• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN ISLAM MENURUT SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDIDIKAN ISLAM MENURUT SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN ISLAM MENURUT

SYEKH MUHAMMAD ARSYAD

AL-BANJARI

PENULIS :

Dr. MUFRIDA ZEIN, S.Ag., M.Pd.

EDITOR :

(2)

PENDIDIKAN ISLAM MENURUT SYEKH

MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

Penulis :

Dr. MUFRIDA ZEIN, S.Ag., M.Pd.

Editor: DR. SIHABUDDIN CHALID, M.M.Pd

© 2019

Diterbitkan Oleh:

Cetakan Pertama, Agustus 2019

Ukuran/ Jumlah hal: 15,5 x 23 mm / 115 hlm Layout : Emjy

Cover: Emy

ISBN : 978-602-5815-69-0

Hak cipta dilindungi oleh undang Ketentuan Pidana Pasal 112 - 119. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

(3)

Dengan menyebut nama Allah SW T

Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang

(4)
(5)

MUQADDIMAH

Kata Pengantar

Buku ini merupakan tindak lanjut dari penelitian penulis, yang dilakukan saat penulis menyelesaikan S1 Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari, sehingga sebagian besar isi dan tema dalam setiap bab memiliki kesamaan, namun mengalami revisi pada isinya. Selain itu terjadi penyempurnaan dengan beberapa keterangan dan tambahan gambar dari tokoh-tokoh yang tertulis di dalamnya, agar lebih menarik dari segi cover dan isinya.

Mengungkapkan pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di dalam Pendidikan Islam, tidak banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan terdahulu, yang dapat dijadikan sebagai rujukan atau referensi, karena itu buku ini menurut penulis adalah merupakan yang paling awal dalam menggali dalam memaparkan tentang pemikiran beliau. Padahal peran dan ajaran al-Banjari sebagai seorang pendidik sangat nyata, baik secara kehidupan individu maupun kelompok masyarakat di Kalimantan Selatan, tidak terlepas dari pengaruh model penyelenggaraan pendidikan beliau, bentuk-bentuk dan Lembaga Pendidikan keagamaan terus menjadi pegangan dalam pelaksanaan. Untuk itu penulis meyakini penulisan sejarah dan mengkaji pemikiran beliau dalam bidang Pendidikan sangat penting, agar

(6)

dapat dikembangkan dalam konteks kekinian, dan menjadi rujukan dalam penyelenggaraan Pendidikan Islam.

Dalam penulisan buku ini, penulis telah banyak menerima arahan dan saran terutama dari beberapa tokoh yang sangat berpengaruh dan menginspirasi penulis dalam penyelesaian buku ini, terutama ayahda HM. Irsyad Zein, Dr. Alfani Daud, beberapa tokoh lain yang juga memiliki peran adalah H.M Hatim Lc, Dr. Jurkani Yahya yang pernah tergabung dalam penelitian transliterasi Kitab Sabilal Muhtadin.

Penulis menyadari tentu sangat banyak kekurangan dalam buku ini, karena itu saran dan koreksi kontruktif sangat diperlukan, untuk penyempurnaan dan penulisan buku ke depan, yang akan penulis teruskan sebagai generasi dari zuriat al-Banjari. Penulisi berharap akan dapat melanjutkan pengkajian dan penulisan pemikiran dan ajaran dari kitab-kitab yang beliau wariskan, semoga. Amin.

Pelaihari, 17 Juli 2019

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

MUQADDIMAH ... v

DAFTAR ISI ... vii

BAB 1 SEJARAH DATU KELAMPAYAN ... 1

BAB 2 KEHIDUPAN SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI ... 9

BAB 3 KONSEPSI PENDIDIKAN ... 41

BAB 4 BEBERAPA PEMIKIRAN AL-BANJARI TENTANG PENDIDIKAN ... 59

BAB 5 PELEMBAGAAN PUSAT PENDIDIKAN AL-BANJARI ... 77

BAB 6 PENUTUP ... 99

(8)
(9)

BAB 1

SEJARAH DATU KELAMPAYAN

P

enulisan tentang sejarah hidup ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memang telah banyak dilakukan orang, baik dari aspek sejarah hidupnya maupun dari aspek pemikirannya dalam bidang agama. Dalam bidang agama juga ditulis dengan berbagai disiplin ilmu agama Islam. Dari kalangan bangsa Indonesia sendiri, antara lain oleh Achmad Basuni, Zafry Zamzam, dan Mohd. Shagir Abdullah. Sedangkan dari bangsa asing (Belanda) yang telah menulis secara singkat adalah J.C Noorlander, Pijper, dan Karel Steenbrink. Di samping itu terdapat penulisan yang merupakan hasil dari penelitian pribadi oleh Ramli Nawawi, Yusran Asmuni, dan Rasyidah HA. Sedangkan dari penelitian kelompok telah dilakukan oleh Tim penelitian IAIN Antasari yang mengemukakan tentang pemikiran keagamaan Al-Banjari.

Kendatipun demikian, sampai sekarang belum diketahui sejarah hidup yang lengkap dan jelas, terutama berkenaan masa kanak-kanaknya, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis murid-muridnya. Keadaan tempat beliau mengajar ilmu pengetahuan agama terhadap

(10)

murid-murid yang berada di daerah pedalaman yang masih sulit dicapai diwaktu itu, hal ini menyebabkan tidak banyak orang yang mencatat atau memperhatikan. Bahkan sampai sekarang tidak satupun tulisan atau penelitian yang khusus berkenaan dengan konsepsi dan pelembagaan pendidikan yang dikembangkan olehnya.

Dari kitab-kitab karangannya, kita hanya mengetahui nama dan peranannya dalam mendakwahkan agama Islam dan menyanggah paham animisme serta upacara-upacara yang tidak Islam, juga berkenaan dengan hukum syariat, selain itu tidak banyak diketahui.

Salah seorang zuriat beliau (cicit) dari keturunan ketiga adalah Abdurrahman Shiddiq yang tinggal di Sapat Indragiri, adalah orang yang sangat berjasa dalam meneliti dan menulis sejarah hidup dan zuriat-zuriatnya yang pertama, untuk sementara ini penulisnya itu dianggap yang paling lengkap.

(11)

Nama Muhammad Arsyad Al-Banjari (yang selanjutnya disebut Al-Banjari) lebih banyak dikenal melalui oral history – tutur rakyat secara turun temurun – disertai dengan berbagai legenda), sehingga nama Al-Banjari di kalangan masyarakat umum di Kalimantan Selatan dikenal sebagai tokoh besar yang dihormati dan dikeramatkan karena dianggap sebagai seorang wali, hal ini terlihat dengan adanya orang-orang yang selalu menziarahi kuburnya setiap hari.

Gambar 2. Pintu Gerbang Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Kalampayan

Gambar 3. Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Kalampayan Martapura Kabupaten Banjar

(12)

Di samping itu yang lebih mempopulerkan nama Al-Banjari di masyarakat, baik di Indonesia maupun di wilayah Asia Tenggara, adalah berkat tulisannya yang menghasilkan sebuah kitab Sabilal Muhtadin. Karena itu di kalangan ulama Al-Banjari dianggap sebagai seorang ulama besar yang telah mewariskan sejumlah karya tulis yang dapat digunakan sebagai rujukan dan pegangan dalam keberagaman umat setiap saat. Sementara itu di lain pihak Al-Banjari dipandang sebagai tokoh dalam sejarah yang telah berhasil membawa perubahan besar bagi masyarakat di Kalimantan Selatan terutama dari aspek kepercayaan dan keagamaan dalam persiapan menghadapi zaman baru.

Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari aspek pertanian dan perkebunan, misalnya Al-Banjarilah yang pertama kali membuat sistem irigasi untuk pengairan tanah persawahan yang terkenal sekarang dengan nama Sungai Tuan. Sedangkan dari aspek pendidikan, Al-Banjari telah berjasa mengadakan pembaruan dengan mendirikan suatu perkampungan baru disertai sebuah lembaga pendidikan agama, yang dimulai dengan membuka pengajian di atas sebidang tanah pemberian Sultan yang berkuasa saat itu, yang disebut dengan Tanah Lungguh. Tanah tersebut dikelola Al-Banjari bersama-sama anak, cucu dan murid-muridnya. Di tempat itu Al-Banjari membangun beberapa bangunan berjejer di pinggir sungai, digunakan sebagai tempat pengabdian dan pendidikan yang sekarang bernama kampung Dalam pagar. Sebelum itu tidak ditemukan seorangpun di daerah Banjar yang mendirikan lembaga pendidikan Islam secara khusus.

(13)

Tradisi melembagakan pendidikan tersebut terus dilanjutkan sampai sekarang oleh zuriatnya, bukan hanya di tempat asal pelembagaan itu dimulai, tetapi telah meyebar di beberapa daerah lain di Indonesia, seperti Kalimantan Barat (Pontianak), Jawa (Bangil), Sumatra (Sapat), bahkan hingga beberapa negara Asia, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Pontianak (Kalimantan Barat), Bangil (Jawa Timur), Sapat (Riau)

Hal ini menunjukkan indikasi keberhasilan Al-Banjari dalam menanamkan sistem pendidikan yang berkelanjutan untuk meneruskan perjuangannya. Dengan demikan dapat dikatakan bahwa Al-Banjari adalah seorang tokoh yang berhasil dalam menyelenggarakan pendidikan. Di samping itu beliau memiliki cara berpikir jauh ke depan walaupun pada masa itu tidak terbayangkan sulitnya memberantas paham yang sudah berurat akar dalam masyarakat yang masih bercampur dengan berbagai paham peninggalan masa Hindu.

Tokoh Al-Banjari sangat menarik untuk dijadikan kajian penelitian ilmiah, apalagi sampai sekarang belum ada suatu penelitian yang khusus mengungkapkan tentang pemikiran-pemikiran Al-Banjari di bidang pendidikan. Karena masalah di atas menurut penulis penting, sehingga penulis merasa perlu mengungkapkan dan membahas pemikiran dan konsepsinya di bidang pendidikan yang dibawa dan disodorkan kepada masyarakat. Di samping itu sebagai penopang kebesaran nama Al-Banjari sebagai seorang ulama besar dan tokoh agama, juga sekaligus akan dapat menentukan kontribusinya bagi perkembangan

(14)

pendidikan Islam.

