Bab 6 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN HOB
6.5 KONSEPSI KERJA SAMA ANTAR NEGARA & WILAYAH
Dalam konsepsi kerja sama antar negara dan antar wilayah ini masing-masing negara dan wilayah yang terlibat dalam program HoB memiliki kedaulatan sepenuhnya untuk mengelola sumberdaya dan wilayah masing-masing sesuai aturan yang berlaku di setiap negara dan setiap wilayah.
Kawasan HoB dikembangkan untuk tidak menjadi beban bagi pemerintahan suatu negara dan bagi pemerintah daerah, tetapi sebaliknya akan memberi manfaat bagi semua pihak. Namun juga harus dipahami bahwa manfaat yang akan diterima tersebut perlu diperjuangkan bersama melalui upaya dan investasi bersama.
6.4.1. Proposal Kerjasama Antar Negara
Kerja sama antar negara yang akan dilakukan adalah bagaimana mensinergikan pengelolaan sumberdaya alam dan kegiatan konservasi di kawasan HoB Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
1. Prinsip Kerja Sama Antar Negara
Prinsip kerja sama antar negara yang disatukan dalam pengelolaan kawasan HoB diantaranya :
Menetapkan mekanisme untuk berbagi informasi secara koheren dan efektif.
Melaksanakan penelitian dan studi bersama, terutama di bidang keanekaragaman hayati dan sosio ekonomi termasuk melakukan penaksiran terhadap aspek sosial dan demografi.
Mengidentifikasi, menaksir dan menetapkan kawasan lindung lintas batas dalam rangka memperkuat pengelolaan kawasan lindung berbasis nilai budaya dan warisan alam, kemampuan tangkapan air dan kekayaan keanekaragaman hayati.
Mengembangkan dan meningkatkan sistem dan prosedur baku untuk operasional monitoring dan evaluasi dalam rangka pengelolaan kawasan lindung lintas batas, dan melaksanakan aktivitas monitoring dan evaluasi bersama, jika diperlukan.
Mengembangkan dan meningkatkan sistem dan implementasi program pengelolaan kawasan lindung lintas batas secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat lokal dan stakeholder lainnya.
Menetapkan daftar induk kawasan lindung di dalam kawasan HoB berisi informasi mengenai tujuan pengelolaan, ciri khusus dan badan/individu yang terkait berdasarkan kategori dari masing-masing negara.
Mempromosikan keterkaitan institusional di antara kawasan lindung di dalam HoB
Meningkatkan dan memperkuat mekanisme dan panduan yang ada untuk memastikan implementasi praktik terbaik dalam pengelolaan sumberdaya alam, prinsip pemanfaatan berkelanjutan dan pendekatan ekosistem dalam pemanfaatan sumberdaya alam termasuk kehutanan, perkebunan dan pertambangan di dalam kawasan HoB.
Mengembangkan skema program rehabilitasi dan restorasi pada hutan terdegradasi di dalam kawasan HoB.
Menetapkan hubungan antar institusi riset dan pengembangan dan mendorong kolaborasi termasuk menyertakan peneliti untuk terlibat dalam upaya konservasi dan penbangunan berkelanjutan di HoB.
Mempromosikan program penyadartahuan publik tentang pencegahan hilangnya keanekaragaman hayati hutan termasuk produk kayu dan hidupan liar.
Mempromosikan pendidikan dan penyadartahuan mengenai program HoB.
Secara diagramatis kerjasama tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
NEGARA
BRUNAI DARUSALLAM NEGARA INDONESIA NEGARA MALAYSIA
FORUM INTERNASIONAL DEWAN EKSEKUTIF INTERNASIONAL MANAGER KERJASAMA PEREKONOMIAN & INVESTASI KERJASAMA HUKUM &
PERUNDANG-UNDANGAN KERJASAMA PEMASARAN F O R U M M U L T Y S T A K E H O L D E R S F A S I L I T A T O R P B B
Gambar 6.4. Diagram Kerjasama Antar Negara di Kawasan HoB 2. Pokok-Pokok Kerja Sama Antar Negara
Pokok-pokok kerjasama antar negara, antara lain meliputi :
a. Kesepahaman 1 (satu) kawasan kelola bersama dengan konsep sistem manajemen DAS yang ter-integrasi, menghindari pola pengelolaan yang ter-fragmentasi.
b. Dengan pola kelola yang ter-integrasi, maka antara daerah
upstream dan downstream harus mampu menjaga kondisi air
dalam hal kualitas dan kuantitasnya.
c. Seluruh program pembangunan bertujuan peningkatan ekonomi perlu dipertimbangkan pelayanan ekosistem, kemanfaatan ekonomi harus terhindar dari perusakan ekosistem.
d. Membentuk sebuah komisi pengelolaan bersama dalam pengelolaan kawasan HoB antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei. e. Proses kelola teknis di lapangan dilakukan bersama dalam satu
badan komisi dengan pengambilan keputusan bersama. Teknis lapangan meliputi :
Surveillance
Pembangunan basis data Monitoring & Evaluation
f. Menerapkan aturan “eco-labeling” untuk setiap komoditas perdagangan hasil hutan dan galian tambang.
