• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH SIKAP REMAJA TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH SIKAP REMAJA TENTANG"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA

KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN

TRENGGALEK

Oleh :

WARTINI

NIP : 19710115 199203 2004

PUSKESMAS BARUHARJO

DINAS KESEHATAN PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TRENGGALEK

(2)

KARYA TULIS ILMIAH

SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA

KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN

TRENGGALEK

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Pengajuan Kenaikan tingkat

Oleh :

WARTINI

NIP : 19710115 199203 2004

PUSKESMAS BARUHARJO

DINAS KESEHATAN PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TRENGGALEK

(3)

2018

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah dengan judul : SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA

MUDA DI DESA KARANGANOM

KECAMATAN DURENAN KABUPATEN TRENGGALEK

Telah disetujui dan disahkan oleh :

Mengetahui,

Menyetujui

Kepala Puskesmas Baruharjo

dr. Sunarto 19740224 200604 1001

(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberinya limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik dan lancar. Sholawat dan salam semoga tetap Allah terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta pengikut setia ajarannya.

Karya Tulis Ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan dalam mengajukan kenaikan tingkat Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Trenggalek .

Penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya terutama kepada yang terhormat :

1. dr. Sunarto, selaku Kepala Puskesmas Baruharjo Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek

2. Bapak Kepala Desa Karanganom Kecamatan Durenan yang telah memberi izin penelitian dan staf-stafnya yang telah memberikan data-data untuk penyusunan karya tulis ini.

3. Semua pihak yang memberikan bantuan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dan kekhilafan pada karya tulis ini maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi kesempurnaan dan perbaikan. Akhirnya, besar harapan penyusun semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Trenggalek, 31 Juli 2018

Penulis

(7)

INTISARI

SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN identik dengan memperlihatkan jati diri mereka ke masyarakat sekitar seperti rasa ingin mencoba, tawuran pelajar, dsb. Hasil studi pendahuluan di Desa Karanganom diketahui pada tahun 2017 terdapat tiga Remaja yang hamil di luar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap Remaja tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

Penelitian dilakukan tanggal 1-10 Juni 2018 di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Jenis penelitian adalah observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan populasi semua Remaja Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek berjumlah 200 orang dan sampel 67 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan teknik stratified proposional random sampling. Analisis data menggunakan Tskor, apabila T ≥ mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut sikap negatif dan diprosentasikan.

Hasil penelitian didapatkan sebagian besar Remaja bersikap negatif tentang hamil usia muda yaitu sejumlah 35 responden (52,24%) dari total 67 responden.

Seseorang yang memiliki sikap negatif cenderung memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap aturan, sesuatu hal yang berlaku dimana seseorang tersebut berada. Hamil usia muda merupakan fenomena yang tidak baik di kalangan remaja.

Kata Kunci: Sikap, Remaja, Hamil Usia Muda

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

KATA PENGANTAR ... iii

INTISARI iv

1.2 Rumusan Masalah ...4

1.3 Tujuan Penelitian ...4

1.4 Manfaat Penelitian ...4

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Sikap ...6

2.2 Konsep Remaja...19

2.3 Konsep Kehamilan Pada Usia Muda ...21

2.4 Kerangka Teori...31

... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ...32

(9)

3.3 Kerangka Kerja ...34

3.4 Populasi, Sampel dan Sampling ...35

3.5 Instrumen Penelitian...38

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ...38

3.7 Pengolahan Data ...38

3.8 Analisa Data ...41

3.9 Etika Penelitian ...41

3.10 Keterbatasan Penelitian ...42

BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian...45

4.2 Pembahasan Penelitian...49

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ...50

5.2 Saran ...50

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(10)

DAFTAR ISI

1.6 Rumusan Masalah ...4

1.7 Tujuan Penelitian ...4

1.8 Manfaat Penelitian ...4

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.5 Konsep Sikap ...6

2.6 Konsep Primipara...16

2.7 Konsep Mobilisasi Dini ...16

2.8 Kerangka Teori...29

... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.11 Desain Penelitian ...30

3.12 Variabel Penelitian ...31

3.13 Kerangka Kerja ...32

3.14 Populasi, Sampel dan Sampling ...34

3.15 Instrumen Penelitian...36

3.16 Lokasi dan Waktu Penelitian ...36

(11)

3.18 Analisa Data ...37 3.19 Etika Penelitian ...42 3.20 Keterbatasan Penelitian ...45

BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil Penelitian...46 4.4 Pembahasan Penelitian...52

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN

5.3 Kesimpulan ...56 5.4 Saran ...56

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB 1 : PENDAHULUAN 1.9 Latar Belakang...1

1.10 Rumusan Masalah ...4

1.11 Tujuan Penelitian ...4

1.12 Manfaat Penelitian ...4

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.9 Konsep Persepsi ...6

2.10 Konsep Nifas...14

2.11 Konsep Perawatan luka pada Perineum ...16

2.12 Kerangka Teori...27

... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.21 Desain Penelitian ...28

3.22 Variabel Penelitian ...28

3.23 Kerangka Kerja ...28

3.24 Populasi, Sampel dan Sampling ...30

3.25 Instrumen Penelitian...33

3.26 Lokasi dan Waktu Penelitian ...33

3.27 Pengolahan Data ...33

(13)

3.29 Etika Penelitian ...38 3.30 Keterbatasan Penelitian ...38

BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.5 Hasil Penelitian...44 4.6 Pembahasan Penelitian...49

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN

5.5 Kesimpulan ...54 5.6 Saran ...54

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ii

KATA PENGANTAR ... iii

INTISARI iv DAFTAR ISI v BAB 1 : PENDAHULUAN 1.13 Latar Belakang...1

1.14 Rumusan Masalah ...4

1.15 Tujuan Penelitian ...4

1.16 Manfaat Penelitian ...4

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.11 Konsep Dasar Motivasi...6

2.12 Konsep Dasar Kehamilan...15

2.13 Konsep ANC...15

2.14 Kerangka Teori...25

... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.31 Desain Penelitian ...26

3.32 Variabel Penelitian ...26

3.33 Kerangka Kerja ...27

3.34 Populasi, Sampel dan Sampling ...29

3.35 Instrumen Penelitian...29

(15)

3.37 Pengolahan Data ...30

3.38 Analisa Data ...31

3.39 Etika Penelitian ...36

3.40 Keterbatasan Penelitian ...37

BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.7 Hasil Penelitian...38

4.8 Pembahasan Penelitian...44

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN 5.7 Kesimpulan ...47

5.8 Saran ...47

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(16)

i ii iii iv v vi vii viii ix x

i ii iii iv v vi vii viii ix x

i ii iii iv v vi vii viii ix x

i ii iii iv v vi vii viii ix x

Nopember

(17)
(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Remaja Tentang Hamil Usia Muda ... 33 Tabel 3.2 Pembagian Sampel Tiap RT ... 37 Tabel 4.1 Sikap Responden Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom

Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018... 46

(19)

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Diagram Sikap ... 7

Bagan 2.2 Terbentuknya Sikap ... 11

Bagan 2.3 Kerangka Teori Remaja Tentang Hamil Usia Muda ... 31

Bagan3.3 Kerangka Kerja Sikap Remaja Putri Tentang Hamil Usia Muda ... 34

(20)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Pernah atau Tidak Pernah

mendapat informasi di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek... 46

Diagram 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek...47

(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian

Lampiran 2 Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 3 Lembar Persetujuan Menjadi Responden (Informed Consent)

Lampiran 4 Kisi-Kisi Kuesioner Lampiran 5 Lembar Kuesioner

Lampiran 6 Data Umum dan Data Khusus Penelitian

(22)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Remaja (15-17 th) merupakan masa peralihan dari anak-anak ke dewasa,

bukan hanya dalam arti psikis, tetapi juga fisik. Bahkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja (Sarwono, 2007: 124). Fase remaja merupakan segmen perkembangan

individu yang sangat penting yang dialami dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Salzman mengemukakan bahwa remaja

merupakan masa perkembangan sikap tergantung atau dependence terhadap orang tua ke arah kemandirian atau independence, minat-minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral

(Syamsu, 2006). Remaja identik dengan memperlihatkan jati diri mereka ke masyarakat sekitar seperti rasa ingin mencoba,tawuran pelajar, dsb. Hal ini

terlihat pada kenakalan remaja,salah satunya hamil di usia muda. Bahkan masalah ini sudah dianggap wajar oleh kalangan remaja itu sendiri.

Sebuah survey di beberapa negara maju menunjukkan bahwa 46% remaja

putri (usia 15-16 th) di Liberia sudah hamil di luar nikah. Di Amerika Serikat adalah 46% untuk remaja putri (usia 15-17 th) yang pernah hamil di luar nikah

(23)

Dan di tahun 2016 jumlah ibu hamil di Indonesia mencapai 4.842.871 jiwa, di Jawa Timur sebesar 690.282, dan di kabupaten Trenggalek sebesar 19.279 jiwa dari total penduduk Indonesia 234.181.400 jiwa. Jumlah yang besar ini

merupakan sumber daya manusia yang potensial bila dipersiapkan sejak dini. Hal ini karena remaja akan menghadapi banyak permasalahan yang bukan tidak

mungkin akan mengganggu perkembangan fisik maupun psikologis mereka selanjutnya. Diantara persoalan yang banyak dihadapi oleh remaja adalah persoalan kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi sendiri dapat diartikan

sebagai suatu kondisi sehat yang bukan saja berarti bebas dari penyakit atau kecacatan, namun lebih daripada itu sehat termasuk secara mental dan sosial

berkaitan dengan sistem fungsi dan proses reproduksi. Penyebab dari hamil usia muda pada remaja antara lain perilaku remaja cenderung belum matang, dorongan seks juga belum matang, dorongan teman dekat atau pacar, rasa ingin

mencoba, tontonan goyang ngebor, acara tv, iklan produk, rubrikasi media, penjualan VCD porno, merebahnya berbagai tempat hiburan, kurangnya

informasi tentang seks, pengaruh lingkungan sekitar, terjepit masalah ekonomi. Sikap merupakan penilaian seseorang terhadap stimulus atau obyek (masalah kesehatan) yang dimaksud dengan baik, oleh karena itu untuk sikap

kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan (Azwar, 2003: 7). Sikap remaja putri tentang hamil usia muda dilatarbelakangi oleh pengetahuan remaja

putri tentang hamil usia muda. Semakin tinggi pengetahuan remaja putri tentang hamil usia muda, maka akan memunculkan sikap tidak menyetujui terhadap hamil usia muda.

(24)

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Desa Karanganom kecamatan Durenan tahun 2017 terdapat tiga Remaja putri yang hamil di luar nikah. dan menurut pandangan sebagian remaja putri dari 200 remaja putri dalam bahasa

penulis dapat dijelaskan bahwa pendidikan seks pada remaja sangat diperlukan, karena masih sangat kurang informasi tentang seks dan hampir sebagian besar

remaja putri di Desa ini mendapat informasi seks hanya dari media-media yang cenderung tidak mendidik seperti internet, koran, VCD dan lain sebagainya. Pendidikan seks yang diharapkan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi adanya

kehamilan diluar nikah ataupun akibat buruk dari adanya free seks.

Untuk itu penting bagi para remaja dalam menyikapi hamil usia muda. Saat

dilakukan penyuluhan, remaja akan mendapatkan konseling tentang kehamilan usia muda oleh tenaga kesehatan. Dari konseling tersebut, remaja akan lebih bijaksana dalam menyikapi hamil usia muda sehingga remaja putri akan lebih

mengerti dalam menghadapi dan menyikapi hamil usia muda.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian mengenai sikap remaja putri tentang hamil usia muda dengan merumuskan dalam judul penelitian "Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek".

(25)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah, maka penelitian yang akan dilakukan dapat dirumuskan “Bagaimanakah sikap remaja

tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek?”.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap Remaja tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan wawasan sikap bagi Remaja tentang hamil usia muda.

1.4.2 Bagi institusi tempat Kerja

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran

ilmiah dan tambahan kepustakaan yang sudah ada sehingga dapat dimanfaatkan oleh karyawan karyawati yang akan datang dalam proses pendidikan kesehatan di masyarakat.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk penyuluhan tentang pelayanan pada remaja khususnya

tentang hamil usia muda.

(26)

1.4.3 Bagi lokasi penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan wacana bagi masyarakat Desa Karanganom kecamatan Durenan Kabupaten

Trenggalek.

(27)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Sikap 2.1.1 Pengertian

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulus atau objek, sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003: 130)

Menurut New Comb dalam Notoatmodjo (2000: 130), sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan

merupakan pelaksanaan dari motif tertentu. Menurut Krech yang juga dalam Notoatmodjo (2000 : 130), sikap adalah penilaian yang positif atau negative tentang system yang mempengaruhi perasan emosi yang

menghubungkan respon terhadap objek sosial.

Sikap itu bersifat sosial dalam arti kita menyesuaikan dengan orang

lain dan kelihatannya sikap itu menuntun perilaku kita sehingga kita bertindak sesuai dengan sikap yang kita ekspresikan. Dalam kehidupan sehari-hari sikap merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap

stimulus sosial. Sikap belum merupakan sesuatu suatu tindakan atau aktifitas akan merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap itu

masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau

(28)

tingkah laku terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Lebih jelas Notoatmodjo (1997) menggambarkan dalam diagram sikap:

Bagan 2.1 Diagram Sikap

2.1.2 Komponen Pokok Sikap

Sikap terbentuk dari 3 komponen (Azwar, 2003: 24) yaitu:

2.1.2.1 Komponen kognitif (cognitive)

Berisi tentang kepercayaan seseorang mengenai hal yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan datang dari

apa yang telah seseorang lihat atau apa yang kita ketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat atau apa yang telah kita tahu,

kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka akan menjadi dasar pengetahuan mengenai apa yang kita

dapat diterapkan dari objek tertentu.

