POLA KONSUMSI PENDUDUK
KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN
Tingkat kecukupan gizi yang diukur dari konsumsi kalori dan protein menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. Jumlah konsumsi kalori dan protein dihitung berdasarkan jumlah dari hasil kali antara kuantitas setiap makanan yang dikonsumsi dengan besarnya kandungan kalori dan protein dalam setiap makanan tersebut. Angka kecukupan konsumsi energi dan protein berdasarkan Widyakarya Pangan dan Gizi ke-8 tahun 2004 masing-masing sebesar 2.000 kkal dan 50 gram protein per kapita per hari.
Rata-rata kalori yang dikonsumsi oleh penduduk DIY selama periode 2002-2013 cukup berfluktuasi dengan besaran antara 1.766 kkal sampai 1.996 kkal per kapita per hari. Jika mengacu pada standar kecukupan kebutuhan minimum energi yang sebesar 2.000 kkal per kapita per hari, maka rata-rata konsumsi kalori penduduk DIY masih di bawah standar yang ditentukan. Angka tertinggi yang pernah dicapai adalah 1.996 kkal per kapita per hari di tahun 2013. Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan beberapa periode sebelumnya. 1.904 1.836 1.915 1.766 1.803 1.852 1.832 1794,06 1996,08 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000 2.200 2002 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 K D K+D 50,76 51,04 55,30 49,56 51,35 52,89 53,81 52,08 61,65 0 10 20 30 40 50 60 70 2002 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 K D K+D
Secara umum, selama sepuluh tahun terakhir konsumsi kalori per kapita per hari penduduk perdesaan selalu lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perkotaan. Pada tahun 2012, konsumsi per kapita per hari penduduk kota tercatat sebesar 1.823 kkal, sementara konsumsi per kapita per hari penduduk perdesaan tercatat sebesar 1.867 kkal. Fenomena ini terjadi karena adanya kecenderungan penduduk perkotaan terutama mereka yang berstatus pelajar/mahasiswa dalam mengkonsumsi makanan dan minuman jadi, sementara penduduk desa cenderung mengkonsumsi bahan makanan yang diolah terlebih dahulu.
Konsumsi protein penduduk DIY selama periode 2002-2013 juga cukup berfluktuasi dan mencapai puncak di tahun 2003 dengan nilai 55,30 gram per kapita per hari. Meskipun konsumsi protein menurun selama tahun 2008 hingga mencapai 61,65 gram, dalam lima tahun terakhir polanya semakin meningkat menjadi 53,13 gram per kapita per hari di tahun Sumber : BPS DIY
Gambar 16.2.
Rata-rata Konsumsi Kalori Perkapita Sehari di DIY, 2002-2013 (kkal)
Gambar 16.3.
Rata-rata Konsumsi Protein Perkapita Sehari, 2002-2013 (gram)
Sumber : BPS DIY
Pola konsumsi energi/kalori perkapita per hari penduduk DIY dalam satu dasawarsa terakhir masih berada dibawah angka kecukupan energi (2.000 kilo kalori)
79
16
16
2012, konsumsi per kapita per hari penduduk kota tercatat sebesar 1.823 kkal, sementara konsumsi per kapita per hari penduduk perdesaan tercatat sebesar 1.867 kkal. Fenomena ini terjadi karena adanya kecenderungan penduduk perkotaan terutama mereka yang berstatus pelajar/mahasiswa dalam mengkonsumsi makanan dan minuman jadi, sementara penduduk desa cenderung mengkonsumsi bahan makanan yang diolah terlebih dahulu.
Konsumsi protein penduduk DIY selama periode 2002-2013 juga cukup berfluktuasi dan mencapai puncak di tahun 2003 dengan nilai 61,65 gram per kapita per hari. Jika mengacu pada kebutuhan minimum protein yang sebesar 50 gram per kapita per hari, maka konsumsi protein penduduk DIY sudah melebihi kebutuhan minimum yang ditentukan. Berdasarkan pola konsumsi protein per kapita per hari menurut wilayah selama sepuluh tahun terakhir, penduduk perkotaan masih lebih tinggi dalam mengkonsumsi protein dibandingkan dengan penduduk perdesaan. Hal ini terjadi karena sumber-sumber protein yang dikonsumsi penduduk perkotaan sudah lebih bervariasi dibandingkan dengan penduduk perdesaan. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir pola konsumsi protein penduduk perdesaan masih berada di bawah angka kecukupan protein yang ditentukan.
