8
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hasil Penelitian yang Relevan
1. Penelitian dengan judul Mitos-Mitos dalam Lengger pada Naskah Drama “Sulasih Sulandana Karya Widiyono” (Kajian Antropologi Sastra) oleh Fajar Sukron Said
Penelitian tersebut ditulis oleh Fajar Sukron Said selaku mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pada tahun 2014, Fajar Sukron Said meneliti mitos-mitos dalam Lengger dan mendeskripsikan representasi mitos Lengger yang terdapat dalam naskah drama, dan dianalisis dengan menggunakan teori antropologi sastra. Hasil penelitian Fajar Sukron Said ialah mitos-mitos Lengger pada naskah drama Sulasih Sulandana karya Widiyono antara lain: (1) Mitos ritual dan syarat khusus dalam lengger yaitu mengenai ritual khusus yang harus dijalankan oleh para penari lengger. (2) Mitos seks yaitu mengenai pandangan masyarakat terhadap kesenian Lengger yang identik dengan seks. (3) Mitos kekuatan gaib atau mitos roh bidadari yaitu mempercayai adanya roh bidadari yang masuk ke tubuh penari.
9
2. Penelitian dengan judul Tradisi “Suran Masyarakat Jawa” Analisi Perbandingan Antara Wilayah Surakarta dengan Wonosobo oleh Nurshodiq
Penelitian tersebut ditulis tahun 2008 oleh Nurshodiq mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Hasil penelitiannya ialah persamaan dan perbedaan antara tradisi Suran di Surakarta dan Wonosobo. Perbedaan yang kental terlihat pada media dan prosesi upacara adat, juga antusiasme masyarakat. Suran merupakan tradisi yang secara turun-temurun dilakukan masyarakat Jawa. Hampir setiap daerah di pulau Jawa melakukan tradisi tersebut meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Tradisi Suran yang dilakukan oleh masyarakat memiliki perbedaan yang tipis, namun tujuan dilaksanakan tradisi tetap sama yaitu sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
10
3. Penelitian dengan Judul Analisis Pengingkaran Mitos pada Novel “Anak Bajang Menggiring Angin Karya Sindhunata dan Novel Barata Yudha Karya Sunardi D.M” oleh Yeni Triyanti
Penelitian tersebut ditulis oleh Yeni Triyanti selaku mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada tahun 2006. Hasil skripsi tersebut meliputi: (1) Asal mitos yang diangkat dalam novel Anak Bajang Menggiring Angin yaitu mitos Ramayana. Mitos yang diangkat ke dalam novel Barata Yudha yaitu mitos Mahabarata. Mitos Ramayana dan Mahabarata tersebut telah diadaptasi menjadi wayang Jawa. (2) Pengingkaran mitos pada novel Anak Bajang Menggiring Angin diwujudkan dengan mengingkari mitos asalnya yaitu berupa alur Kiskendakanda dan alur Sundarakanda serta dengan menampilkan ending yang bersifat terbuka. Novel Barata Yudha diwujudkan dengan mencampuradukkan alur Adiparwa dengan cerita mitos asalnya. (3) Pengingkaran mitos pada novel Anak Bajang Menggiring Angin lebih intensif dari pada pengingkaran pada novel Barata Yudha.
11
B. Landasan Teori 1. Cerpen
Menurut Sayuti (2000: 8) secara spesifik, istilah cerpen biasanya diterapkan pada prosa fiksi yang panjangnya antara seribu sampai lima ribu kata, sedangkan novel umumnya berisi empat puluh lima ribu kata atau lebih. Sebuah cerita pendek bukanlah sebuah novel yang dipendek-pendekan dan juga bukan bagian dari novel yang belum dituliskan. Di samping itu, menurut Ratna (2013: 88) sesuai dengan namanya cerita pendek atau short story, adalah suatu cerita yang terdiri atas sejumlah halaman (5-50 halaman). Sesuai dengan medium yang tersedia, cerpen menyajikan sebagian kecil kehidupan manusia tetapi dikemas sedemikian rupa sehingga tetap memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai makna kehidupan tersebut.
12
Menurut Sayuti (2000: 9-10) kualitas watak tokoh dalam cerpen jarang dikembangkan secara penuh karena pengembangan semacam itu membutuhkan waktu, sementara pengarang sendiri sering kurang memiliki kesempatan untuk itu. Tokoh dalam cerpen bisanya langsung ditunjukkan karakternya. Artinya, hanya ditunjukkan tahapan tertentu perkembangan karakter tokohnya. Karakter dalam cerpen merupakan hasil “pengembangan”. Selanjutnya, dimensi waktu dalam cerpen juga cenderung terbatas walaupun dijumpai pula cerpen-cerpen yang menunjukkan dimensi waktu yang relatif luas. Ringkasan cerpen menunjukan kualitas yang bersifat compression „pemadatan‟, conceration „pemusatan‟, dan intensity „pendalaman‟ yang
semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu.
13
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan salah satu jenis prosa fiksi, memiliki satu tema dan satu konflik yang membentuk ide cerita. Cerpen merangkum cerita kehidupan manusia yang bersifat fiktif secara singkat. Peristiwa, dan setting dalam cerpen digambarkan secara singkat namun padat, tidak secara detail. Selain itu, tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam cerpen cenderung tokoh bulat bukan kompleks. Di dalam cerpen yang pendek adalah jenisnya namun, kualitas kejadian maupun peristiwa dengan sendirinya menyesuaikan plot.
2. Tradisi Masyarakat Jawa
a. Pengertian Tradisi Masyarakat Jawa
Menurut Langlois (dalam Liliweri, 2014: 97) kata “tradisi” berasal dari bahasa Latin tradere atau traderer yang secara harfiah berarti mengirimkan, menyerahkan, memberi untuk diamankan. Tradisi adalah suatu ide, keyakinan, atau perilaku dari suatu masa yang lalu yang diturunkan secara simbolis dengan makna tertentu kepada suatu kelompok atau masyarakat. Karena itu makna “tradisi” merupakan sesuatu yang dapat bertahan dan berkembang selama ribuan tahun, sering kali tradisi diasosiasikan sebagai sesuatu yang mengandung atau memiliki sejarah kuno.
14
Menurut Douglas (dalam Liliweri, 2014: 99) ada beberapa aspek yang berkaitan dengan tradisi, seperti; (1) bentuk warisan seni budaya tertentu, (2) kebiasaan atau bahkan kepercayaan yang dilembagakan dan dikelola oleh masyarakat dan pemerintah, misalnya lagu-lagu daerah atau lagu-lagu nasional, hari libur nasional, dan (3) kebiasaan atau kepercayaan bahkan “tubuh ajaran” yang dilembagakan dan dikelola oleh kelompok-kelompok agama, badan-badan gereja yang semuanya dibagikan kepada pihak lain. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan tradisi adalah aktivitas yang mengandung nilai-nilai luhur dan berasal dari nenek moyang, diyakini serta dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Menurut Warsito (2012: 98) masyarakat Jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. Secara geografis, suku bangsa Jawa mendiami tanah Jawa yang meliputi wilayah Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, serta Kediri dan sebagainya. Pernyataan ini sangat relevan dengan yang disampaikan oleh Clifford Geertz bahwa daerah kebudayaan Jawa itu luas, yaitu meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari pulau Jawa. Sungguhpun demikian ada daerah-daerah yang secara kolektif sering disebut daerah Kejawen.
15
tinggal, seperti membangun gedung untuk berbagai keperluan, membangun dan meresmikan rumah tempat tinggal, pindah rumah dan sebagainya. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan masyarakat Jawa adalah kelompok etnis yang tinggal di wilayah Jawa bagian Tengah dan Timur, mempunyai kebudayaan yang khas.