Sebagaimana telah dikemukakan, komponen kognitif berisi

kepercayaan seseorang mengenai objek sikap. Sebagai misal isu Stimulus / Rangsang Proses

(29)

mengenai lokalisasi pelacur sebagai objek sikap. Dalam hal ini, komponen kognitif sikap terhadap lokalisasi pelacur adalah apa saja yang dipercayai seseorang mengenai lokalisasi termaksud.

Seringkali dalam isu seperti ini, apa yang dipercayai seseorang itu merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah terpolakan dalam

pikirannya. Apabila telah terpolakan dalam pikiran bahwa pelacuran akan membawa asosiasi pikiran itu, lepas dari maksud dan tujuan diadakannya lokalisasi. Apapun juga yang menyangkut

pelacuran akan membawa arti tidak baik. Kepercayaan dapat terus berkembang, pengalaman pribadi, apa yang dapat diceritakan

orang lain dan kebutuhan emosional sendiri merupakan determinan utama dalam terbentuknya kepercayaan.

2.1.2.2 Komponen afektif (affective)

Merupakan perasaan individu yang menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara

umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.

2.1.2.3 Komponen perilaku (behaviour atau conative)

Dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada pada seseorang berkaitan

(30)

konatif seperti itulah, yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.

2.1.3 Fungsi Sikap

Menurut Katz dan Backman (1964) dalam penjelasan Walgito

(2003: 111) fungsi sikap antara lain :

2.1.3.1 Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat Fungsi ini adalah berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap

merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Fungsi manfaat yaitu sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam rangka

pencapaian tujuan, fungsi penyesuaian karana dengan sikap yang diambil oleh seseorang. Orang akan dapat menyesuaikan diri dengan secara baik terhadap sekitarnya

2.1.3.2 Fungsi pertahanan ego

Merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk

mempertahankan ego atau akunya. 2.1.3.3 Ekspresi nilai

Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi

individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. 2.1.3.4 Fungsi pengetahuan

Individu mempunyai dorongan untuk ingin dimengerti dengan pengalaman-pengalaman untuk memperoleh pengetahuan.

(31)

2.1.4 Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmodjo (2004: 144) bahwa sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu :

2.1.4.1 Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek) 2.1.4.2 Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

2.1.4.3 Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusi-kan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga

2.1.4.4 Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan

segala risiko, merupakan sikap yang paling tinggi. 2.1.5 Ciri-ciri Sikap

Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat

mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu (Walgito, 2003: 113).

2.1.5.1 Sikap bukan dibawa orang sejak dilahirkan

2.1.5.2 Sikap itu dapat selalu berhubungan dengan objek sikap

(32)

2.1.5.3 Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek

2.1.5.4 Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar

2.1.5.5 Sikap ini mengandung faktor perasaan dan motivasi 2.1.6 Terbentuknya Sikap

Sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dibentuk sepanjang perkembangan individu yang bersangkutan.

Bagan 2.2 Terbentuknya Sikap

Sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor

internal dan eksternal semuanya akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang. Reaksi yang dapat diberikan individu terhadap obyek

sikap dapat bersifat positif tetapi juga dapat bersifat negatif. Obyek sikap akan dipersepsi oleh individu dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan (Walgito, 2003: 115).

(33)

2.1.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

Menurut pendapat Azwar bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (2003: 30), yaitu:

2.1.7.1 Pengalaman pribadi

Apa yang telah ada dan sedang diamati akan ikut membuat dan

mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial, tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Middle Back (1974) mengatakan tidak adanya pengalaman sama sekali dengan

suatu obyek cenderung akan membentuk sikap yang negatif. 2.1.7.2 Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita, seperti seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang tidak ingin

kita kecewakan atau seseorang yang berarti. 2.1.7.3 Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berarti buah budi atau hasil karya budi manusia (Syaifullah, 2001 : 53). Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena

kebudayaan pulalah yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya.

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan, mempunyai pengaruh besar terhadap sikap. Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalah.

(34)

2.1.7.4 Media massa

Media massa sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti TV, radio, surat kabar, majalah, mempunyai

pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.

2.1.7.5 Lembaga pendidikan dan agama

Sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar dan pengertian

konsep moral dalam diri individu. 2.1.7.6 Pengaruh faktor emosi

Tidak semua sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang disadari oleh emosi yang berfungsi

sebagai semacam penyuluhan frustasi atau bentuk mekanisme pertahanan ego.

2.1.8 Penilaian Sikap

Menurut Abu Ahmadi serta Brehm Kasrin (1990) dalam Azwar (2003: 34) menyebutkan bahwa penilaian sikap dapat dibedakan atas :

2.1.8.1 Sikap Positif (favorable)

Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima,

(35)

terhadap suatu obyek maka akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang menguntungkan bagi obyek tersebut.

2.1.8.2 Sikap Negatif (unfavorable)

Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap aturan, sesuatu hal yang berlaku

dimana seseorang tersebut berada. Seseorang yang memiliki sikap negatif terhadap suatu obyek tertentu akan timbul suatu kecenderungan untuk mengancam, mencela, melarang, bahkan

tidak akan mengindahkan obyek tersebut. 2.1.9 Pengukuran

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu observasi perilaku, penanyaan langsung, pengungkapan langsung, skala sikap dan pengukuran terselubung (Azwar, 2003).

2.1.9.1 Observasi Perilaku

Pengukuran sikap dengan observasi perilaku, dilakukan dengan

mengamati perilaku yang dilakukan oleh seseorang dan biasanya dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, sangat masuk akal bila sikap ditafsirkan dari perilaku yang tampak. Dengan kata lain,

untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu, dapat kita perlihatkan perilakunya, sebab perilaku adalah salah satu indikator

sikap individu.

(36)

2.1.9.2 Penanyaan Langsung

Dalam pengukuran penanyaan langsung, sikap seseorang dapat diketahui dengan penanyaan langsung (direct questing) pada yang

bersangkutan. Asumsi yang mendasari metode penanyaan langsung guna mengungkapkan sikap pertama adalah asumsi bahwa individu

adalah orang yang paling tahu dengan diri sendiri, dan yang kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya. Oleh karena

itu dalam metode ini, jawaban yang diberikan oleh mereka yang ditanyai, adalah indikator sikap mereka. Cara pengungkapan sikap

dengan penanyaan langsung memiliki keterbatasan dan kelemahan yang mendasar. Metode ini akan menghasilkan ukuran yang valid, hanya apabila situasi dan kondisinya memungkinkan kebebasan

berpendapat tanpa tekanan psikologis maupun fisik. 2.1.9.3 Pengungkapan langsung

Pengukuran sikap dengan pengungkapan langsung ada 2 cara, yaitu:

1) Pengungkapan langsung dengan item tunggal

Dalam metode ini, responden diminta menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju

(37)

menyatakan sikap secara lebih jujur, bila tidak perlu menuliskan nama atau identitas.

2) Pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda

Salah satu bentuk pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda adalah tekhnik deferensi sematik,

yang dirancang untuk mengungkapkan efek atau perasaan yang berkaitan dengan suatu objek sikap.

2.1.9.4 Skala Sikap

Metode pengungkapan sikap dengan self report yang hingga kini dianggap sebagai paling tepat, adalah dengan menggunakan daftar

pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh individu terhadap stimulus (pertanyaan) dikelompokkan dalam kategori yaitu : sangat setuju, setuju, entahlah, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Salah

satu sifat skala sikap adalah isi pertanyaannya yang dapat berupa pertanyaan langsung yang jelas tujuan ukurnya, akan tetapi juga

dapat berupa pernyataan tidak langsung yang tampak kurang jelas tujuan ukurnya bagi responden. Salah satu pengukuran sikap menggunakan skala linkert , yaitu:

(38)

5) Sangat tidak setuju = 0

Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus skor T sebagai

berikut: T : Standar deviasi skor kelompok.

Hasil dari perhitungan yang telah ditetapkan adalah skor T merupakan skala standar yang biasa digunakan dalam skala model

linkert untuk menentukan sikap seseorang. Apabila T > mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut

sikap negatif.

Adapun interpretasi dari hasil perhitungan data dengan menggunakan skala sebagai berikut:

(39)

Seluruhnya dari responden = 100% Hampir seluruhnya dari responden = 76-99% Sebagian besar dari responden = 51-75%

Setengahnya dari responden = 50% Hampir setengahnya dari responden = 26-49%

Sebagian kecil dari responden = 1-25% Tidak satupun dari responden = 0% (Sugiyono, 2006 : 246)

2.1.9.5 Pengukuran terselubung

Metode pengukuran terselubung sebenarnya berorientasi kembali,

dengan metode observasi perilaku yang telah dikemukakan di atas, akan tetapi sebagai objek pengamatan, bukan lagi perilaku tampak yang didasari atau sengaja dilakukan oleh seseorang,

melainkan reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi lebih diluar kendali yang bersangkutan . Dalam metode ini sikap seseorang dapat

dicerminkan dari pengamatan terhadap reaksi wajah, nada suara dan dari gerak tubuh serta beberapa aspek perilakunya.

(40)

2.2 Konsep Remaja 2.2.1. Pengertian

Remaja adalah anak usia10-18 tahun pada jenjang pendidikan dasar

atau menengah.

Dalam kegiatan pembelajaran di masyarakat, kita dihadapkan

dengan sejumlah karakteristik anak remaja yang beraneka ragam. Ada Remaja yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan namun disisi lain tidak sedikit pula

remaja yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar remaja mencakup pengertian yang luas diantaranya :

2.2.1.1 Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah

dari potensi yang dimilikinya.

2.2.1.2 Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar

yang dilakukan remaja tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya remaja tersebut tidak menunjukkan adanya gangguan mental atau gangguan psikologis lainnya.

2.2.1.3 Under Achiver mengacu pada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong diatas normal, tetapi

prestasi belajarnya tergolong rendah.

(41)

lama dibandingkan sekelompok remaja yang lain. Mempermudah peranan sosial.

2.2.1.5 Learning Disabilitas atau ketidak mampuan belajar mengacu pada

gejala dimana remaja tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar dibawah potensi intelektualnya.

2.2.2 Ukuran kegagalan dan kemajuan remaja

Terdapat empat ukuran dapat menetukan kegagalan atau kemajuan belajar remaja:

2.2.2.1 Tujuan pendidikan

Dalam keseluruhan system pendidikan merupakan salah satu

komponen pendidikan yang paling penting karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan.

2.2.2.2 Kedudukan dalam kelompok

Kedudukan seseorang remaja dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. remaja dikatakan

mengalami kesulitan belajar apabila memperoleh prestasi belajar dibawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan.

2.2.2.3 Perbandingan antara potensi dan prestasi

Potensi belajar yang dicapai seseorang remaja akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat.

Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula.

(42)

2.2.2.4 Kepribadian

Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan

perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu,

sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Remaja dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya

(Sulaiman, 2008: 39).

2.3 Konsep Hamil Usia Muda

Menurut Guyton (2001), hamil adalah rangkaian peristiwa yang baru

terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm. Sedangkan Kushartanti (2004) menjelaskan bahwa hamil adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma

(Kushartanti, 2004). Hanifa (2000) mennyebutkan bahwa masa kehamilan dimulai dan konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280

hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terahir. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik, kesiapan

(43)

tubuhnya, yaitu sekitar usia 20 tahun, ketika tubuhnya berhenti tumbuh. Sehingga usia 20 tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik (WHO, 2005).

Sedangkan yang dimaksud dengan kesiapan mental adalah saat dimana

seorang perempuan dan pasangannya merasa telah ingin mempunyai anak dan merasa telah siap menjadi orang tua termasuk mengasuh dan mendidik anaknya.

Secara ideal jika seorang bayi dilahirkan maka ia akan membutuhkan tidak hanya kasih sayang orang tuanya, tetapi juga sarana yang membuatnya bisa tumbuh dan berkembang. Bayi membutuhkan tempat tinggal yang tetap. Karena itu remaja

dikatakan siap jika ia bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian, makan-minum, tempat tinggal dan kebutuhan pendidikan bagi anaknya. Dalam hal ini

meskipun seorang remaja perempuan telah melampaui usia 20 tahun tetapi ia dan pasangannya belum mampu memenuhi kebutuhan sandang pangan dan tempat tinggal bagi keluarganya, maka ia belum dapat dikatakan siap untuk hamil dan

melahirkan. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang oleh karena suatu sebab yang keberadaannya tidak diinginkan atau diharapkan oleh

salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut (Soetjiningsih, 2004). 2.3.1. Penyebab Hamil Usia Muda

Hamil usia muda terjadi terkadang tidak atas kehendak dari remaja.

Adapun penyebab dari kehamilan yang tidak dikehendaki tersebut antara lain:

(44)

pengamalan agama yang konsisten. Hal ini bisa terjadi pada remaja yang belum menikah maupun yang telah menikah. Kehamilan tidak diinginkan (KTD) akan semakin memberatkan

remaja perempuan jika pasangannya tidak bertanggung jawab atas kehamilan yang terjadi. Cara pencegahan kehamilan pranikah

yang paling tepat dan ampuh 100% adalah tidak melakukan hubungan seks (abstinensia) yaitu dengan menolak ajakan berhubungan seks sebelum menikah.

