KARYA TULIS ILMIAH
SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA
KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN
TRENGGALEK
Oleh :
WARTINI
NIP : 19710115 199203 2004
PUSKESMAS BARUHARJO
DINAS KESEHATAN PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TRENGGALEK
KARYA TULIS ILMIAH
SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA
KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN
TRENGGALEK
Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Pengajuan Kenaikan tingkat
Oleh :
WARTINI
NIP : 19710115 199203 2004
PUSKESMAS BARUHARJO
DINAS KESEHATAN PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TRENGGALEK
2018
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah dengan judul : SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA
MUDA DI DESA KARANGANOM
KECAMATAN DURENAN KABUPATEN TRENGGALEK
Telah disetujui dan disahkan oleh :
Mengetahui,
Menyetujui
Kepala Puskesmas Baruharjo
dr. Sunarto 19740224 200604 1001
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberinya limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik dan lancar. Sholawat dan salam semoga tetap Allah terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta pengikut setia ajarannya.
Karya Tulis Ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan dalam mengajukan kenaikan tingkat Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Trenggalek .
Penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya terutama kepada yang terhormat :
1. dr. Sunarto, selaku Kepala Puskesmas Baruharjo Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek
2. Bapak Kepala Desa Karanganom Kecamatan Durenan yang telah memberi izin penelitian dan staf-stafnya yang telah memberikan data-data untuk penyusunan karya tulis ini.
3. Semua pihak yang memberikan bantuan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dan kekhilafan pada karya tulis ini maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi kesempurnaan dan perbaikan. Akhirnya, besar harapan penyusun semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Trenggalek, 31 Juli 2018
Penulis
INTISARI
SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN identik dengan memperlihatkan jati diri mereka ke masyarakat sekitar seperti rasa ingin mencoba, tawuran pelajar, dsb. Hasil studi pendahuluan di Desa Karanganom diketahui pada tahun 2017 terdapat tiga Remaja yang hamil di luar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap Remaja tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.
Penelitian dilakukan tanggal 1-10 Juni 2018 di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Jenis penelitian adalah observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan populasi semua Remaja Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek berjumlah 200 orang dan sampel 67 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan teknik stratified proposional random sampling. Analisis data menggunakan Tskor, apabila T ≥ mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut sikap negatif dan diprosentasikan.
Hasil penelitian didapatkan sebagian besar Remaja bersikap negatif tentang hamil usia muda yaitu sejumlah 35 responden (52,24%) dari total 67 responden.
Seseorang yang memiliki sikap negatif cenderung memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap aturan, sesuatu hal yang berlaku dimana seseorang tersebut berada. Hamil usia muda merupakan fenomena yang tidak baik di kalangan remaja.
Kata Kunci: Sikap, Remaja, Hamil Usia Muda
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
KATA PENGANTAR ... iii
INTISARI iv
1.2 Rumusan Masalah ...4
1.3 Tujuan Penelitian ...4
1.4 Manfaat Penelitian ...4
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Sikap ...6
2.2 Konsep Remaja...19
2.3 Konsep Kehamilan Pada Usia Muda ...21
2.4 Kerangka Teori...31
... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ...32
3.3 Kerangka Kerja ...34
3.4 Populasi, Sampel dan Sampling ...35
3.5 Instrumen Penelitian...38
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ...38
3.7 Pengolahan Data ...38
3.8 Analisa Data ...41
3.9 Etika Penelitian ...41
3.10 Keterbatasan Penelitian ...42
BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian...45
4.2 Pembahasan Penelitian...49
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ...50
5.2 Saran ...50
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR ISI
1.6 Rumusan Masalah ...4
1.7 Tujuan Penelitian ...4
1.8 Manfaat Penelitian ...4
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.5 Konsep Sikap ...6
2.6 Konsep Primipara...16
2.7 Konsep Mobilisasi Dini ...16
2.8 Kerangka Teori...29
... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.11 Desain Penelitian ...30
3.12 Variabel Penelitian ...31
3.13 Kerangka Kerja ...32
3.14 Populasi, Sampel dan Sampling ...34
3.15 Instrumen Penelitian...36
3.16 Lokasi dan Waktu Penelitian ...36
3.18 Analisa Data ...37 3.19 Etika Penelitian ...42 3.20 Keterbatasan Penelitian ...45
BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Hasil Penelitian...46 4.4 Pembahasan Penelitian...52
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
5.3 Kesimpulan ...56 5.4 Saran ...56
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.9 Latar Belakang...1
1.10 Rumusan Masalah ...4
1.11 Tujuan Penelitian ...4
1.12 Manfaat Penelitian ...4
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.9 Konsep Persepsi ...6
2.10 Konsep Nifas...14
2.11 Konsep Perawatan luka pada Perineum ...16
2.12 Kerangka Teori...27
... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.21 Desain Penelitian ...28
3.22 Variabel Penelitian ...28
3.23 Kerangka Kerja ...28
3.24 Populasi, Sampel dan Sampling ...30
3.25 Instrumen Penelitian...33
3.26 Lokasi dan Waktu Penelitian ...33
3.27 Pengolahan Data ...33
3.29 Etika Penelitian ...38 3.30 Keterbatasan Penelitian ...38
BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.5 Hasil Penelitian...44 4.6 Pembahasan Penelitian...49
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
5.5 Kesimpulan ...54 5.6 Saran ...54
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR ... iii
INTISARI iv DAFTAR ISI v BAB 1 : PENDAHULUAN 1.13 Latar Belakang...1
1.14 Rumusan Masalah ...4
1.15 Tujuan Penelitian ...4
1.16 Manfaat Penelitian ...4
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA 2.11 Konsep Dasar Motivasi...6
2.12 Konsep Dasar Kehamilan...15
2.13 Konsep ANC...15
2.14 Kerangka Teori...25
... BAB 3 : METODE PENELITIAN 3.31 Desain Penelitian ...26
3.32 Variabel Penelitian ...26
3.33 Kerangka Kerja ...27
3.34 Populasi, Sampel dan Sampling ...29
3.35 Instrumen Penelitian...29
3.37 Pengolahan Data ...30
3.38 Analisa Data ...31
3.39 Etika Penelitian ...36
3.40 Keterbatasan Penelitian ...37
BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.7 Hasil Penelitian...38
4.8 Pembahasan Penelitian...44
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN 5.7 Kesimpulan ...47
5.8 Saran ...47
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
i ii iii iv v vi vii viii ix x
i ii iii iv v vi vii viii ix x
i ii iii iv v vi vii viii ix x
i ii iii iv v vi vii viii ix x
Nopember
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional Remaja Tentang Hamil Usia Muda ... 33 Tabel 3.2 Pembagian Sampel Tiap RT ... 37 Tabel 4.1 Sikap Responden Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom
Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018... 46
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Diagram Sikap ... 7
Bagan 2.2 Terbentuknya Sikap ... 11
Bagan 2.3 Kerangka Teori Remaja Tentang Hamil Usia Muda ... 31
Bagan3.3 Kerangka Kerja Sikap Remaja Putri Tentang Hamil Usia Muda ... 34
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Pernah atau Tidak Pernah
mendapat informasi di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek... 46
Diagram 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek...47
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian
Lampiran 2 Lembar Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 3 Lembar Persetujuan Menjadi Responden (Informed Consent)
Lampiran 4 Kisi-Kisi Kuesioner Lampiran 5 Lembar Kuesioner
Lampiran 6 Data Umum dan Data Khusus Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja (15-17 th) merupakan masa peralihan dari anak-anak ke dewasa,
bukan hanya dalam arti psikis, tetapi juga fisik. Bahkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja (Sarwono, 2007: 124). Fase remaja merupakan segmen perkembangan
individu yang sangat penting yang dialami dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Salzman mengemukakan bahwa remaja
merupakan masa perkembangan sikap tergantung atau dependence terhadap orang tua ke arah kemandirian atau independence, minat-minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral
(Syamsu, 2006). Remaja identik dengan memperlihatkan jati diri mereka ke masyarakat sekitar seperti rasa ingin mencoba,tawuran pelajar, dsb. Hal ini
terlihat pada kenakalan remaja,salah satunya hamil di usia muda. Bahkan masalah ini sudah dianggap wajar oleh kalangan remaja itu sendiri.
