POSISI LOKASI / SENDI KELOMPOK / SENDI MACAM NILAI
D. Aplikasi Teknis/Teknologi : pemeriksaan dan pengukuran (24), terapi latihan, elektroterapi, traksi, hidroterapi
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
1.3 Kontra Indikasi
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 179 dari 2
Judul: Interferential therapy Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh: Direksi
I. PENGERTIAN
1.1 Interferential therapy adalah suatu metode pengobatan fisioterapi
dengan menggunakan penggabungan dua arus bolak-balik yang
berfrekuensi menengah yang saling berinterferensi (4000 dan 4250)
sehingga menghasilkan frekuensi baru.
1.2 Indikasi
1.2.1 Keluhan nyeri otot,tendon, ligamen, kapsul, syaraf. 1.2.2 Keadaan hipertonus /spasme otot.
1.2.3 Kelemahan otot.
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Demam. 1.3.2 Tumor. 1.3.3 Tuberculosis. II. TUJUANSebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas interferntial therapy.
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah dan menentukan program sehingga agar Interferntial therapy lebih mencapai sasaran
3.1.2 Memberi penjelasan langkah terapi serta tujuannya agar pasien tenang dan memahami program
3.1.3 Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif 3.1.4 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.5 Memilih elektrode dan metode yang digunakan.
Trigger point dengan Elektrode besar (Pasif) atau kecil ( Aktif ) LOGO
3.1.5.1 Nerve treatment 3.1.5.2 Ganglion treatment 3.1.5.3 Paravertebra treatment 3.1.5.4 Segmental treatment 3.1.5.5 Transregional
3.1.6 Celupkan ped dengan air hangat, agar pasien tidak terkejut 3.1.7 Posisi pasien seenak mungkin.
3.1.8 Pakaian dilepas seperlunya. Jelaskan bahwa yang dirasakan sedikit sakit tapi tidak perih bila dirasakan perih dikhawatirkan terjadi luka bakar.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasang ped sesuai metode yang dipilh. 3.2.2 Putar waktu 10 – 15 menit sesuai kebutuhan.
3.2.3 Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan apakah terdapat keluhan pasien atau control keadaan mesin.
3.3 Dosis
3.3.1 Intensitas :Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera.
3.3.2 Lamanya terapi :10-15 menit. Bila ada titik nyeri dapat diberikan per titik selama 5 menit.
3.3.3 Frekuensi 2000 Hz akan menghasilkan aktifitas motorik , arus yang akan dihasilkan terasa kasar.
3.3.4 Frekuensi 4000Hz tidak menghasilkan aktifitas motorik dan terasa halus sehingga cocok untuk mengurangi nyeri.
3.3.5 Pengulangan therapy untuk dosis rendah dilakukan setiap hari, sedangkan untuk dosis tinggi 2 hari sekali.
3.4 Mengakhiri Terapi
3.4.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0.
3.4.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin sendiri atau langsung bangun setelah terapi selesai.
3.4.3 Beri tissue bila terapi selesai agar pasien dapat membersihkan 3.4.4 Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang mungkin timbul. 3.4.5 Kembalikan peralatan serta perlengkapannya ke posisi semula. IV. DOKUMEN TERKAIT
Tidak ada V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 181 dari 2
Judul: Arus faradic Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh: Direksi
I. PENGERTIAN
1.1 Arus faradic adalah arus bolak balik yang tidak simetris yang mempunyai durasi 0,01 – 1 msc dengan frekuensi 50 – 100 cy / detik.
1.2 Indikasi
1.2.1 “ LMN Lession” dengan nilai otot di bawah tiga.
1.2.2 post trauma atau operasi setelah konductivitas membaik.
1.2.3 Kelemahan otot karena penyakit atau disuse atropy dengan nilai otot di bawah tiga.
1.2.4 Otot yang tidak mampu berkontraksi karena nyeri misalnya setelah trauma.
1.2.5 Tiga minggu setelah tendo transfer
1.2.6 Adanya pembengkakan lokal /setempat pada anggota. 1.2.7 Otot yang memendek atau berlengketan ( contractur ). 1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Setelah operasi / trauma pada urat syaraf yang konductivitasnya belum membaik.
