KONSEPSI PENDIDIKAN
A. Pengertian Pendidikan
Sebagai pengantar dalam pembahasan ini, penulis terlebih dahulu mengemukakan pengertian pendidikan dalam rangka memahami konsep pendidikan sebagai suatu sistem. Dalam pengertian pendidikan modern pendidikan tidak lagi memandang anak sebagai objek, tetapi sebagai subjek, seperti pengertian yang dikemukakan para pendidik berikut ini, yaitu :
1. Pendidikan ialah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya.
2. Pendidikan adalah proses kegiatan yang dilakukan secara bertahap dan berkeseimbangan, seirama dengan perkembangan subyek didik.
Maka dengan pengertian itu dapat dikatakan bahwa fungsi pendidikan itu meliputi tiga macam, yaitu adalah: 1. Mengembangkan wawasan subyek didik mengenai
dirinya dan alam sekitarnya, sehingga dengannya akan timbul kreatifitasnya. Hal ini berkaitan dengan peranan yang diambil dalam lingkungannya atau masyarakatnya di mana ia berada.
2. Melestarikan nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupannya sehingga keberadaannya, baik secara individual maupun sosial, lebih bermakna. Di sini yang dimaksud agar nilai-nilai tersebut tetap terpelihara sehingga keutuhan dan kesatuan suatu masyarakat tetap terjamin, sebab merupakan syarat mutlak bagi kelanjutan suatu masyarakat untuk menjaga nilai-nilai yang disepakati.
3. Membuka pintu pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan kemajuan hidup individual maupun sosial. Dalam hal ini lebih terfokus pada pengembangan potensi subyek didik.
Dengan demikian terdapat pada subjek didik (manusia) kemampuan dasar atau fitrah kejadian asal atau pola dasar kejadian yang harus dikembangkan melalui pendidikan. Kebutuhan terhadap pendidikan tesebut bukannya sekedar mengembangkan aspek individualisasi dan sosialisasi melainkan juga mengarahkan perkembangan kemampuan dasar tersebut kepada pola hidup yang dihajatkan manusia. Karena itu apa yang disebut keharusan pendidikan mengandung aspek-aspek kepentingan yang seperti disebutkan oleh HM. Arifin M. Ed., antara lain:
1. Aspek paedagosis
Dalam pandangan ini manusia dikatakan sebagai mahluk “homo educandum”, yaitu mahluk yang harus dididik.
2. Aspek psikologis
netral”, yaitu mahluk yang memiliki kemandirian
jasmaniah dan rohaniah. 3. Aspek sosiologis dan kultural
Pada aspek ini manusia dipandang sebagai mahluk
“homo socius”, yaitu mahluk yang berwatak dan
berkemampuan dasar atau yang memiliki insting untuk hidup bermasyarakat.
4. Aspek filosofis
Manusia dipandang sebagai mahluk “homo sapiens”, yaitu mahluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan.
5. Homo religious
yaitu mahluk yang mempunyai dasar berketuhanan atau beragama.
Dari pandangan beberapa aspek di atas manusia memerlukan pendidikan untuk mengembangkan segala pola dasar yang dimilikinya tersebut. Sebenarnya masih ada hal-hal yang perlu untuk diungkapkan mengenai tinjauan hakikat manusia, yaitu bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan sebaik-baik bentuk dan paling sempurna di muka bumi. Hal ini baik ditinjau dari segi susunan organ tubuh dan terutama dari susunan saraf.
Sedangkan dari segi rohani adalah mempunyai akal yang tidak dimiliki mahluk lain. Namun dari sisi lain ia masih mempunyai keterbatasan dalam ketidaksempurnaannya. Keterbatasan itu bersumber dari fisik dan psikisnya sendiri misalnya untuk kelangsungan hidupnya sebelum ia mampu dalam kemandiriannya, di samping itu manusia tidak
dapat mengetahui apa-apa terhadap lingkungannya atau dirinya sendiri bila tidak diberikan pengetahuan oleh yang lain. Maka dengan demikian keberadaan manusia tidak terlepas pada keperluan pendidikan, yang pada hakikatnya untuk membantu dan mengarahkan fitrah manusia supaya berkembang sampai kepada titik maksimal yang dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan .
Kemudian kapan dimulai pendidikan atau
adakah batas – batas pendidikan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat dimulai dengan mengambil pendapat M.J. Langeveld bahwa pendidikan dimulai kalau anak sudah mengerti arti gezag (kewibawaan) kira-kira anak berusia 3 tahun sampai ia menjadi dewasa. Kemudian Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan dimulai dari lahir sampai mati. Hal ini sesuai dengan istilah “Life Long Education” yang berarti pendidikan seumur hidup, jadi meskipun orang itu sudah tua umurnya masih dapat dididik. Misalnya mungkin sekali orang itu kurang mendalam masalah agama, maka orang tua itu masih dapat dididik tentang agama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai azas yang sepanjang usia manusia itu hidup bisa dilaksanakan pendidikan.
B. Situasi Pendidikan
Dalam pengertian pendidikan yang telah diuraikan di atas ditujukan dalam pengertian yang lebih luas.
Karena perlu diketahui bahwa masalah pendidikan adalah masalah yang sama luasnya seperti peradaban itu sendiri. Misalnya mulai dari mencari kayu bakar untuk memasak sampai kepada aktifitas yang kompleks seperti berfikir secara individu dan secara kolektif. Maka dalam pengertian pendidikan secara sempit, sebagaimana yang dinyatakan oleh Soegarda Poerbakawatja dan H.A.H Harahap yaitu adalah “usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan
pengaruhnya meningkatkan si anak kedewasaan yang selalu diartikan mampu memikul tanggungjawab moril dari segala perbuatannya”.
Maka dengan demikian secara “teknis” bahwa sesudah tercapai kedewasaan maka tugas pembentukan seseorang sudah selesai dan perkembangan selanjutnya akan dapat berlangsung di bawah berbagai pengaruh yang pemanfaatannya terutama terletak pada orang itu sendiri yang atas dasar tanggungjawabnya menentukannya. Setiap manusia sejak lahir sebagai bayi, memasuki masa kanak-kanak, menjadi remaja dan dewasa terus berinteraksi dengan semasanya. Tanpa manusia lain setiap anak tidak akan tumbuh dan berkembang secara manusiawi. Karena itu dalam hubungan tersebut harus dilakukan pendidikan agar dalam berinteraksi tersebut sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Namun bagaimana menciptakan situasi pendidikan dalam setiap interaksi tersebut.
Untuk menciptakan interaksi yang menyebabkan timbulnya situasi pendidikan yang disebut dengan pertemuan pedagogis (sentuhan pendidikan), hanya akan terjadi bilamana pendidik secara sadar dapat mengarahkan
dan membimbing terhadap subjek didiknya, di mana pendidik dapat memahami dan memasuki tingkat daya fikir subjek didik. Sehingga dalam sentuhan itu subjek didik merasa terpanggil untuk memahami, mengenal, meniru/meneladani dan bergerak secara psikologis ke arah kedewasaan si pendidiknya. Sentuhan pendidikan terjadi jika seorang pendidik atau orang dewasa, berhadapan dengan seorang anak didik atau sekelompok anak, berbicara tentang hal yang sama, di mana yang satu memberi dan yang lain menerima. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Hadari Nawawi dam bukunya Pendidikan Dalam Islam menyebutkan: “Sentuhan Pendidikan itu terjadi
apabila individu yang dewasa secara ikhlas dan rela berkorban mengajak, mendorong, membimbing dan membantu individu yang belum dewasa, untuk berubah, berkembang, meniru dan meneladani sesuatu yang baik diberikan oleh orang dewasa itu pada saat yang sama merasa tanpa dipaksa (dresser), ditekan dan ditakut-takuti menerima segala sesuatu yang baik dari orang dewasa itu”.
