• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH:

WIDYA SUJUD NADIA NIM : 140200544

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)

Eko Yudhistira***

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan berupa bagaimana kekuatan akta notaris yang dibuat berdasarkan cyber notary, bagaimana akibat hukum terhadap notaris yang membuat akta notaris berdasarkan cyber notary, dan bagaimana peluang dan kendala dalam penerapan cyber notary di Indonesia.

Metode penelitian menggunakan metode pendekatan yuridis normatif menggunakan bahan kepustakaan penelitian. Tahapan penelitian menggunakan penelitian kepustakaan: bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier untuk melengkapi data sekunder yang diperoleh melalui kepustakaan. Teknik pengumpulan data menggunakan data kepustakaan yang menganalisa secara sistematis buku-buku, peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan lain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kekuatan akta notaris yang dibuat berdasarkan cyber notary belum memperoleh landasan hukum yang kuat sehingga belum memberikan jaminan kepastian hukum. Kepastian hukum dapat tercapai, jika tidak terdapat ketentuan yang saling bertentangan antara undang-undang yang satu dengan yang lainnya. Akta notaris yang dibuat berdasarkan cyber notary belum memiliki kepastian hukum karena belum adanya sinkronisasi antara KUH.Perdata, UUJN, UUPT dan UUITE. Karena terjadi pertentangan antara undang-undang yang satu dengan undang-undang yang lain maka kekuatan akta notaris yang dibuat berdasarkan cyber notary sama dengan kekuatan akta di bawah tangan.

Kata Kunci : Kreditur, Perlindungan Hukum, Utang Piutang

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(4)

Puji dan syukur Penulis kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan Salam juga senantiasa Penulis sampaikan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah membimbing umat manusia menuju jalan keselamatan dan keberkahan. Skripsi dengan judul “Kekuatan Hukum Akta Notaris Berdasaran Cyber Notary Menurut Sistem Hukum Di Indonesia” disusun untuk memenuhi tugas dan memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana Hukum (SH) di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis juga mendapat banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih terhadap semua dukungan dan bantuan yang telah diberikan, penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H.,M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Prof. Dr. OK Saidin, S.H.,M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Ibu Puspa Melati, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(5)

7. Prof. Tan Kamello, S.H, M.S., selaku Dosen Pembimbing I. Terimakasih atas bimbingan, saran, nasihat, dan ilmu yang Bapak berikan selama ini disetiap bimbingan dengan penuh kesabaran hingga skripsi ini selesai;

8. Bapak Eko Yudhistira, S.H., M.Kn., selaku Dosen Pembimbing II. Terima kasih banyak atas saran, arahan, dan masukan yang membangun dalam setiap bimbingan, serta waktu yang Bapak berikan sehingga saya menyelesaikan skripsi ini;

9. Ibu Rafiqoh Lubis, S.H, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademik Penulis selama masa perkuliahan yang telah sabar membimbing penulis dari semester awal;

10. Seluruh Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan ilmu yang terbaik, serta membimbing penulis selama menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

11. Seluruh staf pegawai dan tata usaha di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam urusan administrasi;

12. Almarhum bapak tercinta Marudut Tua Nadeak, S.H., yang selalu penulis rindukan dan impikan selama ini, senyuman bapak yang selalu penulis bayangkan ketika mendapatkan gelar sarjana merupakan motivasi terbesar penulis dan Mamak tercinta Nurkholida bidadari syurga yang tak henti- hentinya menjaga, membimbing, memberikan dukungan, nasehat dan yang paling utama adalah doa kepada penulis, tanpa doa mamak penulis

(6)

13. Ayahanda tercinta Irham Buana Nasution,S.H.,M.Hum, malaikat tanpa sayap yang selalu siap membantu penulis kapanpun penulis butuhkan, terimakasih buat ayahanda yang selalu berhasil mengobati rindu penulis ke almarhum bapak, terimakasih ayahanda yang selalu siap mendengar cerita- cerita unfaedah penulis, yang selalu siap mendidik dan membimbing penulis, dan yang paling penting terimakasih buat ayahanda yang sudah bersedia menganggap penulis sebagai anaknya;

14. Abang kandung penulis tersayang Nade Wika Laksamana Nadeak, S.H., yang selalu bertanya apa yang menjadi kendala penulis dan menjadi semangat tersendiri bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, walaupun abangda suka mengganggu penulis tapi abang selalu menjadi obat lelah penulis;

15. Ayah-ayah penulis Fahruzzaman Nasution, S. Pd., Nazrul Ichsan Nasution, S.H., yang menggantikan posisi ayah setelah ayah tiada dan para bunda-bunda penulis Nurkholila Bunasti, Asni Daulay S.Pd., Khalijah Lubis, S.H., Nina Purnamasari Pasaribu, S.H., M.Hum., yang bersedia untuk membimbing, mendidik, menjaga dan merawat penulis seperti anak sendiri;

16. Adek-adek kandung kesayangan penulis Fakhrunnisa Humaira Nst, Aqila Fahzilatunnisa Nst, Alya Nadya Sofwah Nst, Akifa Nayla Nst yang menjadi motivasi tersendiri buat penulis untuk terus menjadi lebih baik dan tawa mereka yang selalu menjadi obat lelah penulis;

(7)

penulis dan memberikan dukungan kepada penulis sehingga penulis dapat lebih tenang menyelesaikan skripsi ini;

18. Kakak kesayangan penulis Aisyah Aulia Hasan Tanjung, S.H., yang selalu bersedia menjadi kakak penulis, bersedia meminjamkan buku kepada penulis, memberikan dukungan kepada penulis dan kakak yang gak pernah lelah bertanya kepada penulis tentang kemajuan skripsi penulis;

19. Jajaran Presidium “Miftahul Jannah” BTM Aladdinsyah, S.H. Periode 2016-2017 Fachri Husaini selaku partner kerja selama di kepengurusan, Muhammad Memo Bahari Sitorus, Yulita Ariska, Milda Sari Harahap, Desi Putri Dira, Ajeng Hanifa Zahra Caesar Aprilia, Iin Septy Rosma Dewina, Muhammad Faisal Mahyan, Rivaldo A. R. Chaniago, Khairin Ulyani Tarigan, Rizky, Wahyu Agustina, Farhan Ramadhan Al-Haris, Ika Riani Pasaribu, Guivara Sahri Zulmi, dan Nelli Ayunda Putri yang selalu memberi energi tersendiri bagi penulis.

20. Sahabat Kaktus Junita Sari, S.H., Natasya Aisyah Sitompul, S.H., Nelli Ayunda Putri, S.H., Sara Tomu Paulin, S.H., yang senantiasa menghiasi kehidupan perkuliahan penulis, yang selalu mendukung kegiatan penulis dan selalu mengingatkan penulis apabila penulis melakukan kesalahan;

21. Sahabat Pejuang Wahyu Agustina, Ika Riani Pasaribu, Milda Sari Harahap yang selalu menemani penulis, memberikan warna dalam kehidupan perkuliahan, selalu mengajak penulis ke pengajian, memberikan dukungan dan selalu membuat penulis berpikir lebih dewasa;

(8)

Mahasiswa USU, Wahyu Agustina selaku Wakil Sekretaris Jendral PEMA USU, Rozi Panjaitan selaku Mentri Kasrat PEMA USU, Riri Rizki selaku bendahara umum, Beby Ashil, Nurul Fajar Syahbani, Fazilla, Diana, Dini, Rizky, Hari Gunawan, Gary Purba, Ronaldy Girsang, Muara, Hasan, Multin Silvhia Asqalani, Hari Wibowo, Naufal, Nazri, Ifras, dan semua jajaran PEMA USU yang tidak dapat penulis sebutkan yang telah memberi banyak pengalaman, pelajaran, warna, dan hal-hal baru yang belum pernah penulis rasakan, serta telah memberikan energi tersendiri kepada penulis;

23. Rekan-rekan Kementrian Pemberdayaan Perempuan PEMA USU Bimasyah Sihite, Windy, Marsya Indira, Fadhillah Zikroyati, Marlina, Jennifer, Sarah, Khadijah, Annisa, Ditha, Liza, Nida, Indah, Rahma, Wulan, Suci, Yolanda yang telah membantu penulis dalam melaksanakan amanah dan memberikan warna dan cerita baru di hidup penulis;