Dinyatakan oleh Nurshodiq (2008: 12) upacara tradisi banyak dilakukan masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. Wilayah Jawa dari perspektif lingkungan budaya terbagi menjadi beberapa daerah budaya. Masing-masing daerah budaya menghasilkan upacara tradisinya sendiri, yang kadang-kadang memiliki pola yang sama, namun juga memiliki pola yang berbeda. Upacara tradisi yang diselenggarakan masyarakat mencerminkan identitas masyarakat tersebut.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi masyarakat Jawa adalah aktivitas yang mengandung nilai-nilai luhur, berasal dari nenek moyang diyakini dan dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Tradisi masyarakat Jawa merupakan wujud kebudayaan aktivitas yang masih dipertahankan oleh masyarakat. Masyarakat Jawa meyakini bahwa menjalankan tradisi merupakan bukti hormat kepada leluhur. Masyarakat Jawa cenderung mempertahankan tradisinya, meskipun hidup di tengah kemajuan zaman. Di sisi lain, masyarkat Jawa juga menganggap tradisi sebagai media atau perantara menjaga hubungan baik dengan leluhur.
b. Macam-Macam Tradisi Masyarakat Jawa
16
1) Tradisi Ziarah
Dalam masyarakat Jawa, ziarah disebut sebagai nyadran. Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sraddha yang berarti keyakinan. Ketika nyadran, masyarakat di pedesaan membersihkan makam. Selain itu, masyarakat juga melakukan tabur bunga dan mendoakan leluhur masing-masing agar mendapatkan tempat yang kepenak (baik) di sisi Tuhan. Masyarakat yang nyadran biasanya berdoa untuk kakek, nenek, bapak, ibu, atau saudara yang telah meninggal dunia. Nyadran dapat menghubungkan antara manusia hidup dengan yang telah meninggal, mengingatkan manusia kepada Tuhan, dan mengingatkan manusia pada kematian (Bayuadhy, 2015: 97-100).
Sementara itu, Mumfangati (2007: 1) menjelaskan ziarah makan merupakan satu dari sekian banyak tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat Jawa. Berbagai maksud dan tujuan maupun motivasi selalu menyertai aktivitas ziarah. Banyak orang beranggapan bahwa dengan berziarah ke makam leluhur atau tokoh-tokoh magis dapat menimbulkan pengaruh tertentu. Kisah keunggulan tokoh-tokoh yang dimakamkan merupakan daya tarik bagi masyarakat untuk mewujudkan keinginannya. Bagi masyarakat Jawa, ziarah secara umum dilakukan pada pertengahan sampai akhir bulan Ruwah menjelang Ramadhan. Pada saat itu masyarakat biasanya secara bersama-sama satu dusun atau satu desa maupun perorangan dengan keluarga terdekat melakukan tradisi ziarah ke makam leluhur. Kegiatan ziarah ini secara umum disebut nyadran.
17
suci dipakai untuk memberikan sesaji di kuburan-kuburan keluarga yang dihormati. Selain berziarah, pada hari itu orang juga mengunjungi tempat-tempat keramat untuk meletakkan sesaji.
Menurut Bayuadhy (2015: 98) pelaksanaan nyadran dilakukan dengan beberapa tahap meliputi: (1) Menyelenggarakan kenduri dengan pembacaan ayat Al-Qur‟an, dzikir, tahlil, dan doa. Acara ini dilanjutkan dengan makan bersama. (2)
Melakukan bersih-bersih makam leluhur dari dedaunan kering dan rerumputan. (3) Melakukan ziarah kubur disertai dengan membakar kemenyan, menabur bunga, dan doa kepada arwah yang telah meninggal.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, nyadran atau ziarah adalah aktivitas mengunjungi makam kerabat maupun leluhur, dalam rangka berdoa dan menjaga hubungan baik dengan arwah mereka. Aktivitas yang dilakukan masyarakat Jawa pada saat berziarah meliputi membersihkan makam, berdoa, mambakar kemenyan, dan menabur bunga tiga rupa. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa menjaga hubungan baik tidak hanya dilakukan dengan sesama manusia. Akan tetapi, hubungan baik dengan leluhur yang telah meninggalpun harus dijaga. Hal tersebut dilakukan, untuk memperoleh keseimbangan hidup. Aktivitas mengunjungi makam, secara terus-menerus dilakukan oleh masyarakat Jawa hingga menjadi tradisi yang luhur.
2) Tradisi Upacara Pernikahan Adat Jawa
18
Yang Maha Esa. Di sisi lain, Suyono (2007: 134-135) menjelaskan upacara perkawinan merupakan upacara yang sangat penting bagi orang Jawa. Upacara ini bukan sekedar pesta, namun melewati serangkaian upacara yang cukup rumit. Agar upacara berjalan mulus dan maksudnya dapat tercapai, orang Jawa memberi sesaji pada kekuatan yang tidak tampak. Selamatan pada malam hari sebelum pernikahan, atau pada malam hari sebelum upacara pemberian sasrahan (pemberian mahar) ditujukan untuk mendapat keberuntungan bagi kedua pengantin.
Menurut Bayuadhy (2015: 59) dalam tradisi Jawa, terdapat upacara-upacara yang harus dilalui sepasang pengantin sejak sebelum melaksanakan upacara pernikahan adat Jawa sampai usai upacara. Upacara tersebut meliputi: (1) Tahap menjelang pernikahan yaitu: a) menghitung weton, mangsa, dan posisi anak dalam sebuah keluarga, b) nontoni yaitu suatu upaya dari pihak laki-laki untuk mengenal calon pengantin perempuan, c) nglamar atau melamar yang dilakukan oleh pihak laki-laki untuk memohon izin ke pihak perempuan, d) peningsetan yaitu acara tukar cicin untuk mengikat kedua calon mempelai sebelum melakukan pernikahan, e) gethak dina yaitu menentukan hari pernikahan berdasarkan penanggalan Jawa.
19
ikatan daun sirih, c) bukak kawah dilakukan jika seorang ayah pertama kali menikahkan anak perempuannya. Ayah dari pengantin wanita meminum rujak kelapa muda, dan ibu pengantin wanita menanyakan rasa rujak tersebut.
Dinyatakan oleh Purwadi (2005: 167) upacara-upacara perkawinan yang sebenarnya, melambangkan persatuan antara suami dan istri. Anak dara dan mempelai laki-laki makan nasi dengan piring yang sama bersama-sama, mengunyah kapur sirih yang sama dan lain sebagainya. Pada umumnya, upaara perkawinan ini dilangsungkan kalau telah mendapat perhitungan hari oleh pihak gadis berdasarkan perhitungan kelahiran (neptu, Jawa) nilai nama dari kedua calon mempelai dan lain sebagainya. Kemudian hal tersebut diberitahukan kepada kerabat atau keluarga laki-laki dengan berganti pihak gadis datang berkunjung kepada keluarga laki-laki.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan upacara pernikahan adat Jawa adalah upacara penyatuan dua insan manusia sebagai suami istri yang sah dimata agama maupun secara adat. Upacara pernikahan adat Jawa diselenggarakan sesuai dengan adat kebiasaan masing-masing daerah. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa peristiwa pernikahan merupakan hajat yang sangat penting. Oleh sebab itu, setiap tahapan yang ada di dalamnya tidak bisa disepelekan. Pada dasarnya upacara pernikahan adat Jawa yang digelar dengan berbagai acara, bertujuan untuk memohon keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa.
3) Tradisi Bersih Desa
20
desa dilaksanakan oleh masyarakat petani secara serentak setelah panen. Dalam perkembangannya, pelaksanaan bersih desa tidak selalu setelah panen padi. Upacara bersih desa merupakan upacara yang dilaksanakan untuk melakukan pembersihan atau penyucian. Beberapa hari sebelum upacara atau ritual bersih desa dimulai, masyarakat sudah bersih-bersih secara gotong royong. Berbagai tempat di wilayah desa atau kampung dibersihkan antara lain, makam, masjid, halaman rumah, dan jalan-jalan yang jarang dilewati orang. Hal ini dimaksudkan agar keadaan kampung atau desa tampak bersih.
Di sisi lain, Koentjaraningrat (1984: 374-375) menjelaskan bersih desa dilakukan sekali dalam setahun, yaitu biasanya pada bulan Sela yakni bulan ke sebelas dalam penanggalan Jawa. Walaupun demikian, tanggal yang dilakukan berbeda-beda di setiap desa. Dalam kegiatan bersih desa, seluruh masyarakat membersihkan diri dari kejahatan, dosa, dan segala yang menyebabkan kesengsaraan. Hal tersebut, tercermin dalam berbagai aspek yang mengandung unsur simbolik. Akan tetapi, perayaan ini juga mengandung sisa-sisa adat penghormatan terhadap roh nenek moyang.
