BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
3. Konsep uang
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum.17 Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran. Definisi para ahli tentang uang dalam perekonomian modern,18 yaitu:
1) A.C Piguo dalam bukunya The Veil Of Money yang dimaksud dengan uang adalah alat tukar.
2) D.H Robertson dalam bukunya Money yang dimaksud dengan uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang.
3) R.G Thomas dalam bukunya Our Modern Banking menjelaskan bahwa uang adalah seseuatu yang tersedia dan diterima umum
17 Zulkifli Rusby, Ekonomi Islam, (Pekanbaru: Pusat Kajian Pendidikan Islam FAI UIR, 2017) h. 88.
18 Jimmy Hosoloan, Ekonomi Moneter, (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2014), h. 8.
sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya.
a. Jenis-Jenis Uang
Jenis uang dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
1) Uang kartal
Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli sehari-hari.
Bentuk uang kartal dapat berupa uang kertas dan uang logam.
2) Uang giral
Sedangkan uang giral menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan memiliki pengertian tagihan umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Bentuk uang giral dapat berupa cek, giro, wesel atau telegraphic transfer.19 3) Uang kuasi
Uang kuasi adalah uang yang sementara kehilangan fungsinya sebagai alat untuk bertransaksi karena terikat oleh jangka waktu tertentu dan merupakan bagian dari likuiditas perbankan. Bentuk uang kuasi dapat berupa deposito berjangka, rekening giro, tabungan dan rekening valuta asing milik swasta domestik.20
19 Suharni, “Uang Elektronik (E-Money) Ditinjau Dari Perspektif Hukum Dan Perubahan Sosial” dalam Spektrum Hukum, Volume 15., No. 1., (2018), h. 17.
20 Yulimar, “Analisis Permintaan Uang Kuasi Di Indonesia Periode 2000-2014” dalam Jom FEKON, Volume 2., No. 2., (2015), h. 1.
20
b. Fungsi Uang
Solikin menjelaskan ada empat fungsi dasar uang sebagai berikut:21 1) Uang sebagai alat tukar (means of exchange)
Dengan fungsi uang sebagai alat tukar seseorang dapat secara langsung menukarkan uang tersebut dengan barang yang dibutuhkan kepada orang lain yang menghasilkan barang tersebut, sehingga seseorang tersebut dapat memenuhi kebutuhannya.
2) Uang sebagai alat penyimpanan nilai (store of value)
Manusia dengan sifat gemar mengumpulkan dan menyimpan kekayaan dalam bentuk barang-barang berharga yang dapat dipergunakan dimasa yang akan datang, walaupun kekayaan yang dapat disimpan beragam bentuknya dan uang merupakan salah satu pilihan untuk menyimpan kekayaan.
3) Uang sebagai satuan hitung (unit of account)
Apabila satuan hitung tidak ada, dapat dibayangkan kesulitan dalam melakukan penilaian terhadap suatu barang. Dengan adanya uang, tukar-menukar dan penilaian terhadap suatu barang akan lebih mudah dilakukan sehingga dengan adanya uang pertukaran antara dua barang yang berbeda fisik dapat dilakukan.
4) Uang sebagai ukuran pembayaran yang tertunda (standard for deferred payments)
21 Suseno Soliki, Uang: Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian, (Jakarta: Pusat Studi Kebanksentralan Bank Indonesia, 2002), h. 3.
Fungsi uang disini terkait dengan transaksi pinjam meminjam, dimana uang digunakan untuk menghitung jumlah pembayaran pinjaman tersebut.
c. Konsep Uang Dalam Islam
Dalam Islam secara etimologi uang berasal dari kata al-naqdu-nuqud, al-naqdu berarti yang baik dari dirham, menggenggam dirham, dan naqdu, yang berarti tunai. Kata nuqud tidak terdapat dalam al-quran dan hadist karena bangsa Arab tidak menggunakan nuqud untuk menunjukkan harga. Mereka menggunakan kata dinar untuk menunjukkan mata uang yang terbuat dari emas dan kata dirham untuk alat tukar yang terbuat dari perak.Mereka juga menggunakan wariq untuk menunjukkan dirham perak, kata„ain untuk menunjukkan kata dinar emas, sementara kata fulus (uang tembaga) adalah alat tukar tambahan yang digunakan untuk membeli barang-barang murah.22
Rahmat Ilyas, dalam jurnal bisnis dan manajemen Islam vol.4, menyebutkan bahwa agar masyarakat menerima dan menyetujui penggunaan benda sebagai uang maka harus memenuhi 2 syarat sebagai berikut:23
1) Syarat psikologis, yaitu benda yang dianggap uang harus dapat memuaskan bermacam-macam keinginan dari orang yang
22 Rozalinda, Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi. (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2014), h. 279.
23 Rahmat Ilyas, Konsep uang dalam Perspektif Ekonomi Islam, (Bangka Belitung: Jurnal STAIN Syaikh Abdurrahman Siddiq, 2016), h. 37.
22
memilikinya sehingga semua orang mau mengakui dan menerimanya.
2) Syarat teknis dimana syarat yang melekat pada uang harus memenuhi syarat diantaranya: tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dibagi-bagi tanpa mengurangi nilai, mudah dibawa, nilainya relatif stabil, jumlahnya tidak berlebihan, dan terdiri atas berbagai nilai.
Adiwarman Karim menjelaskan konsep uang dalam Islam, uang adalah flow concept, dimana uang harus mengalir dan tidak boleh mengendap atau menimbun hanya pada suatu tempat saja, Islam tidak mengenal motif kebutuhan uang untuk spekulasi karena tidak diperbolehkan. Uang adalah barang publik, milik masyarakat, oleh karenanya penimbunan uang yang dibiarkan tidak produktif berarti mengurangi jumlah uang yang beredar, yang akan berdampak pada kelesuan ekonomi atau stagnansi. Dalam Islam uang berfungsi sebagai media pertukaran, namun uang bukan merupakan sebuah komoditi.
Dalam istilah ekonomi klasik disebutkan bahwa uang tidak memberikan kegunaan langsung yang artinya jika uang digunakan untuk membeli barang, maka barang itu yang akan memberikan kegunaan.24
Menurut teori ekonomi Islam, motif yang mempengaruhi manusia untuk mendapatkan dan memiliki uang adalah untuk kegiatan transaksi (money demand for transaction) dan motif berjaga-jaga
24 Adiwarman Karim, Ekonomi Makro Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2007), h. 53.
(money demand precautionary). Kenyataannya seseorang perlu menyimpan uangnya untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga, baik disimpan dirumah untuk menghadapi kebutuhan jangka pendek maupun ditabung di bank, atau diinvestasikan dalam bentuk saham. Jika seseorang menyimpan uangnya di bank, secara bisnis uang akan selalu berputar dan beredar dalam perekonomian.25