• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsumsi Pangan Dan Status Gizi Anak Peserta Program Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Kasih Ibu Di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Konsumsi Pangan Dan Status Gizi Anak Peserta Program Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Kasih Ibu Di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) KASIH IBU DI DESA

SUKA MAJU KECAMATAN TANJUNG TIRAM KABUPATEN BATU BARA

TAHUN 2012

SKRIPSI

Oleh :

ENDANG MARIANA 091000243

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) KASIH IBU DI DESA

SUKA MAJU KECAMATAN TANJUNG TIRAM KABUPATEN BATU BARA

TAHUN 2012

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh:

ENDANG MARIANA NIM. 091000243

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul :

KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) KASIH IBU DI DESA

SUKA MAJU KECAMATAN TANJUNG TIRAM KABUPATEN BATU BARA

TAHUN 2012

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh ENDANG MARIANA

NIM. 091000243

Telah Diuji dan Dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 28 Juli 2012 dan

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji

Ketua Penguji Penguji I

Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes Fitri Ardiani, SKM, MPH NIP. 19620529 198903 2 001 NIP. 19820729 20081220022

Penguji II Penguji III

Prof.Dr.Ir.Albiner Siagian,MSi Ernawati Nasution, SKM, M.Kes NIP. 19670613 199303 1 004 NIP. 19700212 199501 2 001

Medan, Juli 2012

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Dekan

(4)

ABSTRAK

Anak usia dini merupakan masa paling penting dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi, masa ini diperlukan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui konsumsi pangan dan status gizi anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

Penelitian ini merupakan survei yang bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 45 anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara dengan tehnik total sampling. Data tentang pola makan yang terdiri dari jenis makanan, frekuensi makan, serta jumlah konsumsi energi dan protein diperoleh melalui wawancara dengan ibu anak menggunakan food recall 24 jam dan kuesioner food frequency. Berat badan ditimbang menggunakan timbangan injak, tinggi badan diukur dengan menggaunakan mikrotois. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konsumsi energi anak yang termasuk kategori kurang sebanyak 17,7% dan tingkat konsumsi energi anak termasuk baik sebesar 13,3%. Demikian juga dalam konsumsi protein sebagian besar termasuk kategori kurang bahkan ada yang defisit 15,5%, dan anak yang mempunyai status gizi berdasarkan indeks BB/U yaitu berat badan kurang sebanyak 15,5%, Berdasarkan indeks TB/U terdapat anak berbadan pendek 15,5%, demikian juga dengan indeks BB/TB juga masih mempunyai status gizi kurus 6,7%.

Pengurus yayasan disarankan untuk lebih memperhatikan upaya peningkatan gizi dan bekerja sama dengan puskesmas untuk melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan anak dan memberitahukan kepada orang tua untuk lebih memperhatikan pemberian makanan kepada anak-anak.

(5)

ABSTRACT

The early childhood is the important period in the formation foundations of personality,thinking capability, intelligence,skill and ability to socialize. This time and stimulation necessary conditions to suit the needs of children for child growth and development achieved by optimal. The objective of the study is to know the food consumption and nutritional status of children who attended the PAUD program of Kasih Ibu of Tanjung Tiram county Batu Bara Subregency in 2012.

The present study is a descriptive survey, with the sampel of 45 children who attended the PAUD program of Kasih Ibu of Tanjung Tiram county Batu Bara Subregency in 2012 by total sampling method. The data of meal pattern included food type, frequency of meal, and the total consumed energy and protein collected by interview with the mothers of children with food recall 24 and food frequency questionnaire. Measuring the weight and height using scale for data gathering method. The collected data were then analyzed descriptively.

The result of the study showed that the food consumption pattern of the children in the inadequate, in which there were 13,3% have adequate energy consumption pattern, and 17,7% of them in the inadequate. Similarly in the case of protein consumption, there were of them in the adequate and even there were some it continued with indeks with under weigh 15,5%. It continued with TB/U indeks, still there were short children 15,5% and BB/TB indeks with 6,7% thin.

It is recommended that the administrator of the institution is more pro-active in improving nutrition and coordination with the primary health center for growth monitoring of children and inform parents to more attention to child feeding.

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Endang Mariana

NIM : 091000243

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Menikah

Alamat Rumah : Jalan dr. Mansyur gg. Sipirok No. 6A Medan Alamat Orang Tua : Jl.Merdeka Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung

Tiram Kabupaten Bara

Riwayat Pendidikan

Tahun 1992 – 1998 : SD Negeri Tanjung Tiram Tahun 1998 – 2001 : MTS Tanjung Tiram Tahun 2001 – 2004 : MAN 2 MODEL Medan

Tahun 2005 – 2008 : Akademi Kebidanan Sehat Medan

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahNya yang telah memberikan kekuatan maupun kesehatan kepada penulis selama dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Konsumsi Pangan dan Status Gizi Anak Peserta Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat bagi penulis untuk menyelesaikan Pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ayahanda Rusli dan Ibunda Khalijah Usman SPd tercinta yang telah banyak berkorban materil dan moril serta membesarkan dan mendidik penulis dengan kasih sayang dan juga untuk kakak dan abang tercinta, NS. Masdalena S.Kep, dr. Fitriani, dr. Zulpan Zulkarnain, dr. Tristiana, Herli Sefriadi, ST, Bripka Mulyadi, SH yang tak henti-hentinya memberikan dorongan, bimbingan, nasehat dan doa pada penulis setiap saat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Selanjutnya tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(8)

dosen penguji II yang telah banyak memberikan saran yang membangun dan arahan dalam penulis skripsi ini.

3. Ibu Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes selaku dosen pembimbing I dan Ketua penguji yang telah banyak memberikan dukungan yang sangat menginspirasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Fitri Ardiani, SKM, MPH, selaku dosen Pembimbing II dan dosen penguji I yang selalu sabar dalam memberikan pengarahan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Ernawati Nasution, SKM, M.Kes. selaku Sekretaris Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU sekaligus dosen Penguji III yang telah banyak memberikan saran yang membangun dan arahan dalam penulis skripsi ini.

6. Seluruh dosen dan staff pegawai FKM USU yang telah membimbing dan membantu selama perkuliahan.

7. Ibu Salmah Kusrin selaku ketua penyelenggara PAUD Kasih Ibu, terima kasih telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di PAUD yang Ibu pimpin.

8. Sahabat- sahabat kos: Sri Rahmawati, Nuraini, Dila Sipahutar, Eli Maslaini Pakpahan, Mela Handayani, Kiki, atas keceriaan, kebersamaan, semangat, kasih sayang, bantuan dan doa yang telah diberikan kepada penulis.