Sebuah survey di beberapa negara maju menunjukkan bahwa 46% remaja
putri (usia 15-16 th) di Liberia sudah hamil di luar nikah. Di Amerika Serikat adalah 46% untuk remaja putri (usia 15-17 th) yang pernah hamil di luar nikah
Dan di tahun 2016 jumlah ibu hamil di Indonesia mencapai 4.842.871 jiwa, di Jawa Timur sebesar 690.282, dan di kabupaten Trenggalek sebesar 19.279 jiwa dari total penduduk Indonesia 234.181.400 jiwa. Jumlah yang besar ini
merupakan sumber daya manusia yang potensial bila dipersiapkan sejak dini. Hal ini karena remaja akan menghadapi banyak permasalahan yang bukan tidak
mungkin akan mengganggu perkembangan fisik maupun psikologis mereka selanjutnya. Diantara persoalan yang banyak dihadapi oleh remaja adalah persoalan kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi sendiri dapat diartikan
sebagai suatu kondisi sehat yang bukan saja berarti bebas dari penyakit atau kecacatan, namun lebih daripada itu sehat termasuk secara mental dan sosial
berkaitan dengan sistem fungsi dan proses reproduksi. Penyebab dari hamil usia muda pada remaja antara lain perilaku remaja cenderung belum matang, dorongan seks juga belum matang, dorongan teman dekat atau pacar, rasa ingin
mencoba, tontonan goyang ngebor, acara tv, iklan produk, rubrikasi media, penjualan VCD porno, merebahnya berbagai tempat hiburan, kurangnya
informasi tentang seks, pengaruh lingkungan sekitar, terjepit masalah ekonomi. Sikap merupakan penilaian seseorang terhadap stimulus atau obyek (masalah kesehatan) yang dimaksud dengan baik, oleh karena itu untuk sikap
kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan (Azwar, 2003: 7). Sikap remaja putri tentang hamil usia muda dilatarbelakangi oleh pengetahuan remaja
putri tentang hamil usia muda. Semakin tinggi pengetahuan remaja putri tentang hamil usia muda, maka akan memunculkan sikap tidak menyetujui terhadap hamil usia muda.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Desa Karanganom kecamatan Durenan tahun 2017 terdapat tiga Remaja putri yang hamil di luar nikah. dan menurut pandangan sebagian remaja putri dari 200 remaja putri dalam bahasa
penulis dapat dijelaskan bahwa pendidikan seks pada remaja sangat diperlukan, karena masih sangat kurang informasi tentang seks dan hampir sebagian besar
remaja putri di Desa ini mendapat informasi seks hanya dari media-media yang cenderung tidak mendidik seperti internet, koran, VCD dan lain sebagainya. Pendidikan seks yang diharapkan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi adanya
kehamilan diluar nikah ataupun akibat buruk dari adanya free seks.
Untuk itu penting bagi para remaja dalam menyikapi hamil usia muda. Saat
dilakukan penyuluhan, remaja akan mendapatkan konseling tentang kehamilan usia muda oleh tenaga kesehatan. Dari konseling tersebut, remaja akan lebih bijaksana dalam menyikapi hamil usia muda sehingga remaja putri akan lebih
mengerti dalam menghadapi dan menyikapi hamil usia muda.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian mengenai sikap remaja putri tentang hamil usia muda dengan merumuskan dalam judul penelitian "Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek".
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah, maka penelitian yang akan dilakukan dapat dirumuskan “Bagaimanakah sikap remaja
tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap Remaja tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan wawasan sikap bagi Remaja tentang hamil usia muda.
1.4.2 Bagi institusi tempat Kerja
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran
ilmiah dan tambahan kepustakaan yang sudah ada sehingga dapat dimanfaatkan oleh karyawan karyawati yang akan datang dalam proses pendidikan kesehatan di masyarakat.
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk penyuluhan tentang pelayanan pada remaja khususnya
tentang hamil usia muda.
1.4.3 Bagi lokasi penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan wacana bagi masyarakat Desa Karanganom kecamatan Durenan Kabupaten
Trenggalek.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Sikap 2.1.1 Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulus atau objek, sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003: 130)
Menurut New Comb dalam Notoatmodjo (2000: 130), sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan
merupakan pelaksanaan dari motif tertentu. Menurut Krech yang juga dalam Notoatmodjo (2000 : 130), sikap adalah penilaian yang positif atau negative tentang system yang mempengaruhi perasan emosi yang
menghubungkan respon terhadap objek sosial.
Sikap itu bersifat sosial dalam arti kita menyesuaikan dengan orang
lain dan kelihatannya sikap itu menuntun perilaku kita sehingga kita bertindak sesuai dengan sikap yang kita ekspresikan. Dalam kehidupan sehari-hari sikap merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial. Sikap belum merupakan sesuatu suatu tindakan atau aktifitas akan merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap itu
masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau
tingkah laku terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Lebih jelas Notoatmodjo (1997) menggambarkan dalam diagram sikap:
Bagan 2.1 Diagram Sikap
2.1.2 Komponen Pokok Sikap
Sikap terbentuk dari 3 komponen (Azwar, 2003: 24) yaitu:
2.1.2.1 Komponen kognitif (cognitive)
Berisi tentang kepercayaan seseorang mengenai hal yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan datang dari
apa yang telah seseorang lihat atau apa yang kita ketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat atau apa yang telah kita tahu,
kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka akan menjadi dasar pengetahuan mengenai apa yang kita
dapat diterapkan dari objek tertentu.
