BAB 3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.3. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
3. Secara teoritis penelitian ini akan berkontribusi pada penjelasan akademik terkait dengan pentingnya perubahan paradigma pengelolaan perbatasan dari pendekatan keamanan (security approach) ke pendekatan kesejahteraan (properity approach) yang berorientasi kepada pemenuhan hak pendidikan sebagai hak konstitusional warga negara.
4. Dari segi kebijakan penelitian ini memberikan masukan dalam rangka solusi kepada perumus dan pengambil kebijakan berkaitan dengan Model Hukum dalam pemenuhan hak atas pendidikan sebagai hak konstitusional warga negara di wilayah perbatasan Kalimantan Utara Kabupaten Nunukan
5. Dari segi kelembagaan penelitian ini sebagai kontribusi kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka model pengelolaan wilayah perbatasan yang berorientasi kepada pemenuhan hak pendidikan sebagai hak konstitusional warga negara.
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini,adalah Penelitian Normatif yang di lengkapi dengan Penelitian Lapangan
4.2. Penelitian Hukum Normatif Bahan Hukum Penelitian:
a. Bahan Hukum Primer
Bahan Hukum Primer yaitu Bahan Hukum yang diproleh penulis dari studi kepustakaan dengan cara mengumpulkan dan mengelompokan dari beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian.
Bahan hukum primer ini bersifat otoritatif, artinya mempunyai otoritas yaitu merupakan hasil dari tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang untuk itu.
Bahan Hukum Primer, dalam penelitian ini berupa peraturan perundang-undangan yang di gunakan adalah yang berkaitan dengan
Perlindungan Hukum Terhadap Hak Pendidikan dan Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Warga Negara Di Wilayah Perbatasan sbb :
1. UUD 1945, Pasal 25 E
2. Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (United Nations Convention on the Law of the Seal/UNCLOS)
3. Konvensi Montevideo 1933
4. Undang-Undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara 5. Undang-Undang No.26 2007 tentang Penataan Ruang
6. Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang HAM;
7. Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Ratifikasi Konvensi HAM ekosob ;
8. Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional;
9. Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas)
10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ;
11. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
12. Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 13. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
14. Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah Sakit
15. Deklaration Universal Of Human Right (Deklarasi Umum tentang HAM) Tahun 1948
16. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
17. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
18. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Badan Pengelola Perbatasan Nasional;
19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pembentukan Badan Pengelolaan Perbatasan Di Daerah;
20. Peraturan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Desain Besar Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan Kawasan Perbatasan Tahun 2011-2025;
21. Peraturan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 2 Tentang Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2011-2014;
22. Peraturan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang terkait dengan objek penelitian ini.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan Hukum Sekunder ,yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, dalam penelitian ini bahan hukum sekunder yang di gunakan adalah meliputi :
1. Buku-buku bacaan (buku teks), Hasil Penelitian, Jurnal Ilmiah, majalah/surat kabar (Koran) dan berita internet yang relevan dengan permasalahan Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Masyarakat Di Wilayah Perbatasan.
2. Laporan seminar, makalah, disertasi dan bahan-bahan bacaan lainnya yang ada kaitannya dengan Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Masyarakat Di Kawasan Perbatasan.
c. Bahan Hukum Tersier
Adapun Bahan Hukum Tersier menurut Soerjono Soekanto adalah bahan hukum berupa kamus,ensiklopedia,bibliografi, indeks kumulatif dan leksion1. Dalam penelitian ini Bahan hukum tersier yang penulis gunakan yakni terdiri dari:
a. Black Law Dictionery,
b. The Dictionary Of Practical Law,
c. Kamus Hukum , dan Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, yang dapat memperjelas pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Perlindungan Hukum Terhadap Hak Pendidikan dan Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Warga Negara di wilayah perbatasan.
