• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi kebudayaan Jawa masa Hindu-Budha terlihat dalam satu tradisi yaitu ziarah. Menurut Mumfangati (2007: 152) ziarah makam merupakan satu dari sekian tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Ziarah kubur yang dilakukan masyarakat Jawa ke makam keramat merupakan ajaran Hindu-Budha. Candi sebagai salah satu tempat keramat bagi pemeluk Hindu-Budha merupakan tempat ziarah yang selalu dikunjungi pada hari-hari atau peristiwa tertentu. Candi tak ubahnya makam, merupakan tempat persemayaman raja pada masa lampau.

Di sisi lain, Bayuadhy (2015: 97) menjelaskan pada awalnya ziarah adalah tradisi Hindu-Budha. Kemudian sejak abad ke-15, Wali Sanga menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwah agar agama Islam mudah diterima oleh masyarakat. Para Wali berusaha meluruskan kepercayaan masyarakat Jawa yang waktu itu memuja roh. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para Wali tidak menghapus tradisi tersebut. Para Wali mengisi kegiatan ziarah sesuai ajaran agama Islam, yaitu membaca ayat suci Al-Qur‟an, tahli, dan doa.

Berkaitan dengan hal tersebut, Koentjaraningrat (1984: 363) menjelaskan ziarah atau nyekar merupakan aktivitas yang penting dalam sistem keyakinan agami Jawi. Makam dikunjugi untuk memohon doa restu (pangestu) kepada nenek moyang, terutama jika seseorang mengalamin tugas berat, akan bepergian jauh, atau jika ada

44

keinginan yang besar untuk memperoleh suatu hal. Masyarakat Jawa melakukan ziarah sebagai wujud bakti dan percaya pada keberadaan roh leluhur. Penghormatan tersebut dilakukan dengan mengunjungi makam dan memberi sesaji yaitu kembang tujuh rupa, dan kemenyan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan ziarah merupakan aktivitas yang lahir dari ajaran Hindu-Budha. Pada masa itu, masyarakat menganggap raja, leluhur, maupun tokoh-tokoh tertentu sebagai titisan dewa. Oleh sebab itu, makamnya senantiasa mereka kunjungi untuk memohon keberkahan. Raja dan leluhur diyakini memberikan keberkahan dan kesejahterahan hidup kepada masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan roh diwujudkan melalui aktivitas ziarah.

c. Jenis Konstruksi Mitos Masyarakat Jawa

Menurut Koentjaraningrat (1984: 319 dan 340) jenis konstruksi mitos masyarakat Jawa dibagi menjadi dua. Dua konstruksi tersebut diuraikan dalam penjelasan berikut:

1) Konstruksi Sistem Keyakinan Agami Jawi

Konstruksi sistem keyakinan agami Jawi terlihat dalam dua mitos yaitu mitos kasekten, dan roh Dhanyang desa. Menurut Koentjaraningrat (1984: 319) dalam sistem keyakinan agami Jawi terdapat konsep, pandangan, dan nilai seperti yakin adanya kasekten atau kesaktian dalam tubuh manusia dan benda. Sistem keyakinan agami Jawi merupakan kompleks Hindu-Budha, serta animisme dan dinamisme yang diakui masyarakat Jawa sebagai agama Islam. Orang Jawa menganggap kesaktian sebagai energi yang kuat dan dapat mengeluarkan panas atau cahaya. Kesaktian dapat beradi di bagian tertentu tubuh manusia, seperti mata, tangan, kaki, telinga, dan bibir.

45

Masyarakat Jawa juga berkeyakinan bahwa kesaktian terdapat dalam benda seperti keris, jimat, tombak, dan bendera.

Sementara itu, Bayuadhy (2015: 124) menjelaskan benda-benda pusaka yang diyakini masyarakat Jawa memiliki kesaktian dipengaruhi oleh religi agama Kejawen. Religi orang Kejawen banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan masa Hindu- Budha dan kepercayaan terhadap roh-roh. Benda pusaka digunakan oleh masyarakat Jawa sekitar abad ke-9 Masehi. Hal itu dapat dilihat disalah satu relief candi Borobudur yang memperlihatkan seseorang memegang benda pusaka menyerupai keris. Selain itu, ada dugaan keris dianggap sebagai benda suci. Oleh sebab itu benda pusaka tidak hanya digunakan dalam peperangan, tetapi juga dalam perlengkapan sesaji.

Di sisi lain, Suyono (2007: 76) menjelaskan meskipun sejak 1426 agama Islam telah masuk ke pulau Jawa, namun hingga sekarang penduduk Jawa masih memuja benda-benda. Pemujaan itu merupakan ajaran warisan dari nenek moyang mereka, yang diikuti secara sadar maupun tidak. Dengan bantuan mantra-mantra, benda hidup atau mati dapat diisi dengan roh yang baik atau jahat. Dengan cara ini, seseorang dapat mencapai kehendaknya, tetapi juga dapat mencelakakan musuh-musuhnya. Terdapat benda-benda yang diyakini mengandung roh dan patut dihormati. Pemujaan terhadap benda yang dimiliki seseorang, penghormatan tersebut ditujukan kepada benda itu sendiri.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan mitos atau cerita tentang kasekten yang terdapat dalam tubuh manusia maupun benda dilatarbelakangi oleh sistem keyakinan agami Jawi. Dalam sistem keyakinan agami Jawi terdapat

46

kepercayaan terhadap kasekten. Oleh sebab itu, masyarakat Kejawen berburu benda tersebut untuk dijadikan jimat atau pegangan hidup. Jimat dapat diperoleh dari tempat-tempat keramat seperti gua, dan makam. Jimat diyakini membawa keberuntungan bagi manusia dan dapat menjauhkan dari gangguan roh jahat.

