BAB IV. Temuan dan Hasil Penelitian
KAJIAN TEORITIS A. Impression Management Theory
E. Konseptualisasi Citra
1. PengertianCitra
Citra berasal dari bahasa sansekerta yang berarti gambar. Kemudian dikembangkan menjadi gambaran sebagai padanan kata image dalam bahasa inggris. Citra merupakan sesuatu yang abstrak dan kompleks serta melibatkan aspek emosi (afeksi) dan aspek penalaran (kognisi). Justru itu citra mengandung unsur emosi dan rasional sekaligus, sehingga secara serentak memiliki sifat subjektif dan objektif. Citra pada khalayak terbentuk sebagai dampak afeksi dan kognisi dari komunikasi.56
Pada hakikatnya citra merupakan hasil dari kontruksi realitas yang merupapkan bentuk representasi dan persepsi khalayak terhadap individu, kelompok atau lembaga yang terkait dengan kiprahnya dalam masyarakat.
56
Sedangkan perncitraan merupakan proses pembentukan citra melalui informasi yang disebarkan baik secara langsung mapun melalui media massa, maupun media sosial.
Menurut Baudrillard yang dikutip oleh Anwar Arifin, citra memiliki empat fase. Pertama, representasi dimana citra merupakan cermin suatu realitas; kedua,
ideologi di mana citra menyembunyikan dan memberikan gambaran yang salah akan realitas; ketiga, citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas; keempat, citra tidak memiliki sama sekali hubungan dengan realitas apapun.
2. Citra personal tentang politik
Pikiran, perasaan, dan kesudian subjektif yang menyusun citra orang tentang politik itu berguna, dan juga memuaskan bagi orang itu, setidaknya ada tiga fungsi dalam menyusun citra personal. Pertama, betapapun benar atau kelirunya, lengkap atau tidak lengkapnya penegetahuan orang tentang politik, hal itu memberi jalan kepadanya untuk memahami peristiwa politik tertentu. Kedua,
kesukaan atau ketidaksukaan umum pada citra seseorang tentang politik menyajikan dan untuk menilai objek politik. Ketiga, citra diri seseorang memberikan cara menghubungkan dirinya dengan orang lain.57
Citra dapat membantu kita dalam pemahaman, penilain, pengidentifikasian peristiwa, gagasan, tujuan, atau pemimpin politik. Citra memberikan alasan yang dapat di terima secara subjektif tentang mengapa segala sesuatu hadir sebagaimana tampaknya, tentang prefernsi politik, dan tentang penggabung dengan orang lain.
57
Dan Nimmo, Komunikasi Politik, khalayak dan efek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 6-7
Bagi seseorang politisi citra merupakan hal yang sangat penting untuk dapat menarik simpatik dari konstituen atau pemilih dalam pemilu. Citra itulah yang menjadi dasar mereka untuk memilih atau tidaknya seorang politisi dalam kontestasi pemilhan umum. Oleh karena itulah, citra menjadi identitas penting untuk menjaga dan menarik pemilihnya agar mendukungnya dalam pemilhan umum.
Bagi para politisi atau partai yang mengalami “turbulensi” citra sangat
berimbas pada perolehan suara dari pemilih, karena bagaimanapun juga citra akan menjadi masalah pokok dalam mempertimbangkan hak suaranya. Orang bertukar citra itu melalui komunikasi politik sebagai cara untuk mengatur pertikaian mereka untuk menjami ketertiban sosial yang melindungi peluang untuk memenuhi kebutuhan fisik, sosial, dan psikologis.58
3. Strategi pembentukan citra
Para politisi atau pemimpin politik sangat berkepentingan dalam pembentukan citra politik dirinya melalui komunikas politik dalam usaha menciptakan stabilitas sosial dan memenuhi tuntutan rakyat.59 Misalnya seorang presiden atau politisi membentuk opini yang berupa informasi kepada khalayak publik bahwa ia sudah mengatasi krisis global atau memberantas teroris sehingga negaranya aman. Dari situlah sudah mulai membentuk citra sebagai sebuah strategi dalam pembentukan citra, bahwa dirinya (presiden atau politisi) sudah menjalankan amanahnya dengan baik, dan dapat memenuhi aspirasi dari
58
Ibid, hal. 8 59
masyarakat, sehingga masyarakat tertarik untuk memilih ia kembali agar permaslahan di negaranya semakin teratasi.