4.3. Penelitian Lapangan a. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian yang digunakan adalah di Kabupaten Nunukan,Kecamatan Sebatik Kalimantan Utara. Pemilihan lokasi ini dikarenakan kabupaten nunukan merupakan salah satu kabupaten yang daerah perbatasannya paling dekat dengan sabah serta kabupaten nunukan merupakan
1 Soerjono Soekanto&Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (suatu tinjauan singkat), Jakarta: CV.Rajawali, 1990, Hal.14-15
secara absolut jumlah penduduk miskin terbanyak adalah di Kabupaten Nunukan yakni sebanyak 61.388 Jiwa.selain itu dari asfek pendidikan dan kesehatan Berdasarkan data pada tahun 2009 terlihat bahwa masih kurangnya sarana dan prasarana pendidikan dimana sarana pendidikan yang tercatat di Kabupaten Nunukan khususnya di kecamatan sebatik bahkan secara keseluruhan hanya terdiri dari 30 Taman Kanak-kanak, 125 Sekolah Dasar Negeri, 17 Sekolah Dasar Swasta, 39 SLTP Negeri, 8 SLTP Swasta, 7 SMU Negeri, 8 SMU Swasta dan 2 SMKN, yang mana hal ini jika kita kaitkan dengan Tolok ukur umum yang bisa digunakan untuk melihat keberhasilan pendidikan di suatu wilayah adalah penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, baik gedung sekolah maupun tenaga pengajar dan rasio murid terhadap guru. Sedangkan fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Nunukan khususnya di kecamatan sebatik dan secara keseluruhan juga terlihat bahwa masih sangat kurang dan jauh dari harapan, dimana sarana dan prasarana kesehatan yang tercatat pada tahun 2009 terdiri dari rumah sakit 1 buah, puskesmas 11 buah, puskesmas pembantu 51 buah, puskesmas keliling 13 buah, posyandu 176 buah serta 21 bidan praktek.
b. Populasi dan Sampel
Populasi penelitain ini adalah semua warga Negara yang berada di lokasi penelitian, akan tetapi dalam penelitian ini peneliti mengunakan teknik Purposive Sampling (sampel bertujuan) dalam penentuan sampel. Adapun criteria sampel penelitian adalah mereka yang tinggal di wilayah perbatasan (Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan) menetap minimal 7 Tahun secara berturut-turut, hal ini dimaksudkan agar para responden tersebut benar-benar sudah memahami kondisi pendidikan dan kesehatan di lokasi penelitian.
Responden penelitian terdiri dari Tokoh Masyarakat, Pemerintah (BPPD,Camat,UPTD.Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ka.Puskesmas dan Puskesmas Pembantu) dan Masyarakat yang terdiri dari ;
1. Tokoh Masyarakat sebanyak 5 orang
2. Warga masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah perbatasan sebanyak 150-200 orang .
c. Teknik Pengumpulan Data
Di karenakan penelitian ini sangat kompleks dan multi perspektif karena menyangkut asfek hukum internasional,asfek hukum kewilayahan,asfek hukum HAM,asfek hukum administrasi serta Asfek hukum otonomi daerah, maka Pengumpulan data primer dilakukan dengan mengunakan 3 teknik yakni : 1. Teknik wawancara mendalam (indepth interview), teknik ini digunakan
karena pada dasarnya semua data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini membutuhkan wawancara, karena wawancara lebih bersifat fleksibel, sebagaimana yang dikemukakan Nasution bahwa tujuan dari wawancara adalah mengetahui tentang hal-hal yang terkandung dalam fikiran dan hati orang lain.2 Teknik wawancara ini di gunakan untuk responden Pemerintah (BPPD,Camat,UPTD.Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ka.Puskesmas dan Puskesmas Pembantu) dan tokoh masyarakat.
