• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.2. Konsumsi Pangan Anak Usia Dini

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi pada anak usia dini yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dalam kategori kurang sebagian ada 8 orang (17,7%) bahkan ada yang defisit sebesar 7 orang (15,5%). Sedangkan konsumsi protein yang termasuk kategori kurang sebanyak 17 orang (37,7%). Namun terdapat juga 7 orang (15,5%) termasuk kategori defisit. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua yang rendah. Sehingga dalam membeli dan

pemilihan jenis makanan jadi tidak bervariasi dan tidak menarik. Kekurangan energi yang berlangsung lama pada seseorang akan mengakibatkan penurunan berat badan dan jika berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang. Pada keadaan gizi kurang akan mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan badan. Ini karena rendahnya pendapatan ekonomi keluarga yang berakibat rendahnya konsumsi energi dan protein anak.

Menurut (Sedioetama, 1996), untuk tingkat konsumsi lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi. Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan pangan, sedangkan kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan pangan. Untuk mencapai keadaan gizi yang baik, maka unsur kualitas dan kuantitas harus dapat terpenuhi. Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal akan meyebabkan rasa lapar dan dalam jangka waktu tertentu berat badan akan menurun yang disertai dengan menurunnya produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi, pada akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang selanjutnya dapat menyebabkan kematian.

Hasil penelitian Santi ( 2011) menunjukkan bahwa pola makan pada balita yang cukup lebih banyak dengan pencapaian penerapan status gizi baik sebanyak 26 (23,9 %), status gizi kurang sebanyak 22 (20,2 %), sedangkan pada pola makan kurang dengan pencapaian status gizi baik sebanyak 16 (14,7 %), status gizi kurang sebanyak 45 (41,3 %). Ketersediaan pangan di keluarga harus memenuhi jumlah yang

cukup untuk memenuhi seluruh anggota keluarga baik jumlah, mutu dan keamanannya. Kemampuan suatu keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang dipengaruhi oleh daya beli (kemiskinan), pengetahuan dan juga oleh kemampuan wilayah dan rumah tangga memproduksi dan menyediakan pangan secara cukup, aman, dan kontiniu (Dinkes Prop Sumut, 2006).

Dari hasil penelitian yang dilakukan, ibu sangat jarang membeli bahan makanan yang beraneka ragam. Keluarga cenderung mengkonsumsi ikan yang diasinkan, ini disebabkan sebagian besar kepala keluarga bekerja sebagai nelayan, ikan yang segar di jual ke pasar, sementara ikan yang sudah tidak segar di bawa pulang dan diasinkan, serta mengkonsumsi telur dan makanan yang serba praktis seperti mie dan makanan jajanan. Anak-anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dalam hal mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran sangat kurang. Sedangkan buah- buahan dan sayur-sayuran merupakan bahan pengatur dalam tubuh, memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

PAUD Kasih Ibu tidak memberikan makanan tambahan kepada anak didik. Sedangkan pemberian makanan tambahan merupakan salah satu komponen penting dalam usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) dan merupakan salah satu bentuk kegiatan gizi berupa makanan dari luar keluarga. Anak didik perlu mendapat perhatian karena masih dalam masa tumbuh kembang. Hal ini sangat baik dilakukan seandainya ada anak yang susah makan dan dengan petunjuk guru anak akan mau mengikutinya. Oleh karena itu program makan bersama disekolah sangat baik dilaksanakan agar anak mau diarahkan pada gizi yang baik. Menurut Direktorat Pembinaan PAUDNI layanan PAUD memiliki 3 bagian yang saling terkait yaitu:

Pendidikan bagi anak usia 0-6 tahun, kesehatan dan gizi bagi anak usia 0-6 tahun dan pendidikan di keluarga. Untuk mendorong kesehatan dan gizi yang baik bagi anak, guru dan orang tua harus bekerjasama dengan posyandu dan institusi lainnya untuk memantau status kesehatan dan gizi anak, serta memberikan penyuluhan kepada orang tua mengenai kesehatan, gizi dan PHBS (Perilaku hidup Bersih dan Sehat) (PAUDNI, 2011).

Dalam rangka melaksanakan rencana pembangunan jangka menengah (RPJMN) 2010-2014, Kementerian Pendidikan Nasional telah menetapkan rencana strategis (RENSTRA) 2010-2014. Visi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) adalah menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Untuk mendukung tercapainya visi tersebut, diperlukan prasyarat kesehatan dan gizi sehingga peserta didik dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pemenuhan prasyarat tersebut dilakukan melalui peningkatan asupan gizi peserta didik dan perubahan perilaku sehingga peserta didik dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Untuk itu ada dua pendekatan yang harus dilakukan yaitu pendekatan instruksi presiden (INPRES) Nomor 1 tahun 2010, yang mengamanatkan penyediaan makanan tambahan kepada peserta didik TK/SD dan RA/MI terutama di daerah tertinggal, terpencil, serta di daerah pedalaman untuk melaksanakan INPRES tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional mengalokasikan dana pembiayaan penyediaan makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) melalui anggaran pembangunan dan belanja negara (APBN) tahun 2011 (Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, 2011).

