• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Cemas

2.2.1 Definisi Cemas

Cemas atau dalam istilah kesehatan sering dikenal dengan ansietas dapat terjadi pada setiap individu. Corey (2005) dalam Asmadi (2008) menyatakan bahwa cemas dapat menjadi suatu kekuatan motivasi untuk pertumbuhan dan perkembangan pada individu yang bersangkutan. Definisi cemas menurut May (1967) dalam Semium (2006) adalah kekhawatiran yang disebabkan oleh suatu ancaman terhadap nilai yang dianggap individu sangat penting bagi eksistensinya. Ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman atau takut atau mungkin memiliki firasat akan ditimpa masalah petaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut terjadi, sehingga cemas merupakan peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu (Videbeck, 2008).

Menurut Videbeck (2008) dalam bukunya menyatakan bahwa cemas dan takut tidak dapat dibedakan, karena respon prilaku, fisiologis, dan emosional mengalami respon prilaku yang sama. Menurutnya perbedaan antara cemas dan takut hanya terdapat satu perbedaan saja, yaitu bahwa rasa takut timbul sebgaia respon terhadap objek mengancam yang dapat

didefinisikan dan spesifik, sedangkan ansietas atau cemas adalah emosi yang ditimbulkan oleh rasa takut.

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Menurut Asmadi (2008) faktor-faktor yang dapat menjadi pencetus seseorang merasa cemas dapat berasal dari diri sendiri (faktor internal) dan faktor dari luar dirinya (eksternal). Faktor internal yaitu faktor usia, temperamen,tindakan medis sebelumnya, kedekatan dan kualitas hubungan anak dengan orang tua (Ahmed, 2011). Sedangkan dari luar dirinya (faktor eksternal) yaitu ancaman terhadap integritas fisik dan ancaman terhadap self-esteem (Stuart dan Sudden, 1998 dalam Iriana, 2014). Asmadi (2008) mengelompokkan pencetus cemas menjadi dua kategori, yaitu :

1. Ancaman terhadap integritas diri, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari guna pemenuhan terhadap kebutuhan dasarnya.

2. Ancaman terhadap sistem diri yaitu adanya sesuatu yang dapat mengancam terhadap identitas diri, harga diri, kehilangan status atau perasaan diri, dan hubungan interpersonal.

Banyak teori yang membahas mengenai kecemasan, penyebabnya, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Teori tersebut antara lain : a. Teori Interpersonal

Menurut teori interpersonal Sullivan (1952) dalam Videbeck (2008) ansietas timbul dari masalah-masalah dalam hubungan interpersonal. Cemas yang ditunjukkan oleh bayi atau anak

13

mengakibatkan disfungsi, misalnya kegagalan untuk mencapai tugas perkembangan yang sesuai dengan usia.

b. Teori Biologi

Teori ini membahas mengenai penyebab cemas yang berbeda dengan penyebab psikologis. Menurut teori biologis individu yang mengalami sikap bermusuhan, iritabilitas, prilaku sosial, dan perasaan mendadak bahwa sesuatu tidak nyata dapat menunjukkan gangguan panik.

c. Teori Genetik

Teori ini menyatakan bahwa cemas memiliki komponen yang dapat diwariskan. Horwath dan Weissman (2000) dalam Viedebeck

(2008) menjelaskan suatu kemungkinan “sindrom kromosom 13”

yang dimungkinkan terlibat dalam hubungan genetik pada gangguan panik, sakit kepala hebat, masalah ginjal, kandung kemih, hipertiroid, atau prolaps katup mitral.

d.Teori Prilaku

Ahli teori ini memandang cemas sebagai suatu yang dipelajari melalui pengalaman individu.

2.2.3 Cemas pada Anak Presirkumsisi

Usia anak sekolah sudah mulai mengikuti kegiatan di luar rumah. Umumnya anak usia sekolah mempunyai hubungan yang cukup baik dengan petugas perawatan kesehatan yang mereka andalkan dari pengalaman masa lalu untuk menuntun mereka. Seringkali mereka mungkin merasa takut terluka atau merasa malu (Wong, 2008). Penentraman hati dan pembicaraan

orang ketiga sangat membantu dalam menghilangkan rasa takut dan kecemasan serta memungkinkan anak mengungkapkan rasa sakit (Joyce, 2008).

Yavuz (2011) mengatakan bahwa secara historikal sirkumsisi merupakan interfensi bedah tertua. Proses pembedahan akan menimbulkan perasaan yang mengganggu dan tidak nyaman pada anak atau keluarga (Ghabeli dkk, 2014). Ahmed (2011) membagi faktor yang mempengaruhi cemas pada anak preoperatif menjadi tiga, yaitu faktor anak, orang tua dan lingkungan. Faktor anak meliputi usia, anak yang usianya semakin besar akan mudah untuk mengungkapkan cemas, temperamen, medikasi sebelumnya, dan hubungan anak dengan orang tua. Faktor orang tua meliputi pengaruh kecemasan anak, gender orang tua yang menemani (Kain dkk, 2009). Sedangkan aspek lingkungan meliputi induksi anestesi, ingatan yang negatif mengenai rumah sakit, dan orang tua yang tidak mempraktikan aspek keagamaan (Wollin, 2003 dalam Ahmed, 2011).

2.2.4 Mekanisme Cemas

Cemas atau ansietas diperantarai oleh suatu sistem kompleks yang melibatkan (sedikitnya) sistem limbik (amigdala, hipokampus), talamus, korteks frontal secara otomatis dan norepinefrin (lokus seruleus), serotonin (nukleus rafe dorsal) dan GABA reseptor GABAA berpasangan dengan

reseptor benzodiazepine) pada sistem neurokimia (Tomb, 2003).