(9)

masyarakat yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan semangat, doa dan bantuan kepada penulis. Terima kasih untuk sebuah pertemanan terindah selama penulis menjalani pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan nya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Juli 2012 Penulis

(10)

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan

Abstrak ... i

Abstract ... ii

Daftar Riwayat Hidup ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel ... ix

Daftar Gambar ... x

Daftar Lampiran ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 5

1.3.1. Tujuan Umum ... 5

1.3.2. Tujuan Khusus ... 5

1.4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. Anak Usia Dini ... 7

2.1.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini 8 2.2. Program Pendidikan Anak Usia Dini ... 11

2.3. Konsumsi Pangan ... 12

2.3.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan ... 13

2.4 Kebutuhan Gizi Pada Anak Usia Dini ... 14

2.4.1. Energi ... 15

2.4.2. Protein ... 16

2.5. Pola Makan dan Status Gizi ... 17

2.6. Masalah Gizi Pada Anak Usia Dini ... 18

2.7. Pengukuran Status Gizi Anak Usia Dini ... 20

2.8. Penilaian Status Gizi Secara Antropometri ... 21

2.8.1 Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U) ... 22

2.8.2 Indeks Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) ... 22

2.8.3 Indeks Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) ... 23

2.9. Kerangka Konsep ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

3.1. Jenis Penelitian... 24

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 24

(11)

3.3. Populasi dan Sampel ... 24

3.3.1. Populasi ... 24

3.3.2. Sampel... 24

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 25

3.4.1. Data Primer ... 25

3.4.2. Data Sekunder ... 25

3.5. Defenisi Operasional ... 25

3.6. Aspek Pengukuran ... 26

3.7. Pengolahan dan Analisis Data ... 28

3.7.1. Pengolahan Data ... 28

3.7.2. Analisis Data... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 30

4.1. Gambaran Umum PAUD Kasih Ibu ... 30

4.2. Karakteristik Orang Tua ... 30

4.3. Karakteristik Anak Usia Dini ... 32

4.4. Konsumsi Energi dan Protein Anak Usia Dini ... 32

4.5. Status Gizi Anak Usia Dini ... 34

4.6. Konsumsi Pangan dan Status Gizi Anak Usia Dini ... 35

4.7. Pola Penyakit Infeksi ... 39

BAB V PEMBAHASAN ... 40

5.1. Karakteristik Orang Tua ... 40

5.2. Konsumsi Pangan Anak Usia Dini ... 41

5.3. Status Gizi Anak Usia Dini ... 45

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 48

6.1. Kesimpulan ... 48

6.2. Saran ... 49 DAFTAR PUSTAKA

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1. Kebutuhan Konsumsi Energi dan Protein Balita Berdasarkan Angka

Kecukupan Gizi (AKG) rata-rata per hari ... 15 Tabel 2.2. Pedoman Pola Makan Balita ... 17 Tabel 4.1. Distribusi Orang Tua Berdasarkan Umur Orang Tua Pada Anak

yang Mengikuti PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 30

Tabel 4.2. Distribusi Orang Tua Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 31 Tabel 4.3. Distribusi Kepala keluarga Berdasarkan Mata Pencaharian di desa

Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara tahun 2012. ... 31 Tabel 4.4. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis

Kelamin di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012... 32 Tabel 4.5. Distribusi Konsumsi Energi Anak Usia Dini di Desa Suka Maju

Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 32 Tabel 4.6. Distribusi Konsumsi Protein Anak Usia Dini di Desa Suka Maju

Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012 . ... 33 Tabel 4.7. Distribusi Konsumsi Energi Anak Usia Dini Berdasarkan

Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012... 33 Tabel 4.8. Distribusi Konsumsi Protein Anak Usia Dini Berdasarkan

Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012... 34 .

Tabel 4.9. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Status Gizi (BB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 34 Tabel 4.10. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Status Gizi (TB/U) di

(13)

Tabel 4.11. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Status Gizi (BB/TB) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 35 Tabel 4.12. Distribusi Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Usia Dini

Berdasarkan (BB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan TanjungTiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 36

Tabel 4.13. Distribusi Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan (TB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 36 Tabel 4.14. Distribusi Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Usia Dini

Berdasarkan BB/TB di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 37 Tabel 4.15. Distribusi Konsumsi Protein dan Status Gizi Anak Usia Dini

Berdasarkan BB/U di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 37 Tabel 4.16. Distribusi Konsumsi Protein dan Status Gizi Anak Usia Dini

Berdasarkan TB/U di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 38 Tabel 4.17. Distribusi Konsumsi Protein dan Status Gizi Anak Usia Dini

Berdasarkan BB/TB di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 38 Tabel 4.18. Distribusi Status Gizi (BB/U) Anak Usia Dini Berdasarkan

Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 39 Tabel 4.19. Distribusi Status Gizi (TB/U) Anak Usia Dini Berdasarkan

Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012. ... 39 Tabel 4.20 Distribusi Status Gizi (BB/TB) Anak Usia Dini Berdasarkan

(14)

DAFTAR GAMBAR

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Lampiran 2 Master Data

Lampiran 3 Dokumentasi Penelitian

(16)

ABSTRAK

Anak usia dini merupakan masa paling penting dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi, masa ini diperlukan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui konsumsi pangan dan status gizi anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

Penelitian ini merupakan survei yang bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 45 anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara dengan tehnik total sampling. Data tentang pola makan yang terdiri dari jenis makanan, frekuensi makan, serta jumlah konsumsi energi dan protein diperoleh melalui wawancara dengan ibu anak menggunakan food recall 24 jam dan kuesioner food frequency. Berat badan ditimbang menggunakan timbangan injak, tinggi badan diukur dengan menggaunakan mikrotois. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konsumsi energi anak yang termasuk kategori kurang sebanyak 17,7% dan tingkat konsumsi energi anak termasuk baik sebesar 13,3%. Demikian juga dalam konsumsi protein sebagian besar termasuk kategori kurang bahkan ada yang defisit 15,5%, dan anak yang mempunyai status gizi berdasarkan indeks BB/U yaitu berat badan kurang sebanyak 15,5%, Berdasarkan indeks TB/U terdapat anak berbadan pendek 15,5%, demikian juga dengan indeks BB/TB juga masih mempunyai status gizi kurus 6,7%.

Pengurus yayasan disarankan untuk lebih memperhatikan upaya peningkatan gizi dan bekerja sama dengan puskesmas untuk melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan anak dan memberitahukan kepada orang tua untuk lebih memperhatikan pemberian makanan kepada anak-anak.

(17)

ABSTRACT

The early childhood is the important period in the formation foundations of personality,thinking capability, intelligence,skill and ability to socialize. This time and stimulation necessary conditions to suit the needs of children for child growth and development achieved by optimal. The objective of the study is to know the food consumption and nutritional status of children who attended the PAUD program of Kasih Ibu of Tanjung Tiram county Batu Bara Subregency in 2012.

The present study is a descriptive survey, with the sampel of 45 children who attended the PAUD program of Kasih Ibu of Tanjung Tiram county Batu Bara Subregency in 2012 by total sampling method. The data of meal pattern included food type, frequency of meal, and the total consumed energy and protein collected by interview with the mothers of children with food recall 24 and food frequency questionnaire. Measuring the weight and height using scale for data gathering method. The collected data were then analyzed descriptively.

The result of the study showed that the food consumption pattern of the children in the inadequate, in which there were 13,3% have adequate energy consumption pattern, and 17,7% of them in the inadequate. Similarly in the case of protein consumption, there were of them in the adequate and even there were some it continued with indeks with under weigh 15,5%. It continued with TB/U indeks, still there were short children 15,5% and BB/TB indeks with 6,7% thin.

It is recommended that the administrator of the institution is more pro-active in improving nutrition and coordination with the primary health center for growth monitoring of children and inform parents to more attention to child feeding.

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Status gizi yang baik untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas pada hakekatnya harus dimulai sedini mungkin yakni sejak manusia itu masih berada dalam kandungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah makanannya. Melalui makanan manusia mendapatkan zat gizi yang merupakan kebutuhan dasar manusia untuk hidup dan berkembang. Ketidaktahuan tentang cara pemberian makan pada anak balita baik dari jumlah, jenis dan frekuensi makanan secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab terjadinya masalah kurang gizi pada anak (Husaini dkk, 1999).