Sebagaimana telah dikemukakan, komponen kognitif berisi
kepercayaan seseorang mengenai objek sikap. Sebagai misal isu Stimulus / Rangsang Proses
mengenai lokalisasi pelacur sebagai objek sikap. Dalam hal ini, komponen kognitif sikap terhadap lokalisasi pelacur adalah apa saja yang dipercayai seseorang mengenai lokalisasi termaksud.
Seringkali dalam isu seperti ini, apa yang dipercayai seseorang itu merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah terpolakan dalam
pikirannya. Apabila telah terpolakan dalam pikiran bahwa pelacuran akan membawa asosiasi pikiran itu, lepas dari maksud dan tujuan diadakannya lokalisasi. Apapun juga yang menyangkut
pelacuran akan membawa arti tidak baik. Kepercayaan dapat terus berkembang, pengalaman pribadi, apa yang dapat diceritakan
orang lain dan kebutuhan emosional sendiri merupakan determinan utama dalam terbentuknya kepercayaan.
2.1.2.2 Komponen afektif (affective)
Merupakan perasaan individu yang menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara
umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.
2.1.2.3 Komponen perilaku (behaviour atau conative)
Dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada pada seseorang berkaitan
konatif seperti itulah, yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.
2.1.3 Fungsi Sikap
Menurut Katz dan Backman (1964) dalam penjelasan Walgito
(2003: 111) fungsi sikap antara lain :
2.1.3.1 Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat Fungsi ini adalah berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap
merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Fungsi manfaat yaitu sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam rangka
pencapaian tujuan, fungsi penyesuaian karana dengan sikap yang diambil oleh seseorang. Orang akan dapat menyesuaikan diri dengan secara baik terhadap sekitarnya
2.1.3.2 Fungsi pertahanan ego
Merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk
mempertahankan ego atau akunya. 2.1.3.3 Ekspresi nilai
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi
individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. 2.1.3.4 Fungsi pengetahuan
Individu mempunyai dorongan untuk ingin dimengerti dengan pengalaman-pengalaman untuk memperoleh pengetahuan.
2.1.4 Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo (2004: 144) bahwa sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu :
2.1.4.1 Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek) 2.1.4.2 Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
2.1.4.3 Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusi-kan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga
2.1.4.4 Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan
segala risiko, merupakan sikap yang paling tinggi. 2.1.5 Ciri-ciri Sikap
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat
mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu (Walgito, 2003: 113).
2.1.5.1 Sikap bukan dibawa orang sejak dilahirkan
2.1.5.2 Sikap itu dapat selalu berhubungan dengan objek sikap
2.1.5.3 Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek
2.1.5.4 Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
2.1.5.5 Sikap ini mengandung faktor perasaan dan motivasi 2.1.6 Terbentuknya Sikap
Sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dibentuk sepanjang perkembangan individu yang bersangkutan.
Bagan 2.2 Terbentuknya Sikap
Sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal semuanya akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang. Reaksi yang dapat diberikan individu terhadap obyek
sikap dapat bersifat positif tetapi juga dapat bersifat negatif. Obyek sikap akan dipersepsi oleh individu dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan (Walgito, 2003: 115).
2.1.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut pendapat Azwar bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (2003: 30), yaitu:
2.1.7.1 Pengalaman pribadi
Apa yang telah ada dan sedang diamati akan ikut membuat dan
mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial, tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Middle Back (1974) mengatakan tidak adanya pengalaman sama sekali dengan
suatu obyek cenderung akan membentuk sikap yang negatif. 2.1.7.2 Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita, seperti seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang tidak ingin
kita kecewakan atau seseorang yang berarti. 2.1.7.3 Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berarti buah budi atau hasil karya budi manusia (Syaifullah, 2001 : 53). Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena
kebudayaan pulalah yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya.
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan, mempunyai pengaruh besar terhadap sikap. Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalah.
2.1.7.4 Media massa
Media massa sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti TV, radio, surat kabar, majalah, mempunyai
pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.
2.1.7.5 Lembaga pendidikan dan agama
Sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar dan pengertian
konsep moral dalam diri individu. 2.1.7.6 Pengaruh faktor emosi
Tidak semua sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang disadari oleh emosi yang berfungsi
sebagai semacam penyuluhan frustasi atau bentuk mekanisme pertahanan ego.
2.1.8 Penilaian Sikap
Menurut Abu Ahmadi serta Brehm Kasrin (1990) dalam Azwar (2003: 34) menyebutkan bahwa penilaian sikap dapat dibedakan atas :
2.1.8.1 Sikap Positif (favorable)
Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima,
terhadap suatu obyek maka akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang menguntungkan bagi obyek tersebut.
2.1.8.2 Sikap Negatif (unfavorable)
Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap aturan, sesuatu hal yang berlaku
dimana seseorang tersebut berada. Seseorang yang memiliki sikap negatif terhadap suatu obyek tertentu akan timbul suatu kecenderungan untuk mengancam, mencela, melarang, bahkan
tidak akan mengindahkan obyek tersebut. 2.1.9 Pengukuran
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu observasi perilaku, penanyaan langsung, pengungkapan langsung, skala sikap dan pengukuran terselubung (Azwar, 2003).
2.1.9.1 Observasi Perilaku
Pengukuran sikap dengan observasi perilaku, dilakukan dengan
mengamati perilaku yang dilakukan oleh seseorang dan biasanya dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, sangat masuk akal bila sikap ditafsirkan dari perilaku yang tampak. Dengan kata lain,
untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu, dapat kita perlihatkan perilakunya, sebab perilaku adalah salah satu indikator
sikap individu.
