• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Sikap .1 Pengertian

Dalam dokumen KARYA TULIS ILMIAH SIKAP REMAJA TENTANG (Halaman 27-42)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Sikap .1 Pengertian

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek, sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003: 130)

Menurut New Comb dalam Notoatmodjo (2000: 130), sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan dari motif tertentu. Menurut Krech yang juga dalam Notoatmodjo (2000 : 130), sikap adalah penilaian yang positif atau negative tentang system yang mempengaruhi perasan emosi yang menghubungkan respon terhadap objek sosial.

Sikap itu bersifat sosial dalam arti kita menyesuaikan dengan orang lain dan kelihatannya sikap itu menuntun perilaku kita sehingga kita bertindak sesuai dengan sikap yang kita ekspresikan. Dalam kehidupan sehari-hari sikap merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan sesuatu suatu tindakan atau aktifitas akan merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau

tingkah laku terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Lebih jelas Notoatmodjo (1997) menggambarkan dalam diagram sikap:

Bagan 2.1 Diagram Sikap 2.1.2 Komponen Pokok Sikap

Sikap terbentuk dari 3 komponen (Azwar, 2003: 24) yaitu: 2.1.2.1 Komponen kognitif (cognitive)

Berisi tentang kepercayaan seseorang mengenai hal yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan datang dari apa yang telah seseorang lihat atau apa yang kita ketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat atau apa yang telah kita tahu, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka akan menjadi dasar pengetahuan mengenai apa yang kita dapat diterapkan dari objek tertentu.

Sebagaimana telah dikemukakan, komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai objek sikap. Sebagai misal isu Stimulus / Rangsang Proses

Stimulus Reaksi Tingkah laku (Terbuka) Sikap (Tertutup) 8

mengenai lokalisasi pelacur sebagai objek sikap. Dalam hal ini, komponen kognitif sikap terhadap lokalisasi pelacur adalah apa saja yang dipercayai seseorang mengenai lokalisasi termaksud. Seringkali dalam isu seperti ini, apa yang dipercayai seseorang itu merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah terpolakan dalam pikirannya. Apabila telah terpolakan dalam pikiran bahwa pelacuran akan membawa asosiasi pikiran itu, lepas dari maksud dan tujuan diadakannya lokalisasi. Apapun juga yang menyangkut pelacuran akan membawa arti tidak baik. Kepercayaan dapat terus berkembang, pengalaman pribadi, apa yang dapat diceritakan orang lain dan kebutuhan emosional sendiri merupakan determinan utama dalam terbentuknya kepercayaan.

2.1.2.2 Komponen afektif (affective)

Merupakan perasaan individu yang menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.

2.1.2.3 Komponen perilaku (behaviour atau conative)

Dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada pada seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif dengan tendensi perilaku sebagai komponen 9

konatif seperti itulah, yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.

2.1.3 Fungsi Sikap

Menurut Katz dan Backman (1964) dalam penjelasan Walgito (2003: 111) fungsi sikap antara lain :

2.1.3.1 Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat Fungsi ini adalah berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Fungsi manfaat yaitu sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam rangka pencapaian tujuan, fungsi penyesuaian karana dengan sikap yang diambil oleh seseorang. Orang akan dapat menyesuaikan diri dengan secara baik terhadap sekitarnya

2.1.3.2 Fungsi pertahanan ego

Merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya.

2.1.3.3 Ekspresi nilai

Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. 2.1.3.4 Fungsi pengetahuan

Individu mempunyai dorongan untuk ingin dimengerti dengan pengalaman-pengalaman untuk memperoleh pengetahuan.

2.1.4 Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmodjo (2004: 144) bahwa sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu :

2.1.4.1 Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek)

2.1.4.2 Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

2.1.4.3 Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusi-kan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga

2.1.4.4 Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala risiko, merupakan sikap yang paling tinggi.

2.1.5 Ciri-ciri Sikap

Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu (Walgito, 2003: 113).

2.1.5.1 Sikap bukan dibawa orang sejak dilahirkan

2.1.5.2 Sikap itu dapat selalu berhubungan dengan objek sikap

2.1.5.3 Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek

2.1.5.4 Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar 2.1.5.5 Sikap ini mengandung faktor perasaan dan motivasi 2.1.6 Terbentuknya Sikap

Sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dibentuk sepanjang perkembangan individu yang bersangkutan.