1.3.2 LMN lession yang masih nyeri sekali. 1.3.3 LMN complete lession.
1.3.4 Panas tinggi diatas 37.50 C. II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis dalam memberikan pelayanan dengan modalitas arus faradic.
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah dan menentukan program sehingga modalitas arus faradic lebih mencapai sasaran.
3.1.2 Memberi penjelasan terapi misalnya merasakan sedikit sakit tapi tidak perih. Kalau perih dikawatirkan dapat menimbulkan luka bakar.
3.1.3 Serta tujuannya agar pasien tenang dan memahami program LOGO
3.1.4 Menentukan area terapi yang Tepat agar terapi efektif 3.1.5 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.6 Memilih elektrode dan metode yang digunakan. 3.1.6.1 Stimulasi motor unit
3.1.6.2 Stimulasi secara group 3.1.6.3 Labile treatment 3.1.6.4 Nerve conduction
3.1.6.5 Bath treatment : Bipolar atau Monopolar
3.1.7 Celupkan ped dengan air hangat, agar pasien tidak terkejut 3.1.8 Posisi pasien seenak mungkin.
3.1.9 Area yang akan di terapi terbuka seperlunya dan otot yang akan distimulasi dalam keadaan memendek / relax.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasang ped sesuai metode yang dipilh. 3.2.2 Putar waktu 10 – 15 menit sesuai kebutuhan.
3.2.3 Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan apakah terdapat keluhan pasien atau control keadaan mesin.
3.2.4 Dosis
3.2.4.1 Intensitas : Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera. Intensitas : 2 – 60 m A, Durasi arus 0,01msc.
3.2.4.2 Waktu : Tiapsatu otot perlu 30-90 kali rangsangan dalam waktu 1-3 menit.
3.2.4.3 Pengulangan : 1 kali sehari bila otot telah mencapai nilai 2 + cukup 1 kali selama 10 kali.
3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0. 3.3.2 Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang timbul. 3.3.3 Kembalikan peralatan ke tempat semula.
IV. DOKUMEN TERKAIT Tidak ada.
V. LAMPIRAN Tidak ada.
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 183 dari 2
Judul: Arus Galfanic Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manager Klinik
Disahkan oleh: Direksi
I. PENGERTIAN
1.1 Arus galvanic adalah arus searah terputus – putus yang telah modifikasi dengan frekuensi dan durasi tertentu yang bentuk pemutusannya dapat berupa trianguler, rekta anguler, trapezoid, saw – tooth dan depolarized. 1.2 Indikasi
1.2.1 “ LMN lession “ baru yang masih disertai keluhan nyeri.
1.2.2 Post trauma atau operasi urat syaraf yang konductivitasnya belum membaik.
1.2.3 “ LMN Lession “ kronik yang sudah denervated muscle.
1.2.4 Keluhan nyeri pada otot sebagai counter iritation atau awal dari suatu latihan ( Preliminary exercise ).
1.2.5 Peradangan sendi : Osteo arthritis, Rheumatoid arthritis, tenis elbow, dll.
1.2.6 Lokal oedem melewati 10 hari. 1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Setelah operasi tendon transfer sebelum 3 minggu. 1.3.2 Ruptur tendon / otot sebelum terjadinya penyambungan.
1.3.3 Kondisi peradangan akut atau pasien panas tinggi diatas 37,50 C. 1.3.4 Lokasi kulit yang anaesthesia.
1.3.5 Lokasi kulit yang luka / kerusakan. 1.3.6 Lokasi kulit yang hiper sensitif. II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis dalam memberikan pelayanan dengan modalitas arus galvanic.
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assessment untuk mendapatkan masalah dan menentukan program agar penggunaan arus galfanic lebih mencapai sasaran
3.1.2 Memberi penjelasan terapi misalnya merasakan sedikit sakit tapi tidak perih. Kalau perih dikawatirkan dapat menimbulkan luka bakar.
3.1.3 Serta tujuannya agar pasien tenang dan memahami program 3.1.4 Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif 3.1.5 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.6 Pilih elektrode dan metode yang digunakan Elektrode (+) berupa ped pada origo dan electrode (-) berupa button pada insersio. 3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasang ped sesuai metode yang dipilh. 3.2.2 Putar waktu 10 – 15 menit sesuai kebutuhan.
