BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Konsep Status Kesehatan
2.2.1 Pengertian
Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 memberikan
batasan: kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental,
spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Pada Undang-Undang terdahulu
Undang-Undang No. 23 / 1992, batasan kesehatan mencakup 3 aspek, yakni : fisik, mental dan sosial kemudian disempurnakan dengan UU No.36 tahun 2009 yang menyatakan batasan kesehatan mencakup 5 aspek, yakni : fisik (badan), mental (jiwa), sosial, spiritual, dan ekonomi.
(Notoatmodjo, 2012)
Status kesehatan adalah derajat kesehatan
yang menunjukkan seseorang untuk dapat beraktifitas fisik, emosional, dan sosial, dengan atau
tanpa pelayanan kesehatan.
Untuk mengetahui dan
menetapkan hasil
pengukuran status kesehatan, salah satu cara
yang dilakukan adalah
dengan pemeriksaan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui resiko kesehatan dari setiap orang (Neneng Nurhayati, 2009).
15
2.2.2 Sehat dan Sakit
Kesehatan adalah hal yang kontinu, yang berada dari titik ujung sehat sampai dengan titik pangkal sakit serius. Oleh Fashel dan Bush (1970) yang mendasarkan uraiannya pada definisi Parson menjabarkan kedalam 11 tingkatan keadaan. Dari ke-11 tingkatan tersebut mereka membuat indikator-indikatornya sekaligus sebagaimana diuraikan di bawah :
1 Well being (sehat sempurna)
Pada keadaan ini individu terbebas dari gejala, keadaannya kesehatan sesuai dengan definsi sehat WHO, yaitu : sehat fisik, mental, spiritual, sosial dan ekonomi
2 Dissatifaction (kurang memuaskan)
Keadaan kesehatan dalam batas tertentu dan dapat diterima, namun
ada penyimpangan ringan dari keadaan well being, misal: caries dentis
3 Discomfort (tidak nyaman)
Aktivitas sehari-hari dapat dilaksanakan tanpa pengurangan, walaupun beberapa gejala mulai tampak.
4 Minor disability (ketidakmampuan minor)
Aktivitas sehari-hari dilaksanakan, namun berkurang secara bermakna karena adanya gangguan kesehatan
5 Mayor disability (ketidakmampuan mayor)
Aktivitas sehari-hari masih dapat dilaksanakan, namun berkurang secara bermakna
16
6 Disabled (cacat)
Individu tidak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari tetapi masih bisa bergerak bebas dalam masyarakat
7 Confined (terbatas)
Individu berada di tempat tidur, tetapi tidak masuk rumah sakit (dirawat)
8 Confined + bedridden (tinggal di tempat tidur)
Kemampuan kegiatan individu hanya terbatas di tempat tidurnya
9 Isolated (terisolasi)
Individu terpisah dari keluarga dan kawan-kawan (dirawat).
10 Coma
Individu hampir mati, namun ada kemungkinan bisa sembuh dan jadi sehat lagi
11 Mati
Individu tidak mampu sama sekali.
Wolansky (1980) seorang ahli sosiologi kesehatan yang mengklasifikasikan bentangan sehat-sakit ini menjadi 3, yakni:
1 Body movement, dimana seseorang masih mampu menggerakan
anggota tubuh, walau dalam keadaan sakit
2 Mobility, dimana seseorang dapat melakukan kegiatan kemana saja,
walau tidak dapat menjalankan tugas atau pekerjaan utamanya
17
3 Major role activity, dimana seseorang masih mampu melakukan
pekerjaan utamanya, sesuai pekerjaan dan tugasnya (Notoatmodjo, 2012)
Indikator status kesehatan individu antara lain sebagai berikut :
1. Kesehatan fisik, apabila seseorang tidak merasa sakit dan secara klinis
tidak sakit. Semua organ tubuh normal dan berfungsi normal tidak ada gangguan fungsi tubuh.
2. Kesehatan mental (jiwa), mencakup dua komponen, yakni pikiran dan
emosional
a. Pikiran yang sehat terlihat dari cara berpikir seseorang yang masuk
akal dan runtut.
b. Emosional terlihat dari cara seseorang mengekspresikan emosinya,
misalnya takut, gembira, khawatir, sedih dan sebagainya.
3. Kesehatan Spiritual, terlihat dari cara seseorang mengekspresikan rasa
syukur, pujian atau penyembahan kepada sang pencipta. Secara mudah, spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaannya atau kepercayaannya.
4. Kesehatan sosial, terwujud bila seseorang mampu berhubungan serta
berinteraksi dengan orang atau kelompok lain tanpa membeda-bedakan ras, suku, agama, kepercayaan serta saling menghargai dan toleransi.
18
5. Kesehatan dan aspek ekonomi, terlihat dari produktivitas seseorang
(dewasa) dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong hidupnya atau keluarga secara finansial.
(Notoatmodjo, 2012) 2.2.4 Rentang Sehat Sakit
Neuman (1990) “sehat dalam suatu rentang adalah tingkat sejahtera klien pada waktu tertentu, yang terdapat dalam rentang sejahtera yang optimal, dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian, yang menandakan habisnya energi total”.
Menurut kontinum sehat sakit, sehat adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai adaptasi individu terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan dan spiritual yang sehat.
Sakit adalah sebuah proses dimana fungsi individu mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.
Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relative, yang mempunyai beberapa tingkat, maka akan lebih akurat bila ditentukan sesuai dengan titik tertentu pada skala kontinum sehat sakit :
Rentang sehat sakit
Gambar 2.2 Rentang sehat sakit
19
2.2.5 Penggolongan Status Kesehatan
Tingkat Psikologis Medis Sosial
Normally Baik Baik Baik
Pessimistic Sakit Baik Baik
Socially ill Baik Baik Sakit
Hypochondriacal Sakit Baik Sakit
Medically ill Baik Sakit Baik
Martyr Sakit Sakit Baik
Optimistic Baik Sakit Sakit
Seriously Sakit Sakit Sakit
Tabel 2.1 Penggolongan status kesehatan
Penggolongan status kesehatan individu menurut Notoatmodjo :
1 Normally : Sosial, psikologis dan medis sehat
2 Pessimistic : Medis dan sosial sehat, tetapi tetap
menganggap dirinya sakit
3 Socially ill : Medis dan psikologis sehat, tapi sosial
sakit. Contohnya guru sekolah yang hamil di luar nikah
4 Hypochondriacal : Medis sehat, tapi psikologis dan sosial
dianggap sakit. Mempunyai kekhawatiran berlebih terhadap kesehatannya dan menampilkan diri sebagai orang sakit sehingga tidak mampu menjalankan peran sosialnya
5 Medically ill : Medis sakit, namun merasa secara
psikologis merasa sehat dan sosial mampu menjalankan peran.
Contohnya seseorang yang bermain bola tapi kaki sedang cidera sehingga tidak bisa bermain hanya mennton saja
20
6 Martyr : Secara sosial sehat, namun secara medis
dan psikologis sakit. Misalnya penderita AIDS
7 Optimistic : Psikologis sehat, namun medis dan sosial
sakit. Misal orang lansia yang masih ceria namun secara medis mengalami penyakit degenerative.
8 Seriously : Fisik, mental dan sosial sakit
(Ika, 2013)
2.2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan
Secara garis besarnya faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang menurut Blum (1974) ditentukan oleh 4 faktor yaitu :
1. Lingkungan, yang mencakup lingkungan fisik (alami, buatan),
kimia (organik / anorganik, logam berat, debu), dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan dan pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku
3. Heredity, yang merupakan faktor bawaan penyakit.
4. Pelayanan kesehatan, meliputi promotif, preventif, perawatan,
pengobatan, pencegahan kecacatan, rehabilitasi. Sedangkan Prolanis merupakan program yang dikeluarkan oleh badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) yang ditujukan pada peserta penyandang penyakit kronis (Hipertensi dan DM Tipe 2) agar mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2014)
21
Faktor- faktor diatas merupakan faktor kesehatan kelompok atau komunitas yang kemungkinan sama di masyarakat. Akan tetapi untuk kesehatan individu selain ke empat faktor diatas, faktor internal individu
juga berperan, yakni umur, gender, pendidikan dan sebagainya. Faktor –
faktor lain yang mempengaruhi atau menentukan terwujudnya kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat yaitu :
1. Faktor Makanan
Merupakan faktor penting dalam kesehatan. Mereka yang memelihara tubuh dengan makanan yang cocok, akan menikmati tubuh yang benar-benar sehat. Kecocokan makanan ditinjau dari waktu, jumlah dan harga yang tepat. Hanya saat makan berlebihan makanan menjadi tidak cocok dengan tubuh, reaksinya yakni sakit bila dirawat dengan benar tubuh akan kembali sehat. Penyakit merupakan peringatan untuk mengubah kebiasaan menjadi lebih baik. Tubuh hanya memerlukan makanan yang tepat dengan jumlah yang sesuai. 2. Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seseorang untuk memahami faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan untuk menjaga kesehatannya. Pendidikan mempengaruhi perilaku dalam menjaga kesehatan. Biasanya orang yang berpendidikan lebih beresiko kecil terkena penyakit dibandingkan dengan masyarakat awam dengan kesehatan.
22
3. Faktor Sosioekonomi
Faktor seperti lingkungan sosial, tingkat pendapatan, pekerjaan dan ketahanan pangan dalam keluarga merupakan faktor yang berpengaruh pada penentuan derajat kesehatan seseorang. Dalam masalah gizi misalnya, masyarakat yang ekonomi dan berpendapatan rendah biasanya rentan terkena gizi buruk.
4. Latar Belakang Budaya
Budaya mempengaruhi keyakinan, nilai, dan kebiasaan individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan pribadi. Sebagian adat istiadat masih ada yang yang tidak mempedulikan kesehatan misalnya, suku baduy yang tidak memperbolehkan masyarakat mengenakan alas kaki.
5. Usia
Setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman serta respon yang berbeda mengenai perubahan kesehatan yang terjadi.
6. Faktor Emosional
Setiap pemikiran memiliki pengaruh, tidak sulit memahami pengaruh dari pikiran terhadap kesehatan yang diperlukan hanya usaha mengembangkan sikap yang benar agar tercapai kesejahteraan.
7. Faktor Agama dan Keyakinan
Agama atau kepercayaan yang dianut secara tidak langsung mempengaruhi perilaku kita dalam berperilaku sehat. Misalnya, agama islam mengajarkan bahwa “anna ghafatul minal iman” atau
23
“kebersihan adalah sebagian dari iman”. Sebagai umat muslim kita akan melaksanakan perintah Allah SWT untuk berperilaku bersih dan sehat.