Wawancara dengan responden dilakukan dalam suasana keterbukaan dan dengan terus terang, artinya responden diberikan informasi maksud dan tujuan wawancara, agar tidak menimbulkan kecurigaan, peneliti berupaya membangun hubungan keakraban dengan responden sehingga informasi yang di dapatkan lebih terbuka, hal ini sesuai dengan konsep yang diajukan sanapiah faisal3 bahwa dalam penelitian kualitatif sangat disarankan agar peneliti memakai jenis wawancara terus terang/ tidak terselubung. Laxy j.Moleong4 menyebutnya dengan istilah wawancara terbuka (overted interview). Dalam hal ini pewawancara memegang peranan penting dalam proses wawancara,karena pewawancara ini akan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden yang akan membuat responden menjawab dengan benar secara terbuka pula.5
2 Nasution.s.,Metode Penelitian Naturalistik-kualitatif, Jakarta:Tarsito,1996,Hal.73
3Sanapiah Faisal , Format-Format Penelitian Social,Dasar-Dasar Dan Aplikasi, Jakarta:RajaGrafindo Persada,1995, Hal.133.
4 Laxy j.Moleong,Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Posdakarya,1994,Hal.135.
5Mukti Fajar ND & Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum (Normatif&Empiris), Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2010,Hal.161-162.
Dalam melaksanakan wawancara, peneliti mengunakan panduan wawancara, tujuan pengunaan panduan wawancara (interview guide) adalah agar fokus wawancara tidak keluar dari garis besar penelitian, dalam melakukan wawancara terhadap responden peneliti mengunakan enam (6) tahapan sebagaimana yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba, sebagai berikut :
a. Menetapkan responden yang akan di wawancarai ;
b. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam panduan wawancara.pokok-pokok masalah sebagaimana yang tertuang dalam panduan wawancara tersebut disusun berdasarkan urutan-urutan dari pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan pemikiran sederhana menuju pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan pemikiran yang lebih kompleks;
c. Memulai dan membuka alur wawancara, dimana pewawancara menyampaikan tujuan wawancara kepada responden kemudian berusaha menjalin hubungan yang akrab dan santai ;
d. Melangsungkan alur/arus wawancara, yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan kemudian makin lama makin mengerucut pada permasalahan-permasalahan pokok dalam penelitian;
e. Mengkompirmasi hasil wawancara dengan responden yang di wawancarai dan mengakhirinya;
f. Menuliskan hasil wawancara pada catatan lapangan secara cermat dalam bentuk catatan hasil wawancara sebagai bahan analisis data.
2. Teknik Kuesioner, merupakan teknik dalam pengumpulan data dengan cara menyebarkan atau membagikan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya oleh peneliti kepada responden, narasumber atau informan. Kuesioner ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian serta memperoleh informasi yang detail dan akurat, dalam hal ini peneliti tidak harus segera mendapatkan jawabannya karena jawabannya tergantung pada
kesempatan waktu yang dimiliki oleh Rersponden. 6 Dalam penelitian ini penyebaran kuesioner sebanyak 150 eksemplar kepada masyarakat yang tinggal diwilayah perbatasan
3. Teknik Observasi, observasi atau pengamatan dilakukan oleh peneliti dalam rangka menambah khasanah data yang ada dengan cara mengamati fenomena masyarakat yang terkait dengan penelitian ini, observasi ini digunakan sebagai sarana kontrol (sarana validasi) atas data yang diperoleh melalui wawancara, 7dan sebagai wahana untuk mengungkapkan situasi sosial yang terjadi guna melihat secara langsung realita masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Utara khususnya di kecamatan sebatik kabupaten Nunukan.
Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi tidak berstruktur (instructured observation), jenis ini di gunakan karena data yang dibutuhkan dalam penelitian ini sangat variatif, dan oleh karena itu dibutuhkan observasi yang tidak berstruktur. Menurut sanapiah Faisal, observasi tidak terstruktur dioperasionalisasikan dengan prinsip bahwa observasi tidak di dasarkan pada panduan yang telah ditetapkan sebelumnya,tetapi dilakukan berdasarkan arus perkembangan penelitian yang sedang berlangsung, hal ini dilakukan karena hal-hal yang akan di observasi kadang-kadang tidak dapat ditentukan sebelum observasi.8 Walaupun demikian dalam penelitian ini,peneliti telah menentukan objek utama yang akan di observasi.
