• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontaminasi Mycobacterium tuberculosis Pada Stone Cast

KAJIAN PUSTAKA

HASIL PENELITIAN

6.4 Kontaminasi Mycobacterium tuberculosis Pada Stone Cast

Pada pengamatan kontaminasi Mycobacterium tuberculosis untuk semua kelompok kontrol dan perlakuan dilakukan pada 3 minggu pertama setelah pengkulturan. Ternyata pada 3 minggu pertama hanya ditemukan terjadi kontaminasi pada kelompok kontrol saja. Untuk lebih menyakinkan bahwa pada

kelompok perlakuan tidak terjadi kontaminasi maka pertumbuhan terus dipantau sampai 6 minggu. Pengkulturan selama 6 minggu ternyata juga tidak memberikan adanya kontaminasi pada kelompok perlakuan. Sedangkan pada kelompok kontrol koloni kontaminasi semakin melebar.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa pada kelompok kontrol (tanpa perendaman) terjadi pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis pada media Lowenstain Jensen. Pada kelompok ini menunjukkan adanya kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast. Pada perendaman selama 10 menit, 15 menit dan 25 menit menunjukkan tidak ada pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis pada media Lowenstain Jensen. Pada perendaman selama 10 menit, 15 menit dan 25 menit membuktikan bahwa tidak ada kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast.

Shofou et al, 2002, melakukan penelitian dari 107 sampel bahan cetak alginat (hydrocolloid irreversible) pada dental laboratorium di Swedia dan hanya melalui kuisioner yang sederhana menanyakan kepada tenaga dental laboratorium apakah secara rutin menggunakan desinfektan untuk mensterilkan bahan cetak tersebut. Hasil kuisioner menunjukkan bahwa 50% menggunakan desinfektan dan 50% hanya mencuci dengan air dan tidak adanya perbedaan jumlah pertumbuhan bakteri pada bahan cetak alginat antara penggunaan desinfektan dan pencucian dengan air mengalir. Pada penelitian tersebut, tidak dilakukan penelitian terhadap jenis desinfektan dan berapa lama waktu penggunaan desinfektan tersebut. Dalam proses sterilisasi, penambahan bahan desinfektan berupa bahan kimia merupakan salah prosedur atau cara yang harus dipertimbangkan. Banyak bahan kimia yang

dapat berfungsi sebagai desinfektan, bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfektan dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganisme yang akan dimatikan.

Pemilihan glutaraldehyde 2% untuk mencegah kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast, disebabkan golongan aldehyde ini bekerja dengan cara denaturasi dan umum digunakan dalam campuran air dengan konsentrasi 0,5% - 5%. Gutaraldehyde memiliki daya aksi yang lebih efektif dibandingkan dengan formaldehyde, sehingga lebih banyak dipilih dalam bidang virologi dan tidak berpotensi kariogenik. Ambang batas konsentrasi kerja glutaraldehyde 0,1 ml/m3 atau 0,1 mg/l dan mekanisme kerja glutaraldehyde membunuh mikroorganisme melalui proses alkilasi protein atau asam nukleat (Rohani, 2010). Pada prinsipnya glutaraldehyde dapat digunakan dengan spektrum aplikasi luas, selain dapat membunuh mikroorganisme juga untuk membunuh virus, sporasidal dan tidak bersifat korosif terhadap logam dibandingkan dengan formaldehyde yang hanya dapat membunuh mikroorganisme dan dapat menyebabkan korosif. Keunggulan glutaraldehyde lainnya adalah sifatnya yang stabil, persisten dan dapat membunuh bakteri vegetatif dalam waktu 2 menit (Katzung, 2009; Rohani, 2010).