24. Sahabat-sahabat penulis Chihuy (Elisa Lestari, Chika Ginting, Chairunnisa), Sahat, Naurah, Okty, Kiki, Merry, Zhafira, Irin, Ruth, Ichi, Nana, Asri, Indri, Ismi, Wulan yang menemani penulis selama aku terpuruk da telah berhasil membangkitkan penulis dari masa terpuruk;

25. Sodara sodari PASKHASKIBRA SMAN 1 Medan Angkatan XXIII Denny, Fadhil, Eri, Bahrul, Kevin, Raihan, Irma, Ajeng, April, Riska, Ulfa, Velsa yang telah mau membersamai penulis sampai saat ini dan memberikan energi tersendiri bagi penulis;

(9)

Handoyo, Annisa Rizky, Datuk Abdul Jabbar scf, Anggi Ramadhani, Ilham, Ami Khairina, Gita Clarariska Pratama, Nadya, Zairin Nur Aulia, Riska Rianti Nasution, Dimas Fatih Asqor y, Egi Nila Sari.

27. Muslimah shalihah Junita Sari, Amanda Rahmi, Chintya Delvita Sari Hasibuan, Febri Yanti Ayu Wulandari, Ashri Azhari Baehati, Esy Dwi Rahmah, Avissa Novali Noor, Amiroh, Afifah, Nurul Alida.

28. Chairul Alwan, Al Fatih Nabawiyah, Asnawi Ahsan dan Ukhuwah Mujahid yang tak henti-hentinya memberi semangat kepada penulis.

29. Rekan-rekan pengurus HAMADA Foundation, HEP Medan, Muslim Peduli Sesama.

30. Keluarga besar Grup A 2014 Anggina, Nurul Alida, Nurul, Mayang, Elisa, Bintang, Rio, Yudika, Sara, dan lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan, terima kasih telah memberi warna-warni kehidupan kampus penulis.

Penulis menyadari bahwa hasil skripsi ini tidak lepas dari kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap pada semua pihak agar dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan bagi setiap orang yang membacanya.

Medan, Agustus 2018

NIM. 140200544 Widya Sujud Nadia

(10)

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI ... viii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian... 7

E. Keaslian Penulisan ... 8

F. Metode Penelitian... 8

G. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II : KEWENANGAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA NOTARIS A. Tinjauan Umum Tentang Notaris 1. Pengertian Notaris ... 13

2. Sejarah Notaris di Indonesia ... 15

3. Ruang Lingkup Tugas, Kewenangan, dan Kewajiban Notaris ... 20

4. Larangan Bagi Notaris Dalam Menjalankan Jabatannya .. 27

5. Peranan Notaris Dalam Transaksi Elektronik ... 29

B. Tinjauan Umum Tentang Akta 1. Pengertian Akta ... 33

(11)

BAB III: LANDASAN HUKUM TERHADAP AKTA NOTARIS BERDASARKAN CYBER NOTARY

A. Pengertian Cyber Notary ... 42

B. Eksistensi Cyber Notary di Indonesia ... 44

C. Aktifitas Transaksi Elektronik 1. Perdagangan Elektronik (Electronic Commerce) ... 46

2. Kontrak Elektronik (Electronic Contract) ... 50

3. Tanda Tangan Elektronik (Electronic Signature) ... 57

4. Electronic Data Interchange ... 59

D. Landasam Hukum Pembuatan Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary 1. Cyber Notary Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ... 62

2. Cyber Notary Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris ... 66

3. Cyber Notary Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas ... 71

4. Cyber Notary Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ... 74

(12)

PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

A. Kekuatan Akta Notaris yang di buat Berdasarkan Cyber Notary ... 77 B. Akibat Hukum Terhadap Notaris yang Membuat Akta Notaris

Berdasarkan Cyber Notary ... 84 C. Peluang dan Kendala dalam Penerapan Cyber Notary di Indonesia

... 91

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 99 B. Saran ... 101

DAFTAR PUSTAKA... 103 LAMPIRAN

(13)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jasa Notaris atau berdasarkan undang-undang lainnya.

Notaris sebagai pejabat umum diangkat oleh pemerintah, dan pemerintah sebagai organ negara mengangkat notaris bukan semata untuk kepentingan notaris itu sendiri, melainkan juga untuk kepentingan masyarakat luas. Jasa yang diberikan oleh notaris terkait erat dengan persoalan trust (kepercayaan antara para pihak) artinya negara memberikan kepercayaan yang besar terhadap notaris.

Pemberian kepercayaan kepada notaris berarti notaris tersebut mau tidak mau telah dapat dikatakan memikul tanggung jawab atasnya. Tanggung jawab ini dapat berupa tanggung jawab secara hukum maupun moral.

Dunia notaris merupakan perpaduan antara teori dan praktik dalam tataran yang ideal antara teori dan praktik sejalan atau terkadang tidak saling sejalan artinya tidak selalu teori endukung praktik, dunia notaris harus dibangun tidak saja diambil dan dikembangkan oleh atau dari ilmu hukum yang telah ada, tapi notaris juga harus dapat mengembangkan sendiri teori-teori untuk menunjang pelaksanaan tugas jabatan notaris dan pengalaman yang ada selama menjalankan tugas jabatan notaris.1

1 Emma Nurita, Cyber Notary Pemahaman Awal Dalam Konsep Pemikiran, PT. Refika Aditama, Bandung, 2012, Hlm. 2.

(14)

Berdasakan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris (yang disingkat UUJN), dapat dilihat bahwa notaris memiliki peran dan fungsi yang penting dalam legalitas transaksi di Indonesia, bahkan notaris juga dipahami sebagai pihak ketiga yang terpercaya. Jasa seorang notaris telah menjadi kebutuhan masyarakat, tidak hanya dalam pembuatan akta, melainkan juga sebagai saksi atau penengah dari transaksi yang dilakukan.2

Perkembangan komunikasi, teknologi dan informasi sedemikian rupa sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa keadaan tersebut telah mempengaruhi kehidupan masyarakat di segala bidang.3 Dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi berbagai komputer dapat dihubungkan untuk membentuk jaringan komputer yang mengarah kepada perkembangan internet. Secara umum, jaringan komputer ialah gabungan komputer dan alat perangkatnya yang terhubung dengan saluran komunikasi yang memfasilitasi komunikasi diantara pengguna dan memungkinkan para penggunanya untuk saling menukar data dan informasi.4

Teknologi yang ada saat ini telah mampu mengatasi masalah jarak dan waktu dalam melakukan transaksi konvensional. Para pihak yang pada awalnya harus melakukan transaksi dengan bertatap muka, dengan teknologi telegram, telepon, dan kemudian internet membuat para pihak dapat lebih cepat dalam melakukan komunikasi dan transaksi. Perusahaan tidak lagi secara konvensional harus berada dalam dalam suatu wilayah tertentu untuk dapat memasarkan barang

2 Edmon Makarim, Notaris Dan Transaksi Elektronik Kajian Hukum Tentang Cybernotary Atau Elektronik Notary, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, Hlm. 6.

3 Herlien Budiono, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata Di Bidang Kenotatiata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2015, Hlm. 81. (buku 1)

4 Josua Sitompul, Cyberspace, Cybercrimes, Cyberlaw, PT. Tatanusa, Jakarta, 2012, Hlm.20.

(15)

dan jasa karena dengan melalui website, mereka dapat menarik konsumen dari berbagai negara untuk mengunjungi tokonya. Tidak hanya itu saja, web telah menjadi sumber informasi utama, dan layanan web menjadi platform transaksi bisnis yang prioritas. 5

Transaksi elektronik sebagai perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer dan/atau media elektronik lainnya telah dikenal dan diatur dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE). Transaksi elektronik telah pula dikenal di dunia notariat, diantaranya Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) berkaitan dengan permohonan untuk memperoleh keputusan pengesahan badan hukum perseroan terbatas pada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia secara elektronik. Perkembangan di bidang teknologi informasi membawa perubahan pada lingkungan bekerja demikian pula mempengaruhi lingkungan bekerja jabatan kepercayaan yang diemban oleh notaris. Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi tersebut, timbullah batu ujian terhadap kemungkinan dibuatnya akta notaris secara virtual6

Berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi, Pasal 77 Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga memberikan pengaturan mengenai kemungkinan para pemegang saham melakukan rapat umum pemegang saham dilakukan melalui media telekonferensi, video konferensi, atau sarana media elektronik lainnya. Rapat tersebut dilakukan dengan syarat yang memungkinkan semua peserta rapat saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat. Penyelenggaraan rapat dengan

atau akta notaris berdasarkan cyber notary.