Dengan demikian sentuhan pendidikan mengubah situasi pergaulan biasa antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa, menjadi situasi pendidikan. Orang dewasa berubah atau berkembang peranannya menjadi pendidik dan anak yang belum dewasa menjadi anak didik. Sesuatu yang baik dari pendidik yang diberikannya dan diterima anak didik, bersumber atau dijabarkan dari tujuan pendidikan. Seperti yang dinyatakan kembali oleh Hadari Nawawi bahwa:“Situasi itu berada dalam suatu masyarakat
hanya akan terwujud bilamana antara pendidik dan anak didik terjadi relasi timbal – balik yang berfungsi sebagai alat pendidikan. Tanpa relasi sebagai alat pendidikan itu, antara individu itu tidak lain yang ada hanya pergaulan biasa, bukan situasi pendidikan”.
Dari uraian di atas berarti dalam setiap situasi pendidikan terdapat enam unsur, yang terdiri dari pendidikan, anak didik, alat pendidikan, tujuan pendidikan, alam sekitar
(milieu), dan materi pendidikan. Keenam unsur tersebut
dibahas kemudian, karena akan didahului dengan uraian tentang pengertian pengajaran, sebagai kata yang sering dikonotasikan dengan pendidikan. Padahal pendidikan lebih menyentuh sikap mental yang berhubungan kepribadian secara keseluruhan dalam diri seseorang sebagai individu dan anggota masyarakat, sedangkan pengajaran merupakan proses mengembangkan kemampuan intelektual yang berhubungan dengan pengetahuan diri individu. Kalau demikian maka pengajaran tidak atau kurang baik dalam segi nilai-nilai dibanding dengan pendidikan. Akan tetapi tidak bisa dipisahkan bahwa untuk memberikan pendidikan diperlukan pengajaran, sehingga pengajaran yang baik pasti bermakna sebagai pendidikan.
Pendidikan dan pengajaran dalam kesamaan dan perbedaannya itu, pada dasarnya memiliki unsur-unsur yang sama seperti diuraikan sebelumnya, hanya unsur pendidikan harus diperankan oleh guru, ustaz, kiai, atau dosen dan sebagainya. Unsur subyek didik berada pada murid, atau santri, sedangkan alat pendidikan diwujudkan dalam metode mengajar yang dipergunakan. Kemudian
tujuan dijabarkan dalam beberapa tujuan, dan lingkungan serta materi yang sama-sama dimiliki. Berikut ini akan dibahas keenam unsur yang disebutkan diatas.
C. Unsur-unsur pendidikan
Dari keenam unsur tersebut itulah yang dapat menciptakan situasi pendidikan, sebab secara keseluruhan mempunyai pertautan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana uraian berikut ini:
1. Pendidik
Pendidikan secara lazim atau dalam pendidikan secara mikro pembimbing disebut pengajar, baik kedudukan sebagai orang tua, guru, ustadz, kiai, ulama, dan lain sebagainya, yang kedudukan pengetahuan mempunyai sifat “lebih”. Maka kelebihannya itulah manusia mempunyai tanggung-jawab untuk membimbing terhadap yang lain. Maka kemampuan itu direalisasikan dalam proses belajar. Oleh karena itu guru bukan saja sebagai pengajar tetapi sebagai motivator dan fasilitator. Agar potensi-potensi manusia itu dapat mengimbangi kelemahan pokok yang dimiliknya, yaitu sifat suka lupa. Jadi adalah tujuan dan tanggung-jawab guru-guru dan para aktivis pendidikan yang lain untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut.
Maka dalam menjalanakan fungsi pendidikan tersebut ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pengajar (pendidik) dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan itu, Menurut Hadari Nawawi diantaranya yaitu:
a. Wibawa;
b. Tulus ikhlas dalam pengabdian; c. Keteladanan.
