• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.1 Program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS)

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden dalam mengikuti program prolanis mendapat nilai baik berjumlah 27 orang (90,0%) dan program prolanis dengan nilai cukup berjumlah 3 orang (10,0%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Blum (1974) dalam Notoatmodjo (2012) faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang ditentukan oleh 4 faktor salah satunya yaitu pelayanan kesehatan yang meliputi upaya promotif, preventif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan, rehabilitasi. Sedangkan Prolanis merupakan program yang dikeluarkan oleh badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) yang ditujukan pada peserta penyandang penyakit kronis (Hipertensi dan DM Tipe 2) agar mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2014)

Menurut data yang diperoleh peneliti program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) merupakan program pelayanan kesehatan bagi seseorang yang menderita penyakit kronis untuk meningkatkan kualitas hidup, status kesehatan, serta harapan hidup bagi seseorang dengan cara yang efektif dan efisien. Program dikatakan baik bila dapat meningkatan kualitas hidup peserta program prolanis, beberapa contoh kegiatan program yakni senam prolanis, konsultasi medis, penyuluhan,

69

serta pemantauan status kesehatan peserta seperti pemeriksaan tekanan darah (Puskesmas Singgahan,2017).

Faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) diantaranya yaitu jenis kelamin. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki jenis kelamin perempuan.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat Andra dan Yessie (2013), Menyatakan perbandingan wanita dan pria hingga 55 tahun lebih banyak ditemukan pada pria. Namun setelah terjadi manepouse tekanan darah wanita cenderung meningkat sehingga lebih banyak ditemukan pada wanita daripada pria. Tekanan darah atau hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang menjadi tujuan dalam program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) yang dilaksanakan oleh BPJS agar tercapainya peningkatan kualitas hidup peserta.

Faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) diantaranya umur. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki umur 46-65 tahun.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari Andra dan Yessie (2013), Menyatakan hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Arteri kehilangan elastisitasnya. Meskipun bisa terjadi pada segala umur sering dijumpai pada orang berumur 35 tahun ke atas. Hal ini disebabkan perubahan

70

alami jantung, pembuluh darah dan hormon. Kebanyakan peserta program prolanis adalah mereka yang memiliki usia lansia.

Faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) diantaranya lama menderita. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden menderita tekanan darah tinggi > 1 tahun.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari Andra dan Yessie (2013), menyatakan biasanya penyakit hipertensi ini penyakit yang menahun yang sudah lama dialami oleh pasien, dan biasanya pasien mengkonsumsi obat rutin seperti Captopril. Orang akan lebih erat kaitannya dengan pelayanan kesehatan ketika penyakit yang diderita sudah lama dan timbul berbagai macam gejala.

Faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) diantaranya status perkawinan. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden berstatus kawin.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari Andra dan Yessie (2013), menyatakan keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung risiko 2-5 kali lipat. Penelitian menunjukkan tekanan darah anak lebih mendekati tekanan darah orang tuanya bila memiliki hubungan darah. Hal ini ditunjukan bahwa gen yang diturunkan dan bukan hanya faktor

lingkungan. Seseorang yang memiliki keluarga akan lebih

memperhatikan status kesehatan satu sama lain dengan berbagai macam cara seperti mengikuti program pelayanan kesehatan.

71

Faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) diantaranya pendidikan. Menunjukkan bahwa setengah responden berpendidikan tinggi.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari Notoatmodjo (2012), menyatakan bahwa tingkat pengetahuan akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seseorang untuk memahami faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan untuk menjaga kesehatannya. Pendidikan mempengaruhi perilaku dalam menjaga kesehatan. Biasanya orang yang berpendidikan lebih beresiko kecil terkena penyakit dibandingkan dengan masyarakat awam dengan kesehatan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan memiliki pola pikir yang lebih baik dalam mengambil keputusan untuk lebih hidup sehat dengan cara yang cerdas seperti halnya mengikuti program pelayanan kesehatan.

Faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) diantaranya pekerjaan. Menunjukkan bahwa hampir seluruh responden pensiunan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) dilihat dari

penghasilan menunjukkan bahwa sebagian besar responden

berpenghasilan > Rp. 1.000.000 / bulan.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari Notoatmodjo (2012), menyatakan bahwa faktor seperti lingkungan sosial, tingkat pendapatan,

72

pekerjaan dan ketahanan pangan dalam keluarga merupakan faktor yang berpengaruh pada penentuan derajat kesehatan seseorang. seseorang dari segi finansial akan mempengaruhi status ekonomi, dimana dengan pendapatan yang lebih besar memungkinkan lebih bisa terpenuhinya kebutuhan sehingga yang ada di masyarakat bahwa semakin tinggi status ekonomi seseorang maka akan semakin tinggi pula kelas sosialnya.. Seseorang akan memilih mana pilihan yang tepat untuk menunjang kehidupannya.

5.2.2 Status kesehatan penderita hipertensi

Berdasarkan tabel 5.10 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden berstatus kesehatan baik berjumlah 24 orang (80,0%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Neneng Nurhayati (2009), menyatakan bahwa status kesehatan adalah derajat kesehatan yang menunjukkan seseorang untuk dapat beraktifitas fisik, emosional, dan sosial, dengan atau tanpa pelayanan kesehatan. Untuk mengetahui dan menetapkan hasil pengukuran status kesehatan, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan pemeriksaan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui resiko kesehatan dari setiap orang. Menurut Blum (1974) dalam notoatmodjo (2012) faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang ditentukan oleh 4 faktor salah satunya pelayanan

kesehatan, meliputi promotif, preventif, perawatan, pengobatan,

pencegahan kecacatan, rehabilitasi. Pelayanan kesehatan bila

73

dimanfaatkan dengan baik maka akan berdampak positif bagi seseorang dalam membantu mencapai kesehatan yang lebih baik serta pelayanan kesehatan memberikan keringanan berupa pengobatan gratis. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti peserta yang mengikuti program dengan baik dan rutin memiliki perubahan status kesehatan yang lebih baik. (Puskesmas Singgahan, 2017). Seperti halnya perubahan status kesehatan fisik (pusing, cara berjalan, konsumsi garam, gangguan tidur, cepat lelah, konsumsi obat, penglihatan), kesehatan mental (menerima kritik dan saran, puas dengan kehidupan, mengambil keputusan, harapan hidup), kesehatan sosial (percaya diri, bersosialisasi), kesehatan spiritual (bersyukur), serta kesehatan ekonomi (pengeluaran biaya).

74

5.2.3 Hubungan program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) terhadap status kesehatan penderita hipertensi

Berdasarkan tabel 5.11 dapat dilihat bahwa hampir seluruh responden yang mengikuti program prolanis dengan nilai baik memiliki status kesehatan baik berjumlah 24 responden (80,0 %).

Hasil uji statistik rank spearman diperoleh angka signifikan atau nilai

probabilitas (0,034) jauh lebih rendah dari standart signifikansi (0,05) atau

(ρ < α), maka data H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada hubungan program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) terhadap status kesehatan penderita hipertensi di Puskesmas Singgahan Kabupaten Tuban.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari BPJS Kesehatan (2014), menyatakan bahwa Program prolanis adalah sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan peserta, Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.

Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke

Faskes Tingkat Pertama memiliki hasil ”baik” pada pemeriksaan spesifik

terhadap penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi sesuai panduan klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit.

75

Aktifitas dalam prolanis meliputi konsultasi medis / edukasi berupa penyuluhan tentang berbagai macam penyakit, home visit untuk pasien yang tidak bisa datang untuk melakukan program, reminder, aktifitas klub seperti olahraga yakni senam prolanis dan pemantauan status kesehatan berupa pemeriksaan tekanan darah, cek gula darah dan, asam urat.

Hasil penelitian ini sesuai pendapat dari Notoatmodjo (2012),

menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik,

mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk

hidup produktif secara sosial dan ekonomi. UU No.36 tahun 2009 yang

menyatakan batasan kesehatan mencakup 5 aspek, yakni : fisik (badan), mental (jiwa), sosial, spiritual, dan ekonomi. faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang menurut Blum (1974) ditentukan oleh 4 faktor salah satunya pelayanan kesehatan, meliputi promotif, preventif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan, rehabilitasi.

Dokumen terkait