2.1.9.2 Penanyaan Langsung
Dalam pengukuran penanyaan langsung, sikap seseorang dapat diketahui dengan penanyaan langsung (direct questing) pada yang
bersangkutan. Asumsi yang mendasari metode penanyaan langsung guna mengungkapkan sikap pertama adalah asumsi bahwa individu
adalah orang yang paling tahu dengan diri sendiri, dan yang kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya. Oleh karena
itu dalam metode ini, jawaban yang diberikan oleh mereka yang ditanyai, adalah indikator sikap mereka. Cara pengungkapan sikap
dengan penanyaan langsung memiliki keterbatasan dan kelemahan yang mendasar. Metode ini akan menghasilkan ukuran yang valid, hanya apabila situasi dan kondisinya memungkinkan kebebasan
berpendapat tanpa tekanan psikologis maupun fisik. 2.1.9.3 Pengungkapan langsung
Pengukuran sikap dengan pengungkapan langsung ada 2 cara, yaitu:
1) Pengungkapan langsung dengan item tunggal
Dalam metode ini, responden diminta menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju
menyatakan sikap secara lebih jujur, bila tidak perlu menuliskan nama atau identitas.
2) Pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda
Salah satu bentuk pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda adalah tekhnik deferensi sematik,
yang dirancang untuk mengungkapkan efek atau perasaan yang berkaitan dengan suatu objek sikap.
2.1.9.4 Skala Sikap
Metode pengungkapan sikap dengan self report yang hingga kini dianggap sebagai paling tepat, adalah dengan menggunakan daftar
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh individu terhadap stimulus (pertanyaan) dikelompokkan dalam kategori yaitu : sangat setuju, setuju, entahlah, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Salah
satu sifat skala sikap adalah isi pertanyaannya yang dapat berupa pertanyaan langsung yang jelas tujuan ukurnya, akan tetapi juga
dapat berupa pernyataan tidak langsung yang tampak kurang jelas tujuan ukurnya bagi responden. Salah satu pengukuran sikap menggunakan skala linkert , yaitu:
5) Sangat tidak setuju = 0
Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus skor T sebagai
berikut: T : Standar deviasi skor kelompok.
Hasil dari perhitungan yang telah ditetapkan adalah skor T merupakan skala standar yang biasa digunakan dalam skala model
linkert untuk menentukan sikap seseorang. Apabila T > mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut
sikap negatif.
Adapun interpretasi dari hasil perhitungan data dengan menggunakan skala sebagai berikut:
Seluruhnya dari responden = 100% Hampir seluruhnya dari responden = 76-99% Sebagian besar dari responden = 51-75%
Setengahnya dari responden = 50% Hampir setengahnya dari responden = 26-49%
Sebagian kecil dari responden = 1-25% Tidak satupun dari responden = 0% (Sugiyono, 2006 : 246)
2.1.9.5 Pengukuran terselubung
Metode pengukuran terselubung sebenarnya berorientasi kembali,
dengan metode observasi perilaku yang telah dikemukakan di atas, akan tetapi sebagai objek pengamatan, bukan lagi perilaku tampak yang didasari atau sengaja dilakukan oleh seseorang,
melainkan reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi lebih diluar kendali yang bersangkutan . Dalam metode ini sikap seseorang dapat
dicerminkan dari pengamatan terhadap reaksi wajah, nada suara dan dari gerak tubuh serta beberapa aspek perilakunya.
2.2 Konsep Remaja 2.2.1. Pengertian
Remaja adalah anak usia10-18 tahun pada jenjang pendidikan dasar
atau menengah.
Dalam kegiatan pembelajaran di masyarakat, kita dihadapkan
dengan sejumlah karakteristik anak remaja yang beraneka ragam. Ada Remaja yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan namun disisi lain tidak sedikit pula
remaja yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar remaja mencakup pengertian yang luas diantaranya :
2.2.1.1 Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah
dari potensi yang dimilikinya.
2.2.1.2 Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar
yang dilakukan remaja tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya remaja tersebut tidak menunjukkan adanya gangguan mental atau gangguan psikologis lainnya.
2.2.1.3 Under Achiver mengacu pada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong diatas normal, tetapi
prestasi belajarnya tergolong rendah.
lama dibandingkan sekelompok remaja yang lain. Mempermudah peranan sosial.
2.2.1.5 Learning Disabilitas atau ketidak mampuan belajar mengacu pada
gejala dimana remaja tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar dibawah potensi intelektualnya.
2.2.2 Ukuran kegagalan dan kemajuan remaja
Terdapat empat ukuran dapat menetukan kegagalan atau kemajuan belajar remaja:
2.2.2.1 Tujuan pendidikan
Dalam keseluruhan system pendidikan merupakan salah satu
komponen pendidikan yang paling penting karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan.
2.2.2.2 Kedudukan dalam kelompok
Kedudukan seseorang remaja dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. remaja dikatakan
mengalami kesulitan belajar apabila memperoleh prestasi belajar dibawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan.
2.2.2.3 Perbandingan antara potensi dan prestasi
Potensi belajar yang dicapai seseorang remaja akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat.
Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula.
2.2.2.4 Kepribadian
Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan
perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu,
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Remaja dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya
(Sulaiman, 2008: 39).
2.3 Konsep Hamil Usia Muda
Menurut Guyton (2001), hamil adalah rangkaian peristiwa yang baru
terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm. Sedangkan Kushartanti (2004) menjelaskan bahwa hamil adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma
(Kushartanti, 2004). Hanifa (2000) mennyebutkan bahwa masa kehamilan dimulai dan konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280
hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terahir. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik, kesiapan
tubuhnya, yaitu sekitar usia 20 tahun, ketika tubuhnya berhenti tumbuh. Sehingga usia 20 tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik (WHO, 2005).
Sedangkan yang dimaksud dengan kesiapan mental adalah saat dimana
seorang perempuan dan pasangannya merasa telah ingin mempunyai anak dan merasa telah siap menjadi orang tua termasuk mengasuh dan mendidik anaknya.
Secara ideal jika seorang bayi dilahirkan maka ia akan membutuhkan tidak hanya kasih sayang orang tuanya, tetapi juga sarana yang membuatnya bisa tumbuh dan berkembang. Bayi membutuhkan tempat tinggal yang tetap. Karena itu remaja
dikatakan siap jika ia bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian, makan-minum, tempat tinggal dan kebutuhan pendidikan bagi anaknya. Dalam hal ini
meskipun seorang remaja perempuan telah melampaui usia 20 tahun tetapi ia dan pasangannya belum mampu memenuhi kebutuhan sandang pangan dan tempat tinggal bagi keluarganya, maka ia belum dapat dikatakan siap untuk hamil dan
melahirkan. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang oleh karena suatu sebab yang keberadaannya tidak diinginkan atau diharapkan oleh
salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut (Soetjiningsih, 2004). 2.3.1. Penyebab Hamil Usia Muda
Hamil usia muda terjadi terkadang tidak atas kehendak dari remaja.
