• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Sistematika Penulisan

5. Konstruksi dalam Pendidikan Karakter

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.

Mempertanyakan pengetahuan bagaimana kita mendapatkan sesuatu di dunia pendidikan umum telah terjadi pergeseran pradigma baru dari pradigma lama, yaitu berkembangnya aliran

konstruktivistik yang menggaris bawahi bahwa pengetahuan dan perilaku manusia akan tumbuh dalam dirinya sendiri seiring dengan pengalaman, interaksi sosial, interaksi dengan alam.22

Prinsip konstruksi dalam pendidikan adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Menekankan pada individu agar secara aktif menyusun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengekplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis Brooks & Brooks.23

Konstruktsi dan implikasi dalam pendidikan menunjukkan bahwa pengetahuan adalah konstruksi dari kegiatan/tindakan seseorang yang terus menerus dan berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar tetapi ada dalam diri seseorang, jadi pengetahuan merupakan produk dari pengalaman seseorang yang pada akhirnya menciptakan seseorang cerdas dan menjadi dirinya sendiri.

22 Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Yogyakarta : kunisius 2001) h.86

20

6. Pendidikan Karakter a. Pengertian Pendidikan

Pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh orang dewasa dalam pergaulannya terhadap anak didik menuju kedewasaannya.24

Menurut ahli lain juga mengatakan “Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungan dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat”. 25

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memberikan bimbingan atau pertolongan dalam mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak untuk mencapai kedewasaanya serta mencapai tujuan agar anak mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri.

Pengertian di atas mengindikasikan betapa peranan pendidikan sangat besar dalam mewujudkan manusia yang utuh dan mandiri serta menjadi manusia yang mulia dan bermanfaat bagi lingkungannya. Pendidikan yang baik akan menciptakan manusia yang paham bahwa dirinya itu sebagai makhluk yang

24 Waini Rasyadin, Pedagogik Teoritis (Jakarta : Rosda 2014) h.38

dikaruniai kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Bagi negara, pendidikan memberi kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta membangun watak bangsa (nation character building).

b. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan Menurut Unesco Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni:

(1) learning to Know (2) learning to do (3) learning to be

(4) learning to live together.

Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.

c. Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter

Thomas Lickona mengemukakan bahwa karakter adalah “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way” yang berarti suatu watak terdalam yang dapat diandalkan untuk

22

merespons situasi dengan cara yang menurut moral baik. Selanjutnya, Lickona menambahkan,“Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior”. Menurut Lickona, karakter mulia (good character) meliputipengetahuan tentang kebaikan (knowing the good), lalu menimbulkan (niat) terhadap kebaikan (desiring the good), dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (doing the good)26

Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Karakter juga dipahami dari sudut pandang behavioral yang menekankan unsur somatopsikis (keadaan dimana Tubuh mempengaruhi Jiwa) yang dimilki individu sejak lahir. karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap ciri atau karakteristik gaya atau sifat yang khas dari diri seseorang, yang bersumber dari bentukan – bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya pengaruh keluarga, pada masa keci dan bawaan sejak lahir.27

Pendidikan karakter sejatinya sudah ada dalam praktik pendidikan, dilihat dari berbagai praktik pendidikan, baik formal, informal maupun non formal, atau pada kegiatan kurikuler atau ekstra kurikuler. Nilai dari karakter yang kerap diinternalisasikan dalam setiap kegiatannya seperti kejujuran, keberanian, kemandirian dan

26Thomas lickona, charter matters, pen. Juma Abdu Wamaungo, (Jakarta: Bumi aksara 2016) h.

27Doni koesoema, pendidikan karakterdizaman global (Yogyakarta: Pedagogia

tanggung jawab. Dalam konteks berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, pendidikan di Indonesia perlu diperluas hingga dapat menyentuh citra budaya keindonesiaan yang majemuk dan senantiasa berkembang dari zaman ke zaman.28

Pendidikan karakter berpijak pada karakter dasar manusia yang bersumber dari moral universal yang memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak pada nilai – nilai karakter dasar tersebut. Menurut ahli psikologi beberapa nilai karakter dasar tersebut antara lain cinta kepada Allah SWT, ciptaan jujur, hormat dan santun, kasih sayangdan rendah hati.29

d. Studi kasus Bullying

Bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari. Secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah, Sedangkan secara terminology menurut Definisi bullying menurut Ken Rigby adalah “sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok yang lebih kuat, tidak

28 Bagus Mustaskim, Pendidikan Karakter (Yogyakarta : Samudra biru 2013) h. 41

29 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA press 2013) h. 33

24

bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang”.30

Bullying juga merupakan tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Korban bullying jika itu terjadi pada seorang anak yang berusia Remaja maka ini akan berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Masalah yang lebih mungkin diderita anak-anak yang menjadi korban bullying, antara lain munculnya berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur yang mungkin akan terbawa hingga dewasa, keluhan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut dan ketegangan otot, rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, dan penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.

Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi pemaksaan secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah”

oleh seseorang atau sekelompok orang. Pelaku bullying yang biasa disebut bully yang dilakukan per seorangan, atau bisa juga sekelompok orang, mereka mempersepsikan dirinya memiliki

30Ela Zain Zakiyah, Sahadi Humaedi, Meliyanni Budiarti Santoso, “ faktor yang mempengaruhi remaja dalam melakukan bullying”, Jurnal penelitian&PPM, Vol.4 No:2,

power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancan oleh bully. B. Hasil Penelitian yang Relevan

Penulis skripsi ini, akan menjelaskan tentang “kreatifitas guru dalam mengkonstruksi pendidikan karakter melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP N 2 Gunung Jati pada tahun 2019/2020”.

Penelitian sebelumnya dalam kajian semacam ini telah mendahului penelitian, yaitu Skripsi Nur Aini Farida (Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga Yogyakarta) yang berjudul “Konsep

pendidikan karakter menurut Thomas Lickona dalam buku educating for character: how our schoolscan teach respect and responsibility dan relevansinya dengan pendidikan agama islam”. Dalam skripsi tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pemikiran pendidikan karakter menurut Thomas Lickona merupakan usaha yang melibatkan tiga aspek kecerdasan yaitu kognitif melalui moral knowing, afektif melalui moral feeling, dan psikomotorik melalui moral acting. Pendidikan karakter dalam kaitannya dengan Pendidikan Agama Islam mempunyai relevansi dalam beberapa hal, yaitu: guru sebagai subyek pendidikan karakter; peserta didik sebagai subyek yang dibiasakan dalam pendidikan karakter; kurikulum sebagai fondasi dasar pendidikan karakter; metode

26

sebagai praktik pendidikan karakter dan evaluasi sebagai proses yang tidak pernah berhenti.31

Dokumen terkait