Di sisi lain, menurut Koentjaraningrat (1984: 338) sistem keyakinan agami Jawi mengenal roh jahat dan roh baik. Roh halus yang berkeliaran di desa dianggap sebagai leluhur, sehingga dipuja dan dihormati oleh penduduk desa. Sitem keyakinan agami Jawi mengenal roh yang bukan kerabat yaitu Dhanyang, Bahureksa, dan Widadari. Roh tersebut dipercaya sebagai roh baik yang menjaga kelestarian desa. Dalam menghormati roh tersebut, masyarakat Jawa memberikan sesaji di tempat- tempat tertentu seperti makam, pohon besar, dan batu besar yang dianggap wingit.

Sementara itu, Suyono (2007: 97) menjelaskan di Jawa orang animis atau Tiang Pasek memiliki kepercayaan sendiri mengenai roh dan kehidupan sesudah mati. Gambaran ini diperoleh dari tulisan kuno dalam kitab Kadilangu dan keterangan dari- babad-babad Jawa. Jiwa atau roh manusia secara keseluruhan menjadi satu badan astral manusia atau Kama Rupa, yang berbarti tubuh yang diinginkan. Bayangan mereka disebut leluhur. Bayangan ini akan memilih tempat kediaman, kemudian menjaga seluruh penduduk desa. Mereka menjadi Dhanyang atau roh penjaga desa karena penduduk desa memiliki sifat dan watak yang hampir sama dengannya.

Sejalan dengan Suyono, Budiyanto (2008: 654) menjelaskan sistem keyakinan masyarakat Kejawen percaya terhadap roh leluhur. Hal tersebut disebabkan, sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu dan Budha, kepercayaan animisme dan dinamisme telah mengakar di kalangan masyarakat Jawa. Karena itu dengan

47

datangnya Islam, terjadi pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan kepercayaan- kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akhirnya munculan kemudian golongan Islam Abangan dan Islam Santri.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan mitos atau cerita roh penjaga desa (Dhanyang) dilatarbelakangi oleh sistem keyakinan agami Jawi. Sistem keyakinan agami Jawi merupakan agama Islam yang mendapat pengaruh dari ajaran Hindu- Budha, serta animisme dan dinamisme. Ajaran tersebut, belum dapat ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, karena berasal dari peninggalan nenek moyang. Sistem kepercayaan mereka melahirkan cerita tentang roh baik yang menjaga desa, dan dipercaya sebagai fakta.

2) Konstruksi Kebudayaan Jawa Pra Hindu-Budha

Konstruksi kebudayaan Jawa pra Hindu-Budha ditemukan dalam satu mitos yaitu mitos kekuatan sesajen. Menurut Suyono (2007: 131) salah satu fenomena yang lahir dari kepercayaan Tuhan, dewa-dewa, atau hantu-hantu adalah pemberikan sesaji. Sesaji diyakini memiliki kekuatan yang dapat memberikan pengaruh positif dalam diri manusia. Sesaji yang dianggap istimewa oleh masyarakat Jawa mungkin tidak dianggap istimewa oleh masyarakat Jawa yang lain. Pada masa pra Hindu-Budha, sesaji atau sesajen digunakan oleh masyarakat Jawa sebagai pelengkap dalam berdoa maupun menggelar upacara adat.

Di sisi lain, Koentjaraningrat (1984: 365) pada zaman pra Hindu-Budha sesaji serba mentah disajikan untuk roh leluhur yang menjaga suatu tempat. Sesaji diletakkan pada tempat yang dianggap menjadi tempat tinggal para leluhur agal dan halus. Leluhur agal adalah sebangsa bekasakan, wewe, gendruwo, dan sebagainya.

48

Sedangkan leluhur halus adalah nenek moyang yang menurunkan kita semua. Hal tersebut dimaksudkan agar kehidupan manusia di dunia, dijauhkan dari gangguan leluhur agal atau roh jahat.

Sejalan dengan Warpani, Bayuadhy (2015: 182) menjelaskan sesajen merupakan benda yang diperebutkan masyarakat Jawa karena dianggap memiliki kekuatan. Sesaji yang digunakan setelah berdoa dan menggelar upacara adat diperebutkan karena dapat mendatangkan keberkahan. Sesaji juga dapat dijadikan pengasih untuk memikat orang lain. Pada zaman dahulu, pengasih meryupakan andalan atau alternatif terakhir jika seseorang mempunyai kehendak yang terhalang atau ditolak jika diusahakan dengan cara normal.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan mitos atau cerita tentang kekuatan sesajen dilatarbelakangi oleh kebudayaan Jawa pra Hindu-Budha. Pada awalnya sesaji merupakan sarana dan pelengkap dalam ritual adat. Kepercayaan masyarakat terhadap roh halus yang telah memberkati sesaji, menumpuhkan cerita kekuatan di dalamnya. Kekuatan yang terdapat dalam sesaji diyakini masyarakat dapat mendatangkan keberuntungan. Oleh sebab itu, masyarakat memperebutkan sesaji yang terdapat dalam upacara adat untuk mendukung kepentingannya.

Dokumen terkait