Adapun penyebab dari kehamilan yang tidak dikehendaki tersebut antara lain:
pengamalan agama yang konsisten. Hal ini bisa terjadi pada remaja yang belum menikah maupun yang telah menikah. Kehamilan tidak diinginkan (KTD) akan semakin memberatkan
remaja perempuan jika pasangannya tidak bertanggung jawab atas kehamilan yang terjadi. Cara pencegahan kehamilan pranikah
yang paling tepat dan ampuh 100% adalah tidak melakukan hubungan seks (abstinensia) yaitu dengan menolak ajakan berhubungan seks sebelum menikah.
2.3.1.2. Kehamilan yang tidak diinginkan bisa terjadi akibat tindak perkosaan. Dalam hal ini meskipun remaja putri memiliki
pengetahuan yang cukup, tetapi ia tidak bisa menghindarkan diri dari tindakan seksual yang dipaksakan terhadapnya, sehingga bisa dipahami jika ia tidak menginginkan kehamilannya.
2.3.1.3. Kehamilan yang tidak diinginkan bisa terjadi pada remaja yang telah menikah dan telah menggunakan cara pencegahan
kehamilan tetapi tidak berhasil (kegagalan alat kontrasepsi)
Sementara itu penyebab remaja hamil di usia muda secara lebih luas dapat disebutkan sebagai berikut :
1) Perilaku remaja cenderung belum matang 2) Dorongan seks juga belum matang
3) Dorongan teman-teman atau sang pacar 4) Rasa ingin coba-coba
5) Tontonan goyang ngebor, acara tv, iklan produk, rubrikasi media, penjualan vcd porno, merebaknya berbagai jenis hiburan
6) Kurangnya informasi tentang seks 7) Pengaruh lingkungan sekitar
8) Terjepit permasalahan ekonomi
9) Mudahnya mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel, cottage, vila, alat kontrasepsi
10) Kesibukan orang tua
11) Berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama
12) Belum adanya pendidikan seks di sekolah (Pekey, 2007) 2.3.2. Akibat Hamil Usia Muda
Akibat yang terjadi jika remaja menikah/hamil pada usia sangat
muda (di bawah 20 tahun) adalah remaja dimungkinkan untuk menikah pada usia dibawah 20 tahun sesuai dengan Undang-undang Perkawinan
No. I tahun 1979 bahwa usia minimal menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi laki-laki 18 tahun. Tetapi tetap perlu diingat ketiga kesiapan di atas, karena perempuan yang belum mencapai usia 20 tahun
sedang berada di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan fisik. Karena tubuhnya belum berkembang secara maksimal maka perlu
dipertimbang-kan hambatan / kerugian antara lain :
2.3.2.1. Ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilannya termasuk kontrol kehamilan. Ini berdampak pada meningkatnya berbagai resiko kehamilan.
2.3.2.2. Ibu muda pada waktu hamil sering mengalami ketidakteraturan tekanan darah yang dapat berdampak pada keracunan kehamilan
serta kekejangan yang berkibat pada kematian
2.3.2.3. Penelitian juga memperlihatkan bahwa kehamilan usia muda (dibawah 20 tahun) sering kali berkaitan dengan munculnya
kanker rahim. Ini erat kaitannya dengan belum sempurnanya perkembangan dinding rahim.
2.3.2.4. Kanker leher rahim. Pada masa remaja maturitas sel-sel epitel mulut rahim belum cukup sehingga adanya rangsangan seksual akan memacu keganasan leher rahim. Beberapa faktor risiko
terjadinya kanker leher rahim adalah kawin usia muda, gonta-ganti pasangan seksual dan kebersihan seksual yang kurang.
2.3.2.5. Perceraian pasangan keluarga muda 2.3.2.6. Rendahnya mental remaja
Kualitas mentalitas remaja perempuan dan laki-laki yang terlibat
penyimpangan perilaku seksual akan rendah, bahkan cenderung memburuk. Mereka tidak memiliki etos kerja dan disiplin tinggi,
karena dibayangi masa lalunya. Cepat menyerah pada nasib (subnisif), tidak sanggup menghadapi tantangan dan ancaman hidup, rendah diri serta tidak sanggup berkompetisi.
2.3.2.7. Kualitas kesehatan reproduksi. Hal ini erat kaitannya dengan dampak medis karena kondisi fisik perempuan khususnya. Sedangkan laki-laki akan memiliki kualitas kesehatan yang
rendah.
2.3.2.8. Kualitas keberfungsian keluarga. Seandainya mereka menikah
dengan cara terpaksa, akan mengakibatkan kurang difahaminya peran-peran baru yang disandangnya dalam membentuk keluarga yang sakinah.
2.3.2.9. Kualitas ekonomi keluarga. Kualitas ekonomi yang dibangun oleh keluarga yang menikah karena terpaksa, tidak akan memiliki
kesiapan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.
2.3.2.10.Kualitas pendidikan. Remaja yang terlibat penyimpangan perilaku seksual, kemudian menikah, tentunya akan memiliki keterbatasan
akses terhadap pendidikan formal.
2.3.2.11.Kualitas partisipasi dalam pembangunan. Karena kondisi fisik,
mental dan sosial yang kurang baik, remaja yang terlibat penyimpangan perilaku seksual, tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan (Endif, 2007).
2.3.3. Upaya Mencegah timbulnya Hamil usia muda.
2.3.3.1 Tindakan preventif dapat dilakukan dengan cara internal dan
eksternal
Secara internal, artinya mengupayakan melakukan pencegahan oleh diri remaja itu sendiri, antara lain dengan cara:
1) Meningkatkan keimanan dan ketakawaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Mengupayakan mengenal diri
3) Menanamkan kepercayaan pada diri dengan cara mengidentifi-kasi minat, bakat, potensi, dan menyalurkannya pada aktivitas
positif dalam mengisi waktu luang
4) Mengidentifikasikan diri dengan lingkungan pergaulan yang positif dan produktif
5) Menyaring berbagai informasi yang masuk dan belajar disiplin. Pencegahan eksternal adalah pencegahan yang dilakukan
oleh pihak di luar diri remaja, antara lain oleh : 1) Orang tua
Dalam hal ini orang tua atau orang tua pengganti hendaknya
mempelajari perkembangan psikis remaja dan memahami konsep diri remaja, melalui komunikasi dua arah. Orang tua
pun harus berupaya memberikan perhatian dan kasih-sayang yang tercurah melalui komunikasi dua arah dengan cara persuasif, memperlakukan remaja sebagai "sahabat" di rumah.
Orang tua menanamkan disiplin yang terkendali dan melaksanakan fungsi keluarga semaksimal mungkin. Orang tua
latihan penyaluran kreativitas dan melaksanakan pembinaan psikososial edukatif.
