• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2020"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 13/PUU-XV/2017 TERHADAP PERKAWINAN

ANTARA SESAMA PEKERJA DALAM SUATU PERUSAHAAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh :

HABIBAH INDAH REHULINA SEBAYANG 160200374

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)

ABSTRAK

Habibah Indah Rehulina Sebayang * Rosnidar Sembiring **

Zulfi Chairi ***

Perusahaan ada yang membuat aturan yang mengharuskan pekerjanya mengundurkan diri atau bahkan bersedia di-PHK apabila ia memutuskan menikah dengan pekerja lain di perusahaan tersebut. Alasannya, antara lain, mencegah konflik pribadi, subyektivitas, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa faktor penyebab ketentuan tentang larangan perkawinan sesama buruh atau pekerja pada satu perusahaan, bagaimanakah analisis pertimbangan hukum hakim dalam putusan Nomor 13/PUU-XV/2017, bagaimana dampak adanya putusan Mahkamah Konstitusi terhadap pencantuman klausul larangan perkawinan antar pekerja.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis normatif yakni penelitian yang dilakukan dengan cara mengacu pada norma- norma hukum yaitu meneliti terhadap bahan pustaka atau bahan sekunder.

Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yaitu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan serta menganalisa peraturan perundang-undangan.

Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang melatar belakangi ketentuan tentang larangan perkawinan sesama buruh atau pekerja pada satu perusahaan adalah untuk menjaga sikap profesional dari pekerja dalam dunia persaingan bisnis. Sebab lainnya adalah mengacu kepada Pasal 153 ayat (1) huruf f Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 yaitu yang berbunyi “pengusaha dilarang melakukan PHK karena pekerja/buruh mempunyai pertalian darah atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lain dalam suatu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja,peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama”

hal ini merupakan sebuah ketentuan aturan hukum yang dapat memberikan celah hukum bagi pengusaha. Pertimbangan hukum hakim dalam putusan Nomor 13/PUU-XV/2017 adalah jelas bahwa Pasal 153 ayat (1) huruf f Undang Undang Ketenagakerjaan tidak berlaku lagi, karena bertentangan dengan UUD Tahun 1945. Dampak adanya putusan Mahkamah Konstitusi terhadap pencantuman klausul larangan perkawinan adalah pengusaha tidak dapat mencantumkan alasan adanya PHK terhadap pekerja yang memiliki ikatan perkawinan dengan pekerja lain pada satu kantor yang sama dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan maupun perjanjian kerja bersama, sehingga apabila pengusaha mencantumkan hal tersebut maka dianggap melanggar putusan Mahkamah Konstitusi.

Kata Kunci: Implementasi, Perkawinan, Pekerja, Perusahaan

*Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

** Dosen Pembimbing I, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

*** Dosen Pembimbing II, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat Islam dan nikmat kesempatan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah

“Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 Terhadap Perkawinan Antara Sesama Pekerja Dalam Suatu Perusahaan”.

Untuk penulisan skripsi ini penulis berupaya agar hasil dari penulisan skripsi ini bisa lebih baik seperti yang diharapkan, meskipun demikian penulisan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, karena manusia tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, semua saran dan kritik akan penulis terima dari siapa saja dalam rangka penyempurnaan penulisan skripsi ini.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. O.K. Saidin, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara..

3. Ibu Puspa Melati, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Prof. Dr. Rosnidar Sembiring, SH., M. Hum selaku Ketua Departemen Hukum

Keperdataan sekaligus sebagai Pembimbing I yang telah berkenan

memberikan solusi, dan arahan pada setiap permasalahan di skripsi ini.

(5)

6. Ibu Zulfi Chairi, SH., M. Hum selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan,arahan dan menuntun saya dalam penulisan skripsi ini.

7. Ibu Dr. Afnila, S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing Akademisi yang telah bersedia meluangan waktu dan memberikan masukan terhadap penulisan skripsi ini.

8. Kedua Orang Tua, ayah tersayang M.Tenang Sebayang dan mama tercinta Hanisyah, kedua adik Nikmah dan Imam beserta keluarga besar saya yang selalu memberikan doa, dorongan semangat, serta motivasi setiap harinya dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Teman-teman Klinis yang telah bekerjasama dalam setiap perjuangan selama Klinis khususnya Eza, Devy, Treva, Maya, Gloria, Annisa, Yayang, Amel,Siti dan juga teman seangkatan 2016 grup F terimakasih atas dukungan dan doanya dalam penyelesaian skripsi ini.

10. Serta seluruh Bapak/Ibu dosen di departemen Hukum Keperdataan yang telah banyak membantu berupa pikiran dan waktunya untuk memberikan pengarahan dan bimbingan kepada saya sehingga memudahkan saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak.

Semoga ilmu yang penulis telah peroleh selama ini dapat bermakna dan berkah bagi penulis dalam hal penulis ingin menggapai cita-cita.

Medan, 20 Mei 2020 Penulis

Habibah Indah Rehulina Sebayang

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I : PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan ... 5

D. Tinjauan Kepustakaan ... 6

E. Metode Penelitian... 14

F. Keaslian Penulisan ... 18

G. Sistematika Penulisan... 20

BAB II : FAKTOR PENYEBAB KETENTUAN TENTANG LARANGAN PERKAWINAN SESAMA BURUH ATAU PEKERJA PADA SATU PERUSAHAAN ... 22

A. Tinjauan Yuridis Tentang Perkawinan ... 22

B. Pembatasan Hak Untuk Menikah Antara Pekerja dalam Satu Perusahaan ... 30

C. Faktor Penyebab Ketentuan Larangan Perkawinan Sesama Buruh Atau Pekerja Pada Satu Perusahaan... 36

BAB III : ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR 13/PUU-XV/2017 ... 45

A. Kronologi Kasus Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 ... 45

1. Disposisi kasus Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

13/PUU-XV/2017 ... 45

(7)

2. Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Konstitusi ... 49

3. Putusan Mahkamah Konstitusi... 57

B. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 ... 57

BAB IV : DAMPAK ADANYA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PENCANTUMAN LARANGAN PERKAWINAN ANTAR PEKERJA... 65

A. Klausul yang Melarang Perkawinan Sesama Pekerja dalam Satu Perusahaan ... 65

B. Alasan Mahkamah Konstutisi Membolehkan Perkawinan Sesama Pekerja dalam Satu Perusahaan ... 70

C. Dampak adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Terhadap Pencantuman Klausul Larang Perkawinan Antar Pekerja ... 76

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 82

A. Kesimpulan ... 82

B. Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(8)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perkawinan merupakan suatu cara untuk menyalurkan kebutuhan biologis antara laki-laki dan wanita dan menghubungkannya sebagai suami isteri. Hal tersebut merupakan suatu ikatan yang paling kuat dalam hubungan pergaulan manusia.

1

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan) bahwa yang dimaksud dengan perkawinan ialah “ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa“.

2

Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam realita kehidupan manusia. Dengan adanya perkawinan rumah tangga dapat ditegakkan dan dibina sesuai dengan norma agama dan tata kehidupan dalam masyarakat. Dalam rumah tangga berkumpul dua insan yang berlainan jenis (suami isteri), mereka saling berhubungan agar mendapat keturunan sebagai penerus generasi. “Kuat lemahnya perkawinan sangat tergantung pada kehendak dan niat suami isteri yang melaksanakan perkawinan tersebut, oleh karena itu dalam suatu perkawinan diperlukan adanya cinta lahir batin antara pasangan suami isteri”.

