• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A. Konsep Manajemen Strategi

B. Konsep Strategi Dalam Prespektif Ekonomi Islam

Dalam manajemen strategis syariah di sebutkan ada 5 kekuatan manajemen syariah atau disebut juga Five power of the sharia strategic managemen. Untuk mendapatkan hasil yang optimal kelima teori ini harus

diimplementasikan secara terpadu, tidak parsial, sehingga mempunyai kekuatan yang sempurna.Dan agar tujuan perusahaan dapat tercapai dengan kinerja terbaik dan hasil yang maksimal, maka seluruh organ perusahaan harus memiliki komitmen yang kuat untuk menerapkannya dengan sungguh-sungguh sembari terus mengharapkan bimbingan dan keridhaan Allah SWT.Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut35:

Teori 1: Azaz Tauhid pada organisasi/perusahaan

Penerapan azaz tauhid sebagai landasan segala aktivitas organisasi/perusahasan dengan keyakinan mutlak bahwa Allah SWT sebagai penguasa dan pengatur segala kehidupan makhluk di dunia ini, dan dengan berserah diri secara totalitas hanya kepada-Nya, akan menambah keyakinan bagi manajemen dan kru untuk berhasil mencapai visi, misi dan tujuan perusahaan yang lebih baik dan bermaslahat dunia akhirat.

Teori 2: Orientasi Duniawi-Ukhrawi

Dengan menetapkan tujuan perusahaan berorientasi duniawi-ukhrawi, yaitu memperoleh profit/keuntungan duniawi sekaligus benefit/

manfaat ukhrawi, akan memberi ketenangan, ketentraman dan kepuasan

35Abdul Halim Usman. Manajemen Strategis Syariah, (Jakarta:PT besari Buana Murni 2015) hal 90.

33

dalam bekerja dan beraktivitas sehingga diperoleh/dirasakan kebahagiaan dalam menjalankan organisasi/perusahaan.

Teori 3: Motivasi Mardhatillah

Dengan motivasi mardhatillah yaitu semua aktivitas organisasi/perusahaan diniatkan semata-mata karena Allah serta mengharapkan pahala dan ridha Allah SWT, akan memberi dorongan yang lebih kuat bagi manajemen dan kru untuk mencapai keberhasilan usahanya di dunia hingga akhirat.

Teori 4: Keyakinan Ubudiyah dalam bekerja

Dengan keyakinan ubudiyah yaitu meyakini bahwa bekerja adalah ibadah dimana segala aktivitas dalam organisasi/perusahaan semata-mata diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT, akan memberi kekuatan bagi manajemen dan kru untuk menghadapi dan mengatasi berbagai kendala dan rintangan serta memberi ketenangan, kepuasan dan kebahagiaan dalam bekerja dan beraktivitas demi mengharapkan keberkahan dan keridhaan Allah SWT.

Teori 5: kesadaran Ihsaniyah dalam bekerja

Dengan kesadaran ihsaniyah yaitu meyakini bahwa segala aktivitas organisasi/perusahaan merupakan amal shaleh yang senantiasa di ketahui dalam pengawasan Allah SWT, akan mendorong manajemen dan kru untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, jujur, amanah dan iqtan (tepat,sempurna,

34

tuntas) tanpa harus diawasi oleh atasan, sehingga mendorong tercapainya hasil dan kinerja yang terbaik.

Lingkungan pasar dan persaingan dapat mempengaruhi strategi perusahaan pada masa yang akan datang. Perhatian perusahaan terhadap lingkungan pasar dipusatkan pada lingkungan dimana persaingan menjadi sangat tajam, misalnya: pelayanan pada pelanggan,saluran distribusi, dan ukuran segementasi pasar.

Agar pasar dapat beroerientasi secara normal (Alamiah) dan terjamin keberlangsungan dimana struktur dan mekanismenya dapat terhindar dari perilaku-perilaku negatif para pelaku pasar, maka ajaran islam juga menawarkansatu paket aturan moral berbasis hukum syariah yang melindungi setiap kepentingan pelaku pasar. Aturan tersebut adalah sebagai berikut:36

a. Spritualisme Transaksi Perdagangan

Islam mengenal adanya nilai-nilai spritualisme pada setiap materi yang dimiliki, yang menjadi sentral konsep moral adalah semua barang milik Allah SWT.dan bagaimana melakukan transaksi perdagangan yang sesuai dengan aturan main syariah. Sedang untuk objek yang dapat diperjual belikan menjadi acuan adalah selama tidak berbahaya bagi dirinya maupun orang lain, maka pelaku pasar dapat memperjualbelikannya.

b. Aspek Hukum Dalam Mekanisme Transaksi Perdagangan

36Mustafa Edwin DKK, Pengenalan Eklusif Ekonomi Islam ,Jakarta : PrenadaMedia Group, 2006. Hal 173.