2) Lingkungan permainan (masyarakat)
3) Lembaga pendidikan/sekolah dan lembaga-lembaga lainnya. Survei oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan,
pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.
Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai
kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik
terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.
Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di
Indonesia masih mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah. Sekalipun untuk tujuan
pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya,
jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan "kemarahan" orang tua.
Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan
mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Sebab itu, pendidikan seks
hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang
salah (Tedy, 2003). 2.3.3.2 Tindakan preservatif
Dalam langkah ini, orang-tua dan masyarakat berupaya memotivasi anak remaja dengan cara mempertahankan dan mengembangkan kondisi-kondisi yang positif yang telah dimiliki
remaja atau yang telah dilakukan remaja. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan prasarana dan sarana yang dibutuhkan
remaja.
2.3.3.3 Tindakan rehabilitatif
Di sini, orang tua, keluarga dan masyarakat secara proaktif
mengidentifikasi kondisi remaja di lingkungannya, dengan cara: 1) Menyelidiki apakah remaja itu tergolong berperilaku sehat
secara sosial-psikologis.
2) Latar belakang apa yang menyebabkan remaja berperilaku menyimpang, apakah faktor lingkungan keluarga, sekolah, teman, atau lainnya.
3) Tumbuhkan motivasi bahwa remaja memiliki psikis yang sehat serta memotivasinya untuk menghadapi kehidupan masa
mendatang.
4) Salurkan remaja terhadap pelatihan keterampilan dan kembangkan pengetahuan serta tanamkan mental untuk dapat
mandiri, bertanggung jawab, dan aktif kreatif. 2.3.3.4 Tindakan korektif
Dalam hal ini, orang tua memberikan penanganan yang efektif dan tepat atas gangguan yang dialami remaja. Misalnya dengan memberikan terapi, baik psikologis, spiritual dan medis, maupun
secara sosial-psikologis (Iriany, 2007).
2.4 Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kesimpulan dari tinjauan pustaka yang berisi tentang konsep-konsep teori yang dipergunakan/berhubungan dengan penelitian
yang akan dilaksanakan (Suparyanto.blogspot.com, 2009)
belum matang
Bagan 2.3 Kerangka Teori Penelitian Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap:
1. Pengalaman pribadi 2. Pengaruh orang lain yang
dianggap penting 3. Kebudayaan 4. Media massa
5. Lembaga pendidikan dan agama
BAB 3
METODE PENELITIAN
Penelitian merupakan suatu rangkaian proses yang terkait secara sistematis dan terdiri dari berbagai tahapan metodologis.
3.1Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional, peneliti hanya melakukan pengamatan tanpa memberikan suatu perlakuan.
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan untuk mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin
timbul selama proses penelitian (Nursalam, 2003 : 85). Pada penelitian ini menggunakan desain deskriptif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan
secara obyektif. Metode ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan
menempuh langkah-langkah pengumpulan data, membuat kesimpulan dan laporan (Notoadmodjo, 2002 : 138).
3.2Variabel Penelitian 3.2.1 Identifikasi Variabel
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimilki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu
konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005: 138). Variabel dalam
penelitian ini adalah sikap siswi tentang hamil usia muda.Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang
diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2003: 106) Tabel 3.1 Definisi Operasional Sikap remaja tentang Hamil Usia Muda
Kerangka Kerja
Kerangka kerja merupakan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian yang berbentuk kerangka hingga analisis datanya, (Alimul, 2003).
Bagan 3.1. Kerangka Kerja Sikap Remaja tentang Hamil Usia Muda Populasi
Semua remaja di Desa Karanganom Trenggalek
Menentukan instrument penelitian (kuesioner)
Pengolahan Data
Hasil Sampling
Stratified Random Sampling
Pengumpulan Data Sampel
Kriteria inklusi/eksklusi
3.3Populasi, Sampel dan Sampling
3.3.1 Populasi
Populasi adalah objek penelitian atau objek yang akan diteliti,
(Notoatmodjo, 2005).
Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh siswi kelas XI di
SMA Negeri 1 Gondang kabupaten Tulungagung yang berjumlah 200 siswi. 3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek yang
akan diteliti dan di anggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005: 64). Pada penelitian ini sampelnya adalah sebagian Remaja di Desa
Karanganom yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Dalam penentuan sampel ini peneliti menggunakan kriteria sebagai berikut :
3.3.2.1 Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari
suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003: 96). Yang termasuk kriteria inklusi adalah Remaja yang bersedia menjadi responden.
3.3.2.2 Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluar-kan
subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2003: 97). Yang termasuk kriteria eksklusi adalah Remaja yang sedang sakit pada saat penelitian.
3.3.3 Sampling
Sampling merupakan suatu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian (Alimul, 2003).
Pada penelitian ini pengambilan sampel secara stratified random sampling yaitu cara pengambilan elemen-elemen dari populasi berstrata
sedemikian sehingga setiap elemen mendapat kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi anggota sampel (Marzuki, 2001: 43).
Besar sampel dalam penelitian ini ditetukan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut: n = N
1 + N (d)² Keterangan : n = jumlah sampel
N = jumlah populasi d = tingkat signifikasi (0,1)
(Nursalam, 2003 : 96)
Jumlah sampel yang diperlukan yaitu:
Penentuan besar sampel tiap RT yaitu :
Jumlah Populasi RT x Sampel Jumlah Populasi Sekolah
Tabel 3.2 Pembagian Sampel Tiap RT
Remaja Jumlah Total Populasi Sampel Yang Diambil
3.4Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui, (Arikunto, 2006: 130).
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Arikunto, 2006: 130).
3.5Lokasi dan Waktu Penelitian 3.5.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Karanganom Durenan Trenggalek. 3.5.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada 1-11 Juni 2018.
3.6Pengolahan Data
Setelah mendapatkan ijin dari Kepala Puskesmas Baruharjo dan Kepala
Desa Karanganom, peneliti mengadakan pendekatan dengan responden untuk mendapatkan persetujuan dari responden sebagai subjek penelitian, yaitu Remaja di Desa Karanganom,Durenan Trenggalek. Cara pengambilan data dengan
menggunakan kuesioner.
Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
3.6.1 Editing
Editing adalah mengkaji atau meneliti kembali data yang telah terkumpul apakah sudah dapat dipersiapkan untuk proses berikutnya, mencakup;
3.6.1.1 Mengecek nama dan kelengkapan identitas
Mengecek kelengkapan data apabila ternyata ada kekurangan isi
atau halaman maka perlu dikembalikan ke responden untuk dilengkapi.