Bagan 2.2 Terbentuknya Sikap

Sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal semuanya akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang. Reaksi yang dapat diberikan individu terhadap obyek sikap dapat bersifat positif tetapi juga dapat bersifat negatif. Obyek sikap akan dipersepsi oleh individu dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan (Walgito, 2003: 115).

Faktor Internal : Fisiologis Psikologis

Sikap Obyek sikap

Faktor eksternal :: Pengetahuan Situasi Norma-norma Hambatan Pendorong Reaksi 12

2.1.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

Menurut pendapat Azwar bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (2003: 30), yaitu:

2.1.7.1 Pengalaman pribadi

Apa yang telah ada dan sedang diamati akan ikut membuat dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial, tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Middle Back (1974) mengatakan tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu obyek cenderung akan membentuk sikap yang negatif. 2.1.7.2 Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita, seperti seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti.

2.1.7.3 Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berarti buah budi atau hasil karya budi manusia (Syaifullah, 2001 : 53). Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena kebudayaan pulalah yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan, mempunyai pengaruh besar terhadap sikap. Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalah.

2.1.7.4 Media massa

Media massa sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti TV, radio, surat kabar, majalah, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.

2.1.7.5 Lembaga pendidikan dan agama

Sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar dan pengertian konsep moral dalam diri individu.

2.1.7.6 Pengaruh faktor emosi

Tidak semua sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang disadari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyuluhan frustasi atau bentuk mekanisme pertahanan ego.

2.1.8 Penilaian Sikap

Menurut Abu Ahmadi serta Brehm Kasrin (1990) dalam Azwar (2003: 34) menyebutkan bahwa penilaian sikap dapat dibedakan atas : 2.1.8.1 Sikap Positif (favorable)

Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan aturan yang berlaku di mana seseorang itu berada. Seseorang yang memiliki sikap positif 14

terhadap suatu obyek maka akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang menguntungkan bagi obyek tersebut.

2.1.8.2 Sikap Negatif (unfavorable)

Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap aturan, sesuatu hal yang berlaku dimana seseorang tersebut berada. Seseorang yang memiliki sikap negatif terhadap suatu obyek tertentu akan timbul suatu kecenderungan untuk mengancam, mencela, melarang, bahkan tidak akan mengindahkan obyek tersebut.

2.1.9 Pengukuran

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu observasi perilaku, penanyaan langsung, pengungkapan langsung, skala sikap dan pengukuran terselubung (Azwar, 2003).

2.1.9.1 Observasi Perilaku

Pengukuran sikap dengan observasi perilaku, dilakukan dengan mengamati perilaku yang dilakukan oleh seseorang dan biasanya dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, sangat masuk akal bila sikap ditafsirkan dari perilaku yang tampak. Dengan kata lain, untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu, dapat kita perlihatkan perilakunya, sebab perilaku adalah salah satu indikator sikap individu.

2.1.9.2 Penanyaan Langsung

Dalam pengukuran penanyaan langsung, sikap seseorang dapat diketahui dengan penanyaan langsung (direct questing) pada yang bersangkutan. Asumsi yang mendasari metode penanyaan langsung guna mengungkapkan sikap pertama adalah asumsi bahwa individu adalah orang yang paling tahu dengan diri sendiri, dan yang kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya. Oleh karena itu dalam metode ini, jawaban yang diberikan oleh mereka yang ditanyai, adalah indikator sikap mereka. Cara pengungkapan sikap dengan penanyaan langsung memiliki keterbatasan dan kelemahan yang mendasar. Metode ini akan menghasilkan ukuran yang valid, hanya apabila situasi dan kondisinya memungkinkan kebebasan berpendapat tanpa tekanan psikologis maupun fisik.

2.1.9.3 Pengungkapan langsung

Pengukuran sikap dengan pengungkapan langsung ada 2 cara, yaitu:

1) Pengungkapan langsung dengan item tunggal

Dalam metode ini, responden diminta menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju atau tidak setuju. Penyajian dan pemberian responnya yang dilakukan secara tertulis memungkinkan individu untuk 16

menyatakan sikap secara lebih jujur, bila tidak perlu menuliskan nama atau identitas.

2) Pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda Salah satu bentuk pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda adalah tekhnik deferensi sematik, yang dirancang untuk mengungkapkan efek atau perasaan yang berkaitan dengan suatu objek sikap.