(19)

Pada anak balita upaya perbaikan gizi sangat penting dilakukan, Oleh karena itu perlu diberikan perhatian, pembinaan, dan pengawasan yang sedini mungkin agar menghasilkan kualitas yang baik. Masalah gizi pada anak balita timbul karena tidak tersedianya zat-zat gizi dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini konsumsi makanan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Almatsier, 2004). Apabila orang tua tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam memberikan makanan pada balita maka risiko kekurangan gizi pada buah hatinya akan meningkat. Makanan yang tidak menarik dan tidak diminati oleh balita akan semakin membuat selera makannya menurun sehingga asupan zat gizinya menjadi terbatas. Keadaan ini akan membawa pengaruh negatif pada pertumbuhan balita (Ramayulis, 2008).

Hasil penelitian Santi ( 2011) menunjukkan bahwa pola makan pada balita yang cukup lebih banyak dengan pencapaian penerapan status gizi baik sebanyak 26 (23,9 %), status gizi kurang sebanyak 22 (20,2 %), sedangkan pada pola makan kurang dengan pencapaian status gizi baik sebanyak 16 (14,7 %), status gizi kurang sebanyak 45 (41,3 %). Sedangkan menurut hasil penelitian Puspita (2006) Status gizi balita dengan status gizi baik pada keluarga tidak miskin mencapai 100% sedang pada keluarga miskin hanya mencapai 74,19% dan 22,58% gizi kurang. Diharapkan bagi ibu lebih memperhatikan konsumsi pangan pada balita untuk mendapatkan status gizi yang baik.

(20)

rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Dinas kesehatan, 2010). Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggara pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (Koordinasi motorik halus dan kasar). Kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan, spritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak-anak usia dini (Ahira, 2011). Menurut Sudarso (2011), Perkembangan yang diperoleh anak pada usia dini, sangat mempengaruhi perkembangan anak pada tahap berikutnya dan meningkatkan produktivitas dimasa dewasa. Pelaksanaan pembelajaran pada prasekolah (Pendidikan Anak Usia Dini) perlu dikembangkan ke arah pembelajaran sesuai dunianya, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk aktif dan kreatif dengan menerapkan konsep belajar sambil bermain.

(21)

Berdasarkan survei awal, berdirinya PAUD Kasih Ibu di awali dengan adanya keinginan masyarakat Desa Suka Maju dalam hal pendidikan anak usia dini. Sebenarnya di desa tersebut sudah ada berdiri TK ( Taman Kanak-Kanak), tetapi biaya pendidikannya mahal bagi masyarakat yang sebagian besar kondisi ekonominya menengah ke bawah dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan tukang ojek. Keinginan tersebut diajukan kepada ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang kemudian di sampaikan kepada Bupati. Dengan adanya izin dari Bupati, maka di dirikanlah PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju yang ditujukan bagi masyarakat menengah kebawah. Sehingga anak usia dini yang berada di Desa Suka Maju memperoleh pendidikan yang layak sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar.

Dengan berdirinya PAUD Kasih Ibu diharapkan masyarakat terutama orang tua untuk ikut berperan aktif dalam mengembangkan kepribadian diri, kemampuan berfikir dan kecerdasan anak. Berdasarkan hasil observasi secara fisik bahwa anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu memiliki tubuh yang kurus dan pendek berdasarkan usianya, kemungkinan disebabkan asupan makanan dan gizi yang rendah serta menderita suatu penyakit. Menurut data Puskesmas Tanjung Tiram, pada tahun 2012 dari jumlah 776 anak, terdapat 68 (8,76 %) anak berstatus gizi kurang. Hal ini menunjukkan bahwa kasus gizi kurang pada anak di Desa Suka Maju masih menjadi masalah, sehingga perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius.

(22)

1.2. Perumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsumsi pangan dan status gizi anak peserta program pendidikan anak usia dini (PAUD) Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui konsumsi pangan dan status gizi anak peserta program pendidikan anak usia dini (PAUD) Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui jenis dan frekuensi makanan yang dikonsumsi anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

2. Mengetahui penyakit infeksi yang diderita anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Untuk menambah informasi bagi pengurus PAUD Kasih Ibu Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram tentang konsumsi pangan dan status gizi anak yang mengikuti program PAUD.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Anak Usia Dini

Periode sesudah masa bayi hingga berusia lima tahun disebut periode masa prasekolah. Usia ini merupakan periode berat karena kondisi kesehatan anak masih belum stabil. Usia ini merupakan periode berat karena kondisi kesehatan anak masih belum stabil. Jika makanan yang diberikan tidak memenuhi standar gizi, anak mudah terserang infeksi, terutama diare atau cacingan. Jika terserang, anak akan menjadi kurus, kurang bersemangat, cengeng, cenderung lamban, dan bodoh. Karena itu, kebutuhan gizinya yang semakin besar sejalan dengan perkembangan fisiknya harus diperhatikan (Widjaja, 2002). Otak anak mempunyai satu triliun sel otak dan bertriliun- triliun sambungan antar sel saraf otak. Bila tidak distimulasi sejak dini, sambungan ini akan musnah. Layaknya daun di musim gugur, potensi mereka pun akan berguguran. Usia balita disebut sebagai the golden age (usia keemasan) seorang manusia.

(24)

Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Pada usia ini pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus akan tetapi aktivitas motorik tinggi, di mana sistem tubuh sudah mencapai kematangan. Sedangkan pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75-7,5 centi meter setiap tahunnya (Hidayat, 2005).

Pada masa ini, anak sering dikenal sebagai “masa keras kepala”. Akibat pergaulan dengan lingkungannya terutama dengan anak-anak yang lebih besar, anak mulai senang jajan. Jika hal ini dibiarkan, jajanan yang dipilih dapat mengurangi asupan zat gizi yang diperlukan bagi tubuhnya sehingga anak mengalami kurang gizi. Perilaku makan sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologis, kesehatan, dan sosial anak. Oleh karena itu, keadaan lingkungan dan sikap keluarga merupakan hal yang sangat penting dalam pemberian makanan pada anak (Uripi, 2004).

2.4.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini

(25)

seperti berbicara, bermain, berhitung, membaca dan lain-lain. Sedangkan perkembangan secara emosional anak dapat dilihat dari perilaku sosial di lingkungan anak (Hidayat, 2005).

Masa ini diperlukan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Kondisi kesehatan anak yang buruk akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Akibatnya kualitas SDM anak secara otomatis menurun. Kondisi yang mendukung proses dan perkembangan anak yang baik adalah kondisi lingkungan fisik yang sehat dan terhindar dari penyebaran kuman dan penyakit. Selain itu, asupan gizi yang baik pun tentu saja sangat mempengaruhi pertumbuhan anak, terutama otak yang sedang berkembang pesat pada masa ini (Anonim, 2012).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak adalah:

a). Faktor Dalam

• Ras/etnik atau bangsa: Anak yang dilahirkan dari bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.

• Keluarga: ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk, atau kurus.

(26)

• Jenis kelamin: Fungsi reproduksi anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat

• Genetik: Bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya, ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil

b) Faktor Luar yaitu: Faktor pranatal:

• Gizi ibu hamil: Terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.

• Makanan: posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital • Toksi/zat kimia: Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan kelainan

kongenital.

• Psikologi ibu: kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil.

c) Faktor Persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kaerusakan otak.

d) Sosio Ekonomi: Kemiskinan selalu berkaitan dengan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan akan menghambat pertumbuhan anak. e) Lingkungan Pengasuhan: Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat

(27)

2.5. Program Pendidikan Anak Usia Dini

Program pendidika Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai berusia 6 tahun, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sesuai tahap-tahap perkembangan atau tingkat usia mereka. PAUD juga merupakan pendidikan persiapan untuk mengikuti jenjang pendidikan sekolah dasar. Secara lebih spesifik, program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan pendidikan melalui jalur formal seperti Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat, serta jalur pendidikan non-formal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat, dan jalur informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan (Departemen Pendidikan Nasional 2007).