Teori mekanisme cemas seperti di atas merupakan teori neurokimia. Menurut Videbeck (2008) asam gama-aminobutirat (GABA) merupakan neurotransmiter asam amino yang diyakini tidak berfungsi pada gangguan

panik. Individu dengan cemas ringan dan sedang dapat memproses informasi, belajar, dan menyelesaikan masalah. Sedangkan pada individu yang mengakami cemas berat dan panik memiliki keterampilan bertahan yang lebih sederhana, respon defensive, dan keterampilan kognitif menurun. Respon cemas dapat diukur menggunakan instrumen pengkajian cemas untuk menentukan skala cemas.

Beberapa instrumen cemas dapat digunakan untuk mengkaji tingkat kecemasan individu. Instrument tersebut antara lain:

a. Self Report

Diagnose and Statistic Manual of mental health(DSM-IV), memberikan gambaran tentang masalah cemas, yang di dalamnya sudah mencakup agrofobia, fobia sosial, fobia sederhana, obsessive compulsive disorder (OCD), post traumatic stres disorder (PTSD), dan cemas secara umum. Self report berfungsi untuk mengkaji cemas secara umum (Han, 2009)

b. Revised Child Anxiety and Depression Scale(RCADS)

Kuisioner ini terdiri dari 47 item pertanyaan, yang mencakup fobia social, gangguan cemas umum, gangguan panik, OCD, dan gangguan depresi mayor (Chorpita, 2011).

c. Severity Measure for Social Anniety Disorder(fobia sosial) Kuisioner ini digunakan untuk mengukur tingkat fobia sosial pada individu dengan rentang usia 18 tahun ke atas (Craske dkk, 2013).

17

d. Beck Anxiety Disorder(BAI)

Pengkajian untuk mengukur gejala cemas somatik, yang membedakan antara cemas dengan depresi (Beck dkk, 1988 dalam Julian, 2011). Pengkajian ini terdiri dari 21 poin yang mengkaji tingkat gugup, kesulitan untuk tenang, dan lain-lain (Julian, 2011).

e. Hospital Anxiety and Depression Scale-Anxiety(HADS-A) HADS-A digunakan untuk mengkaji gejala umum pada cemas dan takut. Tujuan pembentukan instrumen ini adalah untuk melihat gejala cemas dan depresi pada pasien yang di rumah sakit. HADS memiliki 7 poin pengkajian yang mengkaji ketegangan, kekhawatiran, takut, panik, kesulitan untuk tenang, dan kesulitan beristirahat (Julian, 2011).

f. Child Tests Anxiety Scale(CTAS)

Pengkajian ini dikembangkan oleh Saron dkk (1960) dalam (Waren dkk, 2004) dengan 30 poin pengkajian yang mengkaji tingkat cemas anak dengan menggunakan jawaban ya atau tidak. Pengkajian ini cocok untuk anak usia sekolah.

g. Face Anxiety Scale(FAS)

Instrumen ini dikembangkan oleh McKinley (2004) untuk mengkaji tingkat cemas pasien di ruang ICU. Instrumen ini dikembangkan dalam bentuk kartu dengan ukuran 11x42 cm (4,3 x 16,5 in). Pasien diinstruksikan menunjuk salah satu dari lima bentuk wajah dengan tingkat cemas tertentu dari masing-masing

wajah. Rentang cemas mulai dari tidak cemas hingga amat sangat cemas.

h. Three- and Five- Face Facial Scale

Instrumen ini dikembangkan oleh Quiles dkk (2013). Instrumen ini terdiri dari delapan skala wajah yang di adaptasi dari Facial Affective Scale (FAS) McGrath dkk (1996). Three-and five- Face Facial Scaledibagi menjadi dua bagian, yaitu lima bagian skala wajah, dan tiga bagian skala wajah. Skala yang digunakan pada lima skala wajah adalah tidak cemas, agak cemas, cukup cemas, sangat cemas, amat sangat cemas. Sedangkan pada tiga skala wajah adalah tidak cemas, cukup cemas, dan amat sangat cemas.

2.2.5.b. Strategi Mengontrol Cemas

Pengontrolan cemas diperlukan untuk mengontrol cemas dapat dilakukan dengan terapi dan koping. Menurut Asmadi (2008) strategi koping dibagai menjadi dua, yaitu STOP ( Source, Trial and Error, Others,sertaPray and patient).

Source berarti mencari dan mengidentifikasi apa yang menjadi sumber masalah, trial and error berarti mencoba berbagai rencana pemecahan masalah yang telah disusun, others berarti meminta bantuan pada orang lain bila diri sendiri tidak mampu, pray and patient berarti

berdo’a kepada Tuhan (Asmadi, 2008). Strategi koping yang lain, adalah

19

seseorang untuk mempertahankan rasa terkendali terhadap situasi, rasa tidak nyaman, dan menghadapi situasi penyebab stres.

Selain koping, strategi mengontrol cemas dapat dilakukan dengan mengalihkan perhatian anak dari hal yang membuat cemas yaitu teknik distraksi (Koller dan Goldman, 2011) beberapa terapi dapat dipakai sebagai teknik distraksi, antara lain terapi menggambar (Utari, 2007), terapi suara (Tumiran dkk, 2013) dan terapi bermain ( Sembiring, 2015).

Dokumen terkait