BAB II KAJIAN TEORITIS
C. Konseptualisasi Framing
Analisis bingkai (framing anylsis) brusaha untuk menentukan kunci-kunci tema dalam sebuah teks menunjukkan bahwa latar belakang budaya membentuk pemahaman kita terhadap sebuah peristiwa. Dalam mempelajari media, analisis bingkai menunjukkan bagaimana aspek-aspek struktur berita mempengaruhi aspek-aspek yang lain. Analisis bingkai
merupakan dasar struktur kognitif yang memandu persepsi representasi realitas. Jadi, frame analysis adalah analisis untuk membongkar ideologi dibalik penulisan informasi.20
Dalam parktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain, dan menonokan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana, penempatan yang mencolok (headline depan atau belakang), pengulangan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi dan simplifikasi. Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari konstruksi berita menadi bermakna dan diingat oleh khalayak. 21
Dengan framing kita juga bisa mengetahui bagaimana perpspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika mnyeleksi dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif ini pada khirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan hendak dihilangkan, dan hendak dibawa kemana berita tersebut.
Proses pemberitaan dalam organisasi media kan sangat memepengaruhi rame berita yang akan diproduksinya. Farme yang diproses dalam organisasi media tidak lepas dari latar belakang pendidikan wartawan sampai ideologi institusi media tersebut. Ada tiga proses framing dalam organisasi media. Proses tersebut adalah:22
20
Darmanto, Membongkar Ideologi di Balik Penulisan Berita dengan Analisis Framing,(makalah, Universitas Brawijaya. 2004)
21Ibid 22
Http://ekawenats.blogspot/2006/12/priming-framing-agenda-setting.html. diakses tanggal 21 Desember 2010 pukul 02:00 WIB
a. Proses framing sebagai metode penyajian realitas diaman kebenaran tentang suatu kajian tidak diingkari secara total, melainkan dibalikkan secra halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya. b. Proses Framing merupakan bagian tak terpisahkan dari proses
penyuntingan yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian media cetak. Redaktur dengan atau tanpa konsultasi dengan redaktur pelakana., menentukan apakah laporan si reporter akan dimuat ataukah tidak, serta menetukan judul yang akan diberikan.
c. Proses framing tidak hanya melibatkan sisi informasi yang ingin ditonjolkannya,(sambil menyembunyikan sisi lain). Proses framing menjadikan media massa sebagai arena dimana informasi tentang masalah tertentu diperebutkan dalam suatu perang simbolik antara berbagai pihak yang sama-sama menginginkan pandangannya didukung pembaca.
Dalam proses framing pada akhirnya akan membawa efek. Karena sebuah realitas bisa jadi bingkai dan dimaknai berbeda oleh media, bahkan pemaknaan itu bisa jadi sangat berbeda. Realita sosial yang kompleks oenuh dimensi dan tidak beraturan, disajikan dalam berita sebagai suatu yang sederhana, beratua dan memenuhi logika tertentu.
Berdasarkan penyederhanaan atas kompleksnya realotas yang disajikan media, menimbulkan efek framing, yaitu:23
a. Framing yang dilakukan media akan menonjolkan aspek tertentu dan mengaburkan aspek yang lain. Framing umumnya ditandai dengen menonjolkan aspek tertentu dari realitas, akibatny ada aspek lain yang tidak mendapat perhatian yag memadai.
b. Framing yang dilakukan oleh media akan menampilkan sisi tertentu dan melupakan sisi yang lain. Dengan menampilkan sisi tertentu dalam berita ada sisi lain yang terlupakan, menyebabkan aspek lain yang penting dalam memahami realitas tidak mendapat liputan berita.
c. Framing yang dilakukan media akan menampilkan aktor tertentu dan menyembunyikan aktor yang lain. Efek yang segera terlihat dalam pemberitaan yang memfokuskan pada satu pihak, menyebabkan pihak lain yang mungkin relevan dalam pemberitaan menjadi tersembunyi.