Perkembangan konsumsi kalori dan protein per kapita berdasarkan kelompok makanan selama tahun 2010-2013 disajikan dalam Tabel 16.3. Berdasarkan kelompok makanan, konsumsi kalori dan protein yang tertinggi bersumber dari kelompok padi-padian dan makanan jadi. Selama tahun 2013, kedua kelompok tersebut memiliki pangsa sebesar 36,85 persen dan 27,00 persen dari total konsumsi kalori penduduk DIY. Sementara, pangsa protein kedua kelompok tersebut masing-masing mencapai 28,01 persen dan 34,44 persen dan diikuti oleh kelompok kacang-kacangan dengan porsi 11,21 persen. Porsi konsumsi kalori dan protein yang berasal dari kelompok buah-buahan, umbi-umbian, kelompok ikan dan kelompok daging masih relatif rendah sehingga pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk lebih banyak konsumsi energi dan protein yang bersumber dari kelompok-kelompok makanan tersebut.
Padi-padian 701 (37,85) 700 (38,23) 708 (38,51) 736 (36,85) 16,45 (31,11) 16,44 (30,55) 16,60 (31,24) 17,27 (28,01) Umbi-umbian 33 (1,79) 26 (1,41) 21 (1,16) 34 (1,71) 0,24 (0,45) 0,19 (0,35) 0,17 (0,32) 0,25 (0,41) Ikan 15 (0,80) 14 (0,76) 17 (0,91) 20 (0,98) 2,36 (4,46) 2,1 (3,90) 2,58 (4,86) 3,00 (4,87) Daging dan Hasilnya 40 (2,15) 41 (2,26) 48 (2,62) 47 (2,36) 2,48 (4,69) 2,64 (4,91) 2,84 (5,35) 2,97 (4,82) Telur, Susu dan Hasilnya 63 (3,38) 62 (3,38) 57 (3,09) 68 (3,41) 3,48 (6,58) 3,46 (6,43) 3,18 (5,99) 3,82 (6,20) Sayur-sayuran 44 (2,35) 41 (2,26) 44 (2,40) 44 (2,22) 2,9 (5,48) 2,8 (5,20) 2,90 (5,46) 2,91 (4,72) Kacang-kacangan 79 (4,24) 72 (3,91) 73 (3,95) 76 (3,81) 6,86 (12,97) 6,92 (12,86) 6,79 (12,78) 6,91 (11,21) Buah-buahan 41 (2,24) 43 (2,35) 48 (2,63) 50 (2,51) 0,46 (0,87) 0,45 (0,84) 0,52 (0,98) 0,49 (0,79) Lemak dan Minyak 211 (11,39) 201 (10,98) 203 (11,03) 207 (10,35) 0,49 (0,93) 0,43 (0,80) 0,39 (0,73) 0,35 (0,57) Bahan Minuman 119 (6,42) 118 (6,46) 102 (5,53) 111 (5,54) 1,01 (1,91) 0,97 (1,80) 0,77 (1,45) 0,94 (1,52) Bumbu-bumbuan 10 (0,53) 12 (0,64) 9 (0,50) 10 (0,51) 0,38 (0,72) 0,44 (0,82) 0,36 (0,68) 0,40 (0,65) Konsumsi Lainnya 60 (3,21) 54 (2,97) 55 (2,98) 55 (2,77) 1,22 (2,31) 1,12 (2,08) 1,09 (2,05) 1,11 (1,80) Makanan Jadi 438 (23,66) 447 (24,38) 454 (24,69) 539 (27,00) 14,55 (27,52) 15,85 (29,46) 14,94 (28,12) 21,23 (34,44) Jumlah 1852 (100) 1832 (100) 1838 (100) 1996 (100) 52,88 (100) 53,81 (100) 53,13 (100) 61,65 (100) 2013 Protein (Gram) 2013 Kalori (kkal) 2010 2011 2012 Kelompok Makanan 2010 2011 2012 Sumber : BPS DIY Gambar 16.3.
