HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Konsumsi Beras di Kabupaten Deli Serdang
Konsumsi beras di suatu daerah berhubungan erat dengan jumlah penduduk di daerah tersebut, karena beras merupakan bahan makan pokok. Dengan demikian
semakin banyak jumlah penduduk, maka kebutuhan atau konsumsi beras juga akan semakin meningkat. Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan Nasional, tingkat konsumsi beras untuk Kabupaten Deli Serdang adalah sebesar 105,6 kg per kapita per tahun. Besarnya tingkat konsumsi ini lebih rendah bila dibanding dengan tingkat konsumsi beras nasional sebesar 139,15 kg per kapita pertahun yang masih tergolong sangat tinggi.
Tabel 4.6. Konsumsi Beras di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2004 – 2010
Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Konsumsi Beras (Ton) Produksi Beras (Ton) Surplus Beras Ton % 2004 1,539,679 162,590.10 217,336.53 54,746 25.19 2005 1,582,213 167,081.69 233,849.34 66,768 28.55 2006 1,634,115 172,562.54 250,259.74 77,697 31.05 2007 1,686,366 178,080.25 250,028.94 71,949 28.78 2008 1,738,431 183,578.31 248,346.11 64,768 26.08 2009 1,774,069 187,341.69 250,011.37 62,670 25.07 2010 1,789,243 188,944.06 286,384.22 97,440 34.02
Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang
Sejalan dengan pertambahan penduduk Kabupaten Deli Serdang yang meningkat setiap tahun, maka konsumsi beras di Kabupaten Deli Serdang juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2004, konsumsi beras di Kabupaten Deli Serdang adalah sebesar 162,590.10 ton yang mengalami peningkatan menjadi 188,944.06 ton pada tahun 2010. Dengan demikian terjadi peningkatan konsumsi beras di Kabupaten Deli Serdang sebesar 26,353.96 ton (16,21%) selama tujuh tahun.
Dibandingkan dengan produksi beras di Kabupaten Deli Serdang, maka Kabupaten Deli Serdang merupakan daerah yang surplus beras setiap tahun. Pada tahun 2004, surplus beras sebesar 54,746 ton (25.19%), dan menjadi sebesar 97,440 ton (34.02%) pada tahun 2010. Hal ini menempatkan Deli Serdang sebagai lumbung beras di Sumatera Utara.
4.4. Hasil Analisis dan Pembahasan 4.4.1. Luas Areal Panen Padi
Luas areal panen padi Kabupaten Deli Serdang dipengaruhi oleh luas areal irigasi, harga riil gabah di tingkat petani, harga riil pupuk urea, dan curah hujan. Harga riil gabah di tingkat petani, curah hujan dan luas areal irigasi berpengaruh positif terhadap luas areal panen, sedangkan harga riil pupuk urea berpengaruh negatif terhadap luas areal panen. Hasil estimasi parameter luas areal panen padi Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada berikut ini.
LLAP = 5,255 + 0,336 LLAI – 0,153 LHG + 0,502 LHPU – 0,063 LCH (2,933)* (-0,961)ts (0,894)ts (-1,498)ts R 2 F-h = 4,836 = 0,6825
Keterangan : LLAP = log luas areal panen
*
LLAI = log luas areal irigasi LHG = log harga riil gabah LHPU = log harga riil pupuk urea LCH = log curah hujan
* = signifikan pada α 5%.
Berdasarkan hasil analisis, nilai koefisien determinasi (R-square) dari model luas areal panen padi adalah sebesar 0,6825 artinya 68,25% luas areal panen padi dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel dalam model yakni harga riil gabah di tingkat petani, harga riil pupuk urea, curah hujan, dan luas areal irigasi. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat cukup banyak variabel lain (31,75%) di luar model yang mempengaruhi luas areal panen padi sawah di Kabupaten Deli Serdang, seperti ketersediaan tenaga kerja dan alih fungsi lahan. Hasil analisis ini menjelaskan bahwa karena beras merupakan makanan pokok dan utama bagi masyarakat Deli Serdang dan Sumatera Utara, maka menanam padi setiap tahun sudah merupakan keharusan, tanpa memperhatikan faktor lain. Demikian karena sebagian besar petani padi sawah hanya menggantungkan sumber perekonomiannya terhadap padi sawah, maka mereka tetap menanam padi sawah setiap tahun sesuai dengan musim tanamnya.