2. Konseptualisasi Framing
Peneliti yang paling konsisten mendiskusikan konsep framing adalah W.A.Gamson. Gamson terkenal dengan pendekatan konstruksionis yang melihat proses framing seagai konstruksi sosial untuk memaknai realitas. Proses ini bukan hanya terjadi dalam wacana media, tetapi juga dalam struktur kognisi individu. Dalam konteks inilah Gamson melihat adanya hubungan antara wacana dan publik yang dibentuk di masyarakat.24
23
Http://ekawenats.blogspot/2006/12/priming-framing-agenda-setting.html. diakses tanggal 21 Desember 2010 pukul 22:00 WIB
24
Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana, (Yogyakarta: LKIS, 2001).H.220
Pada dasarnya analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khusunya untuk menganalisis teks media. Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Goffman pada 1947, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas.25
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing diapaki untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pert autan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti dan lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Dengan kata lain framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi atau menulis isu berita.
3. Konseptualisasi Framing Zhong dang Pan dan Kosicki
Zhong Dang Pan dann Kosicki (1993) melalui tulisan merek
“Framing Analysis:An Approach To News Discours”
mengoperasionalisasikan empat dimensi struktural teks berita sebagai perangkat framing :sintaksis skrip, tematik, dan retoris. Keempat dimensi struktural ini memebentuk semacam tema yang mempertautkan
25
Alex Sobur Msi, Drs, Analisis Teks Media (Suatu Pengantar untuk Analisi Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing),(Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2006)cet. Ke-4 h.162.
elemen semantik narasi berita dalam suatu koherensi global. Model ini berasumsi bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi ide.
Model framing yang diperkenalkan Pan dan Kosicki ini adalah suatu model yang paling populer dan banyak dipakai. Model itu sendiri diperkenalkan lewat suatu tulisan di Jurnal Political Communication. Bagi Pan dan Kosicki, analisis framing ini dapat menjadi salah satu altenatif dalam menganalisis teks media di samping analisis isi kuantitatif. Analisis framing dilihat sebagaimana wacana publik tentang suatu isu atau kebijakan dikonstruksi dan dinegosiasikan. Dalam tulisannya tersebut, Pan dan Kosicki tidak hanya membatasi analisisnya semata-mata pada isi media. Di sini, media dipandang sebagai bagian dari diskusi publik secara luas. Bagaimana media dapat membentuk bingkai dan kemasan tertentu kepada khalyak, dan bagaimana partisipan poltik melakukan pemaknaan dan konstruksi atas peristiwa untuk disediakan kepada publik. Khalayak sendiri juga akan melakukan proses dan pemaknaan yang berbeda atas suatu isu atau peristiwa.26
Frame merupakan sutu ide yang dihubungkan dengan elemen yang berbeda dalam teks berita - kutipan sumber, latar informasi, pemakaian kata atau kalimat tertentu – ke dalam teks secara keseluruhan. Frame berhubungan dengan makna. Bagaimana seseorang memaknai suatu peristiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang dimunculkan dalam teks.
26
Alex Sobur Msi, Drs, Analisis Teks Media (Suatu Pengantar untuk Analisi Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing),(Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2006)cet. Ke-4 h.252
Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatan informasi lebih dari yang lain sehingga khalayak tertuju pada pesan tersebut. Menurut Pan dan Kosicki, ada dua konsep dari framing yang saling berkaitan.27
a. Dalam konsep psikologi. Framing dalam konsep ini lebih menekankan pada bagaimana seorang memproses informasi dalam dirinya. Framing ini berkaitan dalam struktur dan proses kognitif, bagaimana seseorang mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu. Framing disini dilihat sebagai penempatan informasi dalam suatu konteks yang unik atau khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi dari suatu isu maupun peristiwa tersebut menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan dalam membuat keputusan tentang realitas.
b. Konsep sosiologis. Kalau pandangan psikologis lebih melihat pada prses internal seseorang, maka pandangan sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Dalam konstruksi realitas, bahasa merupakan unsur utama. Ia merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realitas.28 Frame disini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganiasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya. Frame disini berfungsi membuat suatu realita
27Ibid h.252-53
28
Ibnu Hamad, Agus Sudibyo, M. Qodari, Kabar-kabar Kebencian Prasangka di Media Massa, (Jakarta:ISAI, 2001), H.69.
menjadi teridentifikasi, dipahami, dan dapat dimengerti karena sudah dilabeli dengan label tertentu.