5.3. Status Gizi Anak Usia Dini

Dari hasil penelitian diketahui bahwa status gizi anak usia dini berdasarkan ketiga indeks pengukuran berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB ), sekitar 80% termasuk dalam kategori status gizi normal. Meskipun demikian, jika dilihat berdasarkan indeks antropometri pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa berdasarkan indeks BB/U terdapat 15,5% anak mengalami gizi kurang. Berdasarkan indeks TB/U terdapat 15,5% anak dengan status gizi pendek. Berdasarkan indeks BB/TB sebagian anak menderita status gizi kurus sebesar 6,7%. Hal ini menunjukkan masih ada sebagian ibu yang kurang memperhatikan makanan anak nya dan disebabkan adanya penyakit infeksi seperti batuk, pilek dan diare yang terjadi secara berulang-ulang selama 6 bulan terakhir dengan persentase masing-masing adalah 64,4% dan 35,5%, mengakibatkan nafsu makan menurun dan daya tahan tubuh menjadi rendah sehingga status gizinya jadi berkurang. Menurut Asydhad (2006) anak balita merupakan golongan rawan gizi karena berhubungan dengan proses pertumbuhan yang relatif pesat. Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang meningkatkan pertumbuhan fisik, dan perkembangan otak (Almatsier, 2004).

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Martinus ( 2010 ) menyatakan bahwa status gizi balita berdasarkan indeks pengukuran ( BB/U, TB/U, BB/TB ) dari 51 balita yang di ukur sekitar 60% termasuk dalam kategori status gizi normal, jika

ditinjau dari angka gizi kurang berdasarkan ketiga indeks antropometri menunjukkan bahwa berdasarkan indeks BB/U terdapat 29,4% status gizi kurang dan sangat kurang 7,8%. Berdasarkan indeks TB/U terdapat 31,4% anak balita status gizi pendek dan 15,7% sangat pendek. Berdasarkan BB/TB terdapat 7,8% status gizinya kurus dan 23,5% sangat kurus. Hal ini menunjukkan bahwa gambaran konsumsi zat gizi saat ini maupun konsumsi zat gizi pada masa lampau masih dalam kategori kurang.

Dari gambaran status gizi anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju secara umum status gizi tergolong baik. Tetapi konsumsi pangan ada yang tergolong kurang bahkan defisit, apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang cukup, pada akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit, pertumbuhan fisik akan terganggu dan kecerdasan akan menurun, Karena pola konsumsi anak pada masa sekarang akan mempengaruhi status gizi masa mendatang. Sedangkan peneliti hanya melakukan penelitian konsumsi pangan saat ini.

Menurut hasil penelitian Arma (2010). Tingkat konsumsi energi dan status gizi menunjukkan bahwa anak yang berstatus gizi buruk berdasarkan berat badan menurut umur hanya 1 orang mempunyai tingkat konsumsi energi yang kurang. Sementara anak yang berada pada status gizi baik (65 orang) terdapat 27,7% yang mempunyai konsumsi energi defisit dan 13,9% konsumsi energi kurang. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak yang berada pada keadaan gizi baik saat ini mempunyai resiko untuk mengalami penurunan status gizi menuju gizi kurang dan buruk bila tidak diperhatikan konsumsi makanan mereka. Hal ini sesuai dengan pernyataan Andriyanto (2012) bahwa dua dari lima indikator sebagai penjabaran

tujuan pertama MDGs adalah menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dan menurunnya jumlah penduduk dengan defisit energi. Gambaran besarnya, kita dihadapkan pada risiko The Lost Generation 20 tahun mendatang. Jika persoalan ini dibiarkan, maka kita akan kehilangan satu generasi. Penduduk yang secara kuantitas banyak, tetapi dilihat secara kualitas, kecerdasan, produktivitas, dan mental rendah. Mereka akan menjadi beban Pemerintah. Besar dan luasnya masalah gizi pada setiap kelompok umur menurut siklus kehidupan dan saling berpengaruhnya masalah gizi pada siklus kehidupan. Dimulai dari masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisi saat masa janin. Kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga faktor konsumsi pangan pada masa lalu, yaitu pada masa remaja atau usia sekolah.

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, walaupun secara konsumsi rata – rata termasuk dalam kategori sedang, namun konsumsi anak usia dini, jika dilihat dari porsi makanan anak masih dalam kategori baik. Berdasarkan hasil pengamatan jenis makanan yang dikonsumsi, nasi ( karbohidrat ) mempunyai porsi yang lebih banyak dari pada sumber protein, dan zat gizi yang lain hanya sebagian kecil. Konsumsi pangan secara bergizi, beragam dan berimbang belum dapat diwujudkan pada konsumsi anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu tersebut. Menurut Santoso ( 1999 ), tersedianya pangan yang cukup dalam keluarga, belum menjamin bahwa kebutuhan akan gizi setiap anak sudah terpenuhi. Kecukupan gizi bagi seseorang sepenuhnya tergantung pada apa yang dimakan.

Dokumen terkait