3

Terkait perkawinan, saat ini beberapa perusahaan baik perusahaan pemerintah, maupun swasta, menetapkan suatu klausul yang membatasi hak untuk

1 Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Bulan Bintang, Jakarta, 2013, hlm. 8.

2 Soemiyati. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. Liberti, Yogyakarta, 2012, hlm. 43

3 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Materil dalam Praktek Peradilan Agama, Pustaka Bangsa, Jakarta, 2003, hlm.1

(9)

melangsungkan perkawinan antara sesama pekerja yang bekerja dalam perusahaan tersebut. Salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pembatasan tersebut adalah Pasal 153 ayat (1) huruf f Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan . Pasal tersebut mengizinkan Pemutusan Hubungan Kerja dengan alasan adanya ikatan perkawinan antara sesama pekerja, sepanjang itu telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

4

Pengaturan tersebut artinya apabila antara pekerja melangsungkan pekawinan, maka salah satu dari mereka harus mundur dari perusahaan atau bahkan mendapat PHK berdasarkan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. “Hal ini tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai larangan kawin, namun perusahaan dalam hal ini secara halus menghimbau pekerjanya untuk tidak bekerja satu atap dengan pasangan suami/istrinya”.

5

Sebelum lahirnya Putusan MK No. 13/PUU-XV/2017 terdapat larangan perkawinan antar karyawan pada Bank BNI. Larangan perkawinan ini dituangkan dalam Pedoman Kebijaksanaan, Organisasi dan Prosedur Tahun 2002 Bab IV dan pada Perjanjian Kerja Bersama Bank BNI tahun 2011. Dalam kebijakan tersebut diatur tentang larangan perkawinan sesama karyawan Bank BNI. Berdasarkan kebijakan tersebut apabila ada karyawan yang melanggarnya maka salah satu konsekuensinya yaitu salah seorang dari karyawan yang terlibat pernikahan harus mengundurkan diri dari Bank BNI.

6

4 Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, L.N.R.I. Tahun 2003 No. 39, Pasal 153 huruf f .

5 Wurianalya Maria Novenanty, “Pembatasan Hak Untuk Menikah Antara Pekerja Dalam Satu Perusahaan,” http://journal.unpar.ac.id, diakses Sabtu 04 Januari 2020 Pukul 21.00 Wib.

6 Minarni, “Menikah dengan Rekan Satu Kantor Diperbolehkan, Begini Kisah Galau Seorang Mantan Pegawai BUMN”, https://jogja.tribunnews.com, diakses Sabtu 04 Januari 2020 Pukul 21.00 Wib.

(10)

Larangan perkawinan antar karyawan pada Bank BNI, terdapat juga pada PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero). Salah satu kasus yang terjadi pada pasangan suami-istri yang bekerja pada perusahaan yang sama adalah pasangan yang bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero). PLU, (25 tahun), pegawai PT PLN Pembangkit Sumatera Bagian Selatan Sektor Pembangkit Ombilin yang menikah dengan sesama pegawai PT. PLN.

7

Mahkamah Konstitusi dalam rangka menegakkan konstitusi adanya larangan perkawinan dalam satu perusahaan, telah melaksanakan pengujian konstitusional dalam Putusan MK No. 13/PUU-XV/2017 terhadap Pasal 153 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan yang mengabulkan pembatalan frasa, “kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama” karena bertentangan dengan Pasal 28 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi

“Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja” dan Pasal 28 B ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan “setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.” Putusan ini dianggap sebagai pelaksanaan fungsi Mahkamah Konstitusi sebagai penjamin hak-hak konstitusional warga negara”.

8

Kenyataannya dalam praktek, tidak seluruh elemen masyarakat dapat menerima putusan tersebut, khususnya dari kalangan Pengusaha. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengkritik langkah Mahkamah Konstitusi,

7Eri Komar Sinaga, “Serikat Pegawai PLN Perjuangkan Nasib Korban Pernikahan Satu Perusahaan”, http://www.tribunnews.com, diakses Sabtu 04 Januari 2020 Pukul 21.00 Wib

8 Muhammad Reza Winata dan Intan Permata Putri, “Penegakan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 Mengenai Hak Mendapatkan Pekerjaan dan Hak Membentuk Keluarga”, Jurnal Konstitusi, Volume 15, Nomor 4, Desember 2018, https://media.neliti.com/media/publications.pdf, diakses Sabtu 04 Januari 2020 Pukul 21.00 Wib.

(11)

“menurut Apindo permasalahan ini lebih pada tata kelola perusahaan (corporate governance), serta menghindari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)”.

9

Apindo menyatakan bahwa hal ini bukan soal diskriminasi karena suami istri satu kantor bisa rawan konflik kepentingan, sehingga banyak reaksi perusahaan yang negatif dengan putusan ini karena mengkhawatirkan juga suami istri tersebut akan menolak untuk dipindahkan dengan alasan putusan Mahkamah Konstitusi.

10

Adanya respon ini, menunjukan sangat potensial terjadi permasalahan dalam penegakan Putusan No. 13/PUU-XV/2017. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penting untuk dilakukan penelitian dengan judul “Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU- XV/2017 Terhadap Perkawinan Antara Sesama Pekerja Dalam Suatu Perusahaan”.

B. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apa faktor penyebab ketentuan tentang larangan perkawinan sesama buruh atau pekerja pada satu perusahaan ?

2. Bagaimanakah analisis pertimbangan hukum hakim dalam putusan Nomor 13/PUU-XV/2017?

3. Bagaimana dampak adanya putusan Mahkamah Konstitusi terhadap pencantuman larangan perkawinan antar pekerja ?

9 Merdeka.com, “Fakta di Balik Aturan Larangan Pegawai Satu Kantor Menikah”, https://www.merdeka.com, diakses Sabtu 04 Januari 2020 Pukul 21.00 Wib

10 Okezone Finance, “Sikapi Langkah MK, Apindo: Kalau Suami Istri Satu Kantor Rawan Konflik Kepentingan”, https://economy.okezone.com, diakses Sabtu 04 Januari 2020 Pukul 21.00 Wib.

(12)

C. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui faktor penyebab ketentuan tentang larangan perkawinan sesama buruh atau pekerja pada satu perusahaan.

2. Untuk memahami analisis pertimbangan hukum hakim dalam putusan Nomor 13/PUU-XV/2017.

3. Untuk mengetahui dampak adanya putusan Mahkamah Konstitusi terhadap pencantuman larangan perkawinan antar pekerja.

Penulisan ini diharapkan bermanfaat : 1. Manfaat teoretis

a. Memberikan sumbangan pemikiran dalam perkembangan ilmu hukum yang berkaitan dengan masalah pembatalan hak untuk melakukan perkawinan antara sesama pekerja dalam satu perusahaan serta dapat menambah bahan-bahan kepustakaan.

b. Menambah pustaka dibidang ilmu hukum khususnya tentang pembatalan hak untuk melakukan perkawinan antara sesama pekerja dalam satu perusahaan.

