BAB II : KEWENANGAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA
C. Aktifitas Transaksi Elektronik
2. Kontrak Elektronik (Electronic Contract)
yang sesungguhnya atau bukan (iseng belaka).50
Oleh karena itu, dalam rangka menciptakan iklim berusaha yang sehat terlebih bagi konsumen dalam melakukan transaksi perdagangan melalui electronic commerce, perlu diupayakan suatu bentuk pengaturan baru yang memadai dan mampu mengatur segala aktivitasnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Severine Dusollier bahwa “Legislative developments are facing a new challenge brought on by the rapid development of the on line technology and by the newly created difficulty of applying existing regulations in a networked environment.”51
Satu hal yang perlu mendapat perhatian utama dalam menyusun kebijakan baru dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen adalah hendaknya kebijakan/ peraturan yang akan dibentuk tidak hanya berorientasi pada aspek keamanan, kepastian dan kenyamanan konsumen dalam bertransaksi, tetapi juga mampu menghilangkan berbagai hambatan-hambatan perdagangan (trade barriers).52
2. Kontrak Elektronik (Electronic Contrac)
Salah satu bentuk perkembangan dari hukum perjanjian adalah munculnya kontrak elektronik (electronic contrac) yang diperkenalkan dalam UNCITRAL Model Lawa on Electronic Commerce pada tahun 1996. Tahun 2008 dengan diundangkannya UUITE ketentuan tentang electronic contrac diakui dalam hukum positif. Namun jika dicermati, model law UNCITRAL dan UUITE tidak
50 Didik M. Arief Mansur – Elisatris Gultom, Op.Cit., Hlm. 145.
51 Ibid. Hlm.146.
52 Ibid. Hlm. 147.
menjelaskan secara eksplisit bentuk dari electronic contrac. Alhasil, pemahaman tentang electronic contrac menjadi berbeda dan bisa menimbulkan kekeliruan.53
Edmon Makarim menggunakan istilah kontrak elektronik (electronic contrac), bagi electronic contrac dan mendefinisikan kontrak online sebagai perikatan atau hubungan hukum yang dilakukan secara elektronik dengan memadukan jaringan (networking) dari sistem informasi berbasiskan komputer dengan sistem komunikasi yang berdasar atas jaringan dan jasa telekomunikasi (telecommunicated based), yang selanjutnya difasilitasi oleh keberadaan jaringan internet.54
Sistem elektronik yang digunakan sebagai media oleh para pihak yang membuat kontrak elektronik, menurut penjelasan umum Undang-Undang Nomor 11 Tahnu 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik digunkan untuk menjelaskan keberadaan sistem informasi yang merupakan penerapan teknologi
Berdasarkan pasal 1 angka (17) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memuat pengertian kontrak elektronik yaitu perjanjian para puhak yang dibuat melalui sistem elektronik.
Sistem elektronik yang menjadi media pembuatan kontrak menurut Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik.
53 Anonim, Mengenal Kontrak Elektronik, Click-Wrap Agreement Dan Tanda Tangan Elektronik, http://business-law.binus.ac.id/2017/03/31/mengenal-kontrak-elektronik-click-wrap-agreement-dan-tanda-tangan-elektronik/, Diakses 25 Juli 2018 Pukul 08.51 WIB.
54
informasi yang berbasis jaringan telekomunikasi dan media elektronik, yang berfungsimerancang, memproses, menganalisis, menampilkan dan mengirimkan atau menyebar informasi elektronik.55
a. Persetujuan
Kontrak elektronik, meskipun berbeda secara fisik dengan kontrak konvensional, namun keduanya tunduk pada ketentuan hukum kontrak/perjanjian.
Sehingga kontrak elektronik harus memenuhi syarat-syarat perjanjian dan asas-asas perjanjian. Selain itu, kontrak elektronik yang lazim dalam dalam bentuk standrt kontrak (kontrak baku), tidaklah boleh bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dengan kata lain, penyelenggaraan kontrak elektronik tetap harus mengacu pada ketentuan hukum perjanjian yang diatur dalam hukum perdata yang merupakan ketentuan umum dari penyelenggaraan kontrak/ perjanjian secara elektronik.
Kebebasan para pihak untuk membuat serta menentukan isi kontraknya disebut dengan prinsip kebebasan berkontrak. Meski demikian secara formal terdapat syarat-syarat yang harus ditaati oleh para pihak dalam membuat kontraknya antara lain:
Persetujuan ialah pernyataan satu pihak bahwa ia menerima atau setuju mengenai persyaratan yang diajukan oleh orang yang memberikan penawaran. Penawaran hanya dapat disetujui oleh orang atau pihak yang dituju dalam penawaran. Persyatratan setuju harus final dan tidak diubah
55 Anonim, kontrak Elektronik, https://www.suduthukum.com/2017/08/kontrak-elektronik.html, Diakses 25 Juli 2018 Pukul 09.56 WIB.
oleh pihak yang menerima. Pernyataan setuju harus dikomunikasikan dan diwujudkan dalam bentuk yang dapat diterima secara objektif.56 Joshua menjelaskan bahwa hal penting diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah penentuan terjadinya transaksi elektronik dalam bidang perdagangan (electronic commerce).
57
i. Teori pernyataan (uilitings theorie), dengan teori ini maka terjadinya kontrak adalah ketika pihak penerima menyatakan bahwa ia menerima penawaran itu.
