BAB II LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR DAN
3. Konsep Sikap
a. Pengertian Sikap
Manusia itu tidak dilahirkan dengan sikap pandangan ataupun sikap perasaan tertentu, tetapi sikap atau attitude tersebut dibentuk sepanjang perkembnagannya. Peranan sikap dalam kehidupan manusia berperan besar, sebab apabila sudah dibentuk pada diri manusia, maka
sikap itu akan turut menentukan tingkah lakunya terhadap objek-objek sikapnya. Adanya sikap menyebabkan bahwa manusia akan bertindak secara khas terhadap objek-objeknya. Pengertian sikap menurut pendapat para ahli psikologi sebagai berikutnya:
a. Menurut Louis Thurstone, Rensis Liket dan Charles Osgood pengertian sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Secara lebih spesifik. Thurstone sendiri memformulasikan sikap sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis.25
b. Menurut Gerung
Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas. Akan tetapi berupa kecenderungan tingkah laku. Jadi sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut.26
c. Menurut Jalaluddin Rakhmat
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir, dan merasa dalam menghadapi objek, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan cara-cara tertentu terhadap objek sikap.27 d. Menurut Thursthoen dalam Walgito
“Sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek”.
e. Berkowitz, dalam Azwa
Menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike),
25
Ikhwan Luthfi,dkk,Psikologi Sosial,(Jakarta: Rineka Cipta 2009).cet ke-1.h.57
26
H. Sunarto, B. Agung Hartono.Perkembangan Peserta Didik, ( Jakarta, Renika Cipta 1999). Cet ke-1.h.170
27
menurut dan melaksanakan atau menjauhi menghindari sesuatu.
Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap adalah kecenderungan, pandangan, pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.
Struktur sikap siswa terhadap konselor (guru) terdiri dari tiga komponen yang terdiri atas:
1. Komponen kognitif
Komponen ini berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, dan keyakinan tentang objek. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap.
2. Komponen afektif
Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap sikap. Perasaan tersebut dapat berupa rasa senang atau tidak senang terhadap objek, rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.. komponen ini menunjukkan ke arah sikap yaitu positif dan negatif. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap, secara umum komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
3. Komponen konatif
Komponen ini merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi, bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. Komponen-komponen tersebut di atas merupakan komponen yang membentuk struktur sikap. Ketiga komponen tersebut saling
berhubungan dan tergantung satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut apabila seseorang menghadapi suatu objek tertentu, maka melalui komponen kognitifnya akan terjadi persepsi pemahaman terhadap objek sikap.
Hasil pemahaman sikap individu mengakui dapat menimbulkan keyakinan-keyakinan tertentu terhadap suatu objek yang dapat berarti atau tidak berarti. Dalam setiap individu akan berkembang komponen afektif yang kemudian akan memberikan emosinya yang mungkin positif dan mungkin negatif. Bila penilaiannya positif akan menimbulkan rasa senang, sedangkan penilaian negatif akan menimbulkan perasaan tidak senang.
Akhirnya berdasarkan penilaian tersebut akan mempengaruhi konasinya, melalui inilah akan mendapat diketahui apakah individu ada kecenderungan bertindak dalam bertingkah laku, baik hanya secara lisan maupun bertingkahlaku secara nyata.
Katz menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi instrumental
Fungsi ini berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sampai sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan. Bila objek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut. Demikian sebaliknya bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap tersebut. Fungsi ini juga disebut fungsi manfaat, yang artinya sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam mencapai tujuan. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian, artinya sikap yang diambil seseorang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap sekitarnya.
2. Fungsi pertahanan ego
Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Sikap diambil seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam dalam keadaan dirinya atau egonya, maka dalam keadaan terdesak sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego.
3. Fungsi ekspresi nilai
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan mengekspresikan diri seseorang akan mendapatkan kepuasan dan dapat menunjukkan keadaan dirinya. Dengan mengambil nilai sikap tertentu, akan dapat menggambarkan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan.
4. Fungsi pengetahuan
Fungsi ini mempunyai arti bahwa setiap individu mempunyai dorongan untuk ingin tahu. Dengan pengalamannya yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu, akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten. Ini berarti bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek, menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut objek sikap yang bersangkutan. Proses timbulnya atau terbentuknya sikap dapat dilihat pada bagan sikap berikut ini: FaktorInternal : Fisiologis, Psikologis,dan Objek Sikap.
FaktorEksterna: Pengalaman,Situasi,Norma-norma, Hambatan,dan Pendorong .
Dari uraian defenisi di atas tentang sikap terdapat adanya kesamaan yang dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap merupakan kecenderungan untuk bereaksi (berprilaku) yang terarahkan kepada suatu hal atau suatu objek yang dapat beerupa benda, ide, orang dan sebagainya. Sikap ini dapat pula bersifat positif, dan dapat pula bersifat negative. Dalam sikap positif, kecenderungan tindakan adalah
mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu. Sedangkan dalam sikap negative terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai objek tertentu.
Sikap memiliki komponen-komponen yang terstruktur yang telah didefinisikan oleh para ahli.