Sosok kehidupannya sebagai seorang tokoh pendidikan tidak banyak ditampilkan dalam tulisan, karena sampai sekarang ini secara khusus Al-Banjari memang tidak ada meninggalkan tulisan mengenai pendidikan atau tulisan-tulisan murid-muridnya yang berasal dari konsepsi Al-Banjari sehingga pemikiran dan konsepsinya tidak begitu dikenal dan diketahui.

Padahal bila dikaji secara faktual seluruh aktivitas hidupnya digunakan dalam bidang pendidikan sebagimana digambarkan di atas. Maka usaha menggali pemikiran tentunya akan dapat dilakukan, di mana pemikiran-pemikiran Al-Banjari sebagian besar sudah tertuang dalam kitab-kitabnya. Kemudian banyak tulisan-tulisan yang berasal dari beberapa zuriatnya dan penulisan-penulisan lain, baik tulisan yang hanya memuat sejarah hidupnya, maupun tulisan dari hasil penelitian dan interprestasi pemikiran Al-Banjari, baik yang dilakukan secara individual maupun kelompok. Jika semua itu diteliti lebih mendalam maka baik langsung tulisan Al-Banjari ataupun hasil penulis orang lain yang merupakan interprestasi dari tulisan Al-Banjari dapat digali dan dikemukakan konsepsinya dalam bidang pendidikan yang kemungkinan bisa diaktualisasikan dewasa ini.

Adapun bentuk-bentuk pemikiran Al-Banjari yang akan digali adalah konsepsi-konsepsi pendidikan Islam secara umum, yang telah didasarkan pada ajaran Al-Quran dan Hadis. Sedangkan yang dimaksud konsepsi pendidikan di sini ialah sebagai ide-ide, atau rencana, gambaran

(15)

umum suatu tindakan seseorang untuk memelihara dan mengembangkan fitrah subyek didik, untuk tujuan memelihara kelanjutan hidupnya dan keturunannya.

(16)
(17)

BAB 2

KEHIDUPAN SYEKH MUHAMMAD

ARSYAD AL – BANJARI ·2

A. Situasi Masa Hidupnya

Nama lengkapnya adalah Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari. Al-Banjari dikatakan keturunan berasal dari seorang sayed yang datang dari Magribi. Dilahirkan di Lok Gabang (sekarang termasuk kecamatan Astambul Martapura) pada malam kamis, tanggal 15 Safar 1122 H. (17 Maret 1710 M.) dan wafat pada tanggal 6 Syawal 1227 H. (13 Oktober 1812 M.) di kampung Dalam pagar. Makamnya sekarang berada di Kelampayan Martapura.

(18)

Dari masa kecil sampai menjelang tutup usia, kehidupannya dilalui di tempat–tempat yang saling berbeda dalam sosial kultural masyarakatnya, yaitu sejak lahir Al-Banjari berada di kampung kelahirannya. Di tempat ini tidak banyak diceritakan tentang keadaan budaya dan hubungan kemasyarakatan, hanya dikatakan bahwa kampung tersebut merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Sultan yang memerintah pada saat itu.

Namun saat itu tidak ditemukan adanya langgar atau tempat ibadah yang dijadikan sebagai tempat pengajian, kendatipun proses Islamisasi sudah lama dilakukan, dimana Sultan yang berkuasa di Kerajaan Banjar saat itu sudah menempati urutan yang ketujuh yang beragama Islam, sejak dari Sultan yang pertama, yaitu Sultan Suriansyah (Penambahan Batu Habang) namun secara intensitas pengamalan-pengamalan ajaran Islam belum memasyarakat.

Pada usia sekitar 8 tahun Al-Banjari bertempat tinggal di istana. Hal itu tentu saja sangat memengaruhi kehidupan Al-Banjari dalam pembinaan watak kepribadian, terutama jiwa kepemimpinan Al-Banjari, yang secara tidak langsung nantinya akan berpengaruh pada infrastruktur pemerintahan Keraton yang berlaku di kemudian hari.

Kemudian pada usia 35 tahun Al-Banjari diberangkatkan ke Mekah, pada usia yang demikian tentu sudah dianggap mempunyai kematangan berpikir pada tingkat kedewasaan sehingga dapat lebih selektif dalam mengambil suatu keputusan. Kota Mekkah pada saat itu sangat ramai sebagai tempat para penuntut ilmu dari negara–negara Islam karena

(19)

berbagai bidang disiplin ilmu diajarkan oleh guru–guru yang ahli dalam bidangnya masing–masing. Hal itu berlangsung dalam kurun waktu 30 tahun.

Gambar 5. Empat Serangkai Ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Mekkah

Foto dari Dokumentasi Perpustakaan Mekkah, tentang 4 orang Waliyullah dan Ulama Besar Indonesia yang menuntut ilmu agama di Mekkah. Kepulangannya ke Martapura di sambut gembira oleh Sultan karena Al-Banjari merupakan seseorang yang sangat dinantikan di kerajaan Banjar. Setelah sekian lama menimba ilmu pengetahuan di Mekkah, diharapkan dapat memberikan pengetahuan sekaligus mendidik masyarakat luas yang masih jauh terbelakang, dalam bidang pengetahuan umum pada umumnya dan pengetahuan agama pada khususnya.

Maka sebagai realisasi cita–cita luhur tersebut, dibangunlah sebuah tempat pendidikan untuk dijadikan

(20)

tempat pengabdian atas gagasan Al-Banjari sendiri. Di tempat itulah beliau mengabdi dan menghabiskan sisa umurnya sampai akhir hayatnya, selama kurang lebih 40 tahun. Dengan demikian kehidupan Al-Banjari mempunyai rentang waktu yang cukup panjang, di mana dari masa kecil sampai menjelang tutup usia di kerajaan Banjar terjadi beberapa kali pergantian Sultan.

Menurut J.C. Noorlander, pada masa Al-Banjari, telah bertahta sebanyak lima orang raja di kerajaan Banjar di Martapura, yaitu Sultan Khamidullah (Sultan Kuning 1700 – 1734 M.), Sultan Tamjidullah (1734 – 1759 M.), Sultan Alinuddin Aminullah (1759 – 1761 M.), dan Sultan Tahmidullah (Susuhunan Nata Alam) (1761 – 1801 M.).

Sedikit digambarkan di sini bahwa stabilitas politik di Keraton kesultanan sering terganggu, suksesi kepemimpinan sering terjadi sehingga tidak jarang pihak yang berkuasa meminta bantuan Belanda untuk menangkal lawannya demi melestarikan tahtanya, meskipun harus memberikan imbalan berupa penyerahan sebagian kerajaan dan sebagian kekuasaan Sultan kepada pihak Belanda. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Tahmidullah dalam kontraknya dengan Belanda yang ditandatangani pada tahun 1787 M.

Sebelum Al-Banjari melancarkan dakwah, hampir tidak ditemukan data yang menjelaskan situasi keberagamaan masyarakat Islam waktu itu. Dapat diperkirakan, bahwa di bidang akidah mereka masih dipengaruhi oleh unsur- unsur kepercayaan kaharingan dan agama yang sudah membudaya dalam masyarakat, baik di kalangan rakyat maupun di kalangan raja–raja dan kaum bangsawan. Hal

(21)

ini terlihat misalnya dalam berbagai upacara keluarga raja dan masyarakat, seperti mandi badudus (mandi calon pengantin), mandi tian mandaring (mandi hamil pertama) dan manyanggar banua membersihkan kampung tempat tinggal dari gangguan jin, atau roh-roh jahat yang pelaksanaannya bercampur baur dengan unsur–unsur Islam dan budaya lama.

Di dalam syariah, pengamalan ibadah seperti sembahyang, puasa, zakat, dan haji juga tidak diketahui intensitasnya dalam masyarakat. Setelah adanya keramaian perdagangan di Banjarmasin pada abad 17 dan 18 M., terbukalah kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji bagi penduduk yang mampu, melalui kapal–kapal dagang bangsa Eropa yang singgah di Bandar ini.

Di dalam struktur kerajaan belum terdapat lembaga pengadilan, hanya ada berupa jabatan seperti penghulu yang berfungsi sebagai penasihat raja di bidang pelaksanaan ajaran agama, sedangkan bidang pengadilan agama dipegang langsung oleh raja sendiri. Penghulu, sebagai pegawai kerajaan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh khatib, bilal dan kaum.

Sistem sosial yang terdapat dalam masyarakat daerah ini adalah sistem bubuhan. Bubuhan adalah suatu kesatuan keluarga atas dasar kelompok daerah yang bersifat bilateral keluarga ekonomis, kesatuan gotong–royong dan kesatuan tindakan dalam memepertahankan diri terhadap musuh dan sebagainya.

Raja adalah kepala atau ketua bubuhan dari raja–raja, sedangkan setiap bubuhan dalam masyarakat biasanya

(22)

dipilih berdasarkan usia, ilmu dan kharisma yang dimiliki. Kekuasaan atas kepala bubuhan dari atas ke bawah, kepala bubuhan menentukan kebijaksanaan di dalam dan bertanggung keluar bubuhannya. Bubuhan raja–raja atau kaum bangsawan menguasai tanah–tanah lungguh, dari wilayah kerajaan yang dipinjamkan raja kepada mereka yang bertindak sebagai penguasa mutlak terhadap tanah tersebut. Sebagian rakyat bekerja untuk kepentingan mereka melalui bubuhan tersebut.

Masyarakat Banjar menggunakan bahasa Melayu. Sebuah karya tulis berjudul “Asal Kejadian Nur Muhammad” yang dikarang oleh seorang ulama Banjar menggunakan bahasa melayu dengan huruf Arab diduga sudah beredar di daerah ini meskipun dalam bentuk salinan. Begitu pula kitab “Shiratal Mustaqim” yang ditulis Syekh Nuruddin Ar-Raniri dari Aceh juga menggunakan bahasa melayu dengan tulisan Arab.

Hal ini tidak mengherankan karena sebagian orang Banjar adalah keturunan campuran antara suku Melayu dan Jawa yang mendesak orang Dayak (penduduk asli Kalimantan) dari arah selatan dan pendatang-pendatang dari daerah lain, seperti orang-orang Bugis, Cina, India, dan Arab. Selain itu, bahasa Melayu adalah bahasa pengantar dalam dunia perdagangan di Nusantara pada masa itu.