5 Ibid, Hlm. 61.

6 Herlien Budiono, Op.Cit., Hlm. 74. (Buku 1)

(16)

menggunakan media tersebut harus dibuatkan risalah rapat yang disetujui dan ditandatangani oleh semua peserta. Penjelasan dari pasal tersebut mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “disetujui dan ditandatangani” adalah ditandatangani secara fisik atau secara elektronik.7

Redaksi Pasal 1 angka 7 UUJN memberikan pengertian bahwa akta harus dibuat dihadapan notaris sehingga peluang untuk membuat akta notaris berdasarkan cyber notary sangat kecil, mengingat pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary dilaksanakan karena keberadaan peserta Rapat Umum Pemegang Saham dan notaris mungkin tidak pada suatu wilayah jabatan notaris.

Tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan akan muncul peraturan baru atau pembaharuan dalam UUJN seiring dengan perkembangan zaman yang semakin

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris belum secara tegas mengatur mengenai kewenangan notaris dalam pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary, namun dalam Penjelasan Pasal 15 ayat (3) UUJN menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan”, antara lain kewengan mensertifikasi transaksi yang dilakukan secara elektronik (cyber notary), membuat akta ikrar wakaf, dan hipotek pesawat terbang.

Penjelasan Pasal 15 ayat (3) UUJN telah menyebutkan cyber notary tetapi dalam Pasal 1 angka 7 UUJN menyebutkan bahwa:

“akta notaris yang selanjutnya disebut akta adalah akta autentik yang dibuat oleh atau di hadapan notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini.”

7 Herlien Budiono, Op.Cit., Hlm. 95. (Buku 1)

(17)

pesat. Dalam pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik berbunyi:

(1) Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetakannya merupakan alat bukti hukum yang sah.

(2) Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetakannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.

(3) Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dinyyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.

(4) Ketentuan mengenai informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk:

a. Surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk tertulis; dan

b. Surat beserta dokumennya yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk akta notaris atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.

Jika dicermati pasal diatas terutama dalam pasal 5 ayat (4) huruf a dan b memang untuk saat sekarang ini konsep cyber notary khususnya dalam pembuatan akta secara elektronik belum bisa diterapkan tetapi bukan berarti untuk selamanya tidak dimungkinkan, karena jika ditinjau dari pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) dapat dipastikan kedua ayat tersebut memberikan peluang terwujudnya konsep cyber notary, hanya saja perlu adanya keseragaman payung hukum dari peraturan jabatan notaris agar kewenangan notaris dapat ditambah tidak hanya dapat melayani masyarakat secara konvensional tetapi dapat juga melayani masyarakat dalam bentuk pelayanan jasa secara elektronik khususnya dalam pembuatan akta elektronik yang bernilai otentik, karena hal ini sudah sangat mendesak seiring dengan perkembangan zaman teknologi yang semakin pesat.

Konsep cyber notary tak hanya membawa perubahan pada UUJN tetapi juga KUH Perdata terutrama pasal 1867 sampai pasal 1870 KUH Perdata. Adanya

(18)

pembaharuan di bidang ilmu hukum terhadap perubahan pasal di atas akan membuat keanekaragaman dalam sejarah pembuatan akta secara elektronik, karena KUH Perdata yang kita kenal sekarang belum ada perubahan sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang, dengan adanya perubahan tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mampu berdiri sendiri bekerja sama untuk membuat suatu perubahan di dalam tatanan hukum di Indonesia.8

Permasalahan tersebut mendasari dan menimbulkan suatu inspirasi bahwa penerapan perkembangan pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary merupakan suatu permasalahan yang perlu mendapatkan pengkajian dari aspek hukum. Permasalahan hukum yang timbul terkait dengan pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary akan dilakukan pengkajian secara konprehensif melalui Berdasarkan uraian diatas, perlu untuk menaruh perhatian terhadap permasalahan mengenai penerapan perkembangan teknologi informasi dalam pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary. Penerapan teknologi informasi dalam pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary memerlukan landasan hukum untuk dapat dijadikan sebagai landasan berpijak bagi pejabat notaris dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memberikan pelayanan terhadap masyarakat.

Dengan demikian, notaris dalam menjalankan kewenangannya dalam pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary memperoleh jaminan kepastian hukum.

Sebaliknya masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan jaminan atas kepastian hukum terhadap peristiwa hukum yang dilakukan juga memperoleh rasa aman dan nyaman dalam pembuatan akta notaris berdasarkan cyber notary.

8 Emma Nurita, Op.Cit. Hlm. 8.

(19)

penelitian skripsi ini, dengan judul sebagai berikut: “Kekuatan Hukum Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary Menurut Sistem Hukum Indonesia”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik beberapa permasalahan yang akan menjadi batasan dari penelitian ini, antara lain:

1. Bagaimana kekuatan akta notaris yang dibuat berdasarkan cyber notary?

2. Bagaimana akibat hukum terhadap notaris yang membuat akta notaris berdasarkan cyber notary?

3. Bagaimana peluang dan kendala dalam penerapan cyber notary di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kekuatan akta notaris yang di buat berdasarkan Cyber notary.

2. Untuk mengetahui akibat hukum terhadap notaris yang membuat akta notaris berdasarkan cyber notary.

3. Untuk mengungkap peluang dan kendala dalam penerapan cyber notary di Indonesia.

D. Manfaat Penulisan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas dan juga perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang hukum perdata. Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

(20)

1. Secara teoritis, kegiatan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan, khususnya dalam hukum Perdata yang mengkaji tentang cyber notary. Penelitian ini juga diharapkan bisa memberikan masukan bagi penyempurnaan hukum kenotariatan khusunya mengenai cyber notary.

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan masyarakat dalam melakukan transaksi elektronik, khususnya dalam pembuatan akta berdasarkan cyber notary. Penelitian ini juga ditujukan kepada kalangan praktisi yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan cyber notary, seperti notaris, PPAT, pelaku usaha, dan lain sebagainya.

E. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan, maka sejauh yang diketahui peneliti tentang: “Kekuatan Hukum Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary Menurut Sistem Hukum Indonesia”, belum pernah dilakukan baik dilihat dari judul maupun dari substansi permasalahan. Sehingga penelitian ini adalah asli adanya. Artinya, secara akademik penulisan ini dapat dipertanggungjawabkan kemurniannya.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian menjelaskan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melakukan penelitian untuk menjawab permasalahan yang sudah ditetapkan.

Adapun metodologi penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Tipe Penelitian

(21)

Penelitian hukum ini mempunyai tipe pendekatan yuridis normatif.

Penelitian hukum ini bertipe pendekatan yuridis normatif karena pendekatan yuridis normatif selain mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat, juga melihat sinkronisasi suatu aturan dengan aturan lainnya secara hierarki.9

2. Sifat Penelitian

Dan penelitian ini mengacu pada peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum sebagai objek penelitian.

3. Sumber Data

Penelitian ini bersumber dari data sekunder. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan perundang-undangan.

Data sekunder tersebut dapat dibagi menjadi:

a. Bahan hukum primer berupa Undang-Undang Dasar 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang

9 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, Hlm. 105.

(22)

Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder adalah buku-buku dan tulisan-tulisan ilmiah hukum yang terkait dengan objek penelitian ini.10

c. Bahan hukum tertier adalah petunjuk atau penjelasan mengenai bahan hukum primer atau bahan hukum sekunder yang berasal dari kamus, ensiklopedia, majalah, surat kabar, dan sebagainya.11

4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan, karena penelitian ini bersumber dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, publikasi dan hasil penelitian.

5. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif terhadap data sekunder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena sifat penelitian ini menggunakan metode penelitian bersifat deskriptif analitis. Deskriptif tersebut meliputi isi dan struktur hukum positif, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi atau makna aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi objek kajian.12

10 Ibid., Hlm. 106.

11 Zainudddin Ali, Loc.Cit.

12 Ibid., Hlm. 107.

(23)

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini dibuat agar memberikan kemudahan bagi pembaca dalam memahami makna dan memperoleh manfaatnya. Skripsi ini dibagi atas 5 (lima) bab, yang tiap bab dibagi pula atas beberapa sub bab yang disesuaikan dengan isi dan maksud dari penulisan skripsi ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini secara singkat adalah sebagai berikut:

BAB I : Bab ini merupakan bab pendahuluan, yang menjadi suatu pengantar dari permasalahan, terdiri dari 7 (tujuh) sub bab, yaitu Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Keaslian Penulisan, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.

BAB II : Bab ini berjudul “Kewenangan Notaris Dalam Pembuatan Akta Notaris” yang terdiri atas 2 (dua) sub bab, yaitu Tinjauan Umum Tentang Notaris dan Tinjauan Umum Tentang Akta.

BAB III: Bab ini berjudul “Landasan Hukum Terhadap Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary”, yang terdiri atas 4 (empat) sub bab, yaitu Pengertian Cyber Notary, Eksistensi Cyber Notary di Indonesia, Aktifitas Transaksi Elektronik, dan Landasan Hukum Pembuatan Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary.

BAB IV: Bab ini berjudul ( Kekuatan Hukuum Akta Notaris Yang Di Buat Berdasarkan Cyber Notary Menurut Peraturan Perundang- Undangan Di Indonesia”, yang terdiri atas 3 (tiga) sub bab, yaitu Kekuatan Akta Notaris yang di buat Berdasarkan Cyber Notary, Akibat Hukum Terhadap Notaris yang Membuat Akta Notaris

(24)

Berdasarkan Cyber Notary, serta Peluang dan Kendala dalam Penerapan Cyber Notary di Indonesia.

BAB V : Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran, dimana bab ini merupakan bab penutup dari keseluruhan materi skripsi.

(25)

BAB II

KEWENANGAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA NOTARIS A. Tinjauan Umum Tentang Notaris

1. Pengertian Notaris

Notaris adalah pegawai resmi (umum), khusus diberi hak untuk membuat akta-akta otentik dari pada semua perbuatan-perbuatan, perjanjian-perjanjian dan penetapan-penetapan di mana peraturan umum menghendakinya atau atas kemauan dari pada para yang berkepentingan sendiri, suatu akta yang otentik di mana terjamin adanya tanda tarich (dagtekening), tetap tersimpannya akta- aktanya, dan dari itu dapat dikeluarkan surat salinan (grosse), salinan biasa (afschrift) dan petikan-petikannya semua ini dibuat bila oleh peraturan-peraturan umum tugasnya tidak pula diserahkan kepada pegawai-pegawai atau orang-orang lainnya ataupun untuk itu haknya disimpan.

Perkataan notaris berasal dari perkataan latin notarius yang artinya orang yang membuat catatan. 13

Menurut sejarahnya, notaris adalah seorang pejabat negara/pejabat umum yang dapat diangkat oleh negara untuk melakukan tugas-tugas negara dalam pelayanan hukum kepada masyarakat demi tercapainya kepastian hukum sebagai pejabat pembuat akta otentik dalam hal keperdataan. Notaris adalah suatu jabatan yang tidak digaji oleh pemerintah akan tetapi pegawai pemerintah yang berdiri sendiri dan mendapat honorarium dari orang-orang yang meminta jasanya.

Nama notarius lambat laun mempunyai arti berbeda dengan semula, sehingga kira-kira pada abad kedua sesudah masehi yang disebut dengan nama itu ialah mereka yang mengadakan pencatatan dengan tulisan cepat.

13 R. Soesanto, Tugas, Kewajiban, dan Hak-Hak Notaris, Wakil Notaris (Sementara), Prandnya Paramita, Jakarta, 1982, Hlm. 34.

(26)

Secara administratif, notaris memiliki hubungan dengan negara dalam hal ini pemerintahan, misalnya yang berkaitan dengan pengangkatan dan pemberhentian notaris. 14

a. Notariat functionnel, hal mana wewenang-wewenang pemerintah didelegasikan (gedelegeerd), dan demikian itu diduga mempunyai kebenaran isinya, mempunyai kekuatan bukti formal dan mempunyai daya/ kekuatan eksekusi. Di negara-negara yang menganut bentuk notariat ini terdapat pemisahan yang keras antara wettelijke dan niet wettelijke, werkzaamheden yaitu pekerjaan-pekerjaan yang didasarkan undang-undang/hukum dan yang tidak/bukan dalam notariat.

Menurut Komar Andasasmita, bentuk atau corak notaris dapat dibagi dua kelompok utama yakni:

b. Notariat profesionel, dalam kelompok ini walaupun pemerintah mengatur tentang organisasinya, tetapi akta-akta notaris ini tidak mempunyai akibat-akibat khusus tentang kebenarannya, kekuatan bukti, demikian kekuatan eksekutorialnya.15

Pengertian notaris menurut pasal 1 angka 1 UUJN adalah:

“Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksu dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan Undang-Undang lainnya.”

14 Desni Prianty Eff. Manik, Tesis Magister Humaniora, Analisis Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Dalam Pengawasan Notaris Menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, 2009, Hlm. 16.

15 Ibid, Hlm. 17.

(27)

Istilah pejabat umum yang dimaksud dalam pasal 1 ayat 1 UUJN merupakan terjemahan dari istilah Openbare Amtbtenaren yang terdapat dalam Pasal 1868 Burgelijk Wetboek (BW).16

Menurut kamus hukum salah satu arti dari Ambtenaren adalah pejabat.

Dengan demikian Openbare Ambtenaren adalah pejabat yang mempunyai tugas yang bertalian dengan kepentingan publik, sehingga tepat jika Openbare Ambtenaren diartikan sebagai Pejabat publik. Khusus berkaitan dengan Openbare Ambtenaren yang diterjemahkan sebagai Pejabat Umum diartikan sebgai pejabat yang diserahi tugas untuk membut akta otentik yang melayani kepentingan publik, dan kualifikasi seperti itu diberikan kepada notaris.

Pasal 1868 Burgelijk Wetboek (BW) menyebutkan:

Eene authentiekeacte is de zoodanige welke in de wettelijken vorn is verlende, door of ten overstaan van openbare ambtenaren die daartoe bevoegd zijn ter plaatse alwaar zulks is geschied.

(suatu akta otentik ialah suatu akta yang di buat dalam bentuk yang ditentukan undang-undangoleh atau. Di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu di buat).

17

Notaris adalah pejabat umum bukan pegawai negeri, dengan demikian notaris di dalam bidang hukum secara professional terikat, sejauh kemampuannya, untuk mencegah penyalahgunaan dari ketidakpahaman atas ketentuan hukum dan kesempatan yang diberikan oleh undang-undang. 18

2. Sejarah Notaris di Indonesia

Lembaga notaris di Indonesia yang dikenal sekarang ini, bukan lembaga yang lahir dari bumi Indonesia. Lembaga notaris masuk ke Indonesia pada

16 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, PT. Refika Aditama, Surabaya, 2013, Hlm. 26. (Buku 1)

17 Ibid. Hlm. 27.

18 Herlien Budiono, Op.Cit., Hlm. 143. (Buku 1)

(28)

permulaan abad ke-17 dengan beradanya verrenigde Oost Ind Compagne (VOC) di Indonesia. Jan Pieterszoon Coen pada waktu itu sebagai gubernur Jenderal di Jakarta antara tahun 1617 sampai 1629, untuk keperluan penduduk dan 19

19 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, efika Aditama, Surabaya, 2007,Hlm. 3. (Buku 2)

para pedagang di Jakarta menganggap perlu mengangkat seorang notaris, yang disebut Notarium Publicum. Sejak tanggal 27 Agustus 1620, mengangkat Melchior Kerchem sebagai (urusan perkapalan kota) di Jakarta untuk merangkap sebagai notaris yang berkedudukan di Jakarta. Tugas Melchior Kerchem sebagai notaris dalam surat pengangkatannya, yaitu melayani dan melakukan semua surat libel (semaadschrift), surat wasiat di bawah tangan (codicil), persiapan penerangan, akta perjanjian perdagangan, perjanjian kawin, surat wasiat (testament), dan akta- akta lainnya dan ketentuan-ketentuan yang perlu dari kotapraja. Pada tahun 1625 jabatan notaris dipisahkan dari jabatan Sekretaris College van Schepenen, yaitu dengan dikeluarkan instruksi untuk para notaris pada tanggal 16 Juni 1625.