Menginggat kebutuhan data dalam penelitian ini sudah ditentukan secara tegas, maka beberapa hal yang akan di observasi sudah dapat diprediksi,yakni ;
a. Foto sarana prasarana di perbatasan Kalimantan Utara khususnya di kecamatan sebatik kabupaten Nunukan.
6 Ibid, Hal.164
7 Menurut Sanafiah Faisal bahwa dalam suatu penelitian,pengunaan teknik wawancara perlu diimbangi dengan penemuan data yang diperoleh dari lapangan melalui observasi,karena kata-kata (kalimat) tidak selalu dapat menganti (mengekspresikan) keadaan sebenarnya di lapangan.
8 Sanapiah Faisal, Op cit,Hal.79
b. Kondisi sosial dan ekonomi yang ada di di perbatasan Kalimantan Utara khususnya di kecamatan sebatik kabupaten Nunukan
c. Kondisi pendidikan dan kesehatan yang ada di di perbatasan Kalimantan Utara khususnya di kecamatan sebatik kabupaten Nunukan.
4.4. Teknik analisa data
Analisa data dalam penelitian ini merupakan kegiatan yang melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan data yang dibantu dengan teori-teori yang telah di dapatkan sebelumnya, secara sederhana analisis data ini disebut sebagai kegiatan memberikan telaah, yang dapat berarti menentang,mengkritik,mendukung,menambah atau memberi komentar dan membuat suatu kesimpulan terhadap hasil penelitian dengan fikiran sendiri dan dibantu teori yang telah dikuasai. 9Penilitian ini bersifat Kualitatif,karena pemahaman secara mendalam terhadap permasahan yang ada sangat di perlukan sehingga penelitian ini dapat mengambarkan kondisi yang ada secara lebih jelas.penelitian bermula dari berbagai peraturan perundang-undangan yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian lapangan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan yang sesuai dengan fakta yang ada.
4.5. Alur Penelitian
9 Mukti Fajar ND & Yulianto Achmad, Op Cit,Hal.183.
ALUR PENELITIAN
I. Kebijakan Politik Hukum Pemerintah RI berkaitan Perlindungan Atas Tercapainya Pemenuhan Hak Pendidikan Dan Kesehatan Sebagai Hak Konstitusional Masyarakat Di Wilayah Perbatasan:
a. Wilayah Perbatasan Secara Internasional.
b. Konsep Kebijakan Politik dan Hukum Perlindungan Hak Pendidikan dan Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia c. Peran institusi negara di wilayah
perbatasan.
d. Status dan Peran BNPP di wilayah perbatasan.
PERLINDUNGAN HUKUM HAK ATAS PENDIDIKAN & KESEHATAN SEBAGAI HAK KONSTITUSIONAL MASYARAKAT DI
MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM
TERHADAP HAK PENDIDIKAN DAN KESEHATAN SEBAGAI HAK KONSTITUSIONAL MASYARAKAT DI WILAYAH PERBATASAN:
1. Peningkatan Kebijakan Politik dan Hukum Pengelolaan Kawasan Perbatasan berkaitan dengan Hak Pendidikan,Perumahan dan Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat Perbatasan
2. Peningkatan Koordinasi Perencanaan dan Pelaksanaan Program antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah (BNPP & BPPD) Daerah Dalam rangka Perlindungan Hak Pendidikan,Perumahan dan Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat Perbatasan
3. Optimalisasi Perlindungan Hukum Terhadap Hak Pendidikan,Perumahan dan Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat di wilayah Perbatasan dalam rangka Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan Hak Atas Pendidikan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat Perbatasan
f. Realita Pemenuhan Pemenuhan Terhadap Hak Atas Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat Perbatasan
g. Hambatan Pemenuhan Terhadap Hak Atas Pendidikan &
Kesehatan sebagai Hak Konstitusional Masyarakat Perbatasan
Dassein
BAB 6
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA
Penelitian yang kami lakukan merupakan penelitian tahun ke-2, sehingga yang kami lakukan adalah menunggu proses submit jurnal ilmiah Nasional yang telah kami lakukan. Jika memungkinkan, maka sebagian hasil kajian akan dipublikasikan di jurnal taraf internasiona.