(23)

Gambar 6. Syeikh Nurudin Ar-Raniry

Demikian sebagian dari situasi struktural dan sosial kultural di Martapura dan sekitarnya (termasuk wilayah kerajaan Banjar) tempat Al-Banjari dilahirkan dan dibesarkan serta berkiprah dalam dakwah dan pendidikannya yang ikut mewarnai kepribadiannya.

B. Pendidikannya

Pendidikan Al-Banjari ketika masih kecil tidak begitu diketahui, terutama pendidikan yang dilakukan secara lembaga, baik dari Lembaga Pendidikan formal kerajaan maupun lembaga non formal dari masyarakat. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa di seluruh wilayah Banjar pada zaman itu belum diketahui pada zaman itu belum diketahui metode pendidikan yang berlangsung. Namun secara jelas di dalam keluargalah Al-Banjari mendapatkan pendidikan pertama kali sampai usia 8 tahun. Karena dikatakan bahwa

(24)

kedua orang tua Al-Banjari adalah tergolong orang yang taat dalam menjalankan agama. Sejak usia mudanya telah tampak ciri–ciri khas yang berbeda dengan kawan sebayanya terutama ketinggian intelegensinya di mata kedua orang tuanya dan masyarakat sekitarnya.

Pada suatu ketika Sultan Khamidullah (Sultan Kuning) meninjau keadaan masyarakatnya. Sultan bertemu dengan Al-Banjari yang waktu itu berusia 8 tahun dan tertarik oleh kecerdasannya terutama kemampuannya melukis keindahan alam layaknya keadaan aslinya. Lalu Sultan meminta kepada orang tuanya agar anak tersebut dapat diserahkan kepadanya dan dijadikan “anak angkat”, agar dapat disalurkan pendidikan dan bakatnya. Demi masa depannya, kedua orang tua Al-Banjari dengan ikhlas menyerahkan anaknya kepada Sultan, sejak saat itu Al-Banjari memasuki pendidikan di Keraton Kerajaan Banjar di Martapura. Dalam lingkungan yang baru itu Al-Banjari sangat cepat menyesuaikan diri. Dengan kepribadian yang sangat simpatik dan sederhana, berbudi pekerti yang mulia dan rajin beribadah, tentunya membuat Sultan sangat menyayangi dengan penuh hati sebagaimana menyayangi keluarganya sendiri.

Sesuai dengan keinginan Sultan untuk mendidik Al-Banjari, Sultan mendatangkan seorang guru untuk mendidiknya. Ternyata anak yang belum dewasa itu mempunyai kecerdasan yang luar biasa, daya tangkapnya sangat kuat dan segala pelajaran diterimanya dengan mudah, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Al-Banjari dapat menghatamkan Al-Quran. Melihat kepandaian dan

(25)

ketekunannya menuntut ilmu, maka Sultan berjanji bahwa ketika Al-Banjari telah dewasa akan diberangkatkan ke tanah suci Mekkah. Menjelang umur 30 tahun, sesuai janji Sultan maka berangkatlah Al-Banjari ke Mekkah.

Sebelum keberangkatannya, Sultan telah mengawinkannya dengan seorang keluarga Istana bernama Bajut. Dengan demikian diharapkan Al-Banjari akan terpanggil untuk pulang ke kampung halaman, sehingga diharapkan akan berusaha menyelesaikan studinya secepat mungkin. Keberangkatan Al-Banjari ke Mekkah atas biaya kesultanan, diharapkan nantinya dapat menyumbangkan pengetahuan untuk kerajaan. Ketika isterinya hamil tua tibalah saatnya Al-Banjari berangkat ke Mekah. Isterinya sebagai seorang yang salehah, tidaklah berkeluh kesah dan bahkan mendorong agar cita–cita Al-Banjari tercapai.

Kurang lebih 30 tahun ia bermukim di Mekah dengan tekun menuntut ilmu, tidak kenal jemu dan lelah, dengan kecerdasan yang dimiliki tidak sedikit ilmu yang diperolehnya. Berkat ketinggian himmah, kejernihan hati dan kekuatan daya tangkap serta kecerdasan otaknya, akhirnya ia berhasil menampung 35 macam ilmu pengetahuan yang meliputi pengetahuan agama dan pengetahuan umum.

Di Mekkah, Al-Banjari membeli sebuah rumah di kampung Syamiah yang sampai sekarang masih terpelihara oleh Syekh yang berasal dari Banjarmasin, dengan sebutan

“Berhat Banjar”. Di Mekkah beliau bersama–sama belajar

agama dengan beberapa tokoh agama abad ke-18, seperti Abdus–Samad al-Palimbani, Abdul Wahab Bugis, dan ulama Betawi yang masyhur–Abdul Rahman Misry.

(26)

Al-Banjari belajar di kota suci, baik belajar ilmu agama maupun pengetahuan umum dari beberapa pakar, di antaranya Syekh Athailah, seorang penulis beberapa kitab, salah satunya Nihayah Hijaz fi Haqiqah

Al-majaz. Diceritakan bahwa setelah menyelesaikan studinya

di Mekah, Al-Banjari beserta teman–temannya bertekad untuk melanjutkan studinya ke Mesir. Mesir pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan. Suatu tekad yang teguh untuk menuntut ilmu seperti yang dicita–citakannya sejak meninggalkan tanah air. Sebelum meninggalkan Mekah, Al-Banjari diberi kesempatan untuk mengajar di Mesjid Al-Haram.

Dalam perjalanan menuju Mesir, ia mampir ke kota Madinah. Di Madinah Al-Banjari tinggal di tempat seorang ulama besar yaitu Syekh Abdul Karim Saman al-Madani. Pada waktu itu kota Madinah kedatangan ulama besar dari Mesir yaitu Syekh Sulaiman Kurdi yang akan mengajar di masjid Madinah. Mendengar berita tersebut, Al-Banjari serta teman–temannya yang haus akan ilmu langsung meminta izin untuk dapat ikut belajar pada Syekh Sulaiman Kurdi. Atas bantuan Syekh Saman akhirnya Al-Banjari dan teman– temannya dapat diterima menjadi murid.

Dikatakan bahwa suatu hari ketika Syekh Al-Islam (Sulaiman Kurdi) memberikan pelajaran kepada murid– muridnya termasuk Al-Banjari yang duduknya di belakang sebagai pendengar, bertemu masalah pelik, pengajian itu berhenti karena tidak ada yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Kemudian beliau memerintahkan pada murid–muridnya termasuk Al-Banjari untuk mencarikan

(27)

jawabannya dan akan dibahas pada hari berikutnya. Maka pada hari berikutnya berkumpul murid–muridnya, tak satupun yang dapat memecahkan masalah tersebut. Al-Banjari sudah menyiapkan suatu jawaban tertulis, akhirnya sampailah jawaban tersebut ke tangan Syekh Al-Islam. Setelah membacanya Syekh Al-Islam langsung memanggil si penulis jawaban tersebut dan mendudukkannya di samping beliau dikarenakan jawaban Al-Banjari benar.

Kurang lebih lima tahun lamanya Al-Banjari belajar di Madinah. Sesuai maksud dan tujuan semula, Al-Banjari akan melanjutkan studinya ke Mesir. Hal ini Al-Banjari bicarakan dengan gurunya Syekh Al-Islam. Atas saran gurunya, Al-Banjari dan teman-temannya tidak jadi melanjutkan studinya ke Mesir. Gurunya sudah tahu akan kealiman murid– muridnya ini, karena telah sekian lama bergaul. Dengan Syekh Sulaiman Kudri, Al-Banjari banyak mengadakan tanya-jawab di antaranya masalah yang terjadi di kerajaan Banjar.

Atas saran guru dan juga mengingat keadaan anak negeri yang sangat membutuhkan pendidikan agama, tergugahlah hati Al-Banjari dan teman–temannya untuk segera pulang. Sebelum meningggalkan Kota Suci Mekah, Al-Banjari dan teman–temannya menyempatkan diri belajar ilmu suluk pada Syekh Saman. Tidak asing lagi bagi Syekh ini, dikarenakan beliau sudah diijazahkan oleh guru yang sanadnya sampai kepada pembawanya. Al-Banjari mengambil ijazah thareqat al-Khalwatiah sama halnya dengan temannya Syekh Abdus Samad A-Palimbani.

Terbayang sudah kampung halaman, teringat akan isterinya yang sudah ditinggalkan, sementara itu Al-Banjari

(28)

menerima Surat dari Sultan Tamjidullah bin Sultan Tahlilullah yang menggambarkan bahwa anaknya yang lahir saat ditinggalkan telah beusia 30 tahun, namanya adalah Syarifah dan sudah patut dikawinkan. Mengetahui hal itu sahabat– sahabatnya ingin meminang, untuk menjaga keadilan Al-Banjari melakukan undian. Maka atas dasar hukum sebagai

wali mujbir (hak bapak), walau tanpa sepengetahuan anak

perempuan (Syarifah) dinikahkannya dengan Syekh Abdul Wahab Bugis.

Dalam usia yang cukup, terbilang kurang lebih 65 tahun Al-Banjari pulang ke kampung halamannya bersama teman–temannya. Sebelumnya mereka menziarahi kubur Nabi dan berdoa agar segala usahanya mengembangkan ilmu agama Islam mendapat perlindungan dari Allah SWT. Pada tahun 1186 H./1771 M., mereka kembali ke kampung halaman.

C. Aktifitasnya

1. Mengadakan Studi Banding

30 tahun menuntut ilmu di Mekah dan 5 tahun di Madinah merupakan bekal yang cukup memadai untuk membina kampung halaman. Sebelum Al-Banjari tiba di kampung halamannya, Al-Banjari telah melakukan perjalanan ke beberapa daerah. Pertama, Al-Banjari singgah di Betawi (Jakarta). Di Betawi Al-Banjari menyempatkan diri bersilaturahmi dengan para ulama yang diketuai oleh Syekh Abdul Qahar. Dalam kesempatan itu Al-Banjari mengutarakan pandangannya tentang peran ulama

(29)

sebagai seorang pemegang amanah para Nabi. Para ulama bersama–sama mempunyai kewajiban membimbing umat ke jalan kebenaran yang menuju kehidupan bahagia dunia dan akhirat.