Instruksi ini hanya terdiri dari sepuluh pasal, antara lain menetapkan bahwa notaris wajib merahasiakan segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya dan tidak boleh menyerahkan salinan-salinan dari akta-akta kepada orang-orang yang tidak berkepentingan. Tanggal 7 Maret 1822 (Stb. No. 11) dikeluarkan instructive voor de Notarissen Residerende in Nederlands Indie. Pasal 1 instruksi tersebut mengatur secara hukum batas-batas dan wewenang dari seorang Notaris, dan juga menegaskan Notaris bertugas untuk membuat akta-akta dan kontrak-kontrak, dengan maksud untuk memberikan kepadanya kekuatan dan pengesahan, menetapkan dan memastikan tanggalnya, menyimpan asli atau minutanya dan

(29)

mengeluarkan grossenya, demikian juga memberikan salinannya yang sah dan benar.

Tahun 1860 Pemerintah Hindia Belanda memandang perlu untuk membuat peraturan-peraturan yang baru mengenai Jabatan Notaris di Nederlands Indie untuk disesuaikan dengan peraturan-peraturan mengenai jabatan notaris yang berlaku di Belanda. Sebagai pengganti Instructie voor de Notarissen Residerende in Nederlands Indie, kemudian tanggal 1 Juli 1860 ditetapkan Reglement op Het Notaris Ambt in Nederlands indie (Stbl.1860:3).

Setelah Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, keberadaan notaris di Indonesia tetap diakui berdasarkan ketentuan Pasal II Aturan Peralihan (AP) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu segala peraturan perundang- undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Dengan dasar Pasal II AP tersebut tetap diberlakukan Reglement op Het Notaris Ambt in Nederlands Indie (Stbl. 1860:3).

Sejak tahun 1948 kewenangan pengangkatan notaris dilakukan oleh menteri kehakiman, berdasarkan Peraturan Pemerintah Tahun 194820

Tahun 1949 melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan di Den Haag, Nederland, tanggal 23 Agustus – 22 September 1949, salah satu hasil KMB terjadi Penyerahan Kedaulatan dari Pemerintahan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat untuk seluruh Wilayah Indonesia (kecuali Irian Barat – Papua sekarang). Adanya penyerahan kedaulatan tersebut, membawa akibat kepada

Nomor 60, tanggal 30 Oktober 1948 tentang Lapangan Pekerjaan, Susunan, Pimpinan dan Tugas Kewajiban Kementerian Kehakiman.

20 Ibid. Hlm.4.

(30)

status Notaris berkewarganegaraan Belanda yang ada di Indonesia harus meninggalkan jabatannya. Dengan demikian terjadi kekosongan Notaris di Indonesia, untuk mengisi kekosongan tersebut sesuai dengan kewenangan yang ada pada Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dari tahun 1949 sampai dengan tahun 1954 menetapkan dan mengangkat wakil notaris untuk menjalankan tugas jabatan notaris dan menerima protocol yang berasal dari notaris yang berkewarganegaraan Belanda.

Tanggal 13 November 1954 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954 tentang wakil notaris dan wakil notaris sementara. Pasal 2 ayat (1) undang-undang tersebut, menegaskan bhawa dalam hal notaris tidak ada, menteri kehakiman dapat menunjuk seorang yang diwajibkan menjalankan pekerjaan-pekerjaan notaris. Mereka yang ditunjuk dengan kewajiban seperti tersebutdalam pasal ini disebut sebagai wakil notaris (Pasal 1 huruf c dan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954), sedangkan yang disebut Notaris adalah mereka yang diangkat berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Reglement op Het Notaris Ambt in Nederlands Indie (Stbl. 1860:3) – (Pasal 1 huruf a Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954). Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954 juga sekaligus menegaskan berlakunya Reglement op Het Notaris Ambt in Nederlands Indie (Stbl. 1860:3) sebagai Reglement tentang Jabatan Notaris di Indonesia (Pasal 1 huruf a) untuk notaris Indonesia.

Notaris yang masih berada di Indonesia sampai dengan tahun 1954 merupakan notaris (berkewarganegaraan Belanda) yang diangkat oleh Gubernur Jenderal berdasarkan Pasal 3 Regelement op Het Notaris Ambt in Nederlands Indie (Stbl. 1860:3). Ketentuan pengangkatan Notaris oleh Gubernur Jenderal

(31)

oleh Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954 telah dicabut, yaitu tersebut dalam Pasal 2 ayat (3), dan juga mencabut Pasal 62, 62a, dan 63 Reglement op Het Notaris Ambt in Nederlands Indie (Stbl. 1860:3).21

a. Reglement op Het Notaris Ambt In Indonesia (Stbl. 1860:3) sebagaimana telah diubah terakhir dalam Lembaran Negara 1954 Nomor 101;

Tahun 2004 diundangkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris atau disebut UUJN pada tanggal 6 Oktober 2004. Pasal 91 UUJN telah mencabut dan menyatakan tidaak berlaku lagi:

b. Ordonantie 16 September 1931 tentang Honorarium Notaris;

c. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954;

d. Pasal 54 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum;

e. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1949 tentang sumpah/janji jabatan notaris.22

Tahun 2014 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris diperbaruhi menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

Dengan adanya UUJN tersebut, telah terjadi pembaharuan dan pengaturan kembali secara menyeluruh dalam satu undang-undang yang mengatur jabatan notaris sehingga dapat tercipta suatu unifikasi hukum yang berlaku untuk semua penduduk di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.

21 Ibid. Hlm.5.

22 Ibid. Hlm.6.

(32)

3. Ruang Lingkup Tugas, Kewenangan dan Kewajiban Notaris

Notaris dalam menjalankan jabatannya mempunyai tugas dan kewenangan.

Tugas pokok dari notaris adalah melayani masyarakat serta kepentingan umum di dalam membuat bukti otentik di bidang keperdataan yang berbentuk akta-akta otentik. Di dalam pembuatan akta-akta otentik tersebut, notaris mempunyai peranan yang sangat penting, dimana notaris berperan sebagai pejabat umum.

Prof. Hamaker menguraikan tugas seorang notaris dengan mengatakan notaris ditunjuk untuk dan atas permintaan dari orang-orang yang melakukan tindakan hukum, hadir sebagai saksi pada perbuatan hukum yang mereka lakukan dan menuliskan (mengkonstantir) apa yang disaksikannya itu atau dengan kata lain notaris adalah saksi pada perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pihak yang bersangkutan. 23

1. Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik.

Kewenangan notaris dijelaskan di dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 30 Tentang Jabatan Notaris yang meliputi:

2. Menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse salinan dan kutipan akta.

3. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.

23 G.H.S.Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Erlangga, Jakarta, 1983, Hlm. 42

(33)

4. Membubuhkan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.

5. Membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan, berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.

6. Melakukan pengesahan kecocokn fotokopi dengan surat aslinya.

7. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.

8. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan.

9. Membuat akta risalah lelang.

Kewenangan notaris tersebut dibatasi oleh ketentuan lain yaitu, sepanjang menyangkut akta itu dibuat, sepanjang mengenai orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuat, sepanjang mengenai tempat dimana akta itu dibuat, sepanjang mengenai waktu pembuatan akta. Selain itu tidak semua pejabat umum dapat membuat akta-akta tertentu yang berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Notaris tidak berwenang membuat akta untuk kepentingan orang-orang tertentu.