4. Perangkat Framing Zhong Dang Pan dan Gerald M.Kosicki
Model ini berasumsi bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat dari organisasi ide. Frame ini adalah suatu ide yang dihubungkan dengan elemen yang berbeda dalam teks berita (seperti kutipan sumber, latar, informasi, pemakaian kata atau kalimat tertentu) ke dalam teks secara keseluruhan.
Dalam pendekatan ini, perangkat framing dapat dibagi ke dalam empat stuktur besar.29 Pertama, struktur sintaksis, berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun berita – pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa - ke dalam bentuk susunan umum berita. Struktur semantik ini dengan demikian dapat diamati dari bagan berita (lead yang dipakai, latar dateline, latar headline, kutipan yang diambil, dan sebgainya). Intinya ia mengamati bagaimana wartawan memahami peritiwa yang dapat dilihat dari cara ia menyusun fakta ke dalam bentuk umum berita.
Kedua, struktur skrip. Skrip berhubungan dengan bagaimana wartawan mengisahkan atau mnceritakan peristiwa ke dalam bentuk berita. Struktur ini melihat bagaimana strategi cara bercerita atau bertutur dipakai oleh wartawa dalam mengemas peristiwa ke dlam bentuk berita.
Ketiga, struktur tematik. Tematik berhubungandengan bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa dala proposisi,
29
Eriyanto, Analsis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Pengantar Dr Deddy Mulyana, M.A (Yogyakarta: PT Lkis Plangi Aksara, 2005), h.255
kalimat atau hubungan antarkalimat yang memebentuk teks secara keseluruhan. Struktur ini ka melihat bagaimana pemahaman itu diwujudkan dalam yang bentuk lebih kecil.
Keempat, struktur retoris.Retoris berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam berita. Struktur ini akan melihat bagaimana wartawan memakai pilihan kata, idiom, grafik, dan gambar yang dipakai bukan hanya pendukung tulisan, melainkan juga menekankan arti tertentu kepada pembaca.
Keempat struktur tersebut merupakan suatu rangkaian yang dapat menunjukkan framing dari suatu media. Kecenderungan atau kecondongan wartwawan dalam memahami suatu peristiwa dapat diamati dari keempat struktur tersebut. Dengan kata lain, ia dapat diamati dari bagaimana wartawan menyusun peristiwa ke dalam bentuk umum berita, cara wartawan mengisahkan peristiwa, kalimat yang dipakai, dan pilihan kata atau idiom yang dipilih. Ketika menulis berita menekankan makna atas peristiwa, wartawan akan memakai semua strategi wacana itu untuk meyakinkan khalayak pembaca bahwa berita yang dia tulis adalah benar.
Sintaksis. Dalam pengertian umum, sintaksis adalah susunan kata atau frase dalam kalimat, bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih. Dalam wacana berita, sintaksis menunjuk pada pengertian susunan dari bagian bertia – headline, lead, latar informasi, sumber, penutup –
dalam satu kesatuan teks berita secara keseluruhan.
Headline merupakan aspek sintaksis dari wacana berita dengan tingkat kemenonjolan yang tinggi yang menunjukkan kecenderungan
berita.30 Pembaca cenderung lebih mengingat headline yang dipakai diabndingkan bagian berita. Headline mempunyai fungsi framing yang kuat. Headline mempengaruhi bagaimana kisah dimengerti untuk kemudian digunakan dalam membuat pengertian isu dan peristiwa sebagaimana mereka beberkan.
Selain headline/judul, lead adalah perangkat sintaksis lain yang sering digunakan. Lead yang baik umumnya memeberikan sudut pandang dari berita, menunjukkan perspektif tertentu dari peristiwa yang diberitakan.
Latar merupakan bagian berita yang dapat mempengaruhi makna yang ingin ditulis wartawan. Latar yang dipilih menentukkan ke arah mana pandangan khalayak hendak dibawa. Latar dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks.31 Latar merupakan bagian berita yang dapat mempengaruhi semantik (arti) yang akan ditampilkan.