(28)

mulia. Usia dini merupakan saat yang amat berharga untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme, kebangsaan, agama, etika, moral, dan sosial yang berguna untuk kehidupannya dan strategis bagi pengembangan suatu bangsa (Departemen Pendidikan Nasional, 2007).

Dalam rangka mendukung kebijakan pembinaan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terarah, terpadu dan terkoordinasi pada tahun 2010 Kementerian Pendidikan Nasional telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional. Dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa pembinaan PAUD baik formal, nonformal maupun informal, berada di bawah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI), yang secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini (Direktorat Pembinaan PAUDNI, 2011)

2.6. Konsumsi Pangan

(29)

merupakan upaya memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beranekaragam dan seimbang dalam jumlah dan komposisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi yang dapat mendukung hidup sehat, aktif dan produktif. Mengkonsumsi pangan yang beranekaragam akan dapat memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang (Pangan, 2008).

2.3.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan 1. Pengetahuan ibu mengenai makanan yang bergizi

Pengetahuan ibu tentang bahan makanan yang bergizi masih kurang maka pemberian makanan untuk keluarga biasa dipilih bahan-bahan makanan yang hanya dapat mengenyangkan perut saja tanpa memikirkan apakah makanan itu bergizi atau tidak, sehingga kebutuhan gizi energi dan zat gizi masyarakat dan anggota keluarga tidak tercukupi. Bila ibu rumah tangga memiliki pengetahuan gizi yang baik ia akan mampu untuk memilih makanan yang begizi untuk dikonsumsi ( Ramayulis, 2008).

2. Pendidikan ibu

(30)

3. Pendapatan dan anggaran belanja keluarga

Rendahnya pendapatan merupakan rintangan lain yang menyebabkan orang-orang akan mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan. Rendahnya pendapatan itu mungkin disebabkan menganggur atau setengah menggangur karena susahnya memperoleh lapangan kerja tetap sesuai dengan yang diinginkan. Adapula keluarga-keluarga yang sebenarnya mempunyai penghasilan cukup akan tetapi sebagian anaknya gizi kurang. Hal ini oleh karena cara mengatur belanja keluarga yang kurang baik. Untuk pangan misalnya disediakan belanja terlalu sedikit, lebih banyak diperuntukkan bagi pembelian barang-barang lain karena pengaruh lingkungan atau kebiasaan. Ada Juga keluarga-keluarga yang membeli bahan pangan dalam jumlah cukup tetapi karena kurang pandai memilih tiap jenis pangan yang dibeli berakibat kurangnya mutu dan keragaman pangan yang diperoleh. Diantara keluarga dengan penghasilan cukup atau lebih masih banyak yang belum terbiasa membuat perencanaan pengeluaran keluarga sehingga hasilnya lebih acak-acakan (Sajogyo, 1994).

2.4 Kebutuhan Gizi Pada Anak Usia Dini

(31)

konsumsi pada masa lalu. Ini berarti bahwa konsumsi gizi masa kanak-kanak memberi andil terhadap status gizi masa dewasa (Anonim, 2012).

[image:31.612.116.537.500.590.2]

Menurut Behrman (1996), Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang nutrisi dalam tubuh seperti kekurangan energi dan protein, anemia dan lain-lain. Selain itu kebutuhan nutrisi dapat membantu dalam aktifitas sehari-hari karena nutrisi merupakan sumber tenaga yang dibutuhkan berbagai organ dalam tubuh, dan juga sebagai sumber pembangun dan pengatur dalam tubuh. Sebagai sumber tenaga nutrisi dapat diperoleh dari karbohidrat sebanyak 50-55%, lemak sebanyak 30-35% dan protein sebanyak 15%. Pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak haruslah mengandung zat gizi yang seimbang (Hidayat, 2005). Prioritas nutrisi adalah energi dan protein, namun tidak mengabaikan kebutuhan zat gizi lainnya masukan energi dan protein yang kurang pada masa ini akan berdampak pada perkembangan otak dan susunan syaraf menjadi terhambat (Mitayani, 2010).

Tabel 2.1. Kebutuhan Konsumsi Energi dan Protein Anak Balita Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) rata-rata per hari.

No Golongan Umur (Tahun)

Berat Badan (Kg)

Tinggi Badan (cm)

Energi (Kkal)

Protein (gr)

1 1-3 12 90 1.000 25

2 4-6 17 110 1.550 39

Sumber: Widya Karya Nasinal Pangan dan Gizi VIII, 2004 2.4.1. Energi

(32)

gram protein menghasilkan 4 kalori, dan 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. Menurut Beck (2000), energi diperlukan untuk berbagai proses metabolisme di dalam tubuh, yaitu untuk proses pertumbuhan dan mempertahankan suhu tubuh agar tetap stabil, dan gerakan otot untuk aktivitas (Uripi, 2004). Energi atau kalori sangat berpengaruh terhadap laju pembelahan sel pembentukan struktur organ-organ tubuh. Apabila energi berkurang maka proses dan pembelahan sel akan terganggu dapat mengakibatkan organ-organ tubuh dan otak anak mempunyai sel-sel yang lebih sedikit dari pada pertumbuhan normal (Asydhad, 2006).

2.4.2. Protein

Protein merupakan zat makanan bagian terbesar tubuh sesudah air, seperlima bagian tubuh adalah protein. Protein bertindak sebagai prekusor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat dan molekul-molekul yang esensial untuk kehidupan, membangun serta memelihara sel-sel jaringan tubuh (Mitayani, 2010).

(33)

2.8. Pola Makan dan Status Gizi

[image:33.612.110.530.225.375.2]

Pola konsumsi pangan yaitu susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Khomsan, 2010). Pola makanan anak yang dianjurkan berdasarkan bentuk makanan dan banyaknya makanan dalam ukuran rumah tangga dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2. Pedoman Pola Makan Balita

Sumber Tenaga Sumber zat Pembangun Sumber zat Pengatur 3-4 piring nasi @100

gram atau penggantinya (mie, bihun, roti, kentang)

4-5 porsi daging @50 gram atau penggantinya (tempe, tahu, telur, daging ayam). Dianjurkan sekurang-kurangnya 1 porsi berasal dari sumber protein hewani. Susu dianjurkan 2 gelas sehari.

2-3 porsi sayur dan buah. Gunakan sayur dan buah-buahan berwarna (1 porsi sayur = 1 mangkuk sayur, 1 porsi buah segar = 100 gram)

Sumber : widjaja, 2002

Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Oleh sebab itu, pola makan yang baik dan teratur perlu diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan variasi makanan. Pada usia balita, anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan tajam, sehingga apa yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia selanjutnya. Dengan memperkenalkan anak pada jam-jam makan yang teratur dan variasi jenis makanan, diharapkan anak akan memiliki disiplin (Marimbi, 2010).

(34)

pukul 10, dan sore hari antara waktu makan siang dan malam sekitar pukul 4 pukul 5. Bentuk makanan selingan ini adalah disajikan dengan bentuk yang menarik, mudah dimakan, ukuran porsi tidak terlalu mengenyangkan. Contoh makanan selingan adalah pisang goreng atau rebus, berbagai bubur seperti bubur kacang hijau, bubur sumsum, bubur ketan hitam, kue-kue basah seperti getuk lindri, kue lapis, dan sebagainya (Soegeng, 2004).