6.4.2. Proposal Kerjasama Antar Propinsi
Kawasan HoB dalam wilayah Indonesia merupakan bagian dari beberapa wilayah propinsi, yaitu Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Prinsip Desentralisasi yang diterapkan di Indonesia membuat setiap wilayah memiliki otonomi dalam pengelolaan wilayahnya. Karena itu diperlukan kerjasama antar propinsi dalam pengelolaan kawasan HoB agar tercapai kesefahaman dan kesetaraan dalam menanggung hak dan kewajiban serta memperoleh manfaat dari pengelolaan bersama kawasan HoB.
Kerjasama antar propinsi dapat mencakup berbagai point utama sebagai berikut :
Kesepakatan untuk menetapkan dalam RTRW Propinsi kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi berdasarkan pertimbangan ekologis.
Melakukan paduserasi pemanfaatan ruang khususnya pada perbatasan propinsi atau pada kawasan-kawasan yang akan mempengaruhi fungsi ekologis pada wilayah propinsi tetangga.
Pengembangan strategi konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.
Pengembangan infrastruktur kawasan yang terpadu.
Pengembangan bidang perekonomian yang terpadu.
Pengembangan dan peningkatan sumberdaya manusia.
Pengaturan insentif dan disinsentif antar kabupaten.
Secara diagramatis kerjasama tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : PROPINSI KALIMANTAN BARAT PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PROPINSI KALIMANTAN TIMUR FORUM REGIONAL DEWAN EKSEKUTIF REGIONAL MANAGER KERJASAMA PEREKONOMIAN & INVESTASI KERJASAMA HUKUM &
PERUNDANG-UNDANGAN KERJASAMA PEMASARAN F O R U M M U L T Y S T A K E H O L D E R S F A S I L I T A T O R P E M E R I N T A H P U S A T
Gambar 6.5. Diagram Kerjasama Antar Propinsi di Kawasan HoB 6.4.3. Proposal Kerjasama Antar Kabupaten
Pada wilayah propinsi kawasan HoB merupakan bagian dari beberapa wilayah kabupaten, dimana wilayah ini juga memiliki otonomi dalam pengelolaan wilayahnya. Seperti halnya pada level wilayah propinsi diperlukan kerjasama antar kabupaten dalam pengelolaan kawasan HoB agar tercapai kesefahaman dan kesetaraan dalam menanggung hak dan kewajiban serta memperoleh manfaat dari pengelolaan bersama kawasan HoB. Pada kerjasama antar kabupaten yang diperlukan adalah strategi operasionalisasi kerjasama antar propinsi, yang lebih pada kerjasama teknis seperti :
Kesepakatan antar kabupaten untuk melindungi kawasan HoB yang terdapat di wilayahnya, melalui penetapan kawasan konservasi pada RTRW Kabupaten.
Membangun komitmen kerjasama kontribusi keuntungan terhadap pengorbanan yang dilakukan oleh kabupaten di bagian hulu untuk keuntungan yang diperoleh kabupaten di bagian hilir.
Membangun kesepakatan penyiapan infrastruktur yang mendukung kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan kesepakatan dan komitmen.
Melaksanakan pemberdayaan dan peningkatan kapasitas aparat dan masyarakat, terhadap Visi : Terwujudnya kelestarian hutan di kawasan HoB sebagai paru-paru dunia, bagi peningkatan kualitas kehidupan umat manusia.
Mengembangkan pola pemanfaatan kawasan konservasi melalui pemanfaatan Jasa Lingkungan (jasa aliran air, wisata alam/ekowisata, perlindungan keanekaragaman hayati, penyerapan karbon).
Secara diagramatis kerjasama tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : BUPATI KABUPATEN BUPATI KABUPATEN BUPATI KABUPATEN BUPATI KABUPATEN BUPATI KABUPATEN FORUM REGIONAL DEWAN EKSEKUTIF REGIONAL MANAGER KERJASAMA PEREKONOMIAN & INVESTASI KERJASAMA HUKUM &
PERUNDANG-UNDANGAN KERJASAMA PEMASARAN F O R U M M U L T Y S T A K E H O L D E R S F A S I L I T A T O R P E M E R I N T A H P U S A N & P R O P I N S I