35

Konsep halal dan haram sangatlah jelas dalam mekanisme bisnis dan transaksi dipasar. Secara umum aturan halal haram kontrak komersial atau bisnis bisa diatur dalam firman Allah SWT

Artinya:Hai orang-orang yang beriman,janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.dan janganlah kamu membunuh dirimu,sesungguhnya Allah adalah Maha Penyanyang Kepadamu(QS An-Nisa:29)

Syariat telah menetapkan beberapa ketentuan beberapa ketentuan hukum yang berkaitan dengan perdagangan, supaya aktivitas perdagangan dapat dilaksanakan dengan teratur dan baik serta memelihara kepentingan masyarakat.

Berpedoman kepada ayat diatas dapat dijelaskan betapa Islam telah mengatur dan memuliakan usaha yang dilakukan melalui perdagangan dan jual beli dan terbukannya hubungan antara sesama masyarakat. Disamping itu terlihat bahwa melalui aturan ini akan terpelihara hak masing-masing, sehingga akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang aman dan damai sesuai dengan tuntutan syariat.

Allah SWT melarang untuk memakan harta sesama manusia dengan jalan yang bathil atau dengan jalan yang tidak halal, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka atau dengan adanya kesepakatan

36

antara dua orang yang melakukan akad. Dan Allah SWT juga melarang umatnya mencampakkan diri ke dalam kebinasaan yang mematikan jiwa dan kehormatan dengan membunuh diri atau memakan hak orang lain.

Sebagaimana juga dalam sabda Rasulullah SAW : “Dari Khalah Abi Burdah telah memberi kabar kepada kami bahwa Rasulullah SAW, pernah ditanya apakah usaha (mata pencaharian) yang paling baik? Rasulullah SAW menjawab hasil usaha sendiri dan setiap jual beli yang bersih (dari tipu daya yang khianat)37

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa pelaku bisnis cenderung tarik menarik dalam mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dengan berbagai cara.

SebagaimanaAllahberfirman:

Artinya:Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(Qs.Albaqarah 188)

Ayat di atas menggunakan kata diantara kamu yang memberikan kesan bahwa harta benda adalah milik semua manusia secara bersama dan allah membaginya secara adil, berdasarkan kebijaksanaanya dan melalui

37Hulwati, Ekonomi Islam Teori dan Prakteknya dalam Perdagangan Obligasi Syariah di Pasar Modal Indonesia dan Malaysia, (Ciputat : Ciputat Press Group 2009) hal 23.

37

penetapan hukum dan etika sehingga perolehannya tidak menimbulkan perselishan.

Dalam ayat lain allah menjelasakan tentang perintah untuk berbuat keadilan dalam surat An-Nisa’ ayat 58 yang berbunyi:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs.Annisa’ 58)

Allah menganjurkan untuk berbuat keadilan , karena keadilan merupakan fondasi kokoh yang memasuki semua aspek kehidupan termasuk dalam kegiatan bisnis, khususnya bisnis yang baik dan etis. Di satu pihak terwujudnya keadilan akan melahirkan kondisi yang baik dan kondusif bagi kelangsungan bisnis yang baik dan sehat. Sebaliknya ketidakadilan yang merajalela akan menimbulkan gejala sosial yang meresahkan pelaku bisnis.

Tidak mengherankan bahwa hingga sekarang ini keadilan selau menjadi salah satu topik penting dalam bisnis.38

Ibnu Taimiyah menjelaskan ketika masyarakat beranggapan bahwa peningkatan harga merupakan akibat dari ketidak adilan dan tindakan yang melangggar hukum dari pihak penjual atau mungkin sebagai akibat dari

38Sonny Keraf,Etika Bisnis tuntunan dan relevansinya,(Jakarta:Kanisisus, 1998) Hal 38.

38

manipulasi pasar, ia dengan tegas membantahnya. ia menyatakan bahwa naik turunnya harga tidak selalu disebabkan oleh tindakan tidak adil dari sebagian orang yang terlibat transaksi. Bisa jadi penyebabnya adalah penawaran yang menurun akibat inefiensi produksi, menurunnya jumlah impor barang yang diminta atau juga tekanan pasar.39

39Adiwarman A.Karim, Ekonomi Islam suatu kajian kontemporer, Depok : Gema insani 2001 hal

160.

39

BAB III

Dokumen terkait