3.6.1.2 Mengecek macam-macam isian data
Jika dalam instrumen terdapat beberapa item yang diisi "tidak tahu" atau isian lain yang tidak dikehendaki peneliti, padahal isian
yang diharapkan tersebut merupakan variabel pokok, maka item tersebut perlu di drop (keluarkan) (Arikunto, 2006: 235-236) 3.6.2 Coding
Adalah mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut kriteria tertentu. Klasifikasi pada umumnya ditandai dengan kode tertentu yang
biasanya berupa angka, (Nasir, 2005). Adapun pengkodeannya adalah: 3.6.2.1 Informasi
Kode 1 = Pernah mendapat informasi
Kode 2 = Belum pernah mendapat informasi 3.6.2.2 Sumber Informasi
Kode 1 = Dari teman Kode 2 = Dari keluarga Kode 3 = Media massa
Kode 4 = Dari petugas kesehatan Kode 5 = Dari Guru
3.6.3 Scoring
Adalah penentuan jumlah skor, dalam penelitian ini menggunakan skala nominal. Memberi skor pada tiap butir pernyataan, kemudian
dihitung dengan menggunakan rumus skor T sebagai berikut:
T : Standar deviasi skor kelompok.
Hasil dari perhitungan yang telah ditetapkan adalah skor T merupakan skala standar yang biasa digunakan dalam skala model linkert
untuk menentukan sikap seseorang. Apabila T > mean T maka disebut sikap positif dan apabila T < mean T maka disebut sikap negatif.
3.6.4 Tabulating
Adalah data dikumpulkan dandi kelompokkan dalam bentuk tabel. Termasuk dalam kegiatan ini adalah memberikan skor terhadap item-item
yang perlu diberi skor dan memberi kode terhadap item-item yang diberi skor (Arikunto, 2006 : 236).
Tabel 3.3 Rencana Tabulating Data Khusus
No Sikap Frekuensi % 1
2
Jumlah
3.7Analisa Data
Tahap analisis data dimulai dengan mengumpulkan kuesioner yang telah diisi
responden kemudian diperiksa kelengkapannya. Setelah itu dilakukan perhitungan hasil kuesioner dengan menggunakan T skor model linkert kemudian hasilnya
dikualitaskan menggunakan skala kualitas sebagai berikut : Seluruhnya dari Seluruhnya dari responden = 100%
Hampir seluruhnya dari responden = 76-99%
Sebagian besar dari responden = 51-75% Setengahnya dari responden = 50%
Hampir setengahnya dari responden = 26-49% Sebagian kecil dari responden = 1-25% Tidak satupun dari responden = 0%
(Sugiyono, 2006 : 246)
3.8Etika Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan kepada institusi Puskesmas Baruharjo untuk mendapatkan persetujuan. Setelah itu baru melakukan penelitian pada responden dengan menekankan pada masalah etika
yang meliputi :
3.8.1 Informed Consent
Informed Consent diberikan sebelum penelitian dilakukan pada subjek penelitian. Subjek diberi tahu tentang maksud dan tujuan penelitian.
Jika subjek bersedia responden menandatangani lembar persetujuan. 3.8.2 Anonimity
Responden tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data. Cukup menulis nomor responden atau inisial saja untuk menjamin kerahasiaan identitas
3.8.3 Confidentiality
Kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden akan dijamin
kerahasiaan oleh peneliti. Penyajian data atau hasil penelitian hanya ditampilkan pada forum Akademis.
3.9 Keterbatasan Penelitian
Ada beberapa keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini, yaitu :
3.9.1 Alat pengumpul data pada penelitian ini berupa kuesioner sehingga memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud sehingga hasilnya kurang
mewakili secara kualitatif.
3.9.2 Instrumen dan pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dirancang
oleh penulis sendiri, oleh karena itu validitas dan reliabilitasnya perlu untuk di uji coba.
3.9.3 Peneliti baru pertama kali melakukan penelitian sehingga peneliti masih membutuhkan kritik dan saran yang membangun untuk penelitian berikutnya menjadi lebih baik.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai sikap Remaja tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten
Trenggalek. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1-11 Juni 2018 di Desa
Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek dengan jumlah responden sebanyak 67 remaja.
Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengumpulan data umum yang berisi pernah atau tidak pernah mendapat
informasi tentang hamil usia muda dan sumber informasi yang didapat dan data khusus yang berisi sikap responden tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek yang disajikan dalam bentuk diagram pie dan tabel.
45
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian adalah proses mengubah data dari instrumen pengumpul data menjadi tabel-tabel data kemudian data akan di uji secara sistematis. Pada
penelitian ini data yang akan di analisa terdiri dari data umum dan data khusus. Data umum berisi pernah atau tidak pernah mendapat informasi tentang hamil
usia muda sedangkan data khusus berisi sikap responden tentang hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek.
4.1.1Data Umum
Pada data umum disajikan tentang karakteristik responden berdasarkan pernah atau tidak pernah mendapat informasi tentang hamil
4.1.1.1 Karakteristik responden berdasarkan pernah atau tidak pernah mendapat informasi
Sumber : Data Primer
Diagram 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan pernah atau tidak pernah mendapat informasi di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018.
Diketahui pada diagram 4.1 menunjukkan bahwa dari 67 responden, didapatkan seluruh responden pernah mendapat informasi tentang hamil usia muda, yaitu sejumlah 100%.
47
4.1.1.2 Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi.
Sumber : Data Primer
Diagram 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan sumber informasi di
Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018
Diketahui pada diagram 4.2 menunjukkan bahwa dari 67 responden hampir setengah dari responden yang mendapat informasi tentang hamil
4.1.2 Data Khusus
Tabel 4.1 Sikap responden tentang hamil di usia muda di Desa
Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018
No Sikap Frekuensi %
1 Negatif 35 52,24
2 Positif 32 47,76
Jumlah 67 100
Diketahui pada tabel 4.1 didapatkan bahwa dari total 67
responden didapatkan sebagian besar responden bersikap negatif tentang hamil usia muda, yaitu sejumlah 35 responden (52,24%).
49
4.2 Pembahasan Penelitian
Penilaian sikap siswi tentang hamil usia muda yang dilakukan terhadap 67 responden di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek didapatkan
bahwa sebagian besar responden bersikap negatiftentang hamil usia muda, yaitu sejumlah 35 responden (52,24%).
Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek, sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003 :
130). Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu (Notoatmodjo, 2000 : 130). Sikap yang ada
pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal,
semuanya akan berpengaruh pada sikap yang ada pada diri seseorang (Walgito, 2003 : 115).
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap menurut Azwar (2002: 17) antara lain pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting,
kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan, agama, dan pengaruh faktor emosi.