Untuk mencapai hasil yang terbaik, maka hasil-hasil penelitian yang kami lakukan selalau dipublikasikan dengan beragam jenis seminar yang ada. Hal ini dilakukan supaya hasil penelitian yang kita lakukan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat khususnya untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
BAB 5
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
5.1. Komparasi Kebijakan Pemenuhan Hak Atas Pendidikan Warga Negara Di Wilayah Perbatasan Antara Indonesia Dengan Malaysia (Sabah)
5.1.1. Pengelolaan Wilayah Perbatasan Negara Malaysia
Malaysia merupakan salah satu Negara Asia Tenggara yang letak wilayahnya terbagi menjadi dua (2) yakni Semenanjung Malaya (Semenanjung Malaysia) dan di daerah bagian utara pulau Borneo (Kalimantan). Kedua wilayah ini di pisahkan oleh Laut China Selatan dan kedua wilayah yang terpisah tersebut sama-sama memiliki bentuk geografis dipinggir laut yang landai hingga hutan lebat dan perbukitan yang tinggi. Puncak tertinggi di Malaysia (dan Kalimantan) adalah Gunung Kinabalu yakni setinggi 4.095,2 meter di Negara bagian Sabah. 1
Sejarah Malaysia menunjukkan bahwa letak Semenanjungnya yang strategis membuatnya menjadi daerah lalu lintas perdagangan yang ramai.
Tanjung Piai terletak diselatan Negara bagian Johor adalah tanjung paling selatan Benua Asia. Diantara Sumatera dan Semenanjung Malaysia terdapat selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran terpenting di dunia. Ibu Kota Negara Malaysia adalah Kuala lumpur, kota yang letaknya sangat strategis dan merupakan kota modern yang paling maju di Malaysia. Selain itu ada juga kota yang berfungsi sebagai ibukota administratif pemerintahan persekutuan Malaysia yakni Kota Putrajaya. Walaupun banyak cabang eksekutif dan yudikatif pemerintahan persekutuan telah pindah ke Putrajaya (untuk menghindari kemacetan di Kuala Lumpur), akan tetapi kuala lumpur tetap saja dipandang sebagai ibu kota legislative Malaysia karena di sanalah berdiri kompleks Parlemen Malaysia.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
1Khoridatul Anissa, Malaysia Macan Asia (Ekonomi,Politik,Sosial-Budaya & Dinamika Hubungannya dengan Indonesia, (Yogyakarta, Garasi,2009),hlm. 24.
Selain ibu kota legislative Kuala Lumpur juga menjadi pusat perdagangan dan keuangan Malaysia.2
Malaysia termasuk salah satu negara yang masuk peringkat ke-43 dalam urutan negara-negara yang berpenduduk terbesar, hal ini sejalan dengan daratannya yang cukup luas, dalam hal luas wilayahnya Malaysia menempati urutan ke-66 dibandingkan dengan negara-negara yang penduduknya padat di dunia. Jumlah penduduk Malaysia sekitar 27 juta dan luas wilayah melebihi 320.000 Km². Persebaran penduduk tentu didasarkan kepada perbedaan antara wilayah-wilayah yang berbeda di Malaysia, sebagai Negara Federal Malaysia dibagi menjadi beberapa Negara bagian dan tiga Negara persekutuan (feredaral territories). Malaysia barat yang terletak disemenanjung Malaysia terdiri dari Negara-negara bagian : Johor,Kedah,Kelantan,Melaka,Negeri Sembilan, Pahang,Perak,Perlis, Pulau Pinang atau Penang,dua wilayah persekutuan yakni (Putra jaya dan Kuala Lumpur), Selangor, dan Terenganu. Sementara Malaysia timur yang terletak dipulau Borneo (Kalimantan) terdiri dari tiga Negara bagian satu wilayah persekutuan (Labuan), Sabah, dan Serawak.