Glutaraldehyde 2 % efektif terhadap bakteri vegetatif seperti Mycobacteruim tuberculosis, fungi, dan virus. Glutaraldehyde 2%, pH 7,5-8,5 termasuk desinfektan tingkat tinggi (High Level Disinfectant/HDL) dan desinfektan yang termasuk klasifikasi ini dapat digunakan pada peralatan medis tertentu yang tidak dapat disterilkan (Rohani, 2010). Jika dibandingkan dengan

jenis desinfektan lainnya yang termasuk klasifikasi HDL seperti hydrogen peroksida (H2O2) relatif tidak stabil karena apabila dalam kondisi terbuka mudah menjadi air (H2O), phenolik dapat menyebabkan korosif pada karet dan plastik, tidak bersifat sporosidal. Oleh karena itu penggunaan glutaraldehyde 2% untuk mensterilkan bahan cetak alginat lebih efektif selain merupakan desinfektan HDL juga memiliki sifat yang tidak korosif, stabil, persisten dan dapat digunakan dalam waktu menit, sehingga dapat digunakan untuk bahan cetak alginat. Apabila bahan cetak alginat direndam lebih dari 30 menit dapat merubah dimensi permukaan dari bahan cetak tersebut.

Centers for Disease Control and Prevention, 2008 melakukan penelitian penggunaan glutaraldehyde 2% pada alat endoskopi yang telah digunakan oleh pasien yang terinfeksi HBV (Hepatitis B Virus), HCV (Hepatitis C Virus), HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan Mycobacterium tuberculosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya kontaminasi pada alat tersebut. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa glutaraldehyde efektif membunuh virus, yang akhir – akhir ini banyak ditemukan di masyarakat.

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan penggunaan Glutaraldehyde 2% untuk perendaman bahan cetak alginat dan kontrol (tanpa perendaman) ditunjukkan dengan nilai p < 0,05. Untuk mengetahui besarnya perbedaan dilakukan Post Hoc Test, resume hasilnya disajikan pada Tabel 5.3. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan glutaraldehyde 2% efektif mencegah kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast. Namun perendaman selama 10 menit, 15 menit dan 25 menit tidak menunjukkan perbedaan yang

signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa perendaman 10 menit sudah efektif mencegah kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast. Seperti kita ketahui mekanisme kerja glutaraldehyde adalah denaturasi protein atau asam nukleat. Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhadap struktur sekunder, tersier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovalen. Karena itu denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbukanya lipatan atau wiru molekul protein (Winarno, 1992). Denaturasi bersifat reversible (protein bisa mendapatkan kembali bentuk asal ketika pemicu denaturasi dihilangkan).

Rohani, 2010 berpendapat bahwa spesies Mycobacterium tidak aktif diperlukan waktu pemaparan 20 – 30 menit, sedangkan pendapat lainnya menunjukkan Glutaraldehyde 2 % efektif terhadap bakteri vegetatif seperti Mycobacteruim tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10 – 20 menit (Anonim, 2009). Pada umumnya bahan cetak tidak berubah bila direndam selama 30 menit sampai 60 menit (Bregman, 1989). Berdasarkan pendapat di atas maka pada penelitian ini menggunakan waktu perendaman selama 10 menit, 15 menit dan 25 menit.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa ternyata tidak ada perbedaan perlakuan perendaman dengan glutaraldehyde 2% periode waktu 10 menit, 15 menit dan 25 menit. Seperti telah diuraikan di atas, hal ini disebabkan oleh waktu perendaman selama 10 menit menunjukkan sifat denaturasi protein yang reversible dapat dihambat. Salah satu sifat glutaraldehyde 2% dapat membunuh bakteri vegetatif, Mycobacterium tuberculosis merupakan salah satu bakteri

vegetatif yang memiliki dinding sel yang tebal antara lain terdiri dari lipoarabinomanan berperan dalam interaksi inang dan patogen, yang menyebabkan dapat bertahan dalam makrofag. Struktur lipoarabinogalaktan dan peptidoglikan dapat menurunkan permiabilitas dinding sel sehingga efektifitas antibiotika menjadi menurun, dengan kandungan lipid kira- kira 60%, sehingga pertahanan terhadap bahan kimia lebih baik dibandingkan dengan bakteri vegetatif lainnya yang dinding selnya lebih tipis (Jawetz et al., 2004; Wick, 2010). Pada penelitian ini dibuktikan dengan waktu perendaman 10 menit dapat mencegah atau menghambat pertumbuhan koloni Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan waktu pemaparan selama 10 menit mampu membunuh Mycobacterium tuberculosis dengan dinding sel yang tebal, sehingga diasumsikan dapat membunuh bakteri vegetatif lainnya. Oleh sebab itu semakin lama pemaparan atau waktu perendaman semakin efektif fungsi glutaraldehyde.

BAB VII

Dokumen terkait