2.3.1.2. Kehamilan yang tidak diinginkan bisa terjadi akibat tindak perkosaan. Dalam hal ini meskipun remaja putri memiliki

pengetahuan yang cukup, tetapi ia tidak bisa menghindarkan diri dari tindakan seksual yang dipaksakan terhadapnya, sehingga bisa dipahami jika ia tidak menginginkan kehamilannya.

2.3.1.3. Kehamilan yang tidak diinginkan bisa terjadi pada remaja yang telah menikah dan telah menggunakan cara pencegahan

kehamilan tetapi tidak berhasil (kegagalan alat kontrasepsi)

Sementara itu penyebab remaja hamil di usia muda secara lebih luas dapat disebutkan sebagai berikut :

1) Perilaku remaja cenderung belum matang 2) Dorongan seks juga belum matang

3) Dorongan teman-teman atau sang pacar 4) Rasa ingin coba-coba

(45)

5) Tontonan goyang ngebor, acara tv, iklan produk, rubrikasi media, penjualan vcd porno, merebaknya berbagai jenis hiburan

6) Kurangnya informasi tentang seks 7) Pengaruh lingkungan sekitar

8) Terjepit permasalahan ekonomi

9) Mudahnya mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel, cottage, vila, alat kontrasepsi

10) Kesibukan orang tua

11) Berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama

12) Belum adanya pendidikan seks di sekolah (Pekey, 2007) 2.3.2. Akibat Hamil Usia Muda

Akibat yang terjadi jika remaja menikah/hamil pada usia sangat

muda (di bawah 20 tahun) adalah remaja dimungkinkan untuk menikah pada usia dibawah 20 tahun sesuai dengan Undang-undang Perkawinan

No. I tahun 1979 bahwa usia minimal menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi laki-laki 18 tahun. Tetapi tetap perlu diingat ketiga kesiapan di atas, karena perempuan yang belum mencapai usia 20 tahun

sedang berada di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan fisik. Karena tubuhnya belum berkembang secara maksimal maka perlu

dipertimbang-kan hambatan / kerugian antara lain :

(46)

2.3.2.1. Ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilannya termasuk kontrol kehamilan. Ini berdampak pada meningkatnya berbagai resiko kehamilan.

2.3.2.2. Ibu muda pada waktu hamil sering mengalami ketidakteraturan tekanan darah yang dapat berdampak pada keracunan kehamilan

serta kekejangan yang berkibat pada kematian

2.3.2.3. Penelitian juga memperlihatkan bahwa kehamilan usia muda (dibawah 20 tahun) sering kali berkaitan dengan munculnya

kanker rahim. Ini erat kaitannya dengan belum sempurnanya perkembangan dinding rahim.

2.3.2.4. Kanker leher rahim. Pada masa remaja maturitas sel-sel epitel mulut rahim belum cukup sehingga adanya rangsangan seksual akan memacu keganasan leher rahim. Beberapa faktor risiko

terjadinya kanker leher rahim adalah kawin usia muda, gonta-ganti pasangan seksual dan kebersihan seksual yang kurang.

2.3.2.5. Perceraian pasangan keluarga muda 2.3.2.6. Rendahnya mental remaja

Kualitas mentalitas remaja perempuan dan laki-laki yang terlibat

penyimpangan perilaku seksual akan rendah, bahkan cenderung memburuk. Mereka tidak memiliki etos kerja dan disiplin tinggi,

karena dibayangi masa lalunya. Cepat menyerah pada nasib (subnisif), tidak sanggup menghadapi tantangan dan ancaman hidup, rendah diri serta tidak sanggup berkompetisi.

(47)

2.3.2.7. Kualitas kesehatan reproduksi. Hal ini erat kaitannya dengan dampak medis karena kondisi fisik perempuan khususnya. Sedangkan laki-laki akan memiliki kualitas kesehatan yang

rendah.

2.3.2.8. Kualitas keberfungsian keluarga. Seandainya mereka menikah

dengan cara terpaksa, akan mengakibatkan kurang difahaminya peran-peran baru yang disandangnya dalam membentuk keluarga yang sakinah.

2.3.2.9. Kualitas ekonomi keluarga. Kualitas ekonomi yang dibangun oleh keluarga yang menikah karena terpaksa, tidak akan memiliki

kesiapan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.

2.3.2.10.Kualitas pendidikan. Remaja yang terlibat penyimpangan perilaku seksual, kemudian menikah, tentunya akan memiliki keterbatasan

akses terhadap pendidikan formal.

2.3.2.11.Kualitas partisipasi dalam pembangunan. Karena kondisi fisik,

mental dan sosial yang kurang baik, remaja yang terlibat penyimpangan perilaku seksual, tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan (Endif, 2007).

2.3.3. Upaya Mencegah timbulnya Hamil usia muda.

2.3.3.1 Tindakan preventif dapat dilakukan dengan cara internal dan

eksternal

Secara internal, artinya mengupayakan melakukan pencegahan oleh diri remaja itu sendiri, antara lain dengan cara:

(48)

1) Meningkatkan keimanan dan ketakawaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

2) Mengupayakan mengenal diri

3) Menanamkan kepercayaan pada diri dengan cara mengidentifi-kasi minat, bakat, potensi, dan menyalurkannya pada aktivitas

positif dalam mengisi waktu luang

4) Mengidentifikasikan diri dengan lingkungan pergaulan yang positif dan produktif

5) Menyaring berbagai informasi yang masuk dan belajar disiplin. Pencegahan eksternal adalah pencegahan yang dilakukan

oleh pihak di luar diri remaja, antara lain oleh : 1) Orang tua

Dalam hal ini orang tua atau orang tua pengganti hendaknya

mempelajari perkembangan psikis remaja dan memahami konsep diri remaja, melalui komunikasi dua arah. Orang tua

pun harus berupaya memberikan perhatian dan kasih-sayang yang tercurah melalui komunikasi dua arah dengan cara persuasif, memperlakukan remaja sebagai "sahabat" di rumah.

Orang tua menanamkan disiplin yang terkendali dan melaksanakan fungsi keluarga semaksimal mungkin. Orang tua

(49)

latihan penyaluran kreativitas dan melaksanakan pembinaan psikososial edukatif.

2) Lingkungan permainan (masyarakat)

3) Lembaga pendidikan/sekolah dan lembaga-lembaga lainnya. Survei oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan,

pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.

Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai

kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik

terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.

Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di

Indonesia masih mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah. Sekalipun untuk tujuan

pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya,

(50)

jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan "kemarahan" orang tua.

Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan

mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Sebab itu, pendidikan seks

hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang

salah (Tedy, 2003). 2.3.3.2 Tindakan preservatif

Dalam langkah ini, orang-tua dan masyarakat berupaya memotivasi anak remaja dengan cara mempertahankan dan mengembangkan kondisi-kondisi yang positif yang telah dimiliki

remaja atau yang telah dilakukan remaja. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan prasarana dan sarana yang dibutuhkan

remaja.