3.2.3 Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan apakah terdapat keluhan pasien atau control keadaan mesin.
3.2.4 Dosis
3.2.1.1 Intensitas : Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera. Intensitas : 2-60 m A, Durasi arus 0,01msc.
3.2.1.2 Waktu : Tiap satu otot perlu 30-90 kali rangsangan dalam waktu 1-3 menit.
3.2.1.3 Pengulangan :1 kal sehari bila otot telah mencapai nilai 2 + cukup 1 kali selama 10 kali.
3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0. 3.3.2 Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang timbul. 3.3.3 Kembalikan peralatan ke tempat semula.
IV. DOKUMEN TERKAIT Tidak ada
V. LAMPIRAN Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 185 dari 2
Judul: Sinar infra merah Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh: Direksi
I. PENGERTIAN
1.1 Sinar infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 – 4 juta A.
1.2 Klasifikasi :
1.2.1 Berdasarkan panjang gelombang
1.2.1.1 Gelombang panjang (non penetrating) Panjang gelombang : 12.000 A – 150.000 A
Daya penetrasi : 0,5 mm (superficial epidermis) 1.2.1.2 Gelombang pendek (penetrating)
Panjang gelombang : 7.700 A – 12.000 A
Daya penetrasi : jaringan sub cutan, pembuluh darah kapiler, pembuluh limfe, ujung – ujung syaraf dan jaringan di bawah kulit
1.2.2 Berdasarkan type
1.2.2.1 Type A : Panjang gelombang 780 – 1500 mm, penetrasi dalam.
1.2.2.2 Type B : Panjang gelombang 1500 – 3000 mm, penetrasi dangkal.
1.2.2.3 Type C : Panjang gelombang 3000 – 10.000 mm, penetrasi dangkal
1.3 Indikasi
1.3.1 Kondisi peradangan setelah sub-acut : kontusio, muscle strain, trauma sinovitis.
1.3.2 Arthritis :RA, OA, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis.
1.3.3 Gangguan sirkulasi darah : thrombo plebitis, thrombo angitis obliterans, raynold’s desease.
1.3.4 Penyakit kulit : Folliculitis, Furuncolosi. 1.3.5 Persiapan exercise dan massage. 1.4 Kontra Indikasi
1.4.1 Daerah dengan insufisiensi pada darah. 1.4.2 Gangguan sensibelitas kulit.
1.4.3 Kecenderungan pendarahan.
II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas sinar infra merah.
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Persiapan alat seperti jenis lampu, besarnya watt. 3.1.2 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.3 Untuk mencegah luka bakar maka daerah yang akan dilakukan penyinaran perlu ditest sensasi panas, dingin.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Untuk penyinaran lokal menggunakan reflektor berbentuk parabola.
3.2.2 Penyinaran general (misalnya punggung) menggunakan lampu yang dipasang pada reflektor semi sirkuler.
3.2.3 Pasien diposisikan seenak mungkin.
3.2.4 Posisi bisa duduk, terlentang atau tengkurap.
3.2.5 Agar penetrasi lebih dalam daerah yang akan disinar sebaiknya dibersihkan dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk.
3.2.6 Lampu dipasang tegak lurus. 3.2.7 Dosis
3.2.8 Pada penggunaan lampu non-luminius jarak lampu antara 45-60 cm, waktu 10-30 menit.
3.2.9 Lampu luminius 35-45 cm, waktu 10-30 menit. 3.2.10 Pengulangan 1 kali dalam sehari, 1 seri 10 kali.
3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol dalam keadaan nol.
3.3.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin atau bangun sendiri. 3.3.3 Memperhatikan pasien dan kemungkinan efek samping.
