• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Realitas Sosial pada Media Massa

Dalam dokumen Analisis framiing media massa docx (Halaman 35-39)

2.2.1 Pengertian Konstruksi Realitas Sosial

Manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya dimana individu berasal. Manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respon-respon terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Karena itu, paradigma definisi sosial lebih tertarik terhadap apa yang ada dalam pemikiran manusia tentang proses sosial. Dalam proses sosial, individu dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya.

Secara sosial, realitas dipandang sebagai hasil ciptaan manusia yang dilakukan melalui proses konstruksi terhadap dunia sosial yang ada disekitar mereka. Oleh sebab itu, hasil konstruksi setiap individu akan berbeda karena setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan sebuah realitas.

Simmel (dalam Bungin, 2004, hlm. 3) mengungkapkan bahwa “dunia sosial merupakan realitas dunia sosial itu berdiri sendiri di luar individu, yang menurut kesan kita bahwa realitas itu “ada” dalam diri sendiri dan hukum yang menguasainya.”

Realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran individu baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial memiliki makna dikonstruksi dan dimaknai secara subjektif oleh individu lain sehingga me-mantapkan realitas itu secara objektif. Jadi, individu mengkonstruksikannya dalam dunia realitas, serta memantapkan realitas

itu berdasarkan subjektivitas individu lain dalam institusi sosialnya. Untuk itu, setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam mengonstruksi realitas sosial yang ada di sekitar mereka, termasuk wartawan.(Bungin, 2004, hlm.3).

2.2.2 Konstruksi realitas sosial di media massa

Pada dasarnya, media adalah mengkonstruksikan realitas. Media menyusun realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna (Konstruksi realitas media massa pada dasarnya memang melibatkan indivdu sebagai subjeknya, akan tetapi individu tersebut tidak akan memberi konstribusi besar terhadap proses konstruksi tanpa melalui media massa),contohnya aktor atau subjek individu dalam proses pengkonstruksian sebuah peristiwa di media massa adalah wartawan dan pihak redaksi media tersebut. Wartawan tersebut tidak memiliki kekuatan konstruksi besar dalam mata khalayak, tetapi gagasan- gagasannya tersebar di media massa. Burhan Bungin (2008, hlm: 129) mengatakan dalam konteks konstruksi iklannya, bahwa konstruksi iklan atas realitas sosial itu terjadi karena iklan televisi adalah bagian dari media televisi dan menjadi salah satu sumber otoritas individu.

Keredaksian dalam sebuah media massa memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemberitaan yang dilakukan oleh media massa merupakan hasil konstruksi realitas dari wartawan dan media tersebut. Cara sebuah peristiwa dikonstruksi sangat penting untuk melihat bagaimana isi berita ditulis oleh media. Oleh sebab itu, sebuah kejadian yang akan diberitakan secara berbeda oleh media yang berbeda.

Hall (dalam Tamburaka 2012, hlm. 85) berpendapat bahwa “berkenaan dengan eksistensi media massa, saat ini media tidak lagi mereproduksi realitas atau tidak lagi menjadi wadah penyalur informasi, tetapi justru menentukan realitas atau melakukan pembingkaian melalui pemakaian kata-kata tertentu yang dipilih”.

Luckmann (dalam Tamburaka, 2012, hlm. 75) menggambarkan “proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif”.

Dasar yang paling utama dalam konstruksi realitas adalah bagaimana cara seseorang dapat memahami dan memaknai suatu kejadian. Goffman mengungkapkan bahwa “pengalaman seseorang terhadap realitas bergantung pada kemampuannya memaknai situasi dan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu sungguh-sungguh berupaya”.

Dari konten kontruksi sosial media massa, Tamburaka (2012, hlm. 79-82) menjabarkan proses kelahiran kontruksi sosial media massa melalui tahapan sebagai berikut:

Pertama, tahap menyiapkan materi konstruksi. Menyiapkan materi konstruksi sosial media massa adalah tugas redaksi media massa. Tugas itu didistribusikan pada desk editor yang ada di setiap media massa. Terdapat tiga hal penting dalam penyiapan materi konstruksi sosial yaitu keberpihakan media massa kepada kapitalisme, keberpihakan semu kepada masyarakat, dan keberpihakan kepada kepentingan umum.

