• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI Hasil Perancangan

KONSEP PERANCANGAN

6.6 Konsep Utilitas

a. Sistem Jaringan Listrik

Menentukan sistem jaringan listrik yang tidak mengganggu pengguna bangunan baik dari kesehatan, lingkungan, dan visualnya, juga memenuhi kebutuhan dan menunjang aktivitas pelaku di dalam gedung.

Jaringan listrik untuk kebutuhan bangunan kantor sewa menggunakan sumber listrik dari PLN dan genset.

 PLN

Daya listrik utama untuk bangunan terminal dan stasiun terintegrasi menggunakan sumber listrik dari PLN

 Genset

Genset sebagai pembangkit listrik dalam keadaan darurat, ketika

sumber listrik dari PLN sedang mengalami gangguan.

Gambar 6.8. Skema Jaringan Listrik (Sumber : Analisis Pribadi, 2021) b. Sistem Air Bersih

Menentukan sistem air bersih dan jaringan distribusi air bersih baik secara horisontal maupun vertikal yang akan digunakan oleh seluruh pengguna dalam bangunan berlantai banyak. Kelengkapan jaringan distribusi air bersih diperhatikan kaitannya dengan kesehatan pengguna bangunan yaitu pemilihan sumber air dan kelancaran jangkauan keseluruh bangunan serta pemilihan sistem jaringan yang tidak memerlukan asupan energi listrik relatif besar. Pemilihan sistem distribusi air bersih pada bangunan kantor sewa sesuai kriteria diatas adalah menggunakan Down Feed System.

Pada sistem ini air dari sumber air (PAM/ Deep well) ditampung lebih dahulu di tangki bawah (ground tank), kemudian dipompa ke tangki atas (elevated water tank). Dari tangki atas ini air dialirkan ke lantai- lantai dibawahnya dengan sistem gravitasi.

Operasional sistem ini dalam jangka panjang membutuhkan energi listrik hanya pada saat pengisian tangki air atas saja.

Berikut skema sistem air bersih yang digunakan.

disebut dengan Sewage Treatment PlaUnntive(rSsiTtaPs)S. umLaimtebraahUtara Gambar 6.9. Skema Air Bersih

(Sumber : Analisis Pribadi, 2021) c. Sistem Air Kotor

Menentukan sistem pembuangan air kotor, berupa limbah dari kamar mandi/toilet, dapur/pantry/foodcourt, dan air hujan.

Pembuangan air kotor baik berupa cair maupun padat harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, kenyamanan pengguna bangunan maupun lingkungan baik penciuman maupun visual.

Diharapkan memelihara air dan tanah.

Air kotor dapat dibagi berdasarkan sumbernya, yaitu:

1) Air bekas buangan

Air bekas buangan yang dimaksud adalah air bekas cucian pakaian, perlatan masak, dan lain sebagainya. Pembuangan air bekas buangan menggunakan pipa PVC baik yang digunakan untuk pipa vertikal maupun pipa horizontal.

2) Air limbah

Air limbah adalah air bekas buangan yang tercampur kotoran. Air ini tidak boleh dibuang langsung ke lingkungan, tetapi harus melalui proses di dalam bak penampungan. Pada bangunan skala besar (banyak penghuni) penampungan air limbah menggunakan bak pengolahan limbah (sewage treatment). Adapun tempatnya

terkumpul diolah secara mekanis, diaduk dan diberi udara agar bakteri pengurai dapat hidup dengan baik. Hasil pengolahan limbah dapat digunakan untuk menyiram tanaman atau masuk meresap ketanah. Sewage treatment dapat diletakkan di luar atau di dalam bangunan pada bagian lantai terbawah yang letaknya lebih rendah dari toilet, dan orang harus bisa masuk untuk maintenance.

3) Air limbah khusus

Air limbah khusus pada bangunan kantor sewa dan apartemen adalah air bekas cucian kotoran restoran. Air limbah dari restoran banyak mengandung lemak, treatment-nya berupa grease trap (penangkap lemak)

4) Air hujan

Air hujan yang jatuh langsung ke tanah sebaiknya dibuatkan resapan (hidropori) agar air dengan mudah meresap ke tanah. Air hujan yang jatuh di atap bangunan tinggi (atap plat/dak) diatur alirannya ke lobang pembuangan yang kemudian disalurkan ke bawah melalui pipa-pipa yang diletakkan di ruang shaft.

Utilitas air kotor, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu air kotor yang berasal dari toilet, limbah pantry/foodcourt, dan dari air hujan.

1. Untuk air kotor dari toilet dibagi menjadi dua limbah, yaitu limbah cair dan limbah padat. Keduanya ditampung di STP (sewage treatment plan) untuk diolah dan diproses. Sisa air dari proses STP ini kemudian masuk meresap kedalam tanah.

2. Air limbah dari pantry dan foodcourt masuk kebak penangkap lemak lebih dahulu sebelum masuk ke bak pengolah limbah, karena lemak mempunyai sifat cepat menjadi kering dan keras.

3. Air hujan, melalui talang air dan plumbing/pipa-pipa, langusng dibuang ke riol kota, setelah melalui bak kontrol resapan.

Universitas Sumatera Utara Gambar 6.10. Skema Air Kotor

(Sumber : https;//google.co.id)

Gambar 6.11. Bak pengolah limbah / Sistem bawah tanah tempat pembuangan air kotor.