21
Bayuadhy (2015: 87) menjelaskan, rangkaian upacara bersih desa terdiri dari; (1) Kerja bakti masal untuk membersihkan seluruh wilayah, kemudian diselenggarakan kenduri bersama yang diikuti oleh seluruh warga desa. Kenduri bersama ini biasanya digelar di tempat umum, misalnya halaman masjid dan balai desa. Masyarakat membawa perlengkapan kenduri masing-masing berupa nasi dan lauk-pauk. (2) Ritual atau upacara bersih desa dimulai dengan dipimpin oleh tokoh masyarakat, misalnya modin (toloh agama). Pemimpin upacara bersih desa membacakan doa, kemudian diikuti peserta kenduri. Setelah doa selesai kenduri di- bawa pulang kembali oleh masing-masing individu. (3) Pada malam harinya di desa tersebut digelar hiburan untuk masyarakat luas. Hiburan di setiap daerah berbeda-beda mulai dari wayang kulit, tarian seblang, dan ketoprak.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bersih desa merupakan aktivitas membersihkan desa secara bersama-sama, dengan menggelar slametan, membersihkan tempat keramat, dan menggelar seni pertunjukan. Dalam melakukan tradisi bersih desa, masyarakat bertujuan agar memperoleh keselamatan hidup. Masyarakat Jawa biasa menggelar tradisi bersih desa setelah masa panen padi selesai. Sebagai bentuk rasa syukur, masyarakat melakukan slametan dan menggelar seni pertunjukkan sebagai tontonan rakyat. Pada tiap daerah seni pertunjukan yang digelar dalam upacara bersih desa berbeda-beda.
Sementara itu, menurut Koentjaraningrat (1984: 344-371) tradisi masyarakat Jawa dibadi menjadi dua yaitu:
1) Tradisi Upacara Slametan
22
orang Jawa pada umumnya. Suatu upacara slametan biasanya diadakan di rumah suatu keluarga, dan dihadiri oleh anggota-anggota keluarga. Slametan biasa dilakukan oleh penganut agama Hindu-Budha dengan menyelenggarakan berbagai ritual. Slametan dilakukan untuk mendapatkan keselamatan hidup. Upacara biasanya diadakan pada malam hari, dan bertempat di serambi rumah depan. Di sisi lain, Koentjaraningrat (1999: 347) juga menjelaskan selamatan adalah suatu upacara makan bersama makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Selamatan itu tidak terpisahkan dari pandangan alam pikiran partisipasi tersebut di atas, dan erat hubungannya dengan kepercayaan kepada unsur-unsur kekuatan sakti maupun mahluk-mahluk halus tadi.
Slametan diadakan dalam hampir semua kesempatan yang mempunyai arti ritual bagi orang Jawa, misalnya kehamilan, kelahiran, penyunatan, perkawinan, dan sebagainya. Upacara slametan juga dilakukan untuk mencegah penyakit, guna-guna, atau kemalingan. Namun, walaupun seluk-beluk upacara itu berbeda-beda, yaitu persiapan makanan, pembacaan doa, serta kegiatan simbolis dan sarana-sarana yang berhubungan dengan itu, namun bentuk dan tujuan umum dari slemetan tidak berubah. Slametan adalah suatu pesta bersama yang bersifat sakral. Pesta tersebut diadakan bersama tetangga-tetangga untuk menjamin adanya keselamatan (slamet), umum bagi mereka yang ikut serta dalam upacara tersebut, khususnya yang mengadakan upacara itu lain (Colleta, 1987: 58).
23
kehidupan di pedusunan Jawa. Bahkan ada yang meyakini bahwa slametan merupakan syarat spiritual yang wajib dan jika dilanggar akan mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan (Purwadi, 2005: 22).
Menurut Koentjaraningrat (1984: 347) upacara slametan digolongkan menjadi dua yaitu: (1) Slametan yang bersifat keramat adalah upacara slametan yang dapat menggetarkan emosi orang-orang yang menyelenggarakan. Keputusan mengadakan upacara slametan yang keramat biasanya diambil berdasarkan keyakinan keagamaan yang murni dan adanya suatu perasaan khawatir terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. (2) Slametan yang bersifat keagamaan adalah upacara yang tidak menimbulkan getaran emosi keagamaan pada orang-orang yang menyelenggarakannya. Upacara slametan semacam ini diselenggarakan hanya untuk menjaga solidaritas sosial dan menciptakan suasana damai antar sesama.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan slametan adalah upacara tradisi yang bertujuan untuk memohon keselamatan, menjaga kerukunan, dan dijauhkan dari elemen-elemen negatif. Upacara slametan yang dilakukan masyarakat Jawa ditempuh dengan ritual. Oleh sebab itu, perlengkapan yang digunakan dalam upacara slametan bersifat kompleks. Misalnya sesaji yang terdiri dari bunga tujuh rupa, tiga warna, dan makanan yang siap dibagikan kepada masyarakat. Dalam upacara slametan yang digelar masyarakat Jawa beracuan pada tujuan dan harapannya.
2) Tradisi Puasa Jawa
24
tidak wajib. Orang Jawa pada umumnya melakukan tirakat dengan mencari kesukaran, yang berakar dari pikiran bahwa usaha-usaha seperti itu dapat membuat orang teguh imannya. Tirakat kadang-kadang dijalankan dengan berpantangan makan selain nasi putih saja (mutih). Selain itu, orang Jawa juga melakukan adat yaitu makan dengan porsi sedikit (ngepel). Orang Jawa juga yang berpuasa dengan cara masuk ke dalam ruangan yang gelap tidak ditembus oleh cahaya (pati geni).
Di sisi lain. Sugiyatno (2004: 2) menjelaskan dunia manusia Jawa kental dengan istilah tirakat. Sampai-sampai ada beragam jenis praktik laku tirakat (prihatin) yang biasa kita dengan dari aktivitas orang Jawa. puasa mutih, kungkum, pati geni, wunglon, topo mbisu. Bahkan, sebenarnya hal-hal yang tidak secara wajar bersifat
ritual simbolis, semisal nyantrik, menunda kesenangan, berpantang, serta mengendalikan akhlak dan perilaku, juga selalu dapat dimaknai sebagai laku prihatin. Seperti halnya idiologi, bagaimana pandangan hidup atau filosofi hidup orang Jawa sulit dijabarkan karena sifat dan bentuknya yang abstrak. Pandangan hidup barulah berupa ide, gagasan, cita-cita, pola pikir, paham, kepercayaan, atau kumpulan konsepyang dijadikan asas atau pedoman di dalam menentukan arah atau tujuan hidup, moral akhlak, serta perilaku seseorang.
25
nilai pandangan hidup yang mengalir dari situasi ke situasi serta mengakar cukup lama dan dalam di hati sanubari orang Jawa.Suka prihatin dan menjalani laku olah batin. Ada peribahasa yang secara eksplisit menyatakan hal ini, yaitu “wong Jowo gedhe tapane”. Orang Jawa memiliki semangat besar untuk bertapa atau laku prihatin,
seperti dianjurkan dalam ungkapan ; “cegah dahar lan guling” yang berarti melakukan banyak puasa dan jangan banyak tidur.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan tradisi puasa Jawa atau tirakat merupakan aktivitas memakan makanan tertentu, bertujuan untuk menahan hawa nafsu sehingga hajatnya dapat tercapai dengan baik. Puasa Jawa atau tirakat dilakukan masyarakat Jawa dengan berbagai cara sesuai dengan tujuannya. Puasa mutih, atau hanya memakan makanan yang berwarna putih dan tidak diberi penyedap rasa, bertujuan agar manusia menjadi pribadi yang sabar. Tirakat merupakan aktivitas yang identik dengan hal-hal magis. Oleh sebab itu, masyarakat berkeyakinan bahwa tirakat dapat membantu manusia memperoleh keinginannya.
3. Mitos Masyarakat Jawa a. Pengertian Mitos
26
sesuatu tidaklah diekspresikan pada waktu bersamaan: beberapa objek menjadi mangsa wicara mistis untuk sementara waktu, lalu sirna, yang lain menggeser tempatnya dan memperoleh status sebagai mitos (Barthes, 2006: 152-153).
Sementara itu, Ahimasa (2001: 80) mengemukakan bahwa mitos disampaikan melalui bahasa dan mengandung pesan-pesan. Pesan-pesan dalam sebuah mitos diketahui lewat proses penceritaannya, seperti halnya pesan-pesan yang disampaikan melalui bahasa diketahui dari pengucapannya. Di sisi lain, menurut Van Peursen (dalam Daeng, 2000: 81-82) mitos menyadarkan manusia akan adanya kekuatan-kekuatan ajaib. Melalui mitos manusia dibantu untuk dapat menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dan alam dan kehidupan sukunya. Mitos memberi jaminan masa kini, dalam arti dengan mementaskan atau menghadirkan kembali suatu peristiwa yang pernah terjadi dahulu, maka usaha serupa dijamin terjadi sekarang. Mitos juga berfungsi sebagai perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam; mitos memberi pengetahuan tetang dunia.