Bila dijabarkan ketiga sifat tersebut adalah sebagai berikut :
a. Wibawa
Wibawa diartikan sebagai sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat. Hal ini dapat dimiliki oleh si pendidik hanya melalui kemampuan yang meliputi semua aspek, seperti penguasaan ilmu pengetahuan yang sangat dalam, kemampuan menyampaikan, kemampuan bahasa yang sesuai dengan semua lapisan dan golongan masyarakat dan beberapa kemampuan lainnya, yang menjadikan adanya unsur kepercayaan murid terhadap kemampuan pendidik sehingga murid merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan. Jadi rasa hormat dan rasa segan adalah wibawa yang dimiliki pendidik bukanlah rasa takut karena karena ada paksaan, seperti adanya, tekanan, ancaman, sanksi dan hukum atau karena berupa sarana material seperti pakaian seragam kekuasaan, tetapi wibawa yang sebenarnya hanya berdasarkan atas kharismatik yang dipunyai pendidik dengan kemampuan ilmu pendidik tersebut.
b. Tulus ikhlas dan pengabdian
Sifat tulus ikhlas tampil dalam hati yang rela berkorban untuk anak. Sikap ikhlas merupakan motivasi untuk melakukan pengabdian dalam mengemban peranan sebagai pendidik. Di dalamnya tersirat kehendak
dan perilaku berdisiplin, berupa tanggung jawab dan konsekuensi dalam menjalankan dan menaati peraturan dan ketentuan. Peranan sebagai pendidik bukan dijalankan karena terpaksa atau dipaksa tetapi didasarkan kecintaan terhadap anak didik yang membutuhkan bantuan dan bimbingan dalam mewujudkan kedewasaannya. Imbalan kepuasan batiniah tampak lebih dominan dari insentif lainnya. Kondisi seperti pernyataan di atas akan mengundang kepercayaan anak didik dalam menerima bantuan dan bimbingan yang diberikannya. Bila pendidikan yang dilakukan dengan tanpa pamrih seperti itu maka setiap kali mengetahui kekurangan, kelemahan dan kebodohan anak didik, maka bagi pribadi pendidik itu selalu terdorong untuk membantu anak didik itu agar menjadi baik dan benar bertindak.
c. Keteladanan
Sifat keteladanan bagi guru adalah sifat yang harus dimiliki. Seorang guru tidak boleh melakukan perbuatan yang bagi muridnya ia larang melakukannya, sebab jika tidak demikian, maka guru akan kehilangan wibawa, anak tidak mempunyai figur yang harus ditiru. Pendidik tidak akan dapat bergantung sepenuhnya pada perkataan atau ucapan serta ilmu yang diberikan pada anak didik, jika perkataan dan ucapan itu tidak selaras dengan sikap perilakunya, karena yang ditangkap dan dihayati anak adalah seluruh kepribadiannya. Sebagai mana yang dinyatakan Fathiyah Hasan yang diambil dari pemikiran Gazali bahwa “guru bagi murid ibarat bayangan dari kayu. Bayangan tidak mungkin
lurus apabila kayunya bengkok”. Maka hal demikian yang terjadi bila tidak memberikan keteladanan, pendidik akan menjadi sasaran penghinaan, dan pada gilirannya pula ia akan kehilangan kemampuan dalam mengarahkan murid-muridnya. Untuk itu keteladanan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang harus diterapkan dalam pendidikan Islam.
2. Subyek Didik
Dalam istilah subyek didik ini lebih mengacu anak yang belum dewasa. Sedangkan menurut pendapat Sutari Imam Bernadib bahwa anak didik adalah “Tiap orang atau
sekelompok orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok yang menjalankan kegiatan pendidikan”.
Menurut Imam Bernadib pengertian secara sempit bahwa anak didik dapat diartikan pada dua macam, yaitu “pertama
orang yang belum dewasa, kedua orang yang menjadi tenggung jawab pendidik”. Sedangkan dipandang secara
luas adalah “bahwa manusia sebagai subyek didik dapat
ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut masyarakat, dan dari segi pandangan individu.”
Maka anak didik dari segi individu mempunyai sejumlah atau seberkas kemampuan (abilities) yang sifatnya umum pada setiap manusia, sama kemampuannya dengan kemampuan melihat dan mendengar tetapi berbeda dalam derajat menurut masing-masing orang, seperti halnya panca indra juga. Ada orang yang penglihatannya kuat dan lemah. Dalam pengertian ini pendidikan didefinisikan sebagai peroses untuk menemukan dan mengembangkan
kemampuan-kemampuan ini.
