BAGIAN 5 : MEDIA TRANSMIS
5.12. Konstruksi dan pemasangan
5.12.1. Pengertian
Pada bagian ini akan dijelaskan konstruksi dan cara pemasangan kabel yang dipakai dalam sistem telepon. Namun sebelumnya akan diberi penjelasan tentang seluk beluk tentang kabel itu sendiri.
Kabel merupakan kum-pulan dari beberapa pasang (pair) konduktor berisolasi. Kabel yang digunakan dalam sistem telepon biasanya dengan kapasitas 5x2, 10x2, 20x2, 100x2, 1200x2,
1800x2 dan setrusnya. Kabel- kabel yang demkian biasanya disebut kabel multipair.
Berikut ini Contoh untuk memahami kabel multipair.
Bila dikatakan suatu kabel dengan 1200x2, artinya kabel tersebut terdiri dari kawat-kawat berisolasi sebanyak 1200 pasang atau 1200x2 kawat.
Bila satu kawat kabel disebut urat, jadi 1200x2 berarti mempunyai 2400 urat kabel.
Urat kabel adalah kawat kabel yang berisolasi polietilen (PE) atau kertas.
5.12.2. Membedakan Kabel
Kabel yang dipakai untuk saluran telepon dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Kabel udara.
Kabel ini dinamakan demi-kian karena memang dalam pemasangannya berada di atas tanah (udara) atau dipasang pada tiang.
Gambar 5.31. Urat-urat kabel udara
b. Kabel tanah
Kabel ini ditanam langsung bawah tanah. Pemasang- annya tanah digali untuk tempat kabel ditanam.
Gambar 5.32. Kabel tanah tanam langsung
Selain kabel ditanam langsung dalam tanah, ada cara lain untuk menempatkan kabel tersebut, yaitu dengan dimasukkan pada duct.
Duct adalah kumpulan dari beberapa polongan-polongnan pipa (biasanya paralon) yang dicor dengan dengan semen. Arah memanjang merupakan jalur dan setiap jarak tertentu diberi ruangan
manhole. Ruangan ini adalah sebagai tempat kerja.
Gambar 5.33. Jalur duct dengan manhole
Berikut ini adalah gambar penampang manhole yang dipakai sebagai tempat untuk memasukkan kabel, mem-perbaiki, memasang dan seba-gainya. Orang yang bekerja masuk dalam
manole tersebut. Apabila pekerjaan terkait dengan kabel telah selesai, maka manole ditutup dengan beton yang cor pula.
Gambar 5.34. Penampang duct dengan 6 polongan
Sebagai ruang kerja, manhole harus cukup longgar untuk ukuran manusia normal. Gambar di bawah ini merupakan penampang manhole.
Gambar 5.35. Penampang manhole
5.12.3. Menentukan Daerah/Blok
Dalam menentukan da- erah penarikan kabel telepon, baik yang lewat udara maupun akan di tanam di bawah tanah, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Daerah catuan langsung, ini merupakan area yang ber- dekatan sekali disekitar sentral telepon. Apabila ter-jangkau, maka dapat dicatu langsung. b. Daerah dekat rumah kabel c. Daerah dekat dengan titik
pembagi
d. Daerah sentral lokal, antara sentral sat dengan yang lain e. Wilayah sekitar perkotaan
yang potensial sebagai peng- guna jasa teleko-munikasi.
5.12.4. Pekerjaan Instalasi Kabel Udara
Pekerjaan instalasi kabel udara adalah pekerjaan mema- sang kabel telepon sebagai kabel sekender pada tiang-tiang telepon untuk daerah perkotaan. Pada daerah yang tidak padat dan berdekatan dengan sentral telepon, kabel ini merupakan kabel dengan catuan langsung yang ditarik dari sentral ke titik pembagi.
Kabel udara diinstalasi sebagai jaringan pada daerah yang banyak rumah dan gedung dengan letak yang cukup jauh. Hal ini dilakukan karena penanaman kabel tanah secara permanen belum dapat dilakukan.
Tahapan-tahapan peker- jaan instalasi kabel udara dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Tahapan penanaman tiang dan pemasangan temberang (se- macam kawat penarik).
b. Tahapan pemasangan alat-alat bantu, seperti klem-klem dan komponen lainnya.
c. Tahapan menggelar kabel udara dan membentangkan, serta mengatur kelenturannya. Dalam hal ini perlu dijaga kondisi kabel agar secara fisik dan sifat-sifat elektriknya tidak terganggu.
d. Tahapan penyambungan, ini dilakukan apabila ada kabel yang perlu disambung.
e. Tahapan terakhir adalah ter- minasi ujung urat-urat kabel. Terminasi dilakukan pada klem terminal seperti pada titik
pembagi yang ada di gedung- gedung atau tiang telepon.
5.12.5. Persiapan Alat Perkakas
Sebelum pelaksanaan pemasangan atau penarikan kabel udara, yang perlu dipersiapkan dengan baik adalah perlengkapan- perlengkapan berikut ini.
a. Rol kabel udara, rol ini dipasang pada tiap jarak di mana rencana penarikan akan dilakukan.
b. Tali penarik/tambang dengan diameter 0,5” dengan panjang 60-70 meter, diusahakan pada tali tidak boleh ada sambungan karena dimungkinkan akan menghambat pada putaran dan aluran rol.
c. Katrol penarik, alat ini diper- lukan untuk menambah kekuatan daya tarik pada saat dilakukan pekerjaan penarikan kabel udara. Perlu diperhatikan pula adalah bagaimana kabel itu akan ditarik dari atas ataukah dari bawah.
d. Dongkrak untuk meng-angkat gelondong kabel. Hal ini dila- kukan agar kabel dapat terangkat kurang lebih 20 cm di atas permukaan tanah. e. Alat anti pulir, alat ini berfungsi
untuk menyerap puliran yang tidak beraturan. Seperti dike- tahui bahwa kabel yang ditarik akan terpulir, maka ini akan mempengaruhi bentuk fisik yang akibatnya bisa berdampak pada perubahan sifat elektrik. Untuk itu puntiran kabel harus diatasi.
5.12.6. Pelaksanaan Penarikan
Pekerjaan ini adalah peker-jaan yang membutuhkan kehati-hatian dan kecermatan. Untuk itu yang harus diperhatikan yaitu :
a. Pada saat penarikan di- lakukan, pengawas lapangan bertanggung jawab penuh. Setiap perintah yang diberikan harus diperhatikan dan tepat pelaksanaannya. b. Setiap putaran rol pelicin
harus diperhatikan, agar penarikan kabel menjadi ringan.
c. Penarikan pada tikungan tajam dilakukan dengan mengambil jalur arah tarik di mana panjang kabel pada tiang-tiang lebih terlihat. d. Kelenturan kabel perlu dijaga
sekitar 2% dari jarak gawang.
e. Penarikan pada tikungan harus diperhatikan putaran rol pelicinnya, bila meleset penarikan dihentikan dan segera membetulkan letak kabel.
Ada kalanya kabel yang kurang panjang disambung. Untuk itu perlu dilakukan penyambungan. Alat atau perkakas untuk pelak-sanaan penyambungan yang diperlukan adalah :
a. Meteran
b. Pisau pemotong / pembelah kulit kabel
c. Pengupas isolasi urat kabel d. Knip tang
e. Kombinasi tang f. Crimping tool g. Gergaji besi h. Alat las sederhana
i. Kunci pas (wrench) j.