2. Manfaat praktis

a. Bagi penulis memberikan wawasan dalam rangka meningkatkan disiplin ilmu yang akan dikembangkan dan diperdalam lebih lanjut melalui studi- studi lain yang serupa dengan disiplin ilmu tersebut.

b. Bagi masyarakat hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

sumbangan pemikiran, memberikan penetahuan kepada masyarakat dan

memberikan informasi khususnya bagi mereka yang melakukan

perkawinan antara sesama pekerja dalam satu perusahaan.

(13)

c. Bagi pemerintah adalah untuk mensosialisasikan tentang perkawinan antara sesama pekerja dalam satu perusahaan.

D. Tinjauan Kepustakaan 1. Perkawinan

Perkawinan dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata kawin, yang kemudian diberi imbuhan awalan “per” dan akhiran “an”. Istilah yang sama dengan kata kawin ialah nikah, apabila diberi imbuhan awalan “per” dan akhiran

“an” menjadi pernikahan. Perkawinan atau pernikahan diartikan sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan bersuami isteri.

11

Dari sudut ilmu bahasa perkataan perkawinan berasal dari kata “kawin” yang merupakan terjemahan dari bahasa Arab, yaitu “nikah”.

12

Menurut Pasal 1 UU Perkawinan disebutkan bahwa : “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Berdasarkan rumusan Pasal 1 UU Perkawinan di atas jelaslah bahwa perkawinan itu tidak hanya merupakan ikatan lahir saja atau ikatan batin saja, akan tetapi ikatan kedua-duanya. Dengan demikian jelaslah bahwa pengertian perkawinan seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1, jika diperinci maka terdapatlah unsur di dalamnya yaitu : a. Adanya seorang pria dan wanita.

b. Ikatan lahir dan batin.

11WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2004, hlm. 453.

12 Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis Dari UU No. 1 Tahun1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2006, hlm. 12.

(14)

c. Adanya tujuan tertentu yaitu membentuk keluarga bahagia dan kekal.

d. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

13

Berdasarkan rumusan perkawinan menurut UU Perkawinan tercantum tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Ini berarti bahwa perkawinan dilangsungkan bukan untuk sementara atau untuk jangka waktu tertentu yang direncanakan tetapi untuk seumur hidup atau selama-lamanya, dan tidak boleh diputuskan begitu saja.

Selanjutnya dalam rumusan perkawinan itu dinyatakan dengan tegas bahwa perkawinan adalah pembentukan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berarti bahwa perkawinan harus didasarkan pada agama dan kepercayaan. Dalam agama Islam, perintah religius merupakan sunnah Rasulullah. Keberadaan unsur Ketuhanan dalam sebuah perkawinan bukan saja peristiwa itu merupakan perjanjian yang suci melainkan sifat pertanggungjawaban hukumnya jauh lebih penting yaitu pertanggungjawaban kepada tuhan sang pencipta (Allah SWT). Dengan adanya unsur Ketuhanan, maka hilanglah pandangan yang mengatakan bahwa perkawinan adalah urusan manusia semata-mata.

14

Menurut Kompilasi Hukum Islam bahwa pengertian perkawinan seperti yang terdapat pada Pasal 2 dinyatakan bahwa : “Pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaqan ghalidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.

13 Tan Kamello & Syarifah Lisa Andriati, Hukum Perdata: Hukum Orang Dan Keluarga (Edisi 3), USU Press, Medan, 2018, hlm. 42.

14 Ibid, hlm. 45-46

(15)

Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam menjelaskan, bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Artinya tujuan perkawinan itu adalah :

a. Untuk hidup dalam pergaulan yang sempurna.

b. Satu jalan yang amat mulia untuk mengatur rumah tangga dan turunan.

15

Sebagai satu tali yang amat teguh, guna memperoleh tali persaudaraan antara kaum kerabat laki-laki (suami) dengan kaum kerabat perempuan (isteri), yang mana pertalian itu akan menjadi satu jalan yang membawa kepada bertolong tolongan antara satu kaum (golongan) dengan yang lain.

2. Pekerja

Menurut Chairuddin K Nasution dan Fauzi Chairul F. menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pekerja adalah “orang yang melakukan suatu pekerjaan untuk kepentingan pihak/orang lain atau perusahaan dalam suatu hubungan kerja dengan menerima upah dan atau jaminan hidup lainnya yang wajar”.

16

Menurut G. Kartasapoetra bahwa pekerja adalah : Para pekerja yang bekerja pada perusahaan, dimana para pekerja itu harus tunduk kepada perintah dan peraturan kerja yang diadakan oleh pengusaha (majikan) yang bertanggung jawab atas lingkungan perusahaannya, untuk mana pekerja itu akan memperoleh upah dan atau jaminan hidup lainnya yang wajar.

17

15 Achmad Kuzari.,Pembahasan Tentang Kompilasi Hukum Islam, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2000, hlm. 18.

16 Chairuddin K Nasution dan Fauzi Chairul F, Hukum Perburuhan (Suatu Pengantar), FH. UISU, Medan, 2013, hlm.2.

17 G. Kartasapoetra, Hukum Perburuhan Bidang Pelaksanaan Kerja, Bina Aksara, Jakarta, 2015, hlm.17

(16)

Menurut A. Ridwan Halim, bahwa pekerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan didalam atau diluar hubungan kerja guna menghasilkan barang-barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pengertian ini sangat luas karena juga meliputi pegawai negeri yang bekerja pada instansi pemerintah yang dilindungi oleh undang-undang kepegawaian. Juga pekerja yang dilindungi oleh Hukum Perpekerjaan serta pekerja yang belum memperoleh peluang pekerjaan (pencari kerja).

18

Pasal 1 angka 2 UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja adalah

“setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”.

Pendapat A. Ridwan Halim bahwa: “hubungan kerja adalah hubungan antara pekerja dan pengusaha yang terjadi setelah diadakan perjanjian antara pekerja dengan pengusaha”.

19

“Pekerja menyatakan kesanggupannya untuk bekerja pada pengusaha dengan menerima upah dan di mana pengusaha menyatakan kesanggupannya untuk mempekerjakan pekerja dengan membayar upah”.

20

Perjanjian yang sedemikian itu disebut perjanjian kerja. Hubungan kerja sebagai bentuk hubungan hukum lahir atau tercipta setelah adanya perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha.

Hubungan antara pekerja dan pengusaha/perusahaan merupakan hubungan kerja. Hal ini dapat dilihat dari rumusan tentang pengertian hubungan kerja oleh Chairuddin K Nasution yang menyebutkan hubungan kerja adalah hubungan-hubungan yang terjalin antara para pekerja dengan perusahaan atau

18 A. Ridwan Halim, Hukum Perburuhan Aktual, Pradnya Paramitha, Jakarta, 2017, hlm.6.

19 Ibid, hlm. 7

20 G. Kartasapoetra,Op.Cit., hlm.20.

(17)

pengusaha dalam batas-batas sesuai perjanjian kerja dan peraturan kerja yang telah disetujui bersama oleh kedua belah pihak. Ini berarti pengusaha berhak menugaskan pekerjanya/buruhnya agar bekerja rajin tanpa melampaui batas-batas isi perjanjian kerja. Di pihak lain para pekerja (buruh) berhak menerima penghasilan/upah dan jaminan sosial lainnya tanpa melanggar/melewati batas- batas isi perjanjian kerja.