27
Melalui mitos pada masyarakat Jawa, kita akan mengetahui bahwa masyarakat Jawa lebih menyukai kisah dongeng daripada kisah faktual. Sekalipun demikian, kisah dongeng yang sulit dibuktikan kebenarannya di alam riil tersebut tetap mengandung ajaran positif bagi orang Jawa. Adapun ajaran positif yang terkandung di dalam mitos Jawa, yakni agar setiap manusia mampu menggunakan ilmu titen, yakni ilmu yang bersumber dari pengamatan atas kejadian berulang-ulang hingga menjadi mitos. Dengan ilmu itu, orang Jawa untuk selalu berhari-hati di dalam menjalankan kehidupan. Mitos memiliki ajaran positif bagi setiap manusia agar selalu meyakini bahwa di luar kekuatannya terdapat kekuatan lain yang bersifat magis (Achmad, 2014: 9-10).
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan mitos adalah cerita tentang asal-usul, kesaktian, roh, kekuatan benda yang bersifat irasional dan diyakini sebagai fakta di masyarakat. Cerita yang terdapat dalam mitos berkaitan dengan masa lalu atau masa kini bersifat menjelaskan fenomena budaya tertentu atau memberi pendidikan secara tidak langsung. Mitos tidak hanya berpusat pada cerita-cerita yang dianggap tabu oleh masyarakat. Di sisi lain, mitos juga berpusat pada cerita-cerita yang bersumber dari kesaktian, benda, dan kekuatan-kekuatan lain di luar nalar manusia. Mitos masyarakat Jawa lahir akibat pengaruh sistem keyakinan maupun religi yang mereka anut. Masyarakat golongan Abangan atau Kejawen merupakan masyarakat yang percaya terhadap keberdaan mitos di lingkungan sekitar.
b. Kepercayaan terhadap Mitos di Jawa
28
sendiri dapat diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan tentang kebenaran. Sebuah “sistem kepercayaan” merupakan organisasi dari nilai-nilai yang dihormati dan dijalankan sebagai bagian dari keyakinan kolektif dari suatu masyarakat atau budaya tertentu. Sementara itu, Liliweri (2014: 109) menjelaskan dalam makna dihormati dan dijalankan itulan “sistem kepercayaan” merupakan pedoman dan pemandu pikiran, kata-kata, dan tindakan individu atau kelompok yang mencoba menjelaskan dunia di sekitar kita.
Menurut Kailish (dalam Liliweri, 2014:110) sebuah sistem kepercayaan adalah kumpulan keyakinan yang saling mendukung sebagaimana yang dipegang oleh orang tersebut, dan kepercayaan merupakan apa yang disebut memiliki unsur subjektif dari budaya. Seperti kata Jonathan Glover (dalam Liliweri, 2014: 110) sistem kepercayaan adalah satu set kepercayaan yang bersistem dan bagian-bagianya saling mendukung.
Sejalan dengan Jonathan Glover, Purwadi (2005: 61) menyatakan seperti halnya di daerah Jawa pada umumnya penduduk mempunyai kepercayaan yang bersifat animistis dan dinamistis. Untuk menunjukkan kepercayaan animisme dan dinamisme ini, penduduk di Jawa masih pecaya adanya roh atau arwah yang meninggal dunia disebut leluhur. Konsep leluhur selalu ada dan hidup dalam alam pikiran mereka. Kadang-kadang mereka personifikasikan sebagai makhluk halus yang dianggap menempati alam sekitar tempat tinggal manusia dan selalu mengawasi tingkah laku mereka.
Suyono (2007: 75-76) mengemukakan di Jawa, rasa takut atau hormat terhadap benda “berjiwa” dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Pemujaan dapat dilakukan
29
diketahui apakah pemujaannya mengarah pada spiritisme atau fetisisme. Selain itu, ada juga orang yang memanfaatkan mantra atau berpuasa untuk mendapatkan tenaga alam sehingga dapat mendatangkan keselamatan atau menolak bala. Keyakinan terhadap kekuatan alam ini melahirkan perasaan tidak berdaya menghadapi alam. Oleh sebab itu bagi orang-orang Jawa semua kejadian dianggap sebagai keajaiban.
Lebih lanjut Purwadi (2005: 61-62) mengatakan bahwa mahluk halus disekitar tempat tinggal mereka dapat dikategorikan antara yang jahat, yaitu biasa mengganggu, dan yang baik, yaitu mahluk halus yang dianggap dapat membantu dan melindungi manusia dari gangguan gaib lainya. Untuk berhubungan dengan leluhur atau mahluk halus, dilakukan melalui seorang perantara yang disebut dhukun. Dhukun, sebagai perantara yang menghubungkan antara manusia dengan leluhurnya itu, mempunyai peranan yang cukup penting di dalam kehidupan keluarga atau masyarakat, misalnya dalam peristiwa-peristiwa yang menyangkut hidup seseorang (life cycle). Di samping kepercayaan yang animistis, penduduk juga masih mengenal kepercayaan dinamisme, yaitu kepercayaan tentang anggapan, bahwa benda-benda tertentu mempunyai kekuatan gaib.
30
tinggalnya, memberikan pendidikan moral terhadap masyarakat. Hal itulah yang mendasari masyarakat untuk tetap mempertahankan kepercayaannya terhadap mitos.
c. Macam-Macam Mitos Masyarakat Jawa
Menurut Koentjaraningrat (1984: 338-349) macam-macam mitos masyarakat Jawa dibagi menjadi tiga yaitu:
1) Mitos Kasekten
Menurut Koentjaraningrat (1984: 342) orang Jawa memuja benda-benda pusaka yang dianggap sakti dan mengandung kasekten. Benda-benda tersebut harus dijaga agar tetap keramat, dan karena itu harus diusahakan agar kekuatan sakti yang terkandung di dalamnya tidak terlalu banyak keluar. Kekuatan kasekten yang dianggap ada dalam benda-benda itu seringkali digunakan oleh para pemiliknya untuk menghalau penyakit dan malapetaka. Sementara itu, Marzuki (2011: 6) menjelaskan masyarakat Jawa mengenal kesaktian dalam tubuh manusia maupun benda. Biasanya orang yang dianggap keramat adalah para tokoh yang banyak bersaja pada masyarakat. Sedang benda yang sering dikeramatkan adalah pusaka peninggalan dan makam-makam leluhur. Kedua hal itu memiliki kesaktian karena mampu melampaui kodrat alam.
31
kuku, air liur, keringat, dan air mani. Namun, kesakten pada umumnya ada pada benda-benda suci, terutama benda-benda pusaka.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa mitos terhadap kasekten merupakan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap kekuatan yang berasal dari benda maupun tubuh manusia. Manusia diyakini memiliki kekuatan yang terdapat dari organ tubuhnya. Selain itu, masyarakat Jawa juga meyakini kekuatan yang tersimpan dalam benda pusaka dan jimat. Kedua hal tersebut diyakini dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi diri manusia. Cerita tentang kesaktian dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai fakta, meskipun bersifat irasional. Hal itulah yang melahirkan mitos tentang kasekten di lingkungan masyarakat Jawa.
2) Mitos Roh Dhanyang Desa
Menurut Koentjaraningrat (1984: 338-339) sistem agami Jawi mengenal adanya roh nenek moyang atau roh leluhur. Sebagai roh halus yang berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya semula, atau sebagai arwah leluhur yang telah menetap di makan, maupun yang tinggal di surga dekat Allah. Roh nenek moyang masih lama akan dipuja dan dipanggil oleh para keturunannya untuk memberi nasehat kepada mereka mengenai persoalan rohaniah maupun material. Masyarakat Jawa mengenal roh-roh yang baik, yang bukan nenek moyang atau kerabat yang telah meninggal yaitu Dhanyang, Bahureksa, dan Sing Ngemong.
32
yang bertempat tinggal di dekat desa itu atau sekitarnya. Karena senang bertempat tinggal di desa, maka desa yang berkembang di sekitarnya akan dilindungi dan dijaga. Dhanyang menjadi sumber semua berkah dan keselamatan yang dinikmati semua penduduk desa. Akan tetapi, apabila Dhanyang tidak dihormati dan disepelekan, cobaan serta kesengsaraan akan menimpa desa.