Kedua, tahap sebaran konstruksi. Sebaran konstruksi media massa dilakukan melalui strategi media massa. Konsep konkret strategi media massa masing-masing berbeda, namun prinsip utamanya adalah real time. Pada umumnya, sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah dimana media menyodorkan informasi sementara

konsumen media tidak memiliki pilihan lain kecuali mengonsumsi informasi tersebut.

Ketiga, tahap pembentukan kosntruksi. Dalam tahap ini, terdapat 3 poin utama yang menjadi langkah pembentukan konstruksi yang ada di masyarakat, yaitu: Pertama, pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbangun di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang diberitakan di media massa sebagai sebuah realitas kebenaran. Dengan kata lain, informasi media massa sebagai otoritas sikap untuk membenarkan suatu kejadian. Kedua adalah kesediaan dikonstruksi oleh media massa, bahwa pilihan seseorang untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa adalah karena pilihannya untuk bersedia dikonstruksi. Ketiga adalah menjadikan media massa sebagai pilihan konsumtif yang mana sesorang memiliki sifat ketergantungan kepada media massa. Hal ini disebabkan karena media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tidak bias dilepaskan. Selain itu, pada bagian ini terdapat tahapan pembentukan konstruksi citra. Dimana bangunan konstruksi citra dibangun oleh media massa terbentuk dalam dua model yaitu model good news dan bad news.

Selanjutnya tahap terakhir yaitu tahap konfirmasi. Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa maupun masyarakat memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentuk konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasan-alasan konstruksi sosial.

Sobur (2012, hlm. 166) memaparkan bahwa pada dasarnya, pekerjaan media massa adalah mengkonstruksikan realitas. Isi media adalah hasil para pekerja mengkonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya, salah satunya realitas politik. Pada umumnya, terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan pekerja media massa , khususnya oleh para komunkator massa saat melakukan kontruksi realitas politik yang berujung pada pembentukan makna atau citra mengenai kekuatan politik.

2.2.3 Kontruksi Realitas Sosial dalam Pengemasan Berita

Hamad (dalam Sobur, 2012, hlm. 166-167) menjabarkan ketiga hal tersebut menjadi: Pertama, dalam hal pemilihan kata (symbol) politik.

sekalipun media massa hanya bersifat melaporkan, namun telah menjadi sifat dari pembicaraan politik untuk selalu memperhitungkan symbol politik. dalam komunikasi politik, para komunikator bertukar citra atau makna melalui lambang. Mereka saling menginterpretasikan pesan politik yang diterimanya. Dalam konteks ini, sekalipun melakukan pengutipan langsung atau menjadikan komunikator politik sebagai sumber berita, media massa tetap terlibat langsung atau tidak langsung dengan pilihan symbol yang digunakan sumber tersebut.

Kedua, dalam melakukan pembingkaian peristiwa politik. minimal oleh sebab adanya tuntutan teknis: keterbatasan kolom dan halaman (pada media cetak) atau waktu (pada media elektronik), jarang ada media yang membuat berita sebuah peristiwa secara untuh, mulai dari menit pertama kejadian hingga menit akhir. Atas nama kaidah jurnalistik, peristiwa yang panjang, lebar, dan rumit ini disederhanakan melalui pembingkaian fakta-fakta dalam bentuk berita sehingga layak terbit atau tayang. Untuk kepentingan pemberitaan ini, komunikator massa seringkali hanya menyoroti hal-hal penting dari sebuah peristiwa politik. Dari segi ini dapat dilihat ke arah mana pembentukan sebuah berita.

Ketiga, menyediakan ruang dan waktu untuk sebuah peristiwa politik. Saat media massa memberikan tempat pada sebuah peristiwa politik maka peristiwa tersebut akan memperoleh perhatian dari masyarakat. semakin besar tempat yang diberikan, semakin besar pula perhatian yang diberikan oleh masyarakat. semakin besar tempat, semakin besar pula perhatian yang diberikan khalayak.

Dalam dokumen Analisis framiing media massa docx (Halaman 35-39)

Dokumen terkait