3.3.4 Kembalikan peralatan ketempat semula.
IV. DOKUMEN TERKAIT Tidak ada
V. LAMPIRAN Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 188 dari 3
Judul: Sinar Ultra Violet Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh: Direksi
I. PENGERTIAN
1.1 Ultra Violet Radiation adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang 100 nm hingga 380 nm.
1.2 Klasifikasi :
1.2.1
Berdasarkan panjang gelombangnya dapat dibagi dua yaitu : 1.2.1.1 Ultra Violet Gelombang panjang : 290 nm - 380 nm 1.2.1.2 1.2.1.2 Ultra Violet Gelombang pendek : 100 nm - 290 nm1.2.2
Berdasarkan type ( jenisnya ) dapat dibagi tiga yaitu : 1.2.2.1 Ultra Violet type A : 315 nm – 380 nm 1.2.2.2 Ultra Violet type B : 280 nm – 315 nm 1.2.2.3 Ultra Violet type C : 100 nm – 280 nm II. TUJUANSebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas sinar ultra violet.
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Pemilihan alat dan pengaturan jarak disesuaikan dengan alat yang digunakan dan tehnik aplikasi serta efek yang dikehendaki.
3.1.2 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.3 Untuk mencegah luka bakar maka daerah yang akan dilakukan penyinaran perlu ditest sensasi panas, dingin.
3.1.4 Persiapan pasien disesuaikan dengan jenis alat yang digunakan, tehnik aplikasi, kebutuhan
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasien diposisikan seenak mungkin.
3.2.2 Posisi bisa duduk, terlentang atau tengkurap. LOGO
3.2.3 Daerah yang akan disinar sebaiknya dibersihkan dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk.
3.2.4 Lampu dipasang tegak lurus.
3.2.5 Mata pasien ditutup dengan memakai kacamata.untu mencegah masuknya sinar ultraviolet
3.2.6 Bagian tubuh lain yang tidak di sinar harus ditutup supaya tidak 3.2.7 terkena sinar.
3.2.8 Penyinaran harus tegak lurus dengan jarak 90 cm agar sinar dapat merata dan mengenai sasaran dengan tepat.
3.2.9 Lakukan tes dosis sebelum memberikan terapi pertama kali untuk menentukan erithema.
3.2.10 Supaya terlindungi, tes biasanya di daerah samping dada / perut / lengan bawah bagian medial.
3.2.11 Buatkan lubang-lubang (4 lubang) dari kertas gelap dan ditempatkan didaerah yang dites.
3.2.12 Lubang pertama dibuka dan disinar selama 30 detik, sedangkan lubang lain ditutup.
3.2.13 Penyinaran tetap dilanjutkan dengan membuka lubang lainnya satu per satu setiap 30 detik.
3.2.14 Dosis
3.2.1.1 Stootkuure ( E 2 )
Lama terapi : 14 – 16 kali
Dosis : Diawali dengan E 2, kemudian untuk terapi berikutnya dinaikan 2/3 kali terapi sebelumnya. Frekuensi : 2 – 3 kali per minggu.
3.2.1.2 Lepskykuur ( E 3 )
3.2.1.3 Lama terapi : Hingga keluhan hilang.
3.2.1.4 Dosis : E 3
3.2.1.5 Frekuensi : 3 – 4 kali per hari. 3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol dalam keadaan nol.
3.3.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin atau bangun sendiri. 3.3.3 Memperhatikan pasien dan kemungkinan efek samping.
3.3.4 Setelah terapi perhatikan daerah sekitarnya apakah terkena penyinaran.
3.3.5 Beritahukan pada pasien untuk menentukan dosis tidak boleh membasuh bagian yang disinar.
IV. DOKUMEN TERKAIT Tidak ada
V. LAMPIRAN Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
I. PENGERTIAN
1.1 Traksi cervical adalah suatu metode pengobatan fisioterapi dengan menggunakan suatu tehnik penarikan collumna vertebralis untuk daerah cervical.