Rata-rata Konsumsi Protein dan Kalori Perkapita Sehari menurut Jenis Pengeluaran, 2010-2013
Konsumsi protein per kapita per hari penduduk DIY dalam lima tahun terakhir sudah melebihi standar yang ditentuka (50 gram), namun untuk penduduk perdesaan masih di bawah standar
80
17
17 PERDAGANGAN
Nilai ekspor komoditas asarl DIY dalam dselama tahun 2013 semakin meningkat akibat peningkatan volume
Terjaminnya ketersediaan/stok berbagai komoditas kebutuhan masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga. Untuk menjaga stabilitas perdagangan, baik perdagangan dalam negeri maupun luar negeri, perlu adanya aktivitas perdagangan yang mencakup diantaranya adalah ekspor dan impor beberapa komoditas barang untuk kebutuhan masyarakat di DIY. Sumber data ekspor dan impor luar negeri yang disajikan berasal dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY.
0 50 100 150 200 250 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Volume (Ribu Ton) Nilai (Juta US$)
Kinerja ekspor luar negeri komoditas asal DIY dalam enam tahun terakhir cukup berfluktuasi. Dari sisi volume ada kecenderungan semakin menurun dari 36,62 ribu ton di tahun 2007 menjadi 26,67 ribu ton di tahun 2011, meskipun kembali meningkat menjadi 34,04 ribu ton di tahun 2013. Krisis finansial yang melanda beberapa negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa sejak akhir tahun 2007 cukup berpengaruh terhadap penurunan volume ekspor asal DIY.
Pengaruh tersebut juga sangat terlihat jelas dari sisi nilei ekspor yang melorot tajam hingga menjadi US$ 108,7 juta di tahun 2009. Namun demikian, dalam tiga tahun terakhir nilai nominal ekspor komoditas asal DIY meningkat secara bertahap menjadi US$ US$ 211,76 juta di tahun 2013. Peningkatan nilai ekspor ini lebih disebabkan oleh pengaruh kenaikan harga dan menguatnya nilai mata uang, karena dari sisi volume hanya naik sedikit. Sebagai catatan, nilai ekspor masih dalam bentuk nominal dan dihitung atas dasar harga pasar yang berlaku.
Berdasarkan volumenya, komoditas asal DIY selama tahun 2013 sebagian besar diekspor ke negara-negara Uni Eropa dengan porsi 39,86 persen. Negara-negara Uni Eropa tujuan utama ekspor komoditas asal DIY terdiri dari Jerman, Perancis dan Inggris. Dibandingkan dengan tahun 2012, nilai ekspor ke beberapa negara Uni Eropa seperti Jerman, Belgia, Belanda dan Italia selama tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Porsi selanjutnya adalah ekspor ke Amerika Serikat dan Kanada dengan porsi 24,79 persen.
Amerika Serikat dan Kanada; (10,93) Uni Eropa; (42,71) Asia; (22,91) Australia; (10,16) Lainnya; (13,28) Amerika Serikat dan Kanada; (24,79) Uni Eropa; (39,86) Asia; (23,48) Australia; (2,91) Lainnya; (8,97) Gambar 17.1.
Volume dan Nilai Ekspor DIY, 2007-2013
Sumber : BPS DIY Gambar 17.2.
Pangsa Volume Ekspor DIY menurut Negara, 2013
Sumber : BPS DIY Gambar 17.2.
Pangsa Volume Ekspor DIY menurut Negara, 2013
Sumber : BPS DIY
81
17
17
China 0,73 (38,62) 2,50 (1,61) Korea Selatan 0,50 (26,46) 2,55 (1,65) Selandia baru - - - -Hongkong 0,02 (1,06) 0,40 (0,26) Taiwan 0,35 (18,52) 3,49 (2,25) Amerika Serikat 0,06 (3,17) 0,53 (0,34) Jepang 0,10 (5,29) 144,62 (93,31) Malaysia - - - -Singapura 0,01 (0,53) 0,17 (0,11) Vietnam 0,02 (1,06) 0,05 (0,03) Lainnya 0,10 (5,29) 0,68 (0,44) Jumlah 1,89 (100) 154,99 (100) Negara Asal Volume (000 Kg) Nilai (US$ Juta)Negara Amerika Serikat 3,29 (9,67) 47,32 (22,35) Jerman 3,36 (9,87) 27,91 (13,18) Korea Selatan 0,79 (2,32) 13,68 (6,46) Jepang 2,26 (6,64) 20,73 (9,79) India 0,48 (1,41) 3,14 (1,48) Perancis 2,30 (6,76) 6,75 (3,19) Inggris 1,00 (2,94) 5,84 (2,76) Turki 1,01 (2,97) 4,76 (2,25) China 1,81 (5,32) 4,76 (2,25) Belanda 2,89 (8,49) 8,15 (3,85) Belgia 1,78 (5,23) 3,93 (1,86) Australia 3,46 (10,16) 6,16 (2,91) Spanyol 0,85 (2,50) 3,50 (1,65) Italia 1,34 (3,94) 23,52 (11,11) Kanada 0,43 (1,26) 5,17 (2,44) Thailand 0,23 (0,68) 1,04 (0,49)
Uni Emirat Arab 0,61 (1,79) 1,85 (0,87)
Malaysia 1,53 (4,49) 4,40 (2,08)
Iran 0,09 (0,26) 0,12 (0,06)
Portugal 0,01 (0,03) 0,04 (0,02)
Lainnya 4,52 (13,27) 18,99 (8,95)
Jumlah 34,04 (100) 211,76 (100) Volume (000 Kg) Nilai (US$ Juta)
Tabel 17.1.