21

Hubungan kerja merupakan hubungan antara pekerja dengan pengusaha yang terjadi setelah adanya perjanjian kerja. Pasal 1 angka 15 UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa “Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah. Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja”.

Hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha/perusahaan merupakan suatu hubungan antara seorang pekerja dengan seorang pengusaha, perihal pekerjaan tertentu yang harus dijalankan oleh pekerja itu secara penuh dan tanggung jawab. Dengan hubungan kerja ditunjukkan kedudukan masing-masing pihak yang pada dasarnya menggambarkan hak-hak dan kewajiban pekerja terhadap pengusaha, serta hak-hak dan kewajiban pengusaha terhadap pekerja.

Seseorang yang bukan pekerja berhubungan dengan seseorang bukan pengusaha bukan merupakan hubungan kerja misalnya hubungan antara seorang pengacara dengan kliennya. “Hubungan kerja terjadi setelah adanya perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha atau perusahaan”.

22

21 Chairuddin K Nst dan Fauzi Chairul F., Op.Cit, hlm.4

22 Saiful Anwar, Sendi-Sendi Hubungan Pekerja Dengan Pengusaha, Fakultas Hukum UISU, Medan, 2007, hlm.14.

(18)

Prakteknya dalam masyarakat dikenal bermacam-macam hubungan tetapi tidak termasuk dalam hubungan kerja sebagaimana yang ditentukan oleh peraturan-peratuan perburuhan. Misalnya :

a. Hubungan seorang yang melakukan suatu atau beberapa pekerjaan tertentu dengan seorang pihak lainnya, seperti hubungan seorang pengacara dengan kliennya atau hubungan seorang dokter dengan pasiennya. Hubungan ini bukan merupakan hubungan kerja disebabkan tidak ada wewenang pada pihak yang memberi pekerjaan untuk memimpin dilakukannya pekerjaan itu oleh penerima kerja. Tidak ada wewenang, memberi petunjuk terutama mengenai menjalankan pekerjaan kepada pihak yang melakukan pekerjaan. Sedangkan wewenang seperti hal tersebut ada pada hubungan kerja.

b. Hubungan seorang yang memberi borongan pekerjaan dengan seorang yang memborong pekerjaan. Dalam hubungan ini tidak ada unsur-unsur memberi petunjuk-petunjuk borongan. Perjanjian memborongkan pekerjaan diatur dalam Pasal 1604-1617 titel 7A KUHPerdata.

23

Hubungan kerja meliputi :

a. Pembuatan perjanjian kerja, hal ini merupakan titik tolak adanya hubungan kerja.

b. Kewajiaban pekerja untuk melakukan pekerjaan pada atau dibawah pimpinan pengusaha, hal ini merupakan hak pengusaha atas pekerjaan pekerja.

23Halili Toha, Hubungan Kerja Antara Majikan dan Pekerja, Bina Aksara, Jakarta, 2011, hlm.11.

(19)

c. Kewajiban pengusaha membayar upah kepada pekerja, hal ini merupakan hak pekerja atas upah.

d. Berakhirnya hubungan kerja.

e. Jika timbul perselisihan antara pihak-pihak ada cara penyelesaian yang sebaik-baiknya.

24

Hubungan kerja antara pengusaha/perusahaan dengan pekerja, maka harus terbina hubungan yang didasarkan pada nilai-nilai. Hal ini didasarkan karena Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa dan negara Indonesia yang merupakan nilai-nilai yang hidup dan dianut oleh masyarakat bangsa Indonesia. Sejak bangsa Indonesia ada, segala kegiatan dilakukan atas dasar kemanusiaan dan keadilan dengan selalu menjunjung tinggi nama Tuhan Yang Maha Esa.

3. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman, disamping Mahkamah Agung dan badan-badan peradilan yang berada di bawahnya. Secara kelembagaan atau tata organisasi, keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu badan peradilan tidak berada di bawah Mahkamah Agung, sebagaimana badan-badan peradilan lainnya.

Menurut Hamdan Zoelva bahwa Mahkamah Konstitusi sebagai sebuah lembaga peradilan, Mahkamah Konstitusi (MK) memiliki peran strategis dalam mengawal dan menjamin terlaksananya prinsip-prinsip dan norma yang terkandung dalam konstitusi sebagai norma tertinggi penyelenggaraan hidup

24Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm.21.

(20)

bernegara (the supreme law of the land). Karena itu, Mahkamah Konstitusi disebut juga sebagai the guardian of the constitution.

25

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia memiliki 4 (empat) kewenangan dan satu kewajiban, adapun kewenangan tersebut yaitu Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

26

Mahkamah Konstitusi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia memiliki fungsi untuk mengawal konstitusi agar dilaksanakan dan dihormati baik penyelenggara kekuasaan negara maupun warga negara. Maruar Siahaan menyebutkan Mahkamah konstitusi dalam konteks ketatanegaraan dikonstruksiskan sebagai pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan konstitusional ditengah kehidupan masyarakat, Mahkamah Konstitusi bertugas mendorong dan menjamin agar konstitusi dihormati dan dilaksanakan oleh semua komponen negara secara konsisten dan bertanggung jawab.

27

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menyebutkan Mahkamah konstitusi adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan dalam rangka menjaga

25 Hamdan Zoelva, Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Constitutional Complaint dan Constitutional Question, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta, 2007, hlm. 4.

26Pasal 24C ayat (1) UUD 1945

27 Maruar Siahaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hlm. 8

(21)

konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita demokrasi.

Gagasan memberi wewenang pengujian UU kepada MA juga akhirnya tidak dapat diterima karena MA sendiri sudah terlalu banyak beban tugasnya dalam mengurusi perkara yang sudah menjadi kompetensinya. Itulah sebabnya wewenang pengujian UU terhadap UUD akhirnya diberikan kepada lembaga tersendiri, yaitu Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman.

Pembentukan MK RI dapat dipahami dari 2 (dua) sisi, yaitu dari sisi politik dan juga dari sisi hukum. Dari sisi politik ketatanegaraan, keberadaan MK diperlukan guna mengimbangi kekuasaan pembentukan undang-undang yang dimiliki oleh DPR dan Presiden. Hal itu diperlukan agar undang-undang tidak menjadi legitimasi bagi tirani mayoritas wakil rakyat di DPR dan Presiden yang dipilih langsung oleh mayoritas rakyat.

Berdasarkan latar belakang sejarah pembentukannya, keberadaan MK sendiri pada awalnya adalah untuk menjalankan wewenang pengujian undang- undang. Pengujian undang-undang (judicial review) sendiri di Indonesia dilaksanakan oleh dua lembaga peradilan yang berbeda untuk saat ini, yakni Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA).

E. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah “upaya untuk menemukan, mengembangkan dan

menguji kebenaran suatu pengetahuan dimana usaha tersebut dilakukan dengan

(22)

menggunakan metode ilmiah”.

28

Metode penelitian berisikan uraian tentang metode atau cara yang peneliti gunakan untuk memperoleh data atau informasi.

“Metode penelitian berfungsi sebagai pedoman dan landasan tata cara dala melakukan oprasional penelitian untuk menulis suatu karya ilmiah yang peneliti lakukan”.