Selama di Betawi Al-Banjari menyempatkan diri mengunjungi beberapa mesjid untuk melakukan sembayang Jum’at. Sambil mengadakan silaturahmi dengan masyarakat Betawi, beliau juga memeriksa arah kiblat mesjid yang dikunjungi. Ternyata ada beberapa mesjid yang arah kiblatnya kurang tepat, yaitu Mesjid Pekojan dan Mesjid Luar Batang. Kiblat salat di mesjid itu bergeser beberapa derajat dari kiblat asli. Sampai sekarang di mihrab mesjid Jembatan Lima didapatkan tulisan dalam bahasa Arab yang menyatakan bahwa “Arah kiblat mesjid itu dipalingkan ke

kanan sebanyak 25 derajat oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada tanggal 3 Safar 1186 H./7 Mei 1772 M”.

Sedangkan menurut Dr. Hamka menyebutkan bahwa “Syekh

Muhammad Arsyad Al-Banjari telah mengadakan penelitian masjid di tanah Jawa bahwa yang tepat arah kiblatnya ialah masjid Demak saja”.

Kedua, tulisan UU. Hamidy dalam bukunya “Peranan

Suku Banjar Dalam Kehidupan Budaya Di Kabupaten Indigiri Hilir” menyatakan bahwa besarnya jasa–jasa dari ulama

Banjar di kepulauan Riau dalam pengembangan dan penyebaran agama Islam. Kemudian Mohd. Shagir Abdullah menyatakan bahwa raja – raja Riau di Pulau Penyengat Indra Sakti minta kesediaannya menjadi guru di Kerajaan Riau. Maka dapat diduga bahwa sebelum Al-Banjari pulang ke kampung halaman terlebih dahulu mengunjungi

(30)

Riau. Dari kalangan zuriat menceritakan bahwa Al-Banjari pernah memberikan pengajaran di Pulau Penyengat di Mesjid setempat bersama Syekh Ahmad Al-Baghawi atas permintaan Sultan Ja’far yang sedang berkuasa pada saat itu, ketika kepulangan dari tempat tersebut Al-Banjari di hadiahi sebuah tasbih. Keterangan tersebut bila kita kaitkan dengan temannya yang semasa belajar di Mekah yaitu Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani berasal dari Sumatra, maka dapat diyakini bahwa Al-Banjari pernah ke Sumatra yang barangkali atas undangan temannya untuk bersama– sama melihat kampung halaman syekh Abdul Shamad. Di samping itu adanya para zuriat Al-Banjari yang dikatakan bahwa tasbih tersebut adalah merupakan dari pemberian Sultan Riau. Hal ini membuktikan bahwa Al-Banjari pernah ke daerah tersebut.

Kemudian yang ketiga, Al-Banjari melanjutkan kunjungannya ke Sambas. Hal ini telah di katakan oleh Shagir Abdullah bahwa Al-Banjari pernah bersama–sama Syekh Daud Al-Fatani mengadakan kunjungan ke Sambas. Namun tidak ditemukan data yang menceritakan tentang kegiatan yang dilakukannya, namun dapat diduga bahwa hal ini dilakukan Al-Banjari adalah semata–mata ingin mengetahui keadaan masyarakat yang ada di daerah setempat.

2. Memfasakh Pernikahan Anaknya Yang Dilakukan Dalam 2 Wali

Bertepatan dengan bulan Ramadhan 1186 H, Al-Banjari sampai di kampung halaman. Pada waktu itu yang memerintah kerajaan adalah Sultan Tahmidullah (1761 –

(31)

1801 M). Sultan Tahmidullah menggantikan orang tuanya Sultan Tamjidullah. Setiba di kampung halaman Al-Banjari tidak lagi menemui orang tuanya, karena telah berpulang ke rahmatullah, begitu juga Sultan yang memeliharanya.

Adapun Syarifah (anaknya) telah dikawinkan oleh Sultan dengan Usman atas dasar kuasa wali hakim, sedangkan Al-Banjari juga menikahkannya dengan Syekh Abdul Wahab Bugis ketika di Madinah. Kedua bentuk pernikahan itu menurut Islam sah pada tempatnya masing– masing. Tetapi untuk menuntaskan hukumnya Al-Banjari menghitung waktu terjadinya pernikahan, menurut perhitungannya maka pernikahan Usman dengan syarifah yang harus difashahkan, karena lebih terkemudian dari pernikahan yang dilakukan di Madinah beberapa saat.

Karel A. Steenbrink menyatakan bahwa kejadian itu tidaklah selalu benar. Sebenarnya maksud utama dari cerita itu adalah untuk menunjukkan keahlian Al-Banjari dalam bidang ilmu falak (astronomi). Pendapat Karel A. Steenbrink itu bisa dibantah dengan kenyataan bukti bahwa Syarifah melahirkan Muhammad As’ad hasil pernikahan dengan Usman, sedangkan Fatimah adalah hasil pernikahan dengan Syekh Abdul Wahab Bugis.

3. Mendirikan Lembaga Pendidikan

Dalam lapangan pendidikan dan sistem penyebaran Agama Islam tidak ditemukan adanya lembaga khusus yang terdapat seperti sekarang ini, meskipun berbentuk pesantren. Pendidikan hanya diberikan dalam lingkungan keluarga masing-masing, dan ilmu-ilmu tertentu yang

(32)

diperlukan dalam kehidupan, diperoleh dengan berguru kepada seorang yang dianggap ahli secara individual. Hal demikian juga dilakukan di Keraton, tetapi guru yang datang ke Keraton, sebagaimana yang terjadi pada masa Al-Banjari tinggal di Keraton. Karena itu Al-Banjari mulai melakukan pendidikan dengan membuka sebuah perkampungan baru tempat mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Kepulangan Al-Banjari di Martapura disambut dengan upacara penyambutan. Karena sangat dinanti–nantikan pada waktu itu. Keraton kesultanan ramai setiap hari karena masyarakat selalu mengunjunginya, untuk meminta nasehat atau mendengarkan ceramahnya, terkadang juga menanyakan berbagai masalah keagamaan. Sebab pada masa itu tidak banyak ulama atau guru di daerah Banjar, apalagi yang mempunyai keilmuan yang sebanding dengan Al-Banjari.

Melihat ketertarikan masyarakat terhadap pengetahuan yang kian hari semakin bertambah yang datang, maka Al-Banjari mempunyai gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan secara tersendiri agar lebih terkoordinir. Sehingga baik masyarakat umum maupun kalangan zuriatnya sendiri yang mengkhususkan untuk belajar dapat dilaksanakan. Kemudian gagasan tersebut Al-Banjari sampaikan kepada Sultan, dan Sultan menyambut baik ide yang disampaikan Al-Banjari, sebab, Sultan sendiri yang berkuasa saat itu mengaku murid beliau. Maka tak mengherankan bila pihak pemerintah secara langsung menawarkan kepada Al-Banjari untuk memilih tempat yang sesuai dengan situasi kondisi lembaga yang dikehendaki Al-Banjari tersebut.

(33)

Dengan sebuah tanah kosong yang telah diberikan Sultan didirikanlah sebuah lembaga pendidikan. Tanah yang dipilih Al-Banjari untuk mendirikan lembaga tersebut berada di sekitar 5 km dari Keraton kesultanan (Martapura), yaitu di pinggir sungai Martapura yang membentang dari Riam Kanan dan Riam Kiri menuju Banjarmasin. Tanah tersebut merupakan hutan belukar yang ditumbuhi pepohonan, sedangkan alat transportasi yang bisa digunakan adalah

Jukung (perahu) melalui sungai untuk menuju lokasi

tersebut. Maka setelah pepohonan ditebangi dan didirikan beberapa buah bangunan, sebagaimana yang dikatakan oleh Zafry Zamzam bahwa: “Al-Banjari mendirikan lembaga

pendidikan dengan menyediakan pondok bagi penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah”. Menurut Yusuf

Halidi bahwa bangunan tersebut terdiri dari rumah isterinya sebanyak tiga buah, kemudian langgar dan perpustakaan yang sekaligus menjadi balai pengajaran, dan beberapa asrama santri yang tinggal di sana.

Kemudian di depan dan di samping lingkungan bangunan dibuatkan pagar sebagai perbatasan. Dari perkembangan lembaga tersebut jadilah sekarang ini sebuah kampung yang bernama kampung Dalam Pagar. Istilah Dalampagar tersebut karena batas pagar yang dibuat Al-Banjari untuk menjaga murid-murid agar tidak keluar masuk semaunya. Kemudian setiap orang yang mau menuju ke tempat Al-Banjari atau datang dari tempat tersebut, jika ditanya selalu mengatakan dengan “mau datang/dari dalam

pagar”. Sekarang Kampung Dalam Pagar sudah terbagi dua

(34)

Dalam Pagar Ulu inilah yang semula sebagai tempat lembaga pendidikan yang didirikan Al-Banjari, dimana sekarang terdapat lembaga pendidikan yang bernama Sullamul Ulum, dan Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Lembaga pendidikan yang didirikan Al-Banjari pada waktu itu merupakan yang pertama untuk daerah Kerajaan Banjar, karena sebagaimana dikatakan sebelumnya tidak ada suatu lembaga yang jelas sebagai tempat pendidikan. Seperti dikatakan oleh Shagir Abdullah bahwa “…..

Bagimana metode dan dakwah Islam masih kurang diketahui data-datanya. Setelah pulangnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Mekah barulah ada sistem penyebaran Islam secara ampuh dan kukuh….”. Maka dengan demikian

Al-Banjari adalah pelopor pendiri lembaga pendidikan model pondok pesantren di daerah Banjar.

Dalam waktu kurang lebih 20 tahun lembaga pendidikan tersebut sudah mempunyai lulusan yang berkualitas, hal ini dibuktikan dengan kemampuan lulusan tersebut untuk diterjunkan sebagai pendidik dan pendakwah, sebagai pewaris generasi tua, terutama dari kalangan zuriatnya sendiri, yaitu Muhammad As’ad dan Fatimah dua bersaudara cucu dari Al-Banjari. Namun dengan hasil tersebut bukan berarti Al-Banjari sudah menyerahkan begitu saja tongkat kepimpinan dalam lembaga tersebut, akan tetapi terus mengupayakan agar bagaimana lebih tepatnya digunakan lulusan-lulusan yang cukup mampu tersebut digunakan oleh masyarakat luas dalam kebermanfaatan terutama dalam mendidik agama Islam.