Notaris tidak diperbolehkan membuat akta untuk diri sendiri, suami/istrinya, keluarga sedarah maupun keluarga semenda dari notaris, dalam garis keturunan lurus ke bawah tanpa batasan derajat serta dalam garis ke samping sampai dengan derajat ketiga, baik mejadi pihak untuk diri sendiri maupun melalui kuasa. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya suatu tindakan memihak dan penyalahgunaan jabatan.

Notaris hanya berwenang untuk membuat akta otentik di wilayah hukum atau wilayah jabatannya. Di luar wilayah hukum atau wilayah jabatannya, maka akta yang dibuat tidak mempunyai kekuatan sebagai akta notarial.

(34)

Apabila notaris masih menjalankan cuti atau dipecat dari jabatannya, notaris tidak diperbolehkan untuk membuat akta. Notaris juga tidak boleh membuat akta, apabila notaris tersebut belum diambil sumpahnya.

Sebelum menjalankan jabatannya, notaris wajib mengucapkan sumpah/janji menurut agamanya dan dihadapan menteri atau pejabat yang ditunjuk, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 4 ayat (2) UUJN. Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 ayat (1) UUJN berbunyi sebagai berikut: “Saya bersumpah/bernjanji:

• Bahwa saya akan patuh dan setia kedapa Negara Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Jabatan Notaris serta peraturan perundang-undangan lainnya.

• Behwa saya akan menjalankan jabatan saya dengan amanah, jujur, seksama, mandiri, dan tidak berpihak.

• Bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan tanggung jawab saya sebagai notaris.

• Bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan saya.

• Bahwa saya untuk dapat diangkat dalam jabatan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan nama atau dalih apapun, tidak pernah dan tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada siapa pun.

(35)

Makna dari kalimat yang menjadi sumpah notaris tersebut adalah bahwa dalam menjalankan jabatannya, notaris harus melaksanakannya dengan professional dan menjaga integritas moralnya. Jabatan yang dipangku notaris adalah jabatan kepercayaan (vertrouwensambt) dan justru oleh karena itu seseorang bersedia mempercayakan sesuatu kepadanya. Sebagai seorang kepercayaan (vertrouwensambt), notaris berkewajiban untuk merahasiakan semua apa yang diberitahukan kepadanya selaku notaris.

Kewajiban merahasiakan tersebut dappat dilakukan dengan upaya penuntutan hak ingkar (verschoningsrecht), yang merupakan pengecualian terhadap ketentuan dalam Pasal 1909 ayat (3e) KUHPerdata, Pasal 146 dan Pasal 227 HIR bahwa setiap orang yang dipanggil sebagai saksi wajib memberikan kesaksian di muka pengadilan. Notaris yang memberikan keterangan atau penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya, maka notaris tersebut telah melanggar undang-undang yaitu sumpah jabatan dalam Pasal 4 UUJN dan Pasal 322 KUH Pidana tentang Membuka Rahasia.

Menurut G.H.S. Lumban Tobing, bahwa pengangkatan sumpah sebelum menjalankan jabatannya dengan sah merupakan azas hukum publik (publiekrochtelijk beginsel) bagi pejabat umum, artinya selama belum dilakukan pengambilan sumpah, maka jabatan tersebut tidak boleh dan tidak dapat dijalankan dengan sah. Pengucapan sumpah/janji jabatan notaris sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 UUJN, maka keputusan pengangkatan notaris dapat dibatalkan oleh menteri (Pasal 6 UUJN).

(36)

Sedangkan kewajiban seorang notaris dalam menjalankan jabatannya termuat dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 tentang Jabatan Notaris yang menentukan sebagai berikut:

a. Bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;

b. Membuat akta dalam bentuk minuta akta dan menyimpannya sebagai bagian bagian dari protocol notaris;

c. Mengeluarkan grosse akta, salinan akta, atau kutipan akta berdasarkan minuta akta.

d. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya;

e. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain;

f. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta tidak dapat dimuat dalam satu buku, dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku;

g. Membuat daftar dari akta proses terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;

h. Membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan;

i. Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud huruf h atau daftar nilai yang berkenaan dengan wasiat ke daftar pusat wasiat departemen

(37)

yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kenotariatan dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;

j. Mencatat dalam reportorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir bulan;

k. Mempunyai cap/stempel yang memuat lambing Negara Republik Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;

l. Membacakan akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi yang ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris;

m. Menerima magang calon notaris.

Ketentuan Pasal 16 di atas apabila dikaitkan dengan supah/janji seorang notaris seperti diuraikan sebelumnya bahwa notaris dalam menjalankan jabatannya dilakukan dengan amanah, jujur, seksama, mandiri, dan tidak berpihak. Jujur dimaksud, dapat diartikan bahwa notaris dalam menjalankan kewajibannya berupaya untuk tidak mencemarkan kepribadiannya dengan cara bertindak yang bertentangan dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat, baik secara individu maupun secara jabatan seperti melakukan kebohongan atau penipuan. Notaris dalam menjalankan tugasnya dengan seksama, dapat diartikan bahwa notaris harus berupaya melaksanakan tugasnya dengan teliti, sehingga memperkecil kemungkinan membuat kesalahan.

Mandiri dan tidak berpihak dapat diartikan dengan tidak menggantungkan diri kepada pihak lain dalam melaksanakan tugasnya dan memberlakukan para pihak seimbang, tidak berat sebelah, terutama dalam membuat akta perdamaian,

(38)

perjanjian dan akta-akta lain dimana ada dua pihak yang menghadap, disamping kehendak para pihak ditanpung dalam akta, apabila ada hal-hal yang merugikan salah satu pihak, notaris akan memberikan nasehat agar tidak ada pihak yang dirugikan. Menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum, memberikan nasehat atau advis hukum yang benar dan sesuai dengan ketantuan hukum yang berlaku agar kepentingan klien tidak merasa dirugikan di kemudian hari.

Kewjiban menbuat akta dalam bentuk minuta akta dan menyimpannya sebagai bagian dari protokol notaris dalam ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf b UUJN dimaksudkan untuk menjaga keotentikan suatu akta dengan menyimpan akta dalam bentuk aslinya, sehingga apabila ada pemalsuan atau penyalahgunaan grosse, salinan, atau kutipannya dapat segera diketahui dengan mudah mencocokkannya dengan aslinya. Kewajiban dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b UUJN tidak berlaku, dalam hal notaris mengeluarkan akta dalam bentuk originali seperti pembayaran uang sewa, bunga, pensiun, penawaran pembayaran tunai, protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga, akta kuasa, keterangan kepemilikan, atau akta lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan (Pasal 16 ayat (3) UUJN).

Alasan penolakan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dinyatankan dalam ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf d UUJN adalah alasan yang mengakibatkan notaris tidak berpihak, seperti adanya hubungan darah atau semenda dengan notaris atau dengan suami/istri, salah satu pihak tidak mempunyai kemampuan bertindak untuk melakukan perbuatan, atau hal lain yang tidak dibolehkan undang-undang.

(39)

Penjelasan Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN menyatakan bahwa kewajiban untuk merhasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan akta dan surat-surat lainnya adalah untuk melindungi kepentingan semua pihak yang terkait dengan akta tersebut. Kewajiban notaris untuk menjilid akta-akta sebagaimana diatur dalam Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN disebabkan akta dan surat yang dibuat notaris sebagai dokumen resmibersifat otentik memerlukan pengamanan baik terhadap akta itu sendiri maupun terhadap isinya untuk mencegah penyalahgunaan secara tidak bertanggungjawab. Berkaitan dengan daftar wasiat, kewajiban tersebut penting untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap kepentingan ahli waris, yang setiap saat dapat dilakukan penelusuran atau pelacakan akan kebenaran dari suatu akta wasiat yang telah dibuat di hadapan notaris.