2.3.3.3 Tindakan rehabilitatif

Di sini, orang tua, keluarga dan masyarakat secara proaktif

mengidentifikasi kondisi remaja di lingkungannya, dengan cara: 1) Menyelidiki apakah remaja itu tergolong berperilaku sehat

secara sosial-psikologis.

(51)

2) Latar belakang apa yang menyebabkan remaja berperilaku menyimpang, apakah faktor lingkungan keluarga, sekolah, teman, atau lainnya.

3) Tumbuhkan motivasi bahwa remaja memiliki psikis yang sehat serta memotivasinya untuk menghadapi kehidupan masa

mendatang.

4) Salurkan remaja terhadap pelatihan keterampilan dan kembangkan pengetahuan serta tanamkan mental untuk dapat

mandiri, bertanggung jawab, dan aktif kreatif. 2.3.3.4 Tindakan korektif

Dalam hal ini, orang tua memberikan penanganan yang efektif dan tepat atas gangguan yang dialami remaja. Misalnya dengan memberikan terapi, baik psikologis, spiritual dan medis, maupun

secara sosial-psikologis (Iriany, 2007).

(52)

2.4 Kerangka Teori

Kerangka teori adalah kesimpulan dari tinjauan pustaka yang berisi tentang konsep-konsep teori yang dipergunakan/berhubungan dengan penelitian

yang akan dilaksanakan (Suparyanto.blogspot.com, 2009)

belum matang

Bagan 2.3 Kerangka Teori Penelitian Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap:

1. Pengalaman pribadi 2. Pengaruh orang lain yang

dianggap penting 3. Kebudayaan 4. Media massa

5. Lembaga pendidikan dan agama

(53)

BAB 3

METODE PENELITIAN

Penelitian merupakan suatu rangkaian proses yang terkait secara sistematis dan terdiri dari berbagai tahapan metodologis.

3.1Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional, peneliti hanya melakukan pengamatan tanpa memberikan suatu perlakuan.

Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan untuk mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin

timbul selama proses penelitian (Nursalam, 2003 : 85). Pada penelitian ini menggunakan desain deskriptif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan

secara obyektif. Metode ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan

menempuh langkah-langkah pengumpulan data, membuat kesimpulan dan laporan (Notoadmodjo, 2002 : 138).

3.2Variabel Penelitian 3.2.1 Identifikasi Variabel

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimilki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu

konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005: 138). Variabel dalam

(54)

penelitian ini adalah sikap siswi tentang hamil usia muda.Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang

diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2003: 106) Tabel 3.1 Definisi Operasional Sikap remaja tentang Hamil Usia Muda

(55)

Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian yang berbentuk kerangka hingga analisis datanya, (Alimul, 2003).

Bagan 3.1. Kerangka Kerja Sikap Remaja tentang Hamil Usia Muda Populasi

Semua remaja di Desa Karanganom Trenggalek

Menentukan instrument penelitian (kuesioner)

Pengolahan Data

Hasil Sampling

Stratified Random Sampling

Pengumpulan Data Sampel

Kriteria inklusi/eksklusi

(56)

3.3Populasi, Sampel dan Sampling

3.3.1 Populasi

Populasi adalah objek penelitian atau objek yang akan diteliti,

(Notoatmodjo, 2005).

Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh siswi kelas XI di

SMA Negeri 1 Gondang kabupaten Tulungagung yang berjumlah 200 siswi. 3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek yang

akan diteliti dan di anggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005: 64). Pada penelitian ini sampelnya adalah sebagian Remaja di Desa

Karanganom yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Dalam penentuan sampel ini peneliti menggunakan kriteria sebagai berikut :

3.3.2.1 Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari

suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003: 96). Yang termasuk kriteria inklusi adalah Remaja yang bersedia menjadi responden.

3.3.2.2 Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluar-kan

subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2003: 97). Yang termasuk kriteria eksklusi adalah Remaja yang sedang sakit pada saat penelitian.

(57)

3.3.3 Sampling

Sampling merupakan suatu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian (Alimul, 2003).

Pada penelitian ini pengambilan sampel secara stratified random sampling yaitu cara pengambilan elemen-elemen dari populasi berstrata

sedemikian sehingga setiap elemen mendapat kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi anggota sampel (Marzuki, 2001: 43).

Besar sampel dalam penelitian ini ditetukan dengan menggunakan

rumus sebagai berikut: n = N

1 + N (d Keterangan : n = jumlah sampel

N = jumlah populasi d = tingkat signifikasi (0,1)

(Nursalam, 2003 : 96)

(58)

Jumlah sampel yang diperlukan yaitu:

Penentuan besar sampel tiap RT yaitu :

Jumlah Populasi RT x Sampel Jumlah Populasi Sekolah

Tabel 3.2 Pembagian Sampel Tiap RT

Remaja Jumlah Total Populasi Sampel Yang Diambil

(59)

3.4Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari

responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui, (Arikunto, 2006: 130).

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Arikunto, 2006: 130).

3.5Lokasi dan Waktu Penelitian 3.5.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Karanganom Durenan Trenggalek. 3.5.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada 1-11 Juni 2018.

3.6Pengolahan Data

Setelah mendapatkan ijin dari Kepala Puskesmas Baruharjo dan Kepala

Desa Karanganom, peneliti mengadakan pendekatan dengan responden untuk mendapatkan persetujuan dari responden sebagai subjek penelitian, yaitu Remaja di Desa Karanganom,Durenan Trenggalek. Cara pengambilan data dengan

menggunakan kuesioner.

Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

3.6.1 Editing

(60)

Editing adalah mengkaji atau meneliti kembali data yang telah terkumpul apakah sudah dapat dipersiapkan untuk proses berikutnya, mencakup;

3.6.1.1 Mengecek nama dan kelengkapan identitas

Mengecek kelengkapan data apabila ternyata ada kekurangan isi

atau halaman maka perlu dikembalikan ke responden untuk dilengkapi.

3.6.1.2 Mengecek macam-macam isian data

Jika dalam instrumen terdapat beberapa item yang diisi "tidak tahu" atau isian lain yang tidak dikehendaki peneliti, padahal isian

yang diharapkan tersebut merupakan variabel pokok, maka item tersebut perlu di drop (keluarkan) (Arikunto, 2006: 235-236) 3.6.2 Coding

Adalah mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut kriteria tertentu. Klasifikasi pada umumnya ditandai dengan kode tertentu yang

biasanya berupa angka, (Nasir, 2005). Adapun pengkodeannya adalah: 3.6.2.1 Informasi

Kode 1 = Pernah mendapat informasi

Kode 2 = Belum pernah mendapat informasi 3.6.2.2 Sumber Informasi

Kode 1 = Dari teman Kode 2 = Dari keluarga Kode 3 = Media massa

(61)

Kode 4 = Dari petugas kesehatan Kode 5 = Dari Guru

3.6.3 Scoring

Adalah penentuan jumlah skor, dalam penelitian ini menggunakan skala nominal. Memberi skor pada tiap butir pernyataan, kemudian

dihitung dengan menggunakan rumus skor T sebagai berikut:

T : Standar deviasi skor kelompok.

