• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.4 Konteks

Dalam pragmatik dijelaskan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang konteks dan makna. Dalam ilmu pragmatik terkhusus dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, tidak dapat dipisahkan antara unsur penutur dan mitra tutur. Dalam proses komunikasi penutur dan mitra tutur tidak sebatas menyampaikan makna berupa tuturan atau kalimat yang diucapkan, tetapi berkaitan juga dengan konteks.

Konteks adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik sosial sebuah tuturan (Leech,1993). Dalam defenisi tersebut ditambahkan pula bahwa konteks adalah sesuatu pengetahuan latar belakang yang secara bersama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur, dan konteks tersebut akan membantu mitra tutur dalam menafsirkan atau memahami maksud penutur. Pendapat yang disampaikan oleh ahli di atas bahwa konteks merupakan pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur serta lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan. Oleh karena itu dengan adanya konteks, mitra tutur terbantu dalam menafsirkan tuturan yang disampaikan penutur.

Menurut Rahardi (2005:51) konteks adalah semua latar belakang pengetahuan yang diasumsikan sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur serta mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang disampaikan oleh penutur dalam proses bertutur. Berdasarkan pendapat Rahardi di atas, dapat dikatakan konteks merupakan latar belakang pengetahuan anatara penutur dan mitra tutur harus memiliki latar belakang yang sama, sehingga tercapai keselarasan antar kedua pihak ketika berkomunikasi. Hal tersebut dimaksud agar ketika menafsirkan makna sebuah tuturan yang diucapkan tidak terjadi kesalahan dan informasi yang disampaikandapat diterima dengan baik dan benar.

Konteks latar belakang pengetahuan berkaitan dengan budaya dan interpersonal. Kesamaan latar belakang budaya akan mempengaruhi konteks. Jika penutur dan mitra tutur berasal dari tempat yang sama, akan terjadi kesepahaman ketika membicarakan sebuah topik. Persamaan latar belakang budaya ini juga dapat ditemukan dalam komunitas tutur. Konteks latar belakang interpersonal

berkaitan dengan hubungan antarpribadi. Hubungan antarpribadi ini dapat terbentuk dari pengalaman kegiatan bersama dan komunikasi bersama, dengan adanya hubungan tersebut, akan timbul kesepahaman antarpribadi (Stockwell &

Carter, 2002:4).

Konteks ko-teks adalah konteks yang berkaitan dengan pemahaman konsep.

Konsep yang dimaksud adalah koherensi gramatikal dan leksikal. Ko-teks adalah rujukan pada kalimat sebelummnya. Kalimat tersebut tidak bisa bersiri sendiri untuk memahaminya secara utuh. Oleh sebab itu, diperlukan koherensi antarkalimat. Koherensi adalah keterpaduan makna pada kalimat-kalimat (Stockwell & Carter, 2002:6).

Pragmatik siber lebih menekankan pada atribut media sosial, hal yang paling sering ditemui, kesamaan sosial dan pandangan, kebutuhan pengguna internet, dan lain-lain (Yus, 2011:53). Kontek-kontek yang disebut oleh Stockwell dan Carter menjadi berubah ketika berada pada dunai siber. Konteks situasional dalam pragmatik siber bisa muncul tanpa harus memiliki ruang, waktu, dan situasi. Saat ini, ruang dan waktu sudah dikenal dengan dunia virtual. Dunia tersebut kemudian mengaburkan batas wilayah dan waktu. Suasana yang dibuat bisa menyesuaikan pengguna (uses).

Konteks latar belakang budaya dan interpersonal juga menjadi tidak penting dalam dunia virtual. Jika sebelumnya kita perlu menjalin komunikasi dengan komunitas tutur agar mendapat teman, saat ini kita tidak memerlukan komunitas tutur tersebut. Kita tidak perlu bertatap muka untuk berbincang-bincang. Karena kita bisa melihat dan berbicara langsung, muncullah keberanian berlebih dalam diri setiap orang. Pengguna bisa membuat gendernya sendiri dalam dunia virtual.

Mereka juga bisa berbicara dengan seorang tanpa harus takut ketahuan indentitas aslinya.

Konteks yang masih sama antara pragmatik dan pragmatik siber adalah konteks ko-teks. Pengguna perlu memahami keseluruhan kalimat agar dapat menentukan makna dari tuturan. Akan tetapi, saat ini pengguna dunia virtual sudah mulai berkurang untuk memhami keseluruhan makna sehingga sering muncul kesalahpahaman pada dunia virtual.

Pendapat dari Stocweel & Carter, serta Yus ditegaskan kembali oleh Rahardi.

Rahardi (2017:184) menyatakan bahwa konteks adalah hal yang perlu dipahami penutur dan mitra tutur, baik intrakebahasaan dan ekstrakebahasaan.

Intrakebahasaan adalah bahasa itu sendiri. Ekstrakebahasaan adalah hal-hal di luar bahasa. Konteks intrabahasa inilah yang berperan dalam penafsiran makna tuturan. Dalam penerapannya, konteks dalam pragmatik tertentu akan berbeda dengan kontek pragmatik siber. Perbedaannya terletak pada aspek yang melekat dengan elemen. Akan tetapi, secara umum elemen-elemen antara pragmatik dan pragmatik siber adalah sama.