Volume dan Nilai Ekspor DIY Menurut Negara Tujuan , 2013
Sumber : BPS DIY Tabel 17.2.
Volume dan Nilai Impor DIY Menurut Negara Asal , 2013
Sumber : BPS DIY
Pangsa volume ekspor ke negara-negara di kawasan Asia selama 2013 mencapai 22,91 persen, sementara pangsa nilainya mencapai 23,48 persen. Negara-negara di kawasan Asia yang menjadi tujuan ekspor utama komoditas asal DIY adalah Jepang dan China dengan pangsa volume ekspor mencapai 6,64 persen dan5,32 persen. Sementara pangsa nilai ekspor tertinggi di negara Asia adalah Jepang dan Korea Selatan dengan pangsa sebesar 9,79 persen dan 6,46 persen. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya volume maupun nilai ekspor ke kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara semakin meningkat. hal ini mengindikasikan
potensi kedua kawasan ini menjadi pasar alternatif bagi pemasaran komoditas ekspor asal DIY.
Komoditas ekspor unggulan DIY berdasarkan nilai ekspornya adalah tekstil dan pakaian jadi dengan pangsa sebesar 30,74 persen. Berikutnya secara berturut-turut adalah komoditas mebel kayu, sarung tangan kulit, dan sarung tangan sintetis dengan pangsa nilai ekspor masing-masing sebesar 16,89 persen; 13,20 persen; dan 10,61 persen. Komoditas ekspor yang lainnya memiliki pangsa nilai di bawah 5 persen.
Perkembangan kegiatan impor di DIY relatif sulit untuk dicatat dengan kondisi sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh pelabuhan bongkar dan pelaku impor umumnya berada di luar DIY. Di samping itu, tidak semua importir melaporkan realisasi impornya, sehingga yang tercatat adalah realisasi dari importir yang secara rutin melaporkan ke Dinas Perindagkop DIY. Meskipun demikian, dapat dipastikan bahwa barang yang diimpor dari luar negeri semuanya merupakan bahan baku produksi, bukan barang konsumtif. Barang-barang tersebut diantaranya adalah tekstil, bahan baku susu, kulit disamak, sparepart mesin pertanian, kapas, label dan asesoris garmen.
Realisasi impor luar negeri yang tercatat masuk ke DIY selama tahun 2013 mencapai US$ 154,99 juta dan meningkat di atas 1000 persen dibandingkan dengan tahun 2012. Dari sisi volume, impor yang masuk tercatat sebanyak 1,89 ribu ton yang didominasi oleh komoditas tekstil dan sparepart mesin pertanian.
Distribusi persentase volume impor ke DIY selama tahun 2013 didominai oleh barang asal China (38,62 persen), Korea Selatan (26,46 persen)dan Jepang (5,29 persen). Sementara, nilai impor yang tertinggi berasal dari Jepang dengan proporsi sebesar 93,31 persen.
Impor luar negeri DIY dilakukan untuk mencukupi kebutuhan bahan baku industri, terutama tekstil, kulit sintetis, kapas, aksesoris dan bahan baku susu
82
18
18 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Kinerja perekonomian DIY yang diukur dengan pertumbuhan ekonomi menunjukkan perkembangan positif, meskipun levelnya cenderung berfluktuasi