1.2 Type
1.2.1 Static atau konstan
Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf akut 1.2.2 Intermittent
Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf kronik 1.3 Model Aplikasi
1.3.1 Mekanik 1.3.2 Manual 1.3.3 Posisional 1.4 Indikasi
1.4.1 Penekanan pada akar syaraf spinal seperti pada kasus : HNP, spondylosis
1.4.2 Hipomobilitas pada sendi atau proses degenerasi
1.4.3 Nyeri sendi yang disebabkan adanya gangguan pada vase joint 1.4.4 Spasme otot
1.4.5 Meniscoid blocking 1.4.6 Nyeri disckogenik 1.5 Kontra Indikasi
1.5.1 Akut strain, sprain dan kondisi peradangan atau beberapa kondisi apabila diberikan traksi nyeri meningkat
1.5.2 Spinal hipermobility 1.5.3 RA
1.5.4 Spinal malignancy, osteoporosis, tumor atau infeksi
1.5.5 Hipertensi yang tidak terkontrol, aortic aneurysm dan penyakit cardovaskuler
1.5.6 Beberapa kondisi spinal atau proses penyakit yang dengan gerakan merupakan kontra indikasi seperti : frakture
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 191 dari 3
Judul: Traksi Cervical Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik Disahkan oleh: Direksi LOGO
II. TUJUAN
Sebagai petunjuk dan menyeragamkan cara kerja fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas traksi cervical
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Lakukan test traksi pada pasien. Bila nyeri bertambah maka pemberian traksi ditangguhkan.
3.1.2 Ukur tensi, poles,berat badan Untuk melihat kondisi pasien 3.1.3 Tentukan beban tarikan
3.1.4 Bagi pasien yang menggunakan gigi palsu dan kaca mata harap dilepas untuk mencegah rasa nyeri akibat tekanan gigi palsu dan tidak enak padadaerah pipi
3.1.5 Atur posisi pasien, tidur terlentang di bed traksi dengan bantal di bawah kepala
3.1.5.1 Untuk indikasi vertebrae posisi flexi Kepala 200– 30 0
3.1.5.2 Untuk indikasi muscle posisi kepala Netral.
3.1.6 Untuk memperoleh hasil pada satu sisi saja maka posisi badan sedikit miring dengan daerah dada disangga belt.
3.1.7 Pasang cervical belt dengan tepat, tidak mencekik dan tidak terlalu longgar di bawah dagu dan bagian belakang pada occiput
3.1.8 Agar terkesan Hygienis maka dipasangkan tissue dibawah dagu dan atau rambut
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Agar tarikan maximal, selama traksi pasien harus tenang. 3.2.2 Tidak boleh menoleh kekiri atau kekanan
3.2.3 Tidak boleh bicara
3.2.4 Tidak meninggalkan pasien sebelum pasien merasa tarikan sudah enak
3.2.5 Tunjukakan cara penggunaan tombol penghentian traksi untuk keadaan darurat
3.2.6 Melakukan pengontrolan secara periodik saat berlangsungnya traksi untuk melihat apakah pasien pusing, mual, sesak sehingga traksi perlu dihentikan
3.3 Dosis
3.3.1 Beban tarikan : 1/7 – 1/5 berat badan
3.3.2 Waktu : 10 – 15 menit
3.3.3 Pengulangan : Akut : 1 kali dalam sehari
3.3.4 Membaik : 1 kali dalam 1 – 2 hari
3.4 Mengakhiri Terapi
Setelah selesai penarikan,traksi dilepas
3.4.1 Agar tidak pusing, pasien disarankan istirahat selama 1 –2 menit di bed traksi.
3.4.2 Kembalikan peralatan ketempat semula.
IV. DOKUMEN TERKAIT Tidak ada
V. LAMPIRAN Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 194 dari 2
Judul: Traksi Lumbal Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh: Direksi
I. PENGERTIAN
1.1 Traksi Lumbal adalah suatu metode pengobatan fisioterapi dengan menggunakan suatu tehnik penarikan untuk daerah lumbal