Sementara itu, Budiyanto (2008: 649) menjelaskan masyarakat Jawa percaya kepada Tuhan dan Rasulnya, namun mereka juga percaya bahwa ada roh-roh yang patut dihormati. Dalam alur seperti itulah maka yang perlu disadari adalah sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu, Budha dan kepercayaan yang berdasarkan animisme dan dinamisme telah berakar di kalangan masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, masyarakat yang memeluk agama Islam di Jawa percaya terhadap cerita roh nenek moyang. Perlu diketahui bahwa cerita tentang roh leluhur, merupakan hasil buah pikir manusia yang dipengaruhi oleh sistem kepercayaan yang dianutnya.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan mitos Dhanyang desa merupakan cerita tentang roh penjaga desa yang dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai fakta. Kepercayaan terhadap roh merupakan pola pikir yang bersifat irasional, namun masyarakat Jawa tetap meyakininya. Masyarakat Jawa percaya bahwa roh penjaga desa benar-benar ada, maka mereka senantiasa memberi penghormatan kepada roh tersebut. Bentuk penghormatan masyarakat Jawa kepada roh dibuktikan melalui kegiatan nyajen. Cerita tentang roh nenek moyang dituturkan secara turun-temurun, hingga menjadi mitos yang mekar di tanah Jawa.
3) Mitos kekuatan Sesajen
33
masyarakat Jawa. Kepercayaan terhadap kekuatan sesajen dipengaruhi oleh keyakinan kekuatan mistik yang melahirkan takhayul. Takhayul di Jawa berbeda-beda antara wilayah yang satu dengan lainnya. Sesaji diyakini memiliki kekuatan karena dapat menolak pengaruh setan, mahluk mengerikan, hantu, dan roh jahat. Sesaji juga dapat diperuntukkan sebagai persembahan kepada roh-roh orang meninggal.
Di sisi lain, Suyono (2007: 131) menjelaskan sesajen merupakan ramuan dari tiga macam bunga (kembang telon), kemenyan, uang recehan, dan kue apem yang diletakkan dalam besekan kecil atau bungkusan daun pisang. Ada sesajen yang dibuat pada setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Sesajen ini sangat sederhana karena hanya terdiri dari tiga macam bunga yang dimasukkan ke dalam gelas berisi setengah air dan bersama-sama sebuah pelita diletakkan di atas meja untuk dikutug. Hal tersebut bertujuan agar roh jahat tidak mengganggu keselamatan seisi rumah.
Sementara itu, Nurshodiq (2008: 61) menjelaskan sesaji apabila dilihat dari fungsi atau kegunaan dibagi menjadi tiga yaitu: (1) Sesaji yang digunakan untuk memberi makan roh halus, jika seseorang mendapatkan musibah dan dapat diatasi dengan pemberian sesaji. (2) Sesaji yang berfungsi untuk penghormatan misalnya untuk para leluhur ketika masih hidup suka dengan rokok maka leluhur tersebut akan diberi rokok sesuai dengan kegemarannya dan sebagainya. (3) Sesaji juga dipakai sebagai perlambangan misalnya bubur atau jenang merah putih yang melambangkan asal muasal mausia.
34
masyarakat Jawa memperebutkan sesaji tersebut sebagai pengasih bagi dirinya. Mitos kekuatan sesajen yang tumbuh di lingkungan masyarakat Jawa, dipengaruhi oleh kepercayaan dinamisme. Sesaji diyakini sebagai benda yang dapat mendatangkan keberkahan bagi masyarakat Jawa. Cerita tersebut secara turun-temurun diyakini masyarakat Jawa sebagai fakta.
Sementara itu, Priyadi (2006: 206-209) menjelaskan masyarakat Jawa yang bertempat tinggal di desa Cipaku dan Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah mengenal sebuah mitos yaitu tabu menikah antara masyarakat desa Cipaku dengan Onje.
1) Mitos Tabu Nikah antara Masyarakat Desa Cipaku dengan Onje
Menurut Priyadi (2006: 206) babad Onje, sebagai produk kebudayaan, tampaknya merupakan teks yang menjelaskan peristiwa sejarah cikal-bakal masyarakat Onje. Kesejarahan Onje diakui oleh kalangan yang lebih luas berkat hadirnya teks babad Onje tersebut. Hal itu berbeda dengan Cipaku yang dikenal sebagai rival Onje. Cipaku sebagai daerah kadipetan memang tidak disebut dalam teks Babad Onje sebagai daerah bagian Onje. Jadi, Cipaku berdiri sendiri sebagai kadipaten yang setara dengan Onje. Sebenarnya, tabu nikah di masyarakat Onje dan Cipaku berasal dari Adipati Cipaku yang merasa dirinya menjadi korban kejahatan Adipati Onje yang digolongkan olehnya sebagai orang jahat, sedangkan Adipati Onje juga menyatakan tabu bagi laki-laki Onje untuk memadu dua orang istri atau lebih, dan perempuan Onje tidak boleh dimadu oleh suaminya.
35
ditemukan pada folklor yang diteruskan kepada pewaris aktif folklor yang berasal dari kepala desa Mangunegara. Kiranya folklor Onje ini yang paling menonjol bertujuan untuk menyampaikan proyeksi keinginan yang terpendam sebagai alat legitimasi bagi masyarakat Onje bahwa desanya dahulu merupakan suatu kadipaten yang berwibawa sejak zaman Pajang hingga masa pemerintakah Susuhunan Paku Buwana I.
Sementara itu, menurut Tohirin (dalam Priyadi, 2006: 209) Raden Ore-Ore yang merupakan anak Adipati Onje memiliki dua istri. Salah satu istrinya merupakan orang asli Cipaku. Pada saat melihat kedua istrinya bertengkar, Raden Ore-Ore kemudian membunuhnya. Oleh sebab itu, Adipati Cipaku begitu keras menanggapi kasus pembunuhan putrinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Adipati Cipaku memiliki karakter keras, juga karena Putri Pakuwati adalah pihak yang dijadikan korban. Sikap Adipati Cipaku memang telah mengisyarakatkan kemusaskulinan dari pada feminitas karena kata Cipaku itu identik dengan phallus atau lingga sebagai simbol kejantanan, sedangkan kata Onje berarti buah yang lebat (ngroje) yang menyimbolkan perempuan.
36
4. Konstruksi Tradisi dan Mitos Masyarakat Jawa a. Pengertian Konstruksi
Menurut Dagun (2013: 845) konstruksi disebut sebagai susunan, model, tata letak suatu bangunan. Konstruksi dapat juga disebut dengan istilah konstruk. Sejalan dengan Dagun, Ratna (2013: 236-238) menguraikan bahwa definisi konstruk dapat dilihat dari definisi konsep. Secara luas konsep adalah abstraksi suatu peristiwa gambaran mental suatu objek. Konsep dibangun atas dasar data bukan opini.
Menurut Sari (2013: 24) konstruksi merupakan faktor-faktor yang turut berperan membentuk budaya dalam teks sastra. Peristiwa masa lampau, cara berpikir, kebiasaan, dan kondisi lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi lahirnya suatu kebudayaan. Sementara itu, menurut Saputra (2014: 31) konstruksi merupakan susunan atau bangunan yang dijadikan landasan maupun titik tolak. Landasan yang baik disusun dengan baik dan memuat data faktual. Faktual menjadi ciri konstruksi, sehingga diharapkan mampu menceritakan kondisi saat ini dengan masa lampau.
37
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan konstruksi adalah susunan, bangunan yang dijadikan landasan suatu peristiwa dalam keseluruhan aktivitas manusia meliputi pengetahunan, kebudayaan, maupun seni. Tradisi dan mitos merupakan bagian dari kebudayaan yang memiliki konstruksi. Konstruksi bertujuan untuk mengetahui peristiwa masa lampau yang menjadi latar belakang lahirnya suatu kebudayaan. Konstruksi menjadi ciri khas yang dimiliki kelompok manusia sebagai penghasil budaya.
b. Jenis Konstruksi Tradisi Masyarakat Jawa
Menurut Koentjaraningrat, (1984: 350-381) jenis konstruksi tradisi masyarakat Jawa dibagi menjadi tiga. Tiga jenis konstruksi tersebut dijelaskan dalam uraian berikut:
1) Konstruksi Sistem Keyakinan Agami Jawi
38
Sementara itu, Purwadi (2005: 69) menjelaskan dalam sistem religi orang Kejawen terdapat pengetahuan petung cara Jawa. Perhitungan menurut kalender dan
primbon biasa dilakukan dalam menentukan jodoh. Pengetahuan ini penting dilakukan karena sebagian besar penduduk beranggapan, bahwa segala suatu nasib manusia tergantung petungan ini. Berdasarkan neptu atau weton dapat dicari dan dihitung jumlah yang cocok untuk menentukan jodoh seseorang. Apabila diperoleh jumlah tidak cocok, maka kemungkinan rencana pernikahan akan dibatalkan. Dalam hal ini orang Jawa mempunyai pedoman cara menghitung dan juga beberapa istilah yang melambangkan hidup seseorang di masa mendatang.