Hasil dari perhitungan yang telah ditetapkan adalah skor T merupakan skala standar yang biasa digunakan dalam skala model linkert

untuk menentukan sikap seseorang. Apabila T > mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut sikap negatif.

3.6.4 Tabulating

Adalah data dikumpulkan dandi kelompokkan dalam bentuk tabel. Termasuk dalam kegiatan ini adalah memberikan skor terhadap item-item

yang perlu diberi skor dan memberi kode terhadap item-item yang diberi skor (Arikunto, 2006 : 236).

Tabel 3.3 Rencana Tabulating Data Khusus

(62)

No Sikap Frekuensi % 1

2

Jumlah

3.7Analisa Data

Tahap analisis data dimulai dengan mengumpulkan kuesioner yang telah diisi

responden kemudian diperiksa kelengkapannya. Setelah itu dilakukan perhitungan hasil kuesioner dengan menggunakan T skor model linkert kemudian hasilnya

dikualitaskan menggunakan skala kualitas sebagai berikut : Seluruhnya dari Seluruhnya dari responden = 100%

Hampir seluruhnya dari responden = 76-99%

Sebagian besar dari responden = 51-75% Setengahnya dari responden = 50%

Hampir setengahnya dari responden = 26-49% Sebagian kecil dari responden = 1-25% Tidak satupun dari responden = 0%

(Sugiyono, 2006 : 246)

3.8Etika Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan kepada institusi Puskesmas Baruharjo untuk mendapatkan persetujuan. Setelah itu baru melakukan penelitian pada responden dengan menekankan pada masalah etika

yang meliputi :

(63)

3.8.1 Informed Consent

Informed Consent diberikan sebelum penelitian dilakukan pada subjek penelitian. Subjek diberi tahu tentang maksud dan tujuan penelitian.

Jika subjek bersedia responden menandatangani lembar persetujuan. 3.8.2 Anonimity

Responden tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data. Cukup menulis nomor responden atau inisial saja untuk menjamin kerahasiaan identitas

3.8.3 Confidentiality

Kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden akan dijamin

kerahasiaan oleh peneliti. Penyajian data atau hasil penelitian hanya ditampilkan pada forum Akademis.

3.9 Keterbatasan Penelitian

Ada beberapa keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini, yaitu :

3.9.1 Alat pengumpul data pada penelitian ini berupa kuesioner sehingga memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud sehingga hasilnya kurang

mewakili secara kualitatif.

3.9.2 Instrumen dan pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dirancang

oleh penulis sendiri, oleh karena itu validitas dan reliabilitasnya perlu untuk di uji coba.

(64)

3.9.3 Peneliti baru pertama kali melakukan penelitian sehingga peneliti masih membutuhkan kritik dan saran yang membangun untuk penelitian berikutnya menjadi lebih baik.

(65)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai sikap Remaja tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten

Trenggalek. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1-11 Juni 2018 di Desa

Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek dengan jumlah responden sebanyak 67 remaja.

Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengumpulan data umum yang berisi pernah atau tidak pernah mendapat

informasi tentang hamil usia muda dan sumber informasi yang didapat dan data khusus yang berisi sikap responden tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek yang disajikan dalam bentuk diagram pie dan tabel.

(66)

45

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian adalah proses mengubah data dari instrumen pengumpul data menjadi tabel-tabel data kemudian data akan di uji secara sistematis. Pada

penelitian ini data yang akan di analisa terdiri dari data umum dan data khusus. Data umum berisi pernah atau tidak pernah mendapat informasi tentang hamil

usia muda sedangkan data khusus berisi sikap responden tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek.

4.1.1Data Umum

Pada data umum disajikan tentang karakteristik responden berdasarkan pernah atau tidak pernah mendapat informasi tentang hamil

(67)

4.1.1.1 Karakteristik responden berdasarkan pernah atau tidak pernah mendapat informasi

Sumber : Data Primer

Diagram 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan pernah atau tidak pernah mendapat informasi di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018.

Diketahui pada diagram 4.1 menunjukkan bahwa dari 67 responden, didapatkan seluruh responden pernah mendapat informasi tentang hamil usia muda, yaitu sejumlah 100%.

(68)

47

4.1.1.2 Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi.

Sumber : Data Primer

Diagram 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan sumber informasi di

Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018

Diketahui pada diagram 4.2 menunjukkan bahwa dari 67 responden hampir setengah dari responden yang mendapat informasi tentang hamil

(69)

4.1.2 Data Khusus

Tabel 4.1 Sikap responden tentang hamil di usia muda di Desa

Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018

No Sikap Frekuensi %

1 Negatif 35 52,24

2 Positif 32 47,76

Jumlah 67 100

Diketahui pada tabel 4.1 didapatkan bahwa dari total 67

responden didapatkan sebagian besar responden bersikap negatif tentang hamil usia muda, yaitu sejumlah 35 responden (52,24%).

(70)

49

4.2 Pembahasan Penelitian

Penilaian sikap siswi tentang hamil usia muda yang dilakukan terhadap 67 responden di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek didapatkan

bahwa sebagian besar responden bersikap negatiftentang hamil usia muda, yaitu sejumlah 35 responden (52,24%).

Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek, sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003 :

130). Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu (Notoatmodjo, 2000 : 130). Sikap yang ada

pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal,

semuanya akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang (Walgito, 2003 : 115).

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap menurut Azwar (2002: 17) antara lain pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting,

kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan, agama, dan pengaruh faktor emosi.

Sikap negatif responden tentang hamil usia muda berkaitan dengan

pernah atau tidak pernah mendapat informasi dan sumber informasi yang diperoleh. Hasil penelitian didapatkan bahwa seluruh responden pernah

(71)

Menurut Walgito (2003; 125) salah satu faktor yang mempengaruhi sikap adalah informasi, pembentukan sikap seseorang dapat dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan perantara alat-alat komunikasi misalnya media massa,

baik yang elektronik maupun yang non elektronik. Pembentukan sikap seseorang dipengaruhi oleh sumber pesan. Sumber pesan akan memberikan tanggapan

tertentu terhadap materi yang dikemukakan oleh komunikator.

