• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Data menggunakan Spiral Analisis Data

5.3.3 Mendeskripsikan, Mengklasifikasikan, dan Menafsirkan Data

5.3.3.4 Pengukuran Budaya Organisasi

5.3.3.4.2 Konsisten /Consistency

Pada kasus ini peneliti ingin mengetahui bagaimana budaya Konsisten pada ITS. Organisasi cenderung memiliki budaya konsisten yang kuat, adalah organisasi yang terkoordinasi dan terintegrasi secara baik. Norma-norma perilaku didasarkan pada nilai-nilai inti. Para pemimpin beserta bawahan mencapai kesepakatan meskipun memiliki sudut pandang yang berbeda (Kusumawati, 2008). Perilaku didasarkan pada nilai-nilai inti organisasi, pemimpin dan semua orang di organisasi diajarkan untuk mampu memperoleh kesepakatan dan menyatukan perbedaan sudut pandang, kegiatan-kegiatan di organisasi diintegrasikan dengan baik (Block, 1991; Lencioni, 2002). Trait Konsistensi dapat diukur dengan 3 (tiga) indeks, yaitu:

Tabel 5.5 Indeks pengukur Budaya Organisasi Consistency (Sumber: Denison 2006)

Trait Indeks Penjelasan

K on si ste n si

Core Values Anggota organisasi

berbagi suatu set nilai-nilai yang menciptakan perasaan identitas dan

95

Trait Indeks Penjelasan

ekspektasi yang jelas.

Agreement. organisasi mampu

memperoleh kesepakatan dalam isu-isu kritikal. Dalam hal ini termasuk tingkat kesepakatan dan kemampuan

mendamaikan perbedaan. Coordination and

Integration

Berbagai fungsi dan unit dalam organisasi

mampu bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama

Berikut ini adalah kutipan dari hasil wawancara dengan item budaya Konsisten:

Wcr_Inf7_stat.1 “Ada. Kita ikut ITS, dari ITS kan sudah ada panduan terkait

dengan kode etik. Di panduan peraturanya itulah. Kan peraturan dari Rektor, ada aturan kepegawaian. Kita ngikut dari ITS. Untuk khusus dari jurusan sendiri tidak ada. “

Wcr_inf2_stat.1 “Tentunya di setiap jurusan itu ada (etika organisasi), dan kita

mengikuti aturan yang ada di ITS pusat, dan tidak bisa meninggalkan itu.”

Wcr_Inf7_stat.3 “Gampang lah untuk melakukan koordinasi.”

Wcr_inf2_stat.3 “Kita berupaya untuk berkoordinasi, keperluanya apa kita

berupaya untuk bekerja sama. Kita koordinasi diupayakan satu kali setiap bulan. Koordinasi kesulitanya apa keluhanya apa.”

Wcr_Inf7_stat.4 Mestinya sesuai dengan tujuanya, yang jelas bukan pribadi, tapi lebih mengutamakan pekerjaanya lah.

96

Wcr_inf2_stat.4 “Selalu bekerja sama dalam bekerja. Kita Akademik ada 3

unit bagian, TA, KP, dan Pengajaran, kita selalu berupaya berkoordinasi. Jadi kita

berorientasi pada organisasi.”

Wcr_inf5_stat.1 “Ada,ada nilai-nilai etika organisasi jurusan Industri sendiri. Ada juga tata nilai yang diberikan oleh ITS Pusat (Departemen

Sumber Daya Manusia). Kita juga di sini bekerja rata-rata dengan status PNS jadi juga ada etika profesi sendiri yang mungkin masuk ke dalam etika jurusan.”

Wcr_inf5_stat.2 “Etika di jurusan ini ada, tertulis dalam sebuah aturan dan disosialisasikan juga meskipun tidak dipampang (dalam bentuk

banner) seperti tata nilai ITS. Aturan-aturan itu yang membuat karyawan punya kebiasaan-kebiasaan sehari-hari ya, misalkan saja bagaimana harus bekerja, jam berapa harus masuk kerja, bagaimana berhubungan dengan staf bagian teknisi, bagian sekertariatan, bagaimana kerjasama jika salah satu pegawai tidak masuk.”

Wcr_inf5_stat.3 “Kadang kala, rata-rata mudah. Cuma terkadang ya sulit juga berkoordinasi.”

Wcr_inf5_stat.4 “Ada ya mungkin beberapa saja yang memiliki orientasi pada kepentingan individu, tapi hanya sedikit saja. Ya beberapa ada

dosen yang jarang masuk, yang memiliki kepentingan individu. Tapi secara

umum memikirkan kepentingan organisasi.”