Pada anak balita kebutuhan zat gizi diperlukan dalam jumlah yang besar, dimana pada anak usia ini sedang dalam masa perkembangan. Oleh karena kapasitas perutnya masih terlalu kecil untuk menampung semua makanan yang dikonsumsi dapat terpenuhi (Asydhad, 2006). Apa yang dimakan anak lebih penting daripada kapan dan berapa kali ia makan. Sebaiknya, membiasakan anak makan tiga kali sehari, diselingi kudapan. Bila anak lebih banyak kudapan daripada makanan utama, usahakanlah agar anak mendapat nutrisi sebanyak mungkin (Lawson, 2009).

2.9. Masalah Gizi Pada Anak Usia Dini

(35)

kesehatan dan gizi, serta rendahnya pendapatan keluarga yang menyebabkan kesehatan dan gizi anak tidak banyak diperhatikan. Berbagai masalah kesehatan dan gizi lebih banyak terjadi pada kelompok masyarakat yang mengkonsumsi bahan pangan yang kurang, baik dalam jumlah maupun mutunya. Selain faktor ekonomi, masalah sosial dan budaya juga mempengaruhi dalam kehidupan sehari-hari terbukti dengan pembiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak higinies dan tidak mencukupi kebutuhan gizi anak (Anonim, 2012).

Beberapa masalah gizi yang timbul pada anak usia dini dapat dilihat sebagai berikut:

- Penolakan terhadap makanan, sulit makan, hanya sedikit jenis makanan yang dimakan.

- Kebiasaan makan camilan diantara waktu makan utama mengurangi nafsu makan pada waktu makan.

- Tingginya konsumsi jus buah dan minuman ringan.

- Diet rendah lemak/tinggi serat, yang dianggap sehat oleh orang tua.

- Tingginya konsumsi kudapan kue, biskuit, keripik, kudapan manis, permen makanan digunakan sebagai hadiah.

Adapun strategi/ anjuran yang dapat dilakukan/ diberikan untuk mengatasi masalah gizi pada anak usia dini adalah:

(36)

- Batasi ketersediaan makanan diantara waktu makan utama: Makan adalah suatu kegiatan dan bukan sekedar pelengkap untuk aktivitas lain.

- Beresiko mempengaruhi nafsu makan dan kesehatan gigi : berikan hanya air, jus buah yang diencerkan. Minuman ringan hanya sesekali saja.

- Berikan pilihan kudapan yang lain, buah, roti, yogurt, roti bakar yang dioles, berondong jagung tanpa tambahan rasa, sereal.

- Pastikan anak cukup makan untuk memenuhi kebutuhannya: pola pertumbuhan sangatlah penting.

- Gunakan hadiah (penghargaan) yang tidak ada hubungannya dengan makanan (Barasi, 2007).

Menurut Khomsam, (2003) intake gizi yang baik memiliki peranan penting dalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal juga mencakup pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seseorang, akibat dari seorang anak menderita gizi kurang akan terlihat:

1. Berpenampilan lebih pendek dari anak yang lain yang seumuran dengannya 2. Memiliki berat badan lebih rendah menurut umurnya

3. Memiliki daya tahan tubuh yang kurang, dan rentan terhadap penyakit

4. Mengalami gangguan perkembangan otak sehingga mempengaruhi tingkat kecerdasannya (Mitayani, 2010)

2.10. Pengukuran Status Gizi Anak Usia Dini

(37)

digunakan Antropometri, karena relatif murah dan mudah, objektif dan dapat dengan cepat dilakukan pengukuran serta dapat dilakukan setiap orang setelah dilatih (Supariasa, 2002).

2.8. Penilaian Status Gizi Secara Antropometri

Supariasa (2002), mendefenisikan antropometri adalah ukuran tubuh. Maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

Pengukuran antropometri relatif mudah dilaksanakan, akan tetapi untuk berbagai cara, pengukuran antropometri ini membutuhkan keterampilan, peralatan dan keterangan untuk pelaksanaanya. Jika dilihat dari tujuannya antropometri dapat dibagi menjadi dua yaitu :

1. Untuk ukuran massa jaringan : pengukuran berat badan, tebal lemak dibawah kulit, lingkar lengan atas. Ukuran massa jaringan ini sifatnya sensitive, cepat berubah, mudah turun naik dan menggambarkan keadaan sekarang.

2. Untuk ukuran linier : pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar dada. Ukuran linier sifatnya spesifik, perubahan relatif lambat, ukurannya tetap atau naik, dapat menggambarkan riwayat masa lalu.

(38)

2.8.1 Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberikan gambaran tetang massa tubuh (otot dan lemak), karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak misalnya karena penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya makanan yang dikonsumsi maka berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan zat gizi terjamin, berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya keadaan abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan yaitu berkembang lebih cepat atau berkembang lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan sifat-sifat ini, maka indeks berat badan menurut umur (BB/U) digunakan sebagai salah satu indikator status gizi. Oleh karena sifat berat badan yang stabil maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang pada saat kini (current nutritional status) (Supariasa, 2002).

2.8.2 Indeks Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

(39)

balita, baik yang berkaitan dengan kesahihan pengukuran tinggi badan maupun ketelitian data umur (Jahari, 1998).

2.8.3 Indeks Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Berat badan memiliki hubungan linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertambahan tinggi badan dengan percepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini dan masa lalu, terlebih bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Oleh karena itu indeks berat badan menurut tinggi badan disebut pula sebagai indikator yang independen terhadap umur. Karena BB/TB memiliki keuntungan dan kelemahan, terutama bila digunakan terhadap anak balita (Jahari, 1998).

2.10. Kerangka Konsep

[image:39.612.114.529.480.545.2]

Berdasarkan pada masalah dan tujuan yang dicapai dalam penelitian ini,maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar I. Kerangka Konsep Penelitian

Bagan diatas menjelaskan bahwa konsumsi pangan anak usia dini yang terdiri dari jenis makanan, jumlah zat gizi (energi dan protein), dan frekuensi makan dengan menggambarkan keadaan status gizi pada anak usia dini.

Konsumsi pangan : - Jenis makanan

- Jumlah zat gizi (energi dan protein) - Frekuensi makan

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.2. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif survei yaitu untuk mengetahui konsumsi pangan dan status gizi anak yang mengikuti program pendidikan anak usia dini (PAUD) Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara. Lokasi ini dipilih karena Desa Suka Maju mayoritas masyarakatnya berasal dari ekonomi menengah kebawah yaitu bermata pencaharian nelayan dan tukang ojek. Berdasarkan hasil observasi, secara fisik anak-anak yang mengikuti program PAUD Kasih Ibu memiliki tubuh yang pendek dan kurus berdasarkan usianya.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2012. 3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

(41)

3.3.2. Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang anak peserta program PAUD (total sampling).

3.4. Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini berdasarkan sumbernya dapat dibagi dua,yaitu:

3.4.1. Data Primer

Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan ibu anak yang mengikuti program PAUD, yaitu: karakteristik anak (umur, jenis kelamin), penyakit penyerta, jenis dan frekuensi makanan menggunakan formulir food frequency, jumlah zat gizi energi protein menggunakan food recall 24 jam, untuk menilai makanan anak selama di PAUD menggunakan food record, pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak dan tinggi badan menggunakan mikrotois.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan atau dokumen di PAUD Kasih Ibu Kecamatan Tanjung Tiram yaitu berupa data anak, gambaran umum dan letak geografis.