Lembaga-lembaga politik, seperti lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai suprastruktur politik, serta partai politik dan kelompok kepentingan lainnya sebagai infrastruktur politik dalam sistem politik sangat perlu berusaha sekuat tenaga melakukan pencitraan politik yang positif.60
Diantara lembaga tersebut, maka sangatlah penting bagi partai politik yang harus berupaya untuk meningkatkan citranya, karena partai politik itu berkompetensi atau bersaing dengan sejumlah partai lainnya. Terutama dalam memenangkan pemilu untuk menarik sebanyak-banyaknya suara dari rakyat.
Dalam kontestasi pemilihan umum, citra partai politik menjadi penting sebagai landasan untuk menarik suara dari konstituennya. Jika citra partai politik negatif di mata publik, maka otomatis partai politik itu akan kehilangan suara, atau suaru yang mendukungnya hanya sedikit. Sedangkan sebaliknya, jika citra partai politik itu Positif, maka ia akan memperoleh suara tambahan dari pemilu sebelumnya.oleh karena itulah perlu strategi dalam merekonstruksi citra partai.
Strategi pencitraan tidak mudah, dan tidak bisa dalam jangka waktu pendek (instant), akan tetapi, pencitraan memerlukan waktu yang cukup lama, karena khalayak, publik atau rakyat ingin mengetahui kesesuain dirinya dengan ideologi, visi, misi, dan kinerja dan reputasi suatu partai politik dan tokoh-tokohnya. Jika suatu partai politik sudah tidak memiliki integrasi dan konsistensi
60
menjaga citra positifnyam maka citra yang terekam dan melekat di benak publik menajadi tidak utuh dan bahkan bisa menjadi rusak.
Proses pembentukan citra dalam struktur kognitif yang sesuai dengan pengertian sistem komunikasi yang dijelaskan oleh John S. Nimpoeno, dalam laporang penelitian tentang tingkang laku konsumen dalam hal ini (Konstituen) seperti yang di kutip oleh Danasaputra, adalah sebagai berikut:61
Gambar 2.1
Model Pembentukan citra Pengalaman mengenai stimulus
Public Relations digambarkan sebagai inpu-output, proses intern dalam model ini adalah pembentukan citra, sedangkan inputnya adalah stimulus yang diberikan dan outputnya adalah tanggapan atau persepsi yang dimanfestasikan melalui perilaku.
4. Macam-macam Citra
Menurut Frank Jefkins, dalam bukunya Public Relations yang dikutip oleh Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, terkait jenis-jenis citra adalah sebagai berikut :
61
Soleh Soemirat & Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar public relations, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 115
Motivasi
Persepsi Sikap
Kognisi Stimulus
a. The mirror image (cerminan citra), yaitu bagaimana dugaan (citra) menajemen terhadap publik eksternal dalam melihat perusahaannya. b. The current image (citra masih hangat), yaitu citra yang terdapat pada
publik eksternal, yang berdasarkan pengalaman atau menyangkut miskinnya informasi dan pemahaman publik eksternal. Citra ini bisa saja bertentangan dengan mirror image.
c. The wish image (citra yang di inginkan), yaitu manajemen menginginkan pencapaian pterstasi tertentu. Citra ini diaplikasikan untuk sesuatu yang baru sebelum publik eksternal memperoleh informasi secara lengkap.
d. The multiple image (citra yang berlapis), yaitu sejumlah individu, kantor cabang atau perwakilan perusahaan lainnya dapat membentuk citra tertentu yang belum tentu sesuai dengan keseragaman citra seluruh organisasi atau perusahaan
BAB III
GAMBARAN UMUM PKS (PKS)