• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

A.Pengertian dan Sejarah Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis gelap terbitlah terang merupakan judul sebuah buku yang diterjemahkan oleh Armijn Pane dari judul aslinya “Door Dulsternis Tot Licht “ karya Mr. Abendanon, suami dari Nyonya R.M. Abendanon Mandiri yang disebut oleh Kartini ibu. Buku kumpulan surat-surat R.A. Kartini, putri seorang bupati di Afdeling Jepara kepada sahabat-sahabatnya. Surat-surat itu diumumkan oleh Mr. Abendanon pertama kalinya dalam tahun 1911. Pada mulanya maksudnya akan menarik perhatian dan meminta pertolongan orang mendirikan sekolah untuk anak gadis bumiputra yang dicita-citakan oleh Kartini.1

Buku tersebut banyak mendapat sambutan dari orang-orang yang paham bahasa Belanda, hingga perlu dicetak beberapa kali. Hasil penjualan buku tersebut, digunakan untuk mendirikan "Kartini Ponds" di Den Hag, yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pendidikan kaum perempuan. Pada tahun 1913, didirikanlah sekolah yang pertama di Semarang atas dorongan Van Deventer. Dalam pidato pembukaannya, M. Atmodirono mengutarakan bahwa pendidikan kaum perempuan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan masyarakat keseluruhan.2 Sepuluh tahun kemudian, tahun 1920, surat-surat yang termaktub dalam buku tersebut terbit dalam terjemahan bahasa Inggris oleh A.L. Symmers dengan judul Letters of a Javanese Princess, kemudian diterbitkan kembali di New York, Amerika Serikat. Tahun 1922, buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran sebagai terbitan Balai Poestaka. Tahun 1938, Balai Poestaka mengeluarkan terbitan baru Armijn Pane, meskipun dengan judul yang sama, Habis Gelap Terbitlah Terang. Lebih dari 40 tahun kemudian,

1

Armijn Pane, Habis Gelap Terbitlah Terang, (Jakarta: Balai Pustaka, 1978, cet. XII), h. 25-26.

2

Aristides Kattap, dkk. Satu Abad Kartini, 1879-1979, (Jakarta: PT Sinar Agrape Press, cet. IV), h. 30.

Sulastin Sutrisno, dosen Filologi di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, menghasilkan terjemahan buku tersebut ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Surat-surat Kartini: Renungan tentang dan untuk Bahasanya, terbit tahun 1981 dam 1985. Bahkan sejak tahun 1926 pembaca di negeri-negeri Arab dapat membaca pemikiran-pemikiran Kartini tersebut yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul: Alhajat

Alkadimat wal Ruh Alhadissya: Bikalam Raden Adidjin Kartini3

Kartini melalui korespondensi dengan kawan-kawannya yang berkebangsaan Belanda mengomunikasikan kondisi perempuan di sekitarnya. Kepnhatinan dan pikiran-pikirannya tentang bagaimana memperbaiki nasib perempuan pada zamannya. Ia juga menerjemahkan ke dalam program nyata dengan menyelenggarakan pendidikan untuk kaumnya.

Sekolah yang pertama ia dirikan adalah sekolah untuk anak gadis di Jepara. Muridnya hanya sembilan orang, terdiri dari teman-teman atau famili. Di sekolah itu diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak dan lain-lain tanpa dipungut bayaran. Setelah menikah, sekolah seperti itu didirikan pula di Rembang.4

Meskipun sepintas program tersebut lebih menunjukkan program vokasional, namun pada hakikatnya mengandung nilai penyadaran yang amat penting bagi perkembangan berpikir pada zaman tersebut; penyadaran untuk pembebasan dan pengembangan diri.5

Kartini hidup dalam zaman dimana perempuan hidup dalam sistem patnarkat, diskriminasi terhadap perempuan diterapkan secara ketat. Perempuan tidak mempunyai hak sama dengan lelaki, dan sebagai gadis kabupaten kenyataan ini disampaikan kepadanya dengan berbagai kata maupun tindakan. Maka tidak heran jika Kartini cenderung memberontak terhadap segala sesuatu yang dianggapnya "kolot", gambaran masyarakat yang "bebas",

3

Haryati Soebadio dan Saparinah Sadli, Kartini Pribadi Mandiri, (Jakarta,: PT Gramedia Pustaka Utama. 1990), h. viii.

4

Soedojo Dirjosisworo, Megawati dalam Babar Sejarah Pemimpin Perempuan

Indonesia, (Jakarta: CV. Mandar Maju, cet I, 1999), h. 19 5

42

"modern", tentu saja sangat mengesankan dan lebih menarik dari apa yang dialaminya setiap hari.