3.5. Defenisi Operasional

(42)

2. Jenis makanan adalah berbagai macam makanan yang dikonsumsi oleh anak usia dini berupa makanan utama (makanan pokok, pangan hewani, pangan nabati, sayur, buah) atau makanan jajanan lainnya.

3. Frekuensi makan adalah berapa kali makanan yang dikonsumsi anak pada waktu tertentu, yaitu: <3x sehari, >3x sehari, 3x seminggu, >3x seminggu.

4. Status gizi anak usia dini adalah keadaan gizi anak usia dini yang diukur dengan menggunakan indeks antropometri BB/U (berat badan menurut umur), TB/U (tinggi badan menurut umur) dan BB/TB (berat badan menurut tinggi badan. Kemudian dibandingkan dengan standar WHO tahun 2005.

5. Anak usia dini adalah anak yang berusia 3-6 tahun yang mengikuti PAUD Kasih Ibu.

3.6. Aspek Pengukuran 1. Konsumsi Pangan

Jenis makanan dan jumlah energi protein yang dikonsumsi anak usia dini diperoleh berdasarkan food recall 24 jam yang dilakukan 2 kali dan harinya tidak berturut-turut, yaitu melalui wawancara dengan ibu anak yang mengikuti program PAUD. Dari hasil food recall 24 jam, dihitung rata-rata konsumsi energi dan protein, kemudian dibandingkan dengan angka kecukupan gizi anak. Dengan menggunakan rumus.

(43)

Adapun klasifikasi tingkat konsumsi energi dan protein, yaitu: ≥100 % AKG = Baik

80-99 % AKG = Sedang

70 % - 80 % AKG = Rendah <70 % AKG = Defisit (Supariasa, 2002)

2. Status Gizi Anak Usia Dini

Status gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Untuk menentukan klasifikasi status gizi digunakan Z_skor sebagai batas ambang kategori. Rumus perhitungan Z_skor adalah :

Untuk mengukur status gizi anak balita digunakan indikator BB/U, TB/U, BB/TB dengan merujuk pada standar baku WHO 2005 dengan kategori :

Indeks BB/U

a. Normal : Z_skor ≥ -2 s/d ≤ 2 b. Kurang : Z_skor ≥ -3 s/d < -2 c. Sangat Kurang : Z_skor < -3

Indeks TB/U

(44)

c. Sangat Pendek : Z_skor < -3 d. Tinggi : Z_skor > 2 s/d ≤ 3 e. Sangat Tinggi : Z_skor > 3

Indeks BB/TB

a. Sangat Kurus : Z_skor < - 3

b. Kurus : Z_skor ≥ -3 s/d < -2 c. Normal : Z_skor ≥ -2 s/d ≤ 1 d. Gemuk : Z_skor > 2 s/d ≤ 3 e. Sangat Gemuk : Z_skor > 3 f. Resiko Gemuk : Z_skor > 1 s/d 2 3.7. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan diolah dengan nutrisurvei, dianalisa secara deskrptif dan disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi.

3.7.1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Editing

Untuk melakukan pengecekan isi kuesioner apakah kuesioner sudah diisi dengan lengkap jelas jawaban dari responden, relevan dengan pertanyaan dan konsisten.

b. Coding

(45)

c. Tabulating yaitu penyusunan data agar dengan mudah untuk dijumlahkan, disusun, ditata dan dianalisis

3.7.2. Analisis Data

Data yang dikumpulkan diperoleh secara manual dengan menggunakan kuesioner. Kemudian data tersebut dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan narasi.

(46)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum PAUD Kasih Ibu

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kasih Ibu merupakan pendidikan non formal yang diresmikan pada tahun 2010 yang beralamat di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara.

PAUD Kasih Ibu ini menerima murid dengan syarat yaitu: Berasal dari keluarga kurang mampu dan mempunyai anak dengan usia minimal 3 tahun.

Sarana dan fasilitas pada PAUD Kasih Ibu ini terdiri dari ruang guru, ruang kelas, kamar mandi, dan taman bermain.

Anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu seluruhnya berjumlah 45 orang, dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 17 orang dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 28 orang. Tenaga Pengajar pada PAUD Kasih Ibu ini berjumlah 4 orang.

4.2. Karakteristik Orang Tua

[image:46.612.117.533.610.678.2]

Karakteristik Orang Tua di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.1. Distribusi Orang Tua Berdasarkan Umur Orang Tua Pada Anak yang Mengikuti PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Umur (Tahun) n %

1 22-26 27 60

40

2 27-31 18

Jumlah 45 100,0

(47)
[image:47.612.112.527.191.297.2]

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur 22-26 tahun sebanyak 27 orang (60%) dan sebagian kecil berumur 27-31 tahun sebanyak 18 orang (40%).

Tabel 4.2. Distribusi Orang Tua Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Pendidikan n %

1 Tidak tamat SD 19 42,2

2 Tamat SD 18 40

3 SLTP/ Sederajat 7 15,5

4 SLTA/Sederajat 1 2,2

Jumlah 45 100,0

Tabel 4.2 diketahui bahwa sebagian besar pendidikan terakhir responden adalah SLTA / Sederajat sebanyak 1 orang (2,2%) dan SLTP / Sederajat sebanyak 7 orang (15,5%), tamat SD sebanyak 18 orang (40%), tidak tamat SD sebanyak 19 orang (42,2%).

Tabel 4.3. Distribusi Kepala Keluarga Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Pekerjaan n %

1 Nelayan 24 53,3

2 Pedagang 14 31,1

3 Tukang Ojek 7 15,5

Jumlah 45 100,0

(48)

4.3. Karekteristik Anak Usia Dini

[image:48.612.112.526.218.325.2]

Karakteristik anak usia dini yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dalam penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin pada keluarga. Dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.4. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Umur (Tahun) Jenis Kelamin n %

Laki-laki Perempuan

1 1-3 0 2 2 4,4

2 4-6 17 26 43 95,5

Jumlah 17 28 45 100,0

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian kecil anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu berumur 1-3 tahun sebanyak 2 (4,4%) dan sebagian berumur 4-6 tahun sebanyak 43 anak (95,5% ).

4.4. Konsumsi Energi dan Protein Anak Usia Dini

[image:48.612.113.526.547.649.2]

Konsumsi Pangan Anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dapat dilihat dari konsumsi energi dan protein dengan menggunakan metode food recall 24 jam dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5. Distribusi Konsumsi Energi Anak Usia Dini di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Konsumsi Energi n %

1 Baik 6 13,3

2 Sedang 24 53,3

3 4

Kurang Defisit

8 7

17,7 15,5

(49)
[image:49.612.111.527.188.297.2]

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa konsumsi energi anak dalam kategori baik sebanyak 6 orang (13,3%). Dan masih ada ditemukan anak yang mengalami defisit sebesar 7 orang (15,5%).

Tabel 4.6. Distribusi Konsumsi Protein Anak Usia Dini di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Konsumsi Protein N %

1 Baik 0 0

2 Sedang 21 46,6

3 4 Kurang Defisit 17 7 37,7 15,5

Jumlah 45 100,0

[image:49.612.112.552.467.608.2]

Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa konsumsi protein anak sebagian besar termasuk kategori kurang sebanyak 17 orang (37,7%) bahkan ada yang defisit sebesar 7 orang (15,5%). Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak anak yang mengalami masalah dalam konsumsi protein yaitu sebanyak 24 orang (53,2%).