Berikut Table yang menunjukkan persebaran penduduk pada tiap-tiap Negara bagian dan wilayah persekutuan yang juga menjadi dasar pokok pemerintah Malaysia dalam menetapkan kebijakan pengelolaan wilayah perbatannya .
Kedah 1.649.756 9.425 175 39,3 76,6 14,9 7,1
KL 1.379.310 243 5676 100,0 38,6 46,5 13,4
Penang 1.313.449 1.031 1274 80,1 27,5 61,5 10,6 Kelantn 1.313.014 15.024 87 34,2 95,0 3,8 0,3 Pahang 1.288.376 35.965 36 42,0 76,8 17,7 5,0 Terengga
nu
898.825 12.955 69 48,7 96,8 2,8 0,2
Negeri Sembiln
859.924 6.644 129 53,4 57,9 25,6 16,0
Malacca 635.791 1.652 385 67,2 63,8 29,1 6,5
Perlis 204.450 795 257 34,3 85,5 10,3 1,3
Labuan 76.067 92 827 77,7 79,6 15,8 1,3
Purtajay 45.000 148 304 100,0 94,8 1,8 2,7
Sumber : Departemen Statistik Malaysia (Sensus nasional Malaysia Tahun 2000) Tabel di atas menunjukkan bahwa negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia khususnya Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara adalah negara bagian Sabah dan Serawak, jumlah penduduk Sabah adalah 2.603. 485 dengan luas wilayah 73.619 (Km²). tingkat kepadatan penduduk sabah sebesar 35 dengan penduduk perkotaannya 48,0, dimana persentase bumi putera 80,5%, china 13,2% dan india 0,5%. Adapun Serawak jumlah penduduknya 2.071.506 dengan luas wilayah 2.071.506 (Km²). persentase bumi putera di Serawak adalah 72,9 % , Sedangkan China 26,7% dan India 0,2 %.
Perbatasan antara Malaysia dan Indonesia telah diukur melalui institusi resmi yang kredibel, Ketua Setiausaha Kementerian Sumber Asli dan Alam Sekitar Malaysia, Datuk Suboh bin Mohd Yassin mengatakan bahwa, hingga Tahun 2007 telah dilakukan dan ditentukan taapal batas sepanjang 218,4 kilometer di sektor Kalimantan Timur-Sabah yang melibatkan 2.661 tanda sempadan (perbatasan). “dari jumlah tersebut 1.498 sempadan telah dibuat dengan cara ditanam akibat rusak dan hilang,” sementara bagi sektor Kalimantan
Barat-Serawak sepanjang 112,4 KM telah dilakukan pengukuran dengan melibatkan 528 tanda sempadan dimana 27 diantaranya telah di tanam3.
Pengelolaan wilayah perbatasan di Malaysia khususnya di Sabah pada dasarnya tidak terlepas dari keberadaan Komuniti persempadanan di Sabah, yang mengatur pengelolaan wilayah persempadanan. Perjanjian penetapan sempadan politik yang ditandatangani untuk memisahkan secara jelas dan formal wilayah antara negara-negara moden. Penentuan sempadan politik antara bangsa yang memisahkan wilayah Malaysia dari wilayah Indonesia telah diasaskan kepada konvensi dan perjanjian sebagai berikut:
1. Konvensi Persembadanan yang ditandatangani di London pada 20 Juni 1891.
2. Konvensi Persembadanan yang ditandatangani di London pada 28 September 1951; dan
3. Konvensi Persembadanan yang ditandatangani di The Hague pada 26 Maret 1928.
Jarak sempadan (perbatasan) antar negara di pulau Borneo antara wilayah Malaysia (Sabah dan Serawak) dan Indonesia (Kalimantan) adalah 2,020 kilometer. Jarak sempadan bagi wilayah Sabah adalah 371 kilometer dan selebihnya terletak di wilayah Serawak. Model pengelolaan sempadan (perbatasan) di Malaysia (Sabah dan Serawak) pada dasarnya tetap memperhatikan kawasan-kawasan tradisional masyarakat asal yang terdapat di sepanjang sempadan, dimana masyarakat tersebut mengambil kedudukan secara fisik sebagai komuniti persembadanan. Beberapa perkampungan atau penempatan tradisional penduduk sepanjang sempadan antara Sabah dan Kalimantan Timur, dari kampung Long Pasia di bagian barat hingga ke kawasan perkampungan di Pulau Sebatik di bagian timur.4
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
3Siti Noorehan Mohd Zain, Perbatasan Malaysia-Indonesia Di Kalimantan dan Komunikasi Politik (Dalam Buku Mengelola Perbatasan Indonesia di Dunia Tanpa Batas), (Yogyakarta, Graha Ilmu,2010),hlm. 234.
4Kntayya Mariappan&Zaini Othman, “Sempadan Antara Bangsa Dalam Kehidupan Komuniti Persempadanan”, (Jurnal Universiti Malaysia Sabah ,2010) ,hlm. 17.
Kawasan komuniti persempadanan di daerah Sabah yang berbatasan dengan Kalimantan pada dasarnya terdiri dari tiga kawasan yang berbeda karakter. Tiga kawasan tersebut ialah kawasan pelabuhan bandar Tawau dan Palau Sebatik (Daerah Tawau), di Kampung Palungan dan Kampung Bantul (Daerah Pensiangan/Nabawan) dan dikampung Long Pasia (Daerah Sipitang).
Secara umumnya, sebagian besar penduduknya adalah etnis pribumi Sabah, terutamanya yang terdiri dari etnis Dusun, Kadazan, Murut dan Bajau yang membentuk penduduk mayoritasdi sebagian besar kawasan di Sabah, termasuk di daerah-daerah Tawau, Nabawang dan Sipitang, dan kawasan-kawasan perkampungan kecil ini di diami oleh penduduk etnis yang berbeda. Misalnya di kawasan kajian Long Pasia, hampir semua penduduk terdiri dari etnik Lundayeh.
Penduduk di persempadanan Sabah juga mempunyai hubunngan sejarah yang lama dengan penduduk-penduduk diwilayah seperti Kalimantan, Sulawesi atau kepulauan lain diwilayah Indonesia. Justru, perhubungaan etnis yang terbentuk melampaui sempadan politik antarbangsa tidak mungkin dapat dielakkan dan merupakan salah satu aspek penting dalam memahami kehidupan sehari-hari komuniti persempadanan di Sabah. Oleh itu, tidak heranlah kedudukannya berdekatan dengan wilayah Indonesia dan kehidupan kependudukan telah mencetuskan Konfrontasi (1962-1966) yang menunjukkan kemarahan dan bantahan pemerintahan Indonesia Malaysia yang membawa percantuman wilayah Sabah dan Serawak kedalam wilayah Malaysia.5
Salah satu yang juga sangat mempengaruhi model pengelolaan wilayah perbatasan di Malaysia adalah Kebijakan Dasar Ekonomi Baru (DEB) Malaysia.
Hal ini terlihat bahwa sejak dilaksanakannya kebijakan Dasar Ekonomi Baru (DEB) pada awal 1970-an, kemajuan negara Malaysia tumbuh pesat. Diantara
Hal ini terlihat bahwa sejak dilaksanakannya kebijakan Dasar Ekonomi Baru (DEB) pada awal 1970-an, kemajuan negara Malaysia tumbuh pesat. Diantara