(35)

Melihat kedatangan orang-orang yang kian hari semakin bertambah untuk belajar di lembaga tersebut maka sementara waktu kedua lulusan itu Al-Banjari jadikan sebagai pendamping dalam lembaga pendidikan tersebut untuk memberikan pengajaran kepada murid-murid yang mempelajari ilmu-ilmu agama dalam tahap permulaan, atau sebagian ilmu alat, seperti bahasa Arab (nahwu, sharaf dan sebagainya). Untuk murid laki-laki Al-Banjari berikan kepercayaan kepada Muhammad As’ad sedangkan untuk pengajaran kaum wanitanya diberikan kepercayaan kepada Fatimah.

4. Membentuk Mahkamah Syariah (Lembaga Pengadilan) Aktivitas Al-Banjari yang cukup memberi pengaruh besar pada kerajaan Banjar adalah gagasannya untuk membentuk lembaga pengadilan atau Mahkamah Syariah, yaitu suatu lembaga pengadilan yang agama yang bertujuan untuk menjaga hukum atau peraturan keagamaan di kerajaan Banjar agar berjalan sebagaimana yang dikehendaki dalam kehidupan di masyarakat. Tentu saja pembentukan lembaga pengadilan tersebut cukup memberi arti dalam asas politik pemerintahan yang berjalan saat itu.

Gagasan pembentukan tersebut disampaikan Al-Banjari dengan sepenuhnya dapat diterima oleh Sultan, karena pihak kerajaan melihat bahwa sudah saatnya pemerintah menerapkan hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Kerajaan Banjar. Penerapan hukum itu dilihat kondisi masyarakat dan ditunjang oleh tersedianya unsur-unsur pelaksana, dimana lulusan-lulusan

(36)

lembaga pendidikan Al-Banjari sudah dapat diambil untuk dijadikan aparat pelaksana hukum.

Di sisi lain masyarakat tertarik untuk mengikuti segala gagasan dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Al-Banjari, baik melalui lembaga pendidikannya, tulisan-tulisan, dan ceramah-ceramahnya secara langsung. Hal ini karena dilakukan dari kalangan atas, yaitu dari para Sultan yang memerintah sehingga rakyat beragama seperti raja. Maka atas dukungan demikian itulah yang mempercepat keberhasilan Al-Banjari dalam merealisasikan cita-citanya.

Sebagaimana dikatakan oleh Mohd Shagir bahwa “….

tak lepas pula dukungan para Sultan Banjar yang berkuasa semasa dengannya mau mendengarkan fatwa Al-Banjari”

Hal seperti ini telah dinyatakan sendiri oleh Sultan dalam pengakuannya sebagai murid Al-Banjari, maka sudah tentu pernyataan ini diikuti oleh beliau dengan mengamalkan apa yang telah di ajarkan oleh Al-Banjari. Sebagaimana dinyatakan oleh Sultan bahwa: “….Syekh Muhammad Arsyad

adalah seorang sahabatku dan ia pula seorang guruku, maka aku wasiatkan kepada anak cucuku turun-temurun janganlah durhaka kepadanya dan anak cucu serta zuriatnya, jika durhaka niscaya tidaklah selamat ia….” Meskipun pernyataan

itu menunjukkan pesan yang lebih khusus kepada anak cucunya, namun terkandung pengertian bahwa apa-apa yang diajarkan Al-Banjari hendaklah dituruti, dan ini terlihat meskipun setelah wafat Sultan yang berkuasa saat itu, yaitu Sultan Tahmidullah tetapi masih berlaku hukum Islam yang telah diterapkan sejak adanya lembaga yang dibentuk tersebut, seperti adanya maklumat Sultan Adam Wasit Billah.

(37)

Maka untuk pelaksanaan hukum tersebut diangkat seorang aparat hukum yang menjabat sebagai mufti, yakni Muhammad As’ad yang bertugas memberikan fatwa dan nasihat terhadap Sultan. Kemudian dalam pelaksanaan hukum yang lebih operasional diangkat seorang qadi yang menangani dalam masalah hukum warisan, pernikahan dan masalah lainnya, yaitu H. Abu Su’ud yang kebetulan adalah anak Al-Banjari sendiri.

Dengan demikian berlakulah hukum Islam di kerajaan Banjar, baik masalah hukum perdata maupun hukum pidana dilakukan dalam lembaga pengadilan yang dibentuk tersebut. Tentu saja dalam hal ini Al-Banjari sangat besar peranannya, karena bukan saja Al-Banjari sebagai peletak dasar pembentukan lembaga tersebut bahkan sekaligus secara implisit Al-Banjari sendiri memberikan petunjuk-petunjuk hukum atau undang-undang yang harus dijalankan oleh pemerintah, seperti didapatkan dalam tulisannya pada kitab Sabilal Muhtadin, yaitu:“….maka jika

enggan sekalian mereka atau setengah mereka itu daripada mendirikan jamaah hendaklah diperangi akan mereka itu oleh Sultan atau naibnya, seperti hukum sekalian fardu kifayah lain….”. Dengan pernyataan tersebut maka jelas bahwa

Al-Banjari memberikan sumber hukum agar dapat dijadikan sebagai undang-undang dalam penerapan hukum Islam. Pendapat demikian adalah semata-mata berdasarkan atas hasil ijtihadnya, seperti dikatakan dalam penelitian Rasyidah HA. bahwa “....dari ulama – ulama Islam sebelumnya belum ditemukan adanya pendapat mengenai ketentuan untuk memerangi orang yang tidak mendirikan salat secara

(38)

berjamaah dalam sebuah kampung, atau daerah, dimana daerah itu adalah termasuk yang dikuasai oleh Sultan yang menjalankan hukum Islam.”

Maka dapat dikatakan bahwa Al-Banjari telah mempunyai pemikiran yang bersifat kondisional untuk diterapakan terhadap masyarakat Banjar, di mana yang terkandung dalam pernyataan tersebut adalah harus mempunyai syiar Islam itu sendiri. Kemudian lembaga ini telah diuji keberadaannya, dimana adanya ajaran yang menganut ajaran mistik yang mengaburkan kemurnian tauhid dan melemahkan pengalaman syariat kepada umat yang berlaku di kerajaan Banjar saat itu, dimana faham lebih dikenal di dunia Arab adalah ajaran al-Hajjal, kemudian di Indonesia dibawa oleh Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumaterani yang berkembang di Aceh pada abad ke 16 dan awal abad ke 17 M.

Dapat diduga bahwa masuknya pemikiran keagamaan seperti ini dimungkinkan karena mudahnya hubungan dengan Jawa dan Aceh melalui laut. Adapun penganut mistik ini dibawa oleh Syekh Abdul Hamid adalah seorang ahli yang mengajarkan tasaufnya dengan isi antara lain:“….Tiada aku,

melainkan Dia, dan akulah Dia….”. Dalam pelajaran Syekh

Abdul Hamid juga mengatakan bahwa pelajaran orang selama ini hanyalah kulit syariat, belum sampai ke isi hakikat. Maka tentu saja ajaran seperti ini terdengar oleh masyarakat umum, dan bertentangan dengan pengajaran yang selama ini diajarkan oleh Al-Banjari, akan membahayakan dan menggoyahkan tauhid yang sudah dibina selama ini. Maka dimintalah Syekh Abdul Hamid datang ke Kerajaan, ketika

(39)

Syekh Abdul Hamid menjawab “….Disini tidak ada Abdul

Hamid yang ada Tuhan….”. Kemudian pada kesempatan

lain Syekh Abdul Hamid diminta untuk menghadap ke Kerajaan dengan mengatakan “…. Tuhan diminta datang ke istana”, Syekh Abdul Hamid menjawab “…Tuhan tidak

bisa diperintah”. Akhirnya atas fatwa Al-Banjari sendiri

Lembaga pengadilan Banjar mengambil keputusan untuk menghukum mati Syekh Abdul Hamid. Makamnya sekarang masih ada, berada dikampung Sungai Batang berjarak 5 Km dari kampung Dalampagar di Martapura.

5. Membuka Tanah Pertanian dan Perkebunan

Di sela-sela kegiatan yang begitu banyak, selain sebagai pemimpin lembaga pendidikan sekaligus pengajar, Al-Banjari masih sempat memberikan sumbangsih dalam membuka tanah mati untuk dijadikan pertanian dan perkebunan. Sebidang tanah yang berjarak 4 km dari lembaga sebagai tempat kediamannya, Al-Banjari membuka tanah tersebut untuk dijadikan lahan subur sebagai kegiatan praktek bagi murid-muridnya, tempat itu tidak jauh berada dari makam kedua orang tua Al-Banjari di Lok Gabang. Al-Banjari menanam berbagai macam pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang bisa menghasilkan buah-buahan juga sayur-mayur.

Kemudian di sebelah tanah dari tanah perkebunan ada tanah yang mempunyai dataran rendah yang seharusnya bisa ditanami padi, namun sulit mendapatkan air secara terus-menerus, kecuali menghubungkan dengan sebuah sungai yang ada sekitar 8 km dari tempat tersebut. Maka atas

(40)

gagasan beliau dibuatlah suatu saluran anak sungai dengan menggaris tongkat dahulu, kemudian digalilah saluran air itu sampai menjadi anak sungai yang bisa mengalirkan air ke daerah tanah persawahan yang sulit mendapatkan air tersebut.

Dengan demikian tanah tersebut bisa ditamani padi, tanah yang asalnya non produktif menjadi lahan yang subur dan bisa memproduksi padi. Daerah tersebut sekarang dinamakan Sungai Tuan, termasuk daerah yang menghasilkan berbagai macam buah-buahan dan sayur-mayur sebagai salah satu penyedia untuk pasar Kabupaten Banjar Martapura dan pernah mendapat desa terbaik se-Kalimantan Selatan. Di samping itu kegunaan dari membuka tanah untuk pertanian dan perkebunan itu merupakan lahan untuk murid-murid dalam mengadakan praktek langsung terhadap dunia kerja dalam rangka memupuk kemandirian, sehingga pengetahuan untuk membina kepribadian tidak hanya diterima secara teoritis tetapi juga harus melalui pengalaman.

6. Memperbanyak Keturunan

Al-Banjari yang telah berusia lanjut, telah mengalami beberapa perkawinan. Tampaknya demi kepentingan dakwah Al-Banjari sering melakukan perkawinan tersebut dan mampu berlaku adil dan bijaksanan, karena Al-Banjari sanggup mempunyai isteri sebanyak empat orang dalam keadaan rukun dan damai. Sebagaimana yang dikatakan Yusud Halidi bahwa: “Pertama kali yang dibangun adalah

(41)

Markidah, ketiga Ratu Aminah, dan keempat Bidur, kemudian langgar dan perpustakaan tempat pengajaran di samping langgar kemudian baru asrama para murid di belakang”.