Dengan menggunakan uji statistik F menunjukkan bahwa variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap luas areal panen padi Kabupaten Deli Serdang pada taraf nyata 0,05. Artinya bahwa seluruh variabel yang terdapat dalam model secara bersama-sama mempengaruhi luas areal panen padi di Kabupaten Deli Serdang. Dari hasil uji statistik t, menunjukkan bahwa hanya variabel luas areal irigasi yang berpengaruh nyata terhadap luas areal panen pada taraf nyata 0,05. Variabel luas lahan irigasi (LLAI) berpengaruh positif terhadap luas areal panen di
Kabupaten Deli Serdang, dengan nilai sebesar 0.336. Artinya jika terjadi peningkatan luas areal irigasi sebesar 1%, maka luas areal panen akan bertambah sebesar 0,336%. Sehingga perlu adanya peningkatan sarana irigasi agar luas panen padi semakin meningkat.
Harga riil gabah ditingkat petani menunjukkan pengaruh yang negatif sebesar 0,153 tetatpi pengaruhnya tidak signifikan. Hasil ini berbeda dengan kriteria ekonomi bahwa jika harga gabah meningkat maka luas areal panen padi akan meningkat. Menurut Adnyana (2001) hasil ini menunjukkan bahwa petani tampaknya tidak terpengaruh oleh perubahan harga gabah dan tetap mengusahakan padi pada lahannya baik pada jangka pendek maupun jangka panjang.
Variabel harga riil pupuk urea berpengaruh positif terhadap luas areal panen dengan nilai sebesar 0,502 tetapi tidak signifikan. Hasil ini berbeda dengan kriteria ekonomi bahwa jika harga pupuk urea meningkat maka luas areal panen padi akan menurun. Kenyataannya, apabila terjadi kenaikan harga pupuk urea, maka petani akan mengurangi jumlah pembelian pupuk urea tetapi menggantinya dengan jenis pupuk lain yang mengandung nitrogen. Selain itu adanya subsidi pupuk kepada petani juga menjadi penyebab tidak signifikannya pengaruh harga pupuk urea terhadap luas panen padi sawah di Kabupaten Deli Serdang.
Dugaan yang kuat bahwa kegiatan usaha tani padi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor teknis budidaya seperti curah hujan. Hasil analisis persamaan menunjukkan koefisien estimasi variabel curah hujan berpengaruh negatif tetapi tidak
signifikan. Dilihat dari curah hujan bulanan, maka Kabupaten Deli Serdang termasuk daerah basah, karena curah hujan bulanan pada umumnya > 100 mm, kecuali bulan Pebruari. Pada daerah-daerah tertentu di Kabupaten Deli Serdang termasuk daerah landai, sehingga jika curah hujan tinggi, akan terjadi banjir sehingga akan mengurangi luas panen padi.
4.4.2. Konsumsi Beras
Konsumsi beras (LKB) di Kabupaten Deli Serdang dipengaruhi oleh LPDPT dan harga beras (LHB). Hasil estimasi parameter diperoleh sebagai berikut:
LKB = 1,940 + 0,158 LHB + 0,534 LPDPT (2,204)* (2,468)* R2 F-h = 53,782 = 0,9072 **
Keterangan : LKB = log konsumsi beras LHB = log harga riil beras LPDRB = log PDRB
ts = tidak signifikan
* = signifikan pada α 5%.
** = signifikan pada α 1%.
Nilai koefisien determinasi (R-square) dari model konsumsi beras adalah sebesar 0,9072, artinya 90,72% konsumsi beras dapat diterangkan oleh keragaman variable-variabel dalam model yakni harga riil beras dan pendapatan perkapita. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat di dalam model.
Dengan menggunakan uji statistik F diperoleh bahwa variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap konsumsi beras Kabupaten Deli Serdang sebesar pada taraf nyata 0,01.
Hasil analisis persamaan menunjukkan variabel harga beras berpengaruh positif tehadap konsumsi beras. Hal ini mengindikasikan, walaupun harga beras naik, konsumsi beras tetap meningkat di Kabupaten Deli Serdang. Hal ini juga disebabkan bahwa masyarakat di Kabupaten Deli Serdang secara khusus dan Sumatera Utara secara umum mengkonsumsi beras sebagai bahan makan pokok dan utama dan relatif tidak ada substitusinya. Sehingga dengan demikian, walaupun harga beras naik, tetapi untuk kebutuhan pokok tetap harus mengkonsumsi beras. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,158, maka apabila harga beras naik 1%, maka konsumsi beras akan meningkat sebesar 0,158%, ceteris paribus.