Di sisi lain, Warpani (2015: 1) menjelaskan menurut kitab Primbon Jawa kuno, siapapun yang menggelar perhelatan pernikahan harus memedomi tiga hal yaitu: (1) Makutha, artinya pemangku kepentingan dianggap raja, dialah yang berkuasa dan memutuskan jalannya upacara. (2) Makuthem, artinya bahwa pedoman mengku gati adalah rancangan yang sudah ditetapkan. Berpegang pada aturan baku, tidak goyah, mantap, dak tidak terpengaruh oleh aktivitas yang muaranya pada pemborosa. (3) Makuthetheran, ini adalah peringatan bahwa apabila pemangku perhelatan abai pada makutha serta makuthetheran, yang akan dianggap adalah kewalahan dalam menyelenggarakan perhelatan.
39
memasuki kehidupan baru. Oleh sebab itu, dalam menggelar perhelatan tersebut masyarakat Jawa bersikap selektif dan hati-hati.
Menurut Koentjaraningrat, (1984: 371) dalam sistem keyakinan agami Jawi terdapat ajaran berpuasa atau tirakat. Orang Kejawen pada umumnya menjalankan ibadah puasa, walaupun mereka seringkali tidak begitu taat menjalankan rukun agama Islam yang lainnya. Kecuali berpuasa dalam bulan Ramadhan, mereka juga mempunyai adat untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis (nyenen-kemis), suatu hal yang menurut ajaran Islam tidak diwajibkan. Adat berpuasa pada hari-hari tertentu, muasalnya adalah tirakat.
Lebih lanjut Koentjaraningrat (1984: 381) menjelaskan orang Jawa pada umumnya dengan sengaja mencari kesukaran dan kesengsaraan untuk maksud-maksud keagamaan yang berakar dari pikiran bahwa usaha-usaha seperti itu dapat membuat orang teguh imannya dan mampu mengatasi kesukaran-kesukaran, kesedihan, dan kekecewaan dalam hidup. Mereka juga percaya bahwa orang bisa menjadi lebih tekun, dan orang yang telah melakukan usaha semacam itu kelak akan mendapat pahala. Tirakat dilakukan pada saat-saat khusus, misalnya pada waktu orang menghadapi suatu tugas berat, mengalami krisis dalam keluarga, jabatan, atau hubungan dengan orang lain. Dalam keadaan seperti itu, tirakat dianggap sebagai tanda prihatin.
40
Jawa berkaitan dengan pandangan hidupnya. Pandangan hidup orang Jawa tampak dari gaya hidup yang membentuk kepribadian mereka. Pada hakikatnya seluruh aktiviitas, dan sistem yang dibudidayakan mereka adalah buah dari hasil persenyawaan nilai pandangan hidup yang mengalir dalam hati sanubari orang Jawa.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi puasa Jawa atau tirakat merupakan aktivitas yang dilatarbelakangi oleh sistem keyakinan agami Jawi.
Sistem kepercayaan masyarakat Jawa mengandung ajaran tentang laku prihatin dalam mencapai keinginan. Oleh sebab itu, dalam mewujudkan keinginan masyarakat Jawa melakukan tirakat sesuai maksud dan tujuannya. Contoh tirakat yang dilakukan masyarakat Jawa adalah puasa mutih, ngrowat, dan pati geni.
2) Konstruksi Kebudayaan Jawa Pra Hindu-Budha
Konstruksi kebudayaan Jawa pra Hindu-Budha terlihat dalam dua tradisi masyarakat Jawa yaitu slametan dan bersih desa. Menurut Bayuadhy (2015: 15) awalnya slametan merupakan aktivitas masyarakat pra Hindu-Budha. Slametan telah menjadi tradisi di Jawa sejak ratusan tahun silam. Selain bernilai saling membantu, doa yang digunakan juga menjadi perantara berkomunikasi dengan leluhur. Pada saat menggelar slametan, ada orang yang ngujupke (mengikrarkan). Biasanya orang ini adalah tokoh yang dituakan atau seorang modin (punggawa desa bagian kerohanian atau kersa). Orang yang memimpin jalannya upacara slametan bukan hanya sekedar merapal mantra, namun juga tahu tata cara berhubungan degan leluhur.
41
rangka menjaga hubungan baik dengan roh nenek moyang. Upacara slametan yang ditujukkan kepada roh leluhur merupakan sebuah upacara bersifat keramat. Slametan dilakukan untuk menghalau perasaan khawatir, dan menghindari mala petaka karena telah melanggar ajaran leluhur. Getaran emosi keagamaan yang keramat timbul dalam diri anggota keluarga yang mengadakan slametan karena suasana khidmat.
Sementara itu, Hanik (2011: 3) menjelaskan slametan merupakan aktivitas yang dilakukan masyarakat Jawa pada masa pra Hindu-Budha. Animisme dan dinamisme merupakan unsur yang paling menonjol dalam kegiatan slametan. Unsur animisme terletak pada tujuannya slametan yang diperuntukkan kepada roh-roh halus. Sementara itu, unsur dinamisme terletak pada sarana dan prasarana yang digunakan dalam ritual slametan misalnya sesaji. Selain ditujukan kepada roh nenek moyang, slametan juga dilakukan sebagai penghormatan kepada dewa maupun dewi alam.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan upacara slametan merupakan aktivitas yang lahir dari kebudayaan Jawa pra Hindu-Budha. Pada masa sebelum agama Hindu-Budha masuk di pulau Jawa, masyarakat Jawa telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Aktivitas slametan yang digelar masyarakat Jawa merupakan bukti penghormatan mereka pada leluhur dan roh-roh. Roh-roh dipuja dan dihormati sehingga masyarakat Jawa memohon keselamatan dan keberkahan hidup. Hal tersebut dilakukan secara turun-temurun sehingga menjadi tradis yang luhur.
42
dianggap sebagai dewi padi dan kesuburan tanaman. Pada masa pra Hindu-Budha, bersih desa diadakan di makam leluhur yang dihormati. Hal itu disebabkan, kelestarian desa yang mereka tinggali tidak lepas dari pengaruh roh leluhur.
Koentjaraningrat (1984: 375) menjelaskan dalam melakukan bersih dusun seluruh warga desa membersihkan diri dari kejahatan, dosa, dan segala yang menyebabkan kesengsaraan. Hal itu tercermin dari berbagai aspek perayaan yang diselenggarakan berkenaan dengan upacara itu yang mengandung unsur-unsur simbolik. Akan tetapi, perayaan ini juga menandakan adanya sisa-sisa adat penghormatan terhadap leluhur atau nenek moyang. Kegiatan yang berhubungan dengan bersih dusun biasanya berlangsung di suatu tempat dekat makam pendiri desa (dhanyang dhusun).
Di sisi lain, Kholil (2010: 267) menjelaskan pada masa pra Hindu-Budha, upacara bersih desa bertujuan untuk mengundang kesuburan, sarana pengobatan penyakit, penghormatan leluhur, dan hiburan roh halus. Upacara yang penuh dengan nuansa magis merupakan perwujudan atau realisasi penghormatan masyarakat kepada roh leluhur. Perwujudan ini dapat diamati pada sajian tarian penutup bersih desa. Upacara bersih desa tidak hanya berfungsi untuk membersihkan desa, namun sebagai sarana mewujudkan rasa syukur kepada leluhur yang telah menjaga keseimbangan desa.
43
mewujudkan rasa syukur terhadap keseimbangan dusun. Oleh sebab itu, masyarakat Jawa pada masa pra Hindu-Budha satu tahun sekali menggelar upacara bersih desa sebagai bukti patuh terhadap leluhurnya.