Bagian berita lain yang penting adalah pengutipan sumber berita. Bagian ini dalam pengutipan berita dimaksudkan untuk membangun objektivitas – prinsip keseimbangan dan tidak memihak. Ia juga merupakan bagian berita yang menekankan bahwa berita yang ditulis oleh wartawan bukan pendapat wartwan semata, melainkan pendapat dari orang yang mempunayi otoritas tertentu.
Skrip, laporan berita sering disusun sebagai suatu cerita. Hal ini karena dua hal, banyak laporan berita yang beruasaha menunjukkan
30
Eriyanto, Analsis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Pengantar Dr Deddy Mulyana, M.A (Yogyakarta: PT Lkis Plangi Aksara, 2005), h 257
hubungan, peristiwa yang ditulis merupakan kelanjutan peristiwa yang sebelumnya. Kedua, berita umunya mempunyai orientasi menghubungkan teks yang ditulis dengan lingkungan komunal pembaca.
Bentuk umum dari struktur skrip ini adalah pola 5W + 1H – who, what, when, where, why, dan how. Meskipun pola ini tidak selalu dijumpai dalam berita yang ditampilkan, kategosri informasi ini diharapkan diambil oleh wartawan untuk dilaporkan.
Skrip adalah salah satu strategi wartawan dalam menkonstruksi berita: bagaimana suatu peristiwa dipahami melalui cara tertentu dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan tertentu. Skrip memebrikan tekanan mana yang didahulukan. Bagian mana yang bisa kemudian sebgai strategi untuk menyembunyikan informasi penting.
Tematik, bagi Pan dan Kosicki berita mirip pengjuian hipotesis: peritwa yang diliput, sumber yang dikutip, dan pernyataan yang diungkapkan – semua perangkat itu digunakan untuk membuat dukungan yang logis bagi hipotesis yang dibuat. Struktur tematik dapat diamati dari bagaimana peristiwa itu diungkapkan atau dibuat oleh wartawan. Bagaimana fakta ditulis, kalimat yang dipakai, bagaimana menempatkan dan menulis sumber ke dalam teks berita secara keseluruhan.
Secara keseluruhan unit yang dianalisis pada struktutr tematik adalah tema sebuah cerita. Tema (theme), menurut stanton dan kenny adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.32
32
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkaji Fiksi, (Yogyakarta:Gadjah Mada University press, 2005), h.67
Ada beberapa elemen yang dapat diamati dari perangkat tematik ini. Diantaranya adalah koherensi: pertalian atau jalinan makna antarakata, proposisi atau kalimat. Dua buah kalimat atau proposisi yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan dengan menggunakan koherensi. Sehingga fakta yang tidak berhubungan sekalipun menjadi hubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Detail merupakan strategi bagaimana wartwan (komunikator) mengekpresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Sikap yang dikembangkan oleh wartawan kadang kala tidak perlu disampaikan secara terbuka, tetapi detail bagian mana yang dikembangkan dan mana yang diberitakan.33 Detail merupakan elemen yang berhubungan dengan kontol informasi yang ditampilkan seseorang.
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan.
Ada beberapa macam koherensi. Pertama, sebab-akibat. Proposisi atau kalimat satu dipandang akibat atau sebab dari proposisi lain. Kedua, koherensi penjelas. Proposisi atau kalimat dilihat sebagai penjelas. Propsisi atau kalimat lain. Ketiga, koherensi pembeda. Proposisi atau kalimta satu dipandang kebalikan atau lawan dari proposisi atau kalimat lain.34
33
Eriyanto, Analsis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Pengantar Dr Deddy Mulyana, M.A (Yogyakarta: PT Lkis Plangi Aksara, 2005), h. 238
Dalam elemen ini juga terdapat bentuk kalimat. Bentuk kalimat merupakan sesuatu yang berhubungan dengan cara berfikir logis. Kata ganti adalah elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang diapaki oleh komunikator untuk menunjukkan dimana posisi seseorang dalam wacana.