Tabel 4.7. Distribusi Rata-Rata Konsumsi Energi dan Protein di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012 No Konsumsi Energi Konsumsi Energi Jumlah Baik Sedang Kurang Defisit

(50)

4.5. Status Gizi Anak Usia Dini

Status gizi anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dapat dilihat dari indeks berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.8. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Status Gizi (BB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Status Gizi n %

1 Normal 38 84,4

2 3

Kurang

Sangat Kurang

7 0

15,5 0

Jumlah 45 100,0

Tabel 4.8 menunujukkan bahwa satus gizi anak berdasarkan indeks berat badan menurut umur memiliki 84,4% dalam kategori normal. Namun pada status gizi tersebut masih ada anak yang mempunyai status gizi kurang sebanyak 15,5%. Tabel 4.9. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Status Gizi (TB/U) di Desa

Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Status Gizi n %

1 Normal 38 84,4

2 3

Pendek

Sangat Pendek

7 0

15,5 0

Jumlah 45 100,0

(51)
[image:51.612.113.523.85.233.2]

Tabel 4.10. Distribusi Anak Usia Dini Berdasarkan Status Gizi (BB/TB) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Status Gizi n %

1 Normal 42 93,3

2 3 4 Kurus Sangat Kurus Gemuk 3 0 0 6,7 0 0

Jumlah 45 100,0

Pada tabel 4.10 berdasarkan status gizi anak dari indeks berat badan menurut tinggi badan yang termasuk dalam kategori normal ada 93,3%. Dan terdapat juga 6,7% dalam kategori kurus.

4.6. Konsumsi Pangan dan Status Gizi Anak Usia Dini

Konsumsi pangan anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dapat dilihat dari konsumsi energi dan protein berdasarkan status gizi berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.11. Distribusi Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan (BB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Konsumsi Energi

Status Gizi (BB/U)

Jumlah Sangat

Kurang

Kurang Normal

(52)

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa konsumsi energi anak yang termasuk kategori baik memiliki status gizi normal sebanyak 6 orang (100,0%). Namun terdapat juga konsumsi energi dalam kategori defisit memiliki status gizi kurang sebesar 7 orang (100,0%).

Tabel 4.12. Distribusi Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan (TB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No

Konsumsi Energi

Status Gizi (TB/U)

Jumlah Sangat

Pendek

Pendek Normal

[image:52.612.117.531.536.704.2]

n % n % n % N % 1 Baik 0 0 0 0 6 100,0 6 100,0 2 3 4 Sedang Kurang Defisit 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 100,0 24 8 0 100,0 100,0 0 24 8 7 100,0 100,0 100,0 Pada tabel 4.12 dapat dilihat bahwa sebagian besar konsumsi energi anak yang termasuk kategori baik memiliki status gizi normal sebesar 6 orang (100,0%). Konsumsi energi dalam kategori kurang memiliki status gizi normal sebanyak 8 orang (100,0%) Sedangkan konsumsi energi dalam kategori defisit memiliki status gizi pendek sebanyak 7 orang (100,0%).

Tabel 4.13. Distribusi Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan BB/TB di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Konsumsi Energi

Status Gizi (BB/TB)

Jumlah Sangat

Kurus

Kurus Normal Gemuk

(53)

Pada tabel 4.13 menunjukkan bahwa konsumsi energi anak yang termasuk kategori baik dan memiliki status gizi normal sebanyak 6 orang (100,0%). Sedangkan konsumsi energi yang termasuk kategori kurang dan memiliki status gizi normal sebesar 8 orang (100,0%). Konsumsi energi dalam kategori defisit memiliki status gizi kurus ada 3 orang (42,9%).

Tabel 4.14. Distribusi Konsumsi Protein dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan (BB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No

Konsumsi Protein

Status Gizi (BB/U)

Jumlah Sangat

Kurang

Kurang Normal

[image:53.612.118.528.537.705.2]

n % n % n % n % 1 Baik 0 0 0 0 0 0,0 0 0 2 3 4 Sedang Kurang Defisit 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 100,0 21 17 0 100,0 100,0 0,0 21 17 7 100,0 100,0 100,0 Berdasarkan tabel 4.14 hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi protein anak yang termasuk kategori kurang dan memiliki status gizi normal sebesar 17 orang (100,0%). Sedangkan konsumsi protein anak yang termasuk kategori defisit memiliki status gizi kurang sebesar 7 orang (100,0%).

Tabel 4.15. Distribusi Konsumsi Protein dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan (TB/U) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No

Konsumsi Protein

Status Gizi (TB/U)

Jumlah Sangat

Pendek

Pendek Normal

(54)
[image:54.612.116.530.232.373.2]

Tabel 4.15 menunjukkan bahwa konsumsi protein anak yang termasuk kategori kurang dan memiliki status gizi normal sebesar 17 orang (100,0%). Sebagian anak yang memiliki konsumsi protein dalam kategori defisit dan status gizi pendek sebanyak 7 orang (100,0%).

Tabel 4.16. Distribusi Konsumsi Protein dan Status Gizi Anak Usia Dini Berdasarkan (BB/TB) di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No Konsumsi Protein

Status Gizi (BB/TB)

Jumlah Sangat

Kurus

Kurus Normal Gemuk

n % n % n % n % n %

[image:54.612.113.528.502.652.2]

1 Baik 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 4 Sedang Kurang Defisit 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 100,0 21 17 0 100,0 100,0 0 0 0 0 0 0 0 21 17 7 100,0 100,0 100,0 Berdasarkan tabel 4.16 menunjukkan bahwa konsumsi protein anak memiliki kategori sedang dan status gizi normal terdapat 21 orang (100,0 %). Sedangkan konsumsi protein anak yang termasuk dalam kategori defisit dan memiliki status gizi kurus sebanyak 7 orang (100,0%).

Tabel 4.17. Distribusi Status Gizi ( BB/U ) Anak Usia Dini Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012

No

Kelompok Umur (Tahun)

Status Gizi (BB/U)

Jumlah Sangat

Kurang

Kurang Normal

n % n % n % n %

1 1 - 3 0 0 0 0,0 2 100,0 2 100,0 2 4 – 6 0 0 7 16,3 36 83,7 43 100,0

(55)
[image:55.612.116.528.155.286.2]

status gizi anak dalam kategori normal sebesar 36 orang (83,7%). Namun terdapat juga 7 orang (16,3%) termasuk dalam kategori kurang.

Tabel 4.18. Distribusi Status Gizi ( TB/U ) Anak Usia Dini Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

No

Kelompok Umur (Tahun)

Status Gizi (TB/U)

Jumlah Sangat

Pendek

Pendek Normal

n % n % n % n %

1 1 - 3 0 0 0 0 2 100,0 2 100,0 2 4 – 6 0 0 7 21,2 36 83,7 43 100,0

Pada tabel 4.18 menunjukkan bahwa status gizi anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dalam kategori normal sebanyak 2 orang (100,0%) pada umur 1-3 tahun. Dan yang termasuk kategori pendek pada umur 4-6 tahun sebesar 7 orang (21,2%). Tabel 4.19. Distribusi Status Gizi (BB/TB ) Anak Usia Dini Berdasarkan

Kelompok Umur di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Tahun 2012.

No

Kelompok Umur (Tahun)

Status Gizi (BB/TB)

Jumlah Sangat

Kurus

Kurus Normal Gemuk

n % n % n % n % n %

1 1 – 3 0 0 0 0 2 100,0 0 0 2 100,0 2 4 – 6 0 0 3 7 40 93,0 0 0 33 100,0

[image:55.612.112.532.369.516.2]
(56)

4.7. Pola Penyakit Infeksi

(57)

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Karateristik Orang Tua

Dari hasil penelitian diketahui bahwa karateristik Orang tua berdasarkan umur sebagian besar berumur 22 – 26 tahun sebanyak 27 orang ( 60% ). Karateristik orang tua berdasarkan pendidikan sebagian besar tidak tamat SD berjumlah 19 orang (42,2%). Karateristik orang tua berdasarkan pekerjaan sebagian besar bekerja sebagai Nelayan sebanyak 24 orang (53,3 % ).