3) Konstruksi Kebudayaan Jawa Masa Hindu-Budha
Konstruksi kebudayaan Jawa masa Hindu-Budha terlihat dalam satu tradisi yaitu ziarah. Menurut Mumfangati (2007: 152) ziarah makam merupakan satu dari sekian tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Ziarah kubur yang dilakukan masyarakat Jawa ke makam keramat merupakan ajaran Hindu-Budha. Candi sebagai salah satu tempat keramat bagi pemeluk Hindu-Budha merupakan tempat ziarah yang selalu dikunjungi pada hari-hari atau peristiwa tertentu. Candi tak ubahnya makam, merupakan tempat persemayaman raja pada masa lampau.
Di sisi lain, Bayuadhy (2015: 97) menjelaskan pada awalnya ziarah adalah tradisi Hindu-Budha. Kemudian sejak abad ke-15, Wali Sanga menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwah agar agama Islam mudah diterima oleh masyarakat. Para Wali berusaha meluruskan kepercayaan masyarakat Jawa yang waktu itu memuja roh. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para Wali tidak menghapus tradisi tersebut. Para Wali mengisi kegiatan ziarah sesuai ajaran agama Islam, yaitu membaca ayat suci Al-Qur‟an, tahli, dan doa.
Berkaitan dengan hal tersebut, Koentjaraningrat (1984: 363) menjelaskan ziarah atau nyekar merupakan aktivitas yang penting dalam sistem keyakinan agami Jawi. Makam dikunjugi untuk memohon doa restu (pangestu) kepada nenek moyang,
44
keinginan yang besar untuk memperoleh suatu hal. Masyarakat Jawa melakukan ziarah sebagai wujud bakti dan percaya pada keberadaan roh leluhur. Penghormatan tersebut dilakukan dengan mengunjungi makam dan memberi sesaji yaitu kembang tujuh rupa, dan kemenyan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan ziarah merupakan aktivitas yang lahir dari ajaran Hindu-Budha. Pada masa itu, masyarakat menganggap raja, leluhur, maupun tokoh-tokoh tertentu sebagai titisan dewa. Oleh sebab itu, makamnya senantiasa mereka kunjungi untuk memohon keberkahan. Raja dan leluhur diyakini memberikan keberkahan dan kesejahterahan hidup kepada masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan roh diwujudkan melalui aktivitas ziarah.
c. Jenis Konstruksi Mitos Masyarakat Jawa
Menurut Koentjaraningrat (1984: 319 dan 340) jenis konstruksi mitos masyarakat Jawa dibagi menjadi dua. Dua konstruksi tersebut diuraikan dalam penjelasan berikut:
1) Konstruksi Sistem Keyakinan Agami Jawi
Konstruksi sistem keyakinan agami Jawi terlihat dalam dua mitos yaitu mitos kasekten, dan roh Dhanyang desa. Menurut Koentjaraningrat (1984: 319) dalam sistem keyakinan agami Jawi terdapat konsep, pandangan, dan nilai seperti yakin adanya kasekten atau kesaktian dalam tubuh manusia dan benda. Sistem keyakinan agami Jawi merupakan kompleks Hindu-Budha, serta animisme dan dinamisme yang
45
Masyarakat Jawa juga berkeyakinan bahwa kesaktian terdapat dalam benda seperti keris, jimat, tombak, dan bendera.
Sementara itu, Bayuadhy (2015: 124) menjelaskan benda-benda pusaka yang diyakini masyarakat Jawa memiliki kesaktian dipengaruhi oleh religi agama Kejawen. Religi orang Kejawen banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan masa Hindu-Budha dan kepercayaan terhadap roh-roh. Benda pusaka digunakan oleh masyarakat Jawa sekitar abad ke-9 Masehi. Hal itu dapat dilihat disalah satu relief candi Borobudur yang memperlihatkan seseorang memegang benda pusaka menyerupai keris. Selain itu, ada dugaan keris dianggap sebagai benda suci. Oleh sebab itu benda pusaka tidak hanya digunakan dalam peperangan, tetapi juga dalam perlengkapan sesaji.
Di sisi lain, Suyono (2007: 76) menjelaskan meskipun sejak 1426 agama Islam telah masuk ke pulau Jawa, namun hingga sekarang penduduk Jawa masih memuja benda-benda. Pemujaan itu merupakan ajaran warisan dari nenek moyang mereka, yang diikuti secara sadar maupun tidak. Dengan bantuan mantra-mantra, benda hidup atau mati dapat diisi dengan roh yang baik atau jahat. Dengan cara ini, seseorang dapat mencapai kehendaknya, tetapi juga dapat mencelakakan musuh-musuhnya. Terdapat benda-benda yang diyakini mengandung roh dan patut dihormati. Pemujaan terhadap benda yang dimiliki seseorang, penghormatan tersebut ditujukan kepada benda itu sendiri.
46
kepercayaan terhadap kasekten. Oleh sebab itu, masyarakat Kejawen berburu benda tersebut untuk dijadikan jimat atau pegangan hidup. Jimat dapat diperoleh dari tempat-tempat keramat seperti gua, dan makam. Jimat diyakini membawa keberuntungan bagi manusia dan dapat menjauhkan dari gangguan roh jahat.
Di sisi lain, menurut Koentjaraningrat (1984: 338) sistem keyakinan agami Jawi mengenal roh jahat dan roh baik. Roh halus yang berkeliaran di desa dianggap
sebagai leluhur, sehingga dipuja dan dihormati oleh penduduk desa. Sitem keyakinan agami Jawi mengenal roh yang bukan kerabat yaitu Dhanyang, Bahureksa, dan Widadari. Roh tersebut dipercaya sebagai roh baik yang menjaga kelestarian desa. Dalam menghormati roh tersebut, masyarakat Jawa memberikan sesaji di tempat-tempat tertentu seperti makam, pohon besar, dan batu besar yang dianggap wingit.
Sementara itu, Suyono (2007: 97) menjelaskan di Jawa orang animis atau Tiang Pasek memiliki kepercayaan sendiri mengenai roh dan kehidupan sesudah mati. Gambaran ini diperoleh dari tulisan kuno dalam kitab Kadilangu dan keterangan dari-babad-babad Jawa. Jiwa atau roh manusia secara keseluruhan menjadi satu badan astral manusia atau Kama Rupa, yang berbarti tubuh yang diinginkan. Bayangan mereka disebut leluhur. Bayangan ini akan memilih tempat kediaman, kemudian menjaga seluruh penduduk desa. Mereka menjadi Dhanyang atau roh penjaga desa karena penduduk desa memiliki sifat dan watak yang hampir sama dengannya.
47
datangnya Islam, terjadi pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akhirnya munculan kemudian golongan Islam Abangan dan Islam Santri.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan mitos atau cerita roh penjaga desa (Dhanyang) dilatarbelakangi oleh sistem keyakinan agami Jawi. Sistem keyakinan agami Jawi merupakan agama Islam yang mendapat pengaruh dari ajaran Hindu-Budha, serta animisme dan dinamisme. Ajaran tersebut, belum dapat ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, karena berasal dari peninggalan nenek moyang. Sistem kepercayaan mereka melahirkan cerita tentang roh baik yang menjaga desa, dan dipercaya sebagai fakta.
2) Konstruksi Kebudayaan Jawa Pra Hindu-Budha
Konstruksi kebudayaan Jawa pra Hindu-Budha ditemukan dalam satu mitos yaitu mitos kekuatan sesajen. Menurut Suyono (2007: 131) salah satu fenomena yang lahir dari kepercayaan Tuhan, dewa-dewa, atau hantu-hantu adalah pemberikan sesaji. Sesaji diyakini memiliki kekuatan yang dapat memberikan pengaruh positif dalam diri manusia. Sesaji yang dianggap istimewa oleh masyarakat Jawa mungkin tidak dianggap istimewa oleh masyarakat Jawa yang lain. Pada masa pra Hindu-Budha, sesaji atau sesajen digunakan oleh masyarakat Jawa sebagai pelengkap dalam berdoa maupun menggelar upacara adat.
48
Sedangkan leluhur halus adalah nenek moyang yang menurunkan kita semua. Hal tersebut dimaksudkan agar kehidupan manusia di dunia, dijauhkan dari gangguan leluhur agal atau roh jahat.