Dari segi pandangan masyarakat, diakui bahwa manusia memiliki kemampuan-kemampuan asal dan bahwa kanak-kanak itu mempunyai benih-benih bagi segala yang telah dicapai dan didapat dicapai oleh manusia. Ia menekankan pada kemampuan manusia memperoleh pengetahuan dengan mencarinya pada alam di luar manusia. Disini mencari itu lebih merupakan proses memasukkan yang wujud di luar seorang pelajar dan bukanlah proses mengeluarkan apa yang wujud di dalam pelajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan pertama menganggap bahwa anak didik sebagai pengembangan potensi dan pendekatan kedua cenderung melihatnya sebagai pewarisan budaya.
Dengan adanya dua pandangan tersebut dapat dijelaskan bahwa yang pertama perlu subjek didik diberikan kebebasan berfikir dan bekerja untuk mencapai kemandirian dalam hidupnya, misalnya dengan mengembangkan pertanian, atau pertukangan dan sebagainya. Sedangkan yang kedua memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar sesuai dengan perkembangan psikis dan phisiknya.
3. Alat-Alat Pendidikan
Di dalam kegiatan-kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan perlu menggunakan alat-alat pendidikan. Bentuk-bentuk alat-alat pendidikan menurut Imam Bernadib yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:
1) Perintah, larangan 2) Dorongan, hambatan 3) Nasihat, anjuran 4) Hadiah, hukum
5) Pemberian kesempatan, menutup kesempatan Alat-alat pendidikan itu dimaksudkan sebagai sesuatu yang secara langsung membantu terlaksananya tujuan pendidikan. Penggunaan alat tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan atau menghentikan perbuatan yang salah, misalnya dalam bentuk larangan atau perintah, dan bentuk-bentuk lain yang disesuaikan antara tujuan yang diinginkan dengan pemberian alat pendidikan yang digunakan. Jadi alat pendidikan demikian merupakan perbuatan atau situasi yang diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Menciptakan relasi dan kemampuan membuat situasi hubungan yang berkembang menjadi rasa hormat, rasa segan dan kepercayaan dari anak didik kepada pendidik. Oleh karena itu tanpa adanya alat pendidikan seperti demikian tidak akan dapat tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Kemudian di atas telah disinggung mengenai metode-metode sebagai alat pendidikan dan pengajaran, di mana untuk lebih efektif dan efesien haruslah bagi pendidik dapat memilih dan menentukan metode yang sesuai. Seperti yang dinyatakan Abu Ahmadi bahwa, di antaranya yang sering digunakan adalah metode ceramah, diskusi dan tanya jawab.
a. Metode Ceramah
Dengan metode ceramah ialah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran di mana cara penyampaian
pengertian-pengertian materi pengajaran kepada anak didik dilaksanakan dengan lisan oleh guru. Metode ini yang paling berperanan adalah guru, dan digunakan kepada anak didik yang bersifat klasikal atau orang banyak.
b. Metode Tanya-Jawab
Metode tanya-jawab ialah suatu metode di dalam pendidikan dan pengajaran dimana guru bertanya sedangkan murid-murid menjawab tentang bahan materi yang diperolehnya.
c. Metode Diskusi
Diskusi ialah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Diskusi ini selalu diarahkan kepada masalah yang menimbulkan berbagai macam pendapat, dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh semua anggota.
d. Metode-Metode Yang lain
Sebenarnya ada beberapa metode yang juga sering digunakan menurut Wiinarno Surakhmad seperti metode latihan, metode pemberian tugas, demonstrasi dan eksprimen, karya wisata, dan kerja kelompok.
Semua metode tersebut ini lebih menitik beratkan pada aspek motorik. Sedangkan tiga metode sebelumnya lebih bersifat pengetahuan.
4. Tujuan
Tujuan pendidikan ialah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan
baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu itu hidup. Maka untuk menentukan tujuan pendidikan perlu menentukan sifat atau karakteristik pendidikan itu sendiri. Sifat-sifat tersebut mempunyai nilai yang ideal diyakini.