Dari hasil penelitian yang dilakukan, jika ditinjau dari karateristik orang tua berdasarkan pendidikan pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa rendahnya pendidikan orang tua akan mempengaruhi dalam hal memilih bahan pangan. Orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih makanan yang lebih baik dalam jumlah dan mutunya dibandingkan mereka yang berpendidikan rendah.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik cara pandang terhadap diri dan lingkungannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan untuk menyerap informasi dan pengetahuan juga semakin membaik.

(58)

orang tua disamping merupakan modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga juga berperan dalam pola penyusunan makanan untuk rumah tangga. Tingkat pendidikan formal ibu rumah tangga berhubungan positif dengan perbaikan dalam pola konsumsi pangan keluarga dan pola pemberian makanan pada anak.

Pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal kecukupan gizi untuk anak meskipun dalam keadaan miskin ternyata pertumbuhan dan perkembangan anak akan terlihat baik. Masalah konsumsi pangan dan gizi bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari suatu sistem yang ditentukan oleh berbagai faktor yaitu: Kurangnya pendidikan sangat berpengaruh terhadap kondisi keluarga tersebut terutama tentang pola asuh anak. Kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang pola asuh anak dapat menyebabkan pola asuh anak yang tidak memadai sehingga mengakibatkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan seimbang dan juga dapat memudahkan terjadinya infeksi yang berakhir dengan KEP (Seokirman, 2000).

5.2. Konsumsi Pangan Anak Usia Dini

(59)

pemilihan jenis makanan jadi tidak bervariasi dan tidak menarik. Kekurangan energi yang berlangsung lama pada seseorang akan mengakibatkan penurunan berat badan dan jika berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang. Pada keadaan gizi kurang akan mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan badan. Ini karena rendahnya pendapatan ekonomi keluarga yang berakibat rendahnya konsumsi energi dan protein anak.

Menurut (Sedioetama, 1996), untuk tingkat konsumsi lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi. Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan pangan, sedangkan kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan pangan. Untuk mencapai keadaan gizi yang baik, maka unsur kualitas dan kuantitas harus dapat terpenuhi. Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal akan meyebabkan rasa lapar dan dalam jangka waktu tertentu berat badan akan menurun yang disertai dengan menurunnya produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi, pada akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang selanjutnya dapat menyebabkan kematian.

(60)

cukup untuk memenuhi seluruh anggota keluarga baik jumlah, mutu dan keamanannya. Kemampuan suatu keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang dipengaruhi oleh daya beli (kemiskinan), pengetahuan dan juga oleh kemampuan wilayah dan rumah tangga memproduksi dan menyediakan pangan secara cukup, aman, dan kontiniu (Dinkes Prop Sumut, 2006).

Dari hasil penelitian yang dilakukan, ibu sangat jarang membeli bahan makanan yang beraneka ragam. Keluarga cenderung mengkonsumsi ikan yang diasinkan, ini disebabkan sebagian besar kepala keluarga bekerja sebagai nelayan, ikan yang segar di jual ke pasar, sementara ikan yang sudah tidak segar di bawa pulang dan diasinkan, serta mengkonsumsi telur dan makanan yang serba praktis seperti mie dan makanan jajanan. Anak-anak yang mengikuti PAUD Kasih Ibu dalam hal mengkonsumsi buahan dan sayur-sayuran sangat kurang. Sedangkan buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan bahan pengatur dalam tubuh, memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

(61)

Pendidikan bagi anak usia 0-6 tahun, kesehatan dan gizi bagi anak usia 0-6 tahun dan pendidikan di keluarga. Untuk mendorong kesehatan dan gizi yang baik bagi anak, guru dan orang tua harus bekerjasama dengan posyandu dan institusi lainnya untuk memantau status kesehatan dan gizi anak, serta memberikan penyuluhan kepada orang tua mengenai kesehatan, gizi dan PHBS (Perilaku hidup Bersih dan Sehat) (PAUDNI, 2011).

(62)

5.3. Status Gizi Anak Usia Dini

Dari hasil penelitian diketahui bahwa status gizi anak usia dini berdasarkan

ketiga indeks pengukuran berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut

umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB ), sekitar 80% termasuk

dalam kategori status gizi normal. Meskipun demikian, jika dilihat berdasarkan

indeks antropometri pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa berdasarkan indeks BB/U

terdapat 15,5% anak mengalami gizi kurang. Berdasarkan indeks TB/U terdapat

15,5% anak dengan status gizi pendek. Berdasarkan indeks BB/TB sebagian anak

menderita status gizi kurus sebesar 6,7%. Hal ini menunjukkan masih ada sebagian ibu yang kurang memperhatikan makanan anak nya dan disebabkan adanya penyakit infeksi seperti batuk, pilek dan diare yang terjadi secara berulang-ulang selama 6 bulan terakhir dengan persentase masing-masing adalah 64,4% dan 35,5%, mengakibatkan nafsu makan menurun dan daya tahan tubuh menjadi rendah sehingga status gizinya jadi berkurang. Menurut Asydhad (2006) anak balita merupakan golongan rawan gizi karena berhubungan dengan proses pertumbuhan yang relatif pesat. Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang meningkatkan pertumbuhan fisik, dan perkembangan otak (Almatsier, 2004).

(63)

ditinjau dari angka gizi kurang berdasarkan ketiga indeks antropometri menunjukkan bahwa berdasarkan indeks BB/U terdapat 29,4% status gizi kurang dan sangat kurang 7,8%. Berdasarkan indeks TB/U terdapat 31,4% anak balita status gizi pendek dan 15,7% sangat pendek. Berdasarkan BB/TB terdapat 7,8% status gizinya kurus dan 23,5% sangat kurus. Hal ini menunjukkan bahwa gambaran konsumsi zat gizi saat ini maupun konsumsi zat gizi pada masa lampau masih dalam kategori kurang.

Gambar

Tabel 2.1. Kebutuhan Konsumsi Energi dan Protein Anak Balita Berdasarkan
Tabel 2.2. Pedoman Pola Makan Balita
Gambar I. Kerangka Konsep Penelitian
Tabel 4.1. Distribusi Orang Tua Berdasarkan Umur Orang Tua Pada Anak yang Mengikuti PAUD Kasih Ibu di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Tiram  Kabupaten Batu Bara Tahun 2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

konsumsi pangan dengan status gizi anak di bawah dua tahun (baduta) di. Kelurahan Kestalan Kecamatan Banjarsari

Kesimpulan : Terdapat hubungan konsumsi pangan hewani (jenis, frekuensi, energi, vitamin A, dan Fe) dengan status gizi anak SD Negeri Kudu 02 Kecamatan

Diduga, dengan pemberian berbagai pelayanan tersebut maka kondisi konsumsi pangan, status kesehatan, tingkat depresi dan status gizi lansia peserta home care akan

aktivitas fisik, waktu menonton televisi, dan konsumsi pangan dengan status gizi.. dan status kesehatan pada anak usia prasekolah

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui keragaan status gizi, konsumsi pangan, kontribusi energi dan zat gizi pada makanan yang dikonsumsi di sekolah dan di

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan perilaku konsumsi makanan dengan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian adalah apakah status gizi, body image dan

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana Framing Pemberitaan Larangan Penyebutan Kafir Kepada