2.1.9.4 Skala Sikap

Metode pengungkapan sikap dengan self report yang hingga kini dianggap sebagai paling tepat, adalah dengan menggunakan daftar pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh individu terhadap stimulus (pertanyaan) dikelompokkan dalam kategori yaitu : sangat setuju, setuju, entahlah, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Salah satu sifat skala sikap adalah isi pertanyaannya yang dapat berupa pertanyaan langsung yang jelas tujuan ukurnya, akan tetapi juga dapat berupa pernyataan tidak langsung yang tampak kurang jelas tujuan ukurnya bagi responden. Salah satu pengukuran sikap menggunakan skala linkert , yaitu:

Penilaian positif 1) Sangat setuju = 4 2) Setuju = 3 3) Ragu-ragu = 2 4) Tidak setuju = 1 17

5) Sangat tidak setuju = 0 Penilaian negatif 1) Sangat setuju = 0 2) Setuju = 1 3) Ragu-ragu = 2 4) Tidak setuju = 3 5) Sangat tidak setuju = 4

Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus skor T sebagai berikut: S X -X 10 50 T Keterangan : X : Skor responden

X : Mean skor kelompok T : Standar deviasi skor kelompok.

Hasil dari perhitungan yang telah ditetapkan adalah skor T merupakan skala standar yang biasa digunakan dalam skala model linkert untuk menentukan sikap seseorang. Apabila T > mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut sikap negatif.

Adapun interpretasi dari hasil perhitungan data dengan menggunakan skala sebagai berikut:

Seluruhnya dari responden = 100% Hampir seluruhnya dari responden = 76-99% Sebagian besar dari responden = 51-75% Setengahnya dari responden = 50% Hampir setengahnya dari responden = 26-49% Sebagian kecil dari responden = 1-25% Tidak satupun dari responden = 0% (Sugiyono, 2006 : 246)

2.1.9.5 Pengukuran terselubung

Metode pengukuran terselubung sebenarnya berorientasi kembali, dengan metode observasi perilaku yang telah dikemukakan di atas, akan tetapi sebagai objek pengamatan, bukan lagi perilaku tampak yang didasari atau sengaja dilakukan oleh seseorang, melainkan reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi lebih diluar kendali yang bersangkutan . Dalam metode ini sikap seseorang dapat dicerminkan dari pengamatan terhadap reaksi wajah, nada suara dan dari gerak tubuh serta beberapa aspek perilakunya.

2.2 Konsep Remaja 2.2.1. Pengertian

Remaja adalah anak usia10-18 tahun pada jenjang pendidikan dasar atau menengah.

Dalam kegiatan pembelajaran di masyarakat, kita dihadapkan dengan sejumlah karakteristik anak remaja yang beraneka ragam. Ada Remaja yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan namun disisi lain tidak sedikit pula remaja yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar remaja mencakup pengertian yang luas diantaranya : 2.2.1.1 Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana

proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.

2.2.1.2 Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan remaja tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya remaja tersebut tidak menunjukkan adanya gangguan mental atau gangguan psikologis lainnya.

2.2.1.3 Under Achiver mengacu pada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong diatas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

2.2.1.4 Slow Learner atau lambat belajar adalah remaja yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih 20

lama dibandingkan sekelompok remaja yang lain. Mempermudah peranan sosial.

2.2.1.5 Learning Disabilitas atau ketidak mampuan belajar mengacu pada gejala dimana remaja tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar dibawah potensi intelektualnya. 2.2.2 Ukuran kegagalan dan kemajuan remaja

Terdapat empat ukuran dapat menetukan kegagalan atau kemajuan belajar remaja:

2.2.2.1 Tujuan pendidikan

Dalam keseluruhan system pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling penting karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan.

2.2.2.2 Kedudukan dalam kelompok

Kedudukan seseorang remaja dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. remaja dikatakan mengalami kesulitan belajar apabila memperoleh prestasi belajar dibawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan.

2.2.2.3 Perbandingan antara potensi dan prestasi

Potensi belajar yang dicapai seseorang remaja akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula.

2.2.2.4 Kepribadian

Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Remaja dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya (Sulaiman, 2008: 39).

Dalam dokumen KARYA TULIS ILMIAH SIKAP REMAJA TENTANG (Halaman 27-42)

Dokumen terkait