocqueville, Alexis De. 2010. Democracy America. Indiana: Liberty Found, inc.

...2005. Garis Besar Sejarah Amerika Serikat. Departement Luar Negeri Amerika Serikat.

Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought: Pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis. Diterjemahkan oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogjakarta: Jalasutra.

Trisnonigtias, Tri. 2005. Metode Penelitian Masyarakat. Pusat Antar Universitas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia.

Jurnal

Alarian, Hanah M.. 2011. The Melting Pot versus Salad Bowl: American Attitudes Toward Acculturation of Middle Eastern Immigrants. Theses and Disserttions.

Arifianto, Muhhamad Lukman. 2017. Menyoal Konsep Demokrasi Amerika Serikat: Promosi dan Trajektorinya. Jurnal Keamanan nasional Vol III nomor 2.

Badu, Muhhamad Nasir. 2015. Demokrasi dan Amerika Serikat. Jurnal Magister Ilmu Politik Hassanudin. Volume 1 number 1 january 2015.

Mahfouz, Safi Mahmoud. 2013. America’s Melting Pot or The Salad Bowl: The Stage Immigrant’s Dilemma. Journal of Foreign Languanges, Cultures

&Civilizations Vol 1 No 2, December 2013.

Internet

Kenny, Jenifer. America: Melting Pot or Salad Bowl? Or Ethnic Stew?https://www.edhelper.com/ReadingComprehension_54_181.html. diakses 15 April 2018 Pukul 10.47 WIB

Ha, Dieu. 2017. Us Culture: Melting pot or Salad Bowl.http://vovworld.vn/en-US/cultural-rendezvous/us-culure-melting-pot-or-salad-bowl-527052.vov. diakses 15 April 2018 Pukul 10.47 WIB

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Amerika_Serikatdiakses 12 Juni 2018 Pukul 22.01. Wib

United States Department of State http://usinfo.state.gofdiakses 13 Juni 2018 Pukul 12.13 Wib

https://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi#Pengertian_Demokrasi_Menurut_Para_A hli Diakses 13 Juni 2018 Pukul 13.32 Wib

http://vovworld.vn/en-US/cultural-rendezvous/us-culure-melting-pot-or-salad-bowl-527052.vov diakses 15 Juni 2018 Pukul 10.11 Wib

https://en.wikipedia.org/wiki/Multiculturalism diakses 8 Juli 2018 Pukul 13.37 Wib.

Diakses melalui https://safnowandi.wordpress.com/2012/11/15/pembelajaran-berbasis-multikultural/. Diakses 8 Juli 2018 Pukul 14.47 Wib.