Maka hal tersebut menunjukkan kemampuan Al-Banjari dalam berlaku adil. Di samping itu kemampuan secara material membangun tempat tinggal secara satu persatu. Apabila meinggal salah satu seorang diantaranya Al-Banjari kawin lagi, sehingga jumlah isterinya ada 11 orang dan kesemuanya itu adalah putri-putri orang yang terkemuka dari zuriat yang baik-baik. Dari 11 orang isterinya itu hanya tujuh orang yang mempunyai zuriat. Lima yang lainnya tidak mempunyai menurunkan zuriat. Sebagaimana yang dituliskan berikut :

1. Bajut melahirkan anak yang bernama Syarifah dan Aisyah.

2. Bidur mendapat empat orang anak, yaitu Kadi H. Abu Su’ud, Saidah, Abu Naim dan H. Syihabuddin.

3. Lipur melahirkan lima orang anak, yaitu Abdul Manan, H. Abu Najib, Alimun Fadli, H. Abdullah, Abdurahman, dan Abdurahim.

4. Guwat enam orang anak, yaitu Asiah, Hasanuddin, Khalifah H. Zainuddin, Rihanah, Hafsah, dan Mufti H. Jamaluddin.

5. Turiyah mendapat tiga orang anak, yaitu Nurain, Amal dan Caya.

6. Ratu Aminah mendapat tujuh orang anak, yaitu Mufti Ahmad, Safia, Safura, Maimun, Salehah, Muhammad, dan Maryamah.

(42)

yaitu Salamah, Salman dan Salimah. 8. Kadarmanik ( tidak mempunyai anak ). 9. Markidah ( tidak mempunyai anak ) 10. Liyuh ( tidak mempunyai anak ). 11. Dayi ( juga tidak mempunyai anak ).

Dari kesebelas istri itu salah satu seorang adalah keturunan Cina, yaitu Guwat (Go Hwat Nio) namanya sendiri tidak diganti sebagaimana biasa orang masuk Islam. Tindakan demikian diduga dilakukan untuk memberikan gambaran bahwa pandangan Islam tidak mengenal ajaran perbedaan derajat dan keturunan. Di sisi lain dengan harapan mendapat dukungan dari golongan cina dalam menyebarkan Islam di daerah ini. Juga supaya mudah dipahami oleh golongan Tionghoa bahwa Islam itu tidak akan merubah tradisi mereka yang telah ada, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam.

Dengan demikian anak cucunya akan tersebar ke seluruh penjuru tanah air yang mengembangkan keilmuan masing-masing hal dari didikan Al-Banjari. Dari sekian jumlah keturunan yang menyebar ke seluruh pelosok negeri, telah mempunyai nama-nama yang harum karena aktifitasnya dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang dakwah dan pendidikan. Menurut Shagir Abdulah dalam penelitiannya mengatakan bahwa semua keturunan Al-Banjari yang mempunyai kedudukan jabatan sebagai Mufti ada 10 orang dan sebagai qadi ada 16 orang. Hal demikian menunjukkan suatu hasil yang sangat besar dalam membina zuriat, dimana keberhasilan tersebut belum ada dimiliki

(43)

oleh seorang ulama selama ini yang mempunyai keturunan sebanyak Al-Banjari sekaligus mempunyai zuriat yang alim-alim dalam mendidik anak-anak serta cucu-cucunya.

Kemudian Al-Banjari memberikan suatu ide pemikiran kepada keturunannya dan murid-muridnya untuk mengadakan perkawinan di luar daerah atau melakukan aktifitas di daerah yang bisa Al-Banjari lakukan. Hal ini dilakukan agar ajaran Islam bisa menyebar ke seluruh penjuru. Maka pemikiran tersebut dilakukan oleh keturunan-keturunan beliau dan murid-muridnya yang dapat dibuktikan keberhasilannya dalam melakukan aktifitas dakwah ataupun dalam bidang pendidikan, yang nanti akan diuraikan lebih lanjut.

Kurang lebih 40 tahun Al-Banjari mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di daerah Banjar, dengan tak mengenal lelah. Tibalah saatnya Al-Banjari dipangggil oleh Yang Maha Kuasa, yaitu tepatnya pada tanggal 6 Syawal 1227 H. / 1812 M. Al-Banjari menderita berbagai penyakit, yaitu lumpuh dan darah tinggi. Al-Banjari meninggal dalam usia 105 tahun dalam perhitungan tahun Hijriah, dan 102 tahun dalam perhitungan tahun Masehi. Kemudian Al-Banjari dimakamkan di desa Kalampayan sekitar 6 kilometer dari desa Dalam Pagar, atas wasiatnya sebelum Al-Banjari meninggal.

D. Karya-Karyanya

Selain sebagai ulama dan pendidik yang kesibukannya mengajar setiap waktu, boleh dikatakan tanpa waktu yang tersisa namun Al-Banjari juga seorang penulis yang cukup

(44)

produktif. Usianya yang panjang tidak disia-siakan dan digunakan untuk membaca dan menulis, hal ini terlihat hampir setiap karangannya, Al-Banjari menunjukkan sejumlah kitab-kitab yang dijadikan sumber kutipan untuk memperkuat sesuatu masalah yang dibahas. Diantara karya-karya Al-Banjari yang paling bernilai ialah beberapa buah karya tulis yang sempat disusun pada masa hidupnya demi kepentingan dakwah dan pendidikan. Dilihat dari segi isinya maka karya-karya tulis tersebut bisa dikategorikan ke dalam tiga bidang ilmu agama Islam, yaitu : Akidah, Syariah dan Tasauf.

Shagir Abdullah dan Tim peneliti IAIN Antasari telah meneliti dan menulis kitab-kitab karangan Al-Banjari serta menunjukkan tempat-tempat di mana naskah-naskah karangan itu tersimpan. Tulisan penulis ini merupakan petikan dari hasil penelitian yang ditemukan penulis dalam penelitian di kampung Dalam Pagar. Sampai sekarang kitab-kitab karangan dan terjemahannya yang telah diketahui berjumlah 14 buah dengan judul sebagi berikut :

1. Ushuluddin

2. Tuhfatur Raghibin Fi Bayani Haqiqat Iman al-Mu’minin wama Yufsiduhu Min Riddat al-Murtadin.

3. Lugthatul Ajlan fi Haudhi wal Istihadhat wa an-Nifas al-Niswan.

4. Kitab al-Nikah. 5. Kitab al-Faraid.

6. Sabilal Muhtadin Littafaqquh fi Amriddin.

7. Al-Qaul Mukhtasar fi Alamat al-Mahdi al-Muntazhar. 8. Hasyiah Fathul Jawad.

(45)

10. Fathurahman.

11. Bidaya al-Mubtadi wa Umdat al-Aulad. 12. Kitab Ilmu Falak.

13. Fatwa Sulaiman Kurdi. 14. Mushhaf al-Quranul Karim.

Sebenarnya selain yang tercantum pada tulisan di atas masih ada empat buah yang dianggap tulisan al-Banjari, yaitu: Arkanu Ta’limis Shibyan, Buluqhul Maram, Tuhfat al Ahbab, dan Fi Bayani Qadha wa al-Qadr wa al-Waba. Namun untuk keempat tulisan tersebut tidak ada keterangan tentang tahun penulisan dan kandungan isinya sehingga tidak dapat dijelaskan lebih lanjut.

Dari beberapa uraian di atas dapatlah penulis menyimpulkan bahwa latar belakang kehidupan Al-Banjari dari masa kecil sampai tua mempunyai sosial kultur tempat tinggal yang berbeda, yaitu semasa di dalam istana kerajaan dan di masa Al-Banjari tinggal di kota Suci Mekkah bersama teman-temannya, kedua tempat itulah yang paling banyak mewarnai pembentukan kepribadian diri Al-Banjari. Sementara di kerajaan Banjar selalu terjadi suksesi kepemimpinan, akibat dari hal tersebut sering wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan berkurang karena adanya pemberian jasa terhadap pihak yang membantu dalam memperebutkan kedudukan di istana.

Kehidupan beragama di masyarakat, yang mana agama Islam sebagai agama mayoritas penduduk cukup rukun, karena selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh raja. Namun dalam segi pengalamannya masih ada pengaruh dari unsur-unsur kepercayaan kaharingan, di samping itu

(46)

adanya pengaruh paham wujudilah yang berasal dari Jawa dan Sumatera. Kedatangan Al-Banjari dari perantuannya setelah menyelesaikan studinya di Mekkah merupakan suatu pelopor dalam bidang keagamaan dan pembangunan umat. Selama kurang lebih empat puluh tahun, dalam kurun waktu tersebut Al-Banjari mendapat kedudukan yang tinggi di kerajaan, sehingga apapun gagasan dan kegiatan yang dilakukan Banjari selalu mendapat restu kerajaan. Al-Banjari juga telah melarang paham wujudilah yang dibawa oleh Syekh Abd. Hamid, yang akhirnya dihukum mati oleh pihak kerajaan atas fatwanya.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang ulama yang besar dalam ukuran zamannya di samping kemampuannya dalam menulis kitab dalam bahasa Arab dan Melayu tulisan Arab, Al-Banjari juga memiliki pengetahuan yang luas tidak saja dalam pengetahuan agama, tetapi Al-Banjari juga mempunyai pengetahuan umum, seperti pertanian, melukis, falak dan lain-lain. Keulamaannya mencerminkan ilmu pengetehuan yang berkembang dan dipelajari di kerajaan Banjar pada abad 18 M. Ilmu pengetahuan di Banjar pada zaman itu telah mencapai puncaknya pada diri Al-Banjari, dan setelah Al-Banjari wafat tidak ada lagi di daerah itu seorang ulama yang muncul sebagai penggantinya dalam kualitas yang serupa.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang yang sangat berjasa dalam menyebarluaskan penggunaan bahasa Melayu melalui penulisan-penulisan kitab agama. Walaupun selain Al-Banjari, ulama yang lain seperti Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjari dengan kitabnya

(47)

Darunnafis juga menggunakan bahasa Melayu. Namun jasa Al-Banjari lebih besar karena dialah yang mula-mula di kawasan ini menulis ilmu Tauhid dan Fikih dalam bahasa tersebut yang sangat diperlukan oleh orang-orang yang baru mengetahui dan belajar agama itu.