29

1. Jenis dan Sifat Penelitian.

Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu

“suatu penelitian yang menempatkan norma sebagai obyek penelitian, baik norma hukum dalam peraturan perundang-undangan, norma hukum yang bersumber dari suatu undang-undang”

30

. Disebut juga penelitian hukum doktrinal yaitu

“penelitian hukum yang menggunakan data sekunder. Penelitian hukum normatif dikenal sebagai penelitian hukum yang bersifat kualitatif”.

31

Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yaitu “penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan serta menganalisa peraturan perundang- undangan yang berkaitan pada tujuan penelitian ini”.

32

Tujuan dalam penelitian deskriptif adalah “untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara gejala dan gejala lain dalam masyarakat”.

33

Maksud utama analisis terhadap bahan hukum adalah “mengetahui makna yang dikandung oleh istilah-istilah yang

28 Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, Andi Offset, Yogyakarta, 2009, hlm. 3

29 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm. 105

30Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 2006, hlm. 70

31Ronny Hanitijo Soemitro, Metodelogi Penelitian Hukum, Ghalia, Jakarta, 2008, hlm.

10.

32 Kontjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 2007, hlm.

41. 33

Ibid, hlm. 42.

(23)

digunakan dalam aturan undang-undang secara konsepsional, sekaligus mengetahui penerapannya dalam praktik”.

34

2. Sumber Data

Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan dalam proses penelitian yang sifatnya mutlak untuk dilakukan karena data merupakan sumber yang akan diteliti. Pengumpulan data difokuskan pada pokok permasalahan yang ada, sehingga dalam penelitian tidak terjadi penyimpangan dan kekaburan dalam pembahasannya.

Data sekunder terbagi menjadi:

a. Bahan Hukum Primer :

Bahan hukum primer terdiri dari asas dan kaidah hukum. Perwujudan asas dan kaidah hukum ini berupa Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017.

b. Bahan Hukum Sekunder terdiri atas buku-buku hukum (text book), jurnal- jurnal hukum, karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat dalam media masa, kamus dan ensiklopedia hukum, internet dengan menyebut nama situsnya. Di dalam penelitian ini, buku-buku hukum yang dipergunakan diantaranya buku tentang perkawinan.

c. Bahan hukum tertier yaitu bahan yang member petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus umum, kamus hukum, ensiklopedia dan lain sebagainya.

35

34 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2008, hlm. 310

35 Nomensen Sinamo, Metode Penelitian Hukum dalam Teori dan Praktek, Bumi Intitama Sejahtera, Jakarta, 2010, hlm.16.

(24)

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang di gunakan untuk memperoleh data sekunder adalah dengan cara studi kepustakaan. Untuk melengkapi penelitian ini agar mempunyai tujuan yang jelas dan terarah serta dapat dipertanggung jawabkan sebagai salah satu hasil karya ilmiah.

Teknik untuk memperoleh data yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti, dilaksanakan melalui dua tahap penelitian :

a) Studi Kepustakaan (Library Research), untuk mencari konsep-konsep, teori-teori, pendapat-pendapat atau penemuan-penemuan yang berhubungan erat dengan pokok permasalahan. Kepustakaan tersebut berupa peraturan perundang-undangan, karya ilmiah sarjana, dan lain-lain.

b) Studi Lapangan (Field Research), untuk memperoleh data dari informan dengan cara melakukan wawancara terhadap 3(tiga) pekerja yang melakukan perkawinan dalam satu perusahaan yang dijadikan sebagai data pendukung atau data pelengkap dalam melakukan penelitian ini.

Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk mendukung yaitu berupa :

a) Studi dokumen digunakan untuk memperoleh data sekunder dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisis data sekunder yang berkaitan dengan objek penelitian. Data sekunder tersebut diperoleh dengan mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen- dokumen perundang-undangan yang berkaitan dengan perkawinan dalam satu perusahaan.

b) Pedoman wawancara adalah daftar pertanyaan yang disusun secara

sistematis yang digunakan sebagai panduan melakukan wawancara yang

(25)

secara garis besar terbagi atas 3(tiga) tahap yaitu persiapan wawancara, proses wawancara, dan evaluasi wawancara sebagai data pendukung dalam penelitian ini.

4. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses untuk menafsirkan, merumuskan, atau memaknai suatu data. Analisis data merupakan tindak lanjut proses pengelolaan data yang dilakukan peneliti yang melakukan kecermatan, ketelitian, dan pencurahan daya pikir yang optimal. Hasil analisis data ini diharapkan mampu memberikan jawaban dari permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi yang akan dibuat.

Data yang telah dikumpulkan, kemudian dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab permasalahan dalam penelitian. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif yang diperoleh berdasarkan latar ilmiah dengan menggunakan metode alamiah berupa wawancara. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan melakukan wawancara.

Penarikan simpulan merupakan proses terakhir analisis data, hal ini

dilakukan dengan cara menguji kebenaran data yang diperoleh di lapangan

kemudian diverifikasi lebih lanjut, sehingga menghasilkan suatu kesimpulan

penelitian yang komprehensif, valid, dan obyektif. Mengingat penelitian ini

bersifat deskriptif, maka penarikan kesimpulan dengan menggunakan metode

analisis deduktif yaitu “data yang dipergunakan untuk menganalisa data yang

(26)

terkumpul dengan jalan menguraikan atau menginterprestasikan hal-hal yang bersifat umum pada kesimpulan yang bersifat khusus”.

36

F. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran studi kepustakaan, belum ditemukan penulisan hukum tentang “Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 Terhadap Perkawinan Sesama Pekerja Dalam Suatu Perusahaan”. Namun dalam penelusuran studi kepustakaan tersebut, ada beberapa penulisan hukum yang terkait dengan perkawinan, yaitu Febriadi Ardiwinata, Universitas Kristen Maranatha, Tahun 2014. Judul Analisis Yuridis Larangan Suami-Istri Bekerja Pada Perusahaan Yang Sama Dikaitkan Dengan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Perumusan masalah:

1. Bagaimana pengaturan tentang larangan suami-istri bekerja pada perusahaan yang sama ?

2. Bagaimanakah konsistensi yuridis pengaturan Pasal 153 Ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang melarang dan memberi peluang kepada pengusaha untuk melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pasangan suami- istri bila dikaitkan dengan Pasal 27 Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945?

3. Bagaimanakah perlindungan hukum berdasarkan Pasal 27 Ayat (2) dan Pasal 28 D juncto Pasal 28 E Undang-Undang Dasar 1945 terkait larangan suami- istri bekerja pada perusahaan yang sama dari ketentuan yang memberi peluang adanya pemutusan hubungan terhadap perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM)?

36 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016, hlm. 72.

(27)

Berdasarkan penulisan hukum tersebut di atas, penelitian yang dilakukan oleh penulis apabila diperbandingkan substansi dan pokok bahasannya adalah berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan di atas. Dengan demikian penelitian ini berbeda dengan penulisan-penulisan hukum yang dikemukakan di atas.

H. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terbagi dalam lima bab, yang gambarannya sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan. Dalam bab ini yang akan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II : Faktor Penyebab Ketentuan Tentang Larangan Perkawinan Sesama Buruh Atau Pekerja Pada Satu Perusahaan. Dalam bab ini yang akan dibahas mengenai Tinjauan Yuridis Tentang Perkawinan, Pembatasan Hak Untuk Menikah Antara Pekerja dalam Satu Perusahaan, Faktor Penyebab Ketentuan Larangan Perkawinan Sesama Buruh Atau Pekerja Pada Satu Perusahaan.