(Sumber : https;//google.co.id)

d. Sistem Penanggulangan Kebakaran

Menentukan sistem penanggulangan kebakaran pada bangunan yang dibagi menjadi tiga yaitu pendeteksian, evakuasi, dan pemadaman.

1) Keselamatan pengguna bangunan

2) Kemudahan penggunaan alat pemadam kebakaran 3) Kecepatan evakuasi pada bangunan

4) Kejelasan sistem penanda dan letak alat pemadam

Beberapa langkah dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dalam bangunan, yaitu pendeteksian, evakuasi, dan pemadaman.

1) Pendeteksian menggunakan smoke/heat detector yang dihubungkan dengan alarm/bell dan fire alarm junction box, kemudian ke main control fire alarm. Bila terjadi kebakaran, heat/smoke detector akan mendeteksi asap dan panas yang secara otomatis akan membunyikan alarm/bell. Kemudian menghidupkan pompa di GWR ke sprinkler dan FDC (Fire House Cabinet) pada tiap lantai.

2) Evakuasi dilakukan ketika terjadi keadaan darurat pada bangunan, misalnya gempa bumi, kebakaran, dan sebagainya. Dalam perencanaan arsitektur, beberapa hal perlu dilakukan untuk sistem evakuasi bangunan sekaligus menunjang konsep desain bangunan ialah:

a. Penggunaan bahan bangunan yang tidak mudah terbakar b. Perawatan alat pemadam kebakaran secara teratur

c. Jalur evakuasi yang jelas sehingga tidak memicu keraguan bagi pengguna

d. Meletakkan alat pemadam kebakaran di setiap lantai

e. Menggunakan penanda audio dan visual ketika terjadi keadaan darurat, untuk memudahkan pengguna difabel dalam membaca situasi.

f. Menggunakan penerangan darurat pada koridor, tangga darurat, dan pintu keluar sebagai petunjuk pengguna keluar dari area bangunan.

g. Tangga darurat memiliki lebar minimal 1,25 meter dan lebar pintu darurat 90cm

3) Penanggulangan kebakaran dengan cara pemadaman, dengan menempatkan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) ditempat-tempat yang ditentukan, serta penempatan hydrant di dalam dan luar bangunan. Penempatan hydrant di dalam bangunan diletakkan dekat/bersamaan dengan alarm kebakaran, sedangkan peletakkan hydrant di luar bangunan harus dapat dengan mudah dijangkau oleh mobil pemadam kebakaran.

Universitas Sumatera Utara Gambar 6.12. Skema pendeteksi kebakaran didalam bangunan

(Sumber : https;//google.co.id) e. Sistem pengkondisian Udara

Menentukan sistem pengendalian udara agar tercapai suhu yang optimal pada bangunan, dengan memperhatikan:

1) Optimalisasi udara 2) Stabilitas suhu udara 3) Jenis kegiatan

4) Besaran ruangan 5) Kebutuhan laju udara

Pada bangunan Kantor Sewa sistem pengkondisian udara banyak menggunakan penghawaan buatan. Mengutamakan kenyamanan pengguna di dalam bangunan.

Gambar 6.13. Skema Penghawa Buatan (Sumber : https;//google.co.id)

f. Sistem Penangkal Petir

Menentukan sistem penangkal petir yang tepat saat kondisi cuaca buruk untuk melindungi dan meredam hantaran petir yang mengenai bangunan dalam jangkauan wilayah yang luas. Untuk bangunan kantor sewa diperhatikan segi kepraktisan dan ekonomis.

Besarnya kebutuhan bangunan akan instalasi penangkal petir, ditentukan oleh besarnya kemungkinan kerusakan serta bahaya yang ditimbulkan akibat petir. Beberapa macam penangkal petir:

1) Sistem Konvensional (Sistem Franklin)

Bahan runcing dari bahan copper spit, dipasang pada bangunan, dan dihubungkan dengan tembaga menuju elektroda di dalam tanah.

Dibuat bak kontrol dalam tanah untuk memudahkan pemeriksaan dan pengetesan. Sistem ini praktis, murah, namun jangkauannya terbatas.

2) Sistem Sangkar (Sistem Faraday)

Hampir sama seperti sistem Franklin tetapi dibuat memanjang, sehingga jangkauannya luas. Biayanya sedikit mahal dan dalam segi estetika cukup mengganggu.

3) Sistem Radioaktif/Semi Radioaktif (Sistem Thomas)

Sistem ini digunakan untuk bangunan tinggi dan besar.

Pemasangannya tidak terlalu tinggi karena sistem payung digunakan untuk melindungi. Dalam satu bangunan cukup menggunakan satu tempat penangkal petir.

Universitas Sumatera Utara BAB VII

KESIMPULAN

Dengan adanya jalan tol di setiap daerah yang guna untuk mempermudah akses, sehingga sangat tepat jika perkantoran berada di tengah kota Medan dengan konsep green architecture, dan banyak dari daerah diluar kota Medan yang belum ada perkantoran sehingga membutuhkan perkantoran di tengah kota dengan akses yang cukup dan dapat menggunakan jalan tol dengan efisiensi waktu.

Oleh karena itu banyak permintaan tempat baru untuk mewadahi freelancer yaitu pekerja jasa, profesi, dan pengusaha yang strategis dan eksklusif namun dengan harga terjangkau sesuai dengan alokasi dana masing-masing instansi atau perusahaan. Selain itu, melihat kondisi bumi yang makin tidak sehat, diperlukan suatu perkantoran yang memiliki konsep Green Architecture.

Dokumen terkait