Sebab hal ini akan menjadi persoalan apabila tidak ditentukan oleh para pihak kapan transaksi elektronik yang dilakukan terjadinya transaksi (persetujuan) dalam perjanjian elektronik, diantaranya:
ii. Teori pengiriman, menurut teori ini terjadinya kontrak adalah pada saat penerimaan mengirim telegram.
iii. Teori pengetahuan, menurut teori ini terjadinya kontrak adalah sejak diketahuinya adanya aceceptatie (penerimaan).
iv. Teori penerimaan, menurut teori ini kontrak terjadi pada saat pihak yang menawarkan menerima langsung jawaban dari lawan.58
b. Suatu Perihal Tertentu
KUH.Perdata terdapat beberapa pasal yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan suatu kontrak terkait dengan pemahaman mengenai perihal tertentu yang merupakan salah satu syarat sahnya
56 Joshua Sitompul. Op.Cit., Hlm. 77.
57 Ibid,. Hlm. 76.
58 Salim. HS., Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, Hlm. 40.
kontrak, yaitu Pasal 1332, 1333, dan 1334 KUH. Perdata, sebagai berikut:
Pasal 1332 KUH. Perdata menyebutkan bahwa:
“Hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja dapat menjadi pokok suatu perjanjian.”
Pasal 1333 KUH.Perdata menyebutkan bahwa:
“Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barangyang paling sedikit ditentukanjenisnya.
Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung.”
Pasal 1334 KUH.Perdata menyebutkan bahwa:
“barang-barang yang baru aka nada dikemudian harindapat menjadi pokok suatu perjanjian.
Tetapi tidaklah diperkenankan untuk melepaskan suatu warisan yang belum terbuka, atau pun untuk meminta diperjanjikan sesuatu hal mengenai warisan itu, sekali pun dengan sepakatnya orang yang nantinya akan meninggalkan warisan yang menjadi pokok perjanjian itu.”
Stansi pasal-pasal tersebut memberikan pedoman bahwa dalam berkontrak harus dipenuhi hal atau objek tertentu. Hal ini dimaksudkan agar sifat dan luasnya kewajiban para pihak (prestasi) dapat dilaksanakan oleh para pihak. Bahwa “tertentu” tidak harus dalam artian gramatikal dan sempit harus sudah ada ketika kontrak dibuat, adalah dimungkinkan untuk hal atau objek tertentu tersebut sekadar ditentukan jenis, sedang mengenai jumlah dapat ditentukan kemudian hari.59
59 Agus Yudha Hernoko. Hukum Perjanjian Asas Proporsional Dalam Kontrak Komersial, LBM, Surabaya, 2013, Hlm. 192.
c. Kapasitas/ Kecakapan Pembuat Kontrak
Menurut Pasal 1329 KUH.Perdata setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak dinyatakan tak cakap. Yang dinyatakan tidak cakap membuat suatu perjanjian menurut Pasal 1330 KUH.Perdata adalah:
i. Orang-orang yang belum dewasa;
ii. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
iii. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. (Wanita yang bersuami sudah dinyatakan tidak berlaku oleh Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963, dengan menghapus pasal 108 dan 110 KUH.Perdata tentang wewenang seotrang istri untuk melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di muka pengadilan.)
Apabila salah satu atau kedua belah pihak dalam perjanjian ternyata tidak cakap berbuat, maka konsekuensi yuridisnya adalah sebagai berikut:
i. Jika perjanjian tersebut dibuat oleh anak di bawah umur (belum dewasa), maka perjanjian tersebut akan batal atas permintaan dari pihak anak yang belum dewasa tersebut, semata-mata karena alasan belum kedewasaannya tersebut.
ii. Jika perjanjian dibuat oleh orang yang berada di bawah pengampuan, maka perjanjian tersebut batal atas permintaan dari orang yang
berada di bawah pengampuan tersebut, dengan alasan semata-mata karena keberadaannya di bawah pengampuan tersebut.
iii. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh orang yang dilarang oleh undang-undang untuk melakukan perbuatan tertentu, maka mereka dapat menuntut pembatalan perjanjian tersebut, karena jika ditentukan lain oleh undang-undang.
iv. Perjanjian yang dibuat oleh orang-orang yang tidak cakap berbuat tersebut, yang kemudian dinyatakan batal, maka para pihak dalam perjanjiantersebut harus menempatkan perjanjian tersebut pada keadaan sebelum perjanjian dibuat, jadi perjanjian tersebut dianggap seolah-olah tidak pernah ada. 60
Syarat-syarat dijabarkan diatas tidak hanya berlaku bagi kontrak dalam bentuk tertulis akan tetapi berlaku pula untuk kontrak elektronik. Berdasarkan Pasal 47 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, disebutkan bahwa suatu kontrak elektronik dianggap sah apabila:
a. Terdapat kesepakatan para pihak;
b. Dilakukan oleh subjek hukum yang cakap atau yang berwenang mewakili sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. Terdapat hal tertentu; dan
d. Objek transaksi tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undanga, kesusilaan, dan ketertiban umum.
60 Munir Fuadi, Konsep Hukum Perdata, Rajawali, Jakarta, 2014, Hlm. 196.
Ketentuan syarat sahnya suatu kontrak elektronik dalam peraturan pemerintah tersebut tidak jauh berbeda dengan syarat sahnya kontrak/perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUH.Perdata. Dengan kata lain, penyelenggaraan kontrak elektronik tetap mengacu pada ketentuan umum perjanjian yang diatur dalam hukum perdata.