E. Pengertian Media Online
E.6. Konstruksi Sosial Dalam Paradigma Konstruktivisme
Peter L, Berger dan Luckmann dalam bukunya yang berjudul “The Social Construction of Reality (1966)”, memperkenalkan istilah konstruksi atas realitas sosial, mereka menggabarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, di mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. 29 hal ini terjadi karena sifat manusia yang dinamis dan selalu berkembang dalam setiap generasi.
Gagasan awal mengenai konstruktivisme telah dimulai oleh seorang epistemology Italia yaitu Giambatissta Vico, dalam “De Antiquissima Italorum Sapientia” pada tahun 1710 ia mengungkapkan filsafatnya bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Vico menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Hal ini berarti seseorang itu baru mengetahui sesuatu apabila ia menjelaskan unsur-unsur apa yang
29
membangun sesuatu itu. Menurutnya hanya Tuhanlah yang dapat mengerti alam raya ini karena hanya Dia yang tahu bagaimana membuatnya dan dari apa Dia membuatnya, sementara itu manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang telah dikonstrusikannya.30
Terdapat tiga macam kontruktivisme, pertama konstruktivisme radikal yang hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh dunia pikiran kita yang tidak selalu representasi dunia nyata, kaum ini juga mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria sebuah kebenaran. Bagi mereka pengetahuan tidak merefleksikan suatu realitas ontologis objektif, namun sebagai sebuah realitas yang dibentuk oleh pegalaman seseorang. Kedua realisme hipotesis, Pandangan kaum ini bahwa pengetahuan merupakan hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju pada pengetahuan yang hakiki. Ketiga, konstruktivisme biasa mengambil semua konsekuensi konstruktivisme dan memahami pengetahuan sebagai gambaran dari realitas itu dan pengetahuan individu dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas objek dalam dirinya sendiri. Terdapat persamaan dari ketiga konstruktivisme diatas, bahwa konstruktvisme merupakan hasil dari kerja individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antar individu dengan invidu lainnya dan dengan lingkungan sekitarnya, kemudian individu membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang dilihat berdasarkan pengetahuan sebelumnya yang telah ada, yang disebut
30
oleh Piaget sebagai skema. Dan Konstruktivisme seperti inilah yang oleh Berger dan Luckmann disebut dengan konstruksi sosial.31 Penjelasan Berger dan Lukmann tentang realitassosial adalah dengan memisahkan pemahaman tentang kenyataan yang diartikan sebagai kualitas yang terdapat dalam realitas yang diakui memiliki keberasaan (being) dan tidak tergantung kepada kehendak sendiri dan pengetahuan sebagai kepastian bahwa realitas itu nyata (real) yang memiliki karakteritik sendiri.
Suatu hal yang terbentuk dimasyarakat merupakan hasil dari definisi subjektif melalui proses interaksi sosial yang terlihat seperti nyata secara objektif. Objektivitas akan bisa terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan dan memiliki definisi subjektif yang sama. pada dasarnya manusia menciptakan dunia dengan pandangan hidup yang menyeluruh, pemberian legitimasi dan mengatu bentuk-bentuk sosial serta memberikan pada berbagai aspek kehidupan mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Berger dan Lukmann bahwa proses dialketika antara invidu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi, internalisasi.32
Seperti yang telah dijelaskan pada penjabaran diatas, ketiga konsep Berger dan Lukmann yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi merupakan simultan untuk menjelaskan dialektika antara diri sendiri dalam berinteraksi dengan individu lainnya juga dunia sosiokultural,
31
Ibid, hal 14
32
hal ini akan memunculkan suatu proses konstruksi sosial yang dilihat dari segi asal muasalnya merupakan hasil ciptaan manusia, yakni buatan interaksi inter-subjektif, dari ketiga tahap dialektika ini juga dapat terlihat realitas sosial.
Eksternalisasi
Eksternalisasi (penyesuaian diri) merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia dan dunia sosiolukturalnya karena eksternalisasi terjadi pada tahapan paling mendasar dalam proses dialeketika pada perilaku interaksi antar individu dengan produk – produk sosial masyarakat. Maksud dari proses ini adalah ketika sebuah produk sosial telah menjadi sebuah bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat dibutuhkan oleh individu, maka produk sosial itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luas.33 Seperti halnya sebuah media massa yang saat ini telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat untuk mengetahui informasi dari segala penjuru dunia. Dapat disimpulkan bahwa tahap eksternalisasi ini berlangsung ketika individu mengeksternalisasikan (penyesuaian diri) pada produk sosial yang tercipta kedalam dunia sosiokulturalnya sebagai bagain dari produk manusia
Objektivasi
33
Pada tahapan yang kedua ini, sebuah produk sosial terjadi dalam dunia intersubyektif masyarakat yang dilembagakan dan berada pada proses institusional, sedangkan individu Berger dan Lukmann mengatakan memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama.
Proses objektivasi juga terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang berkembang dimasyarakat, sehingga dalam proses ini tidak harus bertatap muka antar individu dengan produsennya. Berger dan Lukmann mengatakan bahwa, sebuah tanda (sign) dapat dibedakan dari objektivasi-objektivasi lainnya, karena tujuannya yang eksplesit untuk digunakan sebagai isyarat atau indeks bagi pemaknaan subjektif,34 dengan demikian pembuatan tangda atau pembuatan signifikasi dalam tahap objektivasi merupakan hal terpenting, selain itu bahasa juga memegang peranan penting dalam objektivasi terhadap tanda-tanda. Seperti yang dikatakan oleh Berger dan Lukmann, bahasa merupakan alat simbolis untuk mengsignifikasidimana logika ditambahkan secara mendasar kepada dunia sosial yang diobjektivasi.
34
Internalisasi
Internalisasi merupakan dasar, pertama bagi pemahaman mengenai “sesama saya”, yatu pemahaman individu dan orang lain, kedua bagi pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial. Berger dan Lukmann dalam tahap ini berpendapat, bagaimanapun juga ,dalam bentuk internalisasi yang kompleks, individu tidak hanya memahami proses proses subjektif orang lain yang berlangsung sesaat, individu memahami dunia dimana ia hidup dan dunia itu menjadi dunia individu sendiri.35 Ini artinya bahwa individu tidak hanya memahami kenyataan sosial melalui definisi individu lainnya, namun mereka juga mendefinisikan secara timbal balik, sehingga mereka hidup berpartisipasi dengan keberadaan individu lainnya yang tidak hanya hidup dalam dunia yang sama, setelah pada tahapan inilah individu menjadi anggota sosial.
Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa realitas sosial dikontruksikan melalui tiga proses dialektika yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, dan konstrusi sosial tidak berlangsung begitu saja melainkan banyak kepentingan-kepentingan yang terdapat dibelakangnya. Kondisi seperti inilah yang kemudian menjadi hegemoni pola pikir masyarakat, melalui informasi yang dibuat yang akhirnya dapat diterima masyarakat
35
meskipun berdampak pada penindasan intelektual dan kultural masyarakat. seperti yang dikatakan oleh Lash bahwa gejala seperti itu merupakan produk dari keberadaan rezim pemaknaan (regime of significance)yang cenderung melakukan dominasi dan hegemoni makna atasberbagai peristiwa, pengetahuan, kesadaran, dan wacana. Rezim yang dimaksud adalah sekelompok orang yang memiliki kekuasaan formal sebagai representasi dari penguasa.36
E.7. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Konstruksi Media Tentang