Sejalan dengan Warpani, Bayuadhy (2015: 182) menjelaskan sesajen merupakan benda yang diperebutkan masyarakat Jawa karena dianggap memiliki kekuatan. Sesaji yang digunakan setelah berdoa dan menggelar upacara adat diperebutkan karena dapat mendatangkan keberkahan. Sesaji juga dapat dijadikan pengasih untuk memikat orang lain. Pada zaman dahulu, pengasih meryupakan andalan atau alternatif terakhir jika seseorang mempunyai kehendak yang terhalang atau ditolak jika diusahakan dengan cara normal.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan mitos atau cerita tentang kekuatan sesajen dilatarbelakangi oleh kebudayaan Jawa pra Hindu-Budha. Pada awalnya sesaji
merupakan sarana dan pelengkap dalam ritual adat. Kepercayaan masyarakat terhadap roh halus yang telah memberkati sesaji, menumpuhkan cerita kekuatan di dalamnya. Kekuatan yang terdapat dalam sesaji diyakini masyarakat dapat mendatangkan keberuntungan. Oleh sebab itu, masyarakat memperebutkan sesaji yang terdapat dalam upacara adat untuk mendukung kepentingannya.
3) Konstruksi Babad Purbalingga
49
teks teks Babad Purbalingga, masyarakat yang tinggal di daerah tersebut tidak mengetahui cerita tentang leluhur yang secara turun-temurun diyakini kebenarannya.
Sementara itu, menurut Darmosoetopo (dalam Priyadi, 2006: 206) tabu nikah masyarakat desa Cipaku dan Onje juga ditemukan dalam naskah Serat Sejarah Rupi Onje. Naskah tersebut ditulis pada 1939 dan isinya menggambarkan kekuasaan politik. Akan tetapi, di dalam teks tersebut juga terdapat gambaran tabu nikah masyarakat desa Cipaku dan Onje. Dalam teks tersebut dijelaskan bahwa sampai kiamat keturunan Cipaku tidak boleh berbesan dengan orang Onje yang jahat. Sementara itu, orang Onje tidak boleh mayuh (memadu dua atau lebih istri) dan diwayuh (dimadu).
Menurut Purwaningsih (dalam Priyadi, 2006: 207) teks Babad Purbalingga menjelaskan bahwa Adipati Cipaku teguh pendirian bahwa tidak ada tawar-menawar lagi dengan tabu nikah. Jika suatu saat keturunan Cipaku menikah dengan orang Onje maka diharuskan melakukan tambangan. Tambangan yaitu tukar-menukar pasangan kakak-beradik laki-laki dan perempuan dengan pasangan kaka-beradik perempuan dan laki-laki. Dalam pernikahan tersebut, masing-masing desa harus membawa seorang laki-laki dan perempuan untuk tambangan. Tambangan adalah suatu cara untuk sedikit membuat tawar terhadap tabu.
50
desa Cipaku dengan masyarakat desa Onje dilatarbelakangi oleh peristiwa pahit leluhurnya.
5. Antropologi Sastra
Menurut Ihromi (2000: 1) antropologi berasal dari bahasa Yunani yaitu antropos berarti “manusia” dan logos berarti “studi” jadi antropologi merupakan suatu disiplin ilmu tentang manusia atau homo sapiens. Jenis makhluk yang disebut homo sapiens memang merupakan suatu pokok yang sangat luas, karena meliputi manusia sebagai makhluk fisik, manusia dalam masa prasejarahnya dan manusia dalam sistem kebudayaannya, yaitu sebagai pewaris atau sistem yang kompleks, yang terdiri dari adat-adat, sikap-sikap, dan pelaku. Di samping itu, menurut Koentjaraningrat (2013:9) antropologi berarti “ilmu tentang manusia”, khususnya tentang asal-usul, aneka warna,
bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaan pada masa lampau. Sementara itu, menurut Ratna (2011: 52) antropologi adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan manusia. Oleh karena luasnya bidang yang harus dibicarakan, di dalamnya termasuk manusia dengan keseluruhan aktivitasnya, baik secara jasmani maupun rohaniyah. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan antropologi adalah ilmu yang mengkaji tentang seluk beluk manusia. Dalam hal ini, manusia dianggap sebagai agen kultur atau penghasil kebudayaan.
51
perkembangan berikut sastra memiliki dua pengertian, pertama, hasil karya, sebagai karya seni, kedua, keseluruhan hasil karya, baik sebagai karya seni maupun ilmu yang meliputi sejarah dan kritik.
Di sisi lain, Endraswara (2013: 9-10) mendefinisikan sastra sebagai sebuah cipta budaya yang indah, sastra dipoles dengan bahasa keindahan. Persoalan keindahan adalah aspek estetika yang lebih dekat dengan bahasa kias. Adapun persoalan guna terkait dengan makna keindahan bahasa sastra itu. Oleh karenanya Wellek dan Warren (2014: 81) sastra sebagai karya imajinatif yang bermediakan bahasa dan mempunyai nilai estetika dominan. Imajinasi dan estetika merupakan konsep dasar dari seni yang bersifat personal, sedangkan bahasa merupakan ciri khas dari media penyampainya, yang membuat karya sastra berbeda dengan karya-karya lainnya. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan sastra ialah ide, gagasan, dan pikiran yang dituangkan dalam bentuk bahasa dan memiliki nilai estetika. Ide maupun gagasan merupakan hasil proses imajinasi pengarang, yang sudah melalui pertimbangan panjang. Selain itu bahasa menjadi ciri khas sastra dengan karya seni lainnya, sedangkan estetika menjadi nilai yang tidak bisa dipisahkan dengan kata sastra.
52
dinyatakan Ratna (2013: 351) antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia (anthropos). Dengan melihat pembagian antropologi menjadi dua macam yaitu, antropologi fisik dan antropologi kultural, maka antropologi sastra dibicarakan dalam kaitannya dengan antropologi kultural, dengan karya-karya yang dihasilkan oleh manusia, seperti bahasa, religi, mitos, sejarah, hukum, adat istiadat, dan karya seni, khususnya karya sastra. Dalam kaitanya dengan tiga bentuk kebudayaan yang dihasilkan oleh manusia, yaitu kompleks ide, kompleks aktivitas, dan kompleks benda-benda, maka antropologi sastra memusatkan perhatian pada kompleks ide.
Sementara itu menurut Endraswara (2013: 1) antropologi sastra berupaya meneliti sikap dan perilaku yang muncul sebagai budaya dalam karya sastra. Manusia sering bersikap dan bertindak dengan tata krama. Tata krama memuat tata susila dan unggah-ungguh bahasa yang menjadi ciri sebuah peradaban. Sastra sering menyuarakan tata krama dalam interaksi budaya satu sama lain yang penuh simbol. Di sisi lain, antropologi sastra dalam pandangan Poyatos (dalam Endraswara, 2013: 3-4) adalah ilmu yang mempelajari sastra berdasarkan penelitian antarbudaya. Penelitian budaya dalam sastra tentu diyakini sebagai sebuah refleksi kehidupan.
53
Karakteristik penelitian antropologi sastra adalah pemahaman sastra dari sisi keanekaragaman budaya. Masalah hangat dalam menulis antropologi sampai saat ini belum terpecahkan secara serius. Belum ada rumusan yang baku, apa dan bagaimana sastra dan antropologi harus ditulis dan dipahami. Sastra dan antropologi awalnya memang wilayah yang berbeda. Namun, pada kenyataannya, sastra dan antropologi sering bersentuhan dalam menimba kehidupan manusia. Pada dasarnya, baik sastra maupun antropologi terkait dengan perilaku sosial dan budaya manusia yang kompleks (Endraswara, 2013: 23).
Analisis antropologi sastra juga mengungkap berbagai hal, antara lain sebagai berikut; (1) Kebiasaan-kebiasaan masa lampau yang berulang-ulang masih dilakukan dalam sebuah cipta sastra. Kebiasaan leluhur melakukan semedi, melantunkan pantun, mengucapkan mantra-mantra, dan sejenisnya menjadi fokus penelitian; (2) Peneliti akan mengungkap akar tradisi atau subkultur serta kepercayaan seorang penulis yang terpantul dalam karya sastra. Dalam kaitan ini, tema-tema tradisional yang diwariskan secara turun-temurun akan menjadi perhatian tersendiri; (3) Penelitian juga dapat diarahkan pada aspek penikmat sastra etnografis, mengapa mereka sangat taat menjalankan pesan-pesan yang ada dalam karya sastra; (4) Peneliti juga perlu memperhatikan bagaimana proses pewarisan sastra tradisional dari waktu ke waktu, dan (5) Penelitian diarahkan pada unsur-unsur etnografis atau budaya masyarakat yang mengitari karya sastra tersebut (Endraswara, 2013: 61).
54
adalah mendeskripsikan budaya lewat fenomena sastra. Sastra menyajikan fakta kultural sehingga harus dipahami sebagai kekayaaan hidup (Endraswara, 2013: 63).