David O. Sear dkk mengatakan sikap terhadap objek, gagasan atau orang tertentu merupakan orientasi yang bersifat menetap dengan komponen-komponen kognitif, afektif, dan prilaku. Komponen kognitif terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu-fakta, pengetahuan, dan keyakinan tentang objek. Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek, terutama penilian. Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk beraksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.28
Definisi sikap di atas merupakan struktur sikap yang terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif. Kothandapani merumuskan ketiga komponen tersebut sebagai komponen” kognitif (kepercayaan), komponen emosional (persaan), dan komponen perilaku (tindakan).”29
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sikap memiliki tiga komponen yang terstruktur yaitu komponen kognitif yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Komponen afektif menyangkut masalaha emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaab yang dimiliki terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Komponen konatif atau komponen perilaku menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilku yang ada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.
28
Sears.O. David, Freedman. L. Jonathan, Peplau. Anne.L, Psikologi Sosial, Edisi ke-2.h.138
29
b. Karakteristik Sikap
Menurut M. Sherif, faktor psikis yang turut menyusun pribadi orang dan telah dirumuskan kedalam lima buah sifat khas dari sikap yaitu:
1. Sikap tidak dibawa orang sejak ia dilahirkan 2. Sikap dapat berubah-berubah
3. Sikap tidak berdiri sendiri
4. Objek sikap tidak hanya satu hal tertentu saja, tetapi juga dapat merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
5. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan.30 Sikap tidak dibawa orang sejak ia dilahirkan, tetapi dibentuk atau dipelajarinya sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat biogenetis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat dan sebagainya.
Sikap dapat berubah-ubah, karena itu sikap dapat dipelajari orang atau sebaliknya, sikap dapat dipelajari sehingga sikap dapat berubah pada seseorang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah berubahnya sikap pada orang itu. Contohnya yaitu seorang yang memiliki penyakit dan dapat sembeh apabila dia memakan daging ular, sedangkan dia tidak menyukai daging ular, tapi untuk cepat sembuh maka dia memakannya.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap
Manusia merupakan makhluk sosial sehingga manusia memiliki sikap sosial yang terbentuk dari adanya interaksi sosial. Dalam interaksi tersebut terjadi hubungan yang saling mempengaruhi diantara indivindu yang satu dengan indivindu yang liannya, terjadi hubungan timbale balik yang turut mempengaruhi pola prilaku masing-masing individu. Individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu
30
Gerungan W.A,Psikologi Sosial, (Jakarta: Refika Aditama, 2004). Edisi 3. Cet ke-1,h.164
terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantaranya faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah:
a. Pengalaman pribadi
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting c. Pengaruh kebudayaan
d. Media massa
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama f. Pengaruh faktor emosional.31
Sikap dapat dibentuk dari pengalman pribadi. Pengalaman pribadi harus meninggalkan kean yang kuat, sehingga apa yang telah terjadi atau yang sedang kita alami akan ikut membentuk ataumempengaruhi penghayatan yang lebih mendalam dan berbekas.
Pengaruh orang lain yang dianggap penting dapat mempengaruhi terbentuknya sikap kita terhadap suatu hal. Diantara orang yang dianggap penting bagi individu adalah orang tua, teman, guru dan lain-lain. Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini diantara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Kebudayaan memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap kita. Kebudayaan memiliki norma-norma yang harus dijunjung tinggi yang akan mempengaruhi sikap kita terhadap berbagai masalah yang dihadapi.
Media massa mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang, sehingga akan mempengaruhi sikap seseorang.
Lembaga pendidikan serta lembaga agama mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, karena meletakkan konsep moral
31
dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk diperoleh dari pendidikan dan ajaran-ajaran agama.
Dari urian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah:
1. Faktor internal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri seseorang seperti pengalaman pribadi dan pengaruh faktor emosional
2. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang berada diluar individu seperti pengaruh kebudayaan, media massa, pengaruh orang lain yang dianggap penting dan lembaga keagamaan.
d. Sikap Siswa Terhadap Pelajaran IPS
Dari definisi di atas dapat diketahui bahawa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak atau berperilaku terhadap suatu objek. Sikap dengan mengambil objeknya adalah pelajaran IPS, maka sikap siswa terhadap pelajaran IPS dapat diketahui dari caranya bereaksi atau merespon terhadap pelajaran IPS dikelas atau diluar kelas. Reaksi sikap siswa baik itu positif mupun negatif terhadap pelajar mata pelajaran tersebut dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.
Sikap merupakan faktor psikologis yang mempengaruhi kegiatan belajar. Dalam hal ini sikap yang menunjang belajar seseorang adalah sikap positif, sikap menerima atau menyukai terhadap mata pelajaran yang akan dipelajari. “Dalam proses belajar sikap berfungsi sebagi“Dynamic Force” yaitu sebagai kekuatan yang menggerakkan orang untuk belajar”.32 Jadi siswa yang sikapnya positif akan digerakkan oleh sikapnya yang positif itu untuk mau belajar, sebaliknya sikap siswa yang negatif tidak akan tergerak untuk mau belajar.
Secara teoritis sikap dapat dibedakan antara sikap positif dan sikap negatif namun perbedaan sikap diantara siswa hanyalah
32
perbedaan dalam kadar atau bobot dari sikap yang mereka miliki terhadap IPS. Sangat sulit untuk mengelompokkan siswa dalam kelompok sikap positif dan sikap negatif, perbedaan sikap siswa hanya ditunjukkan oleh sekor yang diperoleh setiap siswa pada suatu skala yang dirancang untuk penelitian ini.