Lewat surat-suratnya pula, Kartini sering bercerita tentang pikiran, perasaan, sikap atau tindakan anggota keluarga, terutama yang berasal dari generasi tua. Ia juga menceritakan kepercayaan dan adat kebiasaan tradisional Jawa.6 Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku pada waktu itu, setelah menamatkan sekolah dasar, yaitu pada waktu umur dua belas tahun, seorang anak gadis menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya menikah. Mereka tidak bebas bergerak, berbeda dengan kaum laki-laki.7 Selama dalam pingitan, ayah Kartini yang memahami dan mengerti akan cita-cita anaknya, memberikan kebebasan kepada Kartini untuk membaca surat-surat resmi ayahnya, tidak memberikan larangan sedikit pun terhadap jenis bacaan yang dipilih oleh Kartini dan diperbolehkan untuk ikut serta menerima atau menyambut perwira- perwira kapal perang Belanda, Edie yang berlabuh di pelabuhan Jepara.

Kartini banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar, kegemaran membaca buku, terutama buku-buku mengenai kemajuan kaum perempuan di luar negeri, menyebabkan pikirannya terbuka. Rasa sedih melihat keadaan perempuan bangsanya mulai timbul. Mereka jauh tertinggal dibandingkan dengan perempuan luar negeri terutama perempuan Eropa. Dalam suratnya Kartini mengatakan :

"Dan adat kebiasaan negeri kami sungguh-sungguh bertentangan dengan zaman baru, zaman baru yang saya inginkan masuk ke dalam masyarakat kami," (surat kepada Zeehandelaar, 25 Mei 1899)8

Sejak saat itu, timbul keinginan untuk berjuang memajukan kaum perempuan, kemajuan tersebut menurutnya, dapat dicapai melalui pendidikan.

Dari surat-surat Kartini juga diketahui bahwa sebenarnya Kartini bukan gadis pertama yang tidak mau menerima ketentuan adat yang sangat membatasi ruang gerak perempuan usia remaja. Kartini juga mengetahui dari buku-buku yang ia baca bahwa di daerah lain seperti di Priangan dan Minahasa ada gadis-

6

Haryati Soebadio dan Saparinah Sadli, Op. Cit, h. 29.

7

Soedojo Dirjosisworo, Op. Cit, h 18

8

gadis yang sudah bergerak secara luas. Mereka diperbolehkan mengikuti suatu jenjang pendidikan yang melampaui sekolah dasar. Namun ada satu hal yang membuat Kartini "berbeda" dan menonjol dari gadis lain sebaya dan sezamannya, yaitu bahwa Kartini meninggalkan tulisan (dalam bahasa asing) yang mencerminkan pikiran dan perasaannya tentang apa yang ia alami dan amati di sekelilingnya. Menuangkan pengamatan dan pikiran dalam suatu bentuk tulisan seperti yang Kartini perbuat, langka dilakukan oleh orang biasa, apalagi dalam bahasa asing dan dilakukan orang yang hanya berpendidikan sekolah dasar. Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis :

"Mereka dapat mengambil sesuatu dari diriku, tetapi tidak penaku" (Men kan ons veel, ja alles ontnemen, maar niet mijne per, DDTL, hal. 298).9

Diukur dengan keadaan zamannya, maka pikiran-pikiran Kartini tersebut boleh dikatakan sangat maju, banyak orang yang mengatakan bahwa Kartini adalah te vreog geboren dalam arti terlahir mendahului zamannya. Ada juga yang menyebutnya revolusioner, karena melihat dari surat-suratnya yang mengatakan bahwa, feodalisme perlu dirombak dan diubah, sehingga setiap manusia dapat menikmati hak-haknya serta menjalankan kewajibannya sebagaimana telah ditentukan Tuhan.10

Ada tiga hal yang membuat Kartini dan surat-suratnya itu penting dan menarik perhatian, ialah:

1. Cita-cita Kartini

Dalam surat-surat Kartini banyak diungkapkan tentang cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan Indonesia, memajukan bangsanya yang masih bodoh dan miskin serta membebaskan kaum perempuan dari belenggu seklusi dan satu-satunya jalan untuk memerdekakan kaum perempuan menurutnya dengan melalui pendidikan yaitu memperbanyak sekolah-sekolah bagi kaum perempuan. Pokok-pokok pandangan Kartini tentang pendidikan adalah sebagai berikut:

a. Kunci kemajuan bangsanya terletak pada pendidikan, maka dari itu

9

Haryati Sobadio dan Saparinah Sadli, Op. Cit, h. 54-58.