Bab III : Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Putusan Nomor

13/PUU-XV/2017. Dalam bab ini yang akan dibahas mengenai :

Kronologi Kasus Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-

XV/2017, Disposisi kasus Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

13/PUU-XV/2017, Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah

Konstitusi, Putusan Mahkamah Konstitusi, Analisis Pertimbangan

Hukum Hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017

(28)

Bab IV : Dampak Adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Terhadap Pencantuman Larangan Perkawinan Antar Pekerja. Dalam bab ini yang akan dibahas mengenai : Klausul yang Melarang Perkawinan Sesama Pekerja dalam Satu Perusahaan, Alasan Mahkamah Konstutisi Membolehkan Perkawinan Sesama Pekerja dalam Satu Perusahaan, Dampak adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Terhadap Pencantuman Klausul Larang Perkawinan Antar Pekerja.

Bab V : Kesimpulan dan Saran. Bab ini adalah bab penutup, yang

merupakan bab terakhir dimana akan diberikan kesimpulan dan

saran mengenai permasalahan yang dibahas.

(29)

BAB II

FAKTOR PENYEBAB KETENTUAN TENTANG LARANGAN PERKAWINAN SESAMA BURUH ATAU PEKERJA

PADA SATU PERUSAHAAN A. Tinjauan Yuridis Tentang Perkawinan

Secara sah di Indonesia hukum perkawinan di atur di dalam Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Lembaran Negara RI Tahun 1974. Adapun penjelasan atas undang-undang tersebut dimuat di dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019 yang di dalam bagian penjelasan umum diuraikan beberapa masalah mendasar.

Menurut Pasal 1 UU Perkawinan menyatakan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

Di dalam penjelasan ditegaskan lebih rinci bahwa sabagai negara yang berdasarkan Pancasila, dimana sila yang pertama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama , sehinngga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir tetapi juga mempunyai unsur batin.

Berdasarkan pengertian tersebut jelaslah terlihat bahwa dalam perkawinan memilikidua aspek, yaitu :

1. Aspek formil (hukum)

Hal ini dinyatakan dalam kalimat “ikatan lahir batin”, artinya bahwa

perkawinan di samping mempunyai nilai ikatan lahir secara tampak, juga

mempunyai ikatan batin yang dapat dirasakan terutama oleh yang bersangkutan

(30)

dan ikatan batin ini merupakan inti dari perkawinan itu.

37

Ikatan lahir batin dimaksudkan bahwa perkawinan itu tidak hanya cukup dengan adanya ikatan lahir atau ikatan batin saja, tetapi harus kedua-duanya. Suatu ikatan lahir adalah ikatan yang dapat dilihat. Mengungkapkan adanya suatu hubungan hukum antara seorang pria dan wanita untuk hidup bersama sebagai suami isteri, dengan kata lain dapat disebut hubungan formil. Hubungan formil itu nyata, baik bagi yang mengikatkan dirinya, maupun bagi orang lain atau masyarakat.

38

2. Aspek Sosial Keagamaan

Dengan disebutkannya membentuk keluarga dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan kerohanian, sehingga bukan saja unsur jasmani tapi unsur batin berperan penting.

39

Penjelasan ditegaskan lebih rinci bahwa negara yang berdasarkan Pancasila, dimana sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mepunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian.

Menurut Sidi Gazalba bahwa “tidak merupakan perkawinan jika ikatan lahir batin tidak bahagia atau perkawinan itu tidak kekal dan tidak berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

40

Pengertian perkawinan sebagaimana yang telah diatur di dalam Pasal 1 UU Perkawinan jika diperinci maka terdapatlah unsur di dalamnya yaitu :

1. Ikatan lahir batin.

37Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional, Prenada MediaGroup, Jakarta, 2008, hlm. 103.

38K. Wanjtik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia, Jakarta, 2003, hlm.15.

39 Titik Triwulan Tutik., Op.Cit., hlm. 104.

40 Mohd Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat menurut Hukum Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 44

(31)

2. Antara seorang pria dengan seorang wanita.

3. Sebagai suami isteri.

4. Membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal.

5. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

41

Berlakunya UU Perkawinan, maka keanekaragaman hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan berlaku bagi berbagai golongan warga negara dalam masyarakat dan dalam berbagai daerah daerah dapat diakhiri.

Ketentuan hukum perkawinan sebelumnya, ternyata masih tetap dinyatakan berlaku, selama belum diatur sendiri oleh UU Perkawinan ini, dan hal tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang.

42

Pasal 2 UU Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan dianggap sah jika diselenggarakan :

1. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan.

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

43

Syarat-syarat perkawinan yang diatur dalam UU Perkawinan meliputi syarat-syarat materil maupun formil, yaitu:

1. Syarat materiil

Syarat materiil disebut juga dengan syarat inti atau internal, yaitu syarat yang menyangkut pribadi para pihak yang hendak melangsungkan perkawinan dan izin-izin yang harus diberikan oleh pihak ketiga dalam hal-hal yang ditentukan oleh undang-undang.

41Rosnidar Sembiring, Hukum Keluarga (Harta-Harta Benda dalam Perkawinan), RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2016, hlm. 43.

42 Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perorangan Dan Kekeluargaan Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm. 230

43 Rosnidar Sembiring, Op. Cit., hlm. 54.

(32)

Menurut UU Perkawinan, syarat-syarat yang termasuk dalam kelompok syarat materil adalah:

a. Harus ada persetujuan dari kedua calon mempelai (Pasal 6 ayat (1) UU Perkawinan.

Syarat ini diatur dalam Pasal 6 ayat (1) UU Perkawinan bahwa perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan. Adanya persetujuan kedua calon mempelai sebagai salah satu syarat perkawinan dimaksudkan agar supaya setiap orang dengan bebas memilih pasangannya untuk hidup berumah tangga dalam perkawinan. Munculnya syarat persetujuan dalam UU Perkawinan, dapat dihubungkan dengan sistem perkawinan pada zaman dulu, di mana seorang anak harus patuh pada orang tuanya untuk bersedia dijodohkan dengan orang yang dianggap tepat oleh orang tuanya. Sebagai anak harus mau dan tidak dapat menolak kehendak orang tuanya walaupun kehendak anak tidak demikian. Untuk menanggulangi kawin paksa, UU Perkawinan telah memberikan jalan keluarnya yaitu suami atau isteri dapat mengajukan pembatalan perkawinan dengan merujuk pada Pasal 27 ayat (1) UU Perkawinan, apabila paksaan untuk itu di bawah ancaman yang melanggar hukum

b. Usia calon mempelai pria harus sudah mencapai 19 tahun dan wanita sudah mencapai 16 tahun (Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan).

Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menentukan bahwa perkawinan

hanya dibenarkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak

wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Pasal 7 ayat (2) UU Perkawinan

(33)

menetapkan tentang kemungkinan penyimpangan terhadap ketentuan tersebut di atas dengan jalan meminta terlebih dahulu pengecualian kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjukan oleh kedua orang tua meninggal dunia, maka pengecualian dapat dimintakan kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjukan oleh orang tua yang masih hidup atau wali/orang yang memelihara/datuk (kakek dan nenek) dari pihak-pihak yang akan melakukan perkawinan dengan ketentuan bahwa segala sesuatunya sepanjang hukum masing-masing agama dan kepercayaan yang bersangkutan tidak menentukan lain.