Adanya informasi dalam mengenal suatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap suatu obyek. Informasi merupakan

faktor pendukung. Dengan banyaknya informasi maka akan menambah wawasan dan pengetahuan. Pengetahuan yang baik akan mempermudah seseorang untuk

menentukan sikap. Informasi tentang kehamilan yang berasal dari media massa akan lebih cepat dipercaya oleh responden. Informasi yang cukup selain akan menambah pengetahuan, juga dapat menimbulkan kepercayaan yang merupakan

dasar terbentuknya ide mengenai sifat atau karakteristik dari obyek sikap. Informasi yang berasal dari media massa, akan semakin mendukung responden

untuk bersikap negatif tentang hamil usia muda. Kondisi ini sangat

menguntungkan responden, orang tua bahkan lingkungan sekitar, karena dengan sikap negatif maka akan dapat mempengaruhi perilakunya tentang hamil usia

muda yang disebabkan oleh hubungan pra nikah.

(72)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data mengenai sikap siswi tentang

hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar dari responden bersikap negatif tentang hamil usia muda yaitu sejumlah 35

responden (52,24%) dari total 67 responden.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Responden

Diharapkan dapat menambah informasi dan wawasan tentang pendidikan seks dan hamil di usia muda yang dapat diperoleh melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan dan dapat pula diperoleh melalui media

misal buku dan internet sehungga responden akan lebih mengerti dalam menghadapi dan menyikapi tentang hamil di usia muda.

5.2.2 Bagi institusi pendidikan

Diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran ilmiah dan tambahan kepustakaan yang sudah ada sehingga dapat dimanfaatkan oleh

peserta didik yang akan datang dalam proses pendidikan.

(73)

5.2.3 Bagi Puskesmas Baruharjo

Diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk penyuluhan tentang pelayanan pada remaja khususnya hamil usia muda.

5.2.4 Bagi lokasi Penelitian

Setelah melihat hasil penelitian diharapkan para guru

meningkatkan penyuluhan tentang pendidikan seks dan hamil usia muda pada remaja dan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan wacana bagi masyarakat Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek .

(74)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta. Hal 130.

Azwar, Azrul. 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 24.

---, 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 7

---, 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 34

---, 1995. Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Alimul,2003. Pendidikan Seks Remaja, Jakarta : Kawan Pustaka

Notoatmodjo, Soekidjo. 2000. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta. Hal 130

---,2003. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta. Hal 130

---, 2004. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: EGC. Hal 144 ---, 2005. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: EGC. Hal 138

Nursalam, 2003. Metodologi Riset Keperawatan, Jakarta: CV Infomedika. Hal 106 ---, 2003. Metodologi Riset Keperawatan, Jakarta: CV Infomedika. Hal 85 Sarwono, 2007. Pendidikan Seks Remaja, Jakarta: Kawan Pustaka. Hal 124

Soeparyanto.2009. Materi Kuliah Mahasiswa STIKES.

Dr.suparyanto.blogspot.com.02/02/2011.

Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Agung Seto

Syamsu, 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian, Bandung: Alfa Beta. Hal 146

(75)

Saifullah, A.B. 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: JNPKR-POGI. Hal 53.

Prawirohardjo, Sarwono. 2007, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Hal 124.

Walgito,B.2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Hal:133 ---,.2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Hal:115

(76)

Lampiran 1

JADWAL PENELITIAN

PROGRAM KEGIATAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH TAHUN 2018

No. Kegiatan Bulan

Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nop JDesember 1. Pengajuan Judul - Topik KTI

2. |Kegitan Penelitian Dimasyarakat

Trenggalek, … ……… 2018 ….. Peneliti

(77)

Lampiran 2 bermaksud mengadakan penelitian mengenai "Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek ".

Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data secara langsung dari hasil kuesioner yang berpedoman pada daftar terlampir untuk mengetahui bagaimanakah sikap remaja di Desa Karanganom tentang hamil usia muda di Kabupaten Trenggalek.

Demi terciptanya tujuan penelitian ini dengan segala hormat kesediaan saudara untuk menjadi responden dengan memberikan pernyataan bersedia menjadi responden pada format yang telah disediakan. Saya berharap saudara bersedia meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Tidak akan dilakukan tindakan apapun pada saudara sehubungan dengan jawaban yang telah saudara berikan dan kerahasiaan identitas saudara akan dijaga.

Atas segala bantuan dan kerjasama dari saudara saya sampaikan terima kasih.

Trenggalek, Juni 2018

Peneliti

(78)

Lampiran 3

INFORMED CONSENT

Yang bertanda tangan dibawah ini saya :

Nama : ... Pendidikan : ... Pekerjaan : ...

Usia : ...

Setelah mendapat keterangan secukupnya serta mengetahui tentang manfaat dan

resiko penelitian dengan judul "Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom durenan kab.Trenggalek", menyatakan bersedia / tidak bersedia1) untuk berpartisipasi sebagai responden tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Segala

informasi, pendapat atau identitas yang terkait dengan penelitian ini dijamin kerahasiaannya.

Trenggalek, ... ... 20 ... Responden

____________________

1) Coret yang tidak perlu

(79)

Lampiran 4

KISI-KISI KUESIONER

SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN

TRENGGALEK

Oleh : Wartini

No. Jenis Pernyataan Jumlah Soal No Soal

1. Positif 10 2,4,6,7,8, 10,11,12,14,15

2. Negatif 5 1, 3,5, 9, 13,

(80)

Lampiran 5

LEMBAR KUESIONER

SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN

TRENGGALEK

No. Responden : ...

Alamat : ... Tanggal : ...

A. DATA UMUM

Beri tanda (√) pada kolom kecil untuk jawaban yang dianggap benar! 1. Informasi

 Pernah mendapat informasi

 Belum pernah mendapat informasi 2. Sumber informasi

 Dari teman

 Dari Keluarga

 Dari Media Massa

 Dari Petugas Kesehatan

 Dari Guru

Gambar

Tabel 3.1 Definisi Operasional Sikap remaja tentang Hamil Usia Muda
Tabel 3.2  Pembagian Sampel  Tiap RT

Referensi

Dokumen terkait

Dalam bab ini diuraikan tentang hasil penelitian mengenai hubungan pola asuh orang tua dengan sikap remaja putri tentang kesehatan reproduksi melalui proses pengumpulan data

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan remaja putri Desa Tanjung Selamat berada pada kategori cukup dan sikap remaja putri Desa Tanjung Selamat berada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang sikap ibu dalam menghadapai masa menopause di Desa Karanglo Lor Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo.. Desain

KARYA TULIS ILMIAH yang berjudul Pengetahuan Remaja Tentang Dampak Buruk Penggunaan Kosmetik Pemutih Pada Fakultas Ekonomi Akuntansi Semester 2 di

Bahasa gaul tersebut merupakan suatu pertanda bahwa perkembangan bahasa Indonesia dikalangan remaja sangatlah buruk, kerena bahasa gaul juga tidak bisa

Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis). Perilaku seksual remaja putri dipengaruhi secara tidak langsung oleh

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data, yang dapat berupa kuesioner, formulir observasi, atau formulir- formulir

Gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang upaya menaggulangi pernikahan dini Dusun Wonontoro Desa Jatiayu Kecamatan Karangmojo Gunungkidul tertinggi 33