10

44

rakyat Indonesia harus menerima pendidikan tanpa terkecuali.

b. Pendidikan sifatnya harus non diskriminatif dan harus diberikan kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, keturunan, kedudukan sosial dan lain sebagainya.

c. Pendidikan untuk rakyat yang bersifat nasional meliputi pendidikan sekolah (formal), pendidikan keluarga dan pendidikan luar sekolah (nonformal).

d. Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan, pendidikan hendaknya.

lebih mengutamakan pembentukan watak dan kepribadian anak-anak. e. Memperhatikan kedudukan perempuan yang masih tertinggal

dibandingkan dengan negara-negara Barat, maka sangat penting dan urgen untuk secara khusus mendirikan sekolah-sekolah bagi kaum perempuan.11

2. Perjuangan Jiwa dan Rohani Kartini

Jika' kita melihat jalan perjuangan Kartini, maka kita bisa menilai bahwa pada awal mulanya Kartini mencaci agama dan adat istiadatnya. Pemahaman Islam pada waktu itu belum luas, hanya dipahami secara sekilas karena adat istiadat Jawa lebih mendominasi. Maka dari itu, pemikiran dan pandangannya selalu berkiblat pada negara Barat. Namun yang mengherankan adalah, pada saat usahanya untuk memperoleh beasiswa pendidikan dari pemerintah Belanda berhasil, ia menuruti kemauan orang tuanya yang mengharuskannya menikah dengan Raden Adipati Djojo Adimngrat, Bupati Rembang, duda beristri tiga dan beranak 6. Walaupun pada awalnya, batinnya berontak dengan keadaan tersebut, tapi akhirnya ia sadar, bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan seorang diri, tetapi harus dengan bantuan orang lain. Dia berharap, dengan bersuami ia akan mendapatkan kebebasan dan bantuan dari suaminya untuk melanjutkan perjuangan dan akan terlepas dari berbagai prasangka yang selama itu selalu

11

mengikuti langkah perjuangannya. Kartini pun merubah haluan dan ikhlas untuk kawin.

Karena tahu arti sabar dan tawakal itulah, Kartini mulai melihat kebaikan adat istiadat dan agama bangsanya. Perasaan itu timbul karena banyaknya alangan yang dilihat dan dirasakannya. Pada akhirnya Kartini berpendapat bahwa cukup baginya sebagai pembuka jalan perjuangan, orang lain yang akan meneruskan.

"Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra; kalau bukan oleh kami, tentu orang karena orang lain" (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 9 Januari 1901).

"Janganlah kami coba dengan paksa mengubah adat kebiasaan negeri kami ini; bangsa kami yang seperti anak-anak itu, akan mendapat apa yang dikehendakinya, yang mengkilap bercemerlangan. Kemerdekaan perempuan tidak boleh tidak akan datang juga; pasti akan datang jua. Hanyalah tiada dapat dipercepat datangnya" (Surat kepada Nyonya

VanKol, 1 Agustus 1903).12

3. Bahasa Kartini

Banyak orang yang menilai bahwa gaya bahasa surat-surat Kartini indah, karena di dalamnya mengandung perasaan yang dalam dan ditopang oleh cita-cita yang suci, perjuangan jiwa manusia yang dapat dirasakan dan menjadi perjuangan semua manusia. Gaya bahasanya sama dengan sifat perjuangannya, kadang bimbang, tertahan-tahan, marah, berontak, sedih, gembira, pesimis dan tak jarang optimis. Karena bahasa yang indah itu menjadi pembawa cita-cita Kartini, maka hal itu pulalah yang membuat Kartini lebih teraama daripada yang lain. Dan yang lebih mengesankan ialah bahwa surat-surat dengan bahasa indah tersebut dibuat oleh seorang perempuan yang berpendidikan formalnya sangat terbatas.13

Merenungkan apa yang harus dialami Kartini sebagai perempuan muda yang dibesarkan dalam suasana "perlu direnungi, tidak perlu memikirkan hari depan", maka dalam membaca surat-suratnya, ia muncul sebagai seorang yang selama hidupnya beranjak pada dua dunia. Dunia

12

Armijn Pane, Op. Cit, hal. 21.

13

46

kenyataan yang dihayatinya sebagai serba kejam dan tidak bersahabat, dan dunia mimpi yang berisi harapan untuk mengembangkan berbagai potensinya sebagaimana manusia dan perempuan. Hingga akhirnya Kartini tetap terombang-ambing antara dua dunia ini. Karena setiap kali harapannya hampir terpenuhi, ditariklah kembali ke dalam dunia kenyataan yang menyadarkannya kembali ke adat istiadat Jawa yang masih tetap mencintainya.14

Dari uraian-uraian tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk menunjang kemandirian kaum perempuan di masa mendatang, perempuan harus mempunyai inisiatif dan kreatif untuk mengembangkan diri, karena kemajuan perempuan terletak pada usaha perempuan itu sendiri. Firman Allah:







































































“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(Q. S Arra’du: 13)

14

Tidak ada usaha yang sia-sia, ungkapan ini sering kita dengar, sebuah sistem yang telah mapan dan telah berjalan (sistem peninggalan kolonial Yaitu pengklasifikasian strata sosial dan sistem adat Jawa yaitu feodalisme dan patriarkhi) tentu saja masih bisa diubah (Habis Gelap Terbitlah Terang).

48

Dokumen terkait