Variabel pendapatan perkapita menurut hasil analisis juga menunjukkan pengaruh yang positif terhadap konsumsi beras di Kabupaten Deli Serdang. Artinya semakin tinggi pendapatan maka konsumsi terhadap beras semakin meningkat, sebaliknya jika pendapatan turun, maka konsumsi terhadap beras juga akan turun. Nilai koefisien variabel pendapatan perkapita yang diperoleh dari hasil analisis sebesar 0,534 artinya jika pendapatan perkapita naik 1%, maka konsumsi beras naik sebesar 0,543% dalam satu tahun, ceteris paribus. Pengaruh tersebut secara statistik adalah signifikan, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pendapatan perkapita akan mempengaruhi tingkat konsumsi beras di Kabupaten Deli Serdang. Hasil
penelitian ini mendukung penelitian Malian, Mardianto dan Ariani (2004) yang menyatakan bahwa pendapatan perkapita berpengaruh terhadap konsumsi beras dalam jangka pendek dan jangka panjang, di mana pendapatan perkapita yang semakin tinggi akan meningkatkan konsumsi beras domestik.
4.4.3. Harga Eceran Beras
Berdasarkan hasil analisis persamaan dalam penelitian ini, diperoleh bahwa variabel harga eceran beras di Kabupaten Deli Serdang dipengaruhi oleh suplai beras yang dicerminkan oleh produksi beras tahun sebelumnya, permintaan beras yang dicerminkan oleh konsumsi beras dan harga eceran beras tahun sebelumnya. Variabel konsumsi beras dan lag harga beras menunjukkan pengaruh yang positif terhadap harga eceran beras, sedangkan lag produksi beras berpengaruh negatif terhadap harga eceran beras.
Nilai koefisien determinasi R-square dari model harga eceran beras adalah sebesar 0,8812. Artinya bahwa 88,12% harga eceran beras dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel bebas dalam model yakni konsumsi beras, lag produksi beras dan lag harga eceran beras, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat di dalam model. Dengan menggunakan uji statistik-F terlihat bahwa variable-variabel tersebut secara bersama-sama mempengaruhi harga beras di Kabupaten Deli Serdang pada taraf nyata 0,00.
Dari hasil uji statistik-t terlihat bahwa hanya variabel konsumsi beras yang menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf 0,10 sedangkan variabel lainnya yaitu
lag produksi beras dan lag produksi beras tidak menunjukkan pengaruh yang nyata secara statistik. Hasil estimasi parameter harga eceran beras di Kabupaten Deli Serdang dapat dinyatakan pada persamaan berikut ini.
LHB = -15,758 + 1,882 LKB – 0,025 LLQB + 0,379 LLHB (2,233)* (-0,115)ts (1,404)ts R2
F-h = 22,258 = 0,8812
Keterangan : LHB = log harga riil beras
**
LKB = log kebutuhan beras LLQB = log lag produksi beras LLHB = log lag harga riil beras ts = tidak signifikan
** = signifikan pada α 1%.
* = signifikan pada α 10%.
Konsumsi beras berhubungan positif dan berpengaruh nyata terhadap harga eceran beras. Nilai koefisien variabel sebesar 1,882 yaitu apabila terjadi peningkatan konsumsi terhadap beras 1%, maka harga eceran beras akan meningkat 1,882%, ceteris paribus. Konsumsi beras bersifat elastic terhadap harga eceran beras. Dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, mengakibatkan harga beras di Kabupaten Deli Serdang semakin tinggi.
Nilai koefisien variabel suplai atau dalam hal ini ditunjukkan oleh produksi beras tahun sebelumnya menunjukkan pengaruh negatif terhadap harga beras sebesar -0,025. Artinya bahwa jika suplai atau produksi beras meningkat sebesar 1% maka
harga beras akan turun sebesar 0,025%, ceteris paribus. Hasil analisis ini sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa jika terjadi panen raya, produksi beras meningkat dapat menurunkan harga eceran beras dan jika pada saat musim paceklik, harga beras meningkat karena produksi beras atau ketersedian beras menurun. Akan tetapi berdasarkan analisis statistik, variabel tersebut tidak signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa meskipun jumlah produksi beras meningkat, namun karena jumlah permintaan terhadap beras lebih besar daripada produksi, dapat dikatakana bahwa produksi beras tidak dapat mempengaruhi harga beras di Kabupaten Deli Serdang.
Harga eceran beras dipengaruhi pula oleh harga eceran beras tahun sebelumnya dengan nilai koefisien varibel sebesar 0,379 namun tidak berpengaruh nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa harga eceran beras cenderung lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya dan dibutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan harga eceran beras secara tepat pada saat terjadinya perubahan berbagai faktor ekonomi.