Sikap negatif responden tentang hamil usia muda berkaitan dengan
pernah atau tidak pernah mendapat informasi dan sumber informasi yang diperoleh. Hasil penelitian didapatkan bahwa seluruh responden pernah
Menurut Walgito (2003; 125) salah satu faktor yang mempengaruhi sikap adalah informasi, pembentukan sikap seseorang dapat dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan perantara alat-alat komunikasi misalnya media massa,
baik yang elektronik maupun yang non elektronik. Pembentukan sikap seseorang dipengaruhi oleh sumber pesan. Sumber pesan akan memberikan tanggapan
tertentu terhadap materi yang dikemukakan oleh komunikator.
Adanya informasi dalam mengenal suatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap suatu obyek. Informasi merupakan
faktor pendukung. Dengan banyaknya informasi maka akan menambah wawasan dan pengetahuan. Pengetahuan yang baik akan mempermudah seseorang untuk
menentukan sikap. Informasi tentang kehamilan yang berasal dari media massa akan lebih cepat dipercaya oleh responden. Informasi yang cukup selain akan menambah pengetahuan, juga dapat menimbulkan kepercayaan yang merupakan
dasar terbentuknya ide mengenai sifat atau karakteristik dari obyek sikap. Informasi yang berasal dari media massa, akan semakin mendukung responden
untuk bersikap negatif tentang hamil usia muda. Kondisi ini sangat
menguntungkan responden, orang tua bahkan lingkungan sekitar, karena dengan sikap negatif maka akan dapat mempengaruhi perilakunya tentang hamil usia
muda yang disebabkan oleh hubungan pra nikah.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data mengenai sikap siswi tentang
hamil usia muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1-11 Juni 2018, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar dari responden bersikap negatif tentang hamil usia muda yaitu sejumlah 35
responden (52,24%) dari total 67 responden.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Responden
Diharapkan dapat menambah informasi dan wawasan tentang pendidikan seks dan hamil di usia muda yang dapat diperoleh melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan dan dapat pula diperoleh melalui media
misal buku dan internet sehungga responden akan lebih mengerti dalam menghadapi dan menyikapi tentang hamil di usia muda.
5.2.2 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran ilmiah dan tambahan kepustakaan yang sudah ada sehingga dapat dimanfaatkan oleh
peserta didik yang akan datang dalam proses pendidikan.
5.2.3 Bagi Puskesmas Baruharjo
Diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk penyuluhan tentang pelayanan pada remaja khususnya hamil usia muda.
5.2.4 Bagi lokasi Penelitian
Setelah melihat hasil penelitian diharapkan para guru
meningkatkan penyuluhan tentang pendidikan seks dan hamil usia muda pada remaja dan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan wacana bagi masyarakat Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek .
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta. Hal 130.
Azwar, Azrul. 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 24.
---, 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 7
---, 2003. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 34
---, 1995. Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Alimul,2003. Pendidikan Seks Remaja, Jakarta : Kawan Pustaka
Notoatmodjo, Soekidjo. 2000. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta. Hal 130
---,2003. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta. Hal 130
---, 2004. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: EGC. Hal 144 ---, 2005. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: EGC. Hal 138
Nursalam, 2003. Metodologi Riset Keperawatan, Jakarta: CV Infomedika. Hal 106 ---, 2003. Metodologi Riset Keperawatan, Jakarta: CV Infomedika. Hal 85 Sarwono, 2007. Pendidikan Seks Remaja, Jakarta: Kawan Pustaka. Hal 124
Soeparyanto.2009. Materi Kuliah Mahasiswa STIKES.
Dr.suparyanto.blogspot.com.02/02/2011.
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Agung Seto
Syamsu, 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian, Bandung: Alfa Beta. Hal 146
Saifullah, A.B. 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: JNPKR-POGI. Hal 53.
Prawirohardjo, Sarwono. 2007, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Hal 124.
Walgito,B.2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Hal:133 ---,.2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Hal:115
Lampiran 1
JADWAL PENELITIAN
PROGRAM KEGIATAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH TAHUN 2018
No. Kegiatan Bulan
Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nop JDesember 1. Pengajuan Judul - Topik KTI
2. |Kegitan Penelitian Dimasyarakat
Trenggalek, … ……… 2018 ….. Peneliti
Lampiran 2 bermaksud mengadakan penelitian mengenai "Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom Durenan Kabupaten Trenggalek ".
Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data secara langsung dari hasil kuesioner yang berpedoman pada daftar terlampir untuk mengetahui bagaimanakah sikap remaja di Desa Karanganom tentang hamil usia muda di Kabupaten Trenggalek.
Demi terciptanya tujuan penelitian ini dengan segala hormat kesediaan saudara untuk menjadi responden dengan memberikan pernyataan bersedia menjadi responden pada format yang telah disediakan. Saya berharap saudara bersedia meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Tidak akan dilakukan tindakan apapun pada saudara sehubungan dengan jawaban yang telah saudara berikan dan kerahasiaan identitas saudara akan dijaga.
Atas segala bantuan dan kerjasama dari saudara saya sampaikan terima kasih.
Trenggalek, Juni 2018
Peneliti
Lampiran 3
INFORMED CONSENT
Yang bertanda tangan dibawah ini saya :
Nama : ... Pendidikan : ... Pekerjaan : ...
Usia : ...
Setelah mendapat keterangan secukupnya serta mengetahui tentang manfaat dan
resiko penelitian dengan judul "Sikap Remaja Tentang Hamil Usia Muda di Desa Karanganom durenan kab.Trenggalek", menyatakan bersedia / tidak bersedia1) untuk berpartisipasi sebagai responden tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Segala
informasi, pendapat atau identitas yang terkait dengan penelitian ini dijamin kerahasiaannya.
Trenggalek, ... ... 20 ... Responden
____________________
1) Coret yang tidak perlu
Lampiran 4
KISI-KISI KUESIONER
SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN
TRENGGALEK
Oleh : Wartini
No. Jenis Pernyataan Jumlah Soal No Soal
1. Positif 10 2,4,6,7,8, 10,11,12,14,15
2. Negatif 5 1, 3,5, 9, 13,
Lampiran 5
LEMBAR KUESIONER
SIKAP REMAJA TENTANG HAMIL USIA MUDA DI DESA KARANGANOM KECAMATAN DURENAN KABUPATEN
TRENGGALEK
No. Responden : ...
Alamat : ... Tanggal : ...
A. DATA UMUM
Beri tanda (√) pada kolom kecil untuk jawaban yang dianggap benar! 1. Informasi
Pernah mendapat informasi
Belum pernah mendapat informasi 2. Sumber informasi
Dari teman
Dari Keluarga
Dari Media Massa
Dari Petugas Kesehatan
Dari Guru