Wcr_inf4_stat.1 “Etika ada tapi idak tertulis. Etika Karyawan, dosen diatur ITS pusat. Dari ITS diatur Etika untuk civitas akademika”

Wcr_inf4_stat.3 “Ya mudah dalam berkoordinasi”

Wcr_inf4_stat.4 “Tentunya orientasi Organisasi ya, namun mereka juga

makluk social punya keluarga. Tidaak akan mencurahkan 100 % untuk organisasi. Saya juga menekankan bahwa jangan 100% tercurahkan untuk organisasi, tapi keluarga juga penting.

Kata-kata kunci seperti: “ada nilai-nilai etika”, “Etika ada tapi idak

tertulis”, “pasti mudah berkoordinasi”, “Tentunya orientasi Organisasi”,” berupaya untuk berkoordinasi “ ,” Gampang lah untuk

97

melakukan koordinasi“, menunjukkan bahwa Dimensi Budaya Konsistensi

yang dimiliki ITS dinilai kuat.

Berdasarkan hasil wawancara dari keseluruhan informan mengenai bagaiman budaya organisasi di ITS menunjukan bahwa terdapat Etika organisasi tertulis maupun tidak tertulis. Berikut merupakan tata nilai ITS yang tercantum pada peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia nomor 49 tahun 2011 :

Tata nilai ITS:

a. etika dan integritas: dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, maupun menjalankan profesinya, selalu berpegang teguh pada norma-norma dan peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat, negara, dan agama;

b. kreativitas dan inovasi: selalu mencari ide-ide baru untuk menghasilkan inovasi dalam menjalankan tugas/perannya dengan lebih baik;

c. ekselensi: berusaha secara maksimum untuk mencapai hasil yang sempurna;

d. kepemimpinan yang kuat: menunjukkan perilaku yang visioner, kreatif, inovatif, pekerja keras, berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, dan bertanggung jawab;

e. sinergi: bekerja sama untuk dapat memanfaatkan semaksimum mungkin potensi yang dimiliki; dan

f. kebersamaan sosial dan tanggung jawab sosial: menjaga kerukunan dan peduli terhadap masyarakat sekitar.

Rencana arah pengembangan ITS sesuai sasaran strategis:

a. ITS diakui secara internasional yang diukur dari ranking ITS di kalangan perguruan tinggi Asia atau perguruan tinggi dunia; dan

b. b. ITS mampu memberikan kontribusi nyata dalam penyelesaian problem-problem yang dihadapi masyarakat.

98

Gambar : Tata Nilai Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Peraturan ITS terdiri atas peraturan tertulis dan tidak tertulis. Peraturan tertulis adalah peraturan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan tiap departemen seperti larangan atau himbauan, jam masuk dan pulang kerja, absen, cuti dan peraturan-peraturan umum lainnya. Sedangkan peraturan-peraturan tidak tertulis adalah peraturan-peraturan yang biasanya hanya dikomunikasikan secara verbal oleh para pihak dari level manajemen yang lebih tinggi ke para pihak dari level manajemen yang lebih rendah dan untuk urusan yang lebih kecil. Peraturan ITS memiliki fungsi untuk mengatur batasan-batasan mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam organisasi sehingga memperjelas mengenai ruang lingkup dan wewenang kerja bagi setiap individu/karyawan di dalam organisasi.

Budaya konsistensi yang kuat ini ditunjukan dengan adanya etika tertulis maupun tidak tertulis, serta kesepahaman nilai-nilai inti Institut Teknologi Sepuluh Nopember telah dijadikan patokan dalam melaksanakan pekerjaan dan

99

tugas-tugas karyawan dan dosen. Kuatnya kesepahaman akan nilai-nilai ITS telah menunjukan kerjasama antar unit dengan koordinasi yang baik. Kondisi internal di ITS berhubungan dengan kondisi stabil (adanya peraturan, standar, kegiatan rutin, formalitas). Dapat diartikan bahwa kondisi dosen dan staf dalam melaksanakan segala kegiatan harian berdasar tata nilai, kode etik, kebersamaan, kesepakatan dalam rangka memenuhi tujuan organisasi sudah cukup baik.

Hampir sebagian besar informan menyatakan bahwa anggota organisasi berorientasi pada organisasi, namun menariknya Inf5 menyatakan bahwa ada beberapa anggota organisasi yang memiliki kepentingan individu meskipun hanya sedikit saja.

Sesuia dengan penelitian Denison (1990) dan Weick (1985,187) dalam buku Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan (2014) , mengemukakan bahwa teori konsistensi menekankan adanyanya dampak positif budaya kuat pada evektifitas organisasi dan bahwa sisteem keyakinan, nilai dan symbol yang dihayati serta dipahami secara luas oleh para anggota organisasi memiliki dampak positif pada kemampuan mereka dalam mencapai konsesus dan melakukan tindakan-tindakan yang terkoordinasi.

Dokumen terkait