Ketentuan Pasal 16 UUNJN di atas, bila d telaah lebih jauh dapat diketahui pula bahwa dalam menjalankan kewajiban profesinya notaris mepunyai kewajiban dan tanggung jawab secara hukum diatur oleh undang-undang. Selain itu, profesi notaris merupakan suatu pekerjaan dengan pengetahuan luas untuk melayani kepentingan umum dan untuk menjaga tegaknya hukum, sehingga dapat menciptakan ketertiban, keamanan dan kepastian hukum di tengah masyarakat.

4. Larangan Bagi Notaris Dalam Menjalankan Jabatannya

Larangan notaris merupakan suatu tindakan yang dilarang dilakukan oleh notaris, jika larangan ini dilanggar oleh notaris, maka kepada notaris yang melanggar akan dikenakan sanksi sebagaimana tersebut dalam Pasal 85 UUJN.24

24 Habib adjie, Op.Cit. Hlm. 90 (buku 2)

(40)

Larangan bagi notaris dalam menjalankan jabatannya tertuang di dalam Pasal 17 Undang-Undang nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, yaitu:

i. Menjalankan jabatan di luar wilayah jabatannya;

ii. Meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang sah;

iii. Merangkap sebagai pegawai negeri;

iv. Merangkap jabatan sebagai pejabat Negara;

v. Merangkap jabatan sebagai advokat;

vi. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah atau badan usaha swasta;

vii. Merangkap jabatan sebagai pejabat pembuat akta tanah di luar wilayah jabatan notaris;

viii. Menjadi notaris pengganti;

ix. Melakukan pekerjaan lain yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan martabat jabatan notaris.

Dalam hal ini ada satu larangan yang perlu ditegaskan mengenai substansi Pasal 17 huruf b, yaitu meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturut-turuttanpa alasan yang sah. Bahwa notarismempunyai wilayah jabatan 1 (satu) provinsi (Pasal 18 ayat (2) UUJN) dan mempunyai tempat kedudukan pada 1 (satu) kota atau kabupaten pada provinsi tersebut(Pasal 18 ayat (1) UUJN). Dalam hal ini yang dilarang menurut ketentuan Pasal 17 huruf b UUJN yaitu meninggalkan wilayah jabatannya (provinsi) lebih dari 7 (tujuh)hari kerja. Seharusnya yang dilarang yaitu meninggalkan tempat kedudukan notaris

(41)

lebih dari 7 (tujuh) hari kerja, hal ini harus dikaitkan dengan ketentuan pasal 19 ayat (2) UUJN yang menegaskan notaris tidak berwenang secarateratur menjalankan jabatan di luar tempat kedudukannya. Dan ketentuan Pasal 19 ayat (2) UUJN jika dilanggar oleh notaris, tidak ada sanksi apapun untuk notaris yang melanggarnya menurut UUJN. Jika hal ini terjadi maka sanksi untuk notaris dapat didasarkan kepada ketentuan Pasal 1868 dan 1869 KUHPerdata, yaitu dinilai tidak berwenangnya notaris yang bersangkutan dengan tempat dimana akta dibuat, maka akta yang dibuat tidak diperlakukan sebagai akta otentik, tapi mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, jika ditandatangani oleh para pihak.25

5. Peranan Notaris Dalam Transaksi Elektronik

Urgensi fungsi dan peran notaris secara elektronik telah mengemuka pada International Congress XXIV dari Latin Notaris tahun 2004 yang sempat dibahas dalam Working Group untuk Theme II (The Notary and Electronic ContractsI), pada pokoknya menyadari untuk membuka diri dengan mengakomodasi semua perkembangan tersebut dengan baik, dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana mestinya. Konferensi ini telah menyadari adanya kemungkinan pembuatan akta autentik secara elektronik.26

Perkembangannya beberapa negara telah menerapkan electronic notary ataupun cyber notary dalam sistem hukum nasionalnya, terutama dalam konteks kebutuhan akan jaminan keautentikan suatu informasi elektronik khususnya dalam dukungan penyelenggaraan tanda tangan digital. Amerika Serikat dan prancis

25 Ibid. Hlm. 91

26 Edmon Makarim, Notaris dan Transaksi Elektronik Kajian Hukum Tentang Cyber Notary Atau Electronic Notary, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, Hlm. 3

(42)

adalah dua negara yang mepresentasikan dua tradisi hukum yang berbeda, namun keduanya telah menyelenggarakan cyber notary pada sistem hukum nasionalnya.

Sementara beberapa negara lainnya baru mulai mengarah untuk menjalankan sistem yang hampin serupa27

Penggunaan dan pembuatan akta notaris secara elektronik tidak terlepas dari sistem hukum yang dianut oleh suatu negara. Diantara berbagai sistem hukum yang ada di dunia secara garis besar terbagi dalam dua sistem hukum, yaitu sistem hukum Anglo Saxon atau juga disebut Common Law System. Sistem hukum Anglo Saxon adalah sistem hukum dimana yang diutamakan adalah hukum tidak tertulis yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan digunakan oleh hakim dalam menyelesaikan perkara-perkara yang ditujukan kepadanya, yang pada umumnya menggunakan sistem juri pada peradilannya dan pembuktian diutamakan pada adanya saksi dan bukti tertulis hanya merupakan penunjang dari keterangan saksi, sedangkan dalam sistem hukum Eropa Kontinental adalah sistem hukum dimana hukum dibuat dalam bentuk tertulis dan terkodifikasi yang dalam hal pembuktian diutamakan pada bukti tertulis.

.

28

Dalam praktek kenotariatan di dunia juga yang secara garis besar terbagi menjadi dua aliran, yakni Notaris Latin dan Notaris Anglo Saxon. Notaris Latin diadopsi oleh negara yang menganut Sistem Hukum Sipil (Civil Law System), sedangkan Notaris Anglo Saxon diadopsi oleh negara yang menganut sistem hukum kasus (Common Lawa System). Kelompok negara yang menganut Civil Law System adalah negara-negara Eropa seperti Belanda, Prancis, Luxenburg, Jerman, Austria, Swiss, Skandinavia, Italia, Yunani, Spanyol dan juga negara-

27 Ibid. Hlm. 5

28 Wasis S.P., Pengantar Ilmu Hukum, (UMM Press, Malang 2002), Hlm. 29

(43)

negara bekas jajahan mereka. Untuk kelompok negara yang menganutCommon Law System adalah Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Austria, dan Afrika Selatan.29 Sedangkan negara yang menganut sistem hukum notaris latin diantaranya negara-negara benua eropa ( Italia, Prancis, Spanyol, Belanda, Belgia, Portugal) kecuali negara Scandinavia, Neagar Asia, Afrika, Amerika Latin, Quebec dan Negara Bagian Louisina di amerika Serikat.30

Kekuatan alat bukti tertulis berupa akta autentik mempunyai tempat yang tertinggi, terkuat dan terpenuh atau alat bukti sempurna dalam sistem hukum Eropa Kontinental, hal tersebut menyebabkan kedudukan notaris dalam sistem hukum eropa Kontinental ini sangat penting mengingat tugas dan kewenangannya dalam membuat akta autentik. Oleh karena itu penetapan akta notaris secara elektronik pada sitem common law tidak akan berpengaruh pada kekuatan akta.

Kewenangan notaris di negara-negara penganut Sistem Anglo Saxon merupakan pendaftaran surat-surat saja, yang bagi notaris di Indonesia yang menganut sistem hukum Eropa Kontinental merupakan waarmeking (pendaftaran surat di bawah tangan), notaris pada sistem hukum Anglo Saxon tidak berperan dalam pembuatan dan menentukan isi surat/akta. Selain itu, untuk menjadi seorang notaris di negara-negara penganut Anglo Saxon rata-rata tidak menjalankan pendidikan sebagai ahli hukum (yurist) dan menjabat dalam jangka waktu tertentu terlebih dahulu. Akta yang merupakan produk notaris latin mempunyai kekuatan bukti formil, materil dan untuk perbuatan hukum tertentu juga mempunyai kekuatan eksekutorial.