44

Izin kedua orang tua mereka yang belum mencapai umur 21 tahun.

Bila salah satu orang tua telah meninggal dunia, maka izin dapat diperoleh dari orang tua yang masih hidup. Bila itupun tidak ada, dari wali orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas atau bisa juga izin dari pengadilan, bila orang-orang tersebut juga tidak ada atau tidak mungkin diminta izinnya (Pasal 6 ayat (2), (3), (4), dan (5) UU Perkawinan.

Mengenai syarat-syarat persetujuan kedua calon mempelai dan syarat harus adanya izin kedua orang tua bagi mereka yang belum berusia 21 tahun sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU Perkawinan, berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.

45

44 M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, CV. Zahir Trading Co. Medan, 2000, hlm.29.

45 Ibid, hlm. 30.

(34)

c. Tidak terikat tali perkawinan dengan orang lain, kecuali dalam hal tersebut pada Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 UU Perkawinan

Pasal 9 UU Perkawinan melarang seseorang yang masih terikat perkawinan lain untuk kawin lagi kecuali hal tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 UU Perkawinan. Pasal 3 ayat (2) UU Perkawinan menentukan bahwa :

“Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan”. Pasal 4 UU Perkawinan menentukan :

1) Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang ini, maka dia wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

2) Pengadilan yang dimaksud ayat (1) Pasal ini hanya memberikan izin pada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila : a) Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri.

b) Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

c) Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

R. Wirjono Prodjodikoro menyatakan pendapat sebagai berikut adanya Pasal 9 UU Perkawinan sesungguhnya merupakan akibat dari azas perkawinan yang dianut oleh undang-undang ini, yaitu azas monogami.

Azas ini dianggap pada masa sekarang sebagai pencerminan dari kehendak masyarakat terutama di kalangan wanita bahwa dimadu itu dirasakan lebih banyak melahirkan penderitaan daripada kebahagiaan.

46

Pengecualian terhadap azas itu masih dimungkinkan dengan persyaratan seperti yang terurai dalam Pasal 3, 4, 5 UU Perkawinan yang mengharuskan seseorang yang hendak mengajukan permohonan kepada pengadilan harus memenuhi syarat-syarat :

46 R. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Sumur, Bandung, 2004, hlm. 7.

(35)

a) Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri

b) Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri- isteri dan anak-anak mereka.

c) Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.

Pasal 5 ayat (2) UU Perkawinan bahwa persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a di atas tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 20 tahun atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari hakim pengadilan.

d. Mengenai waktu tunggu bagi seorang wanita yang putus perkawinannya diatur dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun1975, yaitu :

1) Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh hari).

2) Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih datang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang- kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh hari).

3) Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

4) Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinan karena

perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya belum

pernah terjadi hubungan kelamin.

(36)

5) Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami.

Penghitungan waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang menjadi kekuatan hukum bagi suatu perceraian dan sejak hari kematian bila perkawinan itu putus karena kematian. Tidak dipenuhinya syarat-syarat tersebut berakibat batalnya suatu perkawinan.

e. Tidak melanggar larangan perkawinan sebagaimana diatur dalam Pasal 8, 9 dan 10 UU Perkawinan.

f. Izin kedua orang tua bagi mereka yang belum mencapai umur 21 tahun. Bila salah salah satu orang tua telah meninggal dunia, maka izin dapat diperoleh dari orang tua yang masih hidup. Bila itupun tidak ada, dari wali orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas atau bisa juga izin dari pengadilan, bila orang-orang tersebut juga tidak ada atau tidak mungkin diminta izinnya (Pasal 6 ayat 2,3,4 dan 5 UU Perkawinan).

2. Syarat Formil

Syarat-syarat formil yaitu syarat-syarat yang menyangkut fasilitas atau tatacara yang harus dipenuhi sebelum dan pada saat dilangsungkannya perkawinan meliputi :

a. Pemberitahuan kehendak akan melangsungkan perkawinan kepada pegawai pencatat perkawinan.

Mengenai pemberitahuan kehendak akan melangsungkan perkawinan

harus dilakukan sekurang-kurangnya sepuluh hari kerja sebelum

perkawinan dilangsungkan, dilakukan secara lisan oleh calon

(37)

mempelai atau orang tua atau wakilnya dan memuat nama, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon mempelai dan nama isteri/suami terdahulu bila salah seorang atau keduanya pernah kawin.

b. Pengumuman oleh pegawai pencatat perkawinan.

Pengumuman tentang pemberitahuan kehendak nikah dilakukan oleh pegawai pencatat nikah jika telah cukup meneliti apakah syarat-syarat perkawinan sudah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan perkawinan. Pengumuman dilakukan dengan suatu formulir khusus untuk itu, ditempelkan pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum dan ditandatangani oleh pegawai pencatat perkawinan.

c. Pelaksanaan perkawinan menurut hukum agama dan kepercayaannya masing-masing.

Pelaksanaan perkawinan dilangsungkan setelah pengumuman kehendak perkawinan dilakukan. Tatacara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu, yaitu pada saat akta perkawinan selesai ditandatangani oleh kedua mempelai, kedua saksi dan pegawai pencatat perkawinan yang menghadiri perkawinan (wali bagi yang beragama Islam).

d. Pencatatan perkawinan oleh pegawai pencatat perkawinan.

e. Perkawinan dianggap sah apabila perkawinan yang dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

47

Syarat materiil dan formil yang terkandung dalam ketentuan Pasal 2 UU Perkawinan memiliki aspek perdata dan aspek administratif. Aspek perdata membicarakan fungsi subtansi dan aspek pendaftaran membicarakan fungsi administrasi.

48

Fungsi yang terakhir adalah untuk kejelasan dan kepastian hukum adanya perkawinan yang sudah dilakukan oleh suami isteri bagi masyarakat dan negara.

B. Pembatasan Hak Untuk Menikah Antara Pekerja dalam Satu Perusahaan

Manusia dilahirkan ke dunia, kemudian ia menjadi subyek hukum. Subyek hukum adalah penyandang hak dan kewajiban. Salah satu hak yang ia sandang

47 M. Yahya Harahap., Op.Cit, hlm. 31.

48 Rosnidar Sembiring,, Op.Cit, hlm. 56

(38)

adalah hak untuk berkeluarga, di mana hak ini diatur pelaksanaannya oleh undang-undang. Hak berkeluarga ini merupakan salah satu hak asasi manusia yang diatur dalam Pasal 28 B, ayat (1) perubahan kedua UUD Negara Indonesia Tahun 1945. Pasal ini menyatakan “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.”

Perkawinan tidak mengenal batasan waktu, perkawinan harus kekal, kecuali karena suatu hal diluar kehendak para pihak, barulah perkawinan dapat diputuskan, misalnya dengan perceraian atau pembatalan perkawinan. Pemutusan perkawinan tidaklah sesederhana seperti dalam pemutusan perjanjian biasa, dimana telah ditetapkan lebih awal dalam isi perjanjiannya, seperti sebab putusnya ikatan perkawinan, prosedurnya maupun akibat pemutusannya.