1.2 Type
1.2.1 Statik atau konstan
Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf akut 1.2.2 Intermittent
Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf kronik 1.3 Model Aplikasi
1.3.1 Mekanik 1.3.2 Manual 1.3.3 Posisional 1.4 Indikasi
1.4.1 Penekanan radix nervus spinalis lumbalis
1.4.2 Proses degenerasi discus intervertebralis lumbalis.
1.4.3 Proses calsificasi tendon, otot, ligamentum dan discus intervertebralis lumbalis
1.4.4 Dislokasi ringan vertebrae lumbalis 1.4.5 Pembengkokan struktur vertebrae 1.5 Kontra Indikasi
1.5.1 Proses degeratif aktif yang melibatkan medula spinalis
1.5.2 Proses porose vertebrae dan costae, spinabifida occulta, hemi vertebrae
1.5.3 Gangguan sistem vascularisasi intervertebrae lumbalis
1.5.4 Infeksi akut dan kronik vertebrae, ligamentum, otot dan syaraf. 1.5.5 Nyeri akut lokasi vertebrae lumbalis
1.5.6 Tanda-tanda keganasan masing-masing lokasi vertebrae.
1.5.7 Strain, sprain otot, tendon, ligamentum dan fractur vertebrae lumbalis.
1.5.8 Kehamilan melibihi 4 bulan 1.5.9 Gangguan sistem traktus urinarius LOGO
II. TUJUAN
Sebagai petunjuk dan menyeragamkan cara kerja fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas traksi Lumbal
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Ukur tensi, nadi, berat badan untuk melihat kondisi pasien
3.1.2 Atur posisi pasien, tidur terlentang di bed traksi dengan bantal di bawah kepala dan tungkai tersangga diatas stool, posisi hip flexi 30-450
3.1.3 Pasang lumbal belt dengan tepat, tidak tertekan dan tidak terlalu longgar di atas SIAS .
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Agar tarikan maximal, selama traksi pasien harus tenang.
3.2.2 Tidak meninggalkan pasien sebelum pasien merasa tarikan sudah enak
3.2.3 Tunjukakan cara penggunaan tombol penghentian traksi Untuk keadaan darurat
3.2.4 Melakukan pengontrolan secara periodik saat berlangsungnya traksi untuk melihat apakah pasien pusing, mual, sesak sehingga traksi perlu dihentikan
3.2.5 Dosis
3.2.5.1 Beban tarikan : Mulai dari ½ berat badan
3.2.5.2 Waktu : 15 – 30 Menit
3.2.5.3 Pengulangan : Akut 1 kali dalam sehari Membaik 1 kali dalam 1-2 hari 3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Setelah selesai penarikan, traksi dilepas
3.3.2 Pasien disarankan istirahat selama 1-2 menit di bed traksi agar tidak pusing
IV. DOKUMEN TERKAIT Tidak ada
V. LAMPIRAN Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 196 dari 2
Judul: Terapi inhalasi
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik Disahkan oleh: Direksi I. PENGERTIAN
1.1 Terapi inhalasi adalah suatu cara pemberian obat-obatan dengan penghirupan, setelah obat-obat tersebut berubah menjadi partikel-partikel melalui cara aerosol, humidifikasi dan lain-lain.
1.2 Indikasi
1.2.1 Penyakit saluran napas bagian atas, akut maupun kronis seperti: 1.2.2 Rhinopharyngitis Sicca, Laryngitis Sicca
1.2.3 Acut Rhinopharyngitis, Laryngitis. 1.2.4 Rhenitis Allergica
1.2.5 Sinusitis
1.2.6 Penyakit saluran napas bagian bawah, akut maupun kronik. 1.2.6.1 Asthma Bronchiale
1.2.6.2 Bronchitis 1.2.6.3 Bronchiectasis 1.2.6.4 Bronchopneumonia 1.2.6.5 Atelectasis
1.2.7 Penyakit jaringan paru 1.2.7.1 Emphysema
1.2.8 Gangguan saluran napas allergika 1.2.9 Bayi-bayi dengan secret berlebihan II. TUJUAN
Sebagai petunjuk dan menyeragamkan cara kerja fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas terapi inhalasi
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Pemanasan alat sekitar 5 menit dan mengerti cara – cara penggunaannya.
3.1.2 Untuk mencegah kontaminasi maka udara ruangan harus bersih, segar dan memiliki ventilasi yang baik.
3.1.3 Persiapkan mouth piece dan masker
3.1.4 Agar anak – anak tidak takut harus dengan pendekatan sebelumnya.
3.1.5 Posisi pasien comfortable
3.1.6 Pasien diberitahu program pengobatan, berapa waktu yang dibutuhkan, tujuan serta kontra indikasinya. Agar pasien mengerti dan tidak takut
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Untuk mengurangi sesak napas akibat bronchial obstruksi terlebih dahulu diberikan bronchodilatator.