Dalam mengintrepretasi makna dengan menggunakan konteks, ada beberapa elemen yang perlu diperhatikan. Hymes (1974) mengemukakan ada delapan (8) elemen konteks sosial yang dikemukakan. Elemen-elemen tersebut disingkat menjadi SPEAKING (Rahardi, 2019:75-78). Berikut penjabaran dari elemen-elemen tersebut yakni:

(a) Speaker

Speaker atau penutur adalah orang yang membuka percakapan atau tuturan pertama kali. Biasanya aspek penutur ini berkaitan dengan usia, latar belakang budaya, gender, dan sebagainya (Rahardi,2019:75).

(b) Participant

Participat atau mitra tutur adalah orang yang menjadi lawan bicara penutur.

Selain itu, orang-orang yang terlibat dalam tuturan tersebut dapat disebut sebagai mitra tutur. Aspek mitra tutur sama dengan aspek dari penutur. Aspek mitra tutur meliputi budaya, latar belakang, gender, pendidikan, dan sebagainya (Rahardi,2019:75).

(c) Ends

End atau tujuan tuturan adalh elemen yang menentukan bentuk dari informasi yang terdapat dalam tuturan. Tujuan tuturan ini berkaitan dengan maksud dan fungsi dari tuturan tersebut. Tujuan inilah yang akan mengarahkan maksud dalam pembicaraan (Rahardi,2019:76).

(d) Act sequence

Act sequence atau urutan tuturan adalah elemen yang menjelaskan mengenai urutan tuturan. Elemen ini berisi mengenai intensitas tuturan dan kronologi tuturan. Sebagai contoh, seorang pembina upacara melakukan pidato.

Awalnya pidato tersebut sangat menarik dan menggebu-gebu. Akan tetapi, pertengahan pidato, pembina upacara mulai mendatar dalam pengucapanya. Hal ini dikarenakan intensitas tuturan mulai menurun. Pada akhir pidato. Pada akhir pidato, penutur mulai menggebu-gebu kembali untuk meraih perhatian dari mitra tutur. Hal ini yang disebut dengan urutan tuturan. Urutan tuturan dapat menentukan wujud dan maksud tuturan (Rahardi, 2019:76).

(e) Key

Key atau kunci tuturan yaitu elemen yang menjabarkan mengenai cara bertutur, nada, dan perasaan ketika tuturan berlangsung. Dalam percakapan lisan, kita dapat langsung mengetahui nada-nada yang digunakan oleh penutur. Nada tinggi untuk mengemukakan perintah atau kemarahan. Nada datar untuk menyampaikan pernyataan dan sebagainya. Akan tetapi, dalam tuturan lisan, nada-nada terebut terdapat pada tanda baca. Tanda baca inilah yang akan membantu pembaca dalam menafsirkan nada.

Dalam tuturan, cara bertutur akan menunjukan sifat dari seseoang. Apabila penutur sering menggunakan kata-kata kasar dalam tuturanya, kita dapat menyimpulkan bahwa sifat penutur tersebut tidak santun. Sebaliknya, jika penutur menggunakan kata-kata yang santun dalam berbicara, penutur tersebut memiliki sifat yang santun. Selain itu, dalam tuturan lisan dan tulis, kita dapat mengetahui perasaan yang dirasakan oleh penutur. Setiap perasaan memiliki wujud yang berbeda. Perasaan tersebut juga akan memengaruhi nada dan cara bertutur.

Misalnya, ketika seseorang sedang gembira, biasanya nada tutrannya akan terasa lebih riang dan naik. Cara tuturannya pun akan mencerminkan bahwa dia sedang gembira. Begitu pula dengan perasaan-perasaan yang lain. Oleh karenanya, nada tuturan, cara bertutur, dan perasaan akan membentuk wujud dan makna tuturan yang berbeda (Rahardi,2019:77)

(f) Instrumentalities

Instrumentalities disebut juga dengan saluran tutur. Elemen ini menjelaskan mengenai peranti yang digunakan saat tuturan sedang terjadi. Tentu dalam pragmatik siber, peranti tersebut berbeda dengan peranti pragmatik. Pragmatik siber menggunakan peranti internet untuk menyampaikan informasi, sedangkan pragmatik menggunakan peranti yang tidak terhubung dengan internet (Rahardi, 2019:77).

(g) Norms

Norms atau norma adalah elemen mengenai aturan atau kaidah. Dalam bertutur, penutur dan mitra tutur perlu memenuhi atau menggunakan norma yang berlaku di masyarakat. Ada beberapa norma yang digunakan dalam masyarakat yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesantunan, norma hukum. Norma ini perlu diperhatiak oleh penutur dan mitra tutur karena norma tersebut akan memengaruhi makna dan wujud tuturan. Oleh karenanya, terdapat dua dimenensi norma yaitu norma ketika berinteraksi dan norma ketika menafsirkan makna tuturan (Rahardi,2019: 77).

(h) Gendre

Gendre disebut juga dengan ragam tutur. Ragam tutur yang digunakan disesuaikan dengan situasi atau suasana dalam tuturan sedang berlangsung.

Ragam tutur yang digunakan perlu diperhatikan agar penutur dan mitra tutur dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar (Rahardi, 2019: 77-79)

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa konteks merupakan latar belakang pengetahuan yang harus dimiliki oleh penutur dan mitra tutur sehingga dapat menciptakan suatu komunikasi yang intens.

Konteks juga memengaruhi keberhasilan dari sebuah percakapan antara penutur dan mitra tutur. Ada bebrapa elemen yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasikan makna tuturan yakni speaker, participant, ends, sequence, key, instrumentalities,norms, dan gendre.