Lain halnya dengan perjanjian perkawinan, hal ini tidak ditetapkan oleh para pihak, melainkan hukumlah yang menentukannya. Perjanjian dalam perkawinan mempunyai karakter khusus, yaitu bahwa kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) yang mengikat persetujuan perkawinan itu saling mempunyai hak untuk memutuskan perjanjian berdasarkan ketentuan yang sudah ada hukum- hukumnya.

Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dinyatakan bahwa “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Kemudian diatur lebih lanjut pada ayat (2), bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Berdasarkan rumusan Pasal 2 UU Perkawinan, maka tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu sesuai dengan UUD 1945.

Terkait perkawinan, saat ini beberapa perusahaan baik perusahaan

pemerintah, maupun swasta, menetapkan suatu klausul yang membatasi hak untuk

(39)

melangsungkan perkawinan antara sesama pekerja yang bekerja dalam perusahaan tersebut. Salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pembatasan tersebut adalah Pasal 153, huruf f, UU Ketenagakerjaan. “Pasal tersebut mengizinkan Pemutusan Hubungan Kerja dengan alasan adanya ikatan perkawinan antara sesama pekerja, sepanjang itu telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama”.

49

Pembatasan tersebut artinya apabila antara pekerja melangsungkan pekawinan, maka salah satu dari mereka harus mundur dari perusahaan atau bahkan mendapat Pemutusan Hubungan Kerja berdasarkan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Hal ini tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai larangan kawin, namun perusahaan dalam hal ini secara halus menghimbau pekerjanya untuk tidak bekerja satu atap dengan pasangan suami/istrinya.

Sebelum memasuki suatu perusahaan, maka calon pekerja terlebih dahulu diminta untuk menandatangani suatu perjanjian kerja. Berdasarkan Pasal 1 Angka 14 UU Ketenagakerjaan, perjanjian kerja didefinisikan sebagai “perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak”.

Pemberi kerja dan pekerja memiliki suatu hubungan hukum keperdataan, artinya bahwa para pihak sama-sama memiliki kedudukan perdata. Selain itu, para pihak terikat pula oleh suatu hukum otonom yaitu ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh pengusaha dan buruh/pekerja. Peraturan perusahaan dibuat oleh perusahaan, tanpa melibatkan buruh/pekerja. Adapun isi dari peraturan ini adalah

49Wurianalya Maria Novenanty, Loc.Cit..hlm.61

(40)

syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan yang tidak dimuat dalam perjanjian kerja. Terdapat hubungan yang erat antara perjanjian kerja dan peraturan perusahaan, bahkan ada yang menyebutkan bahwa peraturan perusahaan ini adalah pelengkap dari perjanjian kerja. Peraturan perusahaan ini harus memuat substansi minimal:

1. Hak dan kewajiban pengusaha;

2. Hak dan kewajiban pekerja/buruh;

3. Syarat kerja;

4. Tata tertib perusahaan;

5. Jangka waktu berlakunya peraturan perusahaan.

50

Aturan yang menyatakan bahwa apabila antara pekerja menikah dalam satu perusahaan, maka salah satu wajib keluar atau bahkan akan di PHK dapat diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

Hal tersebut dapat disimpulkan dari Pasal 153, huruf f, UU Ketenagakerjaan.

Pasal 153 UU Ketenagakerjaan mengatur alasan-alasan yang dilarang oleh undang-undang perihal Pemutusan Hubungan Kerja oleh Pengusaha, salah satunya adalah “pengusaha dilarang melakukan PHK karena pekerja/buruh mempunyai pertalian darah atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lain dalam satu perusahaan, kecuali diatur lain dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama”.

51

Jadi selama aturan tersebut ada dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama maka pekerja wajib tunduk pada aturan tersebut.

Sehubungan dengan pembatasan hak untuk melangsungkan perkawinan antara sesama pekerja dalam satu perusahaan, maka jawabannya harus dicari

50 Ibid., hlm. 62.

51 Abdul Khakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hlm., 192

(41)

dalam sistem hukum Indonesia. Pembatasan hak untuk menikah antara pekerja dalam satu perusahaan sebenarnya tidak diatur dalam UU Perkawinan sehingga akibat hukum berdasarkan undang-undang perkawinan pun tidak ada. Berbeda halnya dengan UU Ketenagakerjaan yang mengatur bahwa apabila ada hubungan perkawinan antara pekerja, maka hal tersebut dapat berakibat pada adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), apabila mereka telah menandatangani perjanjian kerja dan perjanjian kerja bersama yang mengatur pembatasan hak untuk menikah tersebut.

Setelah mengkaji UU Hak Asasi Manusia dan UU Ketenagakerjaan, maka ada inkonsistensi antara undang-undang yang satu dengan yang lainnya terkait hak untuk berkeluarga antara sesama pekerja dalam satu perusahaan. Pasal 153 huruf f UU Ketenagakerjaan yang mengatur alasan-alasan yang dilarang oleh undang-undang perihal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pengusaha, salah satunya adalah pengusaha dilarang melakukan PHK karena pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lain dalam satu perusahaan, kecuali diatur lain dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Setelah membaca pasal ini, apabila ditafsirkan, maka pembatasan hak untuk melangsungkan perkawinan tersebut diperkenankan oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Apabila Pasal 153 huruf f UU Ketenagakerjaan dikaitkan dengan Pasal 10 Undang-Undang Hak Asasi Manusia yang berbunyi: “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.”

dan Pasal 38, ayat 1, yang berbunyi: “Setiap warga negara, sesuai dengan bakat,

kecakapan, dan kemampuan berhak atas pekerjaan yang layak.”, serta ayat (2)

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

H 1 : Efektivitas penggunaan teknologi Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) berpengaruh terhadap kinerja individu pegawai pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota

Apabila seluruh sumber daya intelektual yang dimiliki perusahaan dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan baik maka akan menciptakan value added bagi perusahaan sehingga

publik yang ada dalam instansi atau perusahaan tersebut. Sudah tentu suasana di dalam badan atau perusahaan itu sendiri yang menjadi target internal Public Relations ,

Strategi Konservasi Ekosistem Mangrove Desa Mangega dan Desa Bajo sebagai Destinasi Ekowisata di Kabupaten Kepulauan Sula.. Prodi Perencanaan Wilayah & Kota

Kekuatan PT Nusantara Terminal Servies yaitu sebagai operator dalam pengoperasisn terminal curah, mempunyai keahlian dalam pbm yang didukung SDM, infrastruktur, suprastruktur

FUNGSI DAN PERAN TAMAN KEBUN BUNGA ( 茂榕园 ) DALAM MEMPERKENALKAN SOSOK TJONG YONG HIAN SEBAGAI TOKOH MASYARAKAT TIONGHOA KOTA

dibanding varietas hibrida BISI-2 dan dari hasil uji kontras ortogonal menunjukkan bahwa genotipe Antasena (2.47 tongkol) dan Kiran (3.67 tongkol) nyata memiliki

Beberapa inovasi vocal juga ditemukan dalam bahasa Tidung, misalnya saja pada PMP *buruk > TDG busak ‘busuk’, PMP *ma-putiq > TDG pulak ‘putih’, dan PMP * i-kita > TDG