29 G.H.S. Lumban Tobing, op.Cit, Hlm. 15

30 Herlien Budiono, Akta Otentik dan Notaris Pada Sistem Anglo Saxon dan Sistem Hukum Romawi, Percikan Gagasan Tentang Hukum Ke-III, Mandar Maju, Bandung, 1998, Hlm. 104 (Buku 2)

(44)

Sebaliknya notaris di Indonesia yang menggunakan sistem civil law memandang bahwa akta yang di buat oleh dan dihadapan notaris adalah akta yang autentik.31

Indonesia menganut mazhab notaris Latin, notaris di Indonesia memberikan nasihat hukum (legal advice) kepada para pihak dan bertanggung jawab terhadap isi perjanjian akta. Tidak seperti notaris di Amerika Serikat yang hanya bertanggung jawab terhadap akurasi dan legalitas isi perjanjian akta. Oleh karenanya, akta yang dihasilkan notaris latin sangat diperhitungkan oleh pengadilan karena merupakan bukti autentik, sebaliknya akta yang dihasilkan notaris Anglo Saxon tidak diperhitungkan sebagai alat bukti pleh Pengadilan.

\

32

Mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi saat ini, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang diundangkan sejak 21 April 2008 lalu dan merupakann landasan hukum awal bagi notaris dalam mewujudkan konsep cyber notary di Indonesia.

Kekuatan akta autentik sebagai alat bukti sempurna yang terkuat dan terpenuh tidak terlepas dari pengaruh sistem hukum yang dianut di Indonesia, Indonesia sebagai negara bekas jajahan Belanda menganut sistem hukum sebagaimana yang diwariskan oleh Belanda yaitu sistem hukum Eropa Kontinental.

33

Tidak dapat ditampik, bahwa dalam kehidupan dan transaksi sehari-hari, notaris telah diakui dan dihargai sebagai pihak ketiga yang layak dipercaya oleh masyarakat. Notaris adalah pejabat atau professional hukum yang disumpah untuk

31 Emma Nurita, Op.Cit., Hlm. 36

32Anonim, Notaris Mewakili Negara, diakses melalui website:

http://taligara.wordpress.com, Diakses 31 Mei 2018. Pukul 05.17 WIB.

33 Edmon Makarim, Op.Cit.,Hlm. 6

(45)

bertindak sesuai hukum yang semestinya sehingga dapat dikatakan notaris sangat diperlukan untuk kepastian legalitas perbuatan maupun untuk mencegah adanya perbuatan melawan hukum.34

B. TINJAUAN UMUM TENTANG AKTA

Fungsi notaris di masyarakat di dasari adanya suatu keperluan dan keinginan dari masyarakat itu sendiri, sehingga notaris tidak mungkin melakukan suatu pekerjaan atau membuat akta tanpa ada permintaan dari para penghadap. Mengingat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini berkembang di masyarakat, maka notaris harus siap menyambut era elektronik, di mana konsep cyber notary merupakan jawaban dari tantangan perkembangan teknologi informasi yang saat ini terjadi secara global.

1. Pengertian Akta

Akta dalam bahasa Belanda disebut acta atau akta, dalam bahasa Inggris disebut act atau deed. Secara etimologis, menurut S.J. Fachema Andreas, kata akta berasal dari bahasa Latin yaitu acta berarti geschrift atau surat. Menurut R.

Subekti dan R. Tjitrosudibio, kata akta berasal dari kata acta yang merupakan bentuk jamak dari kata actum, yang berasal dari bahasa Latin, yang berarti perbuatan-perbuatan. A. Plito yang dikutipoleh Suharjono mengemukakan bahwa akta adalah suatu surat yang ditandatangani, diperbuat untuk dipakai sebagai bukti, dan untuk digunakan oleh orang lain, untuk keperluan siapa suratitu dibuat.

Menurut Sudikno Mertokusumo, akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar daripada suatu hak dan perikatan, yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian. Pengertian akta

34 Ibid, Hlm. 7

(46)

disebutkan dalam Pasal 165 Het Herziene Indonesisch Regelement (HIR) Staatsblad Tahun 1941 Nomor 84, yaitu surat yang diperbuat demikian oleh atau di hadapan pegawai yang berwenang untuk membuatnya menjadi bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya maupun berkaitan dengan pihak lainnya sebagai hubungan hukum, tentang segala hal yang disebut dalam surat itu sebagai pemberitahuan hubungan langsung dengan perihal pada akta itu.35

1. tulisan itu hatus ditandatangani ;

Penegrtian akta menurut M.U. Sembiring, akta adalah tulisan yang ditandatangani dan dipersiapkan/dibuat untuk dipergunakan sebagai alat bukti bagi kepentingan orang untuk siapa akta itu diperbuat. Ada dua unsur yang harus dipenuhi agar suatu tulisan memperoleh kualifikasi sebagai akta yakni:

2. dan tulisan itu diperbuat dengan tujuan untuk dipergunakan menjadi alat bukti.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temukan tulisan yang dibubuh i tanda tangan namun tidak dapat kita namakan akta karena tulisan itu meskipun ditandatangani namun diperbuat bukan untuk menjadi alat bukti. 36

Surat seorang anak yang dikirimkannya dari kota tempatnya sekolah kealamat orangtuanya di kampung halamannya yang jauh meskipun ditandatangani olehnya, bukanlah akta karena tidak dikandungnya maksud untuk mempergunakan akta tersebut sebagai alat bukti, melainkan hanya memuat berita tentang kemajuan sekolahnya saja.37

35 Urip Santoso, Pejabat Pembuat Akta Tanah Perspektif Regulasi, Wewenang dan Sifat Akta, Prenadamedia Group, Surabaya, 2016, Hlm. 126.

36 M.U.Sembiring, Tehnik Pembuatan Akta, Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum USU, 1997, Medan, Hlm. 3.

37 Ibid. Hlm. 4.

(47)

Pengertian akta menurut Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 yang dimaksud dengan akta notaris yang selanjutnya disebut akta adalah akta autentik dibuat oleh atau di hadapan notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam undang-undang ini.

Akta adalah suratyang bertanda tangan yang dibuat oleh seseorang atau pejabat yang berwenang yang berfungsi sebagai bukti adanya suatu perbuatan hukum atau peristiwa hukum.

2. Jenis - Jenis Akta

Ditinjau dari cara pembuatannya akta dapat dibedakan dalam dua jenis yakni akta otentik dan akta dibawah tangan.

a. Akta Otentik

Akta otentik diatur dalam Pasal 1868 KUH.Perdata yang berbunyi:

“Akta otentik adalah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya.”

Dari perumusan pasal tersebut dapat diketahui bahwa ada dua jenis akta otentik yaitu:

i . Akta yang diperbuat oleh notaris

Akta jenis ini biasanya diberi nama “akta relaas” atau “akta pejabat” atau

“akta proses perbal” atau “akta berita acara”. Yang termasuk jenis akta ini antara lain akta berita acara rapat para pemegang saham perseroan terbatas, akta berita acara rapat direksi perseroan terbatas, akta

Referensi

Dokumen terkait

Istilah ganti kerugian memang ada digunakan oleh KUHAP dalam Pasal 99 ayat (1) dan (2) dengan penekanan pada penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak

5) Permohonan diproses setelah data permohonan dan biaya pendaftaran permohonan terkonfirmasi oleh sistem elektronik. Berdasarkan Pasal 12 PMATR/KBPN No. 5 Tahun

Adapun yang dimaksud talak menurut Pasal 117 Kompilasi Hukum Islam, adalah ikrar suami dihadapan pengadilan agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. Sedangkan

Salah satu hal yang diperjanjikan dalam perjanjian bantuan hukum tanggal 26 Pebruari 2016 adalah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) bahwa pihak

Berdasarkan pasal 16 ayat (1) butir (a) UUJN, dalam menjalankan jabatannya notaris berkewajiban bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak

Dalam hal laporan pertanggungjawaban tersebut ditolak atau tidak diterima oleh RUPS, maka berdasarkan Pasal 97 ayat (6) UU Perseroan Terbatas, direksi tersebut

Berdasarkan sengketa dihubungkan dengan pertimbangan hakim dan amar putusan dalam Putusan Pengadilan yang memutuskan yang telah diuraikan di atas, dapat dinyatakan bahwa

37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberikan wewenang kepada kreditur untuk memohonkan PKPU berdasarkan Pasal 222 ayat (1)