Proposisi menurut puspoprodjo (1999) adalah suatu penuturan yang uth. Atau ungkapan keputusan dalam kata-kata, atau juga menaifestasi luaran dari sebuah keputusan.35 Proposisi juga merupakan rancangan usulan, ungkapan yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya.36
Dalam struktur ini, gaya bahasa juga mendapat perhatian dalam pengkajiannya. Gaya bahasa atau majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahsa sekelompok penulis sastra dan ciri khas dalam menyatakan oikiran dan perasaan baik lisan maupun tertulis.37
Retoris. Struktur retoris dari wacana berita mengambarkan pilihan gaya atau kata yang dipilih oleh wartawan untuk menekankan arti yang ingin ditonjolkan oleh wartawan. Wartawan menggunakan pernagkat retoris untuk membuat cerita, meningkatkan kemenonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatau berita.
35
Poespoprodjo, Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Bandung:Pustaka Grafika, 1999) h. 170
36Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Depdikbud
37
Gunawan Sudarsana, Pedoman Umum Ejaan Bahsa Indonesia Yang Disempurnakan,
Struktur retoris dar wacana berita juga menunjukkan kecenderungan bahwa apa yang disampaikan tersebut adalah suatu kebenaran.38
Ada beberapa elemen struktur retoris yang dipakai wartawan. Yang paling penting adalah leksikon, pemilihan, dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau mengambarkan peristiwa. Suatu fakta umumnya tersiri atas beberapa kata yang merujuk kepada fakta. Leksikon merupakan kosa kata; kamus yang sederhana; daftar istilah dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi keterangannya; komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa; kekayaan kata yang dimiliki suatu bahasa.39
Dalam arti lain leksikon dapat diartikan sebgai tersusunnya uraian atau pandangan segingga bagian-bagiannya berkaitan satu sama lain; keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi; hubungan logis antara bagian-bagian karangan atau antara kalimat-kalimat dalam satu paragraf, daya tarik antara molekul-molekul untuk mengindarkan terpisahnya bagian-bagian bila ada kekuatan dari luar.40 Kalimat adalah satuan bahasa terikat dalam wujud lisan maupun tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh.41
Selain leksikon dalam struktur retoris juga ada idiom yang berarti bentuk bahasa berupa gabungan makna katanya tidak dapat dijabarkan dari
mana unsur gabungan (misal: “kambing hitam” yang berarti “orang yang
38
Ibid h. 264. (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002))
39Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Depdikbud
40Ibid 41
E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1995), Edisi Baru, Cetakan Ke-1, h.78
dipersalahkan” ; kebiasaan khusus dalam suatu bahasa. Dalam
ensiklopedia jilid 3 dikatakan, “idiom adalah kekhususan bentuk bahasa;
segala ungkapan, susun – kata yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa pada umumnya. Iddom juga meliputi segala ungkapan, rangkaian kata, serta susun – kata yang menunjukkan kekhususan dalam suatu bahasa sehingga membedakannya dengan bahasa-bahasa lain; idiom biasanya tidak diterjemahkan.
Selain lewat kata, penekanan pesan dalam berita itu juga dapat dilakukan dengan menggunakan unsur grafis, grafis adalah bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Elemen grafis ini muncul dalam bentuk foto, gambar atau tabel untuk mendukung gagasan atau untuk bagian lain yang tidak ingin ditonjolkan.42
Dalam wacana berita, grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain. Pemakaian huruf tebal, huruf miring, pemakaian garis bawah, huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar. Termasuk di dalamnya adalah pemakaian caption, raster, grafik, gambar, tabel untuk mendukung arti penting suatu pesan.
Elemen grafis juga muncul dalam bentuk foto, gambar, dan tabel untuk mendukung gagasan atau untuk bagian lain yang tidak ingin ditonjolkan. Elemen grafik memberikan efek kognitif, ia mengontrol perhatian dan ketertarikan secara intensif dan menunjukkan apakah suatu
42
informasi itu dianggap penting dan menarik sehingga harus dipusatkan atau difokuskan.
Dalam elemen yang keempat ini juga terdapat unsur metafora. Yakni pesan tidak hanya disampaikan lewat teks atau bahsa formal, tetapi juga kiasan, ungkapan dan metafora yang dimaksudkan sebagai ornamen atau bumbu yang dipakai untuk memperkuat pesan utama.