Maka untuk menggali pemikirannya dalam bidang Pendidikan Islam dan menempatkan Al-Banjari sebagai tokoh pendidikan ada beberapa hal yang telah dilakukan dalam menguraikan pada tulisan berikutnya, sebagai berikut: Pertama, melakukan pemilahan terhadap beberapa uraian di atas, karena Al-Banjari tidak ada memberikan suatu definitif atau teori dalam masalah pendidikan, di samping itu penggalian terhadap kitab-kitab yang telah disebutkan di atas, sesuai dengan acuan metodologi sebelumnya. Kedua, menyingkirkan bahan atau bagian-bagian dari padanya yang tidak otentik. Ketiga, menyimpulkan pemikiran Al-Banjari dari bahan yang otentik tersebut. Keempat, agar pemikiran-pemikiran Al-Banjari tersebut dapat disimpulkan dalam suatu kerangka teori dalam bidang pendidikan, maka diperlukan acuan teori pendidikan secara umum sebagai suatu landasan teori, yang dikembangkan oleh para ahli didik. Kemudian karena pemikiran-pemikiran tersebut ditempatkan secara berserakan, maka pengungkapannya akan ditempuh dengan cara memberi penjelasan dan mengklasifikasikan menurut fungsinya dalam suatu konsep pendidikan dari hasil kegiatan-kegiatan dan pemikirannya tersebut. Maka sebelum mengungkapkan konsep pendidikan Al-Banjari pada tulisan berikut terlebih dahulu akan diuraikan konsepsi pendidikan secara umum.

(48)
(49)

BAB 3

KONSEPSI PENDIDIKAN

A. Pengertian Pendidikan

Sebagai pengantar dalam pembahasan ini, penulis terlebih dahulu mengemukakan pengertian pendidikan dalam rangka memahami konsep pendidikan sebagai suatu sistem. Dalam pengertian pendidikan modern pendidikan tidak lagi memandang anak sebagai objek, tetapi sebagai subjek, seperti pengertian yang dikemukakan para pendidik berikut ini, yaitu :

1. Pendidikan ialah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya.

2. Pendidikan adalah proses kegiatan yang dilakukan secara bertahap dan berkeseimbangan, seirama dengan perkembangan subyek didik.

Maka dengan pengertian itu dapat dikatakan bahwa fungsi pendidikan itu meliputi tiga macam, yaitu adalah: 1. Mengembangkan wawasan subyek didik mengenai

dirinya dan alam sekitarnya, sehingga dengannya akan timbul kreatifitasnya. Hal ini berkaitan dengan peranan yang diambil dalam lingkungannya atau masyarakatnya di mana ia berada.

(50)

2. Melestarikan nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupannya sehingga keberadaannya, baik secara individual maupun sosial, lebih bermakna. Di sini yang dimaksud agar nilai-nilai tersebut tetap terpelihara sehingga keutuhan dan kesatuan suatu masyarakat tetap terjamin, sebab merupakan syarat mutlak bagi kelanjutan suatu masyarakat untuk menjaga nilai-nilai yang disepakati.

3. Membuka pintu pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan kemajuan hidup individual maupun sosial. Dalam hal ini lebih terfokus pada pengembangan potensi subyek didik.

Dengan demikian terdapat pada subjek didik (manusia) kemampuan dasar atau fitrah kejadian asal atau pola dasar kejadian yang harus dikembangkan melalui pendidikan. Kebutuhan terhadap pendidikan tesebut bukannya sekedar mengembangkan aspek individualisasi dan sosialisasi melainkan juga mengarahkan perkembangan kemampuan dasar tersebut kepada pola hidup yang dihajatkan manusia. Karena itu apa yang disebut keharusan pendidikan mengandung aspek-aspek kepentingan yang seperti disebutkan oleh HM. Arifin M. Ed., antara lain:

1. Aspek paedagosis

Dalam pandangan ini manusia dikatakan sebagai mahluk “homo educandum”, yaitu mahluk yang harus dididik.

2. Aspek psikologis

(51)

netral”, yaitu mahluk yang memiliki kemandirian

jasmaniah dan rohaniah. 3. Aspek sosiologis dan kultural

Pada aspek ini manusia dipandang sebagai mahluk

“homo socius”, yaitu mahluk yang berwatak dan

berkemampuan dasar atau yang memiliki insting untuk hidup bermasyarakat.

4. Aspek filosofis

Manusia dipandang sebagai mahluk “homo sapiens”, yaitu mahluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan.

5. Homo religious

yaitu mahluk yang mempunyai dasar berketuhanan atau beragama.

Dari pandangan beberapa aspek di atas manusia memerlukan pendidikan untuk mengembangkan segala pola dasar yang dimilikinya tersebut. Sebenarnya masih ada hal-hal yang perlu untuk diungkapkan mengenai tinjauan hakikat manusia, yaitu bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan sebaik-baik bentuk dan paling sempurna di muka bumi. Hal ini baik ditinjau dari segi susunan organ tubuh dan terutama dari susunan saraf.

Sedangkan dari segi rohani adalah mempunyai akal yang tidak dimiliki mahluk lain. Namun dari sisi lain ia masih mempunyai keterbatasan dalam ketidaksempurnaannya. Keterbatasan itu bersumber dari fisik dan psikisnya sendiri misalnya untuk kelangsungan hidupnya sebelum ia mampu dalam kemandiriannya, di samping itu manusia tidak

(52)

dapat mengetahui apa-apa terhadap lingkungannya atau dirinya sendiri bila tidak diberikan pengetahuan oleh yang lain. Maka dengan demikian keberadaan manusia tidak terlepas pada keperluan pendidikan, yang pada hakikatnya untuk membantu dan mengarahkan fitrah manusia supaya berkembang sampai kepada titik maksimal yang dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan .

Kemudian kapan dimulai pendidikan atau

adakah batas – batas pendidikan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat dimulai dengan mengambil pendapat M.J. Langeveld bahwa pendidikan dimulai kalau anak sudah mengerti arti gezag (kewibawaan) kira-kira anak berusia 3 tahun sampai ia menjadi dewasa. Kemudian Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan dimulai dari lahir sampai mati. Hal ini sesuai dengan istilah “Life Long Education” yang berarti pendidikan seumur hidup, jadi meskipun orang itu sudah tua umurnya masih dapat dididik. Misalnya mungkin sekali orang itu kurang mendalam masalah agama, maka orang tua itu masih dapat dididik tentang agama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai azas yang sepanjang usia manusia itu hidup bisa dilaksanakan pendidikan.

B. Situasi Pendidikan

Dalam pengertian pendidikan yang telah diuraikan di atas ditujukan dalam pengertian yang lebih luas.

(53)

Karena perlu diketahui bahwa masalah pendidikan adalah masalah yang sama luasnya seperti peradaban itu sendiri. Misalnya mulai dari mencari kayu bakar untuk memasak sampai kepada aktifitas yang kompleks seperti berfikir secara individu dan secara kolektif. Maka dalam pengertian pendidikan secara sempit, sebagaimana yang dinyatakan oleh Soegarda Poerbakawatja dan H.A.H Harahap yaitu adalah “usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan

pengaruhnya meningkatkan si anak kedewasaan yang selalu diartikan mampu memikul tanggungjawab moril dari segala perbuatannya”.

Maka dengan demikian secara “teknis” bahwa sesudah tercapai kedewasaan maka tugas pembentukan seseorang sudah selesai dan perkembangan selanjutnya akan dapat berlangsung di bawah berbagai pengaruh yang pemanfaatannya terutama terletak pada orang itu sendiri yang atas dasar tanggungjawabnya menentukannya. Setiap manusia sejak lahir sebagai bayi, memasuki masa kanak-kanak, menjadi remaja dan dewasa terus berinteraksi dengan semasanya. Tanpa manusia lain setiap anak tidak akan tumbuh dan berkembang secara manusiawi. Karena itu dalam hubungan tersebut harus dilakukan pendidikan agar dalam berinteraksi tersebut sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Namun bagaimana menciptakan situasi pendidikan dalam setiap interaksi tersebut.

Untuk menciptakan interaksi yang menyebabkan timbulnya situasi pendidikan yang disebut dengan pertemuan pedagogis (sentuhan pendidikan), hanya akan terjadi bilamana pendidik secara sadar dapat mengarahkan

(54)

dan membimbing terhadap subjek didiknya, di mana pendidik dapat memahami dan memasuki tingkat daya fikir subjek didik. Sehingga dalam sentuhan itu subjek didik merasa terpanggil untuk memahami, mengenal, meniru/meneladani dan bergerak secara psikologis ke arah kedewasaan si pendidiknya. Sentuhan pendidikan terjadi jika seorang pendidik atau orang dewasa, berhadapan dengan seorang anak didik atau sekelompok anak, berbicara tentang hal yang sama, di mana yang satu memberi dan yang lain menerima. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Hadari Nawawi dam bukunya Pendidikan Dalam Islam menyebutkan: “Sentuhan Pendidikan itu terjadi

apabila individu yang dewasa secara ikhlas dan rela berkorban mengajak, mendorong, membimbing dan membantu individu yang belum dewasa, untuk berubah, berkembang, meniru dan meneladani sesuatu yang baik diberikan oleh orang dewasa itu pada saat yang sama merasa tanpa dipaksa (dresser), ditekan dan ditakut-takuti menerima segala sesuatu yang baik dari orang dewasa itu”.

Dengan demikian sentuhan pendidikan mengubah situasi pergaulan biasa antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa, menjadi situasi pendidikan. Orang dewasa berubah atau berkembang peranannya menjadi pendidik dan anak yang belum dewasa menjadi anak didik. Sesuatu yang baik dari pendidik yang diberikannya dan diterima anak didik, bersumber atau dijabarkan dari tujuan pendidikan. Seperti yang dinyatakan kembali oleh Hadari Nawawi bahwa:“Situasi itu berada dalam suatu masyarakat

(55)

hanya akan terwujud bilamana antara pendidik dan anak didik terjadi relasi timbal – balik yang berfungsi sebagai alat pendidikan. Tanpa relasi sebagai alat pendidikan itu, antara individu itu tidak lain yang ada hanya pergaulan biasa, bukan situasi pendidikan”.