Adapun berdasarkan pada sifat kemaslahatan umum maka ada beberapa tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Menurut MJ. Langeveld bahwa tujuan pendidikan itu ada 6 macam, yaitu:
1) Tujuan Umum 2) Tujuan Khusus 3) Tujuan Seketika 4) Tujuan Sementara 5) Tujuan Tidak Lengkap 6) Tujuan Perantara
Adapun tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai tujuan umum pendidikan pada umumnya mewujudkan kedewasaan serta membawa anak dengan sadar dan bertanggung jawab ke arah kedewasaan jasmani dan rohani. Untuk mencapai tujuan umum berupa kedewasaan diperlukan waktu yang relatif lama. Selama waktu yang panjang itu tujuan umum atau kedewasaan harus diwujudkan secara bertahap dan karenanya harus dijabarkan secara jelas.
Tujuan khusus ialah pengkhususan atau operasionalisasi dari tujuan umum. Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu sesuai dengan tuntunan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan umum. Menurut
Achmadi pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada :
1) Kultur dan cita-cita suatu bangsa dimana pendidikan itu diselenggarakan.
2) Minta, bakat, dan kesanggupan subjek didik.
3) Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu. Penjabaran tujuan pendidikan yang bersifat umum itu menjadi tujuan yang bertahap, merupakan perumusan tujuan khusus yang dapat berbentuk tujuan seketika, tujuan sementara, tujuan tidak lengkap, tujuan perantara. Tujuan tujuan tersebut di atas dalam pendidikan, semuanya harus terarah dan menunjang pencapaian Tujuan Umum dan Tujuan Akhir, yakni terwujudnya kedewasaan.
5. Alam Sekitar (milieu)
Alam sekitar atau lingkungan merupakan suatu unsur yang penting kedudukannya di dalam pendidikan. Lingkungan masyarakat mempunyai suatu kebiasaan, adat istiadat atau tradisi yang akan membawa pengaruh kepada kebiasaan anak. Beberapa ahli pendidik membagi lingkungan itu menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Lingkungan keluarga 2) Lingkungan sekolah 3) Lingkungan masyarakat
Ketiga lingkungan ini satu dengan yang lain tidak boleh dipisah-pisahkan, harus merupakan mata rantai yang tidak boleh diputuskan. Lingkungan yang paling mendasar sekali adalah lingkungan rumah tangga, berhasil tidaknya pembinaan anak ditentukan oleh orang tuanya.
Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh M. Arifin bahwa :”. . . Sepanjang masa dan waktu orang tua selalu dituntut
agar bertanggung jawab atas pendidikan anaknya”. Hal
yang sangat penting bagi orang tua adalah membimbing dan mengarahkan sehingga anaknya dapat berkembang sesuai dengan tingkat usianya. Orang tua selain sebagai orang yang bertanggung-jawab dalam kehidupannya juga sekaligus berfungsi sebagai guru, seperti dijelaskan oleh Crow & Crow bahwa: “Orang tua adalah guru pertama bagi
anak, sedangkan hubungan guru dengan muridnya sama dengan hubungan orang tua dengan anak-anaknya”.
Kemudian lingkungan kedua adalah lingkungan sekolah juga mempengaruhi terhadap pendidikan anak, di mana lingkungan sekolah yang aman, penuh dengan kegiatan yang bersifat kebaikan akan mempercepat pencapaian keberhasilan proses pendidikan. Selanjutnya berhubungan dengan lingkungan tempat masyarakat atau teman sepergaulan adalah salah satu yang berperan dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Dalam hal ini sebagaimana dikatakan bahwa “anak didik untung apabila
kebetulan mendapat pengaruh yang baik, sebaliknya akan rugi apabila mendapat pengaruh yang kurang baik”.
Dengan adanya unsur-unsur pendidikan yang telah diuraikan di atas cukuplah sebagai gambaran untuk melihat bentuk pendidikan Islam secara selintas, meskipun sebenarnya banyak hal-hal yang masih kurang, namun gambaran ini agar dapat diacukan kepada pemikiran Al-Banjari dalam pelaksanaan pendidikan yang dijalankannya.