3.2.2 Untuk Agar mempercepat pengeluaran sekret , secret yang keluar dianjurkan tidak ditelan kembali
3.2.3 Bila perlu dapat dilakukan suction Supaya secret lebih banyak keluar terutama untuk pasien yang mengalami kesulitan mengeluarkan secret.
3.2.4 Oksigen diberikan pada pasien yang terlihat sesak atau cyanosis, pertusis, biru dan lain-lain.
3.3 Dosis
3.3.1 Jenis dan jumlah obat tergantung Dokter pengirim. 3.3.2 Waktu : Anak –anak 10 – 15 menit
: Dewasa 15 – 20 menit
3.3.3 Pengulangan Tergantung Dokter pengirim. Untuk kondisi Acut :1-3 kali sehari Untuk kondisi Kronik sekali sehari 3.3.4 1 Seri : 6 –10 kali
3.4 Mengakhiri Terapi.
3.4.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke posisi angka 0
3.4.2 Tidak membiarkan pasien memegang masker/mouth piece kecuali dalam keadaan darurat.
3.4.3 Setelah terapi inhalasi selesai dilanjutkan dengan chest therapy agar secret lebih banyak keluar dan expansi thorax lebih baik. 3.4.4 Untuk mencegah kontaminasi maka peralatan dibersihkan
kemudian di sterilkan. IV. DOKUMEN TERKAIT
Tidak ada V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI 6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 198 dari 3
Judul: Farafin bath / wax bath Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar : Tanggal Revisi: Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.: No. Revisi: Disetujui Oleh:
Manajer Klinik Disahkan oleh: Direksi I. PENGERTIAN
1.1 Parafin bath/wax bath adalah suatu pengobatan dengan menggunakan farafin.yang telah dicairkan
1.2 Indikasi
1.2.1 Skin contractur 1.2.2 Stiff Joint
1.2.3 Penyakit degenerasi sendi dengan inflamasi akut dari nodus heberden’s
1.2.4 Scleroderma
1.2.5 Stadium awal dupuytren contracture 1.2.6 Post trauma tangan dengan skin contractur 1.2.7 Rheumatoid arthritis jari-jari.
1.3 Kontra Indikasi 1.2.8 Luka terbuka
1.2.9 Penyakit kulit menular 1.2.10 Penyakit kulit tidak menular
1.2.11 Trauma tangan yang parah (Multilating injuries) 1.2.12 Gangguan sensasi kulit (relatif)
1.2.13 Anggota yang menggunakan internal fixasi (relatif) II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas farafin bath / wax bath.
III. PROSEDUR 3.1 Persiapan
3.1.1 Siapkan parafin padat tujuh bagian atau empat karton Paraffin 3.1.2 Parafin minyak satu bagian atau sepuluh ons baby oil
3.1.3 Campurkan kedua bahan tersebut sehingga lebur menjadi satu cairan dengan temperatur tidak lebih dari 1100 – 1300 F atau ( 510 - 540 C) dalam satu tempat yang kemudian dipanaskan diatas air yang mendidih ( double boiler ).
3.1.4 Siapkan handuk tebal, kertas Parafin dan termometer lilin (candy thermometer) untuk membungkus parafin dan mengukur suhu.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Periksa jari-jari tangan dan pergelangan tangan yang akan diobati untuk mengetahui sensibilas kulit dar ruang gerak sendi, meliputi : 3.2.1.1 Sensibelitas kulit,
3.2.1.2 ROM jari dan tangan 3.2.1.3 Perhatikan luka terbuka 3.2.2 Bersihkan dan keringkan Keringat
3.2.3 Lepaskan perhiasan yang melekat aggota yang diobati, supaya tidak konsentrasi panas
3.2.4 Dosis
3.2.4.1 Waktu : 15 - 30 menit 3.2.4.2 Pengulangan : 1 – 2 kali / hari 3.2.4.3 Seri : 1 Seri 10 kali 3.2.5 Metode
3.2.5.1 Parafin Dip : Dengan cara mencelupkan anggota yang diobati dan kemudian mengangkatnya secara bergantian. 3.2.5.2 Parafin Immersion : Dengan cara merendam anggota yang 3.2.5.3 diobati.
3.2.5.4 Parafin Painting : Dengan cara memulaskan parafin pada bagian tubuh yang diobati.