Dari uraian di atas berarti dalam setiap situasi pendidikan terdapat enam unsur, yang terdiri dari pendidikan, anak didik, alat pendidikan, tujuan pendidikan, alam sekitar

(milieu), dan materi pendidikan. Keenam unsur tersebut

dibahas kemudian, karena akan didahului dengan uraian tentang pengertian pengajaran, sebagai kata yang sering dikonotasikan dengan pendidikan. Padahal pendidikan lebih menyentuh sikap mental yang berhubungan kepribadian secara keseluruhan dalam diri seseorang sebagai individu dan anggota masyarakat, sedangkan pengajaran merupakan proses mengembangkan kemampuan intelektual yang berhubungan dengan pengetahuan diri individu. Kalau demikian maka pengajaran tidak atau kurang baik dalam segi nilai-nilai dibanding dengan pendidikan. Akan tetapi tidak bisa dipisahkan bahwa untuk memberikan pendidikan diperlukan pengajaran, sehingga pengajaran yang baik pasti bermakna sebagai pendidikan.

Pendidikan dan pengajaran dalam kesamaan dan perbedaannya itu, pada dasarnya memiliki unsur-unsur yang sama seperti diuraikan sebelumnya, hanya unsur pendidikan harus diperankan oleh guru, ustaz, kiai, atau dosen dan sebagainya. Unsur subyek didik berada pada murid, atau santri, sedangkan alat pendidikan diwujudkan dalam metode mengajar yang dipergunakan. Kemudian

(56)

tujuan dijabarkan dalam beberapa tujuan, dan lingkungan serta materi yang sama-sama dimiliki. Berikut ini akan dibahas keenam unsur yang disebutkan diatas.

C. Unsur-unsur pendidikan

Dari keenam unsur tersebut itulah yang dapat menciptakan situasi pendidikan, sebab secara keseluruhan mempunyai pertautan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana uraian berikut ini:

1. Pendidik

Pendidikan secara lazim atau dalam pendidikan secara mikro pembimbing disebut pengajar, baik kedudukan sebagai orang tua, guru, ustadz, kiai, ulama, dan lain sebagainya, yang kedudukan pengetahuan mempunyai sifat “lebih”. Maka kelebihannya itulah manusia mempunyai tanggung-jawab untuk membimbing terhadap yang lain. Maka kemampuan itu direalisasikan dalam proses belajar. Oleh karena itu guru bukan saja sebagai pengajar tetapi sebagai motivator dan fasilitator. Agar potensi-potensi manusia itu dapat mengimbangi kelemahan pokok yang dimiliknya, yaitu sifat suka lupa. Jadi adalah tujuan dan tanggung-jawab guru-guru dan para aktivis pendidikan yang lain untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut.

Maka dalam menjalanakan fungsi pendidikan tersebut ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pengajar (pendidik) dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan itu, Menurut Hadari Nawawi diantaranya yaitu:

(57)

a. Wibawa;

b. Tulus ikhlas dalam pengabdian; c. Keteladanan.

Bila dijabarkan ketiga sifat tersebut adalah sebagai berikut :

a. Wibawa

Wibawa diartikan sebagai sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat. Hal ini dapat dimiliki oleh si pendidik hanya melalui kemampuan yang meliputi semua aspek, seperti penguasaan ilmu pengetahuan yang sangat dalam, kemampuan menyampaikan, kemampuan bahasa yang sesuai dengan semua lapisan dan golongan masyarakat dan beberapa kemampuan lainnya, yang menjadikan adanya unsur kepercayaan murid terhadap kemampuan pendidik sehingga murid merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan. Jadi rasa hormat dan rasa segan adalah wibawa yang dimiliki pendidik bukanlah rasa takut karena karena ada paksaan, seperti adanya, tekanan, ancaman, sanksi dan hukum atau karena berupa sarana material seperti pakaian seragam kekuasaan, tetapi wibawa yang sebenarnya hanya berdasarkan atas kharismatik yang dipunyai pendidik dengan kemampuan ilmu pendidik tersebut.

b. Tulus ikhlas dan pengabdian

Sifat tulus ikhlas tampil dalam hati yang rela berkorban untuk anak. Sikap ikhlas merupakan motivasi untuk melakukan pengabdian dalam mengemban peranan sebagai pendidik. Di dalamnya tersirat kehendak

(58)

dan perilaku berdisiplin, berupa tanggung jawab dan konsekuensi dalam menjalankan dan menaati peraturan dan ketentuan. Peranan sebagai pendidik bukan dijalankan karena terpaksa atau dipaksa tetapi didasarkan kecintaan terhadap anak didik yang membutuhkan bantuan dan bimbingan dalam mewujudkan kedewasaannya. Imbalan kepuasan batiniah tampak lebih dominan dari insentif lainnya. Kondisi seperti pernyataan di atas akan mengundang kepercayaan anak didik dalam menerima bantuan dan bimbingan yang diberikannya. Bila pendidikan yang dilakukan dengan tanpa pamrih seperti itu maka setiap kali mengetahui kekurangan, kelemahan dan kebodohan anak didik, maka bagi pribadi pendidik itu selalu terdorong untuk membantu anak didik itu agar menjadi baik dan benar bertindak.

c. Keteladanan

Sifat keteladanan bagi guru adalah sifat yang harus dimiliki. Seorang guru tidak boleh melakukan perbuatan yang bagi muridnya ia larang melakukannya, sebab jika tidak demikian, maka guru akan kehilangan wibawa, anak tidak mempunyai figur yang harus ditiru. Pendidik tidak akan dapat bergantung sepenuhnya pada perkataan atau ucapan serta ilmu yang diberikan pada anak didik, jika perkataan dan ucapan itu tidak selaras dengan sikap perilakunya, karena yang ditangkap dan dihayati anak adalah seluruh kepribadiannya. Sebagai mana yang dinyatakan Fathiyah Hasan yang diambil dari pemikiran Gazali bahwa “guru bagi murid ibarat bayangan dari kayu. Bayangan tidak mungkin

(59)

lurus apabila kayunya bengkok”. Maka hal demikian yang terjadi bila tidak memberikan keteladanan, pendidik akan menjadi sasaran penghinaan, dan pada gilirannya pula ia akan kehilangan kemampuan dalam mengarahkan murid-muridnya. Untuk itu keteladanan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang harus diterapkan dalam pendidikan Islam.

2. Subyek Didik

Dalam istilah subyek didik ini lebih mengacu anak yang belum dewasa. Sedangkan menurut pendapat Sutari Imam Bernadib bahwa anak didik adalah “Tiap orang atau

sekelompok orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok yang menjalankan kegiatan pendidikan”.

Menurut Imam Bernadib pengertian secara sempit bahwa anak didik dapat diartikan pada dua macam, yaitu “pertama

orang yang belum dewasa, kedua orang yang menjadi tenggung jawab pendidik”. Sedangkan dipandang secara

luas adalah “bahwa manusia sebagai subyek didik dapat

ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut masyarakat, dan dari segi pandangan individu.”

Maka anak didik dari segi individu mempunyai sejumlah atau seberkas kemampuan (abilities) yang sifatnya umum pada setiap manusia, sama kemampuannya dengan kemampuan melihat dan mendengar tetapi berbeda dalam derajat menurut masing-masing orang, seperti halnya panca indra juga. Ada orang yang penglihatannya kuat dan lemah. Dalam pengertian ini pendidikan didefinisikan sebagai peroses untuk menemukan dan mengembangkan

(60)

kemampuan-kemampuan ini.

Dari segi pandangan masyarakat, diakui bahwa manusia memiliki kemampuan-kemampuan asal dan bahwa kanak-kanak itu mempunyai benih-benih bagi segala yang telah dicapai dan didapat dicapai oleh manusia. Ia menekankan pada kemampuan manusia memperoleh pengetahuan dengan mencarinya pada alam di luar manusia. Disini mencari itu lebih merupakan proses memasukkan yang wujud di luar seorang pelajar dan bukanlah proses mengeluarkan apa yang wujud di dalam pelajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan pertama menganggap bahwa anak didik sebagai pengembangan potensi dan pendekatan kedua cenderung melihatnya sebagai pewarisan budaya.

Dengan adanya dua pandangan tersebut dapat dijelaskan bahwa yang pertama perlu subjek didik diberikan kebebasan berfikir dan bekerja untuk mencapai kemandirian dalam hidupnya, misalnya dengan mengembangkan pertanian, atau pertukangan dan sebagainya. Sedangkan yang kedua memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar sesuai dengan perkembangan psikis dan phisiknya.

3. Alat-Alat Pendidikan

Di dalam kegiatan-kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan perlu menggunakan alat-alat pendidikan. Bentuk-bentuk alat-alat pendidikan menurut Imam Bernadib yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:

Gambar

Gambar 1. KH. Guru Abdurahman Shiddiq Sapat  Indragiri
Gambar 3. Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari  Kalampayan Martapura Kabupaten Banjar
Gambar 4. Lukisan wajah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Gambar 5. Empat Serangkai Ulama Nusantara yang menuntut  ilmu di Mekkah
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hamdani Bakran Adz-Zakeiy Al-Banjari pada tanggal 22- Mei-2010 di Pondok Raudlatul Muttaqien. Interview

pemikiran Syed Muhammad Al-Naquib Al-attas tentang konsep pendidikan Islam. Karena sebelumnya tidak ditemukan penelitian tentang konsep pendidikan

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari menjelaskan Hukum Nik ἇ h diwajibkan bagi orang yang sudah mampu dan amat besar keinginannya untuk itu, jika tidak segera dilaksanakan

In designing the concept of inside the fence education (pendidikan dalam pagar), al-Banjari was mostly inspired by some Islamic educational institution in H { aramayn

Muhammad Hatim yang merupakan salah satu dari anak Syekh Muhammad Salman Jalil Arsyad al-Banjari, awalnya Syekh Muhammad Salman Jalil tidak terpikir untuk

Sistem Informasi Manajemen Data Beasiswa Bidikmisi pada Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin (Mayang Sari dan M.

Sistem Informasi Manajemen Data Beasiswa Bidikmisi pada Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin (Mayang Sari dan M.

The legal issues that arise are: what is the legal meaning of the Thoughts of Sheikh Muhammad Arsyad Al Banjari in the system of the Sultan of Banjar's government "; The thought of